Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Don't Like Don't Read
But Read and Review XD
.
.
.
Chapter 8
Sudah berjam-jam wanita itu duduk terisak didalam bath up, menangis sesenggukan dibawah guyuran air shower dalam kamar mandi. Meski air shower tak dimatikan selama berjam-jam, air tak naik sedikitpun sampai batas permukaan bath up, tak menenggelamkan tubuh wanita cantik itu karena sebelumnya ia telah membuka penutup saluran pembuangan.
Dengan memeluk kedua lututnya, menundukkan kepala dengan rambut indigo yang menutupi wajah ayunya, kulitnya telah berubah putih pucat karena lamanya ia ditempat itu. Walau tak terlihat, bisa diyakini mata indah itu sudah memerah karena telah menangis berjam-jam lamanya.
Flashback
1 bulan yang lalu.
5.30 a.m
Naruto mengusap kasar wajahnya, baru saja ia bangun tidur, duduk di atas tempat tidur miliknya memikirkan satu hal yang sejak awal menjadi masalahnya.
"Cara apa lagi yang harus ku lakukan" ucapnya pada diri sendiri
Sering kali ia tak bisa tidur hanya karena memikirkan hal itu, memikirkan cara agar Hinata mau menandatangani surat perceraian mereka. Ia kira, saat Hinata tahu tentang kehamilan Shion tiga hari yang lalu, wanita itu akan mau untuk menandatangani surat perceraian yang sudah lama Naruto buat. Tapi, entah karena wanita itu terlalu mencintainya atau karena hal lain, Hinata sama sekali tak berniat melakukannya.
"Hah~"
Helaan nafas berat terdengar darinya ketika kembali memikirkan masalahnya. Ia mengambil foto yang terletak di nakas samping tempat tidur, menatap wajah wanita cantik dalam foto itu.
"Tenang saja Shion, aku akan menepati janjiku. Kita akan hidup bahagia bersama anak kita" ucapnya tersenyum sambil mengelus wajah Shion difoto itu.
7.10 a.m
Hinata sedang menyiapkan sarapan untuk Naruto dan dirinya. Baru saja ia akan duduk, sebuah kertas coklat mendahuluinya, dilemparkan diatas meja makan. Hinata menatap Naruto si pelaku.
"Tanda tangani!" Suruh Naruto
"A-aku tidak mau" kata Hinata
"Aku tidak peduli kau mau atau tidak, kau hanya harus" kata Naruto
"Tidak" balas Hinata
"Apa yang membuatmu bertahan wanita bodoh!" Bentak Naruto
"A-aku mencintaimu Naruto-kun" jawab Hinata
"Akh... Masa bodoh dengan perasaan cintamu itu, sekarang tanda tangani surat ini, sekarang juga!" Paksa Naruto
"Aku tak akan melakukannya" kata Hinata
"Apa kau tak mengerti? Shion telah hamil, Hyuuga!" Bentak Naruto
"Maafkan aku" ucap Hinata
Naruto menghempaskan semua makanan yang telah tersaji diatas meja makan "aarrrgghh!"
Prang
Prang
Prang
"Aku tak butuh maafmu, aku hanya butuh tanda tanganmu bodoh!" Naruto mulai terlihat tak terkendali
Hinata menutup mulutnya tak percaya dengan tindakan Naruto, ia menatap Naruto yang terlihat begitu kesal.
"A-aku tak mau melakukannya" kata Hinata lalu berlari menjauh dari meja makan
Naruto mengejar Hinata yang berlari keluar dapur "hey! Berhenti disitu Hyuuga!" Teriaknya pada Hinata
"Berhenti kataku!" Teriaknya sekali lagi
Hinata tak mendengarkan teriakan Naruto, ia berlari sekuat tenaga menaiki tangga menuju lantai atas, berdoa agar Naruto tak menangkapnya atau lebih buruk tersandung jatuh.
Sedikit lagi Naruto menggapai Hinata, tapi seperkian detik terlambat karena Hinata telah masuk kekamarnya dan menguncinya dari dalam.
Tok tok tok
"Buka pintunya!" Teriak Naruto
Tok tok tok
"Hyuuga! Buka sekarang juga!" Teriaknya
Hinata berdiri bersandar dipintu kamarnya, menunggu sampai Naruto pergi dari situ.
'Gomennasai Naruto-kun, gomennasai' batin Hinata.
..
Keesokan harinya.
Semalam Naruto tak pulang lagi kerumah dan Hinata harus sendiri lagi. Pagi ini ia harus sarapan sendiri lagi.
9.45 a.m
Ceklek
Naruto pulang kerumahnya pagi ini, semalam ia di apartemen Shion. Beberapa hari ini ia jarang ke kantor karena Shion benar-benar membutuhkannya.
Naruto berjalan melewati ruang tamu, melewati kamar miliknya, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, membawa amplop berwarna coklat yang sekarang lebih sering ia bawa, hanya satu tujuannya pulang saat ini.
Hinata sedang dikamarnya, baru saja ia akan membuka pintu hendak keluar, seseorang dari luar sudah membukanya lebih dulu.
"Naruto-kun?"
Naruto menarik lengan Hinata dengan kasar, menariknya menuju meja dekat sofa dalam kamar Hinata.
"Tanda tangani sekarang!" Perintah Naruto setelah mengeluarkan surat cerai dari dalam amplop tadi dan menaruhnya diatas meja
Hinata menggeleng sebagai jawaban.
"Ck, kau keras kepala" kata Naruto lalu memaksa tangan Hinata untuk memegang sebuah pulpen
"Cepat lakukan!" Perintah Naruto lagi
Hinata menatap Naruto dan menggeleng lagi sebagai jawaban.
Plakk
Naruto yang geram menampar keras wajah Hinata, walau tak berdarah tapi warna merah bekas tamparan begitu kontras dengan kulit putih Hinata.
"Kenapa kau tidak bisa mengerti Hyuuga!" Bentak Naruto
"Apa kau begitu mencintaiku? Harusnya kau tahu aku tak percaya dengan cinta orang lain selain cinta Shion padaku" jelas Naruto
"Sekarang kau hanya perlu mencoret surat itu dengan sebuah tanda tangan milikmu" jelas Naruto kesal
Hinata diam, walau tamparan yang Naruto layangkan terasa sangat sakit, tidak sebanding dengan Naruto yang tidak menganggap serius tentang perasaannya.
"Cepat lakukan jalang!" Teriak Naruto sekali lagi
Hinata menggerakkan badannya, mendekatkan dirinya ke meja, mengambil surat itu lalu..
Srraak
Srraak
..merobek kertas itu dengan kasar.
Naruto membulatkan mata melihat apa yang dilakukan Hinata.
"Apa yang kau-"
Naruto marah, ia murka, berani-beraninya Hinata merobek dengan kasar surat yang sudah membuat ia stress dengan mudahnya.
Naruto menarik kasar lengan Hinata, menbuat Hinata menjerit kesakitan. Naruto menyeret Hinata lalu menghempaskannya ke tempat tidur dalam kamar itu.
"Kau membuatku marah Hyuuga" ucap Naruto berdiri dihadapan Hinata
"Kau benar-benar seorang jalang rupanya" kembali Naruto berucap sambil melonggarkan dasi miliknya lalu membuka dan membuangnya asal
"A-apa yang akan kau lakukan Naruto-kun?" Tanya Hinata mulai takut
"Kau tahu, selama usia kehamilan Shion semakin bertambah, aku tak pernah lagi melakukan hubungan sex dengannya" jelas Naruto begitu frontal sambil membuka kemeja kerjanya
"Menahan nafsu seorang laki-laki untuk tak melakukan sex sangat berat sayang" ucapnya menyeringai
Hinata yang mengerti maksud Naruto bermaksud lari. Namun terlambat, Naruto telah menindihnya lebih dulu.
"Kau mau kemana hmm?" Tanya Naruto dengan suara yang dia buat serak
"L-lepaskan aku Naruto-kun, jangan lakukan ini" ucap Hinata meronta
"Melepaskanmu? Itu tidak mungkin" kata Naruto
"Ku-kumohon Naruto-kun.." Mohon Hinata
"Tidak, ini hukumanmu karena yang tadi" kata Naruto lalu mulai mencium paksa Hinata, menyentuh, meraba semua lekuk tubuh dan bagian sensitif Hinata.
Dan, Naruto menghabiskan waktu bersama Hinata, melepaskan sex tertahannya selama ini.
Flashback off
Masih menangis, suara tangis Hinata terdengar begitu pilu. Ia lupa, ia pasti lupa. Sebulan lalu, ia melupakan hal penting. Hal penting yang harus ia lakukan setelah berhubungan badan dengan suaminya- Naruto.
Apa yang terjadi sekarang ini adalah kesalahannya. Ia lupa meminum obat pencegah kehamilan.
Hinata mengangkat kepalanya, menatap benda putih digenggaman jari tangan kanannya.
Ia positif hamil.
Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Apa sekarang waktunya untuk ia berhenti? Mungkin ia sudah sampai dibatas untuk bertahan terhadap Naruto, dibatas mempertahankan cintanya pada Naruto. Mungkin Tuhan telah memberi jawaban padanya selama ini, jawaban sampai kapan ia harus menunggu Naruto agar membuka hati padanya. Dan jawabannya adalah, ia harus menyerah terhadap Naruto, berhenti untuk menunggu bahkan berhenti untuk mencintai pria itu.
"Bahkan aku tak mendapat setitik pun cinta darinya..hiks" ucap Hinata menangis
"Selama aku bersabar, menunggu, jawabannya adalah aku tak akan pernah bisa mendapatkan pria itu..hiks"
Ia harus mengambil keputusan.
Jika Naruto tahu akan hal ini, ia akan dengan senang hati untuk membunuh anak yang Hinata kandung. Apalagi mengingat Shion telah lebih dulu memberi Naruto calon penerus. Hinata tak akan bisa lagi bertahan, jika harus bertahan terhadap Naruto, ia yang harus membunuh anak ini dan itu sesuatu yang tak mungkin ia lakukan. Hinata juga tak akan membiarkan Naruto membunuh anaknya yang bahkan belum berumur sebulan.
"Setidaknya, kau adalah cinta yang kaasan dapatkan dari tousanmu" ucap Hinata mengelus perut ratanya
"Dan ibu akan selalu menjaga cinta itu" ucapnya lagi dengan senyum yang kini menggantikan tangisnya
Ia telah mengambil keputusan.
..
Keesokan harinya.
Naruto baru saja bangun, ia sekarang berada di apartemen Shion. Duduk diatas tempat tidur, menatap ke samping tak menemukan siapa-siapa.
'Pasti Shion didapur' pikirnya
Sudah hampir memasuki bulan ke kesembilan, dan ia belum bisa membuat Hinata menandatangani surat perceraian itu, bahkan sebulan lalu Hinata merobek surat perceraian itu dengan mudahnya. Dan ia kembali harus membuatnya ulang.
"Mungkin aku memang harus melakukan cara itu" ucapnya pada diri sendiri
Semalaman ia telah memikirkan satu cara yang mungkin berhasil. Mungkin ia benar-benar harus mencobanya.
"Sudah kuputuskan" ucapnya lagi
..
1.35 p.m
Kembali hari ini Naruto tak berangkat kerja, ia pulang kerumah setelah pamit pada Shion.
Dengan membawa amplop coklat yang berbeda dari sebelumnya, ia memasuki rumah miliknya, melangkahkan kedua kakinya kedepan, melewati ruang tamu, bahkan melewati kamar miliknya. Memasuki lebih dalam rumah besar tersebut, sampai di tempat tujuannya, dapur.
"Itu dia" ucapnya
Naruto mengambil sebuah pisau, mengangkatnya hingga sejajar dengan wajah tampannya, mengelus sisi tajam pisau dengan jari telunjuknya dari ujung ke ujung.
"Mungkin cara ini akan berhasil" ucapnya lalu berjalan keluar dari dapur dan menyembunyikan pisau itu dibalik punggungnya
Naruto berfikir cara ini mungkin berhasil. Ia bukan mau membunuh Hinata, hanya mengancam membunuhnya agar mau menandatangani surat itu. Tapi jika dengan memberi sayatan kecil pada wanita itu bisa membuatnya mau melakukan permintaan Naruto, dengan senang hati ia akan melakukannya.
Naruto berjalan keluar dari dapur menuju tangga, tujuannya sekarang kamar wanita itu.
'Mungkin aku harus mengetuk dulu, setidaknya bersikap manis sebelum memberinya kepahitan' batinnya
Tok tok tok
Tak ada jawaban. Tak ada pergerakan.
Sekali lagi.
Tok tok tok
Masih tidak ada jawaban.
"Baiklah, biar kubuka sendiri" ucap Naruto
Ceklek
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa, kamar Hinata kosong.
Naruto melangkah masuk dan memperhatikan sekitar. Rapi, seperti biasa. Hanya tak ada siapa-siapa dikamar itu. Naruto berjalan menuju kamar mandi, memutar knop pintu.
"Tidak dikunci" ucapnya
Hinata juga tak ada dalam kamar mandi.
"Mungkin ditaman belakang, dia suka kesana"
Naruto keluar dari kamar Hinata, menuruni tangga lalu berlari menuju taman belakang rumah mereka. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman, dan lagi-lagi wanita itu tidak ada.
Naruto kembali masuk kedalam rumah dan memeriksa satu persatu ruangan dalam rumah tersebut. Dan hasilnya pun sama, ia tak menemukan Hinata dimana-dimana.
"Ck, dimana dia?" Ucapnya bertanya
"Jika dia keluar, tidak biasanya dia tak memberitahu aku lebih dulu"
Naruto mengambil ponselnya disaku celana, mencari kontak Hinata lalu menghubunginya.
"Ck, tidak aktif" ucapnya kesal
"Aneh, dia tak ada dirumah, tak mengatakan apa-apa padaku, dan sekarang dia tidak bisa dihubungi"
"Hah~ wanita itu" ucap Naruto mengeluh
Naruto berjalan masuk kedalam kamar miliknya, dan menemukan objek asing diatas tempat tidur miliknya.
Ia berjalan mendekat, mengambil sebuah amplop coklat yang sama dengan yang ia bawa. Perlahan-lahan membuka dan mengeluarkan isinya.
"Ini?"
Naruto menatap tak percaya dengan apa yang ia pegang sekarang, sebuah kertas putih panjang dengan tulisan komputer dengan tinta hitam.
Naruto membaca tulisan dikertas itu dari atas hingga bawah. Hingga menemukan nama seseorang yang sejak tadi ia cari dengan tanda tangan dibawahnya.
"Dia yang membuatnya?" Tanyanya tak percaya
Kertas yang sama dengan yang ada pada Naruto, bedanya dikertas itu tertera bahwa Hinata yang menggugat cerai Naruto.
Entah ekspresi apa yang harus Naruto keluarkan sekarang, yang jelas ia sangat bahagia. Akhirnya apa yang ia inginkan selama pernikahannya dengan Hinata tercapai, ini seperti mendapatkan sebuah keajaiban. Bingung memang, kenapa akhirnya Hinata mau melakukan ini. Tapi, asal semua ini bukan mimpi, Naruto tak peduli dengan alasan wanita itu.
"Semuanya sudah selesai, semuanya akan baik-baik saja" ucap Naruto merasa lega
Ia sangat bahagia, hingga ia tak bisa berhenti untuk tersenyum.
"Hanya satu hal lagi" tambahnya
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
.
Jadi, pengen NaruHina happy ending gk nih?
Maaf atas segala kekurangan,
Bagi yg masih bersabar menunggu, terima kasih.
Makasih buat yg udah read, review, fav dan follow.
Mell desu~
