Title: The Lie Within

Summary: Roppi masih tetap tidak percaya dia melihat Tsukishima, anak remaja yang mungkin memegang rekor mengatakan 'maaf' terbanyak, bisa bersikap seperti itu pada seorang utusan hakim, dari semua orang.

Pairing: Untuk sekarang, sedikit Tsugaru/Shizuo. Nanti Izuo, dan nanti bulan Juni (ada yang tahu maksudnya?)

Rate: M

Disclaimer: Nope~! Novel hebat bernama durarara! adalah milik seorang author hebat bernama Narita Ryohgo~!

Bacotan:Saia melakukan kebodohan. Harusnya umur Izaya di chap sebelumnya itu 21, bukan 20. Udah saia edit, sih, tapi yang udah terlanjur baca dia umurnya 20… maaf, saia benar-benar melakukan kebodohan yang bodoh~! DX

Okey, enjoy~! :D


"Roppi, kesini sebentar," sebuah suara membangunkan Roppi yang sedang tertidur di kamarnya. Dengan hati kesal, Roppi membukakan pintu kamarnya dan melihat Hibiya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Bersama dengan remaja pirang yang waktu itu mencoba membunuhnya.

"Jadi, Hibiya, kenapa dia ada disini?" tanya Roppi sambil menguap dan bersandar pada kusen pintunya.

"Ya, keadaan berubah, Roppi. Mulai sekarang dia akan tinggal disini untuk mendapat perlindungan. Aku tidak terlalu mengerti, sih, dengan segala macam apalah itu semuanya yang Tsugaru katakan. Tapi, kurasa dia memang harus diamankan. Kaikyou akan terus megincarnya," jelas Hibiya panjang lebar.

"Dan…?"

"Tidak mungkin kita menyuruhnya tinggal di penjara atau tidur sendirian karena itu akan sangat berbahaya. Jadi, mulai hari ini, kau sekamar dengannya.

Roppi menoleh ke dalam kamarnya. Kamar itu luas, tapi tidak dengan tempat tidurnya karena Roppi tidak suka berada sendirian di tempat tidur luas. "Kurasa tidak bisa. Kecuali kalau dia mau tidur di sofa. Dan bangun dengan badan kaku karena tidur sambil duduk," balas Roppi sambil menunjuk sofanya yang memang hanya untuk diduduki satu orang.

"Sudah kusuruh orang untuk mengganti tempat tidurmu sebentar. Tidak masalah, kan?"

"Ya, sudah," jawab Roppi tanpa rasa keberatan sama sekali.

"Hoh…" gumam Hibiya.

"Apa?"

"Tidak. Kukira kau akan keberatan."

"Tidak juga. Aku sedikit penasaran dengannya," balas Roppi sambil menarik tangan Tsukishima yang dari tadi diam saja agar remaja itu masuk ke dalam kamarnya. "Dan, sebaiknya kau cepat-cepat mengganti tempat tidurku. Aku mau tidur sekarang."


Mereka berdua, Tsukishima dan Roppi, berbaring di atas tempat tidur baru yang luas. Keduanya sama-sama tidak bisa tidur. Yang satu karena tidak biasa dengan tempat tidur yang baru, yang satu karena sama sekali tidak lelah setelah beberapa jam tertidur selama dihipnotis.

"Jadi… namamu Tsukishima, hah?"

"U-un… iya…"

Roppi memandang teman sekamarnya yang meringkuk di ujung tempat tidur. "Kau tidak terlalu banyak bicara, ya."

"E-eh? Maaf…"

"Maaf? Untuk apa meminta maaf?"

"Eh? Sa-salah? Maaf…"

"Tidak, aku hanya tidak suka kau meminta maaf kalau tidak salah."

"Aih! Maaf!"

"Argh! Berhenti meminta maaf!" bentak Roppi sambil duduk. Tsukishima juga langsung terduduk dan berkali-kali menunduk.

"Maaf! Maaf! Maafkan aku!"

Roppi memandang Tsukishima yang masih juga menunduk dalam-dalam. "Ya, sudahlah. Kau tidak salah. Berhenti menunduk."

"Baiklah," balas Tsukishima sambil kembali mengangkat wajahnya, memandang Roppi dengan matanya yang berwarna merah.

"Tidur sana."

"Aku tidak bisa tidur," jawab Tsukishima sambil menunduk lagi.

Roppi turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari ruangan itu. "Kau mau susu hangat? Kata Izaya, itu bagus untuk membuat mengantuk."


Pagi-pagi. Sebuah ketukan terdengar menggema di ruangan utama yang mewah bangunan utama rumah itu. Namie langsung berjalan menuju pintu dan membukakannya. Di pintu, berdiri seorang pria berpostur tinggi tegap dengan setelah baju yang rapi dan rambut cokelat tua yang tersisir rapi ke belakang.

"Selamat pagi, ada yang—"

"Aku datang untuk bertemu dengan Orihara-dono."

Namie sedikit bingung. "Orihara yang mana, kalau boleh kutahu?"

"Orihara Izaya. Aku kesini untuk mengambil Heiwajima Tsukishima untuk dibawa ke pengamanan negara."

"Penjara, maksudmu?" suara Izaya bergema di ruangan itu. "Selamat pagi, tuan utusan hakim. Kukira aku sudah mencabut tuntutanku tadi malam?" ujar Izaya dengan seringainya yang, kata Tsugaru dulu, bisa membuat semua orang mengira dia adalah ilmuwan gila seperti Shinra.

"Ya. Anda juga sudah menjelaskan keadaannya, bahwa anak itu bekerja untuk… 'dia', kan?"

"Heiwajima Kaikyou. Kau terlalu takut untuk menyebutkan namanya, tuan utusan hakim?"

Utusan hakim itu diam dan berdeham sedikit. "Aku Xavier Aletheia. Dan, ya, bukan hanya diriku, banyak orang yang takut menyebut namanya."

"Ya, tapi itu semua selesai. Aku sudah mencabut tuntutanku semalam. Jadi, kau tidak usah berada disini lagi, ya, kan, Roppi-chan?"

Roppi muncul juga dari balik pintu yang tadi Izaya lewati. "Ya. Semuanya sudah baik-baik saja."

"Tidak. Karena anda sudah mencabut tuntutan anda, aku tidak mengambilnya untuk tuduhan usaha membunuh Hachimenroppi-dono."

Izaya merengutkan wajahnya. "Lalu? Untuk apa?"

"Aku datang untuk mengambilnya karena dia berbahaya. 'Dia' mungkin saja datang kesini untuk mengambil kembali anak itu. Dia adalah ancaman bagi negara"

"Kaikyou maksudmu lagi?"

"Ya."

"Tidak bisa. Tsugaru bisa membunuhku kalau aku menyerahkan anaknya padamu. Masa kau tega," balas Izaya sambil melenggang masuk ke dalam rumahnya.

Xavier, seperti katanya, langsung melemparkan beberap bola api dari tangannya, yang langsung dihindari dengan mudah oleh Izaya. "Aku harus mengambilnya sekarang."

Izaya berjalan mundur sambil mengeluarkan pisau-pisau dari kantongnya. "Bagaimana kalau aku tidak mau? Ya, sebenarnya, aku tidak keberatan kau mengambilnya, tapi aku tidak suka membuat masalah dengan keluarga Heiwajima, kau tahu," balas Izaya sambil menghindari bola api yang dilemparkan ke arahnya.

Tsukishima tiba-tiba muncul begitu saja di ruangan itu karena mendengar ribut-ribut. Xavier menyeringai menang. Dia melewati Izaya dan langsung mencengkram pergelangan tangan Tsukishima dan menariknya. "Kau harus ikut denganku, monster!"

Tsukishima mencoba untuk lepas, tapi dia tidak bisa. Tangannya juga serasa terbakar karena tangan Xavier yang panas. Kalau Tsukishima tidak memakai lengan panjang, dia yakin tangannya pasti sudah melepuh sekarang.

Roppi mencoba untuk menangkap Xavier dengan lengan-lengan auranya, tapi utusan hakim itu cukup lincah untuk bisa menghindar sambil menarik Tsukishima.

"Kau berbahaya. Kau harus ikut denganku dan dihancurkan," ujar Xavier pada Tsukishima yang hanya diam.

"Aku tidak mau ikut," jawab Tsukishima.

"Kau harus ikut."

Sebuah anging dingin kencang seakan mendorong dirinya lepas dari Tsukishima. "Aku tidak mau ikut. Itu berarti aku tidak mau ikut dan tidak akan ikut," ulangnya sambil memandang Xavier dengar mata yang dingin, mata merah yang seakan lebih dingin dari es.

Roppi kaget ketika auranya yang masih berbentuk lengan-lengan kurus tiba-tiba bergerak ke arah Tsukishima dan membentuk sebuah sabit besar di tangannya. "Tsukishima…?"

"Keluar. Pergi dari sini," perintah Tsukishima pelan sambil mengangkat sabit hitam di tangannya tinggi-tinggi, siap untuk menebas Xavier yang hanya membeku di tempatnya. "Pergi atau kau akan kubunuh."

Xavier segera bangkit dan beranjak pergi dari sana.

"Tsukishima…?" Roppi masih tetap tidak percaya dia melihat Tsukishima, anak remaja yang mungkin memegang rekor mengatakan 'maaf' terbanyak, bisa bersikap seperti itu pada seorang utusan hakim, dari semua orang.

Tsukishima berbalik dan memandang Roppi dan Izaya, juga Namie, yang hanya memandangnya diam. Ropppi tahu mata itu. Itu bukan mata Tsukishima yang dia lihat semalam. Itu mata yang sama dengan Tsukishima yang dulu mencoba membunuhnya.

"Maaf. Aku hanya tidak suka diperlakukan seperti itu," ujar Tsukishima dengan suara yang dingin sebelum matanya berubah menjadi seperti biasa lagi. Dia melihat ruangan yang berantakan itu. "Ah, maaf! Maafkan aku!"

Tidak ada yang bisa berkata-kata. Kecuali Roppi. "Hey, Tsukishima. Temani aku latihan. Aku belum mendapatkan pertarungan yang seru akhir-akhir ini setelah dengan dirimu," ujarnya sambil berjalan keluar dari bangunan itu.

"Baiklah," jawab Tsukishima sambil mengikuti Roppi.


Roppi menebas Tsukishima dengan sebuah pisau di tangannya, lengan hitam mencoba untuk menggapai Tsukishima yang dengan cepat menghindarinya. Mereka sudah seperti ini selama lima belas menit sekarang. Dan dari tadi, Roppi saja yang menyerang sementara Tsukishima menghindari semua serangannya dengan baik.

"Kau tidak menyerang, Tsukishima?" Roppi tidak terlihat senang.

"Maaf," balas Tsukishima.

"Baiklah, kalau itu maumu," ujar Roppi sambil mengeluarkan aura hitamnya lagi. Wajahnya tidak terlihat main-main lagi seperti tadi. "Aku paling tidak suka dengan manusia. Apalagi yang hanya bisa menghindar. Jadi, kalau kau mati, jangan salahkan aku!" serunya sambil menerjang ke arah Tsukishima dengan aura hitam yang membentuk ribuah jarum besar untuk menusuk Tsukishima.

'Mata itu lagi!' batin Roppi ketika melihat mata Tsukishima berubah. Remaja itu langsung menghindar degan cepat dan muncul di belakangnya.

"Yang pertama waktu itu, aku sudah mencoba untuk berlaku lembut padamu. Kali ini, tidak akan lagi, anak naif," suara Tsukishima terdengar dingin ketika mengatakan ini.

Aura hitam berbentuk jarum sekarang menghilang dari sekelilingnya. Ketika kakinya menyentuh tanah, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Matanya terbelalak memandang Tsukishima yang memegang sabit tinggi-tinggi, siap untuk menebasnya kapanpun.

Dia tidak bisa mengeluarkan auranya, dan dia hanya bisa terdiam menunggu sabit itu menebasnya.

Tapi dia tidak merasakan apa-apa. Sabit di tangan Tsukishima menghilang ke udara begitu saja. Remaja berambut pirang itu terlihat lega, entah untuk alasan apa. "Maaf," bisiknya pelan.

Roppi memandang Tsukishima sambil berdiri. "Sebenarnya, kau kenapa?" tanyanya heran. Tadi Tsukishima mengusir seorang utusan hakim, lalu sekarang menyerangnya. Jangan bilang Tsukishima mempunyai kepribadian ganda.

"I-itu… itu kekuatanku…" jawab Tsukishima pelan.

"Kekuatanmu?" tanya Roppi. Oh, jadi bukan kepribadian ganda.

"Iya. Aku Seelevium."

"Jadi… yang tadi itu…"

"Ya, tentu saja bukan Tsuki-sama," ujar sebuah suara dari belakang Roppi. Disana berdiri seorang pria berambut hitam dengan mata berwarna hitam kebiruan dan kulit putih pucat yang memakai kimono hitam dengan obi abu-abu dan sebuah haori putih bercorak bunga berwarna abu-abu. "Dia bahkan terlalu lembut untuk membunuh seekor lalat."

"Kau…" Roppi kehilangan kemampuan untuk berbicara untuk sesaat.

"A-ah… Mikazuki-san, kau tidak boleh sering-sering keluar begini," ujar Tsukishima.

"Hm? Hanya sekali-sekali kok, Tsuki-sama. Kalau aku tidak kuat, nanti aku kembali ke dalam tubuhmu lagi," jawab pria berambut hitam bernama Mikazuki itu. "Aura pemuda itu kuat," lanjutnya sambil menunjuk Roppi, "aku bisa memadatkan tubuhku untuk sementara dengan bantuan auranya."

"Ung… jangan lama-lama. Mikazuki-san kan—"

"Kenapa kau ada disini?" suara Roppi kembali terdengar. Dia menatap Mikazuki dengan mata yang terbuka lebar, seakan tidak percaya bahwa pria itu sedang ada disana, berdiri di hadapannya. Dan bisa disentuh.

"Hm? Kan sudah kubilang, anak naif, auramu kuat, jadi aku bisa menggunakannya untuk memadatkan diriku yang hanya berupa roh ini," jawab Mikazuki sambil membenarkan haori-nya yang agak merosot.

"Kau harusnya sudah mati!" teriak Roppi.

"Roppi-san…?"

"Tsukishima, katakan padaku ini semua hanya bohong. Orang ini bukan Mikazuki yang 'itu', kan?"

"Anak naif, kau benar-benar seorang penyangkal yang buruk," dia berjalan mendekati Roppi. "Aku memang 'dia', Mikazuki yang tubuhnya kalian hancurkan berapa abad lalu."


"Seelevium. Kekuatannya adalah untuk 'dirasuki' oleh roh dan membiarkan tubuhnya dipergunakan oleh roh itu. Selain 'dirasuki', seorang Seelevium bisa juga mengendalikan aura seorang Auverleine. Kelemahannya, jika dia lengah, roh apa saja bisa mengambil alih tubuhnya, apalagi seorang Seelevienna yang memang kekuatannya adalah merasuki dan mengambil alih tubuh. Kau yakin, Tsukishima seorang Seelevium, Shinra?" tanya Tsugaru sambil menghisap asap dari pipa rokoknya. Keduanya diam di ruang tamu Shinra setelah Hibiya pulang membawa Tsukishima bersamanya.

"Iya, aku yakin seratus persen."

"Kenapa?"

"Selain menyebut Kaikyou sebagai tuannya, Tsukishima juga menyebut-nyebut nama 'pria itu' sebagai temannya. Tapi, sepertinya otak Hibiya memang untuk menyimpan informasi, bukan untuk mengolahnya. Dia tidak sadar Tsukishima seorang Seelevium. Dan, penelitianku yang kulakukan sehari sebelum Hibiya kemari juga berhasil. Tsukishima berbicara dengan roh kucing hitam yang mati disini berapa waktu yang lalu. Dia bahkan mengelus kepala kucing itu."

"Baiklah, lupakan tentang penelitianmu dulu. Kau yakin, 'dia' juga terlibat?"

"Ya… kau tidak bisa menyangkal kalau Kaikyou terlibat, ada kemungkinan besar 'dia' juga terlibat."

"Jadi, kalau dia benar-benar seorang Seelevium, kemungkinannya hanyalah Kaikyou ingin mengambil alih tubuh Tsukishima, dan Roppi akan dia manfaatkan auranya karena pemuda itu seorang Auverleine. Mungkin untuk mengambil tubuh-'nya' yang disegel."

"Ya, 'dia' memang percaya tubuhnya dihancurkan, tapi pada kenyataannya, leluhurmu dan leluhur keluarga Orihara hanya menyegelnya, kan?"

"Aku hanya berharap Kaikyou tidak menemukan cara untuk menemukan tubuh itu."

Shinra mengambil gelas teh Tsugaru yang sudah kosong. "Kau tahu, Tsugaru? Ini semua rasanya seperti menguak kembali masa-masa gelap keluargamu dan Izaya."

"Juga menguak kembali masa lalu gelap Hewajima Kaikyou dan Orihara Mikazuki," balas Tsugaru sambil kembali menghisap pipa rokoknya.


End of Chapter 8


Oh. Eim. Ji.

Astaga naga… kenapa jadi sepanjang ini? *jambak rambut*

Ung… mohon maaf kalo terlalu panjang ato bikin bingung. Tolong kasih tahu saia mana yang membingungkannya. Dan, saia agak pusing cara menjelaskan kekuatan Tsukishima. Tapi, gampangnya sih, badan dia 'dibuat khusus' untuk 'dirasuki' oleh roh. Jadi, Mikazuki itu roh yang udah biasa merasuki Tsuki. Dan, ya, Kaikyou itu Seelevienna. Plus, lagi, cerita di atas itu allurnya malam, terus pagi, terus kembali ke malam sebelumnya pas Tsuki dibawa pulang ama Hibiya.

Duh, beneran susah ngejelasinnya. DX Tolong kasih tau saia kalo bingung sama itu benda (Seelevium+vienna dan lain-lainnya), dan mungkin saia akan bisa menjelaskannya dengan lebih jelas nanti.

Makasih buat ripiu di chap sebelumnya; Zimmy, Shinju Ageha, ladyGerman, dan Narin kimi chan. Juga terima kasih pada para silent reader yang udah mantengin cerita agak (terlalu) gaje ini. Haha…

Tolong ripiunya untuk bahan bakar dan untuk masukan bagi saia~! :D