"Ah, mianhae, Hyung. Di luar ada Nyonya Kim."
Leeteuk mengernyitkan keningnya. Nyonya Kim siapa yang dimaksud Ryeowook? Mengingat banyak orang bermarga Kim di Seoul. Bahkan di rumah ini saja ada lima orang dengan marga Kim.
"Nyonya Kim siapa yang kau maksud, Wookie?"
"Uhm, itu, Eomma dari Kibumie, Hyung."
"MWO?!"
Kibum memekik mendengar ucapan Ryeowook. Matanya menatap horor ke luar kamarnya. Eommanya ada disini? Dari mana Eommanya tahu tampat tinggalnya saat ini?
Genre : Brothership
Rating : Fiction T
Cast : All Super Junior member with other cast
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
Warning : Typos, Geje , Don't like it? Don't read it please.
Summary: "Jadi, kau tak tahu jika Kibum pergi dari rumahnya?"/ "Terjadi sesuatu? Apa – apa yang terjadi pada Kibum? Apa ia baik-baik saja?"/ "Aku belum siap, Hyung," jawab Kibum lirih./ "Kibum-ah!"/ "Aku merasakan kenyamanan di rumah itu. Aku mendapatkan apa yang selama ini aku cari di sana. Aku memiliki banyak Hyung yang menyayangiku. Memiliki satu dongsaeng yang ingin kumanjakan. Aku tidak mendapatkan itu semua di rumah."/"Aku dan Ryeowookie ―"
Sapphire Blue House
Chapter 8
Leeteuk terlihat duduk tenang di hadapan Nyonya Kim, ibunda dari Kibum. Nyonya Kim juga terlihat menatap Leeteuk dengan lembut. Sama sekali tak ada sirat kemarahan yang diprediksi Ryeowook tadi. Mengingat dirinya juga mendengarapa yang dikatakan Sang Byun mengenai Kibum di kampus tadi. Wajar kalau Ryeowook menganggap Eomma Kibum akan menilai mereka –minimal Leeteuk– telah menculik Kibum.
"Jeosonghamnida, Nyonya ―"
"Kim Ahjumma, kau cukup memanggilku seperti itu. Tidak perlu terlalu kaku, Jung Soo-ah."
Leeteuk mengusap tengkuknya pelan. Merasa konyol dengan tindakannya sendiri.
"Ah, nde, Ahjumma. Mianhae. Jadi, apa yang membuat Ahjumma datang kemari?"
Eomma Kibum tidak langsung menjawab pertanyaan Leeteuk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempatnya berada. Memperkirakan dimana keberadaan putranya. Dapat dilihatnnya banyak pintu di rumah tersebut. Dan semuanya dalam keadaan tertutup. Ia sangat yakin, salah satu dari pintu yang tertutup itu adalah kamar yang ditempati putranya.
"Apa benar Kibum tinggal disini?" tanya Eomma Kibum pelan.
"Ne, Ahjumma, Kibum memang tinggal disini sejak satu tahun ini. Mianhae jika sebelumnya saya tidak menghubungi Ahjumma. Karena saya selalu mempercayai dongsaeng saya. Saya percaya mereka datang ke rumah ini setelah mendapat izin dari orang tua mereka."
"Jadi, kau tak tahu jika Kibum pergi dari rumahnya?"
Leeteuk menggeleng pelan.
"Saya baru mengetahui hal itu beberapa saat yang lalu."
"Kau mengizinkan mereka tinggal disini hanya dengan berbekal kepercayaanmu pada mereka?"
Leeteuk menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak takut mereka berniat jahat padamu?"
"Sama sekali tidak, Ahjumma. Saya mempercayai mereka. Lagipula, mereka semua selalu terbuka pada saya. Jika ada yang tidak seperti itu, saya yakin, ia memiliki alasan untujk tidak mengatakan yang sebenarnya."
Eomma Kibum terpaku. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu sosok namja seperti namja di hadapannya ini. Sosok yang begitu bijaksana dan terlihat memiliki kharisma tersendiri.
Sejujurnya, dirinya cukup marah saat mengetahui putranya tinggal di rumah ini tanpa ada satu orang pun di rumah tersebut yang menghubunginya dan memberitahunya. Bahkan saat bertemu dengan sosook namja imut di pintu tadi, raut wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesal.
Tapi saat melihat namja di hadapannya ini untuk pertama kali, entah pergi kemana semua kekesalannya tadi. Melihat ketenangan yang ditunjukkan Leeteuk, membuat hatinya terasa hangat. Dan hal itu membuatnya yakin, putranya akan baik-baik saja tinggal di rumah ini.
Eomma Kibum memejamkan matanya sejenak. Leeteuk yang melihat itu hanya memperhatikan dalam diam. Tak ingin mengusik Eomma dari salah satu dongsaengnya itu.
"Bisakah aku bertemu dengan Kibum?"
Leeteuk mengerjap saat mendengar pertanyaan itu.
"Ah, mianhae, Ahjumma, Jeongmal mianhae. Bukan aku bermaksud melarang Ahjumma bertemu Kibum. Hanya saja, saat ini Kibum sedang istirahat. Terjadi sesuatu di kampus tadi dan Kibum membutuhkan istirahat untuk dua hari ke depan. Jeongmal mianhae."
"Terjadi sesuatu? Apa – apa yang terjadi pada Kibum? Apa ia baik-baik saja?"
Leeteuk tersenyum kecil. Dapat dilihatnya kekhawatiran yang terpancar dari kedua manik mata Eomma Kibum.
"Tidak ada yang serius, Ahjumma. Saya juga sedang menyelesaikan permasalah ini. Karena saya tak ingin dongsaeng saya yang berada di bawah atap ini mengalami kesulitan."
Eomma Kibum tersenyum lembut. Ia mampu mempercayai namja di hadapannya itu. entah karena alasan apa.
"Aku percaya padamu. Aku titipkan Kibum padamu. Lain kali aku akan kembali lagi dan berharap dapat bertemu dengannya."
Leeteuk mengangguk. Ia bangkit berdiri saat melihat Eomma Kibum berdiri. Mengantarkan yeoja cantik itu menuju pintu. Memperhatikan sosoknya yang akhirnya menghilang di balik mobil miliknya.
"Eommamu sangat menyayangimu, Kibumie," gumam Leeteuk pelan.
~SBH~
Kibum memperhatikan mobil milik Eommanya yang telah meninggalkan halaman Sapphire Blue. Ia menarik nafas lega melihat Eommanya telah pergi. Karena ia belum siap untuk bertemu Eommanya saat ini. Ia tak ingin Eommanya mengajaknya pulang. Ia sudah merasa sangat nyaman disini. Disini ia mendapatkan apa yang tak ia dapatkan di rumahnya. Dan Kibum tak ingin menyiakan hal tersebut.
Kibum melangkahkan kakinya ke meja belajarnya. Meraih bingkai foto yang baru beberapa menit lalu ia keluarkan dari lacinya. Menatap penuh kerinduan sosok Appa dan juga Eommanya.
Bohong kalau Kibum mengatakan tak merindukan keluarganya. Selama satu tahun ini Kibum belum pernah sekalipun mengunjungi keluarganya lagi. Semenjak dirinya nekat memilih jurusan Seni sebagai konsentrasi yang ia pilih. Menentang keinginan Appanya yang menginginkan dirinya mengambil jurusan Bisnis.
"Kenapa kau tak ingin menemui Eommamu, Kibumie?"
Kibum menolehkan kepalanya ke arah pintu saat mendengar suara Leeteuk. Ia terlihat menarik nafasnya mendengar pertanyaan itu.
"Aku belum siap, Hyung," jawab Kibum lirih.
Leeteuk berjalan menghampiri Kibum. Mengusap lembut bahu Kibum.
"Apa yang membuatmu tidak siap, Kibumie? Apa kau tak merindukan Eommamu? Seingatku selama kau tinggal disini, kau belum pernah sekalipun mengunjungi keluargamu. Kedua orang tuamu pasti merindukanmu."
Kibum tersenyum miris. Rindu? Apa mungkin hal itu dirasakan kedua orang tuanya? Bahkan selama ini orang tuanya terlalu sibuk dengan berbagai urusan bisnis. Tak pernah ada untuk menemaninya.
"Appa dan Eomma terlalu sibuk dengan urusan mereka, Hyung."
Leeteuk tersenyum mendengar ucapan Kibum.
"Tapi tidak berarti mereka melupakan putra mereka, Kibumie. Setiap orang tua pasti khawatir jika tak mendapat kabar dari putranya. Buktinya Eommamu datang ke rumah ini. Beliau pasti sudah mencari tahu mengenai tempat tinggalmu. Itu menunjukkan kasih sayang beliau untukmu."
Ingin rasanya Kibum mempercayai ucapan Leeteuk. Tapi apa yang ia alami langsung selama ini sama sekali bertolak belakang. Appanya selalu disibukkan dengan urusan bisnis. Jarang sekali ada di rumah. Sedangkan Eommanya pun tak kalah sibuk dengan berbagai urusannya bersama istri-istri pengusaha ternama di Seoul.
Sejak kecil Kibum tak pernah mendapatkan perhatian langsung dari kedua orang tuanya. Masa kecilnya banyak dihabiskan bersama buttler dan juga maid di rumahnya. Bahkan saat Natal dan Tahun Baru pun orang tuanya tak ada di rumah.
Usapan di kepala Kibum kembali membawa Kibum ke saat ini. Membuyarkan semua lamunan Kibum.
"Jangan terlalu difikirkan. Istirahatlah. Ini sudah malam."
Kibum menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari duduknya dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Menarik selimutnya sebatas dada dan mulai memejamkan matanya.
"Jaljayo, Kibumie."
Kibum kembali membuka matanya dan tersenyum ke arah Leeteuk.
"Jaljayo, Hyungie."
Leeteuk tersenyum sebelum mematikan lampu kamar Kibum dan beranjak meninggalkan kamar Kibum.
~SBH~
Dua hari ini dilalui Kibum dengan istirahat di rumah. Benar-benar istirahat. Karena ia sama sekali tak diizinkan melakukan sesuatu yang berat. Bahkan jika Kibum tidak keras kepala, ia hanya diperbolehkan menunggu makanannya diantar ke kamarnya. Benar-benar protektif. Itu yang dirasakan Kibum. Walau ia juga sedikit merasa senang dengan hal itu. itu menunjukkan mereka semua menyayanginya.
Dan hari ini Kibum sudah dapat kembali menjalani rutinitasnya. Kembali menyibukkan dirinya dengan kegiatan kuliahnya. Ia memanfaatkan waktu dua hari ini untuk mendalami karakter yang akan ia perankan dalam drama kelompoknya. Ia sangat yakin dapat memberikan yang terbaik untuk kelompoknya.
Ia juga tak perlu khawatir dengan gangguan dari Sang Byun dan antek-anteknya. Seperti yang dikatakan Leeteuk, ia menyelesaikan permasalahan itu dengan cepat. Tentu saja itu bukan hal yang sulit untuk Leeteuk mengingat reputasinya di kampus mereka. dan Kibum bersyukur berkat hal itu.
"Kau sudah akan berangkat kuliah, Kibum-ah?"
Kibum menolehkan kepalanya ke arah meja makan. Dilihatnya Sungmin dan Shindong disana. Sepertinya mereka baru saja menyelesaikan sarapan mereka.
"Ne, Sungmin Hyung. Aku sudah banyak ketinggalan pelajaran. Lagipula aku masih harus menyiapkan drama bersama dengan kelompokku."
"Kau yakin?"
Kibum mengangguk.
"Sangat yakin, Hyung. Bukankah Jung uisa hanya menganjurkan untukku beristirahat selama dua hari. Dan ini adalah hari ketiga. Aku sudah boleh melakukan kegiatan lagi, kan?"
Shindong dan Sungmin tersenyum mendengar penuturan Kibum. Memang benar yang dikatakan Kibum. Dan tidak salah jika Kibum ingin kembali berangkat kuliah hari ini.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, Hyung. Annyeong."
Shindong dan Sungmin hanya menganggukkan kepala mereka mendengar Kibum berpamitan. Hari ini memang kebetulan mereka berdua tidak memiliki jadwal kuliah pagi. Shindong baru akan berangkat kuliah setelah makan siang nanti. Sedangkan Sungmin baru ada jadwal menjelang sore nanti.
~SBH~
"Kibum-ah!"
Kibum terpaku di tempatnya saat mendengar suara itu. Suara yang sejujurnya amat sangat ia rindukan. Terlebih saat secara refleks dirinya menatap ke arah sosok yang sudah memanggil namanya. Kibum seolah tak dapat mengalihkan pandangannya.
Otaknya menyuruhnya untuk segera meninggalkan tempat itu. Meninggalkan sosok yang kini tengah menatapnya penuh dengan kerinduan. Sosok yang telah satu tahun belakangan ini tak pernah ia temui secara langsung. Sosok yang ―
Grep!
― sangat ia rindukan.
Kibum membelalakkan kedua matanya saat merasakan dirinya berada dalam dekapan hangat sosok tersebut. Sebuah pelukan yang sarat akan rasa rindu di dalamnya. Penuh dengan kehangatan dan kasih sayang yang telah lama tak ia rasakan.
"Jeongmal bogoshippoyo, Chagi."
Hangat. Terasa sangat hangat di lubuk hatinya saat mendengar kalimat tersebut. Kibum memejamkan matanya. Berusaha meresapi kehangatan tersebut. Secara perlahan, ia mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan sosok itu. Mengeratkan pelukannya untuk menyalurkan rasa rindu yang juga tengah ia rasakan.
"Nado, Eomma," lirih Kibum.
Eomma Kibum tersenyum lembut mendengar suara dari putranya itu. Ia sama sekali tak dapat menyembunyikan rasa rindunya. Satu tahun tak dapat menemui putranya, Ibu mana yang tak akan merasakan rindu. Belum lagi rasa khawatir yang terkadang muncul karena tak mengetahui bagaimana keadaan putranya itu.
Eomma Kibum melepaskan pelukannya. Beralih menatap wajah tampan putranya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Siap menurunkan liquid bening yang akan membasahi wajah cantiknya.
"Uljima, Eomma," ucap Kibum saat pada akhirnya tetes liquid bening itu membasahi wajah Eommanya.
Eomma Kim kembali menunjukkan senyumnya. Ia menghapus air mata yang mengalir di wajahnya. Tak ingin membuat putranya itu khawatir.
~SBH~
"Bagaimana kabarmu, Kibumie?"
Eomma Kim memulai pembicaraan setelah kini mereka berada di salah satu cafe yang ada tak jauh dari kampus Kibum. Di hadapan mereka terdapat makanan dan minuman yang telah mereka pesan tadi.
"Aku baik-baik saja, Eomma. Bagaimana dengan Eomma?"
"Seperti yang kau lihat, Eomma juga baik-baik saja. Hanya saja ―"
Kibum memandang sang Eomma dengan penuh tanya saat sang Eomma menggantung ucapannya.
"Hanya saja hari-hari Eomma tak seindah dulu."
Eomma Kim berucap dengan pelan. Wajahnya terlihat sendu. Menunjukkan betapa dirinya merasa sangat kehilangan. Perginya Kibum membuat Eomma Kim sadar jika yang dibutuhkan oleh putranya itu bukan hanya limpahan materi. Tapi juga kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Eomma sangat merindukanmu, Kibumie. Selama satu tahun ini Eomma terus mencarimu. Hingga beberapa minggu lalu tanpa sengaja Eomma mendengar putra rekan bisnis Appamu menyebutkan namamu saat sedang berbincang dengan teman-temannya. Eomma pun mulai mencari tahu hal itu. Dan semua informasi yang Eomma dapat menunjukkan kau melanjutkan kuliahmu disini."
Eomma Kim mengenggam tangan Kibum. Menunjukkan betapa besarnya rasa rindu yang dimilikinya.
"Mianhae, saat itu Eomma tak bisa meyakinkan Appamu. Mianhae, Eomma tak ada disisimu saat itu. Eomma tak pernah mendengarkan keluhanmu, apa yang menjadi keinginanmu. Mianhae. Jeongmal mianhae."
Kibum balik menggenggam tangan Eomma Kim saat Eommanya itu kembali terisak. Ia tak ingin mendengar sang Eomma menyalahkan dirinya sendiri. Walau Kibum memiliki sedikit rasa kesal karena Eommanya lebih mengutamakan pekerjaannya, tapi Kibum tetap menyayangi Eommanya itu. Kibum tak pernah bisa melihat Eommanya menangis.
"Gwaenchana, Eomma. Harusnya aku yang meminta maaf pada Eomma. Aku tak bisa membuat Eomma dan Appa bangga padaku. Aku justru memilih pergi dari rumah. Seharusnya aku menuruti keinginan Appa untuk meneruskan kuliahku di bidang bisnis."
Keheningan mendadak terasa setelah Kibum menyelesaikan ucapannya. Kibum tak tahu harus mengatakan apalagi pada sosok yeoja di hadapannya itu. Kibum tak ingin membuat Eommanya itu bersedih. Tapi Kibum juga tak ingin jika dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.
"Kembalilah ke rumah, Bumie," ucap Eomma Kim pelan.
Kibum menatap nanar ke arah Eommanya.
"Mianhae, Eomma, aku tidak bisa."
"Eomma akan bicara dengan Appa. Eomma akan meminta Appa untuk mengizinkanmu melakukan apa yang kau inginkan. Eomma akan ―"
"Bukan itu masalahnya, Eomma," potong Kibum.
Ia menatap Eommanya lembut.
"Aku merasakan kenyamanan di rumah itu. Aku mendapatkan apa yang selama ini aku cari di sana. Aku memiliki banyak Hyung yang menyayangiku. Memiliki satu dongsaeng yang ingin kumanjakan. Aku tidak mendapatkan itu semua di rumah."
Kibum menarik nafas pelan.
"Appa dan Eomma terlalu sibuk dengan urusan kalian. Sejak kecil, aku hanya berada di rumah besar itu ditemani oleh maid dan buttler. Tanpa ada kasih sayang dari Appa dan Eomma. Aku tidak hanya memerlukan fasilitas melimpah yang kalian berikan. Bahkan aku tidak membutuhkan semua itu. Yang aku perlukan adalah kasih sayang dari Appa dan Eomma."
Kibum memejamkan matanya. dadanya terasa sesak jika mengingat kenangan masa kacilnya. Saat-saat ia hanya menghabiskan harinya bersama para maid.
"Mianhae, jeongmal mianhae."
Kibum kembali menarik nafasnya. Berusaha mengurangi rasa sesak yang ia rasakan. Ia menggenggam lembut tangan Eommanya.
"Uljima, Eomma. Eomma tidak perlu minta maaf. Aku mengerti dengan apa yang Appa dan Eomma lakukan. Tapi, untuk saat ini, aku lebih nyaman berada di Sapphire Blue. Mianhae, Eomma."
Eomma Kim menghapus air mata yang menetes. Ia tersenyum kecil dan mengangguk.
"Arraseo. Eomma mengerti. Yang terpenting, Eomma tahu kau baik-baik saja. Bolehkah Eomma memintamu sesekali mengunjungi Eomma? Eomma merindukanmu, Chagi."
Kibum mengangguk dan tersenyum.
"Ne, Eomma. Aku akan mengunjungi Eomma jika ada kesempetan."
Pasangan ibu dan anak itu saling melemparkan senyum. Menandakan hubungan mereka yang mulai membaik.
~SBH~
Kibum menginjakkan kakinya di Sapphire Blue dengan senyum yang terkembang. Wajahnya terlihat berseri. Sepertinya perbincangan dengan Eommanya tadi memberi banyak sisi positif bagi Kibum. Setidaknya, kini ia mengerti jika Eommanya sangat menyayanginya. Eommanya telah belajar dari pengalaman perginya ia dari rumah.
Senyum di wajah Kibum mendadak sirna saat melihat keadaan di ruang tengah. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat keadaan yang cukup kacau itu. leeteuk menunjukkan wajah cemasnya. Di sampingnya Yesung berusaha menenangkan Hyung tertua mereka itu. tak jauh dari mereka berdua, terlihat Sungmin yang sibuk dengan ponsel yang ada di genggamannya. Eunhyuk dan Donghae pun melakukan hal yang sama. Bedanya mereka berdua terlihat mondar-mandir di ruangan itu.
"Ada apa ini, Hyungdeul?"
Serentak, lima namja yang berada di ruang tengah menolehkan kepalanya ke asal suara. Dan hanya dalam hitungan detik, duo EunHae yang sejak tadi sibuk mondar-mandir menghambur ke arahnya. Mereka berdua mengguncang tubuh Kibum.
"Kau tidak apa-apa, Kibumie?"
"Tidak terjadi sesuatu yang buruk?"
"Apa ada yang terluka?"
"Aish, Hyung berhenti. Kalian membuatku pusing," sentak Kibum sebal.
Eunhyuk dan Donghae menghentikan kegiatan anarkis mereka. Sungmin yang melihatnya berjalan mendekat dan membawa Kibum menuju sofa yang ada di ruang tengah. Leeteuk tersenyum dengan penuh kelegaan melihat Kibum baik-baik saja.
"Sebenarnya ada apa, Hyung?" tanya Kibum. Ia masih tak mengerti dengan keadaan yang terjadi sesaat sebelum ia sampai. Belum lagi tindakan EunHae tadi. Membuatnya makin tidak mengerti.
"Aniyo. Kami hanya mencemaskanmu. Kami takut Sang Byun masih menganggumu."
Setitik perasaan hangat menjalar ke dalam tubuh Kibum mendengar penuturan Leeteuk.
"Mianhae, Hyung. Aku tadi bertemu Eomma dan mengobrol di sebuah cafe tak jauh dari kampus."
"Jeongmal? Lalu kenapa ponselmu tak bisa kami hubungi?"
Kibum menoleh ke arah Sungmin.
"Ponselku mati, Hyung. Aku lupa menchargenya tadi malam. Mianhae, membuat Hyungdeul khawatir."
"Gwaenchana. Melihatmu baik-baik saja, itu sudah cukup untuk kami," sahut Yesung.
"Kau menemui Eommamu?"
Kibum kembali mengalihkan pandangannya ke arah Leeteuk. Melihat Leeteuk yang menatapnya dengan senyum yang terkembang. Sepertinya Leeteuk merasa senang dengan ucapannya barusan.
"Ne, Hyung. Aku fikir, sudah cukup aku menghindari Eomma. Eomma pasti khawatir padaku. Walaupun Eomma tahu dimana aku berkuliah dan tinggal, tapi jika aku masih bersikap dingin, Eomma tak mungkin bisa menemuiku. Dan aku tak akan pernah tahu seberapa besar kasih sayang Eomma padaku."
"Kau benar. Aku ikut senang mendengarmu sudah kembali bisa berdamai dengan Eommamu. Aku harap, kau juga bisa memperbaiki hubunganmu dengan Appamu. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Kau harus ingat itu."
Kibum menganggukkan kepalanya. Ia meyakini kebenaran kata-kata Leeteuk. Sekeras apapun orang tua, pasti itu merupakan bentuk kasih sayang mereka pada anaknya. Dibalik kekeraskepalaan dan mungkin keegoisan orang tua, mereka hanya inginkan yang terbaik untuk anaknya.
"Kalau begitu, kalian istirahatlah. Besok kalian masih harus kuliah, bukan. Aku tak ingin kalian kesiangan besok."
"Ne, Hyung."
Satu persatau, Sungmin, Eunhyuk, Donghae dan Kibum berlalu meninggalkan ruang tengah. Menyisakan Yesung dan Leeteuk disana.
"Kau tidak kembali ke kamar, Yeung-ah?"
"Nanti saja, Hyung. Aku belum mengantuk."
Leeteuk mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Yesung.
"Ada apa, Yesung-ah? Tidak biasanya kau lesu seperti ini. Ada yang sedang kau fikirkan?"
Yesung menggeleng pelan. Hal itu justru membuat Leeteuk makin curiga. Dirinya tak pernah melihat Yesung selesu ini. Yesung yang ia kenal adalah namja yang bersemangat. Bahkan dirinya sering menjadikan yesung sebagai sandaran jika sudah mulai kerepotan mengurus dongsaengnya yang lain.
"Kau tidak bisa membohongiku, Yesungie. Aku mengenalmu bukan hanya satu dua tahun. Aku sudah mengenalmu lebih dari 5 tahun. Aku tahu kapan kau berkata jujur, kapan kau membohongiku."
Yesung menarik nafas pasrah. Dirinya memang tak bisa membohongi Hyung kesayangannya itu.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Hyung. Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri."
"Jeongmal?"
Yesung mengangguk ragu. Leeteuk tertawa pelan melihat hal itu.
"Ayolah, Sungie. Apa salahnya kau menceritakannya padaku. Mungkin aku bisa membantmu. Atau minimal mengurangi bebanmu. Eotte?"
Yesung mengangguk pasrah.
"Aku dan Ryeowookie ―"
TBC
Huweeee, mian, lama banget baru update lagi. Sempet kena WB waktu udah jalanin chap ini setengah jalan. Sampe akhirnya nyoba buat lagi dengan dirubah total di awal chap. Semoga Chingudeul masih bersedia nunggu FF ini sampe selesai, ne? Saya usahakan FF ini diselesaikan. Walaupun bentuknya hampir kayak series, tapi kalo gantung tengah jalan, rasanya bersalah banget sama yang udah luangin waktu untuk baca dan review. Semoga di tahun depan, bisa lebih rutin updatenya. Sekali lagi, mian untuk keterlambatan update yang sangat lama *bow
Last, mind to review?
