Chapter seven : Smile and Tear
Kyungsoo mengacak surai hitamnya saat melangkah keluar dari kamar yang dikongsi bersama Suho. Harus diakui, tubuhnya lelah dan butuh beberapa jam lagi agar rasanya kembali segar. Tapi, kalau bukan dia yang menyiapkan sarapan siapa lagi ?! EXO K hanya tau untuk menyanyi dan menari. Memasak ? Huh, mereka patut berasa untung mempunyai Kyungsoo.
Kaki yang sering Chanyeol katakan sebagai terlalu pendek itu menuju ke ruang dapur. Merancang ingin membuat sesuatu yang enak. Mungkin makanan favoritnya Sehun ? Okay, masukkan dalam senarai menunya.
Begitu dia turun mendekati ruangan dapur, bunyi celetukan sendok dan piring kedengaran. Berhasil membuat keningnya bercantum.
Ini sangat aneh.
Selain dirinya, tiada satu pun member EXO yang lain bangun terlebih awal. Dengan rasa ingin tau yang semakin membesar, Kyungsoo mengintip dari balik ruang di mana memisahkan dapur dan ruang tengah. Memperlahankan langkahnya agar dia bisa melihat apa yang dilakukan dan siapa yang bangun seawal ini.
Senyuman hadir saat matanya menangkap sosok mungil yang asik menyiapkan sesuatu yang Kyungsoo sendiri tidak tau. Bibir pink mengerecut ke depan saat merasakan ada yang kurang. Terkadang mata bulat nya bersinar membuat jantung Kyungsoo berdetak. Sinaran yang tidak pernah gagal memberi kehangatan. Sinaran yang begitu terang sehingga membuat Kyungsoo hampir tersungkur dari tempat persembunyiannya.
" Ehh, hyung ? Kau sudah bangun ? Aku membuat pancake kesukaan mu, hyung ! Dan ini sangat enak !" sosok yang ia perhatikan sedari tadi kini berlari kecil menuju ke arahnya bersama piring yang terisi dengan pancake. Lumayan, pikirnya.
Setidaknya gadis itu lebih pintar memasak berbanding dengan Jongin.
" Cokelat pancake ! Itu favoritmu kan, hyung !"
Ckk, cokelat itu kan favoritmu.
Meski begitu dia tidak berkata apa pun. Hanya mampu merusak surai dark brown milik Sehun dengan gemas sebelum mengikuti sosok itu kembali masuk ke ruangan dapur.
" Jja, mulai sekarang aku sudah menjadi manager kalian !"
Ehh ?
" Manager ? Bercanda ya, Hun ?"
Dan Kyungsoo tersenyum kecil saat melihat pout yang terhasil dari sosok manis itu. Tanpa bisa dikawal, dia membiarkan tangannya naik dan mengusap kepala sosok yang mempunyai ketinggian lebih pendek darinya.
" Manager hyung menyuruhku untuk menjaga kalian. Jadi itu sama saja menjadi manager kalian, kan ?"
Kyungsoo hampir saja ketawa besar tapi ia tahankan karna aduh wajah Sehun imut sekali saat gadis itu berusaha menyakinkannya. Dia memutuskan untuk mengacak surai Sehun dan beralih merasakan sedikit masakan yang katanya enak itu.
Tepat seperti apa yang ia pikirkan. Cokelat pancake buatan gadis itu terlalu manis dan sedikit lembut. Kyungsoo hanya mampu menelannya laju dan memberikan senyuman kepada Sehun yang sepertinya senang karna sudah berhasil menyiapkan pancake spesial nya itu.
" Jadi bagaimana ? Enak kan ?"
Aduh.
Sehun imut sekali. Dengan matanya yang berbinar menatap Kyungsoo penuh harapan agar laki-laki itu memuji masakannya. Jangan lupakan pipinya yang selalu saja kemerahan entah karna malu atau senang yah.
" Enak, Hun."
Sang gadis melompat kegembiraan. " Aku akan membangunkan mereka. Hyung sediakan meja yah !"
Belum sempat Kyungsoo ingin berkata apa-apa, Sehun sudah berlari ke atas, masih lagi memakai apron membuat Kyungsoo tersenyum sembari menggeleng kepalanya kecil.
" Anak itu..."
Beberapa hari ini, sebetulnya semenjak Sehun berubah menjadi yeoja. Kyungsoo harus akui, dia juga ikut berubah. Dia
... menyukai maknae mereka itu. Maknae mereka yang imut. Maknae mereka yang cantik. Maknae mereka yang ... indah.
Astaga ! Apa yang kupikirkan ?! Kyungsoo bisa rasakan pipinya memanas dan dia yakin sedang memerah gara-gara seorang Sehun !
Laki-laki berperanan sebagai vokalis EXO itu beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk menyediakan meja makan sesuai dengan permintaan Sehun tadi.
" Do Kyungsoo, kau sudah gila ?!" Bisiknya kepada diri sendiri. Merutuk kesal karna sempat memikirkan yang tidak-tidak tentang maknae mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini EXO K mempunyai jadual yang sedikit padat. Meskipun mereka sedikitpun tidak mengaduh lelah ataupun sakit, Sehun bisa melihat dengan raut wajah mereka yang penuh dengan keringat dan kelelahan. Perlahan ia mendekati Suho yang menyandar di cermin dinding, meneguk mineral dengan laju.
" Hyung..."
Sontak Suho mendongak. Memberikan senyuman yang sering membuat Sehun iri karna senyuman itu selalu saja berhasil membuat dirinya sekaligus member yang lain merasa tenang dan damai. Senyuman yang begitu mirip sekali dengan senyuman malaikat yang indah.
" Wae, Sehunnie ? Kau bosan menunggu di sini ?"
" Aniyo !" Surai dark brown milik satu-satunya gadis di dalam kamar latihan itu bergerak dengan pantas saat pemilik rambut menggeleng.
" Aku cuma kasihan melihat kalian ! Ini sudah lebih tujuh jam kalian tidak berhenti latihan. Lagian Concert kita kan lama lagi ? Tidak bisakah kalian istirehat sebentar ?"
Ia bisa melihat Suho mengeluh pelan.
" Hun, kita harus mengerah tenaga. Concert yang akan datang ini kan untuk fans kita. Kita harus membalas segala rasa cinta yang diberikan oleh fans kita."
" Tapi kan tidak dengan menyiksa diri kalian juga, Hyung ! Fans juga bakalan ngerti ! Mereka tidak mau kalian jatuh sakit ! "
Keningnya bertaut saat melihat Suho tersenyum lagi. Membuat dirinya heran. Bisa-bisa nya leader sekaligus hyung tersayangnya itu tertawa saat dia disini menyuruh mereka untuk istirehat meskipun hanya sebentar.
" Tujuh tahun, Hun. Tujuh tahun aku menunggu ini semua. Setelah kini aku berdiri di sini. Bersama dengan EXO, bersama dengan SM, bersama denganmu, aku tidak mau melepaskan nya dengan mudah. Lelah ku terbayar dengan melihat fans tersenyum."
Baiklah.
Sehun mengalah. Perlahan dia mendekati leader EXO itu, memeluknya kejap sebelum memberikan senyuman manisnya.
" Maafkan aku, hyung. Mungkin aku masih bocah karna tidak memahami ini semua."
" Tidak apa, Hun."
" Jja, hyung ingin memesan apa-apa ?!"
" Memesan ?" Alis Suho bercantum, menatap heran kepada Sehun yang sudah tertawa kecil dan merapihkan sedikit surainya yang berantakan.
" Aku ingin ke Cafe Bubble Tea dan membelikan minuman agar kalian kembali bertenaga !"
" Tidak usah, Hun."
" Tapi, hyung ..."
" Ini sudah malam. Lagian siapa yang akan menemani mu ? Kau mau hyung ikut ?"
Sehun menggeleng dengan pantas. " Tidak perlu ! Hyung kan masih kelelahan. Lagian aku sudah dewasa, hyung. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Apa kau lupa meskipun luaran ku perempuan, di dalam aku masih laki-laki, hyung !"
Suho memutar bola matanya malas. Dengan sedikit tidak rela, ia menganggukan kepalanya.
" Jangan lama dan pulang secepat yang mungkin ! Jangan lupa ponselmu dan hubungi aku jika ada apa-apa ! Kau mengerti ?!"
Sehun mengangguk dengan antusias. Ia berlari kecil menuju ke hyungdeulnya yang lain dan menanyakan apa yang mereka inginkan.
Dan sama seperti Suho ...
" Ini sudah malam ! Tetap di sini dan jangan keluar !" - Do Kyungsoo
" Kau mau keluar ? Biar hyung ikut." - Byun Baekhyun
" Tidak bisa, Hun. Bagaimana kalau ada apa-apa yang terjadi ?" - Park Chanyeol
" Kami tidak mau apa-apa. Kau tetap di sini dan jangan kemana-mana." Kim Jongin
... mereka tidak mengijinkan Sehun untuk keluar selangkah dari bangunan SM ini.
Sehun mempoutkan bibirnya kesal. Gaun soft pink pilihan hyungdeulnya itu sedikit menjengkelkan. Dia bahkan sukar untuk bergerak bebas meskipun nyatanya gaun itu selesa untuk dipakai.
" Hanya sebentar, hyung ! Aku kan ingin melakukan sesuatu ! Selama aku menjadi yeoja, aku merasa seperti tiada gunanya kepada kalian."
Sontak laki-laki yang berada dalam ruangan latihan itu terdiam. Mengetahui perasaan Sehun sepanjang menjadi yeoja sedikit mengkagetkan.
" Kau tetap maknae tersayang kami, Hun."
Sehun menggeleng laju. " Nyatanya aku sekarang yeoja. Dan apa yang aku lakukan hanya diam menatap kalian kelelahan."
" Sehun, kau ada sini saja sudah cukup memberi energi kepada kami."
" Tapi, Chanyeol hyung ..."
Chanyeol maju kedepan. Ia menarik sosok gadis yang memiliki peran sebagai maknae EXO itu masuk ke dalam dekapannya. Dengan perlahan mengusap kepala Sehun.
" Tetaplah di sini dan tersenyum."
Sang gadis mengatup matanya erat. Ia membalas pelukan Chanyeol dan tidak lama, hyung nya yang lain ikut memeluk nya dengan erat sehingga ia terpaksa berteriak kecil.
" Aku tidak bisa bernapas, hyungdeul !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Okey, ini baru beberapa hari Lu Han tanpa Sehun tapi hatinya sudah berbisik, menjerit rindu dengan sosok kekasihnya.
Tuhan, aku merindukan Sehun !
" Lu, Sehun tidak akan muncul meskipun kau menatap nya 24 jam di ponselmu."
Lu Han menoleh ke sampingnya dan menjerit pelan kepada Minseok. " Wuahhh, Minseokkie, aku merindukan Sehun. Apa Sehun sudah makan di sana, apa Sehun tidak selingkuh di sana. Aku merindukan Sehun."
Sang teman hanya mampu menggeleng kepala. Ia memilih untuk memasuki dapur dan meninggalkan Lu Han di ruang tengah bersendirian.
" Yakk, Minseok ! Kau mau kemana ?! Dengarkan luahan ku ini, Kim Minseok !"
" Ge, kau kenapa ?"
Lu Han langsung memeluk Lay begitu laki-laki dari Changsa itu masuk ke ruang tengah. Ia menghamburkan kata-kata yang Lay sendiri tidak mengerti. Sekejap dengan bahasa Korea dan sebentar lagi akan bertukar ke bahasa China.
" Ge, pelan-pelan. Aku tidak mengerti satupun dari kata-kata mu. Coba tarik nafas dan hembuskan perlahan-lahan. Dan katakan kepadaku apa yang berlaku denganmu."
Sesuai apa yang Lay katakan, Lu Han menarik nafasnya dan menghembuskan nya secara perlahan. Posisinya juga kembali normal.
" Aku merindukan Sehun, Yixing."
Sontak Lay tersenyum. " Aku juga merindukannya, ge."
" Tapi..."
" Lu ge, kita hanya terpisah oleh jarak tapi nyatanya hati kita masih dekat kan ? Sehun juga merindukan kita semua begitu juga dengan memberdeul yang lainnya. Ini pengorbanan yang perlu kita lakukan untuk kejayaan."
Lama Lu Han terdiam. Memikirkan secara dalam kata-kata dari Lay itu. Sememangnya Lay pintar dalam menenangkan hatinya yang selalu kacau.
" Kau benar, Xing. Maafkan aku karna bertingkah seperti anak kecil. Seharusnya aku lebih kuat untuk dongsaeng ku yang lain."
Lay tersenyum kecil. Ia menepuk pelan pundak Lu Han, memberikan semangat untuk laki-laki itu.
" Terus semangat, ge ! Uri Sehun juga kuat di sana !" Dan meloloskan diri naik ke kamarnya.
' Uri Sehun ?'
" Hey, Yixing ! Bukan uri Sehun ! Itu my Sehun !"
Tao ikut masuk di temani Kris yang asik dengan ponselnya. Laki-laki yang mempunyai ikatan persahabatan dengan kekasihnya itu beralih duduk di sampingnya.
" Kau kenapa, ge ? Punya masalah ?"
" Aku merindukan Sehun."
" Aku juga, ge. Kenapa tidak meneleponnya saja ?"
" Kau lupa manager hyung sudah menyita kesemua ponsel kita ?!"
Tao mencengir, ia menggaru kepalanya yang Lu Han yakin tidak gatal sama sekali.
" Lu, ini baru beberapa hari kita di sini. Mungkin bulan depan kita akan kembali ke Korea, jadi, aku ingin kau fokus." Nada Kris tidak tinggi meski begitu tersirat ketegasan dalam suara sang leader EXO M itu.
Lu Han mengalah. Ia menyandarkan badannya dan memeluk erat boneka mirip Pinku Pinku milik Sehun cumanya milik Lu Han berwarna cokelat.
Hahh, bersabarlah duhai Lu Han. Dan tetap berdoa kekasih mu itu masih mengingati mu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun menoleh ke belakang untuk memastikan semuanya baik-baik saja ketika tangan kecilnya memegang knob pintu dorm mereka. Gaun halus berwarna putih itu di lapisi dengan hoodie kelabu dan sneaker yang menutupi kaki mungilnya.
Setelah yakin tiada satupun hyungnya menyadari dengan tingkahnya, gadis yang ada satu-satunya di dalam EXO itu tercengir. Tangannya mengenggam erat wallet cokelat dan ponsel nya.
" Baiklah, aku akan keluar hanya sebentar untuk membelikan makanan malam. Hyungdeul tidak akan marah kan ?"
Tubuh mungil itu keluar sepantas kilat dan sesekali menoleh ke belakang.
Sehun memperlahankan langkahnya saat dia yakin sudah berjalan jauh dari dorm. Langkahnya teratur, sesekali dia akan memberikan senyuman kepada sesiapa yang ia temui.
Peluang seperti ini peluang keemasan ! Meskipun nantinya Suho akan memarahinya, Sehun tidak peduli. Ayolah, dia hanya ingin ke supermarket dan membeli beberapa ramuan untuk memasak. Jadi, tidak salah kan ?
Gadis bersurai cokelat itu memasuki supermarket. Mengambil basket dan mengeluarkan ponselnya. Meneliti setiap ramuan yang sudah ia tulis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun melangkah keluar dari supermarket bersama dengan dua plastik besar di tangan. Senyuman melebar namun lesap saat melihat langit gelap yang menandakan hujan akan turun sebentar lagi.
Dengan sedikit kelam kabut, Sehun mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Suho ataupun Kyungsoo.
' Hyung, bisa ambil aku di Supermarket berdekatan dorm ?'
To : Kyungsoo
Send
Okei, satu-satunya yang tau tujuan nya ini hanya Kyungsoo. Itu pun, Sehun harus merayu dengan puppy eyes terbaiknya dan beberapa tetesan airmata palsu barulah Kyungsoo menyetejui permintaan Sehun.
Lama Sehun menunggu balasan dari Kyungsoo namun nihil. Mungkin saja vokalis EXO K itu sedang sibuk atau tidur ?
Kedua tangannya yang kecil bergesel antara satu sama lain, manghasilkan haba agar bisa mengurangkan sedikit kedinginan yang mengigit tubuhnya.
Setetes
Dua tetes
Dan tiga detik kemudian hujan membasahi bumi. Sehun dengan pantas berundur ke belakang untuk menggelak dari terkena hujanan. Beberapa dentuman guruh kedengaran membuat Sehun sedikit mengigil.
Hey, dia sedikit takut dengan dentuman itu !
Melihat jalanan semakin sunyi dan tidak ada manusia selain dirinya di depan supermarket itu membuatkan Sehun ketakutan. Dengan mengumpulkan segala keberanian yang ada, gadis mungil itu menempuh hujanan. Berlari selaju yang mungkin sembari melindungi plastik yang ada.
Untungnya setelah berada di pertengahan jalan, hujan lebat sudah bertukar kepada rintik-rintik. Sehun memerlahankan langkahnya, menyapu air hujan yang hampir melemaskan dirinya sendiri.
" Apa yang anak manis seperti mu lakukan di sini ?!"
Mendengar suara laki-laki yang ia tidak kenali membuat Sehun mendongak. Berdiri di depan nya sosok laki-laki yang Sehun tidak kenali sama sekali. Siren bahaya yang sering ia tanamkan dalam diri bergetar. Menyuruhnya untuk pergi dari jalanan gelap nan sunyi itu. Menjeritnya agar tetap berada di supermarket sehingga hyngdeulnya sampai untuk menjemputnya.
Namun kaki Sehun seperti melekat dan dirinya sendiri tidak bisa membawa tubuhnya lari dari siren bahaya di sekitarnya.
" Ayok ikut dengan oppa, anak manis." Laki-laki itu berjalan mendekati Sehun, di wajah nya yang menyeramkan itu terukir senyuman sinis dan menakutkan. Lutut sang gadis bergetar, barang belanjaan nya jatuh begitu saja saat ia mengumpul segala keberanian yang masih tersisa untuk melarikan diri dari jalanan sempit yang gelap nan sunyi itu.
Grepp
Cengkeraman yang sedikit menyebabkan Sehun meringis kesakitan membuat Sehun menoleh kebelakang.
" Mau kemana anak manis ? Ayolah bersenang dengan oppa sebelum kau pulang, eum ?"
Dekat.
Laki-laki itu semakin dekat membuat debaran di dadanya menjadi semakin laju. Badannya kaku.
Tidak.
Semua ini, semua situasi ini tidak pernah ia jangkakakan sekali pun. Sehun bisa saja melawan mahupun menendangnya tapi ia salah. Emang apa yang bisa ia lakukan dengan sosok yeoja nya ini ? Mungkin jika saja ia namja dia bisa menendang atau tidak melarikan diri sepantas yang mungkin dari jangkaun laki-laki itu.
" Tolong ~ tolong jangan sentuh aku !"
Laki-laki itu tersenyum sinis. Ia mencoba membuka dress yang dilapisi dengan hoodie kelabu nya. Mencoba untuk menyentuh kulit mulus Sehun.
" Jangan ! Sesiapa pun ! Tolong !" Sehun berteriak. Berteriak sehinggakan ia tidak peduli tengkorok nya akan sakit. Berusaha dengan sedaya upayanya untuk melepaskan genggaman laki-laki itu namun nihil. Laki-laki itu dengan mudahnya menarik Sehun masuk ke lorong gelap nan sunyi itu.
" Hiks tidak ! Jangan sentuh aku, sialan ! Hyung ! Lu Han hyung ! Tolong aku ! Hyung !"
Airmata membasahi pipi mulusnya. Ponsel dan wallet nya sudah tidak tau kemana. Hoodie kelabu nya juga sudah dibuang jauh menyisakan Sehun dengan dress putih yang berantakan. Sang gadis meringis kecil saat tubuhnya di lempar ke tanah. Membuat dia mendongak dengan matamya yang memerah dan ketakutan. Ia bisa rasakan dengan jelas tubuhnya bergetar hebat.
Hyung.
Sesiapa pun.
Tolong, tolong jangan biarkan tangan kotor itu menyentuh ku !
Tolong jangan biarkan dia memegang ku !
" Tidakkkk !"
Ia berteriak sekeras yang mungkin, dengan harapan ada yang mendengar rintihan nya.
Namun sia-sia.
" Hey, tiada siapa pun yang akan mendengar mu. Sekarang, mari kita mulakan acara kita. Aku pasti kau akan menyukai nya, sayang."
Bibir menjijikan itu singgah di potongan lehernya, mencumbu serta menjilatnya. Isakan kedengaran dari bibir mungil Sehun. Meronta sekuat yang mungkin agar laki-laki itu akan melepaskannya.
" Ahjussi, jangan, tolong jangan sentuh aku ! Aku memohon, merayu kepada mu , hiks, tolong, hyung, Suho hyung, Kyungsoo hyung, Sehun, hiks Sehun takut. Chanyeol hyung Baekhyun hyung, Jongin ~ tolong aku !"
Pang
Pang
Dua kali, dua kali tangan besar itu menampar pipi nya. Sehun mengerinyit pelan, ia bisa rasakan darah nya sendiri di sudut bibirnya.
Sehun harus akui, tenaga nya mulai kehabisan. Padahal ia belum melakukan apa apa lagi. Pandangannya mulai kabur namun suara yang ada di kepalanya yang membuatkan ia tetap sadar.
" Diam dan ikuti saja, bodoh ! Jangan bergerak !"
Krekk
Tangan kasar itu merobek paksa gaun putihnya, menampilkan pundaknya yang halus dan mulus. Sehun meronta sekali lagi.
Bayangan Lu Han mengisi mindanya.
Apa kah selepas ini Lu Han akan tetap mencintainya ?
Apa kah Lu Han mau melihatnya selepas ini ?
Tidak.
" Hiks, hyung, Lu Han hyung, maafkan aku. Hiks."
Sehun hanya mampu menangis dan menangis. Dia tidak peduli dengan wajahnya yang dipenuhi airmata dan sedikit kotoran gara-gara meronta di jalanan sempit itu. Dia tidak peduli dengan darah yang masih mengalir di sudut bibirnya. Dia bahkan tidak tau kepalanya berdarah, entah kapan dia mendapatkan luka itu, mungkin sewaktu laki-laki sialan ini menolaknya tadi.
" Lepaskan tanganmu, sialan !"
Samar-samar Sehun mendengar suara. Suara yang dia sendiri tidak bisa pastikan siapa pemiliknya. Pandangannya sedikit kabur, mungkin gara gara airmatanya sendiri.
" Kau menyentuhnya dan tanganmu akan hilang, brengsek !"
Suara lain kini mengambil alih.
Buaghh
Bughhh
Laki-laki itu sudah tidak ada dekatnya. Dengan tenaga yang tersisa, ia menoleh ke sisinya.
Di sana, ada Suho, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun dan Jongin mengerjakan laki-laki itu. Masing masing dengan wajah memerah menahan amarah. Menumbuk dan menendang laki-laki itu tanpa peduli apa laki-laki itu akan hidup atau tidak setelah ini.
Hyung.
Kalian datang juga.
Kalian...
Datang menyelamatkan ku.
Sehun tidak tau berapa lama mereka membelasahi laki-laki itu. Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak sedikitpun. Kepalanya terasa pusing.
" Sehun~ Sehunnie ?"
Chanyeol mengusap surai nya pelan. Menepikan surai darkbrown nya dri menutupi wajahnya sendiri.
Dan dia bisa mendengar hyungdeulnya menderam rendah. Mungkin marah melihat kondisinya.
" Hyung, hiks, maafkan Sehun. Akuu.. "
" Hush, tidak apa. Semuanya baik-baik saja. Kau selamat, Hunnie. Kami ada di sini."
Sehun menangis.
Tetap menangis saat Chanyeol mengangkat nya. Menangis saat Kyungsoo melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Sehun. Menangis saat tangan Suho mengusap surainya. Menangis saat Jongin dan Baekhyun menatapnya dengan tatapan khawatir.
Sehun menutup mata, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Chanyeol. Mendengar degupan jantung yang berkerja dengan laju itu. Dia tidak mau melihat sesiapa pun saat ini.
Malu.
Ya Sehun malu dan takut.
Dirinya sudah kotor.
" Hiks, maafkan aku hyung."
Dan hanya itu yang mampu ia ungkapkan setelah semuanya menjadi gelap. Setelah semuanya menjadi sunyi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Deg
Deg
Deg
Lu Han terbangun dengan keringat membasahi pelipisnya. Ia menoleh ke samping untuk melihat jam waker.
' Baru dua pagi.'
Kalian tau kan Lu Han itu kalau sudah tidur, dia akan jadi seperti beruang hibernasi ? Jadi apabila dia terbangun pada waktu ini membuatkan dirinya sendiri keheranan.
Perlahan sebelah tangannya di bawa untuk menekap didada kirinya. Merasakan bagaimana jantung itu berdetak dengan sangat kencang seolah menandakan ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang terjadi dengan Sehunnya.
' Sehun, kenapa denganmu ?'
Lu Han bangkit dari kasurnya, berniat untuk menuju ke ruang dapur dan meminum segelas air masak bagi menghilangkan rasa gelisah yang berlegar dalam dirinya.
" Ehh, kau belum tidur ?"
" Yifan ? Kau juga belum tidur ? Manager hyung, apa yang kaluan berdua bicarakan sehingga jam dua pagi begini ?"
Lu Han mengerutkan dahinya saat melihat Yifan dan Manager hyung seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Dari raut wajah Yifan, dia tau ada sesuatu yang tidak beres.
" Yifan, tell me. What's wrong ? Ada apa apa berlaku di EXO K ? Sehun baik-baik saja kan ?"
Manager hyung menarik nafasnya. Berdiri dari duduknya dan menepuk pelan pundak Lu Han.
" Lebih baik kau sambung tidur, Lu. Besok kalian ada jadual padat. Rehatkan tubuh dan minda mu." Kemudian laki-laki itu menuju ke kamar nya yang di kongsi bersama dengan Tao. Meninggalkan Yifan dan Lu han sendirian di ruang tengah itu.
" Tiada apa apa yang terjadi, Lu."
" Jangan berbohong kepadaku, Yifan. Aku tau, ada sesuatu yang tidak beres dan ini berkaitan dengan Sehun kan ?!"
Yifan menggeleng kecil. Ia menjambak surainya sendiri. " Lu, besok kita ada concert. Jadi, please, rehatkan badan mu. Aku naik ke kamar duluan."
Laki-laki jangkung bersurai Blonde itu bergegas naik tanpa menoleh ke arahnya. Membuat rasa gelisah dan ingin tau yang ada dalam dirinya semakin membesar. Semakin berdenyut keluar.
" Kenapa dengan semuanya !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lima orang namja mengelilingi kasur di mana seorang gadis sedang tidur dengan lena ? Tidak, gadis itu tidak tidur dengan lena. Dahinya berkerut dan pelipisnya berkeringat seolah menandakan dia mempunyai mimpi yang buruk. Kepala nya bergerak ke sana kemari sembari mengumam perkataan ' Tolong ' dan ' Hyung ' beberapa kali. Tidak lama, airmata menetes di sudut mata indahnya.
Baekhyun tersadar saat jemari gadis itu yang ia genggam mengeratkan pegangannya. Seolah meminta perlindungan darinya.
" Sehun ? Sehunnie ?"
Sang gadis masih saja berada dalam alam mimpi, pijama besar yang membaluti tubuhnya kelihatan kusut gara-gara gadis itu meronta ke sana kemari.
" Hey, Sehun. Bangun, jangan khawatir. Kau selamat di sini. Kau selamat, Hun." Ia buru-buru berdiri dari duduknya. Menepuk pipi Sehun yang halus berulang kali sehinggalah kelopak mata itu perlahan terbuka.
" Hyung, Baekhyun hyung." Suara sang gadis kedengaran bergetar, tanpa bisa ditahan airmata mengalir dengan deras. Membanjiri wajah cantik yang masih penuh dengan bekas luka gara gara insiden mengerikan itu.
" Aku di sini, Hun." Baekhyun sendiri harus menahan amarah yang bergelojak dalam dirinya saat melihat betapa takut nya Sehun waktu ini. Betapa insiden itu sudah memberikan impak yang besar kepadanya.
Perlahan - karena dia tidak mau menakutkan Sehun - Baekhyun membawa gadis itu masuk ke dekapannya. Mengusap surainya penuh kasih sembari mengumam melodi yang bisa membuat Sehun tenang. Namun nyatanya, gadis itu masih saja menangis dalam pelukannya.
" Hyung, hiks, dia menyentuhku. Hiks, Sehun... Sehun takut."
Ucapan ' takut ' umpama mantera yang diulang beberapa kali oleh Dehun menandakan betapa ia takut. Betapa ia trauma. Betapa ia fobia dengan insiden tersebut.
" Hush, semuanya akan baik-baik saja, Hun. Jangan khawatir, semuanya sudah diuruskan. Laki-laki sialan itu sudah diurus. Kau selamat, selamat di sini."
Sehun menggeleng pelan. Kedua tangan yang kecil itu meremas remas kaos Baekhyun.
Malam itu, berakhir dengan Baekhyun yang memeluk Sehun agar gadis itu tidur dengan nyenyak meskipun laki-laki itu sendiri harus menahan perasaannya yang menggila saat bagaimana wajah cantik itu tidur dengan damai di dalam pelukannya.
" Aku akan menjaga mu, Hun."
####
Someone kill me ! Ide ini tiba-tiba saja muncul di pikiran.
Reader bisa membetulkan mana mana perkataan mahupun cara tulisan Chiey yang berantakan dan masih jelek ini, okay ?!
Jangan malu-malu ~
