Heartbeat

EXO Fiction

Characters: Chanyeol, Jongin (Kai), Jongdae, Luhan, Kim Minseok (Xiumin), Kris and others

Pairing: ChanKai, KrisKai

Warning: BL, Typo

Rated: T-M

Boomiee92

Hai ini chapter delapan selamat membaca, maaf atas segala kesalahan terutama typo. Saya ngebut update sebelum puas. Happy reading all….

Previous

"Baiklah." Balas Jongin.

Kris tidak mengerti mengapa Jongin berubah penurut, yang sekarang ia pikirkan adalah sikap Jongin berubah baik jadi dia tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Bertindak keras pada Jongin. Kris berdiri untuk membantu Jongin berbaring, menaikkan selimut Jongin sebatas leher pemuda yang telah menjeratnya begitu kuat itu. "Tidurlah yang nyenyak. Ada penjaga di pintu kamar, mereka mengawasimu jangan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jika kau merasa sakit mereka akan segera tau."

"Ya. Terimakasih Kris."

Jongin menahan gejolak hatinya, ketika Kris mendaratkan kecupan di dahi serta permukaan bibirnya. "Tidurlah Jongin." Ucap Kris sembari mengawasi Jongin dengan kedua kelopak mata yang tertutup selama beberapa saat, sebelum dirinya melangkah keluar meninggalkan kamar.

BAB DELAPAN

"Apa yang kau lakukan di sini?" Jongin menoleh ke belakang menatap Kris yang entah sejak kapan berdiri di sana.

"Hanya mencari udara segar."

"Kau baik-baik saja?" Jongin mengangguk pelan. "Bagaimana para pengawal itu memperbolehkanmu keluar?"

"Aku memaksa." Ucap Jongin kemudian tersenyum lebar. Senyuman itu seketika melunturkan semua amarah yang tadi berkumpul di dada Kris saat mendapati Jongin tak ada di dalam kamarnya. "Tamanmu indah."

"Terimakasih banyak. Kemana?!" Pekik Kris.

"Aku sudah mengatakannya tadi, aku ingin berjalan-jalan bukan hanya berdiam diri di sini."

"Aku temani." Kris berucap tegas, Jongin mengangguk pelan. Kris mengulurkan tangan kanannya meski sempat ragu pada akhirnya Jongin menerima tangan Kris membiarkan tangan kirinya berada di dalam genggaman Kris. "Kau melepas sepatumu?"

"Aku ingin merasakan rumput di bawah telapak kakiku."

"Hmmm." Kris menggumam pelan. "Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama?"

"Aku tidak mau bertanggungjawab jika kau nanti mengeluh telapak kakimu kotor oleh tanah dan rumput."

"Aku tidak akan mengeluh." Jongin berdiri sementara Kris setengah membungkuk melepas sepasang sepatu mahalnya, tangan mereka tak sekalipun terpisah. "Sudah, ayo." Ucap Kris ia menoleh ke belakang mengisyaratkan kepada semua pengawalnya untuk pergi meninggalkan dirinya hanya bersama Jongin.

Keduanya berjalan pelan menginjak rerumputan gemuk, subur, dan lembab di bawah telapak kaki keduanya. Tatapan Jongin tertarik pada kolam berbentuk bulat dengan air mancur serta patung wanita berada di tengah. Patung wanita tanpa penutup dada, hanya tangan kiri yang menutupi bagian itu. Gaun dari pinggang menjuntai ke bawah dengan lekukan indah. "Dewi kuno Yunani. Tethys. Ibu dari semua mata air dan sungai di dunia."

"Patung itu Thetys?"

"Ya. Kau tahu?"

Jongin menggeleng pelan. "Aku tidak terlalu tertarik dengan mitos atau sejenisnya." Kris hanya tersenyum mendengar kalimat Jongin. Angin berhembus ketika keduanya berjalan melintasi mawar rambat, sulur-sulur mawar menutupi dinding setinggi kira-kira tiga meter, ada banyak kuntum mawar yang mekar berwarna putih. Angin membawa aroma wangi yang segar. "Udara mulai sejuk, musim gugur hampir tiba."

"Aku—aku harus kembali ke sekolah Kris. Liburanku hampir berakhir." Jongin menelan ludah kasar menunggu ledakan emosi Kris.

"Tentu saja aku sudah memikirkan hal itu, jangan cemas. Kau akan bersekolah Jongin." Lega, tak sepenuhnya. Jongin takut jika Kris memaksanya untuk melakukan home schooling. "Kau bisa kembali ke sekolahmu saat libur usai."

"Itu—artinya aku akan pulang?"

"Tentu saja, aku tidak bisa menahanmu selamanya di sini. Aku akan bertemu dengan orangtua dan keluargamu untuk membicarakan semuanya, aku akan membayar semua yang Chanyeol berikan padamu dan pada keluargamu. Sehingga kau tidak perlu terikat dalam hubungan balas budi dengan Chanyeol."

Jongin menundukkan kepalanya berusaha menarik tangannya dari genggaman Kris namun Kris tak mengindahkan hal itu, mempererat genggaman tangannya pada Jongin. Kris menghentikan langkah kakinya, berputar, menatap wajah Jongin lekat.

"Kau…," Jongin mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Kenapa melakukan hal ini padaku?" Dahi Kris berkerut dalam. "Aku bukan binatang yang bisa kau tangkap dan kau masukkan kandang Kris, kau tidak bisa memaksaku melakukan hal yang kau inginkan. Aku pasti melawanmu."

"Maaf Jongin, maafkan aku."

"Biarkan aku pergi Kris aku memiliki keluarga dan kehidupan sendiri."

"Jongin." Kris kini menggenggam kedua telapak tangan Jongin. "Jika aku melakukannya perlahan, apa kau bisa menerimaku? Apa seluruh hatimu telah kau serahkan pada Chanyeol? Tidak ada celah untuk aku masuki?"

Jongin menggeleng pelan. "Maaf Kris."

Kris tersenyum perih. "Aku mencintai adik tiriku tapi dia memilih bunuh diri, jantungnya menjadi milikmu. Seandainya aku bisa memilih…., aku tidak ingin jatuh cinta pada Kyungsoo." Kris menatap tajam kedua mata bulat Jongin. "Apa kau bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta Kim Jongin?" Jongin menggeleng dengan gugup. "Aku tidak ingin melakukan semua ini padamu. Tapi kau—kau memiliki sesuatu dari orang yang sangat aku cintai. Apa kau tahu bagaimana caranya untuk berhenti mencintai begitu dalam, apa kau tahu? Jika kau tahu katakan padaku Jongin. Aku menderita dengan semua ini, apa kau tidak mengerti? Sama seperti yang lain?"

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya seharusnya ia berteriak meluapkan semua rasa marah dan kekecewaannya kepada penuh penderitaan itu, air mata itu membuat Jongin tanpa sadar membawa Kris dalam pelukannya. "Maaf Kris, aku tidak bisa menyembuhkan semua lukamu." Bisik Jongin lirih.

Kris melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jongin dan menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher kanan Jongin. "Apa kau tidak membenciku setelah semua yang aku lakukan?"

"Tidak. Awalnya aku memang membencimu tapi…, aku mengerti lukamu Kris. Semua yang membuatmu merasa sakit."

"Terimakasih, sebaiknya kita kembali ke dalam di sini semakin dingin aku tidak mau kau sakit lagi."

"Aku baik-baik saja tamanmu sangat luas. Aku ingin berjalan-jalan sebentar lagi." Kris melepaskan pelukannya dari tubuh Jongin, menatap lekat wajah manis Jongin. "Kris aku bosan berada di kamar, aku mohon."

Kris tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang tulus bukan senyuman yang penuh dengan amarah, kesedihan, ataupun kesepian. "Baiklah, tapi saat kau lelah katakan padaku."

"Tentu." Ucap Jongin diriingi anggukan.

"Kau janji padaku?"

"Tentu aku berjanji padamu."

"Ayo." Ajak Kris kali ini genggaman tangan mereka terlepas dan sebagai gantinya Kris memeluk pinggang ramping Jongin.

Berjalan beriringan menyusuri jalan setapak berlapis kerikil hitam, Jongin hanya bisa terpesona dengan indahnya bunga-bunga beraneka warna, semak terpangkas rapi dalam bentuk kubus-kubus. "Apa kau tahu bunga-bunga di sini?"

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. "Hanya sebagian, ungu, kecil, dan berbau harum, itu Lavender lalu bunga matahari." Jongin menunjuk batang-batang bunga matahari dengan bunga lebar di sisi kanan mereka.

"Ini bunga apa?"

"Lavender." Melihat Kening Kris yang berkerut membuat Jongin bingung. "Sebentar." Ucapnya sambil mengamati bunga dihadapannya lekat. Ungu, runcing, mirip Lavender. "Ah bukan Lavender, tidak wangi."

"Itu Echium."

"Echium?" Ulang Jongin pada nama bunga yang terdengar asing di telinganya. Kris mengangguk pelan.

"Kita duduk di gazebo lalu aku akan memberitahukan semua bunga yang ada di taman ini padamu."

"Ide bagus."

Gazebo yang terbuat dari besi berukir, dengan bagian atas berbentuk kubah dihiasi tanaman bunga rambata tanpa bunga berada di bawah gazebo terasa dingin dan nyaman. "Supaya ini menarik bagaimana jika kau bertanya padaku?"

"Hmmmm…., baiklah aku akan mencobanya…, hmmmm aku akan berpikir." Jongin lantas mengedarkan seluruh pandangannya ke seluruh taman. "Kunig cerah dengan putik hitam?"

" Black Eye Susan."

"Semak kecil dengan bunga kuning mungil?"

"Brachycome."

Meski tak begitu yakin dengan jawaban Kris namun Jongin merasa semua ini sangat menarik setidaknya Kris bisa diajak untuk mengobrol santai, bukan Kris yang nampak mengerikan dan diktator seperti biasa. "Warna kuning?" Jongin menoleh Kris tersenyum.

"Perhatikan baik-baik warna kuning, putih, dan merah memiliki bentuk yang sama bukan?" Jongin mengangguk sementara kedua matanya masih menatap lekat bunga-bunga yang Kris tunjukkan. "Oleander, bunga-bunga itu diberi nama Oleander. Lalu Alstromeria biasanya orang-orang salah menyebut mereka sebagai Anggrek tanah, terlihat mirip bukan?" Jongin mengangguk pelan.

"Di sini menyenangkan."

"Kau menyukai taman ini?"

"Ya, di rumah di depan kedai kami ada semak Lylac."

"Lylac? Aku menyukai semak itu dengan bunga kecil berwarna ungu, ungu pudar, biru lembut, nyaris putih."

"Aku juga menyukai semak Lylac." Jongin tersenyum lebar. "Kurasa itu bunga yang berhasil tumbuh dan bertahan di kedai dan rumahku." Kris nyaris tertawa mendengar kalimat Jongin. "Ya, Ibu, Nenek, dan Minseok hyung sudah berulang kali mencoba menanam jenis bunga lain. Bahkan Ibu membeli bibit Tulip yang mahal tapi umbinya justru busuk di dalam tanah, setelah itu Ibu memutuskan untuk membenci Tulip."

"Astaga!" Kris memekik pelan kemudian tertawa dengan cukup keras.

"Apa itu lucu? Menurutku itu sama sekali tidak lucu." Jongin melempar tatapan bingung. Kris mencoba mengendalikan diri, berhenti tertawa kemudian menyeka air mata dari kedua sudut matanya.

"Bagaimana jika aku mengajari menanam bunga pada ibu dan nenekmu?"

"Kau bisa menanam bunga?!" Pekik Jongin tak percaya.

"Aku bisa, aku menanam bunga di taman ini."

"Semuanya?!"

Kris kembali tertawa oleh kepolosan Jongin. "Tidak, astaga tentu saja tidak Jongin. Aku tidak mungkin sanggup menanami seluruh taman ini seorang diri. Ada banyak orang yang mengurus taman ini tapi aku pastikan untuk mengetahui setiap detailnya."

"Kau sangat menyukai tanaman dan taman?"

Jongin mendengar hembusan napas kasar yang Kris keluarkan. "Awalnya tidak, tapi ibuku dan juga—Kyungsoo menyukai taman, tanaman, dan bunga. Aku penasaran dan mulai mencari tahu."

"Lalu kaupun akhirnya jatuh cinta."

"Benar! Kau tepat sekali. Apa kau bisa membaca pikiranku Jongin?"

Jongin tertawa pelan ia bahkan memukul lengan kanan Kris tanpa sadar. "Awalnya aku benci menari lalu Taemin setiap hari datang dan bercerita tentang tariannya, dan semua hal yang berhubungan dengan menari. Tanpa sadar aku suka dengan menari. Meskipun aku belum bisa melakukannya secara langsung tapi aku sering mengikuti Taemin pergi ke kelas tarinya dan memperhatikan Taemin menari. Mencari banyak video tari dan menontonnya. Saat itu…,"

Kris tersenyum lebar. "Teruskan."

"Saat itu aku merasa bahagia."

"Terimakasih sudah bercerita padaku Jongin." Ucapan tulus dari Kris dibalas anggukan oleh Jongin. "Sebaiknya kita kembali kau hampir melewatkan waktu sarapanmu." Kening Jongin berkerut dalam. "Pukul sembilan pagi Jongin, tidak ada bantahan kau tidak boleh melewatkan jadwal makanmu."

"Baiklah…," gerutu Jongin yang ditanggapi dengan tawa pelan oleh Kris.

.

.

.

"Tuan Luhan menunggu Anda, Tuan SeokJin."

"Terimakasih Paman." SeokJin melangkah mengikuti kepala pelayan dengan mimik muka tegas hasil latihan bertahun-tahun. Berjas penguin rapi, rambut putih disisir rapi ke belakang, sepatu mengkilap, semuanya tampak sangat teratur. Begitupun semua perabot di dalam rumah besar yang kini SeokJin masuki. Keteraturan yang nyaris membuat mual.

"SeokJin."

"Hai Luhan."

"Ayo. Paman kau boleh meninggalkan kami berdua." Sang kepala pelayan membungkuk hormat kemudian melangkah pergi. "Ayo SeokJin."

"Kemana?"

"Ruang keluarga."

SeokJin menggeleng pelan. "Tempat seperti itu membuatku pusing." Ucapnya lantas menari bungkus rokok dari saku depan celana jins hitam dengan robekan di kedua lututnya.

"Dilarang merokok SeokJin." Ucap Luhan.

SeokJin hanya tersenyum miring namun tetap menyulut rokoknya. "Setidaknya akan ada aroma selain pembersih lantai dan pengharum ruangan. Katakan rencanamu tentang pembebasan Kim Jongin."

"Apa Chanyeol memaksamu?"

"Tidak, aku hanya tidak punya banyak waktu untuk bermain-main. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan Luhan." SeokJin menatap tajam Luhan. "Kau bersikap terlalu lunak pada Kris."

"Kris bisa berbahaya."

SeokJin tersenyum miring untuk kedua kalinya. Mengapit batang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah. "Tidak. Kau terlalu lunak pada Kris. Dia sahabatmu wajar membawa perasaan pribadi. Aku pernah melakukan misi yang lebih berbahaya dari pembebasan Kim Jongin, Tuan Luhan."

Luhan terdiam untuk beberapa detik kemudian menarik napas dalam. "Ya. Aku akui, aku terlalu lunak pada Kris."

"Jadi keputusanmu apa?"

"Lakukan saja apa yang menurutmu terbaik untuk membebaskan Jongin."

SeokJin menjatuhkan batang rokoknya yang masih menyala ke atas lantai marmer hitam mahal kediaman Luhan. Menginjak batang menyala itu dengan sneaker putih lusuhnya. "Kurasa Kris harus masuk rehabilitasi."

"SeokJin!" Pekik Luhan.

"Percayalah itu demi kebaikan Kris, Luhan. Rasa cintanya kepada Kyungsoo sudah berubah menjadi obsesi jangan sampai dia melakukan tindakan yang lebih mengerikan setelah kejadian penculikan ini." Luhan tak menjawab. "Aku tahu kau sangat menyayangi Kris bahkan melebihi saudara kandungmu sendiri, percayalah rehabilitasi adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi masalah Kris. Atau kau mau Kris masuk penjara?"

"Aku bisa membebaskan Kris dalam hitungan jam."

"Hentikan keras kepalamu itu!" Teriak SeokJin. "Melindungi Kris dengan cara salah berarti kau sudah mendukung setiap tindakan kriminal Kris, Luhan."

Luhan mendesis pelan sambil memijit batang hidungnya. "Aku belum bisa memikirkannya SeokJin."

"Pikirkan dengan cepat Luhan." Ucap SeokJin sebelum memutar tubuhnya dan melangkah berniat pergi.

"Kapan rencanamu kau jalankan?"

"Rahasia."

"Kau tidak percaya padaku?"

"Untuk masalah Kris aku belum bisa mempercayaimu Luhan, maaf."

"Baiklah—aku mengerti dan SeokJin kau tidak menyentuh rekening yang aku berikan padamu."

"Suap saja penegak hukum yang lain Luhan bukan aku. Aku tidak ingin ikut campur dengan bisnismu, karena ayah kita bersahabat. Itu saja."

"Terserahlah. Kau akan menemui Chanyeol sekarang?"

"Tidak, aku akan menyelesaikan beberapa urusanku yang tertunda. Sampai jumpa Luhan."

"Sampai jumpa SeokJin. Tolong jangan menyakiti Kris." SeokJin hanya mengangguk kemudian melangkah cepat keluar dari rumah mewah Luhan.

TBC

Terimakasih untuk seluruh pembaca, ini mungkin update terakhir sebelum bulan puasa. Sampai jumpa setelah Hari Raya. Terimakasih review kalian Oh Kins, 21hana, andiasli99, Ovieee, cute, Guest, Guest, raehwakim, Lelakimkaaaaaa, Kim762, YooKey1314, victli9ht, hunexohan, vivikim406, KaiNieris, Kim Jongin Kai, jjong86, ohkim9488, Home fairy floss, jongiebottom, Park Rinhyun Uchiha, geash, firstkai94.