Disclaimer: I do not own Death Note or its characters. It all belong to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba.


Warnings: violence, child abuse, sexual harassment, language.

Chapter 8: Lari

L's POV

Hari semakin larut, namun aku belum mengantuk lagi. Selain karena aku insomnia, tidur seharianku tadi masih menyegarkan tubuhku. Aku berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar yang separuhnya tersembunyi oleh bayangan gelap, tidak sepenuhnya terusir oleh nyala lilin di atas meja. Benakku berkelana kepada Night God. Apakah ia sedang mengejarku? Sudah sampai sejauh mana? Atau jangan-jangan ia sudah sampai di kota ini? Aku mengusir pikiran itu jauh-jauh.

Kalaupun bertemu, ia tidak akan senekat itu untuk menangkapku di hadapan orang banyak. Aku teringat kembali akan peristiwa pelecehan di ruang makan tadi dan Near yang dianiaya, namun tidak ada yang menolong. Aku kesal. Kurasa sebaiknya aku tidak berharap akan ditolong jika aku bertemu Night God dan ia berusaha menculikku lagi.

Aku teringat sentuhan tangan preman mesum itu di tubuhku. Dengan jijik aku menggosok bagian yang telah ia sentuh sambil membuang jauh-jauh wajahnya dari pikiranku. Sighh. Semua orang bilang aku menarik, tapi aku sama sekali tidak merasa demikian. Apa aku memang tidak percaya diri atau persepsi kecantikan bagiku dan orang lain berbeda? Oh, ya ampun. Jangan gunakan kata 'cantik'. Itu aneh.

Aku bangkit dari ranjang dan membuka daun jendela yang berbeda dari yang tadi siang dan pemandangan di sisi gedung menyambut mataku. Semilir angin malam yang dingin menyapu helai rambut berantakanku. Indah. Pemandangan kota kecil pada malam hari di mana semua bangunan menjelma menjadi bayangan berhiaskan nyala ribuan kerlip lilin dan lampu minyak, memberikan sentuhan peradaban manusia di padang gurun yang luas ini.

Aku melongok ke bawah dan di halaman penginapan, di dekat pintu belakang ada sesosok anak kecil. Near. Walaupun gelap dan hanya ada sebuah lentera digantung di tembok, aku tidak akan salah orang karena warna rambut putihnya sangat terlihat. Ia duduk di atas tumpukan jerami dan di tangannya terdapat sebuah mangkuk berisikan potongan-potongan sayuran. Astaga, ia tidak mungkin kenyang makan makanan seperti itu.

Aku berjalan menuju rakku kemudian merogoh isi kantung bekalku dan menemukan sepotong roti kismis besar yang masih utuh dan terbungkus. Aku menuju jendela, memastikan Near masih di bawah sana sebelum menutup jendela dan meninggalkan kamar. Aku menuruni tangga, mencari pintu belakang. Beberapa orang bersuit-suit padaku (lancang!) dan aku tidak menggubrisnya. Akhirnya aku menemukan pintu kayu di pojok lorong dan membukanya.

Near menoleh kaget padaku. Aku tersenyum dan setelah menutup pintu, aku menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Halo," sapaku.

Near tersenyum kemudian celingukan.

"Aku tidak melihat adanya Tuan Bodam, jadi tenanglah. Oh iya, aku membawakan sesuatu untukmu." Aku menyodorkan roti kismis padanya dan matanya membesar melihatnya. Setelah kembali memastikan diri tidak ada yang melihat, ia berterima kasih padaku kemudian meraih roti tersebut. Ia memakannya dengan sukacita dan aku tersenyum senang melihatnya.

"Kau hanya makan ini?" tanyaku seraya memandangi mangkok sayurannya.

Ia mengangguk. Setelah menelan ia berkata, "Biasanya aku makan makanan sisa atau potongan roti. Mm… khusus hari ini aku hanya diberi sayuran karena mm… kelalaianku tadi."

Aku merasa bersalah. Ia mengalami ini semua, mulai dari dimaki preman mesum tadi, dibentak dan ditendang di depan umum oleh pria tidak berperikemanusiaan, dipukuli, kemudian dikurangi makanannya karena menolongku. Sementara aku bebas memilih makanan yang aku mau di istana dan tidak pernah kelaparan. Perhatianku tertuju pada sudut bibirnya yang membiru. Pasti sakit sekali.

Near menyadari pandanganku. "Oh, ini?" Ia meraba luka memarnya. "Tak masalah, 'kok. Lusa pasti juga sudah menghilang." Ia lalu tersenyum.

Anak ini… kuat. Pasti butuh kebesaran hati dan pengendalian diri yang luar biasa untuk tidak memaki orang yang menyakitinya ataupun mengeluh. Rasa sayang timbul di hatiku atas anak luar biasa ini dan aku tidak ingin melihatnya menderita lagi. Namun apa daya, besok aku harus pergi meninggalkan kota ini. Tapi aku memutuskan menunda keinginanku untuk menyampaikannya pada Near hingga esok pagi.

"Near? Near?" panggil seseorang dan pintu belakang pun terbuka, menyilaukan dengan sinar lilin-lilin dari dalam.

Kami terpaku. Nyonya Kasma. Ia memandangi Near dan aku, kemudian roti kismis yang masih disantap Near. Apa ia akan memarahi Near?

"Ya, Nyonya?" tanya Near.

Nyonya Kasma menghela napas. "Tidak apa-apa, teruskan makanmu. Kalau kalian ingin berbincang, silakan, tugas Near bisa aku atau pelayan lain yang mengerjakan." Ia tersenyum tipis kemudian menutup pintu kembali.

Aku menghela napas lega. Near kemudian memandangku.

"Jangan salah paham tentang Nyonya Kasma, ia orang baik, hanya saja takut pada suaminya. Suaminya pemarah dan suka memakai kekerasan."

Aku mengangguk. Jadi, Nyonya Kasma bukannya tidak peduli. Aku bersyukur bahwa tidak semua orang memperlakukan Near dengan buruk.

"Kak L, sebaiknya Kakak berhati-hati."

"Hng?"

"Shibuimaru Takuo, meskipun penampilannya demikian, ia merupakan putra salah satu orang paling berpengaruh di kota ini."

Glek. Ternyata ia bukan preman mesum biasa. Aku jadi merasa semakin bersalah karena Near menempuh bahaya dengan mengganggu putra orang berpengaruh demi menolongku.

"Kakak jangan tersinggung, ya, tapi Kakak L memang sangat cantik sekali."

Mukaku panas (pasti merah). "Sungguh?"

Near mengangguk. "Paling cantik di kota ini malah. Ng… kalau Kakak tidak suka dengan kata 'cantik', aku akan bilang tampan…."

Aku tersenyum. "Tidak masalah. Terima kasih, aku tersanjung."

Near balas tersenyum sambil melahap potongan roti terakhir. "Cantik dan baik sekali." Matanya bercahaya polos.

Manis dan tulus sekali. Sangat berbeda jauh dengan seseorang yang luar biasa kurang ajar dan mengintipku mandi bahkan menculikku serta suka cengar-cengir menyebalkan.

"Kakak mau kemana? Kenapa bisa berada di kota ini?"

"Ke ibu kota, aku tinggal di sana. Mm… ceritanya panjang, tapi yang jelas aku harus kembali ke ibu kota sesegera mungkin." Aku memutuskan untuk tetap merahasiakan identitasku serta semua kejadian yang menimpaku.

"Kakak tinggal di ibu kota? Wah, itu agak jauh… apakah istana itu besar? Megah? Apa Kakak pernah melihat Cendekiawan L?"

Aku menceritakan semampuku (dengan tidak terlalu detil agar ia tidak curiga) sambil tersenyum. Lucu juga, anak ini menanyakan soal cendekiawan negara dan bukannya raja.

"Jadi Kakak tidak pernah melihat Cendekiawan L?" Ia agak kecewa, "Yah, dia memang sangat misterius. Tapi kalau dia secantik dan sebaik Kakak, pasti sangat sempurna…."

Aku tersanjung. Meskipun secara tidak langsung, semua pujian itu ditujukan padaku, baik sebagai 'Kakak L' maupun Cendekiawan L. kami terus berbincang lama. Anak ini mengejutkanku dengan wawasannya yang luas serta kecerdasannya saat ia membicarakan hasil karyaku sebagai Cendekiawan L. Sejauh ini, baru dia dan Night God saja yang memukauku dengan kecerdasan yang tidak disangka-sangka. Duh, kenapa aku malah mengingat-ingat pemuda berandalan itu?

Tak lama, Near memohon diri untuk mengurusi ruang makan yang sudah waktunya tutup. Sambil tersenyum kepadaku ia melangkah dan menghilang di balik pintu.


Pagi tiba. Semalam aku langsung tertidur saat tiba di kamarku dan pagi sudah terang. Aku meregangkan tubuhku, membuka jendela dan menghirup udara pagi. Pemandangan pagi yang identik dengan hari kemarin menyambutku di bawah sana. Setelah puas memandang, aku mengambil kain cokelatku, mengalungkannya, lalu turun ke bawah. Aku ke meja, hendak memesan makanan. Nyonya Kasma menyambutku dengan senyuman hangat. Aku memesan roti berlapis selai buah (yang banyak) dengan secangkir susu yang banyaak gulanya.

"Maafkan soal kemarin," katanya tiba-tiba.

Aku mengangkat alis.

"Soal kau yang diganggu Tuan Takuo. Dia anak orang berkuasa di kota ini, jadi tidak ada yang berani mengusiknya. Jangan sampai kau mendapatkan kesan buruk tentang kota ini," katanya lagi.

Aku tersenyum mengerti. "Tak masalah, itu semua sudah berlalu." Aku menelusuri segala arah. "Maaf, Near mana, Nyonya?"

"Oh, dia pergi membeli sesuatu di pasar. Nanti juga kembali." Aku berterima kasih lalu berbalik.

"Oh iya." Kata-katanya menghentikan langkahku yang hendak menuju meja.

"Terima kasih kau begitu baik kepada Near. Kasihan dia, semua orang menjauhinya karena takut pada suamiku. Suamiku juga sering sekali menyakitinya."

Aku kembali tersenyum. Aku duduk di meja kosong (lagi, semua mata memandangiku) dan aku menikmati sarapanku. Aku tahu kenapa tempat ini selalu ramai meskipun pemiliknya semengerikan itu. Makanannya enak (walaupun yang kumakan hanya yang manis-manis saja).

Setelah selesai, aku duduk sejenak, menunggu Near pulang untuk berpamitan. Sebenarnya sangat berat bagiku untuk meninggalkannya. Waktu berlalu, ia belum kunjung datang. Kemudian kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak sambil menunggunya pulang, menikmati kebebasanku sedikit lagi. Aku mungkin tak akan pernah lagi mengalami pengalaman seperti ini di kota berikutnya, terlebih kalau sudah kembali ke istana. Aku bangkit berdiri, memakai kain cokelatku seperti kerudung kemudian keluar dari penginapan.

Aku melangkah dengan santai namun waspada. Siapa tahu aku bertemu dengan Night God. Namun hanya ada kemungkinan 15% karena meskipun kota kecil, Hesna memiliki banyak jalan, gang, dan lorong. Belum lagi jika ia memastikan keberadaanku di kota Amsos terlebih dahulu. Walaupun bertemu, dia tak mungkin berani macam-macam di tengah-tengah kota yang dipenuhi orang seperti ini. Orang-orang yang telah memulai aktivitasnya semakin banyak memenuhi jalanan. Banyak yang tersenyum padaku dan aku membalas. Kedai-kedai pinggir jalan telah buka dan aneka macam gerobak mengarungi jalan.

Sambil mengamati sekelilingku, aku berpikir soal rute yang akan kutempuh berikutnya. Setelah ini aku akan menuju Kota Rastarazni kemudian mengambil rute memutar menuju Kota Obsetaru baru kemudian langsung menuju ibu kota. Aku menghela napas. Aku menatap pemandangan kota dan orang-orangnya dan menyadari kalau setelah tiga hari ke depan semua ini hanya tinggal kenangan. Berikutnya aku akan kembali mendekam di istana dan melaksanakan tugasku sebagai cendekiawan negara. Aku akan merindukan semua ini namun aku harus pulang. Harus, demi Wammy.

Aku berjalan melewati gerobak jerami besar dan tiba-tiba seseorang muncul dari baliknya, merengkuhku dari belakang dan membekap mulutku kemudian menarikku ke gang di balik gerobak dengan sangat cepat.

Aku memberontak dan jantungku berpacu kencang. Siapa? Night God-kah? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia berada di belakangku. Jeritanku tertahan bekapannya dan aku meronta namun tidak bisa lepas. Aku tidak yakin ada yang melihatku ditarik ke dalam gang dan gerobak jerami itu menghalangi gang, memutus pandangan mata orang. Tubuhku dengan ringannya dibawa semakin dalam dan penyerangku membelok lagi ke sebuah gang buntu yang penuh dengan peti dan balok kayu bekas.

Tubuhku dibaringkan di atas peti-peti kayu bekas dan penyerangku menunjukkan wajahnya. Shibuimaru Takuo. Ia menahan kedua tanganku dengan tangan kiri ke atas kepalaku sementara tangan kanannya masih membekapku.

"Halo Manis, jumpa lagi dengan Shibutaku." Ia menyeringai menampakan gigi-giginya yang kuning.

Mataku membesar. Bahaya.

"Tidak ada yang menyoraki, tidak ada si Bocah Uban yang mengganggu, sempurna. Kita berdua memang memerlukan privasi." Ia melepaskan tangan yang membekapku dan aku langsung berteriak keras. "Ssshhh, percuma, Manis, gang ini sangat dalam dan orang-orang terlalu sibuk memulai pekerjaan mereka."

Tidak. Mataku mulai berair dan dia tertawa. Aku meronta, kakiku berusaha menendanginya, namun posisinya sulit kujangkau. Aku tidak menyangka ia akan berbuat sejauh ini.

"Kamu semakin menggemaskan jika begitu." Ia membuka kakiku, menempatkan dirinya di tengah-tengah sehingga kakiku semakin tidak mampu menjangkaunya. "Kau benar-benar makhluk paling cantik yang pernah kulihat, Tuan."

Aku menjerit semakin keras. Aku tahu apa yang mau ia lakukan. Cengkeraman tangannya makin keras dan matanya memancarkan… nafsu. Tidak. Tidak. Tidak. Da-dahulu... hal ini juga pernah nyaris terjadi. Jangan terulang lagi. Jangan sampai terjadi yang lebih buruk. Aku makin meronta meskipun ia tetap tidak bergeming.

"Ow, belum pernah, ya?" Ia terkekeh. "Waw, beruntungnya aku… akan jadi yang pertama."

Aku gemetaran mendengar kata-katanya. Belum pernah. Tepat sekali. Ia terbahak melihat reaksiku yang dianggapnya sebagai pembenaran.

"Semalaman tadi aku tak berhenti membayangkan betapa indahnya tubuhmu jika tidak mengenakan pakaian yang mengganggu ini."

Tangan kanannya menarik lepas kerudung cokelatku lalu meraba leherku. Napasku tertahan dan aku memandangnya jijik. Aku kembali menjerit dan ia nampak menikmati jeritanku. Tangannya mulai bergerak turun, meraba dadaku. Aku gemetar hebat. Aku bahkan tidak mampu menjerit maupun meronta lagi. Air mataku mulai turun dan aku mulai terisak. Aku tidak suka disentuh. Meskipun ia menyentuh di atas pakaianku, aku tidak sanggup menahan ketakutan dan rasa jijikku yang amat sangat. Apalagi preman ini menyentuh di bagian yang tidak kuinginkan disentuh orang lain.

"Tenang, aku berjanji akan lembut. Tidak mungkin 'kan, aku menyakiti pemuda semenawan dirimu…?"

Aku meludahi wajahnya. Kukira ia akan marah, namun ia malah tersenyum lebar, mengusapnya dengan jari dan menjilatinya. Aku semakin jijik dan mau muntah.

"Baik, kalau kau ingin dikasari, aku akan memenuhinya. Tapi, kuberi tahu saja ya, kalau aku main kasar, bisa-bisa kau sekarat dan tidak bisa mengenali dirimu lagi begitu aku selesai."

Isakanku makin keras.

"Jika kau menurut, aku tidak akan mengasarimu, jadi tenang saja…." Tangannya sekarang turun ke perutku, lalu jarinya mulai merayap ke balik pakaianku.

Aku tidak tahan lagi. "TIDAK!" pekikku dan aku kembali meronta dengan lebih hebat dari sebelumnya. Wajah cabulnya mengeras, ia mulai marah.

"BAIK! KALAU KAU MEMANG MINTA DIKASARI, AKU AKAN…."

DUUAAAKKKK!

Matanya mendadak kosong, lalu cengkramannya mengendur. Aku memekik saat tubuhnya ambruk ke arahku dan kutahan dengan kedua tangan sebelum menimpaku. Ugh, berat. Aku mendorong tubuh beratnya ke samping kemudian aku bangkit duduk.

Near. Ia berdiri terengah-engah sambil memegang balok kayu besar. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran. Aku bangkit berdiri, menghapus air mataku dan merapikan pakaianku.

"Near?" Ia tidak bergeming.

"N-Near?" Kali ini aku berlutut di hadapannya, memandang matanya yang nampak kosong.

"K-K-Kak…L…," ucapnya terbata-bata, "A-apa… aku… mmmembunuh… nya…?" Wajahnya semakin pucat, kini ia lebih pucat dariku dan hampir menyusul warna rambutnya.

Kutengok si Preman Cabul itu dan dadanya masih bergerak. Masih bernapas.

"Near, tatap aku, Near." Ia menurut. "Ia masih hidup, masih bernapas." Aku mengelus sisi tubuhnya, menenangkannya.

Warna mulai kembali memenuhi Near. "M-masih hidup…?"

Aku mengangguk. Ia bernapas lega. Tubuhnya berhenti gemetar dan ia melepaskan balok kayu itu, menaruhnya di atas tanah.

"Terima kasih, Near…. Kau menyelamatkanku dua kali…."

Wajah Near merona ringan. Ia tersenyum.

"Ayo kita pergi sekarang, sebelum dia bangun."

Near mengangguk. Aku memungut kain cokleatku lalu sambil menggandeng Near, kami berlari meninggalkan gang buntu itu.

Kami masih bergandengan tangan dan berjalan menembus kerumunan orang, menuju penginapan. Napas dan detak jantungku masih cepat, efek kejadian tadi.

"Bagaimana kau… mm… menemukanku, Near?" Aku memandangnya.

Ia menengadah dan menjawab, "Tadi ketika Kakak pergi dari penginapan, aku baru pulang ke penginapan. Saat aku mau ke dapur, dari jendela aku melihat Tuan Takuo berjalan ke arah yang sama dengan Kakak tadi. Perasaanku tidak enak, aku keluar dan dia memang membuntuti Kakak. Aku menyusul, lalu sempat kehilangan kalian berdua. Aku panik dan mencari, lalu samar-samar aku mendengar teriakan Kakak dan aku masuk ke gang tadi lalu…." Genggaman tangannya semakin erat. Ia jelas membenci hal yang telah ia lihat.

"Near, terima kasih… kalau kau tidak menyelamatkanku, aku…." Suaraku tersendat.

Aku masih ingat bagaimana preman bajingan itu menyentuhku. Aku tidak mau mengingatnya tapi tubuhku ingat. Aku agak gemetar. Genggaman Near bertambah erat dan ia menambahkan satu tangannya di atas tanganku, menenangkanku. Aku tersenyum padanya dan gemetarku memudar.

Kami hampir sampai di penginapan dan mataku menangkap sosok di jalan yang berlawanan arah. Tuan Bodam. Langkah kami terhenti dan aku yakin Near juga melihat ke arah yang sama denganku. Dari jauh pun aku bisa melihat amarah di wajah Tuan Bodam, lebih marah dari kemarin malam dan ia terlihat seperti mau membunuh orang. Perasaanku sangat tidak enak. Sesuatu akan terjadi. Oh, tidak. Near. Ia pasti mau melakukan sesuatu pada Near. Aku menarik tangan Near masuk ke dalam penginapan sebelum Tuan Bodam melihat dan menutup pintu. Area makan agak sepi, hanya ada beberapa orang saja dan Nyonya Kasma nampak terkejut melihat kami yang buru-buru masuk.

"Ada apa?" tanya Nyonya Kasma.

"Su…suami Anda…. Dia mau kemari…." Aku tidak bisa menyusun kata-kata karena panik. Near memucat. Dan seperti tadi, kulitnya hampir menyusul warna rambutnya.

Nyonya Kasma berwajah paham. "Sembunyi," komandonya sambil membuka pintu lemari bambu di tembok dekat meja dapur.

Kami menurut dan tubuh kami berdua yang kurus muat di dalamnya lalu Nyonya Kasma menutupnya. Dari sela-sela bambu aku bisa melihat pemandangan dalam ruangan meskipun terbatas dan menjadi bergaris-garis. Dari dalam, kami dapat melihat area makan namun Nyonya Kasma hanya terlihat dari belakang saja. Pintu masuk terbuka dan aku nyaris dapat mendengar suara jantungku bertalu-talu keras. Near gemetar. Aku merangkulnya dan berusaha tidak mengeluarkan suara.

"Kasma, mana Near?" tanya Tuan Bodam saat ia melangkah masuk. Langsung pada sasaran. Entah apa lagi kesalahan Near baginya kali ini.

"Belum pulang dari pasar. Kenapa?" Suara Nyonya Kasma terdengar luar biasa tenang. Bahasa tubuhnya pun tidak mencurigakan dan meskipun tidak dapat kulihat dari dalam sini, wajahnya pasti juga kelihatan tenang. Aku agak khawatir dengan para pengunjung namun semuanya tak kusangka-sangka bersikap sangat koperatif. Mereka tetap makan dan mengobrol seperti tidak ada yang disembunyikan.

"Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya."

Membicarakan sesuatu. Near semakin gemetar dan aku merangkulnya lebih erat.

"Boleh kutahu tentang apa?"

"Kau tahu, Bocah Bodoh itu tidak henti-hentinya memberiku masalah," katanya sambil mengambil kursi dan duduk di depan meja dapur, menghadap Nyonya Kasma. "Tadi aku bertemu dengan Tuan Shibuitaro Takuo dan ia marah padaku atas kejadian yang menimpa putranya di sini kemarin malam. Katanya Anak Bodoh itu sengaja menumpahi putranya dengan kopi panas dan mempermalukannya di depan umum. Bisa kau bayangkan? Aku dicaci oleh orang yang berkuasa di kota ini di depan orang banyak! Anak itu memang harus diberi pelajaran."

Near meringkuk di pelukanku. Aku balas memeluknya dan keringat dingin mulai mengucur di dahiku.

"Aku menyaksikan peristiwa itu semalam. Near melakukannya karena ingin menolong pemuda yang dilecehkan oleh Tuan Muda Takuo, menurutku itu bukanlah hal yang salah."

"Apa kau gila?" Wajah Tuan Bodam semakin garang. "Harusnya biarkan saja Tuan Muda itu berbuat semaunya. Apa kau lebih suka kalau penginapan kita ini dipaksanya tutup? Penginapan kita sudah menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi di kota ini! Aku tidak mau usahaku bangkrut hanya karena perbuatan bodoh sok pahlawan bocah sial bernama Near itu!"

"Lalu apa yang mau kau lakukan? Semuanya sudah lewat dan kita tinggal minta maaf saja."

Wajah Bodam semakin mengerikan. "Minta maaf? Bukankah semua orang di kota ini tahu bahwa keluarga Takuo itu pendendam? Seribu kali pun kita minta maaf tidak ada gunanya. Akhirnya, aku mengatakan padanya kalau aku akan membuat Bocah Bodoh itu menderita. Sangat menderita."

Kali ini aku ikut gemetar. Near membekapkan kedua tangannya pada mulutnya, menahan suaranya.

"Aku bilang pada Tuan Takuo kalau aku akan menjual Bocah Sial itu ke pedagang budak. Kebetulan sekali, kemarin malam aku bertemu Gars, penjual budak kenalanku dan ia menginap di tempat Krusban, jadi aku tadi menemuinya dan bilang akan menjual Near. Ia pernah makan di sini jadi dia tahu yang mana Near dan kau tahu? Dia sangat antusias bahkan setuju aku menjualnya dengan tiga keping emas! Hahaha, tak kusangka, Bocah Sial itu bisa bernilai setinggi itu! Mungkin inilah jasa paling besar yang Near pernah berikan pada kita! Insiden kemarin, menginapnya Gars di kota ini, semuanya seperti sudah ditakdirkan saja!"

Near nyaris memekik, tertahan bekapan tangannya. Ia yang selama ini begitu kaku dan tenang dalam ekspresinya berubah emosional. Air mata bergulir di pipinya. Dijadikan budak. Hal ini jauh lebih menakutkan ketimbang dipukuli dengan gagang sapu sampai tak bisa bangun. Ini bagaikan vonis mati. Aku memeluknya lebih erat dan rasanya aku juga mau menangis.

"Aku berjanji akan membawanya siang ini. Begitu dia pulang akan langsung kuseret dia ke tempat Krusban. Setelahnya akan kuambil uangnya dan meminta bukti tertulis untuk kutunjukkan pada Tuan Takuo."

"Apa tidak ada cara lain?" Nyonya Kasma juga terdengar terpukul.

"Kau kira aku bisa menarik kembali kata-kataku? Aku akan lebih malu lagi kalau kulakukan itu! Lagipula aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Yah, sayang juga 'sih, kehilangan sansak tinju kegemaranku. Tapi tiga keping uang emas lebih dari cukup sebagai kompensasi." Ia tertawa mengejek. "Akan kutunggu dia."

Waktu terus bergulir, Tuan Bodam masih menunggu. Near menangis tanpa suara di dadaku. Aku mengelus rambutnya dengan sayang dan sedih. Tuan Bodam menggetuk-getukan jarinya di meja dengan makin tidak sabar. Tidak. Hal ini tidak boleh terjadi. Aku harus menyelamatkan Near.

"Kemana Bocah Sialan itu? Apa saja yang dilakukannya di pasar sampai sesiang ini?"

"Mungkin dia kena masalah?" Nyonya Kasma mengelap piring makan dan mencuri pandang sekilas pada kami.

"Cih, kapan dia tidak buat masalah?" Tuan Bodam bangkit berdiri. "Akan kususul dia. Kalau dia pulang tahan dia, Kasma!" Ia lalu berjalan menuju pintu lalu keluar dan membantingnya.

Orang-orang langsung berbisik heboh dan Nyonya Kasma melongok keluar jendela, memastikan suaminya benar-benar telah pergi lalu memberi tanda pada kami. Kami keluar dari lemari. Near kelihatan kacau. Ia masih menangis dan aku masih memeluknya. Diam-diam aku khawatir. Apa Nyonya Kasma juga bermaksud menjual Near setelah mendengar harga penjualan tadi?

Ia menghampiri kami, berlutut di depan Near. "Oh, Near…." Near menengok padanya sambil terisak. Ia lalu memeluk Near. Kesedihan sangat jelas mewarnai wajahnya.

"Lari," katanya pada Near. Mata Near melotot. "Selama ini aku tidak bisa menolongmu. Sekarang aku harus menyelamatkanmu dari neraka ini. Lari, Near. Lari dan jangan kembali."

Near terisak dalam pelukannya. Nyonya Kasma melepas pelukannya, lalu berdiri menghadapku. "Tuan, bawa anak ini. Larilah sebelum suamiku pulang. Bereskan barang-barangmu segera. Kau harus menyelamatkan anak malang ini."

"Tapi… suamimu…. Bagaimana nanti kau akan menjelaskan padanya?"

"Kau lupa? Aku aktris yang hebat. Aku akan bilang padanya kalau kalian lari tanpa sepengetahuanku setelah kalian pergi dari penginapan, Tuan. Sekarang, cepatlah pergi sebelum suamiku kembali."

Aku tersentak. Aku langsung berlari menuju kamarku dan membereskan barang-barangku lalu turun ke bawah. Semua pengunjung telah bangkit berdiri. Keharuan memenuhi wajah mereka. Near telah berhenti menangis. Aku menghampiri Near dan Nyonya Kasma, lalu meletakkan kunci kamarku di atas meja. Nyonya Kasma tersenyum dan ia beserta para pengunjung mengantarkan kami keluar lewat pintu belakang.

Kami berhenti di samping kuda cokelatku. Aku memasukkan barang-barangku ke dalam kantong pelana sementara Near memberi Nyonya Kasma pelukan untuk terakhir kalinya. Aku menjabat tangan Nyonya Kasma lalu aku naik kuda, Near menyusul lalu memeluk pinggangku dari belakang. Setelah lama saling menatap dalam kebisuan, aku memacu kudaku perlahan sambil menengok ke belakang. Nyonya Kasma dan para tamu nampak melambaikan tangan mereka.

Mereka menghilang dari pandanganku saat kuda berbelok. Near memberitahuku arah pasar dan aku menghindari arah tersebut. Setelahnya aku memacu kudaku ke arah Kota Rastarazni, meninggalkan semua hal mengerikan di belakang sana bersama Near, rekan seperjalanan baruku.


*L kabur dengan Near. Bagaimana berikutnya? Di chapter berikutnya, Light akan muncul lagi.

**Mungkin dua chapter berikutnya akan sedikit lebih menegangkan dan akan ada action-nya.

***Terima kasih bagi yang telah membaca maupun me-review. Thanks to Claire Lawliet, Orange Burst, Sora Tsubameki, Rai2-Chan, Vand-Lawliet-Keehl-Jeevas, YuuRi Uchiha-Namikaze, Rosi-chan lelalelo, dan Neo Kaze-Hime. Salam, PenWanderer.