Going Crazy
Mingyu x Wonwoo | Meanie
Rated T
Romance | Family | Friendship(?)
©jxngwoo
Warn: Yaoi/BoysLove/Typo(s)/Absurd language(?)
Don't be so serious guys~
-00-
A Date?
-00-
Ini hari minggu dan Wonwoo bangun dengan semangat. Pukul 6 dia sudah bangun dan mandi dengan waktu 15 menit. Dengan cepat ia berganti dengan baju kausnya serta celana training dan turun kebawah untuk sarapan.
"Ohayou otousan, okaasan," Wonwoo duduk disebelah Jungkook dan bersebrangan dengan Ibunya. Ia mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai, berusaha mengabaikan Mingyu yang menatapnya sedari tadi.
"Wonu-chan tumben sudah mandi. Kenapa?" tanya Nyonya Jeon. Wonwoo berusaha menyembunyikan senyumnya. "Ada janji."
'– Janji sama Jieqiong. Cih.' Batin Mingyu sinis dan dia menggigit rotinya dengan kasar. Hell, moodnya tiba-tiba memburuk dan dia menunjukkan wajah kesalnya, berharap jika Wonwoo bakal peka tapi nyatanya tidak.
Menganggap Mingyu ada saja tidak, gimana Wonwoo mau peka coba? Ck.
"Tumben-tumbenan kamu ada janji sepagi ini, nak." Tuan Jeon menatap anak tengahnya heran. "Ngomong-ngomong, selamat sudah masuk 90 besar, Mingyu-ya." Lanjut Tuan Jeon menatap Mingyu, membuat Mingyu mengganti wajah kesalnya menjadi tersenyum kikuk. "Terima kasih, Paman."
"Dua minggu lagi ujian baru pengumuman kelulusan, kan?" Nyonya Jeon menatap Wonwoo dan Mingyu bergantian. "Wonu-chan jadi masuk Seoul University, kan? Gimana dengan Mingyu-kun?" tanyanya.
Mingyu lagi-lagi tersenyum kikuk. "A- aku bakal coba di Cyber University."
Dan Wonwoo tersedak mendengarnya. Jungkook menepuk-nepuk punggung Wonwoo. "Kamu kenapa tersedak tiba-tiba, hyung?"
Wonwoo menggeleng cepat. "Enggak kenapa."
.
Pft, bolehkan Wonwoo senang karena itu artinya dia bakal menikmati masa kuliahnya tanpa Mingyu?
-00-
"WONU HYUUUNG~"
Itu jeritan merana dari Kim Mingyu di balik dinding sebuah bangunan.
Iya, Mingyu dkk. sudah berada di Lotte World dan sekarang ngestalking Wonwoo dan Jieqiong yang mengantri sebuah wahana sembari mengobrol dan Mingyu menjerit karena Wonwoo lebih sering tersenyum sekarang.
Ada rasa nyesek di kokoro Mingyu karena tahu Wonwoo tersenyum karena bisa bersama Jieqiong sekarang. Ini lebih nyesek dari pada waktu Wonwoo menolaknya dulu. Bener-bener nyesek, bung!
"Holy shit tiang sialan! Jangan ngundang perhatian orang, bodoh!" Jihoon menyikut perut Mingyu dengan keras sekaligus menginjak kakinya. "Sekali lagi berisik, aku bakal ngebawa kalian semua keluar dari sini." Lanjutnya datar.
Sebodo amat sama Mingyu yang kesakitan. Jihoon sudah badmood karena dijemput paksa Soonyoung tadi padahal dia sudah bersikeras buat nunggu di depan Lotte World saja, mana Soonyoung ngebut bawa motornya. Jihoon, kan, jadi harus berpegangan sama jaket Soonyoung sepanjang jalan.
Oh, dan jangan lupakan sumpah serapah yang Jihoon keluarkan selama perjalanan tadi.
Mingyu meringis. "Anjirlah badan kecil gitu tenaganya laki amat." Soonyoung mempukpuk punggung Mingyu dan berguman 'sabar ya' dengan nada sok prihatin.
"Cih, aku gak pernah nyangka bakal ikut-ikutan tindakan bodoh kalian ini." Gerutuan keluar dari mulut Jihoon, pemuda lain yang berada di sebelahnya menghela nafas. "Jihoonie jangan menggerutu gitu dong. Kita kan sudah ngikuti syarat-syarat yang Jihoonie kasih."
Jihoon berdecak. "Aku merasa mengkhianati Wonwoo," ucapnya lalu melirik pada pemuda yang menatapnya memelas. "Dan jangan pasang muka gitu, Kwon. Aku mual."
"Mengkhianati Wonwoo dengan tujuan begini gak masalah, Ji. Siapa tau kamu jadi ketagihan– oke, aku bercanda." Junhui mengangkat tangan tanda berdamai saat dilihatnya Jihoon akan memukulnya.
"Aku kenapa lebih tertarik ngeliat Minkyung sama Seokmin berlagak kayak orang pacaran gitu ya." Minghao out of topic. Dia menatap Minkyung dan Seokmin yang berjarak lebih dekat dengan Wonwoo dan Jieqiong. Mereka berdua tentunya memakai penyamaran dan terkadang melakukan skinship jika Wonwoo atau Jieqiong menoleh ke belakang.
Ketiga orang yang lain menatapnya datar sedangkan Junhui mengelus dada. "Untung aku sayang kamu, Hao."
"Loh? Aku salah?" Minghao bertanya polos.
Skip dengan gerombolan yang itu dan sekarang beralih pada Minkyung dan Seokmin.
"Jangan acak-acak rambutku, sialan!"
"Kamu juga jangan cubit aku keras-keras, dodol!"
"Dodol teriak dodol. Dasar bego!"
"Kamu juga bego, bego!"
"Berisik sialan!"
"You lil shit–"
"Ah oppa~ habis ini kita pergi cari manisan, ya? Aku mau permen kapas~"
Seokmin sweetdrop karena Minkyung tiba-tiba berubah drastis dengan bergelayut di lengannya saat Wonwoo melirik ke belakang. Ia mencuri lihat dari ekor matanya dan menyengir canggung pada Minkyung karena Wonwoo memicing saat melihat mereka berdua.
Jarak mereka itu hanya terhalang 7 orang dari Wonwoo dan Jieqiong. Mana dari tadi dia dan Minkyung lebih sering anarkisan dari pada skinship sampai dipandang aneh dengan orang sekitar, jadi gak heran jika Wonwoo atau Jieqiong sering menoleh ke belakang karena suara ribut dari Seokmin dan Minkyung.
Untung Seokmin dan Minkyung sudah di dandanin layaknya sepasang turis sedemikian rupa sama Kaeun tadi pagi.
(pst: Mingyu menceritakan semuanya pada Kaeun kemarin malam dan memaksa kakaknya itu untuk turut membantu penyamaran gerombolannya.)
"Ahahaha, kamu lucu banget deh, Kyungie. Iya habis ini cari manisan ya~" Seokmin ikut-ikutan pakai nada melambai dan mencubit pipi Minkyung sembari kode dengan matanya. Wonwoo ngeliat ke kita, dodol, itu kode dari Seokmin dan Minkyung melirik pada ekor matanya lalu kembali pada Seokmin sambil tersenyum lebar. "Oppa saranghae~"
.
Tolong. Seokmin dan Minkyung mau gumoh jadinya.
-00-
"Sunbae kenapa?" tanya Jieqiong. Wonwoo yang tadi tengah memperhatikan sepasang kekasih beberapa meter di belakangnya, hanya menggeleng. "Enggak, cuma berasa familiar sama orang. Gak terlalu penting."
Jieqiong cuma bergidik dan menatap lurus ke depan. Keduanya sedang antri wahana Roller Coaster yang bernama Atlantis. Jieqiong sebenarnya yang ingin naik ini terlebih dahulu, dan Wonwoo sebagai calon pacar yang baik– uhuk, cuma ngeiyain.
Untung dia gak takut naik beginian.
"Sunbae, habis ini mau coba wahana apa?" Jieqiong mencoba basa-basi. Wonwoo menatap sekitarnya. "Hm, keberatan mencoba Gyro spin?"
Gyro spin itu mirip seperti Gyro drop. Bedanya dia hanya memutar dari satu sisi ke sisi lain, bukan dari atas kebawah. Dan untungnya Jieqiong suka itu jadi dia mengangguk. "Gak keberatan sama sekali, sunbae."
Wonwoo mengernyit mendengar kata sunbae dari Jieqiong. "Ini bukan wilayah sekolah, jangan memanggilku sunbae. Terlalu formal, Jieqiong." Wonwoo berdehem kemudian. "Panggil oppa saja kalau mau."
"OHOK!"
Wonwoo sekali lagi melirik ke belakang pada pasangan yang tadi. Yang laki-laki sedang tersedak dan pacarnya menepuk-nepuk punggung si laki-laki. Pasangan aneh, pikirnya. Ia beralih lagi pada Jieqiong, melanjutkan perkataannya, "Yah, aku gak memaksa sih. Terserahmu mau panggil aku apa." Wonwoo mengaktifkan mode cueknya, berpikir jika Jieqiong bakal kurang nyaman karenanya namun Jieqiong justru menggeleng. "Wonwoo oppa kedengaran bagus. Aku berasa lagi jalan dengan kakakku sendiri hehe."
Krik.
Wonwoo mengerjap kemudian mengelus dadanya tanpa sepengetahuan Jieqiong yang sedang berbalik badan untuk menerima telpon. Gak kenapa-kenapa sekarang cuma dianggap kakak. Hatiku kuat, kok. Nanti malam kamu bakal nganggap aku lebih, Jieqiong-ah, batinnya.
-00-
"KALIAN JANGAN BERCANDA DONG!"
Ini sudah kesekian kalinya Mingyu berteriak. Minkyung dan Seokmin sudah kembali ke gerombolannya, bergantian dengan Junhui dan Minghao yang sekarang ngestalk Wonwoo dan Jieqiong entah kemana.
Mereka– Mingyu, Soonyoung, Jihoon, Seokmin, dan Minkyung tengah berkumpul di sebuah kafe untuk makan siang sebentar. Mingyu segera mendesak mereka berdua untuk menceritakan apa saja yang Wonwoo lakukan dengan Jieqiong. Dan ketika mereka berdua menceritakan tentang panggilan oppa itu, refleks Mingyu berteriak dan Jihoon memasang wajah senangnya.
"Ah, Wonwoo makin dekat sama Jieqiong. Senangnya aku." Kata Jihoon sambil memasang seringainya pada Mingyu.
Sedangkan Mingyu sekarang–
"WONWOO HYUNGKU TEGA HUWEEEEEE!"
Mewek.
Lagi.
Soonyoung menatap ilfil pada Mingyu. "Bro, mewek boleh, tapi please, jauh-jauh dari aku. Ingusmu kemana-mana tuh."
"H- Hiks –srottt– Wonwoo hyungku –srottt– HUWEEE WONWOO HYUNG– Fak you Kim Minkyung!"
Minkyung menggetok kepala Mingyu dengan nampan yang ada. "Dengerin aku ngomong dulu, bodoh! Aku belum selesai, nih."
Mingyu manyun. "Ya makanya buruan."
Minkyung menghela nafas. "Jieqiong memang manggil gebetan tsunderemu itu pakai oppa, tapi dia bilang kalau dia berasa jalan sama kakak laki-lakinya. KAKAK LAKI-LAKINYA, KIM MINGYU! BUKAN PACAR!"
"Ekhem, maaf ya, ngomongnya jangan sampai muncrat juga. Saya hampir kena virus ini. Nanti Jihoonie gak mau deket-deket sama saya." Soonyoung gantian menatap Minkyung ilfil. Jihoon menatapnya malas.
"Tuh, gebetanmu kena familyzone." Kata Seokmin, dia nyolong soda punya Mingyu dengan santai.
Krik krik.
Mingyu diam dulu.
Detik kelima dia mulai mengerjap.
Detik kesepuluh dia mulai menyeringai.
Detik keduapuluh dia–
"MAMPUS! MAKAN TUH FAMILYZONE! MENDING AKU NGANGGAP KAMU FUTUREZONEKU! MUAHAHAHAHA!"
Ketawa jahat sampai disangka kerasukan sama pengunjung lain.
"Shaddap tiang!" Jihoon melotot dan Mingyu refleks diam. Ia berdecih, "Kenapa kamu senang gebetanmu digituin? Mikirin perasaan Wonwoo gak sih kamu?"
"Lah, Wonwoo hyung aja gak mikirin perasaanku tuh. Lagian, kan, aku cuma senang gini aja masa gak boleh?"
Jihoon berguman terserah lalu menggigiti cheeseburgernya kasar.
Dia benar-benar menyesal sekarang sudah ikutan gerombolan aneh Mingyu ini.
.
Flashback ke malam Soonyoung nganter Jihoon pulang dulu, yuk!
.
"Aku pulang!"
"Ah, Jihoonie sudah pulang– loh, Soonyoung?"
Nyonya Lee, Mama Jihoon, menyambut anak bungsunya yang baru pulang dan mengernyit saat melihat Soonyoung yang mengekori putranya. Soonyoung menyengir lebar. "Hehe, selamat malam, Bibi!"
"Malam, Soonyoungie. Ngantar Jihoon pulang, nih, ceritanya? Duh, Soonyoung baik banget. Menantu material banget, sama kayak Jimin. Ayo masuk dulu, Bibi ada buat kue, kamu bisa bawain buat Bundamu nanti." Suruh Nyonya Lee. Dia melirik Jihoon yang hendak melengos pergi ke kamarnya namun buru-buru dia menarik tas anaknya. "Kamu temenin Soonyoung dulu, gih. Ke kamarmu juga gak kenapa-kenapa. Mama mau ke dapur sebentar."
Dan Nyonya Lee meninggalkan anaknya dan Soonyoung begitu saja. Jihoon melotot namun kemudian mendengus. Ia duduk di hadapan Soonyoung yang sudah terlebih dahulu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu rumah Jihoon.
"Cepatlah musnah dari hadapanku setelah ini, Kwon." Jihoon berkata datar. Soonyoung menatap polos. "Hm? Emang aku mau?"
"Brengsek!"
Soonyoung menyeringai. Dia pindah duduk di samping Jihoon lalu merangkul pundaknya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jihoon.
"Kamu tau, sekarang aku bisa bilang ke Papamu jika aku mau pertunangan kita dilanjutkan, Jihoon sayang~"
Huh?
Jihoon memicing pada Soonyoung. "Jangan coba-coba, sialan!" desisnya. "Aku benar-benar akan membencimu kalau sampai berani melanggar janjimu untuk berusaha sendiri!"
Soonyoung menatapnya santai. "Maka dari itu, jangan marah lagi padaku atau teman-temanku yang lain. Kita cuma mau ngestalking Wonwoo dan kita beneran gak ngapa-ngapain."
"Kamu dan gerombolanmu itu gak bisa dipercaya."
"Kalau gitu, kamu ikut aku dan yang lain hari minggu nanti. Kamu awasi kita agar rencana Wonwoo jalan sama Jieqiong berjalan lancar. Kamu bisa kasih syarat, aku dan yang lain bakal ngikuti syaratmu, Ji."
"Buang-buang waktu!"
"Jangan khawatiri kita-kita kalau gitu."
"Heh!"
"Apa?" Soonyoung mendekati wajah Jihoon dan mencuri kecupan di pipi Jihoon. "Ayo Ji, jadi maumu gimana?"
"Persetan dengan semuanya!"
"DUH KAMU GEMESIN YA, JI!"
Dan selanjutnya Jihoon meraih bantal sofa dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada Soonyoung yang berani mencubit pipinya.
.
Flashback off ya!
.
Jihoon mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Oke, sekarang Jihoon bingung musti menyesal atau tidak sama keputusannya tempo hari. Kalau saja Jihoon gak setuju sama tawaran Soonyoung, mungkin dia sekarang sudah resmi jadi tunangan sahabat Mingyu yang paling aneh itu. Tapi kalau dia setuju, dia bakal kepusingan kepala seperti sekarang ini.
Oh, ngomong-ngomong perlu digaris bawahi satu kata ini;
Tunangan.
Iya, tunangan. Orangtua Jihoon dan Soonyoung sudah menjodohkan anak mereka itu sejak awal kenaikan kelas kemarin. Soonyoung yang dari dulu sudah mengejar Jihoon tentu senang dong, dengan ide itu. Lain lagi dengan Jihoon yang mengamuk di tempat karena tahu Soonyoung yang bakal jadi tunangannya.
Jihoon pikir, tunangannya itu bakal seganteng Choi Seungcheol– senior yang Jihoon keceng dulu, seme dari pasangan gay fenomenal di sekolahnya dan sekarang jadi boss di tempat part timenya–, atau setidaknya tidak bermata sipit dan hiperaktif seperti pria bermarga Kwon ini.
Cih, tolong ingatkan Jihoon jika matanya juga sipit. Kasih kaca kalau perlu.
Ekhem, singkatnya karena tak ingin Jihoonnya mengamuk terus-terusan dan melempar gitarnya– soalnya Jihoon sudah meraih gitarnya, Soonyoung mengambil jalan tengah dengan membatalkan perjodohan itu.
Hm.
Membatalkan? Well, gak sepenuhnya membatalkan karena Soonyoung dengan tegas bilang,
"Pakai acara perjodohan gini gak ada gregetnya, Yah, Bun! Aku mau berjuang sendiri buat mendapatkan Jihoonieku. Atas nama keluarga Kwon, aku bakal berjuang untuk hati es Lee Jihoon sampai titik darah penghabisan!"
Dan setelahnya, Tuan Kwon dan Tuan Lee sama-sama menepuk bangga pundak Soonyoung. Nyonya Kwon dan Nyonya Lee juga berpelukan sambil menangis bahagia dan berkata, "Kita bakal jadi besan huhuhu,"
Nah, lain lagi dengan Jihoon yang wajahnya memerah menahan emosi. Belum lagi kakaknya– Yoongi, malah menggodanya habis-habisan. Jihoon bernafsu sekali untuk menendang wajah kakaknya itu. Mana kakaknya itu main nimbrung aja lagi. Yoongi, kan, gak dibutuhi sama sekali di acara perjodohan itu.
"YA TUHAN WONU HYUNG MAMAAAA!"
Jihoon tersadar dari dunianya sendiri begitu mendengar suara– atau lebih tepatnya teriakan merana dari Mingyu.
Lagi.
Padahal Mingyu sudah berada di luar kafe dan memantau Wonwoo dan Jieqiong dari balkon lantai dua Lotte World, tapi tetap saja suaranya kedengaran sampai telinga Jihoon.
"Damn it Kim Mingyu! Kamu jangan bikin heboh dong!" Kata Soonyoung panik sambil melirik takut-takut pada Jihoon yang masih di dalam kafe. Dia takut Jihoon bakal menyeret kawanannya keluar dari situ dan itu bakal bikin tambah repot.
Mingyu sudah pasang wajah ngenesnya. "Gimana aku gak heboh kalau ngeliat Wonwoo hyung ngerangkul Jieqiong gitu aja?! GIMANA KWON SOONYOUNG?! GIMANAAA?!"
"Ya, gak gimana-gimana, sih." Seokmin menendang kaki Mingyu santai dan dia kembali memantau Wonwoo dan Jieqiong lewat teropong pinjaman adeknya Mingyu. "Santai aja. Cuma ngerangkul doang."
Mingyu naik darah mendengarnya. "DOANG SEOKMIN-SSHI?!"
"Iya."
Soonyoung menahan tubuh Mingyu yang sudah siap untuk anarkisan dengan Seokmin. Mingyu mendengus. "Sahabat sialan!"
"Sialan gini juga kamu sayang, Gyu."
"JIJIK!"
Disisi lain, ada Junhui dan Minghao yang lagi duduk bersampingan sembari menutupi wajah mereka dengan buku. Minghao dengan novel yang menutupi wajahnya dan Junhui dengan koran.
Penyamaran klasik.
Di depan mereka, ada Wonwoo dan Jieqiong yang beristirahat sebentar sehabis keliling bagian indoor dari Lotte World. Mereka berdua bisa melihat dengan jelas jika Wonwoo sudah mulai modus-modus.
Mulai dari merangkul Jieqiong, mengacak rambutnya, juga sempat berpegangan tangan– dan Junhui bersumpah bisa mendengar tangisan merana Mingyu yang ada di lantai atas.
"Astaga, Wonwoo hyung lama amat sih modusnya. Lama-lama bikin geli ih." Minghao manyun. Tangannya sudah lelah mengangkat novelnya hanya untuk melindungi wajahnya. Rasanya Minghao mau tukaran peran sama Minkyung aja yang sekarang malah asik jalan-jalan sendiri.
"Sst Hao-er. Sabar dikit." Junhui menyikutnya. Setelahnya dia jadi sigap karena Wonwoo dan Jieqiong sudah bersiap untuk pergi lagi.
Dia buru-buru membereskan korannya dan dimasukkan secara rusuh ke dalam tasnya, lalu menarik Minghao agar menyusul Wonwoo dan Jieqiong.
-00-
"Selamat makan~"
Jieqiong berseru senang dan itu membuat Wonwoo tersenyum saat dia meletakkan nampan makanannya dan Jieqiong.
"Jalan-jalan hari ini gimana? Kamu suka?" tanya Wonwoo was-was. Jieqiong mengangguk. "Suka!"
Senyum Wonwoo makin lebar. Jieqiong sekarang kelihatan kayak anak kecil, imut gitu dan Wonwoo suka.
"Ngomong-ngomong, kamu ada lomba sebentar lagi?" tanya Wonwoo lagi. Jieqiong berpikir sebentar. "Ada, lomba pidato. Mrs. Park yang suruh aku ikut," curcolnya. Wonwoo berdehem. "Kapan?"
"Lusa, harinya sama dengan lomba basket sekolah kita. Oppa mau nonton? Hitung-hitung jadi supporter dari sekolah kita. Kebetulan tuh, satu sekolah dikasih dispensasi sama kepala sekolah buat ngedukung sekolah kita di dua lomba itu."
Wonwoo mengernyit. Bersamaan dengan lomba basket? Berarti itu pertandingan yang dimaksud Mingyu, kan? Dia kemarin ngejanjiin Mingyu buat ngedate, tapi...,
"Lihat nanti, ya. Ada kemungkinan aku lebih memilih buat diam di perpustakaan." Wonwoo mengangkat sebelah tangannya dan mengacak rambut Jieqiong.
"Ya! Oppa!"
"Hahaha."
-00-
"Wah, aku benar-benar gak nyangka kita bakal ngelakuin hal ini lagi!" kata Minkyung semangat. Kemudian dia menyengir. "Apalagi, kita ada tambahan anggota. Wah, wah."
Jihoon mendengus karena tahu yang Minkyung maksud itu dirinya. "Diamlah wanita tiang!" ujarnya keki.
Fyi saja, Jihoon sensi sekali dengan Minkyung dari awal masuk sekolah karena tinggi badannya yang melebihi batas wajar perempuan– Jihoon ogah mengakui kalau dia iri dengan tinggi Minkyung ngomong-ngomong.
Ini sudah hampir jam 9 dan sekarang Mingyu dkk. lagi mengikuti Wonwoo yang mengantar pulang Jieqiong. Karena Wonwoo dan Jieqiong yang menggunakan bus tadi, terpaksa Junhui dan Soonyoung memarkir mobil dan motor mereka di lapangan basket terdekat dari rumah Jieqiong. Jadilah mereka mengikut sambil berjalan kaki.
Oh, dan tentunya secara diam-diam.
"Serempong ini kah kalian kemarin ngestalking? Aku gak nyangka." Itu sudah pasti Jihoon yang berbicara. Soonyoung merangkulnya lebih dekat. "Sst! Jangan ribut, Ji. Habis ini selesai, aku janji bakal ngantar kamu pulang."
Junhui yang berjalan paling depan, langsung memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bersembunyi dengan menunjuk sebuah pohon besar karena Wonwoo dan Jieqiong sudah sampai di depan rumah Jieqiong.
Mereka semua memasang telinga baik-baik sekarang.
.
"Terima kasih untuk hari ini, Oppa." Jieqiong tersenyum. Senyumannya manis sampai Wonwoo gugup.
Shit man, dia gak bisa kontrol hatinya yang sekarang lagi menabuh drum.
"W– well, seharusnya aku yang bilang gitu, Jieqiong. Terima kasih sudah ngeluangi waktumu buat aku hari ini."
Jieqiong tertawa. "Aku senang bisa ngeluangi waktuku hari ini. Apalagi sama oppa."
Diluar Wonwoo memasang senyuman biasa, tapi dari dalam dirinya, Wonwoo sudah mau guling-guling di jalanan.
"Aku masuk dulu, ne. Malam oppa." Pamit Jieqiong, namun buru-buru Wonwoo menahannya. "T– tunggu sebentar."
Uhuk. Sudah seperti drama-drama, ya?
'Tarik nafas, buang. Tarik, buang. Fyuh.' Wonwoo mengkalemkan hatinya dulu. Sekarang waktunya buat confess ke Jieqiong soal perasaannya.
.
"Kamu mau jadi pacarku?"
"HAH?!"
.
Di sisi lain, Mingyu sudah meremas pundak Seokmin, namun raut wajahnya tetap datar.
.
"A– aku suka sama kamu dari beberapa bulan terakhir ini. Dan yah, aku mau kita punya status, Jieqiong."
Krik.
Jieqiong mematung untuk beberapa saat. Namun akhirnya dia tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Aku gak bisa, maaf." Tarik nafas dulu, "Aku sudah punya pacar dan kita LDR. Jadi..., maaf?"
Sakit. Tapi Wonwoo dapat menahannya. Bukan salah Jieqiong jika menolaknya, ini salahnya sendiri karena tak mencari tau tentang percintaan Jieqiong sebelumnya.
Wonwoo tertawa hambar. "Haha, baiklah. Aku mengerti, Jieqiong."
Jieqiong jelas merasa tak enak dengan Wonwoo, jadi dia menggeleng lalu membungkukkan badannya. "A– aku yang minta maaf, oppa."
"Bukan salahmu." Wonwoo berdehem. "Masuklah. Ini sudah terlalu malam untuk seorang gadis berada di luar rumah."
Jieqiong sekali lagi membungkukkan badannya. Ia segera masuk ke rumahnya namun sebelumnya sempat berkata yang membuat Wonwoo terdiam,
"Dari pada denganku, kamu bisa coba dengan membuka hati untuk Mingyu sunbae, oppa. Dia benar-benar tulus denganmu."
-00-
Mingyu mendengarnya dengan sangat jelas.
Bagaimana Jieqiong menolak Wonwoo dan meminta pemuda emo itu untuk memberikannya kesempatan. Seharusnya itu semua membuat Mingyu senang, kan?
Tapi..., kenapa rasanya ada yang janggal?
Mingyu tentu senang karena Jieqiong berusaha membantunya untuk jadian dengan Wonwoo, tapi disisi lain, dia bisa merasakan sesaknya Wonwoo karena secara tidak langsung, Jieqiong menyuruh Wonwoo untuk berbelok dan Wonwoo membenci ide itu. Lebih tepatnya, Wonwoo benci untuk berbelok dengannya.
Dan entah kenapa, kaki Mingyu membawanya keluar dari persembunyian. Mendekati Wonwoo dan hendak memanggil gebetannya itu namun terhenti. Mingyu bisa merasakan gerombolannya panik seketika.
"Sudah puas dengar aku ditolak, Kim Mingyu-sshi?"
Wonwoo dengan tiba-tiba membalikkan badan dan menghadap Mingyu, menatapnya tepat dimata. Mingyu dibuat gugup. Wonwoo yang sekarang tak ada manisnya, malah lebih ke arah seram. "H– hyung,"
"Aku ditolak dan Jieqiong malah menyuruhku untuk mencobanya denganmu." Wonwoo berjalan mendekat kemudian dengan cepat meraih kerah baju Mingyu. Seringai terpasang di wajah manisnya. "Kamu sudah puas, Kim Mingyu?"
Bugh.
Dan satu pukulan diberikan Wonwoo tepat di rahang Mingyu, membuat pemuda Kim itu tersungkur. Pukulannya kuat dan tiba-tiba, membuat Mingyu kehilangan keseimbangannya untuk berdiri.
"MINGYU!"
Gerombolan Mingyu refleks keluar dari persembunyiannya dan membatalkan niat mereka untuk mendekati Mingyu karena Wonwoo sudah menginjak dada Mingyu dengan kaki kirinya, mencegah Mingyu untuk bergerak lebih bebas.
Wonwoo menatap mereka datar kemudian berdecih saat bertatapan dengan Jihoon. "Wow, kukira kamu gak bakal pernah ikut-ikutan Seokmin dan Junhui buat join beginian, Ji."
"W– Won,"
"Akhirnya kamu ikut-ikutan begini. Mulai mendukungku dengan sialan ini, huh?" Wonwoo semakin menekan kakinya di dada Mingyu. Jihoon menggeleng, hendak berbicara namun nada dingin keluar dari mulut Wonwoo kemudian. "Berhenti memaksaku untuk menjadi gay seperti dia atau mempengaruhi satu sekolah supaya mendukungku jadian dengan si brengsek ini!" Baik karena tekanan di dadanya dan perkataan Wonwoo itu membuat Mingyu meringis. Mingyu tahu perkataan Wonwoo ini lebih ditekan pada Soonyoung karena Soonyounglah yang paling menggebu-gebu diantara gerombolan Mingyu yang lain. Apalagi, Wonwoo menatap Soonyoung sinis.
"Kau brengsek, Jeon Wonwoo!" Soonyoung hendak maju untuk menyerang Wonwoo, namun ditahan Junhui dan Seokmin, jadilah ia berkata dengan nada tinggi. "Hargai perasaan Mingyu, Jeon sialan!"
Wonwoo berdecak. "Aku sudah menghargainya tapi dengan kelakuan kalian semua yang seperti ini, gimana bisa aku diam saja? Aku muak!"
Wonwoo menatap Mingyu sebentar sebelum memberikan pukulan kembali dan berkata,
"Aku membencimu, Kim Mingyu."
.
.
Mingyu hanya bisa meringis melihat Wonwoo yang mulai menjauh.
-00-
"Ssh, pelan-pelan noona, ini sakit– Aw!"
Ringisan dari putra satu-satunya keluarga Kim itu keluar saat Kaeun menekan kapas yang sudah dituangi alkohol pada ujung bibir Mingyu.
"Kamu seharusnya diam dulu, Gyu. Aku susah ngobati kalau kamu ngeringis mulu," omel Kaeun. Mingyu manyun lalu memilih diam.
Setelah Wonwoo pergi begitu saja dan meninggalkan satu pukulan lagi di wajah Mingyu, gerombolannya memutuskan untuk membawa Mingyu kembali ke rumah keluarga Kim saja agar diobati Kaeun dan Minseo yang kebetulan sedang keluar dari asrama. Mingyu akan mendapat masalah lagi jika pulang ke rumah keluarga Jeon dan kawan-kawan Mingyu itu tak mau ambil resiko.
Wonwoo hanya meninggalkan pukulan biasa dan Mingyu sebenarnya tak terlalu masalah, dia malah lebih sering mendapat pukulan yang lebih dari itu waktu masih jamannya dia bandel. Tapi kawan-kawannya yang tak biasa. Lusa Mingyu ada pertandingan dan mereka memaksa Mingyu untuk izin besok dan beristirahat di rumah.
Masalah Wonwoo, Jihoon dan Soonyoung memilih untuk berkunjung ke rumah Wonwoo dan memberitahu pada Nyonya Jeon jika Mingyu tak bisa pulang dengan alasan kangen noona dan adiknya. Semua sudah diatur Junhui dan Mingyu disuruh terima beres saja.
"Aku sudah lama gak ketemu oppa dan sekarang oppa sudah gini aja wajahnya? Oppa yakin gak jadi babu di rumah keluarga Jeon?" tanya Minseo. Dia sedari tadi tak melakukan apa-apa selain berkomentar dan memperhatikan kakak tertuanya itu mengobati Mingyu. Kaeun melotot padanya. "Jangan buat oppamu ini buka suara, Minseo. Dia makin susah diobati nanti."
Minseo manyun dan memeluk erat guling Mingyu. "Kasian sekali oppaku ini~"
Beberapa menit mengurusi wajah Mingyu, sekarang Kaeun beralih pada dada Mingyu. "Buka bajumu."
Mingyu melotot seketika. "NOONAMAU APA? NOONA INCEST?! ASTAGA, SADAR NOONA! AKU ADIKMU– Sakit!"
Kaeun gemas dengan adiknya dan dia menekan luka di wajah Mingyu dengan kapas bekas alkohol. "Ngomong dikontrol, bodoh! Kau bilang Wonwoo menginjak dadamu, kan? Aku mau periksa, bukan mau incest! Kalau badan dan wajahmu sebagus Song Joongki, aku baru mau incest." Seru Kaeun. "Dan jangan berteriak heboh gitu. Bibirmu robek, bisa tambah parah kalau kamu teriak alay gitu."
Mingyu dongkol mendengarnya. Tapi dia tetap menuruti perkataan Kaeun untuk membuka bajunya dan bersandar pada kepala ranjang. Mingyu bisa melihat sendiri ada bekas kemerahan di bagian tengah dadanya.
"Wonwoo pakai jenis sepatu apa hari ini coba? Bisa banget ninggalin bekas di dadamu, Gyu." Kaeun menggeleng. "Ambil air hangat, Minseo. Sekalian bawa handuk oppamu di lemari."
Minseo tidak menjawab, tapi dia bergerak keluar kamar untuk mengambil air hangat di dapur lalu meletakkannya di meja nakas dan berlari kecil mengambil handuk Mingyu yang masih tersisa di lemari. Kaeun dengan telaten mengompres bekas kemerahan di dada Mingyu sambil berkata, "Seharusnya kamu serang balik Wonwoo itu, bukannya diam saja sampai bikin kamu begini!" omelnya. Mingyu menghela nafas. "Wonwoo hyung terlalu mendadak main tinju gitu. Aku gak siap makanya jadi tumbang. Pikiranku juga ngeblank waktu terjatuh."
"Bukan karena dia gebetanmu?" celetuk– atau sindir Minseo. Mingyu menggeleng pelan. "Jangan bahas Wonwoo hyung sebagai gebetanku dulu, aku mau melupakan itu sementara."
Kaeun mengernyit, tangannya tetap mengompres dada Mingyu. "Jadi, kamu mau move on, gitu?" Dia gak perduli jika Mingyu melarang untuk membahas Wonwoo.
Lagi-lagi Mingyu menggeleng pelan. "Aku cuma mau istirahat buat ngedapetin hati Wonwoo hyung, tapi bukan berarti aku mau move on. Seenggaknya, aku masih yakin jika Wonwoo hyung itu jodohku."
Mendengarnya, Kaeun dan Minseo saling pandang lalu tersenyum kearah anak tengah keluarga Kim itu.
"Kamu benar-benar mirip Ayah, ya, Gyu. Aku sebagai noonamu lumayan bangga, loh!"
"Hum! Dan aku sebagai adikmu juga bangga punya oppa kayak begini!"
Kemudian keduanya memeluk Mingyu.
.
Ah, hubungan saudara yang manis, ya?
-00-
"Wonu-chan begitu pulang langsung masuk ke kamarnya, mau okaasan panggilkan, Ji-chan?"
Jihoon dan Soonyoung saling pandang kemudian Jihoon menggeleng untuk mewakilkan jawaban Soonyoung. "Gak perlu, okaasan. Seenggaknya Wonwoo kembali ke rumah." Tolaknya. Jangan heran karena Jihoon memanggil Nyonya Jeon dengan okaasan, Jihoon sudah dianggap anak sendiri oleh keluarga Jeon sejak dulu.
"Ada yang terjadi dengan Wonu-chan dan Mingyu-kun hari ini? Kalian bertengkar? Ji -chan jangan menyembunyikan apapun dari okaasan. Okaasan khawatir." Nada khawatir jelas terdengar dari Nyonya Jeon.
Sekali lagi Jihoon menggeleng dan menyikut Soonyoung untuk berbicara. Soonyoung berdehem. "Yah, cuma candaan anak remaja, Bi. Bibi gak perlu khawatir. Dan buat Mingyu, dia benar-benar lagi merindukan rumah, jadi minta izin untuk kembali sehari." Jelasnya. "Dan kita kesini mau memastikan Wonwoo sudah pulang atau belum. Sekalian mengambil seragam juga tas Mingyu untuk sekolah besok."
Diam-diam Jihoon mendengus karena Soonyoung mendadak seperti anak baik-baik dihadapan Ibu Wonwoo. 'Cari muka dasar!'
Nyonya Jeon antara percaya dan tidak percaya. Tapi akhirnya dia memilih untuk mempercayai Jihoon dan Soonyoung, kemudian mempersilahkan keduanya untuk ke kamar Mingyu dan mengambil segala keperluan sekolah besok.
Well, walaupun sudah disuruh istirahat sehari, tapi Kim Mingyu paling gak betah berdiam di rumah seharian pada hari kerja.
.
"Seharusnya dari awal kutolak tawaranmu itu, Kwon."
Soonyoung yang hendak menaiki motornya jadi membatalkan niatnya dan memilih menanggapi Jihoon. Pemuda mungil itu melipat kedua tangannya di depan dada dan Soonyoung merasa bersalah. "Oke, aku tahu ini salahku. Gak seharusnya aku dan gerombolanku ngestalking Wonwoo hari ini. Paling tidak, Wonwoo gak akan marah padamu dan Mingyu gak akan kena pukul sahabatmu itu." Dia mengucapkannya dengan nada menyesal dan Jihoon menghela nafas.
"Aku mungkin bukan sahabat yang baik untuk Wonwoo setelah ini, tapi melihat perasaan Mingyu hari ini, mungkin aku akan membiarkannya menyukai Wonwoo. Jieqiong benar, Mingyu tulus ke Wonwoo."
Krik.
Soonyoung mengerjap beberapa kali. "J- jadi kamu mendukung jika Wonwoo belok, begitu?"
Satu jambakan diterima Soonyoung setelahnya.
"Bodoh! Aku membiarkan Mingyu menyukai Wonwoo bukan berarti aku sudah mendukungnya!"
"Iya, iya! Sekarang lepas jambakanmu– ANJIR! SAKIT, JI!"
Jihoon melepas jambakan di rambut Soonyoung sedangkan pemuda yang jadi korban keanarkisan Jihoon hanya menyengir. "Iya, Ji. Aku ngerti maksudmu gimana." Soonyoung duduk di motor dan menarik Jihoon agar mendekat padanya. Menggenggam erat kedua tangan yang mulai terasa dingin karena hari semakin malam.
Soonyoung tersenyum tulus. "Dan karena kamu sudah mulai mengerti perasaan Mingyu ke Wonwoo, aku harap kamu juga mulai mengerti perasaanku padamu, Ji."
"..."
"Bagaimanapun, aku masih mau bilang ke Ayah juga Papamu jika aku mau melanjutkan pertunangan kita. Gak perduli seberapa lama aku bakal melelehkan hatimu."
"..."
Jihoon tidak menjawab dan memilih memalingkan wajahnya kearah samping. Dia tak memberontak sama sekali bahkan saat Soonyoung mencium keningnya untuk beberapa saat dan berbisik di telinganya,
"Aku mencintaimu, Ji."
.
Jihoon benar-benar benci karena jantungnya berdetak lebih cepat karena ulah Kwon Soonyoung.
-00-
Wonwoo melihat dan juga mendengar semuanya.
Bagaimana Jihoon mulai mengerti perasaan Mingyu terhadapnya, Jihoon yang menjambak rambut Soonyoung, bahkan sampai Soonyoung yang mengecup kening sahabat pendeknya itu.
Tapi yang bagian terpenting dari semua itu adalah bagaimana Soonyoung berkata dengan jelas jika dia mau melanjutkan pertunangannya dengan Jihoon.
Wow.
Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Wonwoo saat mendengarnya sementara gitar yang tadi dipangkunya, ia pinggirkan dulu demi memperhatikan Jihoon dan Soonyoung dengan seksama dari atas atap rumahnya.
Atap rumah adalah tempat favorite Wonwoo untuk menyendiri. Jalan menuju atap rumahnya sendiri pun berada diantara kamarnya dan kamar Mingyu, ada sebuah tangga disana dan itu sengaja dibuat Tuan Jeon untuk anak emonya menenangkan diri jika sedang stress.
Biar begini, Tuan Jeon mengerti keadaan anak-anaknya apalagi Wonwoo yang terkadang stress dengan pemikirannya untuk masa depannya– walaupun Wonwoo dengan baik bisa menyembunyikan stressnya itu dihadapan orang lain. Terkadang Tuan Jeon merasa bersalah dengan anak emonya itu.
Hm.
"Aku bahkan gak tahu jika kamu bertunangan dengan Kwon sialan itu, Ji." Wonwoo meniup permen karet yang dimakannya lalu dipecahkan setelah merasa cukup besar. "Jadi sekarang, aku gak punya orang yang benar-benar mendukungku, huh?" tawa lirih keluar dari mulut Wonwoo.
Ia hendak meraih gitarnya lagi namun diurungkan dan memilih mengangkat telpon dari seseorang.
"Moshi-moshi?"
"Wonu-chan!"
Wonwoo tersenyum kecil mendengar panggilan dari orang diseberang sana. "Doushite, oneechan?" tanyanya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
Dapat Wonwoo pastikan jika orang yang dipanggilnya oneechan tengah mencebik diseberang sana. "Aku gak boleh menelpon adikku sendiri, huh?"
Wonwoo terkekeh pelan. "Iya, iya. Pasti okaasan yang menyuruhmu, kan?" terkanya. Dia sudah hafal kebiasaan noonanya yang akan menelponnya jika sudah badmood. Noonanya itu tak akan tahu jika dia badmood jika bukan Ibunya sendiri yang melapor dan menyuruh noonanya untuk berbicara dengannya.
Hanya dengan berbicara dengan noonanya, Wonwoo akan merasa lebih baik.
"Kau sudah tahu itu. Jadi, kenapa dengan adik Ki-neechan yang manis ini, hm?"
"Hanya masalah kecil, oneechan."
"Kalau hanya masalah kecil, kamu gak mungkin membanting pintu kamarmu saat pulang tadi, Wonu-chan." Balas noonanya. "Mau bercerita, hm?"
Wonwoo tak pernah bisa menolak jika noonanya sudah menawarkan diri untuk jadi tempatnya bercerita, jadilah dia menghela nafas panjang dan bercerita.
"Aku ditolak Jieqiong. Dia sudah punya pacar dan sekarang lagi LDR."
"Lalu? Kamu kesal karena itu?"
Wonwoo menggeleng walau tahu noonanya tak mungkin mengetahuinya. "Gerombolan Kim sialan itu menstalkingku. Aku tahu sejak masuk Lotte World, tapi aku memilih diam. Aku gak mau menghancurkan kencanku hanya karena mereka." jeda sebentar. "Dan setelah Jieqiong masuk ke rumah setelah menolakku, Kim sialan itu keluar dari persembunyiannya. Aku tak bisa mengontrol emosiku, jadi aku..., memukulnya." Di akhir Wonwoo berkata lirih dan itu cukup membuat noonanya terkejut.
"Kau..., memukulnya, Wonu-chan? Kenapa?"
Wonwoo bergidik. "Jieqiong menyarankan supaya aku mulai membuka hati untuk si sialan itu. Dan karena aku berpikir dia senang mendengar saran Jieqiong itu, aku langsung memukulnya."
Krik.
Wonwoo dan noonanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat sampai Wonwoo mendengar helaan nafas dari noonanya. "Wonu-chan, kau gak bisa berasumsi jika Mingyu senang karena Jieqiong menyarankanmu untuk membuka hati untuknya."
Wonwoo diam dan noonanya kembali melanjutkan, "Aku tahu, pasti sakit saat Jieqiong menolakmu, tapi kamu mikir tentang perasaan Mingyu, tidak? Mendengar dari ceritamu tentang Mingyu yang terus-terusan mengejarmu bahkan hingga tau jika kau menyukai Jieqiong, aku berpikir jika dia juga sesak karena kau ditolak. Mungkin dia senang karena masih punya kesempatan untuk mendapatkanmu, tapi disisi lain, dia juga ikut sesak karena kebahagianmu terhambat."
"... Terhambat?"
"Hm, terhambat. Kamu ditolak Jieqiong dan itu membuat kebahagianmu terhambat. Tapi percaya padaku, dia bakal berusaha semampunya agar kamu bisa bahagia dan melupakan Jieqiong. Dia bukan anak yang bakal menyerah begitu saja, Wonu-chan. Dan tindakanmu yang memukulnya sembarangan itu salah dan kau harus minta maaf. Aku tahu kamu hanya sedang emosi, tapi kalau bisa, cepatlah minta maaf. Ini bukan salahnya, aku berani bertaruh jika dia sebenarnya ingin membuatmu tidak terlalu sesak karena ditolak Jieqiong."
Wonwoo menghela nafas. "Lalu, oneechan?"
"Aku mungkin terdengar jahat, tapi lupakanlah Jieqiong. Jangan menunggunya lagi. Untuk Mingyu, jika kamu tak mau mengurusinya, fokuslah pada ujianmu juga ujian masuk universitas nanti. Tapi tetap, kau harus minta maaf pada Mingyu. Wonu-chan yang kukenal akan meminta maaf jika berbuat salah, kan?"
Setiap berbicara dengan noonanya, Wonwoo selalu merasa kembali menjadi anak kecil yang patuh dengan ucapan kakaknya, jadilah dia menghela nafas panjang. "Aku mengerti, Ki-neechan."
"Jangan hanya mengerti, Wonu-chan! Tapi lakukan setelah kau puas menyendiri, okey?"
Wonwoo hanya berguman. Dia terdiam sebentar sebelum memanggil noonanya kembali.
"Oneechan?"
"Ya, Wonu-chan?"
Wonwoo tersenyum kecil. "Arigatou ne, oneechan."
"Anything for my little brother."
Wonwoo terkekeh mendengarnya lalu mengganti topik pembicaraannya.
.
Setidaknya, Wonwoo sudah merasa tenang, kan?
-TBC-
Hai!
Oke, ini baru selesai dan aku nekat buat ngeupdate. Sorry for typo(s) sama beberapa bagian yang susah dijelasin!
Aku lagi susah curi-curi waktu buat ngetik, jadi maaf buat keterlambatannya /deep bow/
Dan maaf karena aku belum bisa bales review. Well, internet positif ngebatasin waktuku buat nembus ffn. Aku bahkan sudah utak atik proxy tapi tetap susah. Sialan!
Oke, jadi yang sudah tanya-tanya kenapa sunyoung bisa ngebujuk jihun, jawabannya ada disini. Dan yap, sorry aku ngebuat wonu jadi jahat disini.
Selain karena dia kubuat tsundere, menurutku juga uke gak selalu lemah. Mereka masih tetap laki-laki dan aku kurang setuju sama image uke yang gak bisa ngelawan atau sifat-sifat umum lainnya– walaupun mungkin tanpa sengaja aku pernah bikin ff dengan image uke yang umum. Gak, aku gak bermaksud apa-apa ngomong begini, aku cuma ngejelasin kenapa wonu kubuat sifatnya begini. Jadi, aku bakal sangat ngehargai kalau kalian gak terlalu masalah dengan sifat wonu disini.
Tenang, aku bakal tetap kasih sifat uke yang umum ke wonu, tapi nanti. Mungkin waktu dia nikah sama Mingyu?
Next chap, mungkin bakal nambah cast nih. Siapa kira-kira? Wkwk
.
Thanks for; wonderella; scarleted; cehuns2; exoinmylove; jihokr; zahra9697; Iceu Doger; Wonu nikah yuk (srsly, aku ketawa sama unamemu:v); svtbae; Vioolyt; xingmyun; lulu-shi; Zahara Jo; hamipark76; Baebypark; KimAnita; Herdikichan17; svtlovers; DfheeHyper; BumBumJin; 980218 Chwe; SheravinaRosel; wonrepwonuke; Twelves; lemonaite; Firdha858; btobae; Ara94; Khasabat04; Beanienim; Arlequeen Kim; Guest (kookies); Guest (Rie Cloudsomnia); Guest ( A Y P); inisapaseh; Guest (Galaxies81); Guest (meanie bae); Kimxjeon; Reza C Warni W (serius dipanggil wonuchan di rp? Aku berhasil bikin baper woy!); boobeepboo; Guest (dinda); yehet94; equuleusblack; wonwoomingyu; Zahra427; alysaexostans; Guest (Cheon Yi); itsanthenazi; bonablebleyu; Guest (anisa); hoshimaruuu; Chel VL; ETNOCRASH; Itsmevv; Yamada Kim Naho-chan;
Dan yang sudah favorite, follow, juga silent readers! Maaf nih kalau ada yang belum kesebut /deep bow/
Aku mau banget bales, tapi waktuku juga terbatas;(
.
Oke, next aku usahain gak ngaret. Itu semua tergantung tugas tugas sekolahku. Mau pm aku juga silahkan atau follow twitterku .wonwyuw aku gak gigit kok. Let's be friend!
Well, see ya next time!
.
.
.
.
Pst: aku banyak inspirasi buat ngetik ff lain tapi waktunya yang gak ada. Nyebelin ya?
Psst: akhirnya kamu sembuh wonu-chan! Aku serius mau nangis liat kamu di sdc kemarin;(
Pssst: meanie makin berulah gak sih? Wkwk aku sayang meanie!
Psssst: ada yang rpnya mau kufollow? Aku mau gitu buat squad cause i feel like i have nothing on rpw wkwk
Psssst: SVT NEXT WEEK KESINI YASALLAM AKU MAU GALO AJA!
