Disclaimer : Persona, SMT © ATLUS.
WARNING!
OOC's, Typo(s),Persona AU. Semua berlatar belakang Indonesia (karakter, tempat, etc.), adanya perkataan kasar dan kotor, Keterbatasan bahasa, pengunaan kalimat yang terkesan berulang, abal, dan masih banyak lagi kecacatan yang berbentuk ketidak-sempurnaan yang saya lakukan sebagai Author.
.
.
— PERSONA : Ethereal Innocence—
— Chapter VIII : Tragedy—
.
.
Gak suka?
.
Gak usah baca.
.
.
Tuesday, August 3
Early Morning
Pagi ini terlihat berbeda, terlihat sunyi dan menyedihkan. Dia tidak tahu kenapa, dia bahkan bertanya ke Annisa, gadis itu pun tampak tidak tahu. Dia melihat kearah tempat duduk guru, Pak Aris tampaknya terlambat hari ini. Entah mengapa dia merasakan sesuatu akan terjadi, dan terlihat buruk. Tak lama, Pak Aris tiba dikelasnya, wajah bersemangat yang selalu dia tunjukkan dikelas, kini menjadi sangat serius.
"Semuanya, masukkan hp kalian," katanya. Membuat seluruh siswa-siswi berbisik satu sama lain, Fadil hanya menatap sekitarnya bingung, tak lama terdengar suara pak Ali dari sepiker sekolah.
"Selamat pagi," katanya. "Pagi ini, bapak mendapatkan sebuah berita menyedihkan. Telah meninggalnya saudara kita, siswi SMK Karman Amat bernama Dwi Murgina Sastra Putri,"
Mata Fadil terbelalak, dia ingat nama itu. Dwi Murgina—dia sahabat dari Annisa. Dia melihat kearah Annisa, gadis itu terbelalak kaget, air matanya tidak berhenti jatuh diwajahnya.
"T-Tidak mungkin.. Ini… ini tidak mungkin.." gumam gadis itu pelan, tidak percaya apa yang dia dengar.
"Bapak juga tahu, kalian semua kaget mendengar berita ini, bapak sendiri juga tidak menyangka. Sebab itu, bapak ingin kita semua berdoa untuk almarhuma Dwi Murgina, semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya. Berdoa, Mulai."
Selama berdoa, pemuda itu diam, sambil sesekali melirik sekelilingnya. Matanya terpaku melihat Ridwan saat ini. Dia terlihat berbeda, wajahnya sangat pucat, ekspresinya saat ini tampak seperti orang yang ketakutan setengah mati.
Ridwan, apa kamu benar-benar...
Lunch
Fadil menatap Eli dan Annisa dari jauh. Gadis berambut blonde itu memeluk Annisa yang kini sedang menangis, sementara itu Fadil bersama Geral berada di lapangan voli yang berada tepat didepan kantin sekolahnya.
"Sial. Aku tidak menyangka Dwi akan meninggal, seharusnya kita bisa menghentikan semua ini sebelum dia menjadi korban!" ucap Geral sambil berdecak kesal.
"…Percuma kita marah, gadis itu telah meninggal," kata Fadil datar.
"Aku tahu itu.." Geral terdiam sejenak, "Hanya saja.. Tch! Kenapa jadinya seperti ini?!"
Fadil diam, tidak menjawabnya. Dia menatap kearah Annisa dan Eli lagi sebelum akhirnya pandangan terpaling ke arah Ridwan yang berjalan dengan lesu. Seketika, dapat dia lihat seluruh murid melihat kearahnya, tatapan jijik dan marah bercampur jadi satu saat melihat Ridwan berjalan masuk ke kantin.
"Sepertinya Rumor yang beredar sudah membuat mereka berfikir dirinya bersalah.. " Geral berkata sambil menatap kearah Ridwan dengan wajah sedikit iba, "…Huh.. Entah mengapa aku sedikit kasihan sama tuh bocah.."
"…Geral, " kata Fadil. "Katakanlah, dia sebenarnya juga korban—"
"T-Tunggu! Apa maksudmu dia itu korban?" pemuda itu memotong perkataannya, membuat Fadil menghela nafas. " Ini hanya kemungkinan, Geral. Aku tidak bilang bahwa Ridwan PASTI korban. Oke? Tolong biarkan aku menyelesaikan perkataanku.."
"E-Eh? Ahaha... Maaf.." kata Geral, mengaruk pipinya perlahan. Fadil menghela nafas menatapnya, tak lama Geral kembali berkata, "Tapi.. Jika benar dia korban, maka.. Aku ingin membantunya.. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.."
Fadil terdiam, dia menatap kembali kearah Ridwan. Entah mengapa dia merasa Ridwan berbeda, dia memang tidak terlalu sering melihatnya, namun dia yakin pemuda itu terlihat berbeda. Sangat berbeda.
" Ngomong-ngomong, Fadil.." perkataan Geral membuat pemuda itu berhenti dari pemikirannya.
Fadil menoleh, "Ada apa?"
"Itu.. ngapain kamu bawa tas mu?" ucap Geral sambil menunjuk kearah tas ransel yang dibawa pemuda itu.
Sebelum dia sempat menjawab perkataan Geral, Natt langsung berkata dari dalam tas pemuda itu. "He? Itu Geral? Haloo! Natt disini!"
Geral terkejut mendengar suara boneka itu, dia kemudian menatap kearah Fadil, "Seriusan kamu bawa boneka itu kemari? Ke sekolah?"
Fadil menghela nafas, "Dia yang merengek minta ikut.. Aku sih sebenarnya tidak mau membawanya."
"Yang sabar ya.."
Fadil hanya diam, tidak menjawab perkataan pemuda itu. Tak lama bel masuk berbunyi, Keduanya kini berjalan kembali ke kelas mereka masing-masing.
After School
Fadil berjalan keluar dari kelasnya, saat berjalan turun ke lantai bawah, dapat dia lihat seorang siswi berambut hitam yang digerai panjang, mengenakan seragam dan Rompi hitam, Kaos kaki putih, Low-top boots hitam.
Gadis itu tampak tidak nyaman saat berbicara dengan siswa didepannya.
"Jadi bagaimana? Kamu mau ikut denganku?" siswa itu bertanya,
"Sudah kubilang, aku tidak berniat ikut denganmu. Aku bahkan tidak mengenal siapa kamu.. Jadi maaf." saat dia ingin meninggalkan siswa itu sendiri, siswi itu langsung memegang tangannya,
"Heeeh? Jangan begitu dong, masa ditinggalin sih?" ucapnya sambil menyeringai, membuat gadis itu semakin ketakutan.
"T-Tolong lepaskan.."
"Lepaskan gak ya? Gak ah..."
Tampak gadis itu semakin tidak nyaman, wajahnya semakin ketakutan saat siswa itu tidak ingin melepaskan tangannya. Fadil hanya menyaksikan dari atas tangga, diam. Tak lama terdengar suara Natt dari dalam tasnya,
"Um, Fadil? Bukannya sebaiknya kamu membantunya?" pertanyaan Natt membuat Fadil kini bertanya balik padanya, "…Kamu ingin aku membantunya?"
"Um, Ya! Natt tidak bisa melihat dari dalam tas ini, t-tapi Natt yakin dia butuh pertolongan!" ucap Natt dengan nada cukup serius. Pemuda itu terdiam sejenak, menatap kembali kearah gadis itu. Dia menghela nafas, Fadil yang dari tadi menyaksikan kini berjalan turun kebawah, mengambil ponselnya dan memencet ikon kamera.
Cekrek!
Sebuah suara terdengar dari ponsel pemuda itu, keduanya menatap kearah Fadil, terkejut.
"Woy, ngapain lu disini?!"
Fadil menatapnya datar, "Oh, maaf kak. Aku cuma disuruh pak guru nih fotoin siswa yang mau ngelakuin tidakan tidak baik di sekolah." ucapnya sambil memperlihatkan gambar yang baru saja dia ambil, membuat siswa itu terkejut.
"KAU—!" Dia berjalan mendekatinya, bersiap untuk menghajar pemuda itu namun berhenti seketika saat melihat seseorang dibelakangnya, dia terdiam dan tampak ketakutan. Dia berdecak kesal, langsung berjalan meninggalkan mereka berdua disana.
Dia tampak tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun dia tampak lega karena masalah ini sudah selesai. Pemuda itu menoleh kearah gadis didepannya, ia tampak melihat lurus kedepan sebelum akhirnya menatap pemuda itu dengan tatapan terkejut. Dia dapat melihat tatapan gadis itu terlihat tidak nyaman dengan keharinya, namun tetap memberanikan diri untuk mengatakan kata, "Terima kasih" dari mulutnya. Dia hanya mengangguk dan akhirnya memilih pergi meninggalkannya, tidak ingin membuat gadis itu semakin tidak nyaman.
Evening
Makan malam hari ini tampak sangat suram. Tidak ada yang berbicara ataupun mengobrol seperti biasanya, membuat Chris menjadi canggung sendiri. Dia tidak bisa menyalakan pria itu, dia juga sangat sedih saat mendengar kematian Dwi Murgina di televisi tadi pagi, setelah mereka berangkat.
Dia menghela nafas, "Annisa," gadis itu melihat kearahnya, "Bapak mungkin tidak mengenal temanmu itu, tapi bapak yakin dia tidak ingin melihatmu bersedih terus seperti ini.."
"Pak Chris.. " Annisa menunduk, " Maaf."
Chris menghela nafas, mengusap kepala gadis itu pelan. Sementara itu, Fadil hanya diam melihat Annisa. Gadis itu sepertinya sudah sedikit membaik, bahkan sekarang dirinya tampak tersenyum kecil kearah mereka.
Perlahan dia menatap makanannya, dia kembali berfikir, apa kematian Dwi ada hubungannya dengan mansion di Mnemonic? Apa Ridwan yang telah melakukan semua itu? Tapi, jika benar Ridwan bersalah, kenapa dia merasa tidak nyaman? Dia merasa ada yang menganjal. Tapi dirinya tidak tahu, dia tidak yakin.
Sebenarnya apa yang terjadi—
"Fadil?" pemuda itu terkejut, dia menoleh, menatap kearah Keempat orang yang kini menatapnya khawatir.
"Kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu bengong terus.." tanya Eli, khawatir.
Fadil mengelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja, hanya memikirkan pelajaran disekolah.." jawabnya—bohong.
"Oh.."
"Ada apa?" ucap Fadil, menganti topik pembicaraan.
"Ah, begini.." kata Eli dengan nada gugup, "Aku tidak bermaksud ikut campur. Hanya saja, kamu belum pernah memberitahu kami kenapa kamu bisa jatuh pingsan? "
Mereka semua menatap pemuda itu dengan penuh rasa ingin tahu. Ini tidak baik. Fadil melirik Geral sejenak, pemuda itu juga tidak tahu harus apa. Dia terdiam sejenak, dia sebenarnya tidak ingin berbohong kepada mereka bertiga, tapi—dia punya pilihan lain, pemuda itu tidak bisa memberi tahu mereka kalau dirinya pingsan karena habis melawan Shadow.
"Fadil?" Chris menatapnya khawatir,
"Anemia."
Ketiganya terkejut, perlahan dia menceritakan kepada mereka kisah yang tiba-tiba saja muncul didalam pikirannya:
"Aku menderita anemia," katanya. "Aku bekerja terlalu keras seminggu sebelum aku meninggalkan palembang dan tidak makan dengan benar. Bahkan saat sampai disini aku harus membereskan kamarku," Fadil mengangkat bahu. "Aku terlalu memaksakan diriku, tidak makan dengan benar, dan tidak tahu aku kekurangan zat besi.."
"Heh? kenapa kamu tidak mengatakan itu sebelumnya!?" Annisa bertanya. "Terus kenapa Geral bisa menemukan mu pingsan diluar?"
"Ah, itu.." dia melihat kearah Geral, "Malam itu aku tidak sengaja melihat Geral keluar dari rumah, dia bilang ingin lari sekitar kompleks malam itu. Jadi aku ikut bersamanya, tanpa sadar ditengah jalan aku jatuh pingsan."
Ketiganya kini menatap kearah Geral, pemuda itu menatap keduanya dengan tatapan terkejut sebelum akhirnya menghela nafas, "Man, kenapa kamu harus menjelaskan se detail itu sih.." dia mengaruk kepalanya, pemuda itu mengerti dengan skenario yang dia buat. " Ya, malam itu dia ikut bersamaku. Aku sebenarnya tidak yakin, tapi dia kelihatannya baik-baik saja. Jadi aku memperbolehkannya dan tiba-tiba saja dia jatuh begitu saja saat di tengah jalan.."
"Begitu rupanya, aku tidak menyadari bahwa kamu punya anemia. Maaf." ucap Chris sedih,
Fadil menggelengkan kepalanya, "Tidak apa. Ini juga salahku, aku tidak sempat bilang soal ini, maaf."
Chris tersenyum kecil kearahnya dan mengangguk, sementara Eli tampak lebih lega mendengar penjelasannya. Tampaknya keduanya menerima penjelasan —Annisa, dia tampak berbeda, gadis itu menatapnya serius, dan memiliki kerutan kecil di dahinya. Fadil masih belum lama mengenalnya, tetapi dia tahu satu hal:
Dia tidak mempercayainya.
Setelah makan malam, Fadil langsung kembali kedalam kamarnya. Pemuda itu mengerjakan tugas sekolahnya. Sulit baginya mengalihkan pikirannya dari kejadian yang dia alami hari ini, dan dia merasa dirinya tidak akan mendapatkan nilai yang baik.
Dia menghela nafas, pemuda itu menutup bukunya. Matanya kini menatap kearah jendela disebelah meja belajarnya, menatap bulan sabit yang tertutup awan malam.
"Fadil tidak tidur?"
Fadil menoleh, mendapati Natt yang melihatnya dari dalam tas ransel yang terbuka lebar.
"Ya, banyak tugas yang harus ku kerjakan.."
—Dan masalah yang harus kupikirkan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuat Natt masuk kembali kedalam tasnya. Sementara Fadil berjalan membuka pintu, disana berdiri seorang pemuda berambut merah gelap—Geral.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara denganmu dan Natt, ini mengenai kejadian tadi pagi.." ucapnya, wajahnya terlihat serius.
Fadil terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, membiarkan pemuda itu masuk kedalam kamarnya.
Didalam, Geral duduk di kursi belajar Fadil dan langsung berkata, "So, aku coba mencari tahu tentang kematian Dwi Murgina dan siswi setahun lalu dan aku mendapati ada sebuah kesamaan,"
"Kesamaan?"
Geral mengangguk, "Ya, beberapa hari sebelum ditemukan bunuh diri, keduanya bertingkah aneh. Kepribadian mereka berubah, wajahnya terlihat pucat dan terlihat seperti tidak bernyawa."
Fadil terdiam mendengar penjelasan Geral, dia tampak setuju dengan perkataannya. Dia bisa melihat Dwi Murgina memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang dibilang Geral.
"Ada lagi?"
Geral tampak diam sejenak, dia menunjukkan sebuah video di ponselnya. Fadil bingung, dia melihat video itu dan terkejut. Itu adalahlah video Dwi yang mati ganting diri di sebuah jembatan. Fadil melihat kearahnya, "Video ini keluar satu hari sebelum Dwi murgina ditemukan meninggal," dia memasukkan kembali ponselnya, "…Dan sebelum video itu muncul ada video yang muncul beberapa hari sebelumnya, sebuah Video animasi siluet."
"Video… animasi?" Natt menatapnya bingung,
Geral menganguk, "Ya, dan di akhir video itu.. Ada sebuah tulisan; August 2—"
"Tunggu, itu hari kematian Dwi Murgina bukan?" Fadil langsung menyambarnya, memotong perkataannya. Geral mengangguk, "Benar. Itu hari dia ditemukan meninggal."
Fadil terkejut mendengar perkataannya.
" Dan yang lebih membingungan lagi, aku sempat memperlihatkan video ini ke teman-teman sekelasku, dan mereka bilang hanya melihat gambar statik di dalam video.. Tidak ada animasi itu." lanjutnya.
"Hmm.. Jadi yang bisa melihatnya hanya Natt, Fadil dan Geral? Apa mungkin karena Fadil dan juga Geral pernah pergi ke Mnemonic?" tanya Natt,
"Well.. Probably.." Geral menatap kearah jam, "Ah, Lebih baik aku kembali ke kamar, besok pagi kita bicara lagi.." pemuda itu berjalan membuka pintu dan menoleh kearah Fadil, "Jangan lupa, hari sabtu setelah makan siang. Siap Leader?"
Fadil menghela nafas, "Ya."
Geral menutup pintu kamar Fadil, dan pergi kembali kekamarnya. Tanpa sadar ada seseorang yang mendengar pembicaraan kecil mereka.
