Dulu, Sekarang, dan Nanti
Disclaimer : Naruto masih bikinan Masashi Kishimoto
Rated : Mestinya sih T
Pairing : SasuHina
Warning : Pastinya Gaje, Abal, Ooc, dan sebagainya.
Don't like don't read
Empat tahun yang lalu...
Sasuke Pov
Empat tahun waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan gelar sarjanahku, dan empat tahun itu pula waktu yang kuperlukan agar bisa kembali kekota ini, cintaku sekarang tinggal.
Empat tahun tanpa mengetahui kabar beritanya membuat aku menjadi gila di Amerika.
Tak ada ponsel untuk menghubunginya, tak bisa mengiriminya Email untuk mengecek keadaannya semakin memperparah keadaanku pada awalnya aku datang ke Amerika.
Aku disana bagaikan tahanan yang tak dapat melakukan apa-apa selain mendekam didalam kamarku dengan beberapa pengawal didepan pintu kamarku. Aku benar-benar tak dapat berbuat apa-apa tentang semua itu.
Tapi semua itu beransur-ansur berubah ketika Itachi berjanji padaku jika aku berhasil mendapatkan gelar sarjanah disini, maka aku akan dikirimnya pulang kembali ke Konoha. Meski aku masih tanpa mengunakan ponsel atau alat komunikasi lain seperti modem untuk leptopku, tapi semangatku tetap takkan pernah padam karena dengan mengikuti jalan ini maka aku akan bisa bertemu dengan cintaku lagi, Hinata.
Empat tahun setelah meninggalkanKotaini aku tanpa menunggu lagi langsung menuju rumah Hinata setelah keluar dari bandara. Karena empat tahun tanpa memberikan kabar untuknya pasti banyak penjelasan yang akan kuberikan untuknya. Terlebih lagi saat aku meninggalkannya, dia telah mengandung benihku. Pasti sekarang anak yang dikandung Hinata sudah besar. Dan aku selaku dari ayah dari anak itu, sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
.
...
.
Tapi betapa terkejutnya diriku saat aku telah sampai dirumah Hinata dan mendapatkan penjelasan dari para penjaga rumah itu yang mengatakan bahwa Hinata selaku nona muda mereka telah lama sudah tidak tinggal lagi dirumah ini.
"Apa yang kau katakan, cepat buka gerbang ini dan biarkan aku masuk untuk menemui Hinata ! Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu !" aku marah sambil mencengkram jeruji pagar rumah Hinata karena aku tidak diizinkan untuk masuk kedalam rumah itu meski sebentar untuk membuktikan bahwa Hinata benar-benar tidak ada disana.
"Maaf tuan, tapi kami tak bisa mengizinkan tuan masuk karena tuan besar dan tuan muda tidak ada didalam. Lagi pula nona Hinata yang tuan maksud sudah lama tidak tinggal disini lagi. Sebaiknya tuan tidak membuat kegaduhan lagi" penjaga itu berucap halus kepadaku yang secara tidak langsung telah mengusirku.
"Kegaduhan...? Kau pikir aku menunggu empat tahun hanya untuk pergi begitu saja ha ! Aku bisa berbuat lebih dari ini agar aku bisa bertemu dengan Hinata !"
"Tuan, anda jangan mengacau lagi ditempat ini atau kami terpaksa memangil pihak kepolisian untuk menangkap anda karena alasan ketentraman"
"Aku tidak peduli kalian mau apa, cepat kalian buka gerbang ini !" aku semakin mengeratkan cengkramanku pada jeruji pagar sambil mengguncan-guncangnya berharap penjaga itu mau membukanya ataupun jika bisa merubuhkan pagar itu sekalian.
...
Disaat aku masih berdebat agar aku dapat dibiarkan masuk, tiba-tiba saja dari arah belakang munculah mobil sport hitam yang ingin memasuki rumah itu.
"Tuan, sebaiknya anda menyingkir karena tuan muda Neji akan masuk kedalam"
'Neji ?, kakak Hinata' batinku mengingat-ingat siapa itu Neji.
Tin tin !
Klakson mobil itu berbunyi cukup nyaring membuat aku mebalikan badanku dan berdiri tegak tak bergerak didepan mobil itu.
"Hei kau, menyingkirlah, aku mau masuk" pria berambut coklat panjang itu membuka kaca mobilnya untuk mengeluarkan kepalanya.
"Apa kau kakak Hinata ?"
Dia yang mendengar nama Hinata disebut-disebut membuat dirinya memasukkan kembali kepalanya kedalam mobil agar dirinya dapat keluar dari mobilnya.
"Siapa kau, dan apa hubunganmu dengan adikku ?" dia berjalan mendekatiku dan berdiri didepanku sekiranya jarakku dan dirinya cukup untuk kami bicara.
"Aku Uchiha Sasuke, aku dan Hinata adalah-"
Buagh
"Akh... ! Apa yang kau lakukan !" dia memukul pipiku dengan keras yang membuat darah segar mengalir disudut bibirku.
"Jadi kau Uchiha yang telah mencampakan adik kecilku begitu saja setelah kau menghamilinya !"
"Bukan begi-"
Buagh Buagh Buagh ...
Berkali-kali aku menerima hantaman tinjunya begitu saja tanpa bisa membalas karena aku sadar betul mungkin inilah caraku untuk menebus waktu empat tahun yang kulewatkan tanpa Hinata.
Buagh
Dengan tinju terakhir itu Neji, kakak Hinata menghentikan pukulannya kewajahku yang tentu saja membuat aku terjatuh ketanah.
"Hah hah hah" dia terengah-engah setelah memukuliku membabibuta.
"Apa kau sudah puas memukulku kakak ?" meskipun sakit aku tetap mencoba memberdirikan diriku.
"KAKAK... KAU TAK PANTAS MEMANGGILKU KAKAK !"
Buagh
"Argh...!" aku menerima tendangan telak diperutku saat aku mencoba untuk berdiri sehingga sekarang aku kembali terjatuh ketanah dengan sangat keras.
"Gara-gara kau adiku pergi dari sini. Gara-gara kau aku tak bisa melihat adikku kembali. KAU MEMANGGILKU KAKAK !" dia mendekat kearahku yang masih berbaring ditanah lalu mencengkram kerah kemejaku untuk kembali memukuliku.
"Kau bahkan tak pantas memanggil namaku tapi kau mamanggilku dengan sebutan kakak, kurang ajar !"
Buagh
Buagh
Buagh
...
...
...
Darah telah mengalir deras diseluruh wajahku namun aku belum juga beranjak dari tempatku ini. Didepan pintu gerbang, berbaring ditanah sambil memandang langit malam dengan lelehan air mata yang mengalir disudut mataku.
Ya, aku saat ini sedang menangis sendirian disini. Bukan karena merasakan sakit akibat pukulan-pukulan yang diberikan Neji kepadaku, tapi melainkan aku menangis karena ucapan yang terlontar dari mulutnya. Ucapan yang mengatakan bahwa Hinata menderita karena perbuatanku sehingga Hinata memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya tanpa satu orangpun mengetahuinya karena lebih memilih janin yang ada dikandungannya dibanding harus menggugurkannya sesuai dengan keingan Ayahnya.
"Jika kau tidak ada disini lantas kau dimana Hinata, kau dimana ? Dimana aku harus mencarimu ? Dimana aku harus menemuimu ?"
.
...
.
Disinilah kesalahan itu terjadi, kesalahan yang seharusnya tak perlu aku lakukan. Kesalahan yang seharusnya bisa aku hindari. Di apartemant ini... Dikamari ini...
Suasana ditempat ini masih sama seperti dulu sehingga aku dapat mengingat dengan jelas kejadian itu. Suasana kamar yang redup serta perabotan-perabotan yang masih sama seperti dulu mempertajam ingatanku.
Kulangkahkan kakiku menuju ranjang berukuran king dengan selimut berwarna biru muda yang menyelimuti ranjang itu. Ditempat ini, ditempat ini semua telah terjadi.
"Hiya... !" amarahku memuncak hinga aku menarik selimut itu dan melemparkannya kesembarang tempat. Bukan hanya itu, semua barang yang ada disana aku hancurkan ataupun aku lempar.
"Sial... Sial... Sial... "
Kuhancurkan semuannya hingga kamar ini sudah tak terlihat seperti kamar yang tadi.
Tapi semua yang kulakukan ini percuma saja karena ini tidak merubah apapun. Masa lalu tidak akan berubah, aku meninggalkan Hinata sedangkan Hinata sekarang tak diketahui keberadaannya setelah dirinya kabur dari rumah.
"Aku sungguh tak berguna !"
End Sasuke pov
Semuanya menjadi kacau, hancur, dan rusak. Itulah yang sekarang dirinya saksikan setelah masuk ketempat itu, tempat dimana kemungkinan besar akan keberadaan dia sekarang. Keberadaan dimana sosok sahabatnya Sasuke berada.
Semenjak mengetahui jika Sasuke telah kembali dari Amerika, Gaara pria berambut merah itu langsung beranjak dari tempatnya menuju kediaman Uchiha. Namun percuma saja dirinya kesana saat mengetahui Sasuke belum tiba dirumah itu meski pesawat yang ditumpanginya telah mendarat dengan sukses di Konoha. Keputusan menunggupun tak membuahkan hasil meski tiga cangkir kopi telah dirinya habiskan. Pikirannya yang mengatakan jika Sasuke takkan pulang ketempat inipun muncul begitu saja saat mengingat tujuannya pulang kesini bukanlah karena keluarganya melainkan karena Hinata.
Empat tahun tanpa mendengar kabar keberadaan Hinata memungkinkan Sasuke akan langsung menuju tempat Hinata tinggal. Tapi jika dia mengetahui bahwa Hinata tidaklah tinggal ditempat itu lagi maka tidak ada tujuan lain selain tempat itu, apartemantnya.
"Kenapa tempat ini jadi seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi ?" Gaara bergumam sambil melangkahkan kakinya menuju kamar satu-satunya diapartemant itu. Dilihatnya seluruh ruang kamar itu yang tak jauh berbeda dengan keadaan diluar kamar itu. Barang-barang berharga yang semestinya berada diatas menjadi sampah tak berguna dilantai kamar.
"Sasuke kau kenapa ?" Gaara yang melihat Sasuke yang sedang duduk dilantai bersandar diranjang sambil menundukkan kepalanya langsung mendekatinya untuk mencaritau apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
"Sasuke" Gaara menjongkokkan tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Sasuke yang sedang terduduk.
"Kau" Sasuke mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk melihat siapa yang berada didepannya yang ternyata adalah Gaara, sahabatnya.
"Iya ini aku, ada apa ? Kenapa tempat ini menjadi seperti ini ?"
Bukannya menjawab pertanyaan Gaara, Sasuke malah mencengkram kerah baju yang Gaara pakai, mengankatnya untuk berdiri.
"Dimana Hinata !"
"A-apa maksudmu, a-aku tidak tau dimana dia Sasuke, a-aku benar-benar tidak tau. Lepaskan aku"
"Tidak tau, lalu apa yang kau lakukan selama ini. Aku sudah berpesan padamu untuk menjaganya disaat aku tidak ada tapi kenapa kau tidak menjaganya !"
"Aku tidak tau jika waktu itu kau dibawa pergi ke Amerika. Disaat kau menghubungiku untuk menjaganya semua sudah terlambat. Dia sudah pergi tanpa ada orang yang tau. Dirumah, disekolah, maupun dimanapun aku tidak mampu menemukannya" Sasuke perlahan-lahan melepaskan cengkramannya dari kerah baju Gaara yang akhirnya membuat dirinya terduduk diranjang.
"Lalu aku harus mencarinya kemana. Tak ada satupun petunjuk dimana keberadaannya sekarang. Apa yang harus aku lakukan ?" Sasuke tertunduk lesu saat mengatakan itu. Otaknya sama sekali tak bisa berjalan saat ini.
Gaara ikut duduk diranjang tanpa selimut maupun sprei yang dicampakan Sasuke dilantai itu untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Sasuke.
"Entahlah, aku juga tidak tau apa yang harus dilakukan selain mencari tanpa henti sebelum dia ditemukan. Tapi aku perna melakukannya, dan hasilnya... tidak ada sama sekali" Gaara memegang bahu Sasuke mencoba menenangkannya yang terlihat sedang menangis.
"Demi anak yang dikandungnya, dia kabur dari rumah. Demi anak yang dikandungnya dia membuang semuanya... Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak boleh diam saja disini. Aku akan mencarinya !" Sasuke lantas mengusap air matanya dengan sekali usap dengan lengan bajunya sebelum dirinya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan
Gaara yang masih duduk sendirian ditempat itu.
...
.
...
Satu hari, Satu minggu, Satu bulan, bahkan sampai Satu tahun Sasuke mencari keberadaan Hinata keseluruh penjuru Konoha namun hasilnya tetap Nihil. Tak ada kabar tentang keberadaan Hinata, tak ada informasi satupun tentang dirinya sekarang berada. Gila, hancur, frustasi itulah yang dialami Sasuke sekarang. Tak ada perkembangan itu pula yang membuatnya sekarang menghabiskan hidupnya diklub malam. Dari malam hingga pagi dirinya habiskan untuk minum-minuman haram itu agar pikiran gilanya tentang Hinata pergi meskipun itu sulit baginya.
Seperti saat ini, dirinya menghabiskan malam didepan bartender berjam-jam meneguk beberapa gelas minuman yang dipesannya bersama Gaara disampingnya.
"Kau dari tadi diam saja, apa ada yang menggangu pikiranmu sekarang ?" tak menjawab pertanyaan dari Gaara, Sasuke diam saja masih asik dengan kegiatannya memutar cincin silver yang ada dijari kelingkinnya tidak memperdulikan gelas yang baru saja diisi oleh bartander. Cincin dimana kenangan akan Hinata muncul kembali diingatannya.
Flash back
Sudah satu minggu ini Sasuke mencari Hinata namun tidak ada hasilnya sama sekali. Keputusan untuk pulang kerumahpun dirinya ambil meski dirinya ada kemungkinan akan bertemu Ayah yang dia benci.
"Sasuke dari mana saja kau !" Ibu dari Sasuke bernama Mikoto yang sangat khawatir dengan anak bungsunya yang tak kunjung pulang setelah kembali dari Amerika dengan antusias langsung menghampiri anaknya yang sekarang sedang menaiki anak tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada saat mendengar dari pelayan yang mengatakan bahwa putranya itu telah kembali.
Tapi Sasuke sama sekali tidak menanggapi Ibunya yang sedang berlari bersusah payah untuk menghampirinya, dia malah bertingkah cuek tidak memperdulikan apa-apa dan terus saja melangkah pergi.
"Sasuke !" langkah kaki Sasuke terhenti saat tangan kanannya ditahan oleh Ibunya.
"Kau dari mana saja, kenapa kau tidak langsung pulang kerumah ?"
"Lepaskan aku Kaa-san" Sasuke berucap datar saat mengatakan itu.
"Tidak bisa, kau harus-"
"Lepaskan aku !" dengan reflekpun Mikoto melepaskan pegangannya dari tangan putranya itu karena terkaget akibat bentakan barusan.
"Sasuke-" Mikoto berucap lirih membuat Sasuke merasa bersalah.
"Maafkan aku" Sasuke lantas meninggalkan Ibunya sendirian disana mematung tak bergerak sedikitpun karena masih terlalu terkejut menerima perlakuan kasar dari putra kesayangannya yang dulu tidak pernah sekalipun membentaknya apa lagi melawannya.
...
Tok tok tok
Cklek
Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Sasuke, Mikoto yang hafal dengan sifat putranya yang tidak pernah mengunci pintu kamarnya membuat dirinya berani membukanya.
Dilihatnya putra bungsu yang dirindukannya meski sempat berteriak padanya tadi sedang berbaring memunggunginya.
"Sasuke" Mikoto berucap pelan saat dirinya telah duduk disisi ranjang milik putranya itu sambil membelai rambut mencuat milik putranya.
Tak beberapa lama Mikoto melakukan itu, Sasuke membuka kedua matanya dan mencoba menjernihkan pikirannya.
"Kaa-san" Sasuke yang merasakan Ibunya sedang berada dikamarnya dan membelai rambutnya itu langsung mendudukkan dirinya untuk menanggapi keperluan Ibunya dikamarnya.
"Untuk apa Kaa-san disini ?" Sasuke berucap datar.
"Kau tidak pulang apa karena gadis bernama Hinata ?"
Kontan saja Sasuke yang mendengar Ibunya yang menyebut nama Hinata langsung melihatnya dengan tatapan penuh harap jika Ibunya itu tau akan keberadaannya sekarang.
"Apa Kaa-san pernah bertemu dengan Hinata ? Apa Kaa-san tau dimana dia sekarang ?" Sasuke bertanya penuh antusias membuat Mikoto merubah raut wajahnya yang semula biasa saja menjadi sedih.
"Kaa-san, kenapa ? Apa -"
"Maafkan Kaa-san. Kaa-san tidak tau dimana Hinata sekarang. Bahkan Kaa-san tidak pernah melihat wajahnya satu kalipun"
"Tapi Kaa-san tau nama Hinata dari mana ?"
Mikoto lantas meraih tangan milik Sasuke dan menaruh sebuah cincin silver ditelapak tangannya.
"Inikan ?"
"Itu adalah cincin yang pernah diberikan salah satu penjaga gerbang kepadaku dulu setelah beberapa hari kau pergi ke Amerika. Penjaga itu bilang bahwa seorang gadis bernama Hinata-lah yang memberikan cincin itu"
"Hinata"
"Gadis itu datang kesini untuk mencoba menemuimu. Tapi saat mendengar kau telah pergi ke Amerika, gadis itu malah menangis didepan gerbang beberapa menit sebelum dia menyerahkan cincin itu dan pergi. Namun bukan itu saja, penjaga itu juga mengatakan bahwa sebelum gadis itu pergi, gadis itu menitipkan pesan padamu jika kau pulang nanti. Pesan itu adalah... Aku tidak akan pernah memaafkanmu ataupun mempercayaimu lagi karena semua yang keluar dari mulutmu adalah kepalsuan belaka. Aku terlalu bodoh untuk mempercayai itu semua. Selamat tinggal Sasuke, semoga aku tidak perlu melihat wajahmu lagi"
"Tidak, tidak bisa. Aku tidak bohong. Aku tidak pernah bohong. Aku akan menepati janjiku. Jangan ragukan aku Hinata" Sasuke lantas menggenggam erat cincin yang ada ditangannya dan pergi berlari keluar meski beberapa kali dirinya sempat hampir terjatuh.
Flash back end
"Kenapa sudah selama ini aku tetap tidak menemukannya. Apakah dia sengaja menghindariku ?" Sasuke berucap pelan namun masih dapat didengar Gaara yang ada disampingnya meski suara ditempat itu sangat bising.
Sebelum menjawab Gaara menyempatkan dahulu meminum vodka yang ada digelasnya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kembali mengering "Aku juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kau sudah mencarinya, aku juga. Tapi hasilnya tidak ada... Kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat betapa bencinya dia padamu. Kau harus melepaskannya Sasuke, kau harus melupakannya" Gaara lantas memegang bahu Sasuke yang terlihat menegang mendengar kata-katanya.
"... Jika itu yang terbaik untuknya. Maka mulai saat ini aku ... tak akan pernah mencarinya lagi"
Akhir dari masa lalu yang menyakitkan...
