Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Giniro Tsuki
.
Pair: Hyuuga Hiashi X Haruno Sakura
Genre: Family, hurt/comfort
Rate: M
WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)
Summary: Pernikahan ini memang karena kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membuatku menemukan kebahagiaan.
.
Chapter 8
Tolong berhentilah
.
Setelah shift siangnya selesai, Sakura merasa kepalanya terasa sangat sakit. Hokage-sama memang sudah memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Memang efektif. Namun, dia lupa membawa obat itu pulang ke rumah dan malah tertinggal di atas meja kerjanya di rumah sakit.
Sakura tentu masih ingat, dia mengandung anak pemilik kekai genkai byakugan. Jelas ini mempengaruhi kesehatannya. Efek dari keracunan makanan tempo hari dan kurangnya istirahat menambah beban tubuhnya hingga mudah lemas serta kesakitan.
Seperti sekarang ini. Untuk mencapai kamar tidurnya saja, Sakura terseok-seok di sepanjang roka. Dia merasa lantainya bergoyang. Hingga pada akhirnya, tubuhnya yang sudah lelah, oleng dan hampir menghantam lantai roka jika tidak ada tangan kecil Hanabi yang menopangnya.
"Lihat dirimu! Kenapa kau memaksakan dirimu jika kau tak sanggup berdiri?" Ujar Hanabi dengan nada marah. "Memangnya kau dari mana?"
Sakura tersenyum mendapati sikap Hanabi padanya. "Baru pulang dari rumah sakit."
Gadis itu membantu Sakura masuk ke dalam kamarnya dan menuntun ibu tirinya untuk duduk di atas bantal duduk yang ada di sana.
"Kau sudah makan?" Sakura menggeleng pelan. "Tunggu sebentar, akan aku ambilkan."
Tak berselang lama, Hanabi kembali dengan nampan yang berisi makanan.
"Hanabi, bukankah kau masih sakit? Kenapa kau berlarian seperti itu?" Tanya Sakura. "Biar aku periksa sebentar."
"Jangan pedulikan hal itu dulu! Makan!"
Hanabi menyodorkan nasi ke mulut Sakura.
Bukannya membuka mulut, Sakura justru terkikik geli melihatnya. Hanabi mengingatkannya pada sang Suami. Meskipun Hiashi tidak seceria putri bungsunya, pria itu suka sekali memberi perintah padanya. Yah, meskipun Hiashi mengatakannya dengan cara yang tidak mengenakkan.
"Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?" Hanabi bertanya dengan tak terima.
"Ah, tidak. Hanya saja kau mirip sekali dengan ayahmu." Jawab Sakura seraya dia melahap nasi yang disodorkan Hanabi.
Hanabi tertegun. "Hey..."
Sakura memandang Hanabi, menyiapkan diri mendengarkan apapun yang akan Hanabi katakan.
"Kenapa kau menikah dengan Tou-san?" Hanabi menunduk memandang mangkuk nasi di tangannya.
Hanabi terdiam. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menjadi jawaban Sakura.
Sakura tersenyum. "Hiashi-san membuatku merasakan banyak sekali perasaan, Hanabi," Perasaan marah, sedih, kecewa, takut, bahkan perasaan rindu yang begitu mendalam. "Selain itu, Hiashi-san juga membawaku ke banyak kejadian yang tidak pernah aku alami sebelumnya," Dengan mengandung anaknya dan menjadi bagian dari keluarga Hyuuga yang terpandang "Dia sering membuatku terkejut." Dengan sikapnya yang sering berubah.
Hanabi mengangkat wajahnya. Memandang lekat pada sosok ibu tirinya. "Apa kau mencintai Tou-san?"
Sakura terdiam. Apa dia mencintai Hiashi? Entah mengapa ia bimbang menjawab pertanyaan Hanabi. Jika dia menjawab tidak, Hanabi akan curiga dan marah padanya. Tapi jika menjawab iya, Sakura tak yakin. Dia lebih sering memikirkan Hiashi belakangan ini, ketika Hiashi pergi berhari-hari lamanya, Sakura begitu merindukannya. Bahkan ketika Hiashi pulang membawa luka, hati Sakura mencelos.
"Dia sudah mengikatku, Hanabi. Aku tidak mungkin lepas darinya, Hanabi." Sakura tidak tahu faktanya. Kalimat yang diucapkannya sama dengan kalimat yang Hiashi ucapkan saat menjawab para tetua.
"Apa maksudmu?" Tanya Hanabi bingung. "Itu artinya kau mencintai Tou-san?"
Sakura tersenyum. "Bagaimana menurutmu, Hanabi?"
"Kau tahu, bicaramu berbelit-belit." Hanabi mendengus kesal.
Sakura tertawa pelan. Hanabi merasa bersalah, Sakura tak seburuk yang ia kira. Dia perempuan yang menyenangkan dan ramah. Tapi dia malah memperburuk hubungan mereka dengan berbuat jahat padanya.
Tanpa mereka sadari, Hiashi telah berdiri di pintu masuk sambil memandang mereka dengan pandangan ganjil.
"Hiashi-san..." Ujar Sakura.
Hanabi memutar kepalanya, melihat ayahnya yang sudah ada di belakangnya.
"Tou-san," Panggilnya. "Ah, aku pergi dulu kalau begitu." Hanabi membereskan makanannya.
"Tidak, Hanabi. Tinggalkan itu, aku akan memakannya." Kata Sakura.
"Ah, baiklah kalau begitu." Hanabi bangkit berdiri. " Aku pergi dulu, Tou-san."
Sakura berdiri untuk menyambut Hiashi ketika dilihatnya pria itu berjalan mendekatinya. Sakura menunduk. Tidak berani menatap sang suami.
Dia melihat tangan Hiashi terulur padanya. Sebuah bungkusan yang Hiashi bawa terarah padanya. Sakura meraih bungkusan itu dengan ragu dan membukanya dengan perlahan. Dia terpaku dan menatap tak percaya pada isi bungkusan itu hingga tak sadar Hiashi sudah keluar dari kamar mereka.
Sakura mendongak dan tak mendapati Hiashi di hadapannya. Di tangannya, obat yang sama dengan yang diberikan oleh Hokage-sama padanya. Hiashi membawakan obat yang tertinggal di kantornya. Haruskah ia senang dengan perhatian yang diberikan sang suami? Atau haruskah ia sedih, jika memikirkan kemungkinan Tsunade yang menyuruh Hiashi membawakannya obat itu?
Namun, Sakura memutuskan dia akan merasa bahagia kali ini. Bagaimanapun juga, Hiashi sangat jarang memberikannya perhatian. Dengan memberikan Sakura obat yang dibutuhkannya, meskipun obat itu titipan sekalipun, Sakura akan tetap merasa bahagia.
Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Sakura mengucapkan kata 'terima kasih' dengan tulus pada Hiashi. Pada sang Suami yang saat ini tengah berjalan di lorong kediaman keluarga utama.
.o.
.o.
Chapter 8 : Tolong berhentilah
.o.
.o.
"Tidak terasa adikku sudah berumur tujuh minggu," Kata Hinata senang. "Jadi tidak sabar menunggunya lahir."
Hinata memiliki hobi baru setelah tahu tentang kehamilan Sakura. Menaruh telinganya di perut sang Ibu Tiri. Meskipun Sakura sudah mengatakan bahwa itu sia-sia karena sang adik belum tumbuh hingga tahap bisa menimbulkan suara atau bahkan bergerak, Hinata tetap melakukan kegiatan itu.
"Kau masih harus menunggu sekitar tujuh bulan lagi sampai dia benar-benar lahir." Sakura tersenyum melihat perilaku Hinata yang menurutnya lucu.
"Sakura-san, apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Hinata menegakkan tubuhnya.
"Nama?" Hinata mengangguk. "Biarkan Hiashi-san yang melakukannya, Hinata. Akan lebih baik jika ayahnya sendiri yang memberikannya nama."
"Souka, aku mengerti," Hinata menganggukkan kepalanya. "Sebentar lagi tahun baru, apa kau sudah menyiapkan kimono?" Sakura menggeleng pelan. "Aku akan membantumu menyiapkannya."
"Aku juga akan membantu Nee-san."
Entah dari mana Hanabi muncul, tiba-tiba saja sudah ada di sebelah Hinata.
"Apa kau menguping?" Tanya Hinata, takut jika Hanabi mendengarkan percakapan tentang sang adik.
"Tidak." Jawabnya.
"Kau muncul dari mana, Hanabi?" Tanya Sakura.
"Aku sedang lewat saat kalian membicarakan tahun baru. Ayo kita buat Tou-san terpesona melihatmu."
Sakura tersenyum geli melihat tingkah Hanabi, sedangkan Hinata menggeleng pasrah.
'Syukurlah, Hanabi tidak mendengarnya.'Kata Hinata.
.o.
.o.
Chapter 8 : Tolong berhentilah
.o.
.o.
Ruangannya sepi sekali. Rumah sakit pada malam hari hampir tidak pernah ramai. Hanya sesekali , seperti ketika ada pasien terluka, kecelakaan dan yang sejenisnya tiba di bangsal perawatan.
Hal ini membuat suasana sepi dan tidak menyenangkan bagi Sakura. Dia merasakan perasaan tak nyaman menghampirinya. Aneh, mengingat dia sudah sering berjaga sendirian, ditambah, dia sudah mendapatkan izin dari sang Suami.
Hiashi sedikit demi sedikit berubah. Dia tak lagi mengabaikannya. Meskipun sedikit, Hiashi mulai mengajaknya bicara. Tidak banyak, salah satunya, pria itu mulai menanyakan tempat di mana barang-barangnya disimpan, atau mulai sering memintanya membuatkan ocha. Sebelumnya, Hiashi hampir tak pernah berinteraksi dengannya.
Tenggelam dalam pikirannya sendiri membuat Sakura hampir kehilangan fokus. Suara pintu yang terbukapun dapat membawanya kembali ke masa sekarang. Dia cukup terkejut dengan orang yang menuju ke arahnya serta mulai duduk di ranjang periksa dengan angkuh.
"Kau kunoichi medis, kan? Sekarang periksa aku!" Ujar pemuda itu.
"Apa yang terjadi padamu? Kau tidak tampak sedang sakit, Sasuke."
Meskipun begitu Sakura tetap datang dan memeriksa tubuh sang pemuda Uchiha.
"Kenapa kau menolakku?"
Sakura mendongak untuk melihat wajah Sasuke, sebelum akhirnya perempuan itu melanjutkan kegiatan pemeriksaan kesehatan pada Sasuke.
"Aku sudah bersuami."
"Cukup kau tinggalkan dia." Sasuke memberi jeda. Pemuda itu jelas tahu, Sakura tidak akan pernah meninggalkan Hiashi. "Bagaimana jika..."
Sakura merasakan perasaan tak nyaman. "Jika apa?" tanyanya penuh curiga.
"Bagaimana jika aku membunuhnya?" Sasuke sangat tenang saat mengatakannya.
Sakura geram. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan memandang tajam pada Sasuke.
"Kenapa kau memandangku begitu? Takut kehilangan?" Sasuke menyeringai puas.
"Kau gila!" Desisnya geram. "Jika hanya untuk ini kau datang kemari, lebih baik kau pergi!"
"Kau mengusirku?" Tanya Sasuke tenang.
"Tidak ada gunanya bicara denganmu. Aku tak akan meninggalkannya dengan alasan apapun. Tidak akan pernah!" Sakura nyaris berteriak. Dia sangat marah pada pemuda di depannya.
"Kau tidak mau? Baiklah, aku paham." Sasuke mengangguk.
Sakura sama sekali tak menyadari pergerakan Sasuke. Yang Sakura tahu, tubuhnya sudah membentur kasur dengan Sasuke berada di atasnya. Sakura sedikit bersyukur, pemuda itu tidak menduduki perutnya. Namun, pemuda itu telah mengunci gerakannya. Sasuke langsung melumat bibirnya tanpa aba-aba. Memaksa untuk membuka mulutnya. Jelas Sakura menolak. Perempuan itu menolak dan berusaha lepas dari cengkraman Sasuke.
Dia benar-benar panik saat Sasuke mulai membuka bajunya. Sakura menangis dengan keadaannya. Dia tidak boleh menggunakan cakra untuk bertarung jadi dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Tangan Sasuke terus menjamahnya.
Sakura menutup matanya. Merapalkan doa pada Kami-sama. Secara tiba-tiba tubuhnya terasa ringan dan cengkraman Sasuke menghilang darinya. Yang terdengar berikutnya adalah suara keras benturan, barang jatuh dan pecah. Sakura tetap tidak mau membuka matanya. Dia tidak mempedulikan suara orang berteriak dan saling bicara. Ketakutan masih melingkupinya.
Ketika dia merasa terselimuti oleh kain, barulah dia berani membuka matanya. Terkejut dengan sosok di depannya.
"Tidak apa-apa, Sakura. Ini aku, Kakashi," Kakashi berucap halus. "Kau aman sekarang."
Tanpa pikir panjang, Sakura menerjang tubuh Kakashi. Melepaskan tangisan ketakutannya dalam pelukkan sang guru. Hatinya lega dengan kedatangan Kakashi yang menyelamatkannya.
Pelukkannya semakin erat, Kakashi sendiri hanya bisa memberikan pelukkan balik dan membelai punggungnya untuk menenangkan. Sakura terus menangis hingga akhirnya dia tak sadarkan diri di pelukkan sang guru.
to be continued
.o.
.o.
see you next chapter
.o.
.o.
a/n:
Hallo, ada yang merindukan saya...???
maafkan saya, sebenarnya pengen updet tanggal 15 oktober kemari. tapi, karena saya masuk panitia Makrab jadi gak bisa ngetik chapter ini. #pundung
Di chapter ini, interaksi HiashiSaku dikit banget, jadi tambah gak semangat deh... tapi gak papa, yang penting bersyukur banget bisa updet hehehe
yosh mari balas review...
Febri593, sama-sama...sesuai harapan, Hanabi juga akan sayang sama Sakura...
MinzakyaRsl, Hanabi kayak jahat ya di chapter 6 kemarin?#posemikir... no hiatus kq, tapi ngaret updetnya hehehe
Michio Miura, aku aja awalnya juga gak kepikiran mau bikin pairing ini. padahal awalnya iseng aja, gak tahu akan ada yang suka... kalau dikatakan sesuai karakter asli, aku bersyukur kalau udah sesuai hehehe... makasih ya...
rosaaerith, maaf, sayangnya di chapter ini cuma nyempil dikit HiashiSakunya... Ah iya, susah banget berhenti berkhayal, masih terngiang-ngiang itu kata-kata dosenku "kamu itu anak teknik, jadi jangan banyak ngayal!" #nangisdipojokkan
yukumpme ga login, iya. aku berpendapat Sakuratan adalah HKT48, karena dia kennin dan dia berasal dari gen 1 HKT48...
Koalasabo, hahaha dasarnya adalah Hiashi takut sama Tsunade hahaha #dijyuukenHiashi, anggap saja dia perhatian sama istri mudanya hehehe, sama-sama, aku juga senang bisa dapat review dari kamu ... #ciumjauh
hikanee, terima kasih pujiannya, ini udah dilanjut lhoooo... oh iya, makasih lho udah nungguin, dan maaf lama updetnya...
mawarputih, karena Hiashi orang yang misterius hahaha
Zue Watanabi, maaf ya udah buat kamu nunggu lama, hehe... jadi merasa bersalah... kapan Neji tobat? saat tiba waktunya hahaha
PinKrystal, hallo... aku bingung nanggepinnya, pujianmu membuatku melayang tinggi, dan bersemangat lagi tiap aku kehilangan semangat #inibenerangkboong... Aku memang membuat Hinata jadi penyemangat Sakura, suka juga sama kepribadiannya yang lembut... Aku suka Sasuke yang nakal entah kenapa jadi menarik aja... Dan Neji, he is my favorite, jelas aku tak mau dia mati, kecewa banget sama episode pas Neji mati, dulu Itachi, terus Neji, Oh God, KENAPA...!!!!
yuri rahmq, rasa penasaranmu telah terbayarkan nona cantik... hhehhee
yuki chan, maaf gak bisa cepat, ada halangan di dunia nyata ...
Night, kau suka? syukurlah, aku senang. untuk updet cepat dan diperpanjang, kurasa itu adalah kelemahan saya...
Astried286, 7 minggu, seperti yang ada di chapter ini...ini sudah next looo
auliyahiin, yang pasti matanya akan mirip ayahnya hahaha
Silverfield100, udah dilanjut, looo... pas liat review kamu, aku jadi langsung semangat buat updet looo ... makasih ya...
Terima kasih aku ucapkan untuk silentreaders, yang telah meng-fav, meng-follow dan yang telah mereview….
Masih banyak yang kurang dari cerita ini, jadi aku menerima koreksi, kritik dan saran dari para pembaca lewat kotak review…
Review yang masuk adalah penyemangat buat author pemula ini…
Arigatou minna-san…
Sign,
Teratai Putih
.o.
.o.
Omake
.o.
.o.
"Nama? Biarkan Hiashi-san yang melakukannya, Hinata. Akan lebih baik jika ayahnya sendiri yang memberikannya nama."
Kalimat itu terngiang di kepalanya. Hiashi ada di sana, mendengarkan percakapan istri dan anaknya. Tersembunyi di belokkan lorong.
Istrinya ingin dia yang memberikan nama pada anak mereka, bukan?
Ah, pria paruh baya itu jadi termenung memikirkannya.
Hiashi mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya, memandang langit biru di atasnya.
Pria itu tersenyum, serasa menemukan harta paling berharga.
Ya, dia tahu akan memberikan nama yang seperti apa pada anaknya nanti...
.o.
end of omake
.o.
see you ...