Summary
Dihari hujan Sehun kehilangan keluarganya.
Dihari hujan Sehun bertemu dengan orang yang dibencinya.
Dihari hujan Sehun memutuskan mengikuti kedua orang tuanya.
Dihari hujan juga Sehun mengetahui apa tujuan hidupnya.
.
.
Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING! NO PLAGIAT!BAHASA TIDAK SESUAI EYD!
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, EXO member.
Cast milik diri mereka sendiri,orang tua dan agensinya. Tapi fict ini asli buatan otak author
Jika ada kesamaan unsur, alur,tema,konflik maupun kalimat itu adalah unsur ketidaksengajaan dan apabila terjadinya typo berlebihan itu adalah unsur kekeliruan -.-
Rated : T
Hope you like this story!
OohSehoonie present….
"On rainy days"
.
.
.
Di lain tempat Kris baru saja selesai mengikuti kegiatan ekstrakulikulernya. Bukan selesai lebih tepatnya ia kabur karena kegiatan itu baru akan selesai satu jam lagi. Hari ini ia sedang malas mengikuti kegiatan itu. Ia masih terganggu dengan sikap Sehun tadi pagi. Sehun menghindarinya.
Kris memikirkan kesalahan apa yang dilakukannya pada Sehun sehingga anak itu sampai tak mau menemuinya. Sedang berpikir keras tentang Sehun ia malah diganggu oleh deringan ponselnya yang cukup besar.
"Hmm" menjawab dengan malas panggilan oleh orang diseberang sana
"Aniya. Sehun tak bersamaku. Aku baru saja keluar dari sekolah. Kenapa?" Kris mulai penasaran saat orang di seberang sana menyebut nama Sehun
"Baiklah aku akan mencarinya. Luhan kau telpon saja orang-orang suruhan appaku agar mengawasi orang yang mencurigakan di kantor appa Sehun" ia langsung melesat keluar sekolah dengan mobilnya saat mendengar Sehun tak ada dan Luhan curiga Sehun diculik oleh orang yang ingin mengambil perusahaan appa Sehun.
.
.
.
Tulisan yang diberi efek miring(italic) adalah flashback
.
.
Chapter 7
Kai semakin panik saat Luhan kembali menelponnya dan mengatakan bahwa ia curiga Sehun diculik.
Kai berlari kembali kearah sekolahnya,perasaannya mengatakan bahwa Sehun masih berada di sekolah karena terjebak hujan. Dia bahkan hampir terjatuh karena licinnya jalan saat kalau saja keseimbangan Kai buruk mungkin ia akan mencium kerasnya jalan raya yang dilewatinya.
Matanya menajam saat melihat sesosok pria albino sedang dibekap mulutnya dan ditarik oleh tiga orang. Kai yakin itu Sehun, tanpa pikir panjang lagi ia segera berlari kearah mereka untuk menyelamatkan Sehun.
"Mau apa kau bocah?" ucap salah satu dari mereka saat melihat Kai mendekat
Jujur saja Kai agak ketakutan. Ketiga orang ini walaupun badan mereka tak terlalu berotot tapi tetap saja mereka bertiga dan Kai sendiri,walaupun termasuk siswa bandel ia tak pernah berkelahi sampai memukul orang. Ia tak takut jika dihajar habis-habisan oleh mereka tapi ia takut apabila dia tak bisa melawan ketiga orang ini Sehun akan diapa-apakan oleh mereka.
Kai melirik sekitarnya, mungkin saja ada orang yang bisa membantunya tapi nihil. Seakan sudah direncanakan, jalanan sepi, tak ada orang yang lewat karena hujan. Sudah terlambat untuknya mencari bantuan sekarang, bisa-bisa dia malah keduluan dihabisi oleh tiga orang di depannya.
Terpaksa Kai melawan sendiri ketiga orang itu, mulai dari memukul orang yang di dekatnya lalu dengan tidak kerennya Kai melempar tasnya yang berisi banyak buku tebal mengenai wajah orang yang memegang Sehun.
Sedikit menyesal karena seharusnya Kai menghadapi orang itu paling akhir agar Sehun tidak terlepas dan jatuh pada kerasnya tanah. Kai kemudian melayangkan pukulan-pukulan lain. Jujur saja ia kewalahan akibat perbedaan jumlah, walaupun hanya berbeda dua orang.
Saat ketiga orang itu lengah dan berusaha bangun, Kai langsung saja mengangkat Sehun dan berlari menghindari ketiga orang itu. Sialnya, saat Kai bersiap untuk lari sebuah botol bir entah darimana asalnya mengenai kepalanya dan pecah saat itu juga.
.
.
.
Kris menyusuri jalan dari sekolahnya ke rumah Sehun, ia sudah hampir tiba di rumah Sehun dan masih belum menemukan tanda yang menunjukkan keberadaan si albino itu. Mungkin ia akan menemui Luhan dulu dan memutuskan untuk melapor polisi saja jika Sehun belum ditemukan. Kris segera memarkir mobilnya di depan rumah Sehun,dan langsung masuk saat melihat pagar dan pintu yang dibiaarkan terbuka lebar begitu saja.
"Kris, untung kau datang. Tolong obati luka anak ini" teriakan Luhan menyambut Kris saat sampai di dalam rumah tersebut
"Apa yang terjadi padanya Lu?"
Kris dan Luhan memang tidak pernah lagi memandang status mereka sebagai guru dan murid. Mereka sudah berubah menjadi rekan kerja bila diluar sekolah.
"Nanti kuceritakan. Sekarang uruslah anak itu dan aku akan melihat keadaan Sehun di kamar dulu" Kris mendengus sebal. Kenapa bukan dia saja yang mengurus Sehun dan Luhan yang mengurus Kai.
.
.
.
Sehun terbangun dengan rasa pusing diseluruh kepalanya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang sekarang ditempatinya. Cukup lega mengetahui bahwa sekarang dirinya berada di kamarnya sendiri. Matanya lalu menangkap sosok Kai tengah tidur di sebelahnya, mata Sehun melebar saat melihat perban di kepala Kai. Seingatnya kemarin Kai pergi bersama Kyungsoo lalu kenapa sekarang ada di kamarnya.
"Kau sudah bangun? Ini makan sarapanmu. Jangan bangunkan Kai dulu dia perlu istirahat setelah menolongmu" Luhan meletakan sarapan Sehun pada meja disamping tempat tidur Sehun kemudian keluar lagi setelah mengambil pakaian kotor milik Sehun
Sehun menghembuskan napasnya. Lagi-lagi ia hanya bisa menyusahkan orang saja. Pasti luka di kepala Kai sakit sekali. Ia memandang sendu Kai yang tengah tertidur lelap.
Dengan cepat Sehun memakan sarapan yang disiapkan Luhan dan keluar menyusul hyungnya itu.
"Hyung, biarkan saja pakaianku. Lagipula ada maid yang mengurusnya" Sehun mengambil pakaiannya dari tangan Luhan
"Bias saja Hun, lagipula hyung sedang tidak ada kerjaan kok"
"Seharusnya hyung istirahat saja. Lihatlah, bahkan sekarang sudah ada lingkaran hitam di mata hyung. Hyung tidur saja sana"
"Hey Sehun, kau tau tidak?" ucap Luhan saat Sehun menariknya ke kamar. Ia sudah pasrah mengikuti perintah Sehun yang keras kepala.
"Apa?"
"Kemarin itu Kai sangat keren loh. Dia masih nekat menggendongmu padahal kepalanya sudah terluka dan hampir pingsan. Kau yakin tak mau menerimanya kembali? Dia bahkan rela menginap disini semenjak kusuruh menjagamu saat hujan deras waktu itu" Luhan bercerita sambil memperhatikan wajah Sehun yang entah kenapa sekarang perlahan mulai berubah merah
"Kau tidak perlu ber-blushing ria seperti itu Hun. Hyung semakin iri pada kalian berdua."
"Yak. Hyung kau ini apa-apaan sih. Berhenti menggangguku dan cepatlah tidur" Sehun menhentakan kakinya kesal lalu meninggalkan Luhan. Ia malu hyungnya melihat wajahnya yang sekarang sudah memerah.
"Aish Luhan hyung itu sangat menyebalkan" Sehun beranjak ke dapur untuk mengambil air. Ia lupa minum air sehabis sarapan tadi.
"Sedang apa Hun?" Sehun hampir saja menjatuhkan gelas yang dipegangnya saat mendengar suara Kai
"eh? Kau sudah bangun? Apa lukamu masih sakit?"
"Santai saja Hun. Ini sudah mendingan kok hanya saja kepalaku masih sedikit pusing" ujar Kai saat Sehun memandangnya khawatir
"Apa kau sudah sarapan? Mau dibuatkan sesuatu?"
"Boleh. Tapi kenapa rumahmu sepi sekali? Kemana Luhan hyung?"
"Sedang istirahat di kamar"
Kai hanya mengangguk lalu diam lagi. Kepalanya masih terasa pusing jadi sebaiknya dia diam saja daripada pusingnya semakin terasa
"Kau mau kuganti perbannya?" ucap Sehun sambil meletakan semangkuk bubur di hadapan Kai
Kai menatap aneh bubur itu. Ia hanya tak menyangka Sehun mau repot-repot meyiapkannya bubur. Yah, walaupun bubur instan
"Mianhae aku hanya bisa membuat ini"
Kai hanya mengangguk. Ia masih kaget saja Sehun mulai memperhatikannya lagi.
Sehun kembali setelah mengambil obat dan perban, dengan perlahan ia melepas perban di kepala Kai.
"Shh, Hun pelan-pelan" Kai sedikit meringis saat Sehun tak sengaja menyentuh lukanya
"Mian, mianhae Kai. Aku tak sengaja. Lebih baik kusuruh Luhan hyung saja"
"Lanjutkan saja Hun"
.
.
.
Kai memegang perban di kepalanya. Rasanya lebih baik saat Sehun yang memasangnya. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya karena pikirannya mulai aneh.
"Apa mungkin akibat pukulan botol bir kemarin ya?" dirinya bergumam tanpa sadar
"Oho. Disini rupanya kau. Bagaimana bubur buatan Sehun?" Luhan yang entah muncul darimana datang merangkul Kai
"Semalam kau tak berbuat macam-macam pada Sehun kan?" Luhan menaik turunkan alisnya saat menatap Kai
Sedangkan yang ditatap hanya menatap aneh Luhan. Kai tidak habis pikir gurunya yang biasa tegas di sekolah ternyata absurd seperti ini
"Jangan menatapku seperti itu bocah. Kau pikir aku tak tau apa yang kau perbuat pada Sehun di malam itu"
"Apa kau tak ingat sudah mencium Sehun saat kusuruh kau menjaganya" ucap Luhan saat melihat otak Kai tak berhasil mencerna perkataannya
"Hyung, pelankan suaramu. Kalau Sehun mendengarnya bagaimana?" Kai langsung panik dan melihat ke arah Sehun yang sedang menonton tv di ruang keluarga.-saat ini Kai dan Luhan sedang berada di dapur-
"Biarkan saja. Setidaknya dia tau di sini masih ada yang menyayanginya sebelum pergi ke Beijing nanti"
"Jangan bilang kau akan mengajak Sehun ke Beijing" Kai menatap Luhan horror. Dia bahkan belum sepenuhnya mendapatkan Sehun lagi
"Appa menyuruhku membawa anak itu. Dia takut kejadian kemarin terulang lagi. Kau tak bisa selalu menjaga Sehun begitu juga aku. Disana setidaknya dia lebih aman"
"Hyung, dengar. Kemarin itu Sehun tidak pulang bersamaku. Lain kali kupastikan kejadian kemarin tidak akan menimpa Sehun lagi. Lagipula apa kau tega memisahkan Sehun dengan teman-temannya?"
"Hentikan omongan bodohmu bocah. Kau pikir aku tak tau kalau Sehun itu tak mempunyai teman yang cukup dekat di sekolah"
"Ah benar, bagaimana nanti Tao saat Sehun tak ada" ucap Luhan lagi setelah menjeda kalimatnya beberapa detik
"Hei berhenti memanggilku bocah. Omonganmu lebih bodoh hyung, semua juga tau kalau Sehun dan Tao itu tak pernah akur sejak dulu"
"Sejak kapan kau mengenal Sehun?" Luhan tiba-tiba bertanya pada Kai
"Sejak awal kenaikan kelas. Kami ditempatkan pada kelas yang sama. Wae?"
"Apa waktu masih kelas satu kau dan Sehun di kelas yang sama?"
Kai menggeleng. Ia bahkan baru mulai memperhatikan Sehun saat anak itu tak sengaja menumpahkan minuman pada bajunya
"Dengar, pada awal masuk sekolah Tao dan Sehun itu dekat sekali. Bahkan mereka sempat ke Beijing bersama. Makanya aku bisa mengenal Tao. Tao juga sering menginap disini begitu juga Sehun sering menginap di rumah Tao"
"Lalu? Apa Tao lupa ingatan dan melupakan Sehun?"
"Jangan potong ucapanku bocah"
"Yang kutahu dari cerita Sehun, Tao itu menyukai Kris. Tapi Kris malah menyukai Sehun. Sehabis ujian kenaikan kelas, Kris menyatakan perasaannya pada Sehun namun ditolak karena Sehun memikirkan perasaan Tao. Hanya saja waktu itu Tao ada disana"
"Heh, pantas saja Tao tampak tidak suka saat hubunganku dengan Sehun berakhir. Tapi hyung, kalau Sehun pergi ke Beijing bukankah Tao akan senang? Setidaknya Sehun akan lebih jauh dengan Kris"
"Tetap saja. Tao itu sebenarnya masih memperhatikan Sehun. Kemarin saja saat tau Sehun hilang dia tampak khawatir dan menelponku berkali-kali"
"Kalian berdua sedang apa? Kenapa serius sekali" Sehun datang saat Kai tengah fokus mendengarkan cerita Luhan
"Oh Sehun. Kau mengagetkan hyung"
.
.
.
"Jadi apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Sehun lagi. Saat ini ia hanya berdua dengan Kai. Luhan lagi-lagi disibukan dengan perusahaan yang baru-baru ini dipimpinnya. Perusahan keluarga Sehun.
"Luhan hyung hanya menanyakan lukaku saja. Hanya itu" Kai masih berusaha meyakinkan Sehun dengan menjawab pertanyaan yang sama dengan Luhan tadi
"Kau yakin? Lalu kenapa kalian serius sekali?"
"Lukaku ini butuh penanganan serius. Bagaimana kalau ada pecahan botol yang tersisa di kepalaku?" Oke. Ini aneh. Kai tak bisa memikirkan apa alasan yang tepat untuk Sehun dan yang keluar disaat ini hanyalah omongan tak bermutu tadi.
Sejenak Kai merasa lega karena Sehun berhenti menanyainya dan diam. Namun, ia merasa aneh saat Sehun terus diam dan tak berani melihat ke arahnya
"Sehun? Kau kena-"
"Mianhae. Gara-gara aku kau harus mendapatkan luka itu. Lain kali, biarkan saja mereka membawaku"
Kai mengerutkan keningnya. Ia hanya menjawab asal dan Sehun langsung merasa bersalah. Ia baru tau bahwa namja di depannya ini cukup sensitif.
"ya. ya. Oh Sehun. Ucapanku tadi tidak serius. Lukanya baik-baik ! Dengarkan aku dulu, jangan pergi begitu saja"
Kai dengan cepat langsung memeluk Sehun. Ia takut kalau Sehun lagi-lagi marah padanya padahal baru tadi pagi ia menerima perlakuan cukup hangat dari Sehun
Sambil menutup mata Kai menaruh kepalanya di pundak Sehun. Masih terasa hangat seperti dulu. Kalau bisa Kai ingin tetap seperti ini terus, sayangnya suara tawa Sehun membuatnya harus melepas pelukannya dan menatap Sehun penuh tanya.
"Kau bodoh" ujar Sehun sambil menahan tawanya yang belum sepenuhnya reda
"Tadi pagi aku bahkan baru melihat dan mengobati lukamu. Bahkan lukamu sudah kering"
Kai sendiri terlihat seperti orang bodoh. Kenapa ia tak mengingat kejadian tadi pagi sebelum berbohong pada Sehun
"Kau jahat sekali Hun. Kukira kau marah padaku." Kali ini giliran Kai yang berjalan meninggalkan Sehun, namun bedanya Sehun tetap diam di tempatnya
Kai berbalik setelah menyadari ternyata Sehun mengejar ataupun menahannya
"Apa? Berharap aku mengikutimu?" ucap Sehun saat Kai menatapnya
"Aigoo, kau ini benar-benar menggemaskan Sehuna" ucap Kai dengan nada yang dibuat-buat sambil mencubit pipi Sehun
"Hentikan Kai"
"Tidak mau"
.
.
.
Setelah perkelahian kecil tadi, sekarang Sehun dan Kai sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Sebenarnya hanya Sehun saja yang menonton kartun kesukaannya sedangkan Kai daritadi terus memeluk Sehun dari samping
"Kai lepaskan. Ini tidak nyaman" Sehun berusaha melepaskan pelukan Kai saat lehernya terus bersentuhan dengan rambut Kai
"Jongin"
"Panggil aku Jongin lagi. Kau bukan orang asing di hidupku. Jangan memanggilku Kai lagi"
"Memang apa bedanya? Jongin dan Kai sama-sama hitam,pesek-"
"Tapi kau suka kan? Cepat mengaku" Kai semakin mempererat pelukannya pada Sehun
"Yah Kai, sesak bodoh"
"Jongin. Panggil aku Jongin, Sehun"
"Yayaya. Terserah. Cepat lepas Jongin"
"Sekali lagi"
"Jongin. Jongin. Jonginie. Sudah puas kau?"
"Aih, manisnya" Jongin bukannya melepaskan Sehun sesuai janjinya tadi tapi malah menarik Sehun agar lebih dekat dengannya
Sehun sendiri tidak masalah dengan hal itu. Dia menyukainya dan dia ingin bersama Jonginnya lagi seperti dulu. Sehun mulai jujur dengan perasaannya yang masih sangat mencintai Jongin.
"Jongin,boleh aku bertanya padamu?"
"Itu kau sudah bertanya"
"Aku serius"
"Ya, tanyakan saja Sehunie"
"Apa yang kau dan Luhan hyung bicarakan tadi?"
'Sepertinya susah membuat Sehun melupakan pertanyaan yang daritadi ditanyakannya' Jongin menghembuskan nafasnya. Bingung ingin menjawab apa pada Sehun.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Mulai sekarang author akan menyebut Kai sebagai Jongin saja karena Sehun sudah memanggil Kai dengan sebutan Jongin seperti dulu lagi.
Ini udah lebih panjang dari sebelumnya kan? Walaupun akhirnya updatenya butuh waktu lama. Ulangan dan tugas terus berdatangan membuat author hampir melupakan fanfic ini.
Gomawo yang udah review. Author gak bisa ngebales satu-satu tapi pertanyaan kalian sebagian udah kejawab setelah membaca chapter diatas kan?
Yang belum kejawab tunggu aja chapter berikutnya.
Ppyong~
.
.
.
Satu review gak membuat kalian miskin kok.^^~
