CHAPTER VIII
"CROWS"
Dalam mentari pagi yang merekah, dunia diselimuti oleh aura yang tidak mengenakan. Kesunyian yang menyebar ke segala arah seolah menutup kepalsuan pergerakan yang secara diam-diam mulai menyebar; melesat dan menyusup kesana-kemari, menyembunyikan diri dari mata-mata dunia yang seakan mengganggu kehendak yang tidak diketahui. Desiran–desiran angin dingin menyapu lembut daun-daun telinga sepasang pria dan wanita yang tengah duduk di atas sepeda gunung mereka di tepian jalan raya—menebarkan hawa dingin dari aspal jalanan yang membeku.
Mereka menajamkan pendengaran dan mengedarkan pandangan menelusuri setiap jengkal sudut di area tempat mereka berhenti di traffic light yang terus berganti warna setiap tiga puluh detik sekali; dari merah kehijau, dari hijau kekuning. Samar-samar mereka mendengar suara koak-koakan yang sedikit mengagetkan mereka.
"Kamu mendengarnya, Aurora?" tanya Ben tanpa menoleh ke arah Aurora.
"Ya… samar-samar, tapi tetap terdengar," Aurora mendelik tajam ke sudut-sudut area yang tidak diterangi oleh cahaya matahari. "Ben… mereka bergerombol! Dan tidak mengincar kita, mereka sedang melakukan sesuatu di luar sana! Suara-suara itu jelas dikeluarkan oleh para gagak!" bisiknya.
"Di musim dingin? Jangan katakan kalau mereka yang membawa aura yang tidak mengenakan ini!" Ben menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Lima puluh-lima puluh, aku rasa. Lagi pula, aku tidak akan heran jika itu suara Rook dan Jackdow dari keluarga burung gagak, terkadang mereka bertengger dan makan di musim dingin, tapi tidak setiap saat!" jelas Aurora berasumsi.
"Okey, aku tidak akan heran dengan pendengaranmu, Aurora, sehingga kamu bisa mengetahui jenis mereka dari suaranya! Jika bukan Rook atau Jackdow seperti yang kamu katakan, lalu mereka dari famili apa?" tanya Ben memandangi sekelilingnya, berusaha menemukan mereka dalam kesunyian.
"Hooded Crow!" jawab Aurora yakin.
"Maksudmu gagak yang memiliki warna abu-abu dari punggung ke leher sampai menjulang ke bawah perutnya?!" kata Ben mendeskripsikan jenis gagak yang disebutkan Aurora.
"Yap," tegas Aurora sembari mengangguk.
"Apapun jenis mereka, tetap saja mereka bukan gagak biasa! Itu aneh, Hooded Crow bergerombol di musim dingin? Jelas sekali kalau aura gelap itu dibawa oleh mereka," tegas Ben menyimpulkan.
"Ayo Ben, kita akan periksa di tempat lainnya!" sambil berbicara seperti itu, Aurora mengayuh sepedanya meninggalkan persimpangan dan disusul oleh Ben.
Mereka kembali menelusuri jalanan, melewati pertokoan yang dipersiapkan untuk dibuka, tapi aktivitas orang-orang di jalan tetap masih sepi. Aurora mengayuh lebih cepat dari sebelumnya, ingin segera tiba di tempat yang ia rasakan memancarkan aura gelap, dan semakin gelap ketika jaraknya semakin dekat. Aurora dan Ben merasakan perubahan aura pekat itu. Sorot mata Aurora menajam diiringi semburat kecemasan—ia merasakan firasat buruk. Dengan hentakan keras ia mengayuh sepedanya lebih cepat dari sebelumnya.
"Aurora?" Ben tersentak ketika Aurora melesat mendahuluinya, ia pun mengayuh pedal sepedanya untuk menyusulnya, "ada apa?"
Suara ban sepeda mereka berdecit menggesek aspal ketika mereka mengerem dengan keras, berhenti di depan sebuah lapangan kecil yang dihiasi beberapa kursi taman dengan lampu-lampu berdiri tegak di setiap tepiannya. Dengan nafas terhengah-hengah, Aurora mengedarkan pandangannya—merasakan aura gelap itu menyusup ke bawah kulitnya.
"Aku tidak menemukan mereka, apa kamu menemukan mereka Aurora?" tanya Ben. "Ampun, di sini auranya paling pekat."
Aurora menelan ludahnya dengan berat, mata zambrud-nya menangkap dua sosok kecil yang sangat ia kenal duduk di atas salju. "Jamie... Sophie?"
Aurora langsung turun dari sepedanya—menurunkan standarnya kemudian mendekati dua bocah itu dengan langkah-langkah lebar.
Kedua anak itu menoleh, seketika raut wajah mereka langsung berubah ceria, "Aurora!" teriak Jamie bersemangat, ia berlari menuju Aurora dan memeluknya, "aku merindukanmu."
Aurora berjongkok untuk bertemu pandang dengan anak bermata cokelat tanah itu. "Maafkan aku, sayang," ia mengusap pipi Jamie dengan lembut, "ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, tapi sekarang sudah selesai".
Sophie kecil datang menghampiri mereka berdua, ia memberikan pelukan erat kepada Aurora. Gadis bermata indah itu menerima pelukan Sophie dan memberikan sebuah kecupan di pipi gadis kecil itu dengan gemas, membuatnya kegirangan menerima kecupan dari Aurora.
"Aku senang kamu di sini, Aurora," kata Jamie.
Aurora menatap Jamie dengan lembut, kemudian wajahnya berubah bingung, "Ada apa, Jamie? Kamu kelihatan tidak bersemangat, mana temanmu yang lain?"
Jamie menundukkan kepalanya dengan sedih, bibirnya bergetar, "Seharusnya pagi ini biasanya Jack datang mengetuk jendela kamarku dan mengajakku bermain bersama Sophie dan teman-teman yang lain. Mungkin ada hal penting yang harus ia lakukan, Jack seorang guardian... aku tahu, tidak hanya kami yang harus ia ajak untuk bersenang-senang..." ia tersenyum maklum. "Hanya saja bukan itu yang membuatku sedih, aku menelepon dan mengajak teman-teman untuk bermain, tapi mereka bilang bahwa mereka tidak boleh keluar terlalu sering oleh kedua orang tua mereka. Ibu juga begitu, Aurora, ia sesekali melarangku bermain di luar, kata ibuku ia tidak ingin aku jauh-jauh dari rumah hanya untuk bermain tanpa ada pengawasan darinya sebab ia semakin sibuk akhir-akhir ini di kantor. Tadi... pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kantor tanpa..." Jamie terdiam agak lama, air matanya mulai menggenang di sudut matanya—menatap Aurora dangan pilu. "Ini aneh Aurora, ibu tidak pernah sebelumnya seperti ini, sesibuk apapun ia... ia akan menyempatkan diri untuk memperhatikan aku dan Sophie, teman-teman yang lain juga merasa begitu terhadap orang tua mereka."
Aurora merasa sedih untuk Jamie, tetapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. Ia membingkai wajah kecil anak itu dan menghapus air matanya yang telah mengalir di pipinya dengan ibu jari, "Jamie... sayang, mungkin ibumu cuma kelelahan saja dan mendapat kerjaan yang banyak, aku saja seperti itu hingga kakekku merajuk karena merasa tidak diperhatikan," ia tertawa kecil, "tapi pada akhirnya, Jamie sayang, ibumu sangat memperhatikanmu dan menyayangimu juga Sophie."
Jamie bergeming memandangi Aurora dengan keraguan, "Tapi..."
"Ssst... Jamie," Aurora merapatkan diri pada Jamie—menjejalkan lututnya di atas salju, dan menatap langsung mata cokelat tanah anak itu dengan dalam, "bukankah Mrs. Bannet adalah ibumu, Jamie! Ia sibuk bukan berarti ia melupakanmu dan Sophie, tidak memperhatikan kalian, hanya saja waktunya tersita oleh pekerjaannya."
"Aku tahu, tapi entah kenapa aku merasa kesepian? Sophie terkadang merasa sedih karena sikap ibu yang sibuk dengan pekerjaan," air mata kembali menggenang di sudut matanya, "aku tidak tahu Aurora, tapi ada yang aneh... masalahnya aku tidak tahu apa itu, tiba-tiba suasana rumah jadi menyesakan dan Sophie—sesekali saat malam—ia ketakutan dan ia menangis meraung." Anak itu menangis terisak-isak, pipinya telah dibanjiri air mata.
"Hei, tenanglah Jamie," kata Aurora lembut sambil menghapus kembali air mata Jamie, "semua akan baik-baik saja, percayalah! Jamie..., malam ini tidurlah dengan adikmu untuk menjaganya, mungkin ia akan lebih tenang kalau ada kamu tidur di sisinya, mengerti Jamie?" ia mengusap kepala anak itu.
"Oke," Jamie mengangguk.
Sophie tiba-tiba berteriak girang, tidak jauh dari tempat Aurora dan Jamie. Gadis mungil itu asyik membuat istana dan boneka salju mini dengan Ben. Aurora merasa lega dengan keadaan Sophie, setidaknya dia bisa tertawa bahagia saat ini. Aurora tetap waspada dengan keberadaan gagak-gagak itu, bertekad untuk memastikan keberadaan mereka. Sekarang ia yakin aura tidak mengenakan semalam yang rasakannya berasal dari para gagak. Tapi hanya satu yang tidak bisa ia prediksi, masalah apa yang akan timbul dan akan sejauh manakah mereka menimbulkan masalah nantinya?
"Siapa laki-laki yang bersama Sophie?" tanya Jamie curiga.
"Ia temanku Jamie, ayo bergabung bersama mereka."
Pria itu tersenyum ketika Aurora memperkenalkan Jamie padanya, "Well well, jadi ini little kiddo yang sering kamu bicarakan, Aurora. Hai, namaku Benny Jonathan, kamu bisa memanggilku Ben," katanya ramah.
Perawakannya benar-benar mirip Jack: senyum miring, tirus wajah, dan auranya. Jamie langsung menyukai pria itu terutama panggilannya pada dirinya, hampir mirip dengan panggilan Jack untuknya.
"Kamu mengingatkanku pada Jack Frost," ucap Jamie gamblang, tidak mempedulikan apakah Ben tahu siapa yang ia maksud.
"Oh well, sepertinya 'jack frost' sudah mendatangi kita beberapa bulan yang lalu dan kita sudah ada dipenghujung musim dingin," Ben memiringkan kepalanya dengan anggun, "saatnya kita menyambut musim semi yang indah."
Jamie tertawa, "Bukan itu maksudnya..."
"Bunny hop hop...," teriak Sophie sembari melompat-lompat girang.
"Haha... benar sekali, Putri Kecil," puji Ben.
"Namanya Sophie," kata Jamie.
Ben tertawa renyah, "well, sepertinya aku belum berkenalan dengan Putri Sophie dengan benar," Ben meraih tangan kanan Sophie dan mencium punggung tangannya, "untung saja Pangeran Jamie tidak marah padaku."
Jamie menggigit bibir bawahnya karena menahan tawa, ia sadar sekarang mereka sedang bermain drama abad pertengahan, dan ia menjadi pangerannya.
Dengan segera saja mereka memainkan drama panggung. Ben dan Aurora menjadi raja dan ratu, Jamie dan Sophie menjadi pangeran dan putri. Mereka mendirikan istana dari salju, membuat prajurit-prajurit berbentuk boneka salju mini dan yang besar untuk komandannya. Sophie gembira karena dibantu dalam membuat istana saljunya, ia menepuk-nepukkan tangannya dengan girang ketika istana itu selesai. Wajah-wajah mereka tampak gembira, sesekali Ben melempar wajah Aurora dengan salju dan dibalas oleh Aurora lebih keras. Jamie dan Sophie tertawa keras dengan permainan lempar salju yang semakin seru, meskipun suasana sangat hangat dan menyenangkan, Aurora dan Ben tidak mengendurkan kewaspadaan mereka terhadap gagak-gagak yang mengintai mereka secara diam-diam. Di dalam hati Aurora, ia merasa takut. Tidak pernah merasakan aura yang sekuat itu sebelumnya dan juga samar-samar di sudut ingatannya ia merasa familiar dengan tekanan itu, tapi ia tidak bisa memastikannya.
Ben mengkhawatirkan Aurora, ini mungkin saja ada hubungannya dengan roh yang diundang oleh nenek Aurora. Ben menatap wanita itu dengan intensitas yang membara untuk melindunginya, karena keberadaannya sangat berarti baginya.
"Ben..." panggil Aurora, "aku ingin melihat keadaan teman-teman Jamie yang lain," bisiknya gelisah.
Ben menunjukan pengertian atas kecemasan Aurora yang sepertinya hanya bisa diredakan kalau sudah memastikan semuanya baik-baik saja, "Baiklah, aku akan menemanimu."
Perasaan lega menyelimuti Aurora, ia bersyukur Ben ada di sampingnya dan merasa seolah bisa menghadapi apa saja.
Danau Ontario, Niagara on The Lake, Canada. Cahaya matahari bersinar membentuk garis horizon di puncak-puncak pohon pinus yang diselimuti salju. Tombak cahaya menyusup ke dalam rimbunnya dedaunan pohon-pohon, dan menerpa rerumputan hingga memantulkan kelap-kelip sinar kecil dari es-es yang membeku di atasnya. Danau Ontario yang membeku masih tetap memperlihatkan keindahannya di bawah selimut musim dingin.
Dalam suasana yang tenang itu sesuatu melesat di atas hamparan pohon-pohon, merobek-mengoyak udara sehingga salju-salju yang bertengger di puncaknya berjatuhan. Ia melesat dengan cepat menembus udara sambil berteriak membahana dengan girang ke seluruh penjuru, memecahkan kesunyian serta meledakan hawa dingin dengan teriakannya. Sesekali ia terbang dengan telentang dan membentangkan lengannya—merasakan angin berhambus melawati tubuhnya—kemudian terbang mendekati daratan, ia bersalto dan menepatkan kakinya di atas danau yang membeku, berseluncur mundur, berputar-putar. Dengan keceriaan seperti seorang anak-anak, ia menggesek ujung tongkatnya ke permukaan danau yang membeku membentuk ornamen yang menyebar di lintas luncurnya. Semburat senyum merekah di bibirnya yang pucat, segera ia melompat dan terbang dengan melakukan putaran di udara, dan menapakan kakinya di puncak pohon hingga membuat puncaknya meliuk ke bawah akibat berat badannya.
"Woow, tadi itu menyenangkan!" teriaknya sembari membentangkan kedua tangannya dengan senyuman puas. "Benarkan, Babytooth?" menoleh ke arah tudungnya, mendapati seekor peri kecil keluar dari sana.
Peri kecil itu terbang terhuyung-huyung karena pusing akibat cara terbang Jack yang ekstrim. Sesekali ia pergi dengan Jack, selama itu di bawah izin Tooth. Sang roh musim dingin tidak keberatan ditemani oleh si peri kecil, ia senang ditemani olehnya.
"Oh... maaf Babytooth, kalau cara terbangku membuatmu pusing," sesal Jack.
Babytooth terbang di depan wajah Jack sambil berkicau pelan, senyuman muncul di wajahnya yang bundar. Jack tidak mengerti apa yang ingin dikatakan oleh peri itu, tapi Jack merasa kalau Babytooth baik-baik saja, meskipun Jack dengan jelas melihat Babytooth benar-benar kewalahan dengan cara terbangnya. Ia bertengger di telapak tangan Jack yang terulur.
"Aku tidak tahu kalau kamu tidak terbiasa dengan cara terbang yang cepat, Babytooth, bukannya kamu biasanya terbang dengan kecepatan penuh untuk mengambil semua gigi anak-anak," kata Jack sedikit bingung, "oh ya, aku memang suka bersalto ria di udara sementara kamu tidak. Maafkan aku peri kecil." Jack mengelus puncak kepala Babytooth, "Ayo, saatnya kita mengerjakan tugas."
Babytooth mengangguk seraya terbang dari telapak tangan Jack. Senyuman percaya diri merekah di sudut bibir Jack, permata biru safir-nya berkilau memandang hamparan bangunan yang terbentang di hadapannya, dan angin dingin berhembus menerpa tubuhnya yang ramping.
Dengan berpikir keras ia mengerinyit, merasakan hawa tidak mengenakan yang dibawa oleh angin menyentuh kulit pucatnya seakan menarik dan menyedotnya ke dalam kegelapan. Namun, itu tidak menyurutkan keberaniannya. Pandangan Jack mengadung kilatan semangat, menatap lurus seolah menembus setiap Desa Niagara on The Lake. Jack meloncat dari puncak pohon dan terbang melesat ke arah desa untuk berburu gagak-gagak yang mengancam mimpi dan kebahagiaan anak-anak di seluruh dunia, bahkan kemungkinan bisa lebih buruk dari yang pernah dilakukan oleh Pitch Black.
Bersambung...
