GRAVITY

(Song Recommendation: Hyorin - Always)

••

Kening Chanyeol berlipat saat menginjakkan kakinya di apartemen. Bukan merasa heran akan eksistensi mesin penghisap debu di ruang tamu, bukan pula pada helaian gorden yang telah berganti warna, juga bukan pada semerbak mint yang berasal dari pengharum ruangan. Apa yang kini berkelebat bingung di wajahnya adalah sebentuk reaksi yang lahir saat netranya menangkap sosok mungil berbalut dress floral, tengah terduduk di atas permukaan permadani seraya menumpukan kedua tangan di atas sofa dengan mata terpejam.

Melihat bagaimana sosok itu tertidur pulas, langkah Chanyeol refleks kehilangan suaranya. Ia berjalan pelan sebelum kemudian berlutut di dekat sofa.

Ada kagum yang berdecak dalam diam. Apa yang tersaji di depan matanya kini bukan sekedar puteri tidur yang berasal dari negeri dongeng, Baekhyun terlalu nyata untuk digambarkan sebagai tokoh fiksi favorit sepanjang masa. Wanita itu masih di sana, mencuri segenap atensi Chanyeol pada helai rambut yang menyebar di sekitar sofa, pada kelopak mata yang terpejam halus juga pada pipi pucat yang masih saja terlihat memesona.

Seperti semua tentangnya tidak akan rusak digerogoti parasit yang terpendam di dalam mungil raganya.

Ada yang terganggu dalam tidurnya, tubuh mungil itu menggeliat kecil sebelum kemudian kelopak matanya terbuka perlahan. Kepalanya masih bertumpu pada kedua tangan, lantas matanya mengerjap beberapa kali, mempertegas penglihatan pada sosok yang kini berlutut di hadapannya. Tubuhnya menegang tatkala segenap atensinya kini menangkap jelas sosok Park Chanyeol. Kemudian wanita itu menarik kepalanya secepat kilat, "Kau sudah pulang? Oh maaf, aku tertidur.. urmm.. ini, itu.." Tukasnya tak jelas, ia baru berniat bangkit ketika pergelangan tangannya dicekal oleh Chanyeol.

"Tidak apa-apa." Pria itu menenangkan, membuat raut terkejut pada wajah Baekhyun perlahan memudar.

Ada sesuatu yang menahan mata Baekhyun pada kedua obsidian di hadapannya kini. Sesuatu yang mengendalikan gerak tubuh, tangannya perlahan terangkat. Niatnya terulur pada simpul dasi yang melilit leher pria yang masih mengenakan pakaian kerjanya sebelum kemudian tersadar bahwa perbuatannya akan terkesan tidak sopan.

"Go on.." Chanyeol menukas mendapati tangan Baekhyun menggantung ragu di udara.

Sempat tidak yakin meski Chanyeol telah memberinya izin, namun pada akhirnya kedua tangannya bergerak melonggarkan simpul dasi. Sebentuk aksi yang entah mengapa membuat penat Chanyeol sedikit menguap.

"Kau mengerjakan semua pekerjaan rumah?"

Yang lebih mungil mengangguk. "Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya.. bosan." Cicitnya.

"Kau seharusnya istirahat."

"Aku baik."

Chanyeol mendengus keras.

Sadar telah membuat pria di hadapannya jengah, Baekhyun menarik tangan, "Apa kau lapar? Aku membuat sesuatu dari bahan makanan yang ada di lemari es." Tukasnya seraya tersenyum kecil. "Selagi ku hangatkan, sebaiknya kau mandi- ahh, mau kusiapkan air hangat terlebih dahulu?"

Sebelah alis Chanyeol terangkat, cukup merasa asing dengan atmosfir yang kini mengudara. Chanyeol adalah orang yang menyukai kebersihan, meski begitu ia hanya menyalakan mesin penghisap debu sesekali karena pikirnya apartemennya selalu dalam keadaan bersih disamping tidak pernah terjamah siapapun kecuali dirinya. Chanyeol jarang menyantap masakan rumah, selain karena sudah tidak tinggal dengan kedua orang tuanya, ia juga terlalu sibuk dengan snelli dan stetoskop. Chanyeol kerap pulang larut ketika jadwal operasi nya padat, maka apa yang masuk ke dalam perutnya tidak jarang berasal dari kafetaria rumah sakit.

Chanyeol nyaris terbiasa jika saja wanita itu.. jika saja Byun Baekhyun tidak melontarkan segala jenis perhatian yang tak pernah Chanyeol dapat dengan cara semanis itu.

Chanyeol nyaris terbiasa melakukan apapun seorang diri, sebelum senyum tulus itu terlempar kearahnya. Sebuah senyum yang membuat apa yang semula Chanyeol pikir dapat ia tangani sendiri tergoyahkan. Dan dengan lancang batinnya berteriak bahwa ia membutuhkan wanita itu.

"Aku lapar." Chanyeol menyahut.

Anehnya, mengapa Baekhyun mendegar sekelebat rengekan dalam nada suara baritone itu?

Senyum Baekhyun kian melebar. "Kau harus mandi dulu, tuan Park." Tukasnya seraya bangkit. "Aku akan menunggumu di meja makan." Lanjutnya sebelum kemudian membawa langkahnya menuju dapur.

Yang tidak Baekhyun tahu, setiap kali senyumnya tersungging bahagia, kedua lensa mata Chanyeol memotretnya dalam diam, menyimpan sebentuk keindahan itu di bagian terdalam memori dan akan ia buka di keheningan malam sebagai teman pengantar tidur.

••

Ketukan pintu terdengar pelan ketika Chanyeol tengah sibuk meneliti beberapa arsip di ruangan kerjanya.

"Come in."

Baekhyun masuk saat mendapat izin. Makan malam telah selesai beberapa saat yang lalu, tidak banyak percakapan berarti karena baik Baekhyun maupun Chanyeol tidak terlalu pandai memulai satu sama lain. Mereka terlalu asing dan canggung. Hal yang membuat Baekhyun merasa sangat tidak nyaman, karenanya ia berpikir harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan atmosfir canggung antara dirinya dan Chanyeol. Maka di sinilah ia saat ini, berdiri di depan pintu, sebuah nampan lengkap dengan secangkir teh dan beberapa makanan ringan ia bawa di atas telapak tangan. "Apa aku mengganggu?"

Chanyeol menutup lembar arsip, pria yang kini memakai stelan santai itu menatap Baekhyun sejenak, "Tidak, lagipula aku tidak sedang sibuk."

Baekhyun mendengus lega sebelum kemudian mengurai langkah pada satu set sofa yang tersedia.

"Green tea?"

Baekhyun menunggu Chanyeol mendaratkan bokongnya pada sofa sebelum akhirnya menyahut, "Untuk mengurangi penat. Ini cukup membantu... oh, apa yang aku bicarakan di depan seorang dokter." Ia menyahut diakhiri gerutuan kecil.

Chanyeol tersenyum di balik cangkir teh yang ia sesap. "Ini bagus.. maksudku enak." Tukasnya canggung.

"Cookies?"

Sebetulnya Chanyeol merasa sudah cukup dewasa atau bahkan telah nyaris mencapai penghujung fase tersebut untuk sebuah cookies bertabur cokelat kekanakkan, akan tetapi raut wajah serupa anak kecil yang Baekhyun lempar sesaat lalu mau tidak mau membuat tangannya bergerak tanpa dikomando, sebelum kemudian terulur pada toples berisi cookies cokelat. "Urmm.." Chanyeol memainkan bola mata, tengah memilah kata yang pas untuk rasa manis yang menjamah lidahnya. "Kau yang membuatnya?"

Baekhyun yang tengah menangkup kedua tangan di depan dada dengan ekspresi wajah penuh harap mengangguk berkali-kali.

Hal yang membuat Chanyeol berasumsi bahwa di dalam raga seorang wanita dewasa tersebut ada jiwa seorang anak kecil jenaka.

"Apa rasanya buruk?"

"Tidak. Ini enak." Sahut Chanyeol dengan cepat setelah menelan cookies nya.

"Benarkah?" Baekhyun nyaris bertepuk tangan jika ia tidak ingat bahwa di hadapannya saat ini adalah seorang Park Chanyeol yang entah sejak kapan membuatnya berpikir bahwa terlihat konyol dan memalukan adalah hal yang harus ia hindari didepan pria itu.

Chanyeol berniat membuka mulut ketika Baekhyun kembali bersuara seraya meraih selembar brosur di atas meja.

"Apa ini?" Tanya Baekhyun seraya membalik brosur dan memperlihatkannya pada Chanyeol.

Si pria mengernyitkan dahi, pertanda bahwa ia tengah mengingat-ingat sesuatu. "Ahh, salah satu rekan kerjaku baru saja membuka bisnis travel."

"Whoa." Apa yang kini berbinar di kedua mata Baekhyun bukan karena promo penawaran beberapa paket wisata yang tercantum, melainkan pada potret sebuah pantai yang menjadi latar belakang brosur tersebut.

Seketika mata sipitnya terpejam, senyum kecil tersungging ketika debur ombak dan kicauan burung terngiang dalam benaknya.

Baekhyun bisa acuh jika apa yang tertangkap oleh atensinya adalah sebuah bangunan sebuah brand ternama, ia bisa akan sangat merasa bosan ketika langkahnya terurai di sebuah pusat perbelanjaan elit, selain rumah kaca, nyaris tidak ada lagi tempat yang dirasanya menyenangkan.

Namun kali ini, pantai.

Tidak banyak yang tahu bahwa Baekhyun menggilai pasir putih, suara ombak, juga semilir angin yang akan membelai kulitnya dengan lembut sebelum akhirnya menerbangkan anak rambutnya di udara.

Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia bertelanjang kaki di tepian pantai yang terjamah sisa ombak, ia nyaris lupa seperti apa rasanya. Satu hal yang melahirkan sebuah harapan dalam hatinya, Baekhyun ingin kesana, Baekhyun ingin merasakan kembali telapak kakinya bercumbu dengan pasir basah. Ia ingin mencium aroma laut yang kuat. Ia ingin sekali lagi terpana akan sebentuk keindahan yang Tuhan ciptakan tersebut.

"Boleh aku simpan brosur ini?" Tanya si mungil setelah khayalannya memudar.

Chanyeol mengangguk meski masih bertanya-tanya pada apa yang membuat Baekhyun begitu antusias saat menjumpai brosur tersebut hingga mendekapnya erat.

"Terimakasih." Riang Baekhyun sebelum kemudian bangkit dari sofa. "Kalau begitu silahkan lanjutkan kegiatanmu, sekali lagi maaf jika aku mengganggu."

"Bisakah.."

Langkah Baekhyun terinterupsi oleh kalimat ragu yang keluar dari mulut Chanyeol.

"Ya?"

"Bisakah.. di sini saja.." Chanyeol memberi jeda panjang, tengah mengatur siasat agar suaranya terdengar biasa-biasa saja. "..temani aku." Nyatanya ia mampu menyembunyikan harapannya yang membumbung tinggi.

"Apa kehadiranku tidak menggangu?"

Apa aku pengganggu?

Baekhyun tidak tahu mengapa batinnya bertanya demikian, hanya saja secara tiba-tiba wajah Kyungsoo berkelebat dalam bayangannya.

"Tidak." Chanyeol menyahut dengan tegas. "Just.. stay here." Lanjutnya nyaris berbisik.

Senyum kecil tersungging di bibir Baekhyun, wanita itu berbalik dan kembali duduk di atas sofa. Kali ini memberanikan diri duduk di samping Chanyeol.

"Kenapa wajahmu memerah?" Refleks Baekhyun menyentuh lembut wajah Chanyeol dengan telapak tangannya, wanita itu masih memastikan suhu tubuh Chanyeol ketika ia kembali dikejutkan oleh suara batuk dari pria itu. "Hei, kau baik?" Ia kembali bertanya tanpa repot-repot menyembunyikan perasaan cemasnya.

Chanyeol masih tak memiliki daya untuk menjawab, reaksi yang diberikan cokelat dalam cookies itu terlampau hebat. Chanyeol tidak menyangka alerginya akan terangsang begitu cepat. Pria itu masih batuk disertai sesak yang menggores paru-paru.

"P-park Chanyeol-ssi?! Katakan padaku apa yang salah denganmu?" Baekhyun mulai panik. Ia mengguncang bahu Chanyeol dengan intens.

"O-obatku.. a-alergiku..!" Chanyeol menukas terbata seraya menunjuk pada meja kerjanya. Suaranya tercekik, wajahnya nyaris matang sementara kedua matanya sudah lebih dulu berkaca-kaca.

Baekhyun mengikuti arah telunjuk Chanyeol sebelum kemudian mengikuti insting menyeret kakinya kearah meja kerja pria itu, ia sudah tidak peduli jika meja yang semula tertata rapi kini harus berantakan akibat ulah tangannya yang menyapu permukaan kayu mengilat tersebut. Baekhyun masih tidak tahu apa yang ia cari, namun ketika ia membuka laci pertama dan netranya menjumpai botol kecil berwarna putih, pada saat itu pula ia menyambar segelas air putih di atas meja kerja dan berlari secepat kilat, menghampiri Chanyeol yang sudah tertunduk lemas. "Akh tidak, tidak! Kumohon!" Seru Baekhyun dengan getar suara yang hebat. Wanita itu merangkul lengan Chanyeol, menuntun kepala si pria pada bahu sempitnya sebelum kemudian menjejalkan satu butir pil pada mulutnya.

Setelah pereda alergi itu melewati kerongkongannya, barulah napas Chanyeol kembali terdengar normal. Meski perlahan ia merasa lunglai, bahkan tak mampu untuk sekedar menahan beban tubuh. Pria itu membenamkan wajahnya pada bahu Baekhyun hingga dirasanya wanita itu kembali bergerak, menuntun kepalanya turun lebih rendah dan berakhir menjadikan pahanya sebagai bantal.

Cukup lama Chanyeol pada posisi tersebut, dalam keadaan setengah sadar mulanya ia hanya mendengar suara detak jarum jam yang menghuni ruangan, namun beberapa saat kemudian ada isak pelan yang juga menyapa indera pendengarannya. Mata yang semula setengah terpejam kini terbuka sepenuhnya, wajah basah wanita itu yang pertama kali menyapa penglihatannya. Refleks tangan Chanyeol terulur pelan pada wajah lembut di atasnya, menyeka cairan bening yang belum urung berhenti lolos dari pelupuknya. "Kenapa menangis, hum?" Suara parau itu bertanya.

Tangis dalam diamnya pecah seketika. Baekhyun yang semula menunduk untuk menatap lawan bicaranya kini memalingkan wajah.

"Hei.." Mengandalkan tenaga yang mulai kembali pulih, Chanyeol menarik kepalanya dari pangkuan Baekhyun sebelum kemudian menenggelamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Kau.. kau membuatku takut." Disela tangisnya Baekhyun berbicara terbata. "Melihatmu tadi.. dalam keadaan seperti itu membuatku takut." Lantas tangisnya kembali tenggelam dalam dada bidang si pria.

"Sstt.. aku baik. Baekhyun-ssi.. tidak apa-apa.." Chanyeol menangkup wajah Baekhyun lantas melempar tatapan menenangkan. Namun apa yang ia lihat justru mengalirkan sesak pada ulu hatinya. Wajah pucat disertai raut syok dan sedih yang tertahan oleh netranya kini benar-benar menggores paru-parunya dengan perih.

Chanyeol tidak pernah menduga akan merasa tersiksa menyaksikan kesedihan Baekhyun dalam jarak sedekat itu.

"Ja-jangan.. kumohon jangan seperti itu lagi."

Wanita itu kembali berbicara dengan sebuah permohonan yang berpendar di kedua irisnya.

Chanyeol mengangguk lantas kembali merengkuh tubuh mungil nan rapuh itu ke dalam dekapnya. Segala kalimat menenangkan keluar dari mulutnya lalu beberapa kecupan mendarat di puncak kepala beraroma strawberry wanita itu.

Sepi mengudara, seperti mengerti bahwa wanita yang kini terpejam dengan helaan napas teratur di dalam pelukan Chanyeol membutuhkan sunyi yang akan menggiringnya ke alam mimpi.

Dengusan pelan lolos dari satu-satunya yang masih terjaga.

Namun apakah Baekhyun tahu bahwa pria yang kini mendekapnya dengan erat juga merasakan ketakutan yang sama?

Tidak. Ketakutan Chanyeol mungkin jauh lebih besar.

Perasaan takut yang muncul ketika mengingat lagi bahwa tak jarang Byun Baekhyunnya terjebak di antara persimpangan hidup dan mati.

Bahwa tiada hal yang paling membuatnya takut selain fakta bahwa Byun Baekhyunnya kerap berjuang melawan segala rasa sakit hanya untuk mempertahankan sebuah kehidupan yang kerap nyaris lolos dari raganya.

••

Disaat Baekhyun seharusnya terganggu oleh suara deru yang memenuhi gendang telinganya, dan disaat seharusnya tidur lelapnya terganggu oleh hal tersebut yang dilakukannya justru bukanlah mencari tahu sumber suara melainkan terus menggali alam bawah sadarnya untuk terus terlelap.

Oh, deru debar itu sama sekali tidak mengusik rasa kantuknya.

Ya. Deru debar jantung yang terdengar jelas saat telinganya menempel di atas tulang rusuk seseorang. Orang itu mempunyai dada bidang dan hangat, salah satu alasan lain mengapa Baekhyun betah mengusakkan wajahnya di sana saat ini. Orang itu mempunyai wangi tubuh yang khas, aromanya terlampau maskulin, semerbak yang akan selalu mengingatkan Baekhyun pada sosok Park Chanyeol.

Seketika mata Baekhyun terbuka lebar, mimpi indahnya buyar dalam sekejap. Yang tersisa hanyalah perasaan terkejut saat satu nama itu terselip di antara alam bawah sadarnya. Ternyata irama detak jantung yang sedari mengiringi tidur lelapnya bukan berasal dari bunga tidur, melainkan berasal dari balik tulang rusuk berbalut kaos yang kini berada beberapa senti dari wajahnya. Tubuh Baekhyun masih membantu, sisi lain kepalanya masih beralaskan lengan kekar si pria yang tampak enggan melonggarkan dekapannya saat ini.

Apakah pria itu memeluknya semalaman suntuk?

Di atas sofa?

Mereka berdua.. tidur dengan memeluk satu sama lain di atas sofa?

Fakta lain tersebut menghantam kesadaran Baekhyun secara telak. Disaat ia tengah mencoba lepas dari dekapan Chanyeol, pria itu justu mengeratkan lengan seraya bergumam tak jelas.

Awalnya, Baekhyun memang tak mendengar secara pasti apa yang Chanyeol gumamkan dalam tidurnya, namun beberapa saat kemudian satu nama terlontar dengan jelas.

"Kyungsoo-a.. sayang, aku merindukanmu.. Do Kyungsoo.."

Aku bukan Kyungsoo, maka dari itu lepaskan aku sekarang.

Jangan mengeratkan pelukanmu seakan-akan aku adalah dia.

Kumohon..

Baekhyun meratap dalam hati, tubuh mungil dalam dekap hangat penuh kepalsuan itu menegang kaku saat perih mulai menyusup masuk melalui pembuluh darahnya.

Si wanita meronta kecil saat Chanyeol tak henti-hentinya merapalkan nama itu seraya menghujani puncak kepalanya dengan kecupan.

Kumohon!

Baekhyun mulai berontak, mencoba lepas dari dekapan Chanyeol ketika pria itu mulai merasa terganggu oleh geraknya yang defensif.

"Kyungs-"

Mata Chanyeol terbuka lebar. Refleks kedua tangannya lolos dari tubuh Baekhyun. Pria itu masih kehilangan kosa kata, alih-alih merasa terkejut karena berakhir dengan memeluk Baekhyun di atas sofa, ia justru mencemaskan hal lain.

Pria itu masih memusatkan atensinya pada Baekhyun.

Apa yang telah kulakukan?

Apa yang telah kukatakan?

Chanyeol membantin penuh tanda tanya. Ia masih mencoba menyelam kedalam iris Baekhyun ketika satu tatap penuh penghakiman tertangkap oleh lensa matanya. Dan saat itu ia tahu, bahwa kesalahan fatal telah ia lakukan.

Chanyoel masih merapalkan permohonan dalam hati, memohon agar Baekhyun tidak menatapnya dengan sorot terluka itu saat si mungil telah lebih dulu bangkit dari sofa, tanpa sepatah kata menyeret langkah beratnya berlalu dari ruangan itu.

Sempat tertangkap oleh Chanyeol bahu sempit itu dialiri getar samar.

••GRAVITY••

Mulanya Jongin tidak menaruh sedikit pun curiga pada sebuah van yang terparkir asal di depan kafe yang ia kunjungi siang ini.

Salahnya memang terlampau acuh pada apapun yang berada di sekelilingnya, akibatnya kini ia harus berakhir di sebuah gang pusat kota, terlibat baku hantam dengan beberapa pria bertubuh kekar yang tidak ia kenal sama sekali.

Mereka terlihat seperti sekumpulan pengawal.

Jongin kalah telak, wajahnya sudah dipenuhi lebam dan darah segar. "Apa yang kalian inginkan, brengsek?!" Makinya dengan lantang.

Salah satu pengawal mencengkram kerah Jongin sebelum kemudian menyeretnya dengan bengis sesaat setelah sebuah mercedes mengilat berhenti tepat di ujung gang.

Jongin masih terbatuk-batuk sementara helaan napasnya semakin berantakan.

Sepasang kaki berbalut sepatu mahal apa yang atensinya tangkap saat pintu mobil di hadapannya terbuka. Ia masih berlutut ketika seorang pria paruh baya ikut berlutut di depannya. Jongin mendelik saat wajahnya dicengkram dengan paksa. "Siapa kau?!" Desisnya dengan geram, tidak mengenal sama sekali pria paruh baya yang memiliki aura intimidasi kuat tersebut.

"Kim Jongin. Benar itu kau?"

Tongkat bisbol itu melayang sebelum kemudian menghantam punggung Jongin dengan keras, sebentuk ganjaran karena bukan menjawab pertanyaan orang tua di hadapannya, ia malah bungkam seraya melempar tatapan sinis.

Darah segar kembali keluar dari mulut Jongin, "A-aku tidak tahu siapa kau. Aku tidak.. tidak mengenalmu! Tapi kenapa kau melakukan ini.. padaku?"

"Aku anggap itu sebagai jawaban." Pria paruh baya itu menepuk bahu Jongin sebelum mencengkramnya dengan kuat. "Nah.. Jongin-a butuh waktu yang sangat lama untuk dapat menemukanmu. Jadi kuharap kau tidak bersikap menyebalkan. Sekarang lihat dan ingat baik-baik anak perempuan ini!" Lanjutnya seraya menunjukan potret usang yang menampilkan dua orang anak kecil tengah tersenyum menghadap kamera. "Katakan di mana dia sekarang?"

Tak butuh waktu lama bagi Jongin untuk tahu siapa yang yang berada dalam foto tersebut. Selain karena anak laki-laki yang tengah merangkul anak perempuan dalam potret itu adalah dirinya sendiri, juga sosok Kyungsoo kecil adalah hal yang takkan pernah hilang dari memorinya. Lantas satu tanya terlahir dalam benak.

Untuk apa pria paruh baya itu mencari Kyungsoo?

Kini tak sedikit yang berputar dalam otak Jongin. Masih dengan rasa penasarannya terhadap pria asing di hadapannya, juga pada sosok Kyungsoo yang dicarinya dengan ekspresi sejuta konspirasi tersebut.

Satu dari sekian banyak hal yang membuatnya berpikir bahwa pria yang diyakininya berotoritas tinggi di hadapannya kini tidak mencari Kyungsoo dengan niat baik.

"Jongin-a.. Aku bukanlah sembarang orang yang akan mentolerir sebuah kebohongan. Jadi, katakan dimana gadis itu sekarang? Dimana gadis kecil yang dulu kerap bermain denganmu di panti asuhan itu?"

"Aku tidak tahu dimana dia sekarang." Jongin menyahut terlampau cepat. "Dia.. dia.. kabar terakhir yang kudengar dulu dia menghilang dan.. dan meninggal dalam sebuah kecelakaaan!" Dalihnya dengan lihai.

Pria paruh baya itu, tuan Byun berdecak pelan. Lantas mengangguk dramatis, "Aku akan memaklumi keterkejutanmu mengingat ini terkesan mendadak. Tapi Jongin-a.. jika lain kali aku datang kembali menemuimu, aku harap kau memberikan jawaban yang kuinginkan." Katanya seraya menepuk puncak kepala Jongin berkali-kali sebelum kemudian memberi perintah pada anak buahnya untuk meninggalkan lokasi.

Demi Tuhan. Jongin memang tidak mengenal pria paruh baya yang sudah berlalu dari hadapannya tersebut, namun mengapa wajah serta gelagatnya kini membangkitkan memori Jongin pada masa itu?

Saat dimana ia kerap memanjat dinding kokoh rumah mewah di seberang panti asuhan yang menjadi tempat tinggal masa kecilnya.

Wajahnya benar-benar terasa tidak asing.

Jongin masih mengingat kembali sosok itu di masa lalu ketika kedua matanya secara tiba-tiba membulat kecil. Meski tidak yakin, pria itu merogoh saku celana sebelum kemudian menekan speed dial, menghubungi Kyungsoo.

Akan tetapi hingga di dering terakhir, wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya.

Jongin menyempatkan diri menyeka darah yang nyaris mengering di sudut bibir sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan.

To: Kyungsoo

Kenapa tidak menjawab teleponku? Ini penting, Kyungsoo-a.. Apa kau ingat dulu ada seorang Ahjussi yang kerap mengunjungi rumah mewah di seberang panti? Aku memang belum cukup yakin, tapi Ahjussi itu, Ahjussi yang selalu menemani gadis kecil saat orang tuanya tidak ada di rumah itu, aku bertemu dengannya hari ini. Dan Ahjussi itu mencarimu. Kenapa dia mencarimu?

Setelah mengetik panjang lebar dan memilih opsi send, Jongin menyeret tubuhnya bersandar pada dinding usang, ringisan keras lolos karena rasa ngilu yang menjalar di setiap ototnya.

••GRAVITY••

Ta..tanpa Baekhyun.. semuanya hanya akan percuma!

Kalian! Sampai kapan pun tidak akan.. mendapatkan apapun!

Ba..bagaimana bisa kalian me..melakukan.. ini semua?!

Tanpa Baekhyun..

Baekhyun!

Appa!

Omma!

Bunuh! Bunuh! Habisi mereka!

Dalam sekejap lelap Baekhyun terlempar ke dunia nyata. Helaan napasnya terdengar berantakan, peluh telah lebih dulu membasahi dahi dan mengalir mengisi celah pelupuk matanya yang tengah membulat sempurna, sementara tubuhnya menegang hebat. Persendiannya terlampau kaku hingga ia nyaris tak merasakan apapun, kelu itu masih bertahan di lidah ketika bahkan saat ini ia sadar tengah mencengkram tangan seseorang.

Perlahan kepalanya bergerak ke samping. Park Chanyeol di sana. Duduk di sebuah kursi samping ranjang seraya melempar cemas berlebih di balik irisnya yang kelam.

"Mimpi buruk?"

Baekhyun melengos, berusaha menyembunyikan ketakutan yang tersisa dari mimpi buruk yang menghampiri alam bawah sadarnya sesaat lalu. "Hanya mimpi buruk. Tidak masalah, sekalipun aku menggumamkan nama seorang laki-laki dalam tidurku."

Chanyeol mengerjap beberapa kali, disamping perasaan cemas yang masih mendominasi ia juga cukup merasa tertohok atas ucapan Baekhyun.

Chanyeol memang merasa cukup terganggu dengan sikap Baekhyun setelah kejadian dua hari yang lalu, wanita itu tak pernah sekalipun mengajaknya bicara. Si mungil bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, Chanyeol bahkan bertanya-tanya kemana perginya senandung kecil yang kerap mengudara di seberang pantry?

Chanyeol akui dia salah besar, atau bahkan sangat fatal. Namun ia tak menyangka Baekhyun akan menyindirnya secara terang-terangan sesaat lalu.

Bukankah wanita itu terdengar sangat kekanakkan?

Lantas bagaimana bisa sikapnya tersebut justru terkesan menggemaskan?

"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Tanya Baekhyun seraya melepas cengkraman tangannya dari Chanyeol sesaat setelah tersadar.

"Err.. kamarmu?"

Baekhyun memainkan bola mata, merutuk dalam hati atas pengakuannya yang tak masuk akal.

Saat ini kau tinggal di apartemen Park Chanyeol, Byun!

Mungkin tidak ada yang mampu membaca seperti apa raut wajah seorang Park Chanyeol saat pria itu tengah bergurau, namun sesaat lalu ia melakukannya. Dengan wajah datar andalannya tentu saja.

"Kau masih marah?"

"Aku tidak marah? Untuk apa aku marah? Apa alasannya? Hanya karena kau menggumamkan namanya dalam tidurmu bukan berarti aku marah oleh hal sepele seperti itu!"

Jawaban Baekhyun terlampau cepat, lantas menggigit bagian dalam mulutnya dengan gemas setelah sadar dengan apa yang ia katakan. Satu hal yang membuat Chanyeol mati-matian menahan kekehannya.

Satu hal yang membuat pria itu semakin yakin bahwa masih banyak tingkah jenaka yang terpendam dalam sosok anggun seorang Byun Baekhyun.

"O...kay." Chanyeol memberi nada jahil yang begitu kentara. Kalau kau tidak marah kenapa mengabaikanku dan tidak memberiku makan? Lantas membatin dengan konyol.

"Aku benar-benar tidak marah!"

Baik. Baik. Tapi jangan merengek seperti itu.

Chanyeol mengangguk pelan. Tentu saja ia masih cukup waras untuk menyuarakan apa yang batinnya katakan dengan gemas. "Aku tidak bermaksud lancang masuk ke kamarmu, hanya saja.. err.."

Baekhyun masih menunggu Chanyeol menuntaskan kalimatnya. Lantas pandangan beralih pada tangan Chanyeol yang tengah merogoh sesuatu dalam saku mantelnya.

"Apa ini?" Baekhyun bertanya seraya meneliti dua lembar tiket yang Chanyeol serahkan padanya.

"Err.. tiket berlibur mungkin. Temanku memberikannya padaku. Dia bilang pantai disana bagus." Sahut si pria dengan gumaman kecil, berusaha menyembunyikan nada suaranya yang penuh dusta.

Tentu saja, orang baik macam apa yang akan memberikan dua tiket perjalanan berlibur kelas satu lengkap dengan fasilitas hotel bintang lima secara cuma-cuma?

Park Chanyeol hanya tidak ingin terkesan seolah dia begitu antusias. Dia melakukannya karena sepertinya Baekhyun menyukai pantai. Lagi, anggap saja sebagai bentuk permintaan maaf.

Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Chanyeol tidak seperti itu.

Pria itu terus bersitegang dengan sisi lain dalam dirinya. Meski semua dalihnya terasa sangat percuma ketika bahkan bayangan Baekhyun dan dirinya tengah menyusuri pantai terngiang dalam benak.

Oke, cukup.

Chanyeol berdeham pelan. "Bergegaslah, kita pergi hari ini."

"Hari ini? Sekarang?" Baekhyun menatap lawan bicaranya dengan gusar meski binar riang masih berpendar di kedua matanya. "Kau tidak kerja?"

"Aku tidak mempunyai jadwal hari ini." Chanyeol menyahut seraya menahan diri untuk tidak mencubit pipi Baekhyun yang tampak begitu kenyal saat senyumnya tersungging lebar.

••

Baekhyun menumpukan kedua tangan pada wastafel, mencengkram pinggirannya dengan kuat. Sebentuk aksi pengalihan dari rasa sakit luar biasa yang mendadak menyerang kepalanya. Perlahan rona di wajahnya memudar, berganti pucat pasi yang selalu berhasil membuatnya terlihat menyedihkan.

Wanita itu meneliti refleksi pada cermin di hadapannya. Dengan tubuh bergetar hebat ia mencoba untuk menahan serta melalui kesakitannya kini.

Kumohon.. Tuhan..

Kumohon jangan hari ini..

Matanya terpejam erat, kepalanya mendongak saat sebuah permohonan pada Sang penciptanya terlontar dalam benak.

Park Chanyeol tengah menungguku..

Kau bisa, Byun Baekhyun.

Kau kuat.

Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang tidak semenderita itu. Bahwa rasa sakit luar biasa yang kerap nyaris merenggut nyawanya tidak serta merta cukup membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Bukan begitu?

Dengan mengandalkan sisa tenaga yang tak seberapa, wanita itu menempatkan diri pada situasi yang akan membuat siapapun berasumsi bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia tidak sedang begitu kesakitan. Maka setelah menyembunyikan pucat di wajahnya dengan perona, wanita itu segera bergegas keluar dari kamar dengan bahagia yang tak sedikitpun luntur dalam dirinya.

Bayangan tentang betapa menyenangkannya bisa kembali merasakan partikel pasir putih di bawah telapak kakinya membuyar dalam hitungan detik. Segalanya hancur tak tersisa ketika atensinya menangkap mereka, dua orang itu tengah memeluk satu sama lain.

Melihat bagaimana Chanyeol memeluk erat wanita itu, melindunginya seperti dia berharga yang takkan dibiarkannya tergores luka sedikitpun mengalirkan sengatan tak asing pada hati Baekhyun, dan disana mulai terbentuk sebuah rongga.

Tidak. Dari awal rongga itu sudah mengemuka. Dan Park Chanyeol adalah alasan mengapa kini luka dalamnya kian menganga.

"Ibuku! Akh ibuku!"

Kyungsoo menangis tersedu dalam dekap kekasihnya.

"Sstt.. aku di sini, sayang." Chanyeol mengecupi sisi wajah Kyungsoo dengan sayang. "Ibumu sudah tenang di sana. Relakan kepergiannya."

Ada sesal yang memenuhi hati Chanyeol. Ia terlalu sibuk dengan kebingungannya, dengan sisi lain dalam dirinya akan kehadiran Baekhyun, hingga ia melupakan sosok yang dicintainya. Sosok yang sesaat lalu datang dengan membawa luka yang tersisa dari kepergian sang ibunda. Chanyeol menyesal tidak ada di sana, tidak memeluk Kyungsoo ketika mungkin kekasihnya itu berpikir hidupnya tidak akan lagi berarti tanpa seorang ibu.

"Maafkan aku.. maafkan aku." Sesal itu tak terhitung mengemuka bersamaan dengan kecupan rindu yang memang terpendam sejak lama.

Tentu saja, Chanyeol merindukan kekasihnya itu.

Pria itu menangkup wajah Kyungsoo, menyeka air matanya sebelum kemudian mendaratkan kecupan lembut pada kedua kelopaknya. "Aku di sini." Bisiknya kembali menenangkan.

Namun nyatanya usaha Chanyeol sedikit sia-sia. Kyungsoo telah lebih dulu menangkap sosok lain yang berada di apartemen kekasihnya. "Sedang apa dia di sini?" Tanyanya seraya menunjuk pada Baekhyun yang terkejut karena kehadirannya tertangkap oleh atensi Kyungsoo.

Baekhyun menggigit bibir bawah dengan kuat. Merasa bahwa nada tak bersahabat yang Kyungsoo lontarkan adalah suatu hal yang wajar. Wanita itu mulai mengurai langkah dengan ragu, kedua tangannya saling bertaut sesaat setelah bergerak menjauhi pintu kamar.

Sementara Chanyeol telah lebih dulu merasa syok. Ia tidak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi yang begitu membingungkan seperti saat ini. Chanyeol hendak melontarkan beberapa alasan sebagai dalih yang mungkin akan meredakan amarah Kyungsoo yang hendak membludak, namun ia kalah cepat dari Baekhyun.

"Oh, maaf sebelumnya, aku mempunyai janji dengan seorang teman di daerah sini. Dan kebetulan ada hal yang ingin aku berikan pada Park Chanyeol-ssi, jadi menyempatkan diri untuk mampir." Melihat bagaimana Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo seperti tengah memberitahu bahwa situasi yang ada hanyalah salah paham kembali membuat sesak memenuhi ulu hati.

Kyungsoo berdecak pelan. "Mengunjungi apartemen kekasihku sepagi ini?" Tanyanya setelah merasa bahwa bersikap defensif pada wanita yang berpotensi merebut Chanyeol darinya adalah hal yang wajar.

Chanyeol memejamkan mata dengan putus asa lantas mengeratkan genggaman tangannya pada Kyungsoo.

Baekhyun tersenyum kecil. "Maaf atas kelancanganku. Aku hanya.." Ia menjeda kalimatnya hanya untuk merogoh sesuatu dari dalam tas. "Ini.. err dua buah tiket berlibur. Aku berniat memberikannya kepada kalian. Urmm.. sebagai bentuk permintaan maaf karena kehadiranku menyebabkan kalian berdua terlibat dalam kesalahpahaman."

Kumohon Byun Baekhyun.. Chanyeol meratap dalam hati. Ada pedih yang menyusup masuk ke dalam dirinya saat setiap kebohongan itu mulus keluar dari mulut Baekhyun.

Baekhyun mengikis jarak sebelum kemudian memeluk Kyungsoo lantas menepuk punggungnya perlahan, "Aku turut berduka cita atas kepergian ibumu." Tukasnya dengan suara lembut yang menenangkan. Tak lama kemudian ia melepas pelukannya, membelai wajah Kyungsoo dan melempar senyum.

Sebuah senyuman yang berhasil menyembunyikan rasa sakit yang kian merajarela di balik batok kepalanya. Sebuah senyum yang sama sekali tidak gagal mengalihkan perhatian siapapun dari sosoknya yang tengah begitu menderita.

Tatapan Kyungsoo melunak. Lantas hatinya bertanya-tanya, bagaimana ada seseorang yang terlihat setulus itu?

"Kalau begitu aku.." Baekhyun mengepalkan tangan saat rasa sakit kembali menghantam kepalanya. "Aku.. permisi." Finalnya sebelum kemudian mengurai langkah yang dibuatnya terlihat begitu kuat menuju pintu keluar. Akan tetapi, selama langkah itu terurai tangannya yang bergetar tak berhenti terulur, menyeka cairan merah pekat yang sesaat lalu keluar dari hidungnya.

••GRAVITY••

"Kau tahu? Ibuku mengatakan sesuatu sebelum beliau meninggal." Kyungsoo bergumam sebelum mengeratkan pelukannya pada Chanyeol yang tengah menyandarkan punggungnya pada headboard.

"Apa itu?"

Kyungsoo menarik kepalanya dari dada Chanyeol lantas menegakkan tubuh, menatap lawan bicaranya dengan serius. "Beliau berbicara soal masa laluku."

Chanyeol ikut menarik punggungnya, apa yang Kyungsoo katakan melahirkan tanda tanya besar dalam benaknya. "Lalu?"

"Omma bilang.. beliau dan Appa menemukanku di tepian bukit. Saat itu aku satu-satunya korban yang selamat dalam sebuah kecelakaan mobil. Sementara dua orang lainnya meninggal dunia."

"Dua orang lainnya? Siapa?"

"Omma bilang mereka tampak seperti sepasang suami istri. Dan orang-orang menduga mereka adalah orang tuaku karena aku berada dalam mobil yang sama." Kyungsoo mendesah pelan. "Pantas saja Omma dan Appa selalu menutupi segala hal yang berhubungan dengan masa laluku selama ini, mereka pikir aku tidak akan sanggup menghadapi kenyataan tersebut. Tapi Chanyeol.. Bagaimana bisa kedua korban meninggal itu adalah orang tuaku sementara seperti yang kau tahu masa kecilku aku habiskan di panti asuhan. Karenanya sejak kemarin aku bertanya-tanya siapa mereka? Dan kenapa aku bisa berakhir dalam mobil yang sama dengan keduanya?"

Kening Chanyeol semakin berlipat, segala hal yang menyangkut masa lalu Kyungsoo memang kerap melahirkan tanda tanya besar.

Pria itu baru akan membuka mulut ketika bunyi bel memenuhi gendang telinga.

"Yeay! Pizza is here!" Kyungsoo berseru riang, sebentuk aksi yang membuat kekasihnya tak kuasa untuk tidak mengusak rambutnya.

Chanyeol bangkit dari ranjang sebelum kemudian berjalan keluar kamar. Langkahnya terurai menuju pintu, lantas berjumpa dengan delivery courier yang menenteng pesanannya.

"Aku sangat terkejut kemarin! Nona itu sangat pucat saat keluar dari unit 2201. Kita berada dalam satu lift dan hidungnya tidak berhenti mengeluarkan darah. Semua orang yang berada di lobi sangat panik saat nona itu jatuh pingsan. Beruntung ambulans segera datang dan membawanya ke rumah sakit."

Chanyeol mengabaikan si kurir, bukan karena ia lupa caranya bersopan santun, hanya saja ketika nomor unit apartemennya terlontar dari mulut seorang wanita yang tampak berbincang dengan rekannya saat menuju elevator, pikiran pria itu membuyar.

Tidak. Tidak.

Bukan itu yang membuat tubuh Chanyeol secara tiba-tiba membeku serta membuat lidahnya terasa begitu kelu. Perihal nomor unit apartemennya yang menjadi bahan gosip kedua wanita itu tidak cukup kuat untuk menjadi sebuah alasan yang membuat langkahnya terseret kembali masuk ke dalam apartemen sebelum kemudian menyambar mantel dan kunci mobil yang tergeletak di atas sofa.

"Kau mau pergi?"

Oh ya, Kyungsoo. Chanyeol melupakannya lagi. Pria itu berbalik tanpa sepatah kata untuk sekedar menyahut. Ia mendaratkan sebuah kecupan singkat pada dahi kekasihnya sebelum kemudian berlari keluar apartemen.

Segala yang tertinggal di belakanganya melahirkan tanda tanya. Namun Chanyeol tidak peduli. Tidak pada seruan Kyungsoo saat memanggil namanya berulang kali juga tidak pada si kurir dan pesanannya yang terbengkalai.

Langkahnya terurai panjang, apa yang didengarnya dengan sangat jelas berhasil mengenyahkan segala macam hal yang tertanam dalam benak, dan yang tersisa kini hanya satu.

Satu nama.

Byun Baekhyun.

Chanyeol memukul kemudi mobilnya dengan kasar, berkali-kali. Mengabaikan makian pengguna jalan lain yang nyaris bertabrakan dengannya akibat caranya mengemudi terlampau brutal.

Pria itu kerap kali menggeleng saat bayangan wajah Baekhyun berkelebat menyapa atensi.

Chanyeol tahu ia tidak berhak mengharapkan apapun saat ini. Namun ada begitu banyak hal yang ia semogakan dalam hatinya. Dan semua itu hanya tertuju pada satu nama yang tak henti-hentinya melahirkan segala macam perasaan buruk.

Salah satunya, ia merasa buruk karena Baekhyunnya harus kembali bertarung dengan maut.

Siapa kau berani menyematkan hak milik atas dirinya, brengsek?

Kau bahkan tidak menolongnya sama sekali ketika dia terjebak dalam situasi yang membingungkan.

Pecundang!

Kau memang pecundang, Park Chanyeol!

Pria itu terus memaki dirinya dalam hati, sedang langkahnya terurai di sebuah koridor rumah sakit.

"Kris, kumohon."

Ketika sampai di depan pintu sebuah kamar inap, Chanyeol disambut oleh Kris serta tatapan tak bersahabat seorang wanita yang ia ketahui bernama Luhan.

"Baekhyun butuh istirahat, Chanyeol. Selain aku, tim medis dan Luhan, siapapun tidak diperbolehkan mengunjunginya."

"Siapa yang membuat aturan tersebut?"

Kris mendengus mendengar nada sarkas yang Chanyeol lempar kearahnya.

"Aku hanya butuh memastikan keadaannya. Kris."

Kedua alis Kris bertaut. Jika bukan untuk suatu hal yang sangat penting, Chanyeol tidak akan melontarkan permohonan dengan nada kentara seperti itu. Kris sangat mengenalnya.

Ya. Chanyeol terlalu berhati-hati. Ia tidak pernah menunjukan perasaannya dengan terang-terangan di hadapan siapa pun.

Kris dan Luhan saling melempar pandang sebelum keduanya mendesah pelan.

Setelah mengangguk tanda persetujuan, Kris lebih dulu berlalu.

"Untuk apa semua itu?"

Chanyeol hendak menyentuh knop pintu ketika tiba-tiba Luhan menginterupsi.

"Untuk apa semua hal baik yang kau tujukan pada Baekhyun? Untuk apa mengajaknya menikah dan tinggal bersama? Untuk apa perasaan cemasmu sekarang ini, Park Chanyeol-ssi?"

Ya. Sebenarnya untuk apa?

Apa alasannya?

Chanyeol bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu masih kelu, pertanyaan Luhan amat sangat menohoknya. Dan perang batin pun tak terelakkan lagi saat ini.

"Apa kau mencintainya?"

Satu pertanyaan yang membuat Chanyeol refleks berbalik, menatap lawan bicaranya.

Luhan berdecak pelan. "Jika kau tidak mencintainya, setidaknya milikkilah keberanian untuk meninggalkannya. Berhenti membuatnya bingung, berhenti menjebaknya dalam situasi yang sulit. Baekhyun tidak sekuat dan setangguh itu." Finalnya sebelum kemudian berbalik dan meninggalkan Chanyeol yang masih mematung di tempatnya.

••

Nyatanya Chanyeol tidak di sini oleh rasa iba yang menyeretnya.

Lebih dari itu.

Ia hanya terlalu pengecut dan takut untuk menggali lebih dalam dan menemukan alasan sesungguhnya. Sebuah alasan yang membuatnya terus menerus mendaratkan kecupan lembut pada punggung tangan yang terhias selang infus tersebut. Sebuah alasan mengapa ia tak bisa mengalihkan atensinya sedetik pun dari wajah pucat itu.

Apa kau mencintainya?

Chanyeol menunduk dalam saat pertanyaan Luhan kembali terngiang, ia masih menyelam lebih dalam agar menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut ketika sebuah gerak rapuh terasa dalam genggamannya.

Kelopak mata itu mengerjap pelan lalu sebuah senyum kecil terulas.

Ada yang bersitatap dalam diam. Hanya suara elektrokardiogram yang berani mengisi kesunyian.

"Apa aku mengganggu tidurmu?"

Baekhyun terpejam sejenak, menikmati sapuan lembut di puncak kepalanya. Lantas menggeleng, menyahuti pria yang kini duduk di samping bangkar.

Pria itu mengangguk sebelum kembali menghirup punggung tangan Baekhyun, mengalihkan rasa cemas yang tak kunjung lenyap.

"Aku ingin bangun."

Suara parau itu membuat Chanyeol berpikir bahwa permintaannya tidak layak untuk ditolak, maka dengan hati-hati pria itu membantu Baekhyun bangkit dari posisi tidur.

Keduanya kembali bersitatap, sebelum kesabaran Chanyeol berada di ujung tanduk. Ia tak lagi dapat menahan diri untuk bertanya, "Kenapa? Kenapa kau melakukannya?" Pertanyaan itu lantas mengemuka diiringi belaian lembut di sisi wajah Baekhyun.

Si mungil mengerjap tidak mengerti.

"Kenapa kau berbohong? Kemarin.. pada Kyungsoo. Kenapa tidak katakan yang sebenarnya lalu kita terluka bersama."

Baekhyun menggeleng. Bahkan gestur penolakan itu terkesan begitu kentara. Perlahan tangannya terulur sebelum menggenggam tangan Chanyeol yang masih bertahan di pipinya. "Dia.. akan seperti apa rasa sakitnya jika tahu kekasih yang dicintainya tinggal satu atap dengan wanita lain?" Kalimatnya terputus oleh helaan napas yang tercekat berkali-kali. Sementara matanya sudah lebih dulu memerah basah. "Bagaimana mungkin aku tega menabur garam di atas lukanya yang belum mengering? Di saat dia baru saja mengalami kehilangan." Baekhyun menggeleng sekali lagi, lantas tangis itu lolos. "Dia akan sangat terluka, Park Chanyeol.. Kekasihmu akan semakin terluka." Finalnya dengan isak yang mulai terdengar pilu.

"Silly you!" Chanyeol merengkuh raga rapuh itu, lalu menenggelamkannya dalam dekap erat. "Silly you, my crybaby!" Kecupan yang mendarat di puncak kepala seperti pengganti kosa kata yang telah lebih dulu terenggut dari kerongkongannya.

Sekali lagi tangis itu pecah dalam sebuah pelukan. Anehnya seperti sebuah tempat yang memang diperuntukkan isaknya tercurah, perasaan Baekhyun kerap membaik setelahnya. Lantas untuk ke sekian kali yang tak pernah Baekhyun hitung, napasnya akan terhela dengan teratur, kelopaknya memberat sebelum akhirnya terpejam dengan nyaman.

••GRAVITY••

Chanyeol menjanjikan sesuatu jika Baekhyun membaik dengan cepat. Dan ia memang tidak membual, karena di sinilah mereka saat ini.

Mengurai langkah, berjalan menyusuri tepian pantai, menikmati semilir angin dan aroma laut yang kuat.

Si mungil berlari kecil, tawa riangnya kerap lolos saat sapuan ombak mengejar telapak kakinya.

Chanyeol di belakangnya, berkali-kali mengingatkan Baekhyun untuk tidak berbuat sesuatu yang berpotensi melukai dirinya.

Namun sepertinya wanita itu terlampau bahagia, kehadiran Chanyeol tidak sebanding dengan sekumpulan burung yang berterbangan ribut di angkasa.

Kicauan itu berpadu debur ombak, lalu senandung kecil yang lolos dari mulut Baekhyun.

Wanita itu memadu padankan semua harmoni yang ada dengan cara yang tak mungkin bisa Chanyeol lupakan.

Dia definisi nyata dari sebuah keindahan.

Sosok yang seharusnya asing di mata Chanyeol itu kini justru tak pernah gagal menggali rasa penasarannya.

Wanita itu seharusnya tidak di sini, tidak bersama Chanyeol, tidak melempar senyum yang entah sejak kapan berhasil mencuri napasnya. Ya. Dia seharusnya tidak melakukan hal-hal yang bersifat adiktif yang berpotensi membuat jantung Chanyeol meledak.

Meski begitu Chanyeol telah kehilangan daya untuk menyuarakan semua bantahan itu. Karenanya ia butuh memastikan satu hal.

Apa kau mencintainya?

Sosok itu kini melambai riang padanya.

"Stop right there.. mulai sekarang aku yang akan menghampirimu."

Dia sungguh cantik. Rembutnya terjamah angin, aromanya berbaur dengan udara.

Sosok mungil itu terpaku, saat wajahnya ditangkup hingga sebuah kelembutan membelai indera pengecap.

Dia Byun Baekhyun.

Benang saliva terjalin, mereka terpejam. Dahinya saling menyentuh.

Ya. Byun Baekhyun. Dan ketika dia membuka mata, ada seseorang yang jatuh cinta.

••

TBC

••

An:

And the Drama has begun~~

Aku cuma mau mengingatkan, mulai dari sekarang ini alurnya bakal lebay banget, banget lho~~ Jadi buat yang anti drama-drama-an, sebelum ff ini bikin mual.. better close your page early. Okay?

Eh eh eh btw udah ada yang follow IG nya pak dokter? Ini lho idnya: pcychanpark (promosi wkwk)

Salam pisang~

CHUCHUCHU!