.Happy Read.

Ost op: No Pain No Game (NaNo)

¤Uchida Tokugawa¤

-Present-

.Naruto belong's Masashi Kishimoto.

Naruto © Kishimoto M.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Summary: Aku hanya terlalu lelah dengan semua ini, Impian? Cinta? Harapan? Persahabatan? Semua hal tersebut indah pada awalnya namun memuakkan pada akhirnya, bahkan terkadang aku sering tertawa miris mengingat semua hal yang kulakukan selama ini tentang impian dan ambisi bahwa 'tidak akan mengubah jalan ninjaku' , semua hanyalah kebahagian semu yang memuakan percayalah bahwa seorang Uzumaki Naruto bahkan bosan dengan hal yang bernama impian dan ambisi.

.

.

.

(Ninja)

"Itu mustahil Naru-kun"

Suara kecil Asia membuyarkan lamunan Naruto yang sekarang sedang duduk diatap sekolah sambil menikmati sekaleng minuman dingin, dirinya melirik Asia yang menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan.

"Aku melawan Vali Senpai karena tidak ingin mati muda Asia" ucap Naruto pelan kembali menatap langit, "dan kebetulan ternyata aku menang melawannya" sambung Naruto dengan nada pelan malah membuat Asia memandang Naruto dengan pandangan kesal namun tidak lama melunakkan pandangannya dan tersenyum.

Asia tidak bisa menuntut banyak penjelasan dari Naruto, sebab dirinya bukanlah siapa siapanya dan juga seharusnya ia turut senang jika Naruto yang dulunya peringkat terbawah dengan julukan pecundang sekarang ini menjadi peringkat 2.

"Kuharap kau bisa semakin kuat Naru-kun" Asia tersenyum menatap kearah Naruto, "dan aku akan semakin giat berlatih agar bisa menyembuhkan luka Naru-kun saat bertarung suatu saat nanti" sambung Asia pelan membuat Naruto yang ingin menegak minuman kalengnya tersentak sesaat mendengar kalimat terakhir Asia.

Naruto terdiam sesaat mendengar perkataan Asia barusan yang entah mengapa kalimat tersebut mengingatkannya kepada teman satu timnya dulu Haruno Sakura, dirinya ingat dimana gadis pinky tersebut dengan keras kepala mengahadap Tsunade agar bisa diangkat menjadi muridnya membuat Naruto untuk beberapa saat mengulum senyum tipis karena entah mengapa dunia ini dengan dunianya yang dulu tidaklah jauh berbeda.

Cklek!

Suara pintu atap yang terbuka pelan membuat Naruto dan Asia mengalihkan pandangan mereka menatap dua orang siswa yang tadi membuka pintu atap dan sekarang melangkah mendekati mereka, sedangkan Asia langsung memasang posisi siaga saat melihat Saji serta Sairog yang melangkah kearahnya.

Tap!

Tap!

Tap!

Set!

"Asia tolong maafkan tindakan kami yang selalu membullymu" Sairog pertama kali membuka suara dihadapan Asia sambil membungkuk hormat diikuti Saji disampingnya yang hanya diam karena sudah diwakili oleh Sairog, sedangkan Asia yang awalnya memasang posisi siaga hanya terbengong melihat permintaan maaf dari Sairog dan Saji barusan, dirinya tidak menyangka kalau kedatangan mereka ternyata untuk meminta maaf seperti ini, karena sangat jarang bahkan tidak mungkin seorang murid di akademi ini meminta maaf kepada peringkat dibawahnya, apalagi dirinya adalah peringkat terbawah saat ini karena Naruto yang menduduki peringkat 2 sekarang.

"T-tenanglah aku sudah memaafkan kalian sejak lama kok" balas Asia tergagap pelan karena merasa gugup membuat Sairog dan Saji mengangguk pelan saat melihat maaf mereka diterima oleh Asia, tak menunggu lama mereka berdua menegakkan tubuhnya kemudian berbalik menghadap Naruto yang sepertinya sedari tadi hanya menatap langit.

"Maafkan segala tindakan kami juga Naruto" kali ini Saji yang mengeluarkan suara sambil membungkuk diikuti Sairog disampingnya.

Naruto melirik sekilas kearah kedua siswa yang sempat dirinya buat babak belur tersebut, dirinya berpikir untuk apa kedua siswa ini meminta maaf kepadanya? Karena sebenarnya Naruto tidak merasa marah ataupun tersinggung waktu dulu dikatai pecundang sebab faktanya dulu ia memang sangat lemah dan penyebab dirinya marah waktu diatap adalah karena melukai Asia padahal masalah mereka hanyalah kepadanya namun dilain sisi juga karena ingatan aslinya baru bangkit saat itu.

"Aku tidaklah marah dengan kalian Sairog Senpai, Saji Senpai" balas Naruto pelan melirik kedua kakak kelasnya melalui ujung matanya sesaat, "kenyataanya waktu itu aku memanglah seorang pecundang, namun yang harus kalian ketahui adalah tak semua mahluk akan bereaksi sama sepertiku jika kalian sebut pecundang, maka berhati hatilah jika ingin memperolok sesuatu" sambung Naruto panjang dengan intonasi datar membuat Saji serta Sairog entah mengapa terdiam membatu seusai mendengar kalimat Naruto sesaat yang lalu.

"Kami sudah menyadarinya Naruto, kalau jangan memandang sesuatu hanya dari sampulnya namun juga harus mengerti seperti apa isinya"

Naruto tersenyum tipis mendengar kalimat Saji barusan, dirinya rasa pemuda pirang tersebut telah mengalami perubahan setelah ia buat babak belur waktu itu namun detik berikutnya ekspresi Naruto kembali datar karena sadar bahwa hal seperti ini bukanlah urusannya dan semuanya adalah takdir tuhan, sekeras apapun ingin merubah takdir tersebut maka akhirnya juga akan kembali ke jalur awal dimana takdir tersebut dimulai, dan alangkah baiknya jika sedari awal mereka mengikuti alur takdir hingga selesai.

"Baguslah" ucap Naruto pelan kemudian bangkit berdiri sambil melirik Asia yang sedari tadi menyimak percakapannya dengan kedua Senpainya ini, "aku kembali ke kelas" Kemudian melangkah menjauh menuju pintu atap membuat lamunan Asia buyar dan dengan cepat bergegas mengikuti Naruto namun sebelum itu dirinya menyempatkan pamit kearah kedua Senpainya tersebut.

"Entah mengapa sifat Naruto sekarang jauh dari kata pecundang seperti dulu" Sairog berucap pelan melirik kearah Naruto yang melangkah semakin jauh.

"Bahkan rumor yang kudengar Naruto sekarang berada diperingkat ke 2 karena telah berhasil mengalahkan Vali"

"Kurasa tidak lama dia akan menduduki peringkat 1, Saji"

"Maksudmu menang melawan Issei?" Saji dan Sairog terdiam sesaat sehabis kalimat terakhir, kemudian mereka tertawa pelan.

"Kurasa tidak mungkin" ucap mereka bersamaan saat membayangkan bahwa Naruto menang melawan Issei, bukannya meremehkan namun memang semua murid diakademi ini sudah sangat mengetahui kekuatan monster macam apa yang dimiliki oleh seorang Hyaoudo Issei dan oleh karena itu semua siswa maupun siswi disini tidak pernah mencari masalah terhadap inang Sekiryuteii tersebut.

Sedangkan ditempat Naruto sekarang, terlihat pria pirang tersebut melangkah pelan dilorong akademi berniat menuju kelasnya diikuti Asia disampingnya, namun langkah mereka terhenti saat melihat Cao Cao yang berdiri sambil tersenyum kearah mereka.

"Yo Uzumaki-kun" Sapa Cao Cao ramah kearah Naruto yang menatapnya sesaat kemudian menghela nafas pelan karena tidak bisakah walau hanya sehari mahluk dihadapannya ini tidak mengganggunya.

"Pergilah duluan kekelas Asia, nanti aku menyusul"

Naruto melirik kearah Asia yang mengangguk pelan kemudian berlalu meninggalkannya bersama Cao Cao.

"Bagaimana kondisi tubuhmu? Sudah merasa lebih baik?"

Naruto melirik bosan kearah Sensei nya ini, karena entah mengapa mahluk dihadapannya ini tidak merasa bersalah karena atas tindakannya kemarin sampai membuatnya berduel dengan salah satu pemegang Sacred Gear White one dan dengan wajah tanpa dosa sekarang muncul menyapanya, mengingatkan nya terhadap kelakuan Orochimaru waktu didunia elemental nation dulu.

"Seperti yang kau lihat Sensei" balas Naruto datar sambil menghela nafas sesaat membuat Cao Cao yang mengerti bahwa ninja pirang dihadapannya ini sepertinya kesal dengan tingkahnya kemarin.

"Ma~ ma~ jangan terlalu dipikirkan Uzumaki-kun, lagian kau sekarang berada diperingkat ke dia yang berarti tidak ada lagi yang membullymu dan juga mereka akan segan denganmu" Tawa pelan Cao Cao menepuk bahu kanan Naruto.

"Lagian kejadian kemarin memang sepantasnya untuk dilawan, karena kalau tidak akan merepotkan dan juga sudah saatnya kau kembali bangkit Naruto"

Naruto menatap sesaat Zetsu hitam yang keluar dari lengan baju Cao Cao, dirinya sebenarnya tidak pernah berpikir untuk bertarung lagi didunia inilah dan lebih memilih menikmati hidup layaknya manusia normal namun apa daya dunianya kali ini sangatlah merepotkan, bahkan akademi yang dirinya tempati sekarang ini bukanlah akademi normal pada umumnya, hampir seluruh muridnya dari berbagai ras bahkan kepala sekolahnya saja seorang Shininggami membuat dirinya harus menjalani takdir rumit kembali.

"Aku akan kembali ke kelas" desis Naruto kemudian berbalik melangkah pergi menuju kelasnya meninggalkan Cao Cao serta Zetsu yang memandangnya dalam diam.

"Ada apa dengannya" ucap pelan Cao cao menatap punggung Naruto yang semakin menjauh dengan pandangan bingung sedangkan Zetsu hanya diam karena sepertinya ia mengerti apa yang dipikirkan ninja pirang tersebut.

"Kurasa Naruto hanya terlalu lelah dengan kehidupannya"

Cao Cao menatap Zetsu yang berada di lengannya dengan pandangan bingung membuatnya kembali memandang Cao Cao malas.

"Bukankah kau sudah tau bagaimana kehidupan Naruto didunia ya dahulu" Ucap Zetsu membuat Cao Cao mengangguk pelan sambil terkekeh.

"Bukankah itu bagus, jika didunianya dulu Uzumaki-kun tak dianggap dan diremehkan maka didunia ini dia harus menjadi yang terkuat dan berada dipuncak" balas Cao Cao semangat sedangkan Zetsu yang mendengarnya sweatdrop sesaat.

"Terserah kau saja" Ucap Zetsu malas kemudian iris coklatnya kembali menatap punggung Naruto yang telah berada jauh dari tempatnya dan Cao Cao, dirinya berpikir jika dulu waktu perang Shinobi sifat Naruto seperti ini bukannya sifat periang, pantang menyerah dan peduli dengan hal sekitarnya namun mempunyai sifat masa bodoh dan menerima takdir yang telah diberikan kamii-sama maka mungkin ibunya tidak akan tersegel untuk kedua kalinya dan dirinya bersama ibunya juga tidak harus terdampar didunia ini.

"Desa serta orang orang yang kau bela dengan nyawamu malah mengkhianatimu meskipun tidak secara langsung Uzumaki Naruto" batin Zetsu pelan saat mengetahui bahwa pahlawan besar Shinobi tersebut secara tak langsung dikhianati oleh desa serta Shinobi lainnya, dimana yang menjadi pahlawan Shinobi adalah sang reinkarnasi Indra yaitu Uchiha Sasuke dan juga sekaligus menjadi hokage ke 8 ditambah lagi gadis yang menggilai Naruto sejak genin Hinata Hyuga malah terikat status pernikahan dengan rekan setimnya Inuzuka Kiba, membuat Zetsu saat mendengarnya tertawa pelan karena ternyata seorang Uzumaki Naruto yang selalu periang dan mempunyai kepedulian tinggi bisa merasakan mual bahkan bosan dengan namanya impian serta ambisi, "Kurasa kau sekarang bisa merasakan penderitaan sama seperti yang dialami Madara serta Obito, dan bukanlah hal yang mustahil jIka suatu saat kau menjadi seperti mereka Naruto" Batin Zetsu memandang sekilas punggung Naruto sambil menyeringai kecil.

Blaar!

Zetsu mengalihkan pandangannya kearah lorong sekolah tempat Naruto lewati tadi yang hancur berkeping keping layaknya sehabis terkena ledakan, sedangkan Cao Cao tertawa pelan karena mengingat sesuatu.

"Ah sepertinya aku lupa memberitahu Uzumaki-kun kalau hari ini cidera Raiser telah pulih dan kembali masuk akademi serta ketua OSIS juga telah selesai dengan urusannya selama setahun dan kembali bersekolah juga hari ini, bukankah ini sebuah kebetulan yang mengesankan" kekeh pelan Cao Cao kemudian menatap kearah seorang gadis bersurai biru sepunggung yang sepertinya sehabis melempar Raiser barusan.

"Jadi yang dulu kau maksud seorang siswi monster tanpa ranking itu adalah gadis tersebut?" Zetsu berucap pelan sambil menatap kearah gadis bersurai biru yang sepertinya sekarang melangkah mendekati Raiser.

"Seperti yang kau katakan Zetsu, Kurokami Medaka seorang siswi dari ras manusia yang mempunyai kekuatan abnormal bahkan aku tidak tau kekuatannya mempunyai batasan sampai mana, namun anehnya dia waktu dulu ditawarkan untuk ikut rating game malah menolaknya dan mencalonkan sebagai ketua OSIS" jelas Cao Cao yang kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu dimana waktu gadis manusia abnormal tersebut masuk ke akademi ini dengan alasan ingin mencari teman namun tak disangka mempunyai kekuatan yang luar biasa.

"Sudah berapa kali kukatakan untuk jangan mencari masalah Raiser! Cukup lama aku meninggalkan kursi ketua OSIS dan salama itu pula ternyata kau selalu membuat onar bahkan laporan dari anggota OSIS lainnya kau juga selalu membully adik kelas, Naruto Springfield" Ucap gadis bersurai biru sepunggung yang bernama Medaka tersebut datar sambil melangkah kearah Raiser yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya akibat tendangannya beberapa saat lalu.

Sedangkan Raiser yang melihat dirinya kembali dipermalukan dihadapan murid lainnya mendecih pelan, sudah cukup ia dipermalukan waktu kalah melawan pecundang Naruto sampai peringkatnya turun dan sekarang dirinya akan kembali dipermalukan oleh Medaka sang ketua OSIS yang sebenarnya dirinya akui wanita dihadapannya ini kekuatannya jauh diatasnya dan dirinya dulu berada diperingkat 5 adalah karena sang ketua OSIS ini tidak berniat mengikuti Rating game, namun sesaat kemudian sebuah ide licik melintas dikepala iblis phenex tersebut.

Set!

"Medaka Kaichou! Aku memang salah karena selalu berbuat onar, namun kejadian beberapa hari lalu itu aku diserang oleh sipecundang Naruto dari belakang dengan memakai sihir aneh yang membuatku menjadi tak berdaya bahkan rekanku juga dibuatnya cidera parah padahal niat awalnya hanya ingin mengajaknya untuk kekantin" Ucap Raiser membungkuk menyesal kearah Medaka yang menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat Raiser barusan kemudian mengerenyitkan dahinya karena jarang jarang melihat iblis phenex dihadapannya ini membungkuk hormat bahkan meminta maaf.

"Apa maksudmu?"

"Naruto Springfield telah menyerangku dari belakang untuk mengalahkan ku dengan cara curang dan juga menyerang teman temanku tanpa alasan yang jelas" Jelas Raiser masih membungkuk hormat membuat Medaka yang akhirnya paham perlahan melirik kearah Naruto yang sepertinya tadi sempat menatap kearah dirinya dan Raiser akibat ledakan beberapa saat yang lalu namun sekarang telah kembali melangkah menjauh.

"Apakah hal tersebut benar?" Teriak Medaka agak nyaring kearah Naruto yang menghentikan langkahnya kemudian melirik datar kearah gadis bersurai biru tersebut.

Sedangkan beberapa ratus meter dari tempat tersebut atau lebih tepatnya diruang kepala sekolah, terlihat pria tua botak yang melihat kejadian barusan dari jendela ruangannya menghela nafas pelan, dirinya tidak punya hak untuk menghentikan aksi Kuromaki Medaka, karena sejak dulu akademi ini didirikan, seorang ketua OSIS mempunyai sebuah hak istimewa yaitu bebas bertindak apa saja diakademi ini jika untuk menertibkan siswa&siswi melalui cara lembut ataupun kasar.

"Kuharap Naruto-san dapat memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh Medaka-chan" ucap Yamamoto sambil menutup tirai jendela ruangannya kemudian melangkah menuju meja kerjanya.

Sedangkan ditempat Naruto, dirinya yang tadi mendengar perkataan gadis bersurai biru tersebut yang ia ingat sebagai ketua OSIS di akademi ini kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya datar.

"Kurasa itu bukanlah hal penting Medaka-senpai" balas Naruto datar kemudian kembali berbalik melangkah pergi, dirinya berpikir apakah semua anggota OSIS itu buta dan tuli sampai tidak mengetahui akar permasalahan waktu dirinya melawan Raiser saat diatap, bahkan murid lainnya disekitar situ hanya diam membisu tanpa berniat membantu menjelaskan hal sebenarnya yang waktu itu terjadi, sedangkan Raiser menyeringai lebar melihat reaksi yang Naruto keluarkan seperti harapannya.

"Jadi hal tersebut benar?!" Geram Medaka saat mendengar balasan Naruto barusan yang terkesan acuh serta pergi meninggalkannya tanpa izin yang entah mengapa membuat emosinya meninggi untuk saat ini, "Kau sudah melanggar peraturan penting akademi ini dengan menyerang lawan dengan curang dan juga tidak menghormati anggota OSIS" sambung Medaka pelan dan perlahan Surai birunya berubah warna menjadi pink kemudian melompat cepat kearah Naruto sambil melesakkan kepalan tangannya tepat kearah punggung.

Blaaaaar!

Ledakan cukup besar terjadi saat tinjuan Medaka beradu dengan tangan kosong Naruto yang detik detik terakhir berbalik kemudian menahan serangan gadis bersurai pink tersebut membuat area disekitarnya hancur bahkan tempat yang Naruto pijak saat ini telah menjadi kawah cukup dalam akibat kuatnya pukulan seorang Kurokami Medaka dan membuat dirinya teringat dengan teman satu timnya Haruno Sakura serta Godaime Hokage yang sama sama mempunyai kekuatan monster seperti gadis ini meskipun kekuatannya sedikit dibawah kedua temannya tersebut.

Medaka yang melihat tinjuan andalannya dapat ditahan satu tangan oleh Naruto sempat terkejut kemudian dengan cepat melompat mundur beberapa meter dari tempat Naruto.

"Kau cukup kuat Naruto, kurasa selama setahun absen aku banyak melewatkan kejadian menarik" ucap Medaka sambil menunjuk kearah Naruto dengan jari telunjuknya, "namun tetap saja, tingkah curangmu itu sudah melanggar aturan" sambung Medaka yang dengan cepat mengangkat patahan pilar tiang ruangan disampingnya yang hancur akibat pukulannya beberapa saat lalu kemudian dengan kuat melemparkannya kearah Naruto.

Wussh!

Blar!

Ledakan skala kecil kembali terjadi saat tiang pilar ruangan yang dirinya lempar kearah Naruto tepat mengenai sasaran membuat area disekitarnya tertutup debu.

"Kurasa kau ketua OSIS yang gampang dibodohi Medaka-senpai"

Medaka menoleh kanan dan kiri saat mendengar perkataan Naruto barusan namun tidak menemukan keberadaan pria pirang tersebut sampai akhirnya dirinya sadar lantas mendongak keatas dan menemukan Naruto yang berdiri dilangit langit ruangan layak nya berdiri normal dilantai, membuat dirinya sempat terkagum sesaat karena baru pertama kali melihat manusia melakukan hal seperti itu, sempat terpikir untuk meminta Naruto mengajarkannya akan tetapi dirinya kembali sadar bahwa sekarang bukan saatnya untuk berpikiran hal tersebut.

"Apa katamu!" Ucap Medaka semakin emosi karena baru kali ini ada siswa yang berani mengatainya bodoh bahkan menentang Osis sampai seperti ini.

Set!

Tep!

"Kau bisa tanyakan hal tersebut kepada Rias senpai dan Cao Cao Sensei karena entah mengapa setiap aku terlibat hal merepotkan, kedua orang itu selalu saja ada hanya untuk menonton"

Poft!

Ucap Naruto datar saat melompat turun dari langit langit ruangan kemudian mendarat tidak jauh dari tempat Medaka yang beberapa detik berikutnya tubuh Naruto meledak menjadi kumpulan asap, meninggalkan sang ketua OSIS seorang diri serta murid lainnya yang diam membisu setelah menonton sedari tadi.

Medaka terdiam sehabis mendengar perkataan Naruto barusan, dirinya sebenarnya juga merasa janggal dengan penjelasan Raiser tadi namun karena ego dirinya sebagai ketua OSIS yang seperti tidak dihormati oleh Naruto membuatnya emosi, bahkan saat ini siswa pirang tersebut malah menghilang entah kemana tanpa izin darinya namun beberapa sesaat kemudian ia mengambil sebuah ponsel lipat disaku rok nya.

Tuk!

Tuk!

Tuk!

Suara jari Medaka yang beradu dengan keypad ponselnya kemudian mendekatkannya kearah telinganya.

Tut!

Tut!

Tut!

"Moshi! Moshi Rias, aku ingin tahu yang sebenarnya terjadi waktu Naruto melawan Raiser" Ucap Medaka singkat to the point kearah ponsel lipatnya dan tidak lama sebuah suara kecil terdengar panjang lebar menjelaskan kejadian sebenarnya waktu diatap selama beberapa menit dan sesaat setelahnya hawa disekitar Medaka mulai menguar bahkan disekitar tubuh gadis tersebut mulai berasap serta Surai pink nya melambai ganas.

"Kurasa satu satunya siswa yang belum tertib adalah kau Raiser" desis Medaka tajam melirik iblis pirang yang meneguk ludah kasar akibat rencana liciknya telah diketahui tersebut.

Wush!

Blaaar!

Sedangkan dikelas Naruto sekarang terlihat Asia yang duduk di bangkunya sambil menatap kearah jendela kelas menunggu kedatangan Naruto yang tadi menyuruhnya untuk kekelas terlebih dahulu karena ada urusan dengan Cao Cao Sensei.

Ddrrrrt!

Ruangan kelas bergetar pelan serta tidak jauh dari kelas tercipta sebuah ledakan lumayan besar membuat kelas terdiam sesaat namun detik berikutnya kembali seperti biasanya karena hampir semua siswa&siswi akademi tahu bahwa yang bisa membuat ledakan serta tanah bergetar seperti itu dijam sekolah seperti ini hanya lah Medaka sang ketua OSIS.

"Naru-kun lama sekali" ucap Asia pelan.

-Naruto home-

Selepas bunshin yang Naruto ciptakan untuk pergi bersama Asia ke akademi meledak menjadi asap, terlihat Naruto yang sesungguhnya sekarang sedang duduk dipinggir ranjang tidurnya menatap lantai kamar dengan pandangan lesu karena memang belum sepenuhnya pulih dari pertarungannya kemarin melawan Vali dan juga sebenarnya waktu dikamar mandi saat Asia menjemputnya untuk berangkat menuju akademi, Naruto membuat Bunshin untuk mengantikannya karena sejujurnya tubuhnya sangat kelelahan, dirinya sudah tidak sehebat dulu waktu masih menjadi ninja penuh kejutan di Konoha dan elemental nation, mungkin sekarang dirinya masih mempunyai mode rikudo Ashura ataupun mode Sage dan segala jenis Jutsu maupun fuin Jutsu seperti halnya waktu didunia asalnya namun ketahanan tubuhnya sangat berbanding jauh ditambah lagi Kurama yang sudah tidak berada ditubuhnya yang membuat regenerasi chakra maupun cidera yang dialaminya layaknya seorang manusia.

Naruto terdiam sesaat ketika ingatan bunshinnya yang menghilang diakademi masuk ke kepalanya, dirinya sempat terhenyak saat melihat ingatan bunshinnya yang sempat menahan pukulan dari ketua OSIS bernama Kurokami Medaka tersebut, pukulan monster gadis tersebut layaknya Sakura dan Tsunade-Baachan meskipun sedikit berada dibawah mereka.

"Kekuatan monsternya mengingatkanku kepada Sakura" desis Naruto pelan.

Sring!

Perlahan sinar putih tercipta dihadapan Naruto dan semakin lama membentuk sebuah wujud manusia yang beberapa saat kemudian perlahan sinar terang tersebut mulai menghilang menampakkan seorang wanita bersurai putih panjang dengan jubah Miko berwarna putih menatap Naruto dengan senyuman tipis.

"Bagaimana kondisi tubuhmu Naruto?"

Naruto menatap sesaat wanita dihadapannya ini, wanita atau bisa dikatakan seorang Dewi kelinci yang dulu dirinya dan Sasuke segel serta dalang dari semua akar masalah yang terjadi didunianya dulu, entah mengapa rasa benci maupun kesal tidak muncul kepermukaan saat ini, padahal dulu waktu perang Naruto akui sangat membenci ibu dari chakra dihadapannya ini.

"Seperti yang kau lihat" balas Naruto datar kemudian merebahkan tubuhnya kembali keatas ranjangnya menghiraukan Kaguya yang tersenyum tipis melihat tingkah dari reinkarnasi Ashura tersebut.

Tap!

Tap!

Set!

"Sifatmu menyamai reinkarnasi Indra, Naruto"

Kaguya melangkah pelan mendekati ranjang Naruto dan kemudian duduk ditepian sambil sesekali memandang ninja pirang tersebut dengan senyuman kecil.

Set!

Naruto sesaat menegangkan tubuhnya ketika jari telunjuk Kaguya terulur kearah punggungnya yang memang posisinya sekarang sedang membelakangi Dewi kelinci tersebut, perlahan kuku bercat putih milik Kaguya bergerak pelan diatas kulit punggungnya.

"Rasa kecewa, kesepian, terkhianati, amarah, benci, lebih mendominasi saat ini dihatimu Naruto, padahal dulu waktu kau menyegelku didunia Shinobi aku dapat merasakan hati ini" ucap Kaguya pelan menggerakkan jari telunjuknya mengelus punggung Naruto pelan, "penuh dengan kehangatan, kepercayaan, dan tekad yang begitu kuat, namun sekarang hanyalah kebalikan dari itu semua" sambung Kaguya pelan sedangkan Naruto lebih diam tanpa berniat membalas perkataan Kaguya yang memang benar faktanya dan memang sudah sejak lama dirinya berhenti untuk berharap untuk takdir yang lebih baik serta berusaha keras untuk merubah takdir karena pada akhirnya semuanya akan kembali ke garis awal.

"Perasaan terkhianati ini" Kaguya menghentikan gerakan jarinya saat tepat ditengah punggung Naruto, dirinya dapat merasakan rasa pedih akibat dikianati oleh orang yang dicintai, "Rasa ini seperti dulu waktu aku dikhianati dan pertama kali disegel oleh Hogoromo dan Hamura" sambung Kaguya pelan.

"Kau disegel karena berniat ingin menghancurkan pengguna chakra dulu, kau kira aku tidak tau, dan juga bisakah kau diam? Aku butuh istirahat saat ini"

Kaguya terhenyak saat mendengar kalimat balasan Naruto barusan, dirinya tidak menyangka pemuda tersebut membalas kalimatnya, membuatnya tersenyum kecil.

"Kenapa kau tidak menggunakan chakra yang kuberikan Naruto?" Tanya Kaguya saat melihat Naruto yang kelelahan, sebab sebelum dirinya masuk kedalam tubuh reinkarnasi Ashura ini, ia sempat memberi kekuatan kepadanya namun entah mengapa sejak ingatan Naruto kembali, pemuda tersebut belum pernah menggunakannya bahkan lebih bergantung kepada kekuatan Ashura yang akhirnya menjadi kelelahan seperti saat ini, sedangkan Naruto yang mendengar kalimat Kaguya barusan hanya menghela nafas pelan.

"Aku tidak perlu bantuan darimu Kaguya dan juga bisakah aku beristirahat?" Balas Naruto datar dan diakhir kalimatnya dirinya sedikit menekan kalimatnya agar Dewi kelinci dibelakangnya dapat mengerti kalau kondisinya saat ini butuh istirahat.

"Istirahat lah Naruto aku akan menjagamu selagi beristirahat" Kaguya tersenyum tipis, karena secara tidak langsung sifat pemuda dihadapannya ini mengingatkan nya kepada Hogoromo dan Hamura waktu remaja dulu.

-TBC-

Note: Yo balik lagi, met natal Ama tahun baru yak bagi yang merayakan ane doakan mudahan nasib baik menyertai lu" semua, yang jones jadi gak jones lagi, yang jelek jadi tamvan/cantik :v wkwkwkwk intinya ane ngucapin met natal Ama tahun baru saja :v

Dah sekian dan terima gajih :v

.Dont Like Dont Read.

END OST: Itowokashi (Yadoriboshi)

.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.

.Mirai Wa Aka Belong's Uchida Tokugawa.

.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.

-SAYONARA-