Elliot merasa tidak pernah melihat manusia dengan rambut seputih salju seperti orang itu. Sepasang iris kelabunya tampak memikat dan Elliot senang memandangnya. Pria itu setengah berjongkok untuk menyejajarkan posisi mereka. Elliot menelengkan kepala dan tersenyum.

"Paman siapa?"

Sekilas sorot mata pria itu tampak sedih sebelum melengkung saat si empunya tersenyum hungga tulang pipinya naik ke atas. "Cepat sekali kau melupakanku. Aku ini paman Draco-mu."

"Eeeh," kata Elliot, menggaruk-garuk pelipisnya dengan ekspresi tidak enak, "aku lupa."

"Tidak apa-apa." Pria itu menyengir sembari mengacak-acak puncak kepala Elliot, "Jangan lupa lagi, ya."

.

.

A fading kitten

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

the kitten is howling

.

.

Aula Besar tampak lengang saat murid-murid mulai membersihkan remah-remah roti dari seragam mereka dan beranjak pergi. Trio Emas berserta Elliot masih tinggal untuk bercakap-cakap sebentar. Menikmati segelas jus labu dengan santai.

Harry menengokkan kepala hingga tertangkap pandangan siswa Tahun Kelima di sampingnya. "Kau hampir tidak menyentuh makananmu. Ada apa?" tanyanya, "Apa kau sakit?"

Hermione dan Ron berhenti berbicara. Kali ini mereka menatap khawatir. Menunggu jawabannya dengan sikap yang kurang sabar. Namun, Elliot tidak menjawab. Wajahnya tertunduk dalam, fokus pada sup yang hanya ia aduk-aduk dengan sendok di piringnya.

"Apa kau sedang tidak selera?" tanya Hermione, yang duduk di seberangnya, mencoba merendahkan badan untuk melihat wajahnya. Sayangnya, helaian rambut berwarna coklat milik remaja itu telah berubah menjadi tirai yang tak mampu ditembus. "Elliot?"

Ron memegang bahunya, "Hei, kau tak apa-apa?"

Tuk.

Adukannya berhenti.

Tak ada yang berbicara saat suara Elliot seolah memecah sunyi.

"Ron," mulainya, "apa yang akan kau lakukan kalau adik perempuanmu menjalin hubungan dengan orang yang kau benci?"

"Pertanyaan apa itu?" balas Ron, mengerutkan kedua alis merahnya. "Well, aku tentu akan sangat marah. Aku tidak akan membiarkannya. Orang yang kubenci pastilah bukan orang baik, aku yakin Ginny, adikku, hanya akan disakiti. Memangnya kenapa kau menanyakan itu?"

"Aku hanya ingin tahu," Elliot menjawab, "sepertinya, orang yang kukenal berpacaran dengan orang yang tidak kusukai."

Harry dan Ron saling berpandangan. Apa Elliot sudah punya teman selain mereka? Bagus, sih, tapi rasanya sulit dipercaya.

Tanpa mengangkat wajahpun Elliot tahu nafas siapa yang tertahan di antara mereka berempat. Ia menutup mata, menghembuskan nafas. "Aku harus masuk kelas tambahan."

"Well, Ron dan aku juga harus pergi," ucap Harry, bangkit bersamaan dengan Ron, "Quidditch, kalian tahu, kami harus menyempurnakan formasi yang baru. Hermione, kau— Hermione?"

Gadis itu tersentak, menoleh cepat pada Harry yang menatapnya heran. "Ah, aku tadi melamun-" Ron memutar bola matanya, bergumam, 'pasti tentang pelajaran. Tidak lama lagi kau botak, 'Mione.' "—ada apa?"

"Kami—Ron dan aku akan ke lapangan Quidditch dan Elliot harus ke kelas tambahan," katanya, "Kupikir kau mau mengantarnya atau apa." Harry mengedikkan bahu, "Well, kami harus bergegas atau terlambat nantinya."

Hermione mengangguk. "Oke, sampai nanti."

"Yeah."

Ketika punggung kedua orang itu tak lagi terlihat, Hermione dengan gerakan yang terkesan gugup menoleh pada Elliot. Yang saat itu juga tengah menatapnya. Apa arti tatapannya? Pikiran Hermione berkecamuk hingga ia sendiri susah menenangkan debaran jantungnya.

Hermione mencoba tersenyum. "Kita pergi sekarang?"

Apa Elliot tahu?

xxxx

Dan Elliot menjawab pertanyaannya walaupun tidak gadis itu suarakan padanya.

"Aku tahu," sepasang permata hazel itu berkilat, menatap Hermione yang tengah berjalan di sampingnya dari sela-sela poni yang berjatuhan di depan matanya. "rahasiamu. Harry dan Ron membenci Draco Malfoy, tapi kau berhubungan dengannya. Kenapa?"

Hermione menatapnya sejenak, tampak terkejut dengan perkataannya. Kemudian ia mengedarkan pandangan, mencoba mengecek pendengar yang tak diinginkan dengan gaya yang tidak terlalu kentara. Sudut bibirnya berkedut sedikit, menampilkan senyum tak tahu apa-apa yang sangat terlihat palsu.

"Apa maksudmu, Elliot?"

Elliot menyadari ketidaknyamanannya, namun remaja itu sama sekali tidak berniat untuk membuat Hermione tenang. Ia bertanya lagi dengan nada yang agak keras, membuat Hermione terlonjak—seolah jantungnya baru saja meloncat. "Aku melihatmu. Kau dan Draco Malfoy, berpelukan."

"Itu..." Hermione meneguk ludah. Gugup. "Kau pasti salah lihat."

Elliot menatap sepatunya.

"Kau berbohong."

Jeda. Hermione mengernyitkan kening. "Kau salah paham, Elliot. Mana mungkin Malfoy berpacaran dnegan orang sepertiku. Dia pureblood yang sombong. Semua orang tahu mustahil baginya untuk berhubungan dengan muggleborn—apalagi muggle."

Entah kenapa, Elliot berjengit saat kata terakhir diucapkan. Kedua alis coklatnya berkerut dalam. Dengan postur tubuh yang tegang, ia bersikeras, "kau berbohong!"

Hermione tersentak.

"Di koridor lantai 3 kalian berpelukan!"

"Elliot, tolong kecilkan suaramu," pinta Hermione.

"Kenapa! ?" Elliot menoleh, menatapnya dengan bibir bergetar, "Dia jahat padamu, pada Harry, Ron, dan aku! Dia mengolok-olok kita tapi kau malah... Draco Malfoy itu orang jahat! Kau tidak akan bahagia dengannya!"

"Elliot!"

Si pemilik nama langsung bungkam. Kedua matanya yang melebar menatap Hermione, terpaku pada tatapan keras yang nampak di matanya. Hermione meremas pergelangan tangan remaja itu. "Jangan asal bicara tentang hal yang tidak kau ketahui. Aku lebih mengenal Draco daripada kau. Dia memang mengejek setiap kali bertemu, tapi aku lebih tahu isi hatinya. Elliot, kau tidak tahu apa-apa."

Elliot lantas menarik kembali tangannya dengan kasar. Berkata lantang, "Isi hati! Isi hati! Apa maksudnya bersikap bertolak belakang dengan isi hatinya! ? Aku tidak tahu apa-apa, Hermione! Dia orang jahat, itu yang kulihat dari sikapnya!"

Sepertinya, perkataan itu melukai perasaan Hermione. Gadis itu menggeleng pelan. "Cukup, Elliot. Kita hentikan pembicaraan ini. Aku..." Ia menyentuh keningnya, tiba-tiba saja merasa lelah. "Aku ingin istirahat."

Bukan percakapan macam ini yang ingin ia hadapi dengan Elliot yang selalu berapi-api.

Kemudian gadis itu berbalik pergi. Tak berniat meladeninya lebih lanjut. Tak menoleh pada sepupunya—Elliot yang memandang punggungnya dengan wajah frustrasi.

xxxx

Persetan!

'Paman Draco' apanya! ?

Menjijikkan!

Kau menjijikkan! !

Aku tidak akan pernah memaafkanmu!

Buku-buku jari Elliot memutih saat ia meremas sendiri kedua tangannya. Telapak tangannya hampir berdarah karena kuku yang menancap di sana. Geram. Dia sangat geram.

Sepasang permata hazel membara dalam api kemarahan yang berkobar.

Kelembutan kakak laki-lakinya yang menghilang.

Kepercayaan diri kakak perempuannya yang tak bisa lagi ia saksikan.

Draco Malfoy,

semua ini adalah kesalahanmu.

xxxx

"Dengarkan aku, Hermione!" panggil Elliot, terdengar putus asa, "Aku akan memberitahu Harry dan Ron tentang hubungan kalian kalau kau tidak mau berpisah dari orang itu!"

Langkah gadis berambut coklat di sana berhenti. Hermione sedikit menghadapkan badan ke arahnya. Semula ia hanya diam, tak memberikan celah pada Elliot untuk melihat emosinya. Tetapi, sekilas gadis itu memandang dengan air muka kecewa. Kemudian tanpa kata-kata ia kembali melanjutkan perjalanan.

Nafas Elliot tertarik dalam. Terperanjat.

Apakah Hermione tidak mengindahkan ancamannya?

Tidak! Tidak!

Elliot menggeretakkan giginya. "Kau harus berpisah dari orang itu! Dia tidak bisa membuatmu bahagia!" Hermione tidak berhenti. Elliot meremas kain di dadanya. Berharap, berharap agar gadis itu berhenti dan menyetujuinya. Karena... karena...

Ia memanggil sekali lagi, "Aku akan memberitahukannya! Lihat saja! Lihat... saja..." Kedua manik hazel Elliot berkaca-kaca. Mungkin karena itu Hermione menahan mulutnya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Ucapan yang di luar kendali bisa saja menyakiti hati Elliot.

"Hermione!" Namun, gadis itu telah menghilang di pertigaan koridor, meninggalkan Elliot yang bersusah payah menahan getaran di suaranya. Lututnya bergetar hebat. Lemas. Sewaktu-waktu kakinya tak akan mampu lagi menahan beban tubuhnya. Mentalnya sangat terguncang.

"Hei, hei," seseorang menyela dengan nada bosan. Raut wajah datar dan dingin itu tidak biasanya terlihat di muka Draco Malfoy. Ia jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan Elliot pada Hermione.

Sungguh.

Draco tentu tidak akan tinggal diam dengan niat Elliot untuk memisahkan mereka. "Kenapa kau sangat ribut? Suaramu bisa membuat Troll terbangun dari mimpi buruknya."

Muka Elliot memerah bukan karena malu ataupun marah, tapi kesedihan itu tidak bisa lagi dibendung. Keputusasaan yang mendorong air mata tergenang di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar namun ia gigit kuat-kuat hingga lidahnya bisa mengecap darah.

"Kenapa..."

Di suatu hari yang basah, hujan turun dengan sangat deras. Butir-butir air menghantam atap bertubi-tubi hingga suaranya memekakkan telinga. Elliot berlari keluar rumah tanpa peduli apakah ia memakai sepatu atau tidak, atau apakah ia memakai payung atau tidak. Ia meloncat ke genangan air berwarna coklat dan tidak memedulikan apakah nodanya mengotori pakaiannya atau tidak.

Siapa yang peduli?

Tidak ada!

"Kumohon... kumohon..."

Waktu itu ia hampir merusak pita suaranya saat berteriak sekuat tenaga, berusaha memanggil seseorang yang berada di dalam mobil hitam yang tengah melaju pergi.

Mama, apakah...apakah... pria itu adalah...

Akan tetapi, jawaban yang ia dapatkan hanyalah seulas senyum.

Dan sebaris kata yang menyanyikan kebohongan.

Mama, Orphe dan Atropa akan datang lagi, 'kan? Sekali setahun itu berapa hari? 1, 2, atau 3?

Semua pertemuan itu sangat singkat. Elliot menangis dan bertanya kenapa ia hanya bisa bertemu beberapa jam saja dengan orang-orang yang mengaku sebagai anggota keluarganya. Kenapa pria itu juga? Lalu paman itu juga hanya datang sebentar lalu pergi? Orangtua James dan Primrose selalu menginap beberapa hari atau mengajaknya menginap di rumah mereka. Tapi kenapa orang yang disebut sebagai ayahnya itu tidak bisa berlama-lama di rumahnya? Bersama mama dan Elliot?

Pertanyaan itu, sekali lagi, dijawab dengan kebohongan sederhana. Kemudian Elliot menyentuh lutut ibunya, mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat. Senyum yang terpatri di wajah wanita itu, entah kenapa, Elliot tidak bisa membacanya. Tidak tahu harus menyebutnya apa.

Kala itu, bermandikan cahaya jingga yang masuk dari jendela yang terbuka, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ibu.

Terlalu takut untuk mengutarakan isi pikirannya.

Mama, jangan-jangan kau... sebenarnya tidak bahagia...?

"Semua ini karena kau...kaulah penyebabnya..." Elliot meninggikan suaranya, menghujamkan tuduhan tanpa rasa kasihan, "Karena kau! !"

Elliot merunduk dan berteriak histeris. Tak kuasa menahan air mata yang memburamkan penglihatan, menetes-netes di lantai batu. Elliot menutup matanya kuat-kuat. Kedua tangannya mencengkeram kemeja Draco yang tidak memberi tanggapan, memandang sikapnya tanpa emosi berarti di wajahnya. Tanpa mengangkat wajahnya, remaja itu berseru dengan nada memelas. Sangat tidak berdaya.

"Aku mohon padamu! Apakah kau akan merenggutnya juga dariku!?"

.

.

.

"Kau tahu aku mencintaimu. Kau juga tahu perasaanku, isi hatiku. Semuanya. Kita pernah berjanji untuk tetap bersama selamanya, tapi ternyata masa depan memang tidak bisa ditebak. Bukannya membuatmu bahagia, aku malah menyakiti hatimu. Bersikap egois dan kejam, sangat cocok dengan olokan orang padaku; 'Malfoy yang jahat dan tidak punya perasaan'. Hermione,"

Draco memejamkan kedua matanya,

"aku akan menceraikanmu."

.

.

.

Wanita itu hanya diam menatap.

Lalu bibirnya berkedut, melemparkan seulas senyum sedih.

"Aku mengerti."

_bersambung_

LullabyTales: di sini udah tahulah jawabannya nfu~ ;)

Ranchanjr: nfufu~ ;)