Inside The Ramen

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Inside The Ramen © dheeviefornaruto19

AU, OoC, typos?

.

.

Happy reading!

.

.

Eight: Don't Go Away From Me

Senju Academy lebih dari sekadar 'rekan' bagi Konoha High School tempat Hinata bersekolah. Jika diibaratkan sebagai pohon keluarga, mungkin KHS adalah 'orang tua' dari Senju Academy. Kisahnya sederhana: KHS lahir lebih dulu, dan ternyata pencetus Senju Academy dua tahun berikutnya adalah kepala yayasan KHS. Kini dua puluh tahun telah berlalu dan kualitas kedua sekolah ini tidak diragukan lagi.

Seperti kata Naruto, Senju Academy adalah sekolah single sex dimana pelajar laki-laki terpisah dengan pelajar perempuan. Senju Academy khusus laki-laki, tempat Naruto bersekolah, letaknya lebih jauh dari KHS dibandingkan Senju Academy khusus perempuan. Kalau jalan kaki mungkin sekitar tiga puluh menit, kalau naik bus bisa lima belas menit, setidaknya itu yang disimpulkan Hinata.

Hari ini mereka dipulangkan lebih cepat karena ada rapat komite. Namun Hinata tidak menuju ke halte kali ini, melainkan ke arah yang berlawanan. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan di trotoar yang mengarah ke sekolah Naruto.

Senju Academy.

Setibanya di sana, ternyata mereka masih belum pulang. Hinata telah sampai dan berdiri di depan gerbang sekolah sambil mengamati sekolah itu. Ketika ditanyai satpam, Hinata buru-buru menjelaskan dan kemudian menunggu dari jauh.

Lima belas menit.

Tiga puluh lima menit.

Sejam.

Matahari kian terik, namun Hinata masih bertahan.

Dan untunglah ia tak perlu berlama-lama lagi, sebab dering bel terdengar nyaring dari dalam. Tak lama kemudian gerbang sekolah pun dibuka dan satu per satu siswa berjalan keluar. Hinata menundukkan kepala dan berdiri agak menjauh karena sedikit malu. Bagaimanapun juga ia tidak melihat adanya siswa perempuan yang berdiri di sana seperti dirinya.

"Naruto!"

Terdengar suara seseorang yang memanggil Naruto, membuat Hinata menoleh. Seorang cowok beralis tebal dan berambut rata merangkul Naruto saat mereka keluar dari gerbang. Dilihat dari sikapnya, sepertinya ia mengajak Naruto ke suatu tempat, namun Naruto menggeleng. Si alis tebal kelihatan kecewa, namun kemudian ia melambai pada Naruto, pulang duluan.

Sedangkan Naruto, cowok itu berbelok ke sebuah jalan besar di sisi kiri sekolah. Hinata memandangnya dari sudut mata, berharap cemas agar ia tidak melihat dirinya. Ketika bayangan Naruto menghilang di tikungan jalan, gadis itu cepat-cepat mengejar Naruto agar tidak kehilangan jejaknya.

Gadis itu berusaha membuat jarak yang cukup jauh dari Naruto karena takut ia akan menyadari kehadiran Hinata. Sambil mengikuti, Hinata mengamati bahwa jalan ini memasuki komplek perumahan yang cukup mewah, sebab selalu ada mobil yang terparkir di tiap sisi jalannya.

Naruto berbelok ke kanan, kemudian masuk ke sebuah minimarket. Setelah Hinata mendekat, dilihatnya Naruto menyapa karyawan di sana dengan ramah dan tak berapa lama kemudian ia telah mengganti bajunya dengan baju karyawan.

Hinata tertegun. Ia teringat ucapan Naruto di awal pertemuan mereka, tepatnya saat Hinata menanyai pekerjaannya dulu. Naruto menjawab kalau ia pernah bekerja di minimarket, menjadi kasir.

Oh, ia tidak berbohong. Hinata menggigit bibirnya karena kesal. Ia telah menuduh Naruto yang tidak-tidak, bukannya mencari tahu terlebih dahulu seperti apa kebenarannya.

Hinata kembali memerhatikan Naruto yang sekarang telah ada di kasir dan sedang melayani pembeli. Gadis itu melihat jam tangannya dan menyadari kalau Naruto pasti akan lama. Ia pun memutuskan untuk menunggu.

.

.

Tokyo, 04.00 p.m.

"Semuanya tujuh puluh lima yen."

Naruto menerima uang pembeli dengan sopan dan lalu mengetik di komputernya. "Uang Anda seratus yen, berarti kembaliannya dua puluh lima yen." Cowok itu segera menyerahkan kembalian sembari menundukkan kepala dengan sopan. "Terima kasih, datang kembali!"

Naruto melihat ke jam dan langsung tersentak. Sudah lima belas menit berlalu dari jam kerjanya yang telah berakhir.

Setelah berpamitan pada rekan-rekannya, Naruto pun keluar dari minimarket dengan langkah tergesa. Hinata yang duduk di bangku toko baju sebelah minimarket jadi kaget dan buru-buru menyusul pemuda itu. Dilihatnya dari jauh Naruto menunggu di halte dan kemudian sebuah bus datang, sehingga Naruto segera naik ke bus itu.

Jika selangkah lagi Hinata terlambat, mungkin ia tak akan tahu ke mana Naruto akan pergi. Gadis itu duduk di bangku belakang dan melihat kalau Naruto duduk di depan dengan jarak empat bangku darinya.

Apa Naruto tahu aku mengikutinya? pikir Hinata gelisah. Tapi ia tidak bisa berhenti sekarang. Hinata merasa kalau ia perlu mengetahui bagaimana kehidupan yang dijalani Naruto selama ini. Ini bukanlah perasaan bersalah, melainkan rasa peduli Hinata yang baru muncul sekarang. Naruto telah mengetahui tempat tinggal, kepribadian, sekolah, dan berbagai hal mengenai Hinata, dan saatnya bagi Hinata untuk melakukan hal yang sama.

Bagaimanapun juga... Naruto tetap merupakan seseorang yang berarti baginya. Berarti karena baik dulu maupun sekarang, hanya pemuda itu yang membantunya menjalani hidup yang membosankan ini.

Hinata termenung memikirkan semua hal yang telah dilakukannya bersama dengan Naruto selama ini. Awal pertemuan mereka yang begitu menyebalkan, sikap kasarnya pada Naruto, kemudian ia memaafkan Naruto, dekat dengan pemuda itu, lalu mengetahui kebenaran identitasnya, dan sekarang.

Ia merasa semua terlalu cepat.

Kemudian Hinata sadar kalau bus telah berjalan cukup jauh dari tempat mereka semula. Dalam hati ia bertanya-tanya mau ke mana sebenarnya cowok itu. Padahal sudah jam setengah lima sore.

Tiba-tiba ponsel Hinata berdering dan entah kenapa bunyinya jadi sangat nyaring. Hinata cepat-cepat merogoh ponselnya yang ada di saku ransel dan mengangkatnya secepat kilat agar tidak menganggu ketenangan. Terutama agar tidak memancing kecurigaan Naruto.

"Kaa-san, aku pulang terlambat hari ini. Aku... ada les tambahan! Iya, les tambahan," bohongnya sambil berbisik. "Sampai bertemu di rumah."

Sambungan diputus. Hinata menghela napas lega karena Naruto tidak mengacuhkan suara berisik ponselnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, bus pun berhenti. Hinata melihat keluar jendela dan menyadari kalau tempat ini sangat asing baginya. Namun sepertinya tidak bagi Naruto, sebab pemuda itu turun dari bus sambil bersiul-siul dan kemudian berjalan menuju sebuah gang kecil di seberang jalan.

Hinata kembali mengikuti cowok itu, namun kali ini jaraknya ia persempit. Ia melakukannya karena menurutnya lebih baik tidak kehilangan jejak Naruto atau bisa-bisa ia tersesat dan tidak akan kembali lagi ke rumah. Tapi hatinya berdebar tidak karuan, bagaimana jika Naruto tahu? Alasan apa yang harus kubuat nantinya?

Jalan kecil itu tidak panjang dan ternyata mengarah ke sebuah bangunan tua yang kurang terawat. Di gerbang bangunan itu tertulis: Panti Jompo Yasama.

Hinata sekali lagi tertegun. Apa yang dilakukan Naruto di sini? Dilihatnya Naruto berjalan dengan mantap ke panti itu. Gadis itu pun mendekat perlahan ke arah panti dan segera bersembunyi di dekat sebatang pohon pinus yang ada di sebelah pintu masuk panti.

Perlahan ia melongokkan kepalanya dan melihat ke dalam panti jompo yang ternyata berbeda dengan tampilan luarnya itu. Bagian dalamnya rapi dan luas. Beberapa kursi goyang tergeletak di sudut ruangan. Ada juga TV layar lebar dan sebuah lemari besar yang sepertinya dipakai untuk menampung barang-barang milik lansia. Para lansia itu sedang melakukan kesibukan mereka sendiri, ada yang bermain catur, ada yang sedang bernyanyi, ada yang hanya duduk sambil melihat ke jendela.

Naruto berjalan mendekati seorang wanita yang sepertinya merupakan pengurus panti jompo itu.

"Kanao-san," panggil Naruto pada wanita itu.

Wanita dan para lansia itu nampak mengenali suara Naruto, sebab mereka segera membalas panggilan Naruto dengan senyuman lebar. Naruto juga tersenyum pada mereka.

Wanita bernama Kanao itu berdiri dan menyambut Naruto dengan riang. "Kau sepertinya makin jarang berkunjung ke sini, Naruto. Apa kau sedang banyak ujian?" tanya Kanao ramah.

Hinata masih memperhatikan interaksi mereka dari jauh.

Naruto hanya cengengesan. "Tidak, aku hanya lebih sering bekerja belakangan ini. Maaf jika aku jarang datang."

Kanao menggeleng. "Justru kami yang merepotkanmu. Dan juga, sekarang sudah menjelang malam. Oh ya, apa kau mau minum?"

Tiba-tiba Naruto terdiam agak lama.

"Naruto? Kau kenapa?" tanya Kanao khawatir.

"Kanao-san... Mungkin aku tidak akan pernah datang ke sini lagi."

Hening.

Mata Kanao terlihat berkaca-kaca.

"Aku... aku sangat menyayangi kalian semua. Aku tidak ingin berhenti datang ke sini, tapi banyak hal yang harus kuperhatikan mulai saat ini. Tahun depan aku akan mengikuti ujian kelulusan sehingga aku harus belajar lebih giat lagi. Dan juga aku harus lebih rajin bekerja..."

Kanao mengangguk-anggukkan kepalanya, air matanya telah mengalir. Wajahnya sedih, namun ia sangat bangga pada Naruto. Wanita itu maju dan memeluk Naruto, menenangkan pemuda itu.

"Kami mengerti, Naruto. Kami juga menyayangimu. Doa kami selalu menyertaimu."

Naruto mengangguk sedih. "Sejak dulu, keluargaku tetaplah kalian semua. Terima kasih... telah menerima dan menyayangiku..."

Dan tanpa sadar Hinata ikut terlarut dalam kesedihan itu.

Hinata masih belum mengerti situasi ini, namun yang pasti... ia tahu kalau Naruto mencoba berbagi kebahagiaannya di sini, di tempat ini. Keluarganya yang mungkin tak akan ditemuinya lagi karena kesibukan pemuda itu.

Hinata yakin kalau Naruto benar-benar tulus.

Di balik senyuman gadis itu, air matanya kembali menitik.

.

.

.

Tokyo, 07.00 p.m.

Hari ini tidak ada bintang di langit malam Tokyo. Hanya gelap dan sebuah bulan sabit di atas sana.

Namun kegelapan malam tak membuat Hinata mengurungkan niatnya untuk terus mengikuti Naruto. Gadis itu sadar kalau ia sudah sangat terlambat untuk pulang ke rumah, namun baginya tak masalah.

Hatinya telah tertinggal di sini, di Tanaoka, di tempat tinggal Naruto.

Derap kaki kedua remaja itu saling mengiringi satu sama lain. Hinata mengikuti Naruto dari belakang, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Gadis itu terus memperhatikan punggung Naruto dari belakang, mencoba memikirkan apakah masih ada yang tidak diketahuinya tentang pemuda itu.

Naruto berbelok ke kanan, diikuti Hinata. Pemuda itu akhirnya berhenti setelah melewati dua rumah dan sebuah toko kelontong, tiba di depan sebuah rumah mungil bertingkat yang kelihatan sepi. Di depan rumah itu ada sebuah kolam dan ayunan kayu, namun tidak begitu terlihat karena gelap. Pagarnya cukup tinggi dengan warna hijau gelap.

Hinata juga berhenti dan ia segera menyembunyikan diri di balik sebuah tiang listrik. Dadanya berdebar seraya menerka apakah Naruto akan memergokinya.

Namun prasangkanya salah. Naruto ternyata berhenti untuk merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci untuk membuka pintu pagar di hadapannya. Ternyata itu memang rumahnya.

Hinata masih mengamati dengan hati-hati. Setelah memastikan kalau Naruto telah masuk ke dalam rumah, gadis itu pun keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekati rumah Naruto. Sepertinya Naruto tinggal sendiri, sebab ia tidak mendengar suara orang lain di rumah itu. Apa keluarganya tinggal di tempat lain? Di mana mereka? pikir Hinata heran. Gadis itu kembali menyesal karena ia merasa kalau sepertinya masih banyak yang tidak ia ketahui tentang Naruto. Lalu apa besok aku harus mengikutinya lagi?

Setelah berdiri cukup lama di depan rumah Naruto, Hinata akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia pun berjalan pergi dari sana. Namun belum jauh ia melangkah, tiba-tiba pandangannya terkunci oleh sosok seseorang berpakaian seragam SMA yang sedang berjalan ke arahnya.

Hinata menatap orang itu dengan tidak percaya.

"Sakura...?" panggilnya ragu.

Gadis berambut pink itu menatap Hinata dan kemudian ia ikut terbelalak seperti Hinata.

"Hinata?"

Hinata mendekat ke gadis yang dipanggilnya Sakura itu. "Kau Sakura kan? Haruno Sakura kelas 2-3 di SMP Osaka dulu?"

Sakura mengangguk dan mereka pun berpelukan.

"Astaga, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" ucap Sakura yang sangat senang. "Apa kau tinggal di sini?"

Hinata menggeleng. "Aku tinggal di Fujitari."

Sakura mengerutkan alis karena bingung. "Bukannya itu sangat jauh dari sini? Lalu kau kenapa di sini?" tanya Sakura heran.

Hinata tersentak kaget dan segera menoleh ke rumah Naruto dengan was-was. Pintu dan jendelanya tetap tertutup seperti sebelumnya. Hanya saja rumah itu sudah tidak segelap tadi karena Naruto telah menyalakan lampu. Sepertinya cowok itu masih tidak tahu dengan kehadirannya.

"Ayo ke rumahku! Sudah lama kita tidak makan cookies sama-sama," ajak Sakura sambil menggamit lengan Hinata. Gadis itu mengangguk senang dan keduanya pun berjalan dengan riang ke rumah Sakura.

Dan tepat setelah kepergian mereka, pintu rumah Naruto terbuka.

Naruto keluar dan berjalan mendekati pagar.

Ia terus memandang Hinata dari jauh.

Naruto mengusap wajahnya, entah mengapa ia merasa begitu lelah.

"Ya, pada akhirnya kita hanya akan seperti ini, bukan? Aku tidak bisa tetap mengabaikanmu ketika sekarang aku tahu siapa dirimu."

Ucapan Hinata kemarin masih membekas dalam benaknya.

"Kau tidak tahu seberapa besar rasa bersalahku ini."

Dan semuanya menegaskan sesuatu bagi Naruto: pada akhirnya Hinata mungkin akan memilih untuk tidak menganggap Naruto sebagai siapapun. Atau kemungkinan buruk lainnya yang tidak sanggup Naruto pikirkan.

Pemuda itu pun menghela napas.

.

.

.

.

Panas matahari yang menyengat tidak menyurutkan niat Naruto untuk terus berada di lapangan sekolahnya. Pemuda itu tetap asyik dengan kegiatannya, main bola untuk melepas penat dan kebosanannya di kelas.

Saat itu kelasnya sedang tidak ada guru, dan teman-temannya tetap berisik seperti biasanya, maka Naruto memilih untuk main bola sendirian. Belakangan ini teman-temannya bilang kalau dirinya jadi lebih pendiam. Entahlah, ia juga tidak begitu peduli.

Naruto menggiring bola ke gawang dengan peluh membanjir di wajahnya. Setelah cukup dekat dengan gawang, pemuda itu pun menendangnya sekuat tenaga.

Ia memandang ke arah gawang dengan kosong.

Kemudian sebuah bola lainnya menyusul masuk ke gawang, membuat Naruto menolehkan kepala kepada orang yang menendangnya.

Pemuda itu tersenyum sinis. "Murid KHS di Senju? Sungguh kehormatan."

Orang itu ternyata Sasuke. Ia mendekat dan memberikan sebotol air minum dingin pada Naruto, yang langsung diterima Naruto tanpa basa-basi.

"Aku akan langsung saja."

Naruto berdecak. "Wow, kau orang yang suka terburu-buru ya."

Sasuke mengulum senyum tipis. Ia menatap Naruto tajam.

"Apa kau juga teman kecil Hinata?"

Mendengarnya, Naruto balas menatap Sasuke tajam. "Kau yang bertanya pada Hinata atau Hinata yang memberitahumu?"

"Keduanya," jawab Sasuke tenang. "Jadi? Kau temannya yang mana? Setahuku Hinata tidak berteman dengan banyak orang."

Naruto mengembalikan botol air minum yang telah ditenggaknya sampai habis pada Sasuke. "Itu bukan urusanmu," tukasnya kesal.

Ketika Naruto hendak meninggalkan tempat itu, Sasuke kembali melanjutkan ucapannya.

"Hinata pernah cerita padaku tentang salah satu teman kecilnya dulu. Waktu itu ia kelas satu dan musim gugur telah berakhir. Seorang anak laki-laki mengalungkannya rajutan merah agar Hinata tidak kedinginan."

Naruto tertegun.

Ia sangat mengenali kisah itu.

Perlahan cowok itu berbalik dan menatap Sasuke.

"Hinata masih ingat itu? Dia tidak bilang apa-apa padaku."

Sasuke memandang Naruto datar. "Kau sendiri yang menyuruhnya untuk menganggapmu sebagai orang asing. Maka dia tidak mengatakannya padamu."

Naruto bertambah kaget. "Ia juga bilang itu padamu?"

"Ia juga cerita kepadaku tentang pernyataan cintamu. Se-mu-a-nya," tegas Sasuke, dan hal itu makin membuat Naruto kaget sekaligus malu.

"Umm... itu... kau tidak marah kan? Maksudku, kau dan Hinata..."

Sasuke berdecak. "Kau ini masih tidak mengerti ya? Hubunganku dengan Hinata bukan seperti yang kau pikirkan. Kami hanya senior-junior. Tidak lebih."

Naruto memandang Sasuke lekat. "Bagaimana aku memercayainya?

"Kalau kami pacaran, mungkin sekarang kau sudah babak belur olehku karena berani menyukai Hinata."

Naruto terdiam.

Sasuke menepuk bahu Naruto. "Kuharap aku tidak terlibat lagi dalam masalah kalian. Tugasku sudah selesai. Kali ini kuharap kau dapat menjaga Hinata."

"Tugas apa?" tanya Naruto bingung.

Sasuke memandang langit biru cerah sambil tersenyum tipis.

"Hanya tugas kecil... menjaga janji seseorang..."

.

.

KRIIIING...!

"Pelajaran kali ini cukup sampai di sini. Kumpulkan laporan observasi kalian minggu depan," kata Sensei Anko, guru pelajaran Biologi.

"Ha'i, Sensei!" jawab seluruh murid kompak. Setelah memberikan salam, semuanya pun bubar meninggalkan kelas.

"Hyuuga Hinata? Bisa tinggal sebentar?" panggil Sensei Anko pada gadis berambut panjang yang hendak meninggalkan bangkunya.

Hinata menghampiri sensei-nya dengan bingung.

"Aku lihat kau sangat berbakat dalam pelajaranku. Apa kau tertarik mengikuti pelatihan untuk Olimpiade?"

Mendengarnya, Hinata terkesima. "Sensei..."

"Aku melihat adanya potensi dari dirimu. Kalau begitu, sensei tunggu konfirmasimu segera."

Sensei Anko menepuk pelan bahu Hinata dan meninggalkan kelas.

"Hei~."

Belum hilang keterkejutan Hinata, gadis itu melihat Naruto berjalan masuk ke kelasnya dengan senyuman lebar.

"Kau tahu dari mana kalau kelasku di sini?"

Naruto memutar matanya. "Telepati?" bisiknya sambil mengernyit.

Hinata menatap tak percaya. "Bagaimana kalau kau ketahuan guru di sini?"

"Tadi aku menyapa Sensei Anko."

Hinata melongo. "Kau kenal Sensei Anko?"

Naruto mengangguk. "Dulu dia pernah mengajar di Senju."

"Oh..."

Hinata terdiam begitu juga Naruto.

"Lalu kenapa ke sini?" tanya Hinata pelan.

Naruto berjalan menghampiri Hinata sambil memandang kelas gadis itu. Ia masih belum menjawab pertanyaan Hinata.

"Kau... tahu sesuatu?" lanjut Hinata gugup. Ia takut kalau Naruto tahu ia membuntutinya. Tapi bukannya dulu Naruto juga sama?

"Aku tahu semuanya."

Hinata menelan ludah dengan susah payah. Habislah.

"Aku tahu kalau Sensei Anko merekrutmu untuk Olimpiade. Selamat ya!"

Tanpa sadar Hinata menghela napas lega.

"Kenapa? Apa masih ada hal lain?" tanya Naruto saat melihat reaksi Hinata.

Hinata kembali tegang. "Tidak, tidak," jawabnya cepat.

Naruto mengangguk-angguk, pura-pura tidak mengerti. Padahal ia cukup geli dengan sikap Hinata.

"Kelasmu rapi ya."

"Kau mau bilang apa? Katakan saja langsung."

Naruto berdecak. "Kau ini... Sikapmu mengingatkanku pada seseorang."

Gadis itu hanya balas menatap Naruto dengan lekat.

"Baiklah, aku kemari untuk menanyakan sesuatu. Tapi jawablah dengan jujur."

Hinata jadi penasaran mendengarnya.

"Kau akan menganggapku apa?"

"Maksudmu?" tanya Hinata balik, tidak mengerti.

Naruto terlihat tidak nyaman. "Aku bilang untuk menganggapku sebagai orang asing. Tapi sepertinya kau tidak ingin melakukannya."

Gadis itu terdiam. Lagi-lagi pikirannya berkecamuk.

"Kau tetap akan menjadi sahabatku, baik dulu maupun sekarang," ujar Hinata kemudian. Gadis itu memandangi Naruto lekat-lekat.

Pemuda itu kelihatan bimbang.

Lalu ia mengusap rambutnya.

"Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Aku akan menemuimu lagi nanti, jika aku sudah tahu apa yang harus kukatakan," ucapnya sambil menghindari tatapan Hinata.

Dan saat ia mendengar derap sepatu Hinata mendekatinya, saat itulah Naruto mendongak dan melihat Hinata berjalan perlahan menghampirinya.

Gadis itu berhenti di hadapannya dan menatapnya dalam, tatapannya menuntut.

Mereka saling terdiam hingga akhirnya Hinata menggerakkan tangan kirinya dan...

Ia meraih tangan kanan Naruto.

Menggenggamnya erat.

Naruto memandangi kedua tangan mereka yang bersentuhan.

"Naruto, bisakah kita... begini saja untuk seterusnya?" tanya Hinata pelan. Gadis itu juga menatap tangan mereka yang bertautan. "Maksudku... sebaiknya kau jangan beranjak lagi dari sisiku."

Sebelah tangan Naruto menyentuh pelan tangan Hinata, sehingga kedua tangan pemuda itu pun menangkupi tangan mungil Hinata. Membuat gadis itu hangat.

"Aku tidak pernah meninggalkanmu. Sejak dulu."

Hinata menggigit bibirnya.

Dan tangannya ikut terangkat, balas menangkupi tangan Naruto.

.

.

.

Tbc

.

.

A/N: Aku memutuskan akan mengakhiri fic ITR ini di chapter sembilan. Menurutku jalan ceritanya sudah dapat diakhiri, walau mungkin konflik yang diperlihatkan tidak terlalu 'tajam' namun bagiku lebih baik cerita ITR ini dibuat semengalir mungkin. Aku lebih fokus pada pengembangan karakternya dan berusaha membuat pembaca memahami perasaan NaruHina dari semua interaksi mereka.

Sekali lagi, tak bosan-bosannya author meminta feedbacks dari semua yang telah bersedia membaca ITR. Dan maaf jika update-nya selalu lama...

Arigatou ^^

Sign,

Devi Yulia