HEALER
(^_^)
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
And Other
.
ChanBaek (GS)
Romance
Happy Reading :)
Baekhyun mengeliat pelan seketika meringis kecil saat dirasakannya nyeri dan sedikit perih pada tubuh bagian bawahnya. Ulasan-ulasan setiap detail kejadian semalam membawa efek pada pipinya yang terasa memanas. Seketika bibirnya tertarik menyunggingkan sebuah senyum yang amat manis.
Matanya terpejam kembali dengan sebuah senyum yang masih terpatri di bibir tipisnya, merasakan kecupan-lecupan lembut pada tengkuk leher dan bahunya serta tangan yang melingkar semakin erat pada perutnya.
Tentunya gadis itu tau siapa pelaku dari semua itu. tangannya ikut terulur untuk mengusap punggung tangan lelakinya.
"oppa sudah bangun?"
"heemm" Chanyeol hanya berdehem menanggapi pertanyaan Baekhyun, pria tinggi itu masih asik dengan kegiatannya mengecupi bahu mulus sang istri.
"oppa.. hari ini hari pertama oppa kerja bukan?" Baekhyun sungguh masih belum bisa menghilangkan rasa gugupnya ketika dia bersama Chanyeol.
"heemmm" lagi-lagi Chanyeol hanya berdehem menanggapi Baekhyun.
"oppaa..." Ohh Baekhyun.. jangan merengek seperti itu gadis manis, kau tidak akan tau jika rengekanmu bisa saja membangunkan singa yang amat lapar.
"wae? Aku masih ingin memelukmu B.."
Baekhyun sedikit mengeliat saat merasakan lidah Chanyeol yang menyapu lehernya.
"ini sudah pukul 6 pagi, oppa harus segera siap.. ahhh" Chanyeol tersenyum saat mendengar desahan Baekhyun, sungguh istrinya itu sangat banyak sekali bicara.
Baekhyun membalikkan badannya dan dengan cepat menangkup wajah Chanyeol, gadis itu harus menghentikannya jika tidak ingin suaminya itu telat di hari pertamanya masuk kerja.
"Oppa Geumanhae.. oppa harus segera siap-siap, ini hari pertama oppa kerja dan oppa harus memberikan kesan baik pada rekan-rekan kerja oppa, Arachi?" Chanyeol mencuri satu kecupan pada bibir Baekhyun sesaat setelah gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"aku baru tau jika ternyata istriku bisa berubah menjadi gadis yang cerewet seperti ini" Chanyeol tidak bisa untuk tidak gemas, diusaknya rambut Baekhyun sebelum kemudian dia bangkit untuk menuju kamar mandi.
Baekhyun kembali meemerah saat memandang dada bidang Chanyeol, untung saja Chanyeol sempat menggunakan celananya selesai kegiatan panas mereka kemarin.
Baekhyun memilih untuk keluar kamar, mengenakan bajunya kembali dan menuju kamar yang biasanya digunakan Chanyeol. Dia juga harus segera mandi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya maka dari itu dia memilih mandi di kamar mandi yang ada di kamar Chanyeol dulu.
...
"kau mengawali harimu dengan baik Park Seonsaengnim" Tepukan pada bahu Chanyeol dari seorang laki-laki yang terlihat lebih dewasa darinya itu menyambutnya saat dia keluar dari ruang oprasi.
"tentu saja ssaem, ini berkat kepala departemenku yang begitu tega memberikanku tugas dua oprasi sekaligus di pagi hari saat hari ini adalah hari pertamaku kerja" Chanyeol memberikan tatapan sinis kepada laki-laki yang ada di sampingnya itu.
"eeii.. kau membuatku terlihat kejam dongsaeng"
"Bagaimana kabarmu hyung?" Chanyeol menyambut pelukan pelukan dari laki-laki yang dipanggilnya Hyung itu. Lee Donghae seorang yang sudah Chanyeol anggap sebagai kakaknya sendiri sekaligus calon suami dari Park Yoora serta atasan Chanyeol yaitu kepala departemen bedah saraf tempat Chanyeol bekerja saat ini. Keduanya memang sudah dekat sejak Donghae resmi menjalin hubungan dengan Yorra sekitar tujuh tahun silam.
"yaah.. masih sama seperti dulu, laki-laki matang yang masih setia menunggu kekasihnya mau di ajak pulang ke Korea dan segera menikahinya"
Chanyeol terkikik geli melihat raut wajah Donghae yang sengaja dibuat memelas.
"Aku harap kau masih mempunyai kesabaran lebih untuk menghadapi kekerasan kepala noonaku itu Lee Uisa-nim"
"kau sangat tau bahwa laki-laki tampan ini sangat tergila-gila pada kakakmu Chanyeol"
Lagi-lagi Chanyeol di buat tertawa dengan ekspresi Donghae. Sejujurnya Chanyeol merasa kasihan pada kekasih kakaknya ini. Yorra dan Donghae sudah menjalin kasih sejak mereka ada di jenjang S1 mereka dulu. Hingga Donghae memutuskan untuk kembali ke Korea, mengabdikan diri di rumah sakit milik keluarga Chanyeol ini sedangkan Yoora masih ngotot untuk tetap di Georgia.
Keduanya sudah menjalin hubungan jarak jauh sejak tiga tahun yang lalu. Sebenarnya sebelum kembali ke Korea Donghae sudah mengutarakan niatnya untuk menikahi Yoora, apalagi di tahun itu Chanyeol yang notabenya adalah adik Yoora telah melangsungkan pernikahannya dengan Baekhyun. Namun bagaimanapun Yoora tetaplah Yoora, perempuan yang gila dengan pendidikan dan karirnya.
Donghae harus lebih bersabar karena Yoora akan memberikan jawaban yang sama atas permintaannya, "aku belum siap untuk itu sayang, ku harap kau bisa mengerti" itulah jawaban mutlak yang diberikan kekasihnya.
"bersabarlah sedikit lagi Hyung, aku yakin penantianmu tak akan sia-sia, dan.." Chanyeol menjeda sejenak ucapannya.. "maafkan atas sikap noonaku, dia menasehatiku untuk berlaku baik pada Baekhyun tapi dia sendiri tidak memperlakukanmu dengan baik"
Donghae tersenyum pada laki-laki yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.. "dia memperlakukanku dengan baik Chanie.. sangat baik, dan karena itu aku tidak bisa berhenti jatuh cinta padanya"
"aiissh lelaki bodoh.. kurasa kau sudah di butakan oleh cinta Hyung" Chanyeol berdecih pelan mendengar penuturan calon kakak iparnya itu. dalam hatinya, dia sangat bersyukur karena kakaknya mendapatkan laki-laki sebaik dan setulus Donghae.
"heeyy bung, lihat siapa pria yang mengataiku ini?" Donghae menonjok pelan bahu Chanyeol.
"mungkin aku akan mendengarkan nasehat itu dan ikut mengatai diriku sendiri bodoh jika yang mengatakannya bukan seorang laki-laki yang dengan egoisnya rela membuang waktunya tujuh tahun demi menunggu kepulangan seseorang yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini, bahkan sampai tidak sadar bahwa dia memiliki istri yang sangat mencintainya dengan tulus" Chanyeol menatap Donghae dengan wajah sengit yang dibuat-buat.
"kau beruntung Chan, Baekhyun sangat sabar menghadapimu selama ini.."
"ya.. kau benar Hyung, sepertinya keluargaku adalah keluarga yang berjasa di kehidupan sebelumnya sampai-sampai Tuhan memberikan dua menantu yang sangat istimewa sepertimu dan Baekhyunee" Chanyeol mengulas senyum lembut mengingat wajah cantik istrinya.
"woaahh sepertinya aku ketinggalan sesuatu yang sangat hebat, jadi kau sudah mengakui jika istrimu itu istimewa?" Donghae menaik turunkan alisnya menggoda Chanyeol.
"Hyung... hayo hentikan" Chanyeol menyenggol pelan tubuh Donghae, sungguh atasannya ini benar-benar menjengkelkan jika sudah seperti ini.
"baiklah.. kita hentikan, aku harus segera mengenalkanmu secara resmi sebagai staf di departemen ini, mereka pasti sudah menunggu" Donghae menghalau Chanyeol untuk berjalan menuju aula rapat departemen.
"aigoo.. bukankah seharusnya itu dilakukan sebelum aku mulai bekerja dan masuk ruang oprasi?"
"hahaha" keduanya tertawa dalam langkah mereka menuju aula rapat.
.
"kurasa seharusnya kau melakukan metode pengangkatan total Xi Uisa-nim" seorang gadis berwajah cantik menoleh pada gadis lain yang juga sama mengenakan jas putih kebanggaan mereka.
Gadis bermata rusa itu menoleh pada rekan kerjanya yang sesaat lalu memberikan pendapat tentang metode oprasi yang harus di jalankannya besok lusa. Oprasi itu memang baru akan dilaksanakan esok lusa, tetapi mengingat jenis tumor yang dialami pasien akhirnya departemen memutuskan mengadakan rapat untuk membahasanya.
"jika syaraf terkena dampak selama oprasi tingkat penglihatannya akan menurun atau bahkan pasien bisa buta Kang Uisa-nim" Jawab Luhan tegas.
Chanyeol yang berada di bangku paling belakang menampilkan sebuah senyum saat melihat pertunjukan adu aargumen dua dokter cantik itu.
"dia tidak menunjukkan gejala diplopia, jadi hal itu tidak akan terjadi" Kang Seulgi, dokter cantik itu tidak mau kalah. Siapapun yang melihatnya akan merasakan aura persaingan yang begitu gesit di atara dua gadis cantik itu.
Siapa yang tidak tau jika keduanya memang tengah menghadapi persaingan saat ini, yaa lebih tepatnya adalah persaingan antar dua perempuan yang menyukai laki-laki yang sama, Oh Sehun. Tidak masuk akal memang jika persaingan dalam urusan pribadi itu terbawa sampai di tempat kerja.
"jika anda memeriksa kembali hasil MRI pasien akan sangat jelas jika pasien memiliki resiko itu Kang Seonsaeng-nim, mengingat letak tumor yang di derita oleh pasien tentu saja saya sangat berhati-hati dalam memutuskan tindakan apa yang akan saya ambil untuk pasien saya" seulas senyum kembali terpatri di bibir Chanyeol, begitu pula dengan Minseok sesaat setelah mendengar jawaban Luhan.
"ekhhm.." Donghae berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang mulai tegang di ruang rapat itu.
"baiklah, saya rasa kita harus memikirkan secara matang untuk masalah ini, ohh.. dan juga untuk menyambut kedatangan seseorang yang resmi bergabung di departemen kita mengapa tidak coba anda tanyakan pada ahli syaraf yang sangat tempan itu Xi Luhan Seongsaeng-nim?" semua orang yang berada di ruangan itu seketika menoleh kebelakang tepat pada arah pandang kepala departemen mereka.
Jongdae tersenyum mendapati sahabatnya yang tengah berjalan menuju podium aula.
"Bagaimana pendapatmu untuk kasus ini Park Ssaem?"
Chanyeol menoleh kebelakang dimana layar besar menunjukkan hasil MRI milik pasien yang dimaksud.
"Meningioma-nya dekat dengan tulang sphenoid, dan juga sangat besar" Chanyeol bergumam masih memperhatikan layar LCD yang ada di depan mereka semua.
"dia mengalami dua kondisi Ssaem, dia juga memiliki absence seizure (hilang kesadaraan sesaat)" Luhan menyela, menjelaskan keadaan pasien yang ditanganinya.
"ini kasus yang cukup langka" Chanyeol berbalik menghadap seluruh anggota departemen bedah syaraf, rekan-rekannya bekerja.. "jika melihat kasusnya, metode pembersihan sebagian lebih baik Xi Uisa-nim, tetapi alangkah lebih baiknya jika kau mendiskusikannya dengan pasien dan keluarganya, berikan gambaran yang jelas tentang dua metode oprasi itu, dan berikan kesempatan mereka untuk ikut menentukan metode mana yang akan mereka pilih"
"tapi Saem, bukahkah seharusnya anda mengenalkan saya seperti yang anda katakan sebelum kita sampai disini tadi?" para staf lain terkikik mendengar gerutuan Chanyeol barusan.
Tak terkecuali Donghae, pria itu terkikik geli sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol. "apakah itu masih diperlukan? Memangnya disini siapa yang tidak tau siapa dirimu Park Chanyeol Seonsaeng-nim? Seorang ahli syaraf lulusan terbaik Emory University School Of Medicine yang namanya bahkan terpampang jelas di surat kabar terbaik milik Amerika Serikat sebagai dokter muda dengan kemampuan yang sangat menakjubkan"
"Ssaem..." Chanyeol dibuat sedikit malu akan pujian Donghae yang berlebihan.
Memang benar, siapa saat ini yang tidak mengenal seorang Park Chanyeol? namanya sudah semakin di kenal dunia sejak tesis miliknya menjadi sebuah penelitian yang dapat menunjang dan sangat membantu bidang kedokteran di seluruh penjuru dunia itu. Bahkan dia mendapatkan penghargaan atas hasil penelitiannya itu.
Selama menempuh S2nya, Park Chanyeol bukanlah menjadi mahasiswa yang hanya terfokus pada pendidikannya, dia menjadi salah satu dokter termuda yang dapat masuk menjadi tim penelitian beberapa dokter-dokter ternama.
Kemampuannya di bidang ahli syaraf tidak lagi di ragukan, anak Park Minho yang juga merupakan ahli syaraf ini benar-benar berhasil mengikuti jejak sang ayah.
...
"eyy jadi gadis tadi sainganmu Xi Luhan Seonsaeng-nim?" Chanyeol menampilkan wajah mengejeknya tepat di depan Luhan. Mereka tengah menikmati makan siang di kantin rumah sakit bersama Jongdae dan Minseok.
"Kyaa! Siapa yang kau sebut sebagai sainganku? Aissh Sehun bahkan tidak pernah meliriknya sekalipun bagaimana bisa dia diposisikan sebagai pesaingku? Dia tidak cukup cantik untuk berada di posisi itu" Luhan menatap sengit Chanyeol dengan bibir yang sengaja dia kerucutkan.
"aaa.. menurutmu dia tidak cantik? Kau perlu memeriksakan matamu Luhan-ssi, kau bahkan terlihat cukup terganggu dengan keberadaannya.." Chanyeol masih terus menggoda Luhan.
"siapa? Aku? Ck.. aku hanya heran dengan wanita itu, sudah jelas-jelas Sehun tidak pernah memandang kearahnya tetapi tetap saja dia menggoda kekasihku.."
"jika kau merasa dia tidak cukup hebat untuk menjadi sainganmu seharusnya kau tidak perlu merasa terganggu Lu.."
Luhan kembali melotot melihat suami dari sahabatnya itu. "KYAA! PARK CHANYEOL.." Minseok seketika bangkit dan segera menutup mulut Luhan dengan kedua telapak tangannya, perempuan itu mengedarkan pandangannya menganggukan kepalanya dengan senyum menahan gemas untuk meminta maaf pada pengunjung lain di kantin itu. seluruh pasang mata yang ada di kantin itu secara serempak memfokuskan pandangan pada keempatnya.
"Kya..! kau ini, kau sedang ada di tempat kerja Luhanie.." Minseok setengah berbisik masih belum melepaskan tangannya dari mulut Luhan. Sedangkan Chanyeol dan Jongdae sudah puas menertawakan tingkah konyol Luhan.
"haah.. Chanyeol yang haah Mulai Eon-iih" nafas Luhan tersenggal-senggal akibat bungkaman tangan Minseok tadi, Chanyeol dan Jongdae semakin keras menertawakan gadis jelmaan rusa itu, tidak memperdulikan pandangan dari penghuni kantin yang lain.
"kau sangat tau tujuan Chanyeol menggodamu adalah untuk membuatmu terlihat konyol seperti tadi Luhanie.." Minseok memutar bola matanya malas dengan tingkah para hoobaenya itu.
Gateun narae taeeonaseo
Gateun eoneoro mareul haeseo
Chanyeol tersenyum menatap layar ponselnya saat nada deringnya berbunyi dan nama "Uri Baekhyunee" terpampang beserta foto gadis cantik itu.
"Yoboseo Oppa" terdengar suara menggemaskan Baekhyun di ujung sana.
"emmm" Chanyeol tersenyum mendengar suara riang itu.
"apa oppa sudah makan siang?"
"eoh, aku sedang berusaha menghabiskan makan siangku sayang"
"Wae? Oppa apa ada masalah dengan makanannya" sangat terdengar jelas nada khawatir dari suara Baekhyun
"eoh, aku tidak begitu nafsu makan karena ada rusa mengamuk disini"
Seketika bola mata Luhan melebar mendengar penuturan Chanyeol pada seseorang yang menelponnya, dia tau jika itu pasti Baekhyun. Chanyeol menjulurkan lidahnya pada sahabat istrinya itu.
"hum? Rusa? Lulu?"
"siapa lagi? Memangnya ada gadis yang mirip rusa lagi selain sahabatmu itu?"
"hihi.. kenapa lagi dengan rusa cerewet itu?" terdengar suara kikikan Baekhyun dari sebrang sana.
"dia sedang marah-marah karena saingannya lebih cantik dari dia" Chanyeol menengadahkan tangannya untuk melindungi kepalanya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi tempat pendaratan sendok yang di pegang Luhan.
"Kau sudah makan siang? Apa hari ini latihannya berjalan dengan lancar?"
"Kyaa..! bukankah kalian keterlaluan? Eonni ini tempat kerja, kau dan Jongdae tidak bisa bermesra-mesraan seperti ini disini.. dan kau Park Chanyeol..! bisakah kau berhenti bermesra-mesraan lewat sambungan telpon seperti itu? kau dan istrimu akan bertemu juga nanti saat kalian pulang bekerja"
Luhan mengomel melihat ketiga temannya yang mengacuhkannya, Chanyeol sibuk dengan telponnya sedangkan Jongdae dan Minseok sibuk saling memberikan makanan satu sama lain pada sendok mereka.
"sayang.. kututup dulu oke? Sepertinya sebentar lagi rusa betina ini akan berubah menjadi seekor singa" Chanyeol memutus sambungan telponnya dan kembali mendapatkan pukulan demi pukulan yang dilemparkan Luhan pada tangannya.
"kyaa..Kyaa.. hentikan Luhan, aish kalian ini seperti anak kecil saja, cepat selesaikan makan kalian jam makan siang sudah hampir habis" Minseok mencegah pukulan Luhan pada Chanyeol, mereka sudah sangat banyak bermain-main sampai jam makan siang mereka hampir habis namun makanan mereka belum setengahnya yang termakan.
...
Chanyeol mengendap-endap menahan langkahnya supaya sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang akan membuat gadis cantik yang memunggunginya itu mengetahui perihal kedatangannya.
Baekhyun mengerjap kaget dengan sepasang tangan yang melingkar secara tiba-tiba pada pinggang sempitnya. Gadis itu menoleh dan netranya menangkap wajah suaminya tengah menampilkan senyum lebar yang terlihat sangat idiot.
"oppa.. oppa membuatku kaget, bagaimana jika dengan spontan aku memukul oppa karena aku terkejut? Huum?" Baekhyun berbalik dan menangkup wajah suaminya, sangat terlihat gurat lelah pada wajah tampan itu.
"lelah?" Baekhyun masih setia mengelus lembut pipi sang pria, menyalurkan ketulusan berharap itu dapat membantu Chanyeol sedikit melepaskan rasa lelahnya.
Chanyeol merengkuh tubuh mungil istrinya, menyandarkan kepalanya pada bahu sempit sang istri."biarkan seperti ini sebentar, wangi tubuhmu seperti aroma terapi untukku B.."
Baekhyun tersenyum mendengarnya, menepuk-nepuk punggung sang suami perlahan. gadis itu sungguh bahagia dengan kehidupan rumah tangganya saat ini.
Chanyeol melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum pada gadis yang ada di depannya itu.
"kau memasak apa?" Baekhyun seketika sadar menepuk keningnya menyadari bahwa dia sedang membuat sup tadi.
"oppa, mandilah aku akan menyelesaikan ini setelah itu kita makan malam bersama"
Chanyeol kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Baekhyun, memeluknya dari belakang. "kau mengabaikanku hanya demi sup itu?"
"oppaa..." Baekhyun kembali merengek.
"Baiklah nyonya Park yang sangat cerewet, aku akan mandi dan setelah itu aku akan memakanmu" Chanyeol mengecup singkat pipi Baekhyun kemudian melenggang pergi menuju kamar mereka. Baekhyun terkikik dengan gelengan kepala melihat tingkah suaminya itu.
...
"aaah" Baekhyun mendesah semakin keras, tangannya tengah bertumpu pada meja makan, genggamannya semakin erat seiring dengan tempo pergerakan Chanyeol di belakangnya yang semakin cepat.
Chanyeol benar-benar serius saat berkata dia akan memakan Baekhyun, terbukti dari acara makan malam itu tidak berhenti dengan kosongnya piring makan mereka. Chanyeol masih melanjutkan acara makannya, memakan Baekhyun?
Lihatlah gadis ini.. bahkan dia sudah tidak tau dimana keberadaan baju yang ia kenakan tadi. Tubuhnya telah polos sempurna dengan sang suami yang terus menghujam titik pusatnya dari belakang.
Chanyeol masih fokus mencumbui istrinya dari belakang. Erangan demi erangan lolos dari kedua bibir itu. Lelaki itu melingkarkan tangannya di perut Baekhyun.
"oppaa.. ahh oppaahh" Baekhyun semakin mengeratkan pegangannya pada meja makan yang menjadi tumpuannya.
Chanyeol meraih dagu sang istri kemudian memutarnya perlahan supaya sedikit menghadapnya, diraupnya dengan rakus bibir mungil milik Baekhyun sedangkan tubuh bagian bawahnya masih terus bergerak menghujam titik kewanitaan Baekhyun.
"yaah di..sana aahh" Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, menahan hasrat yang semakin menggebu akibat kenikmatan yang dia terima dari pergerakan Chanyeol.
"oppaahh iyaah disanaah oppaa disanaahh... aaahhh" Chanyeol mempercepat pergerakannya, desahan Baekhyun bagaikan sebuah nyanyian merdu yang semakin membangkitkan gairahnya.
Baekhyun melemparkan kepalanya ke belakang dengan mata terpejam dan mulut sedikit terbuka, gadis itu mendesah keras saat dirasakannya hentakan terakhir yang diterimanya.
Chanyeol merapatkan tubuhnya, kepalanya terkulia lemas pada punggung sang istri. Keduanya masih berusaha mengatur nafas mereka.
Chanyeol menghujani punggung Baekhyun dengan kecupan-kecupan manis sebelum kemudian bangkit dan memakai kembali celananya.
"kita lanjutkan di kamar, hum?" Baekhyun membolakan matanya saat tubuhnya tiba-tiba sudah terangkat dan berada di gendongan Chanyeol. sungguh gadis itu bahkan masih sangat lemas tapi Chanyeol dudah berkata akan melanjutkan di kamar?.
Satu lagi hal yang Baekhyun tau dari suaminya itu, Chanyeol tidak pernah bermain-main dengan setiap kata yang diucapkannya.
Baekhyun harus siap menahan rasa kantuknya karena Chanyeol hanya memberikannya waktu beristirahat 30 menit sebelum kemudian dia akan di bangunkan dan mereka melanjutkan kegiatan panas itu.
Entah sudah berapa ronde yang mereka lewati, jam dinding di kamar mereka sudah menunjuk pada angka 2, Baekhyun sudah begitu lemas bahkan untuk sekedar menanggapi ucapan Chanyeol.
"tidurlah.. kau pasti sangat lelah sayang" Chanyeol merapatkan pelukannya pada gadis mungilnya itu. Baekhyun hanya mengangguk kemudian menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Chanyeol.
...
Tao berdiri mematung di sebuah ruang inap salah satu pasiennya yang baru saja tiba. Lidahnya kelu, tubuhnya seolah kaku bahkan matanya tidak bisa berkedip melihat sosok yang sekarang tengah terbaring dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang menempel di badannya.
Seketika bulir air mata jatuh di pipi mulus gadis itu, otaknya seakan berhenti bekerja, hanya gelengan kepalanya yang mengiringi tangisnya.
"o...o...hah..ottokhae?" Nafasnya tersenggal-seggal, lidahnya kelu dia tidak tau keadaan apa yang dihadapinya saat ini.
"Ssaem gwenchanayo?" perawat yang bersamanya dibuat bingung dengan reaksi Tao saat ini.
"ottokaji?" Tao bahkan tidak menggubris pertanyaan dari perawat yang ada di sampingnya, pikirannya terlalu buntu. Segera dia merogoh saku jasnya untuk menemukan benda berbentuk persegi panjang itu.
Yaa.. dia harus menghubungi seseorang, Tao memutar otak mencari siapa kira-kira nama yang haris dia hubungi.
"Minseok eonni.. yaa Minseok eonni aku harus menghubungi minseok eonni" gadis itu mengusap kasar wajahnya untuk menghapus air mata miliknya. Tangannya sibuk mencari kontak Minseok, segera dia menekan nama yang ada di handphone-nya sesaat setelah dia menemukannya.
"yoboseyo eon..eonni"
"Tao-ya Wae geurae?" terdengar suara Minseok ikut panik mendengar suara Tao yang sarat akan kecemasan.
"eonni.. bisakah eonni segera datang ke ICU di bangsal kami sekarang?" Tao mencoba mengontrol dirinya supaya dapat berbicara dengan jelas.
"jangan tanya mengapa eonni, eonni harus melihatnya sendiri dan pastika eonni datang seorang diri" Lanjutnya.
"baiklah.. kau tenanglah aku akan segera kesana" sambungan telepon mereka sudah terputus, Minseok segera melangkah cepat menuju departemen bedah umum, tempat Tao berada.
Minseok sedikit berlari menuju ruang ICU, dilihatnya Tao sedang terduduk memijit keningnya sendiri. Minseok segera menghampiri yang terlihat amat tertekan sepertinya.
"Tao-ya, ada apa sebenarnya?" Minseok menatap khawatir pada sahabat Jongdae itu. dapat dia lihat dengan jelas bagaimana air mata Tao semakin deras membasahi pipinya.
"eonni.. ottokhaeyo? Ottokhaeyo eonni.. ottokhae.." Tao benar-benar bingung dia tida tau bagaimana cara menjelaskan hal ini pada Minseok.
"Tao-ya tenanglah.. ceritakan pelan-pelan pada eonni, ada apa hum?" Minseok merengkuh tubuh Tao, membawanya dalam pelukan berusaha menenangkan gadis itu.
"wae eonni? Kenapa baru sekarang? Setelah tujuh tahun lamanya kenapa baru sekarang? Hiks..." Tao masih larut dalam kepanikannya, Minseok tak henti berusaha menenangkan gadis bermata panda itu. sungguh dia sejujurnya juga kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini. apa yang membuat Tao menangis sampai seperti ini?
"ceritakan pada eonni.. apa yang terjadi hum?" setelah melihat tanda-tanda keadaan Tao yang sudah mulai tenang, Minseok mencoba kembali menanyakan tentang apa yang tengah terjadi pada Tao.
Tao menarik nafas panjang sebelum akhirnya menatap dalam pada Minseok.
"berjanjilah eonni tidak akan lebih parah dariku atau terkena serangan jantung.. aku akan menunjukka sesuatu pada eonni" Tao menggenggam tangan Minseok dan dilihatnya eonninya itu tengah mengangguk.
...
Minseok terdiam menatap datar layar televisi yang ada di depannya. Jongdae dibuat kebingungan dengan keadaan kekasihnya itu. sejak pulang dari rumah sakit tadi Minseok sudah seperti ini. gadisnya itu bahkan beberapa kali tidak mendengar saat Jongdae memanggil namanya.
"Chagia.. apa terjadi sesutu?" Jongdae memegang kedua pundak Minseok agar wanitanya itu menghadap padanya.
Minseok hanya menatap Jongdae dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
"tidak ingin menceritakannya padaku?" lagi-lagi Minseok hanya menatap Jongdae dengan sebuah tatapan yang sangat sulit untuk di terjemahkan.
"heeyy.." tidak menyerah, Jongdae menarik pelan dagu Minseok.
"apa kau percaya pada sebuah keajaiban Jongdae-ya?" ahirnya Minseok membuka suaranya, masih dengan tatapan yang sama dia bertanya tentang hal itu pada kekasihnya.
Jongdae membawa kekasihnya ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Minseok pada dadanya.
"aku belum pernah mengalami ataupun melihatnya secara langsung, tapi aku percaya akan hal itu.." Jongdae mengelus lembut surai kecoklatan milik kekasihnya.
"bagaimana jika keajaiban itu berupa seseorang yang sudah lama meninggal tetapi hidup kembali Jongdae-ya" Minseok menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jingdae, kembali menatap sang kekasih,
"apa yang kau maksud dengan seseorang yang sudah meninggal kemudian hidup lagi chagi?" Jongdae semakin bingung dengan keadaan saat ini.
Satu tetes air mata lolos dari sudut mata gadis cantik ini, "apa yang harus aku lakukan Jongdae-ya? Apa yang harus ku lakukan?" Tangis Minseok akhirnya pecah setelah dia menahannya sejak di rumah sakit tadi.
Jongdae segera merengkuh tubuh kekasihnya yang gemetar itu, Minseok terlihat sangat rapuh saat ini.
"apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika adikku tau? Bagaimana ini Jongdae-ya.. apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan adikku?"
.
Tao memutar knop pintu sebuah ruangan bertuliskan ICU itu dengan perlahan. Sekali lagi dia dia mencoba menguatkan dirinya sebelum membawa Minseok memasuki ruangan itu.
Minseok sedikit menyipitkan matanya, melihat sosok yang tengah berbaring di sebuah ranjang rumah sakit yang barada beberapa meter di depannya.
Tidak ada yang aneh, minseok semakin di buat bingung, siapa wanita itu? mengapa Tao sampai menangis seperti itu tadi?
Perlahan langkahnya semakin dekat dengan ranjang itu, dirasakannya genggaman tangan Tao pada tangannya semakin mengerat.
Tepat saat keduanya sampai di samping tubuh kurus yang terbaring di ranjang dengan begitu banyak alat menempel pada badannya itu, Minseok di buat bingung dengan perasaannya.
Dimana dia pernah melihat gadis ini? kenapa wajahnya begitu terasa familiar?
Minseok masih setia mengamati wajah tirus dan pucat yang ada di hadapannya. Seketika tubuhnya menegang, tangannya meremas telapa tangan Tao, dadanya tiba-tiba sesak.
Kepalanya menggeleng kasar menampik pikiran-pikiran yang ada dalam kepalanya saat ini. "tidak mungkin" itulah yang berputar dalam benak wanita ini.
"eonni.." didengarnya suara Tao tengah memanggilnya.
"tidak mungkin Tao-ya.. ini sungguh tidak mesuk akal" Minseok masih menggelengkan kepalanya, menolak sebuat nama yang sudah ada di ujung lidahnya.
"ini tidak mungkin dia Tao-ya.. tidak mungkin" Minseok masih dengan keras menolak untuk tidak mengucapkan nama itu.
"Hyejin-ah.. ini tidak mungkin dirimu kan? Kim Hyejin".
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hay haaayyyy.. Yorobuun.. i'm come back...
maaf yaa lama upnya..
tetap dan selalu untuk yang pertama saya ucapkan banyak-banyak terimakasih pada kalian semua yang sudah setia mengikuti cerita ini dan juga sudah berbaik hati untuk Like, Follow dan Review.
tidak banyak yang akan saya ucapkan, hanya saja semoga kalian suka dan gak pernah bosen sama cerita yang alurnya semakin heemm apa ya? semain rumit atau semakin gak jelas?
yaudah lah yaa.. aku juga gak ngerti wkwkwkwk
review jusseyoowwww :(
