Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto.

Warning : Smut... a lot of smut

Suami Penganti

.

Chapter 8

.

Kebakaran Jenggot.

.

.

Bulan purnama bersinar indah malam itu. Wangi manis bunga bermekaran menguar di udara yang cukup hangat bagi Itachi. Pria itu duduk santai di patio yang berada di tengah-tengah kebunnya sendirian, hanya ditemani sebotol port wine dan sekotak coklat. Jangan tanyakan ke mana sang istri karena ia enggan memikirkannya. Padahal malam begitu sempurna. Bahkan bunga wisteria ungu juga sedang bermekaran dan menjuntai di atas kepalanya. Ia mengisi gelasnya dengan wine yang diimpor langsung dari Portugal. Warna merah gelap cairan itu mengingatkan Itachi pada bibir istrinya. Ia menyesap dan menikmati rasa manis yang ditinggalkan wine itu di lidahnya.

Ia duduk menyilangkan kakinya. Menatap langit malam sambil memutar-mutar gelas di tangannya. Dia tak bisa menghentikan Ino dan rencana balas dendamnya karena itu adalah ide dari dirinya sendiri, tetapi dia tak menyangka Ino menaikkan level permainan ini ke arah yang Itachi tak pernah duga. Dia curiga sang istri masih menaruh rasa pada mantannya, tetapi ia tak bisa banyak berkomentar. Dia suami Ino hanya sebatas status, soal perasaan masih tak ada kejelasan.

Wanita pirang itu bukan kekasihnya atau pun pacarnya. Dia menyukainya tapi ia sadar meski Ino adalah istrinya, ia tak memilikinya. Senyum kecil tersungging di bibirnya membayangkan kemarahan Ino bila ia bersikap posesif. Dia akan menuduh dirinya sebagai babi chauvinist yang menganggap wanita sebagai objek untuk dimiliki. Mungkin wanita itu juga akan merajamnya dengan kata-kata pedas lainnya. Kesetiaan adalah hal yang diberikan. Ia tak bisa memaksa Ino setia pada dirinya bila keinginan itu tidak ada.

Dengan bosan ia melemparkan sebutir coklat ke mulutnya. Barangkali rasa manis akan membuatnya melupakan kekesalan yang dimulai beberapa jam yang lalu saat ia menemukan sang istri berdandan dengan cantik berbalut mini dress hitam dengan punggung terbuka keluar dari kamar mereka. Jelas-jelas wanita itu berniat untuk mengesankan seseorang. Jadi, dengan iseng dia bertanya. Jawaban dari bibir seksi wanita itu membuatnya panas. Ino pergi makan malam berdua dengan Sasuke.

Sial bukan, Istrinya sekarang mungkin sedang asyik bercengkerama dan barangkali tengah bermesraan dengan adiknya, sedangkan dia di sini duduk nelangsa terbakar api cemburu. Mengapa pula ia cemburu? Ia bukan pria primitif yang suka menandai wanitanya, tapi ingat Yamanaka Ino bukan sembarang wanita. Sudah terbukti wanita pirang itu mampu membuat dirinya bertingkah aneh dan memperbudak dirinya.

Entah berapa jam ia terduduk di sana merenung, Itachi tak tahu. Yang jelas botol anggurnya sudah hampir kosong dan dia merasakan euforia dan kesenangan menggantikan rasa marah dan kesal. Ia mendengar suara pintu gerbang terbuka dan deru mesin mobil melintasi jalan kerikil menuju garasi. Sepertinya Ino sudah pulang.

Wanita pirang itu berjalan melintasi taman. Pinggulnya bergoyang dengan gemulai mengikuti langkah kakinya. Ia melihat sang suami duduk di patio. Pria itu mengenakan t-shirt navy yang pas badan dan celana jogger. Musik Jazz mengalun merdu dari speaker portable di atas meja. Ino memperhatikan Itachi sedang menghisap cerutu dan menengadah untuk mengembuskan asap dari bibirnya. Pria itu tampak sangat relaks dan ehem...seksi. Sepertinya ia menikmati kegiatannya. Di tengah temaram cahaya kebun dan bulan purnama. Ino memutuskan bergabung dengan suaminya di patio untuk menikmati musim semi.

Itachi tak berkedip melihat sang istri berdiri di depannya. Penampilannya masih sama seperti saat dia pergi, tak sehelai rambut pun terlepas dari ikatannya. Pria itu melemparkan senyum mengejek pada sang istri. "Mengapa pulang begitu cepat dari acara berselingkuhmu?" tanya pria itu.

"Apa selingkuh namanya kalau aku memberitahumu ke mana dan dengan siapa aku pergi? Lagi pula kau paham ini bagian dari rencana. Well, Kelihatannya kau juga sedang menikmati waktu senggangmu." Ino melirik botol wine yang hampir kosong dan sekotak coklat yang tinggal bungkusnya saja. Mata Ino membelalak. Sial, Itu kan coklat oleh-oleh dari prancis yang ia keramatkan. Berani-beraninya pria itu memakannya tanpa izin.

"Jadi, bagaimana makan malammu dengan Sasuke? Berasa nostalgia?"

" Sulit untuk mencoba manis ketika yang aku inginkan hanya menikamnya, tapi ia begitu percaya aku akan kembali padanya."

"Bukankah kau masih mencintai Sasuke?"

Ino duduk di sebelah suaminya kemudian ia melepaskan sepatu platform yang membuat kakinya pegal. "Aku tak tahu Itachi. Sekarang yang aku rasakan hanya kemarahan, kebencian."

"Menurutku kau masih peduli padanya karena itu kau masih berniat balas dendam," ucap Pria itu santai di sela-sela cerutu yang dia hisap.

"Aku tak tahu kau merokok."

"Kau tak tahu banyak tentang aku. Yah, Aku merokok dan minum sekali-kali. Aku menikmati cerutu berkualitas dan hal-hal tak penting lainnya." Itachi menghisap cerutunya lalu menolehkan kepala pada sang istri. Dengan sengaja ia mengembuskan asap rokok itu di wajah Ino.

"Sial, sengaja ya. Baunya menjijikkan!" bentak Ino kesal.

Itachi yang dalam kondisi mabuk hanya tertawa melihat istrinya sebal. "Ino, Mengapa kau tak pernah bersikap manis padaku?"

"Itu karena kau bersikap menyebalkan Itachi."

"Masa? Padahal aku merasa hanya bersikap manis padamu, loh! Kapan aku bersikap menyebalkan?"

Ino menunjuk kotak coklat di meja. "Kau tahu itu punya siapa? Itu punyaku. Sengaja aku simpan karena akan aku makan saat aku datang bulan."

Itachi tergelak, " kau pikir coklat akan memperbaiki mood-mu? Biar aku beritahu sayang, kau menderita PMS setiap hari dan aku selalu jadi korbanmu."

"Siapa yang suruh jadi suamiku." Wajah Ino merenggut.

"Mulutmu memang tajam, tetapi aku menyukainya...sangat menyukainya." Pria itu mematikan sisa cerutunya di asbak dan mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri. Aroma mawar dan vanilla yang menguar dari tubuh Ino menyerang indra penciumannya. Ia lega tak mencium aroma cologne Sasuke melekat di tubuh istrinya.

"Mau apa kau dekat-dekat?" Ino beringsut menjauh tapi punggungnya menempel di lengan sofa rotan yang di alasi cushion yang tebal dan empuk. Itachi menjebaknya di sana. Ia tersudut terperangkap di antara lengan suaminya.

"Sial Ino, tak bisakah kau menutup mulut. Oh! Aku punya ide yang lebih baik." Ia membungkam mulut Ino dengan ciuman. Dari tadi sore ia ingin mencicipi bibir penuh berwarna red ruby yang terus menerus mengganggu benaknya.

Itachi menekan dan melumat dengan keras, memaksa Ino menyambut lidah pria itu dalam rongga mulutnya. Wanita itu sadar sang suami berniat menundukkannya, tapi bukan Ino namanya bila ia tak memberi perlawanan. Dia mencium Itachi sama kerasnya, memperingatkan pria itu bahwa ia juga punya pengaruh. Bagaikan dinamit yang sedang tersulut, Mereka berdua hanya menunggu waktu untuk meledak.

Itachi melepaskan Ino dengan nafas terengah-engah. Dia belum selesai dengan wanita ini. Mata onyx pria itu menangkap senyum pongah yang menghiasi wajah cantik istrinya.

"Itachi, apa kau cemburu aku makan malam dengan, Sasuke?"

"Doesn't matter to me, selama kau kembali padaku. Di mana lagi kau akan menemukan suami yang begini permisif dan perhatian. Aku membiarkanmu berselingkuh dengan Sasuke agar kau senang."

"Aku tak merasa berselingkuh." Wanita itu menekankan. "Kami hanya makan malam, tidak kurang tidak lebih."

"Aku tak mau tahu dan tak mau dengar apa yang kau lakukan dengannya. Aku tak keberatan untuk berbagi dengan adikku meski aku lebih suka menyimpanmu untuk dirimu sendiri, tapi itu keputusanmu untuk memprioritaskan siapa yang lebih penting. Suamimu atau mantanmu. Yang jelas sekarang aku yang ada dihadapkanmu."

"Apa kau baru saja menuduhku sebagai wanita jalang?" Pelipis Ino berkedut. Ia tahu suaminya sedang mabuk dan mungkin ia juga tak sadar dengan apa yang dia katakan.

"Aku tak mengatakan itu. Aku hanya bilang hati dan tubuhmu adalah milikmu. Terserah kau mau membaginya dengan siapa. Aku tak bisa memaksamu setia padaku bila kau tak mau." Pria itu meraih tangan kanan Ino dan mengelus pergelangan tangannya dengan lembut. Sentuhan yang begitu sederhana mampu membuat Ino gemetar. Kemudian pria itu menciumi buku-buku jarinya.

Ino mendesahkan nama suaminya dengan pelan, "Itachi, kau terlalu baik."

Pria itu menatapnya dan Ino menggunakan kesempatan ini untuk mengamati pria itu dengan saksama. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya terpahat indah dan cahaya bulan membuat kulitnya berpendar kebiruan. Di mata suaminya ia menemukan hasrat. Semakin dalam ia menatap semakin ia ikut terhanyut dalam pusaran gairah yang sama.

"Aku hanya seorang lelaki yang bisa saja pura-pura buta dan tuli asal kau tetap memberikanku sesuatu."

"Maksudmu kau tak keberatan aku menduakanmu?"

"Selama kau tetap menjadi istriku."

"Aku tak tahu kalau kau mencintaku sebegini besar, Itachi."

"Siapa yang mencintaimu? Aku hanya menyukaimu."

"Siapa yang berbohong sekarang? Aku tak tahu perasaanku tapi, satu hal yang pasti. Tubuhku menginginkanmu."

Dengan berani Ino menarik tangan Itachi, memandu jari-jemari pria itu ke dalam area privat di balik roknya yang pendek dan ketat. Pria itu tersenyum pongah merasakan celana dalam istrinya begitu lembab hanya dengan sebuah ciuman. Ino ternyata tak kebal dengan dirinya.

"Kau basah, Ino."

"Kau membuatku horny, Meski hanya dengan tatapanmu saja. Mengapa kau bisa membuatku seperti ini?"

"Mungkin karena aku jelmaan dewa seks," ucapnya dengan angkuh.

Jari-jari pria itu sudah menyelinap ke balik celana dalam Ino. Itachi membelai kewanitaannya dan Ino hanya bisa melenguh. Pria itu menciumnya dan jari-jarinya masih tak berhenti bekerja. Semua desah Ino teredam dalam bibir pria itu. Dengan mesra Itachi mendaratkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang rahang dan lehernya. Ino terlonjak begitu merasakan dua jari Itachi mengintrusi organ intimnya. Ia merasa meleleh dan otaknya berubah menjadi jelly yang tak lagi berfungsi, hanya impuls gairah yang ia pahami.

Mereka bercinta di bawah terangnya bulan purnama. Rintihan dan erangan wanita itu terbawa oleh embusan angin malam. Bagi Ino apa yang dilakukan Itachi padanya bagaikan sebuah keajaiban. Setiap sentuhan dan cumbuan membuka sensasi baru dan asing, tetapi menyenangkan. Bisikan mesra ditelinganya membuat Ino tersipu. Itachi membuat dirinya merasa berharga.

Awalnya tubuh mereka saling melilit dan membelit dengan niat menaklukkan dan menancapkan dominasi. Jantung mereka berdetak dalam irama genderang perang. Tiap ciuman memaksa satu-sama lain mengalah dan menyerah. Ino menandai Itachi dengan bekas cakaran di punggungnya dan pria itu menghujaninya setiap jengkal tubuhnya dengan ciuman yang menyakitkan. Mereka mengambil apa yang mereka inginkan, tanpa menunggu seseorang mengiyakan.

Ino menutup mata dan melenguh tatkala suaminya dengan rakus mencicipi esensi tubuhnya. Lidahnya menari dengan erotis menjelajahi setiap bagian yang tersembunyi. Menyelinap untuk membuka jalan bagi jari-jarinya memasuki tempat yang sakral baginya.

Ino menginginkan suaminya. Seperti ia menginginkan. Kesejukan di musim panas yang menyengat. Tubuhnya bergetar penuh damba dan antisipasi. Permainan kecil mereka kini membakarnya. Membuat tubuhnya merasa panas dalam tatapan sepasang manik hitam yang dipenuhi nafsu.

Ino menyerah, ia tak kuasa menahan diri. Ia membutuhkan pria itu sekarang, Menyatu dengannya melengkapinya. Aneh, karena ia tak mencintai pria ini. Dia hanya mengaguminya. Ino mengerang memanggil namanya seakan nama itu adalah mantra yang akan membebaskannya. Wanita pirang itu menggelinjang. Pria itu memenangkan dirinya.

Itachi penuh kontrol diri dan determinasi. Sentuhannya pragmatik tapi sensual. Senyum tak menghilang dari wajahnya seolah dia bangga membuat Ino belingsatan di bawah kendalinya. Sulit baginya untuk menahan diri tapi dia orang yang cukup sabar. Ia punya waktu sepanjang malam untuk membuat Ino memohon, merintih dan menjeritkan namanya. Wanita ini begitu cantik. Ia tak pernah menyadarinya hingga saat mereka menikah. Ino menawan dirinya dengan pesona yang begitu unik. Di mata pria lain mungkin ia wanita yang merepotkan tapi bagi Itachi setiap jengkal luar dan dalam wanita itu meneriakkan tantangan.

"Aku mohon Itachi...Jangan menggodaku terus menerus." Ino mengucapkan kalimat itu setengah merajuk. Tubuhnya kini menjadi terlalu sensitif. Bahkan embusan nafas Itachi di kulitnya membuat wanita itu menggelenyar.

"Apa yang kau inginkan? Sasuke?"

Ino meletakan jari telunjuknya di bibir Itachi membuat isyarat untuk diam. "Jangan menyebut nama terkutuk itu. Yang aku inginkan itu dirimu Itachi. Kau di dalam diriku dan bebaskan aku dari siksaanmu."

"Tentu saja, Sayang." Ia mengelus pipi Ino dengan lembut kemudian melepas boxernya.

Ino menanti dengan sabar, nafasnya tercekat melihat bukti bahwa suaminya juga menginginkannya. Itachi menariknya berdiri. Membawanya ke belakang sofa rotan sintetik yang mendominasi patio itu. Sepertinya Ino mengerti apa yang pria itu ingin lakukan. Ia berdiri dan meletakan kedua tangannya di sofa untuk menunjang berat tubuhnya. Kemudian melebarkan kakinya dan sedikit membungkuk. Suaminya menghunjam dari belakang dan Ino tersentak. Meski sudah beberapa kali mereka bercinta Ino masih tak terbiasa dengan ukuran sang suami.

Mereka bergerak dengan sinkronis dan perlahan. Itachi menyibak rambut Ino yang menutupi punggungnya. Dia mulai menciumi tengkuk dan punggung istrinya. Friksi yang Ino rasakan memberikan getaran nikmat hingga ke ujung kakinya. Ia merasa tak akan pernah puas dengan pria ini.

Itachi tak terburu-buru. Beginilah caranya untuk mengikat sang istri. Mungkin hati Ino masih milik adiknya tapi tubuh wanita ini menginginkannya dan ia akan membuat istrinya ketagihan dan hanya bisa dipuaskan olehnya. Ino terasa luar biasa. Lembut, basah dan hangat. Wanita itu menyelimutinya dengan sempurna.

"Itachi, beri aku lebih," desah Ino dengan suara serak.

Pria itu mengerti dan menambah kecepatan dan kekuatannya. Dia membiarkan sisi liarnya mendominasi. Ino hanya bisa mendesah. Tubuhnya berguncang-guncang akibat sentakan-sentakan pinggul suaminya.

"Oh...yes...oh...yes.. lagi... lagi." Ino bergumam tak jelas. Kesadarannya hanyut dalam badai gairah. Yang ia rasakan hannyalah Itachi dan kenikmatan yang pria itu berikan padanya.

Itachi menahan erangannya. Ino wanita yang luar biasa. Bila ia tak hati-hati ia bisa selesai lebih dahulu. Pria itu memastikan ia menyentuh bagian-bagian paling sensitif dalam diri wanita itu dan aksinya dihadiahi rintihan paling erotis yang pernah ia dengar.

Wanita itu terengah dan bernafas pendek-pendek. Itachi merasa Ino mencengkeramnya makin keras. Ia tahu Ino akan mencapai klimaks. Mungkin akibat terbawa suasana tanpa sengaja Itachi mengucapkan tiga kata terlarang.

"I love you, baby. Come for me!"

Ino yang hampir meraih puncak tak benar-benar menyadari apa yang pria itu ucapkan. Ia hanya fokus pada kehangatan dan sensasi elektrik yang nyaris meledak di bawah perutnya. Hanya dengan satu tusukan yang keras dan dalam. Ia meledak dalam euforia. Tubuhnya mengejang dan berkedut. Bibirnya meneriakkan nama Itachi begitu kenikmatan menghantamnya seperti sebuah kembang api.

Itachi melepaskan kontrol dirinya. Misinya memberikan wanita itu kepuasan telah tercapai dan dia bisa mengejar kepuasannya sendiri. Ia tak menahan diri lagi. Meski Ino masih lemas dan sensitif, ia memutuskan untuk melakukan apa yang ia mau. Tak butuh waktu lama Itachi melepaskan benihnya di rahim Ino dan merasakan sebuah kepuasan yang tak bisa ia jelaskan.

Ino berbalik untuk menatap suaminya. Pria yang baru saja memberikan kenikmatan luar biasa. "Itachi, Apa kau serius dengan kata-katamu?"

Ia meraih pinggang Ino, menarik dan mendekapnya. "Maafkan aku. Aku rasa aku jatuh cinta padamu, karena itu aku harap kau melupakan balas dendammu pada Sasuke."

"Mengapa?"

"Aku takut kau akan kembali padanya. Aku takut kau pergi. Apa kau memedulikan aku, Ino?"

Ino mengalungkan lengannya di leher Itachi. "Tentu saja. Aku peduli padamu, bodoh..." ucap Ino lirih. Ia berjinjit dan mencium Itachi. Ia merasa berhutang banyak pada pria itu. Pernikahan mereka memang baru satu bulan tetapi Ino merasa sangat dekat dan nyaman dengan Itachi. Di antara mereka tak ada kepura-puraan, gengsi atau permainan pikiran. Hanya kejujuran brutal dan sikap terbuka dan Ino serasa mendapatkan angin segar. Bersama Itachi dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri.

.

.

.

Ino tak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua. Yang jelas malam berlalu dengan liar. Mereka melakukannya seperti maniak. Entah siapa yang punya ide gila bercinta di atas rumput. Mereka pun berguling dan bergulat di rumput tebal yang terpangkas rapi. Awalnya Ino pikir sangat romantis karena ia bisa melihat langit malam dan mencium wangi berbungaan di kebun, tetapi setelahnya mereka malah berakhir dengan gatal-gatal di sekujur tubuh mereka dan terpaksa harus mandi tengah malam. Yang jelas tidak ada bagian rumah yang masih perawan dari pergumulan mereka. Akhirnya mereka berakhir di ranjang tertidur saat subuh dan kini terbangun lewat tengah hari. Beruntung ini hari Sabtu. Mereka tak perlu pergi bekerja.

Ino mengerjap dan mendesah mengingat malam liarnya dengan Itachi. Ia melirik ke samping. Sang suami masih tampak terlelap. Wanita pirang itu memutuskan turun dari tempat tidur untuk memulai harinya, tapi lengan sang suami menghalanginya. Pria itu tengah memeluk Ino.

"Itachi, singkirkan tanganmu. Aku mau bangun!" perintah wanita berambut pirang itu gusar.

"Tidak, Nyonya Uchiha. Kau tetap di ranjang ini bersamaku. Kita bisa bercinta lagi." Itachi malah beringsut, menempel ketat di tubuh Ino. Punggung wanita itu menyentuh dadanya dan ia mulai menciumi tengkuk istrinya.

Ino menggeliat, berusaha melepaskan diri. "Menyingkir tidak? Aku tak mau menghabiskan waktu liburku hanya untuk melayani nafsumu."

"Ow...ow..ow, Apa kau baru saja mengakui kalau kau tidak sanggup meladeniku?"

Ino berhasil melepaskan diri. "Jangan memutar kata-kataku, Itachi. Aku rasa yang semalam sudah lebih dari cukup. Aku bukan nymphomaniac seperti dirimu." Ino turun dari ranjang tanpa memedulikan protes sang suami.

"Mau ke mana kau, Ino?"

"Melakukan hal yang tak ada kaitannya dengan bercinta denganmu." Ino melangkah ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Ia tak mau Itachi menyelinap dan menggodanya lagi. Ia tak kebal dengan rayuan pria itu.

Ino menyalakan keran air, menuangkan bath foam dan garam mandi. Sambil menunggu bak penuh ia mengecek bayangannya di cermin. Kissmark di mana-mana. Ino harus komplain soal hobi pria itu menandainya dan semoga saja bekasnya hilang sebelum hari Senin. Ia malas menggunakan pakaian tertutup.

Gadis itu melangkah masuk dalam air hangat berbusa dan berendam. Keharuman lavender dan melati membuat tubuhnya relaks. Ia tak melebih-lebihkan. Semua ototnya sakit seolah ia telah melakukan olah raga berat. Suara gedoran di pintu kamar mandi membuatnya sebal.

"Ino, Buka pintunya! Aku sakit perut." Itachi berteriak dari luar.

"No, alasan saja kau ini. Kalau mau pup di kamar mandi bawah kan bisa. Jangan menggangguku," balas Ino juga berteriak.

Wanita itu melanjutkan ritual kamar mandinya dengan tenang. Begitu ia selesai mengeringkan tubuh dan rambutnya. Sang suami sudah tidak ada di kamar. Ino mengenakan dress floral dan meraih cardigan-nya. Ia membubuhkan sedikit make up di wajahnya dan turun ke bawah. Ia berencana untuk shopping hari ini.

Tiba di dapur, secangkir kopi dan roti bakar telah menantinya. Ia duduk bersama Itachi menikmati sarapan kecil mereka. Suaminya sudah mandi dan tidak tampak menyedihkan seperti dugaannya.

"Hei, Apa kau tidak hang over? Kau menghabiskan satu botol wine semalam."

"Tidak, tubuhku mengatasi alkohol dengan baik. Lagi pula aku banyak berkeringat semalam."

"Ya...Ya, tak perlu nge-gym lagi. Kalau setiap sesi begitu intens."

"Kau menyukainya, kan?"

Pipi Ino langsung merona. Wanita itu tak menjawab, "Aku mau pergi, Itachi."

"Ke mana?"

"Belanja," jawab Ino singkat.

"Boleh aku menemanimu?" tanya Itachi penuh harap.

"Oke, tapi kau tak boleh mengeluh."

.

.

Itachi menarik nafas panjang sebelum melangkah ke butik nomor enam yang mereka kunjungi siang itu. Tangannya penuh tas belanjaan dan Ino sepertinya masih belum puas. Jadi ini hobi istrinya. Berbelanja. Dia tak keberatan menghabiskan uang untuk Ino tapi wanita itu dengan bangga menolak ketika dia hendak membayar barang-barang yang di beli Ino.

Kemandirian Ino sebenarnya menjadi momok bagi Itachi. Wanita itu tak butuh uang maupun statusnya. Ino tak akan pernah tergantung pada dirinya. Hal itu terkadang membuatnya berkecil hati sebab Ino bisa melangkah pergi kapan saja dia mau bila ia merasa tidak suka. Saat ini dialah yang harus bekerja keras meyakinkan Ino bahwa menikah dengannya bukan hal yang buruk.

Entah kapan ia pernah berusaha begitu keras untuk membuat seorang wanita terkesan. Membuat Ino jatuh cinta padanya merupakan tantangan dan pengalaman disakiti oleh Sasuke membuat situasi lebih sulit. Ia tahu Ino menutup diri dari ikatan emosional dan ia tak akan memaksa. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hati.

"Ino, Berapa pasang sepatu yang kau butuhkan?" Itachi mulai mengeluh. Perasaan tadi Ino sudah membeli sepasang.

"Tadi aku membeli blazer berwarna hijau jadi aku butuh sepatu yang cocok dengan baju baruku."

Itachi hanya bisa menarik nafas panjang. Ia tak mengerti obsesi wanita untuk tampil modis. Dia, Pewaris perusahaan terbesar di Konoha. Kini menjadi pesuruh. Di rumah pun Ino yang berkuasa. Tas belanjaan dan kotak-kotak sepatu di tangannya kian banyak. Itachi berharap tak seorang pun yang dia kenal melihatnya seperti ini. Keberuntungannya berumur pendek.

Begitu ia memasuki toko tersebut. Deidara ternyata sedang berbelanja di sana. Mata biru pria itu langsung berkilat geli melihat Itachi mengikuti sang istri dengan patuh seperti anjing yang terlatih.

"Tak menyangka aku bertemu di mall denganmu Itachi." Pria pirang itu menghampiri mereka.

"Aku sedang menemani istriku jalan-jalan."

"Ah, Ino Yamanaka. Perkenalkan aku Deidara, teman suamimu. Dari waktu ini aku penasaran ingin berkenalan dengan wanita yang mengubah pikiran Itachi."

Ino berkedip menatap pria yang menjabat tangannya. Dia tampak sangat modis. Apa lagi dengan rambut pirang yang juga ditata dalam gaya pony tail. Sungguh bertolak belakang dengan suaminya. Masa Itachi yang kelam dan suram seperti seekor gagak bisa berteman dengan pria yang tampak bagai burung merak.

"Teman?" Ia melirik sang suami dengan heran.

"Bukan, Deidara hanya rekan bisnisku. Hanya saja ia beranggapan ia berteman denganku."

"Ih, Itachi kau menyakiti hatiku," ucap pria pirang itu dramatis. "Ino, aku suka gayamu. Rambutmu sangat indah."

"Kau juga, Deidara. Pastinya sulit merawat rambut sepanjang itu."

"Tentu saja. Any way, Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Aku harap kau betah menikahi tuan pendiam, pemurung dan membosankan ini."

"Aku tak seburuk itu, Dei," tukas Itachi membela diri.

"Oh, Semua orang setuju kau itu pria yang membosankan."

"Aku rasa Itachi pria yang menyenangkan." Ino ikut membela suaminya.

"Aku senang kau membelanya. Kami semua selalu berdoa agar Itachi dihindarkan dari takdir menjadi jejaka tua yang kesepian. Senang sekali kau menjadi jawaban atas doa-doa kami."

Deidara mengoceh dan berbcakap-cakap tentang fashion dengan Ino sebentar. Kemudian dia permisi. Sebelum pergi ia mengingatkan pesta nanti malam.

"Itachi jangan lupa datang ke pesta nanti malam. Kami sudah mereservasi klub Mi amore. untukmu. Jadi kau harus datang. Ajak saja Ino bila mau."

Itachi benar-benar lupa Akatsuki membuatkan pesta bujang untuk dirinya. "Baiklah, Aku akan datang. Bila tidak aku yakin Kisame akan menyeretku."

"Pesta? Pesta apa?" Ino ingin tahu apa yang akan dirayakan suaminya.

"Pesta bujang. Meski terlambat , Itachi pantas mendapatkan perayaan. Aku permisi dulu ya." Pria pirang itu pergi meninggalkan mereka.

"Kedengarannya akan menyenangkan." Komentar Ino kering.

"Kau juga diundang. Mau datang dan menemaniku?"

"Tidak, Aku ada janji kencan dengan Sasuke."

Wajah Itachi langsung masam. "Aku tak menyukainya."

"Aku tak peduli pendapatmu. Lagi pula aku tak melanggar batas." Ino melirik jam tangannya. "Sebaiknya kita pulang. Aku sudah lelah berbelanja."

.

.

Ino tidak menikmati makan malamnya. Rasanya asing. Padahal dia sedang duduk di restoran favoritnya bersama pria yang menjadi pusat kehidupannya selama lima tahun. Ia tak lagi merasakan kesenangan atau rasa girang tatkala berkencan dengan Sasuke. Meski pendar lilin dan dentingan piano mengalun merdu sanggup menggiring orang-orang dalam perasaan romantis. Ino hanya bisa merasakan kemarahan pada Sasuke. Ia ingin pria itu hancur dan sakit hati seperti dia membuat hati Ino remuk.

Sasuke mengajak Ino berbicara tapi ia tak benar-benar memperhatikan. Pikirannya dipenuhi sang suami yang mungkin sekarang tengah bersenang-senang dengan rekan bujangnya. Tiba-tiba Ino tak suka dengan Ide suaminya minum-minum didampingi hostess seksi. Dahinya berkerut, Mengapa dia malah memikirkan Suaminya padahal Sasuke yang tiga kali lipat lebih tampan sedang duduk di depan mata.

"Ino, Apa kau mendengarku?" Sasuke bertanya pada teman kencannya. Ia merasa Ino sedang melamun.

"Maaf...Maaf! Apa yang kau bilang tadi?" Ino mendadak gelagapan.

"Kau tak memperhatikanku ya? Aku bilang kau harus menceraikan Itachi segera agar kita bisa menikah."

"Aku tak bisa, paling tidak tunggulah enam bulan lagi."

"Pernikahanmu dengan Itachi adalah kesalahan."

"Tentu saja, Bila kau tak meninggalkanku di altar aku tak akan pernah menikah dengan kakakmu. Apa kau tak bisa sabar?"

"Kau benar, Aku bisa menunggu. Ini memang salahku. Aku tergoda oleh Sakura. Aku menyesal, Ino... sangat menyesal."

Ino geram dalam hati. Kejadian ini menyadarkannya pria seperti apa Sasuke itu. Dia sangat egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri dan sekarang ia menyalahkan Sakura untuk pilihannya yang ia buat sendiri.

"Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Ino pada mantan kekasihnya.

Sasuke mengantar Ino hingga ke tempat parkir. Dia meraih tangan wanita itu dan menciumnya.

"Aku harap kau mau mampir ke apartemenku. Malam masih panjang."

"Maaf, Aku tak bisa berlama-lama. Itachi tak tahu aku pergi. Aku takut dia akan curiga dan marah padaku." Ino menolak undangan Sasuke.

"Baiklah, Aku tak memaksa. Kali ini semua terserah padamu."

"Terima kasih, Aku pulang dulu."

Tiba-tiba Sasuke menarik Ino ke dalam pelukannya. Tubuh Ino menjadi kaku.

"Izinkan aku memberikan ciuman selamat malam."

Secara refleks gadis itu meletakan tangannya di bibir Sasuke. Entah mengapa ia tak ingin dicium oleh Sasuke. "Maaf, Aku sebenarnya masih marah padamu. Tolong jangan menciumku. Kau bisa sabar kan?" ucap wanita pirang itu berdalih.

Pria berambut raven itu melepaskan Ino. "Baiklah, Aku akan menuruti permintaanmu."

Ino pulang ke rumah yang kosong. Itachi pastinya belum pulang. Belum juga lewat tengah malam. Tanpa pria itu rumah terasa sepi. Ino mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dan memutuskan untuk membaca novel. Dia belum mengantuk. Ino melirik jam dinding dan berpikir kapan suaminya akan pulang.

.

.

Teman-temannya memang gila dan rusuh. Mereka benar-benar memblok lantai atas klub itu untuk pesta ini. Belasan gadis-gadis cantik memakai bikini menari-nari di lantai dansa. Mereka bahkan menyewa jasa penari telanjang.

"Akhirnya tamu agung kita tiba." Ujar Kisame yang duduk diapit dua wanita cantik di sisinya.

"Apa ini tak berlebihan? Kalian bahkan menyewa stripper."

"Ini hiburan untukmu Itachi, karena sudah melepas status bujangan abadimu. Kau sudah menikah tak mungkin kan bisa icip-icip lagi."

"Maaf saja Kisame, Aku bukan pria yang doyan jajan dan icip-icip macam dirimu."

Hidan muncul dan Ikut mendudukkan dirinya di sofa, "Tentu saja, Itachi seorang pria terhormat dengan selera tinggi tak mungkin jajan sembarangan."

"Ah, Hidan jangan hipokrit. Sebelum kau menganut aliran sesat itu kau juga seorang penjahat kelamin."

"Itu dulu sekali Kisame, sekarang aku tak lagi diperbudak nafsu. Dewa Jashin telah memberikanku pencerahan."

"Oh, Aku tak mau dengar bualanmu, Hidan. Di mana Kakuzu?"

"Dia sedang bernegosiasi dengan manajer klub. Berharap mendapatkan diskon." Jawab Nagato yang datang membawa beberapa gelas untuk rekan-rekannya.

"Kenapa aku tak melihat Konan dan Yahiko?" tanya Itachi setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Oh, Tadi mereka datang. Lalu Konan menyeret Yahiko keluar karena ia menatap penari itu terlalu lama." Nagato menunjuk seorang penari berpakaian minim yang meliuk-liuk di tiang.

"Geez, Seharusnya Konan tak usah datang. Sudah tahu ini acara khusus pria." Komentar Kisame kering.

Deidara dan Sasori bergabung dengan mereka. Kedua pria itu berangkulan mengangkat gelas untuk bersulang.

"Bersulang untuk Itachi, yang telah membuang status bujangannya." Ucap Pria berambut pirang itu.

"Cheers" balas yang lain dengan gembira.

Itachi hanya minum segelas. Teman-temannya bersenang-senang. Bahkan Tobi yang begitu mabuk di kelilingi tiga orang wanita. Dia bosan, khawatir dan ingin cepat-cepat pulang.

"Mengapa wajahmu suram begitu?" Tanya Sasori pada rekannya.

"Aku ingin pulang. Aku khawatir pada Istriku." Itachi tahu Ino sedang kencan dengan Sasuke. Wanita itu pasti sekarang sedang bersenang-senang dengan adiknya. Harusnya ia tak peduli dan ikut juga bersenang-senang. Banyak wanita dan alkohol yang tersedia. Hannya saja ia tak mau pulang dengan mabuk dan mempermalukan dirinya dengan lagi-lagi menunjukkan sikap cemburu dan emosional. Dia tak perlu membuat Ino merasa di atas angin.

Kisame menyeringai. "Kau boleh pulang Itachi. Setelah mendapatkan satu tarian spesial." Pria kekar itu mengisyaratkan seorang penari untuk menghampiri mereka.

"Berikan pria ini tarian spesialmu."

Sang penari tersenyum. Kisame memberikan tip yang sangat besar. "Baiklah, Aku pastikan temanmu puas."

Itachi tak bergeming sedikit pun. Saat sang penari memberikannya lap dance. Sang penari berwajah cantik dan bertubuh sintal. Ia melepaskan bikininya dan menari di pangkuan Itachi. Wanita itu menggelayutinya dan menari dengan erotis memastikan bokongnya menggesek paha Itachi. Sang penari mengeluarkan segenap triknya tapi pria berambut hitam itu bahkan tak menggubah ekspresinya. Setelah dua lagu lewat. Wanita berambut coklat itu menyerah dan berhenti menari lalu duduk di pangkuan Kisame.

"Temanmu membosankan," ucap si penari. Bergelayut pada pria kekar itu.

Lega siksaan itu berakhir, Itachi berdiri dari sofa. "Aku pulang, Selamat berpesta kawan." Dia pun melangkah meninggalkan klub malam

Hidan menegak whisky-nya. "Kalian lihat Itachi tak bergeming. Wanita cantik telanjang tak membuatnya tergoda."

"Tentu saja Hidan. Istrinya jauh lebih cantik dan seksi dari penari itu. Yamanaka Ino benar-benar membuat Itachi takluk." ucap Deidara.

"Aku berharap hal itu baik untuknya." Kisame mengisi lagi gelasnya yang kosong dengan Vodka dan Tonic.

Deidara mengangkat bahu. "Tak lama lagi Itachi akan masuk klub Suami takut istri, Aku bertaruh dia akan membiarkan wanita itu mendiktenya."

"Tobi suka taruhan. Itachi akan bosan dengan istrinya tiga bulan lagi dan kembali pada kita."

Para anggota Akatsuki pun sibuk memasang taruhan tentang kehidupan Itachi ke depannya.

.

Itachi masuk rumah dengan diam. Ia berjalan tanpa membuat suara. Berjingkat-jingkat menuju kamar tidur dan ranjangnya tercinta. Ino telah tertidur dan tampak nyaman berada di kasur nan empuk dan hangat. Tanpa pikir panjang ia membuka pakaian dan melemparkannya ke kursi asal-asalan. Ia terlalu lelah untuk mandi dini hari begini. Ia merayap ke balik selimut, memejamkan matanya.

Ino terbangun karena kasur bergoyang akibat berat badan suaminya. Begitu tersadar Ino langsung mencium aroma asap rokok dan parfum wanita dari tubuh suaminya. Ino jadi marah dan kesal. Sekuat tenaga Ino menggulingkan Itachi hingga pria itu jatuh terjengkang di lantai.

Itachi berdiri dan mengurut-urut kepalanya yang terbentur di atas lantai kayu itu. "Apa-apaan ini?"

"Kau pria menjijikkan dan pembohong!" teriak Ino lantang. Ino melemparkan bantal ke wajah Itachi. "Kau tidur di sofa. Aku tak mau dekat-dekat denganmu."

Itachi tak mengerti mengapa Ino marah-marah dan histeris begitu, tapi ia malas berdebat. Pria itu membungkuk mengambil bantal dan menyeret tubuhnya ke ruang tamu.

"Ah, Apa dosaku kali ini?." Gumam Itachi. Dengan malas ia membaringkan diri di sofa yang tak nyaman untuk ditiduri. Ino jahat sekali.

Tbc.

A/N : Maaf gak sempat nulis pojok review. Hanya mau bilang aku sudah semangat lagi berkat dukungan kalian. Semoga cerita chapter ini bisa kalian dinikmati.

Makasih banyak!