Selamat Membaca!

Sorry for typo ^^

.

.

Can I Be With You?

-Our Destiny-

Chapter 2-3

.

.

Kai mengusap kasar wajahnya. Mengapa saat ia diberi kesempatan bertemu Kyungsoo, semuanya jadi berantakan. Apa salahnya sampai Kyungsoo membencinya? Kata-kata Kyungsoo saat mengakhiri hubungannya telah membuatnya cukup trauma jika harus bertemu dengan Kyungsoo. Ia meyakinkan dirinya cukup lama agar siap bertemu Kyungsoo. Tapi saat ia bertemu, dirinya makin dibenci oleh Kyungsoo. Oh Tuhan! Rasanya Kai ingin terjun dari jurang, mungkin sakit hatinya tak akan terasa.

"Sebenarnya apa salahku Kyungsoo," gumam Kai sedih. Ia telah berkali-kali menghubunginya, tetapi nihil. Kyungsoo tak menjawabnya meskipun tersambung.

.

.

Sehun mengetuk-ngetukkan kukunya di meja sambil memegang ponsel yang menempel di telinganya. Selama beberapa hari ini, ia selalu mencari keberadaan Luhan. Sejak pertemuannya dengan Luhan yang tidak disengaja, Sehun selalu terngiang ucapan terakhir Luhan saat meninggalkannya. Ia memang tahu Luhan bekerja di kantor yang sama dengannya, tetapi ia tak pernah sekalipun berkesempatan bertemu dengannya.

"Noona," ucap Sehun saat seseorang di sana menjawab telfonnya.

"Wae Sehun-ah?"

"Apa Luhan sudah datang?" tanya Sehun.

"Sepertinya belum, jadwalnya sore karena Fantasy (nama girlband), ada interview hingga sore,"

"Oh baiklah Noona terima kasih,"

"Ada apa? Sepertinya kau selalu mencari Luhan-ssi?"

"Gwaenchanha Noona, aku hanya ingin melihat pegawai baru saja," ucap Sehun berbohong.

"Tidak biasanya kau ingin tahu karyawanmu. Mengapa hanya Xi Luhan yang kau cari?" rupanya Yixing, si penerima telfon, tidak begitu saja percaya pada atasannya sekaligus sepupu suaminya itu.

"Aku mencari yang lain juga Noona. Departemen-mu kan hanya Xi Luhan pegawai barunya," ucap Sehun mencoba tenang dan berbicara dengan cepat.

"Jadi?" rupanya Yixing belum menyerah.

"Aish Noona, yasudah jika Luhan belum datang" lalu Sehun memutuskan sambungan sebelum Noona cerewetnya itu menanyakan yang aneh-aneh. Yixing memang hanya cerewet pada orang-orang yang dikenalnya saja.

Setelah itu Sehun memegang kedua sisi kepalanya, rasanya ingin meledak hanya dengan memikirkannya. Sehun melirik secarik kertas kecil yang bertuliskan sebuah nomor telefon dengan nama Xi Luhan yang tertera di sana. Haruskah ia menghubungi Luhan? Bagaimana jika Luhan menolak panggilannya seperti Kyungsoo menolak panggilan Kai? Atau Bagaimana jika nomor Luhan sudah tidak aktif lagi? Reaksi Luhan yang bervariasi muncul memenuhi otaknya. Agh!

.

.

Ceklek!

Suara pintu terbuka setelah diberi izin oleh pemilik ruangan memperlihatkan gadis bermata rusa dengan pakaian sederhananya tetapi masih terlihat menawan. "Annyeong Yixing-ssi," sapa Luhan sambil memperlihatkan senyum manisnya.

"Silakan duduk Luhan-ssi," Yixing mempersilakan tamunya itu duduk. "Ada apa? Bukankah jadwalmu sore nanti?" tanya Yixing.

Luhan tersenyum sambil meletakkan sebuah surat bertuliskan 'Transfer'. Membuat Yixing terkejut.

"Mengapa kau meminta transfer kembali Luhan-ssi?" tanya Yixing, "apa kau tidak betah di kantor ini?"

"Ah bukan seperti itu Yixing-ssi. Hanya saja orangtua saya mendadak pindah ke China, karena tujuan saya kemari adalah menemani kedua orangtua saya maka buat apa jika saya di Korea sendiri," jelas Luhan. Ia tidak sepenuhnya berbohong, kedua orangtuanya memang ingin kembali ke kampung halamannya menikmati masa tua di sana. Berhubung Luhan juga merasa tak nyaman berada di Korea terlebih di kantornya karena seseorang, maka alasannya semakin kuat untuk kembali ke China.

"Jadi kau ingin ditransfer ke daerah China?" tanya Yixing, wajahnya terlihat sedikit kecewa karena harus kehilangan salah satu pelatih berbakat.

"Ne, mianhamnida karena sudah bersikap semena-mena, selalu meminta transfer," ucap Luhan sambil menundukkan kepalanya.

"Sebenarnya aku sangat menyayangkan jika pelatih sepertimu hanya bekerja di kantor cabang. Apa tidak bisa kau menunda kepergianmu? Bukankah proyekmu belum selesai Luhan-ssi?"

"Ne. Sebenarnya saya belum memulainya, jadi saya sudah menyerahkannya pada Kim Hyoyeon. Maaf jika saya tidak bertanggung jawab," ucap Luhan lagi.

"Baiklah, karena itu kemauanmu maka aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi Luhan-ssi, peraturan di perusahaan pusat jika karyawan maupun artis, bahkan trainee ingin keluar maka harus melalui persetujuan presdir. Saat diterima memang tidak secara langsung berurusan dengannya, tapi jika menyangkut keluarnya harus disetujui presdir," jelas Yixing. "Jadi aku hanya akan menyampaikan surat ini pada Presdir Oh dan setelahnya kau bisa menuju ruangannya,"

Luhan sedikit membolakan mata rusanya, jika ia harus berurusan dengan presdirnya maka ia harus bertemu dengan Sehun. Oh Tidak! Pekik Luhan dalam hati. Ia terlalu sibuk berdiskusi dengan hati dan pikirannya, hingga tak sadar Yixing memanggilnya.

"Luhan-ssi," panggil Yixing lagi.

Luhan tersadar dari lamunannya, "ah ya, mianhae Yixing-ssi,"

"Gwaenchanha. Aku sudah menelefon sekretarisnya jadi kau bisa langsung ke ruangan presdir. Kebetulan ia sedang tidak ada meeting." Ternyata selama Luhan melamun, Yixing sudah memproses surat tranfernya yang membuat Luhan sedikit menyesal telah meminta transfer jika harus bertemu Sehun. Kau menggali kuburmu sendiri Nona Xi! Baiklah sepertinya Luhan harus memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Sehun selamanya.

Ketukan pintu di ruangan presdir itu. Setelah suara berat yang tidak ingin Luhan harapkan terdengar, sekretarisnya yang bernama Minseok itu mengantarkan Luhan ke dalam. "Ini Nona Luhan, presdir," ucap Minseok. Sehun mengangguk dan menyuruh sekretarisnya itu kembali ke tempatnya.

Entah mengapa suasana di ruangan itu sangat mencekam, Luhan merasa sedang menonton film horror yang sangat dibencinya. Sepertinya ini lebih sekedar menonton, tapi Luhan seperti sedang ditatap langsung oleh pemeran hantunya, tapi sayangnya hantu itu sangat tampan dengan mata elang tajamnya membuatnya gugup dan hampir membuat kakinya lemas.

Sehun bersmirk dalam hati ketika melihat kegugupan Luhan 'kau datang sendiri tanpa aku cari, Nona Lu'. Lalu Sehun melangkahkan kakinya ke tempat Luhan masih mematung, "jadi Nona Xi, kenapa kau harus keluar dari kantorku?" tanya Sehun datar.

Luhan sedikit memundurkan langkahnya dengan kikuk karena Sehun terlalu dekat berhenti di depan Luhan. Hal itu membuat kesedihan dan kebingungan hati Sehun entah kemana, kini digantikan oleh kekehan di dalam hatinya. Gadis yang dirindukannya itu terlalu imut.

"Bu..bukankah anda sudah membaca alasannya Presdir," Luhan mengatakannya dengan tenang walaupun hatinya sangat tidak tenang karena degup jantungnya yang terlalu cepat.

Masih dengan wajah datarnya, Sehun memajukan langkahnya, "aku tidak mempercayai alasan itu. Kantor ini membutuhkan alasan mengapa pekerjanya meninggalkannya begitu saja," ucap Sehun yang sedikit terkekeh melihat Luhan memundurkan langkahnya kembali.

Luhan menahan napasnya ketika Sehun menurunkan wajahnya tepat di depan Luhan, setelah mata elang itu menangkap gugup dari mata rusa Sehun membisikkan sesuatu di telinga Luhan, "silakan duduk Nona Xi," lalu Sehun berbalik menuju sofa di sana sambil tersenyum geli melihat wajah Luhan yang memerah sebelum ia membalikkan tubugnya. Luhan hanya berjalan pelan mengikuti Sehun dan duduk tepat di depannya.

"Jadi Nona Xi, sepertinya aku menolak jika kau ditransfer ke China," ucap Sehun langsung.

Mata rusa itu membola, "w..wae?"

"Kau harus terus di sampingku Nona Xi. Sudah cukup aku bersabar," ucap Sehun. Luhan hanya bisa menatap bingung laki-laki di hadapannya.

"Jadi, akhirnya aku bisa berbicara padamu–"

Luhan masih mendengarkan.

"Bukankah kita sudah sama-sama menyatakan perasaan kita melalui surat itu?" tanya Sehun.

"Lalu?" kini Luhan menatap datar Sehun. Entah mengapa jika menyinggung soal surat itu hati Luhan selalu berdenyut sakit. Hari-harinya di Chicago selalu terngiang bagaimana dengan bodohnya ia menunggu Sehun mencarinya.

"Kau telah membuat hatiku bingung Lu. Kau menyatakan bahwa kau menyukaimu, lalu saat takdir mempertemukan kita, kau pergi begitu saja saat aku memintamu tetap di sisiku,"

"Aku tak pernah memintamu untuk menjadikanku kekasihmu Sehun," jawab Luhan datar, matanya tak menatap Sehun.

"Tapi– Aku benar-benar mencintaimu Lu. Selama ini aku masih tetap mencintaimu Lu–"

"Lalu kenapa kau tak mencariku? Mengapa kau tak pernah muncul di hadapanku?!" ucap Luhan, nadanya meninggi. Sehun bungkam, ia tak tahu harus menjawab apa.

"Kau pikir aku wanita macam apa hah?! Kau menyatakan cinta padaku lalu tanpa jejak menghilang begitu saja dan tak pernah mencariku. Saat kita bertemu kau langsung menyatakan perasaanmu dan memintaku menjadi kekasihmu?! Ya Oh Sehun sadarlah! Kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, tidakkah kau memikirkan perasaanku yang sebelumnya kecewa karenamu?" satu tetes air mata jatuh dari mata indah itu. Luhan mengalihkan pandangannya dari Sehun dan menghapus air mata sialannya yang tak diundang tetapi tetap mengalir.

"Mianhae," Sehun menunduk. "Aku tak pernah tahu jika kau menungguku selama itu. Aku memang bodoh,"

"Aku yang bodoh telah menunggumu." Luhan berdiri lalu bersiap meninggalkan ruangan itu. "Kalau begitu aku akan tarik kembali surat transfer itu, aku tidak bisa menyampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Jadi–" ia membungkukkan tubuhnya, "maaf jika saya terlalu lancing meminta transfer sajangnim, saya akan kembali ke tempat saya"

Langkah Luhan terhenti ketika pergelangan tangannya ditarik. Tubuhnya tertarik ke belakang dan kini ia tepat didekapan laki-laki yang selama ini ia rindukan.

"Aku mencintaimu Lu, sungguh. Aku benar-benar minta maaf karena aku tak mencarimu. Tapi aku bersumpah, aku selalu mencintaimu Lu," ucap Sehun.

"Se–"

"Bisakah kita tak menjauh satu sama lain? Itu sudah cukup Lu," pinta Sehun dengan suara putus asa. Hati Luhan berdenyut sedikit mengetahui Sehun tak lagi memaksanya menjadi kekasihnya. Jadi Xi Luhan, apa yang kau mau?!

"Aku terlalu mencintaimu jika kau menjauh dariku,"

Runtuh sudah pertahanan Luhan untuk tetap memusuhinya. Setetes air mata menandainya. Tanpa membalas pelukan Sehun, Luhan menenggelamkan kepalanya pada dada bindang lelaki yang memeluk erat dirinya. Ia menangis di sana. Sehun hanya mampu memejamkan matanya merasakan perih hatinya karena mendengar orang yang ia cintai menangis karenanya.

Setelah Luhan lebih tenang, kini mereka duduk bersebelahan dengan 2 cangkir teh di hadapan mereka.

"Apa kabarmu Lu?" tanya Sehun membuka percakapan.

Luhan tersenyum, "baik, seperti yang kau lihat. Kau?" tanya Luhan sambil menatap lelaki di sampingnya yang tengah menyeruput tehnya.

"Kacau.. selama memikirkanmu,"

Luhan tertawa, "kau pintar sekali menggombal, ingat kita baru saja berbaikan Tuan Oh. Jangan membuatku menjauhimu lagi,"

"Aku serius Nona Lu," Sehun menatap tajam Luhan.

"A..arraseo araseo," gagap Luhan. Sehun tertawa melihat wajah Luhan yang ia anggap sangat imut. Jadilah mereka mulai berbincang menanyakan beberapa tahun mereka tak berjumpa.

"Lu, ayo ikut aku," Sehun menggenggam tangan Luhan dan menariknya ke luar ruangan.

"Yak! Kita mau kemana?" tanya Luhan garang. Ia masih tak bisa melepaskan tangannya dari Sehun.

"Kau akan tahu Nona Xi, jadi ikut saja aku tanpa banyak bicara oke," lalu mereka berjalan berdampingan dengan satu tangan mereka saling bertautan.

"Kau membuatku malu, Oh Sehun," Luhan berjalan sedaritadi dengan pandangan yang menatap lantai, ia tak berani menatap ke depandan sekitarnya. Ia tahu, para pegawai maupun artis yang tak sengaja berpapasan dengan mereka, menatap mereka penasaran.

"Angkat wajahmu sekarang, atau aku akan menciummu," ucap Sehun jahil. Segera saja Luhan mengangkat wajahnya, bibirnya mengerucut kesal dengan tindakan otoriter Sehun. Sehun hanya bisa terkekeh ketika melihat gadis di sebelahnya.

Mereka sampai di sebuah tempat yang tak asing di mata Luhan. "Ini.." Luhan bergumam sambil melihat sekelilingnya.

"Kau ingat Lu? Ini tempat yang kita kunjungi sebelum kita berpisah," ucap Sehun. Luhan mengangguk.

"Kajja, kita ke dalam," Sehun kembali menggenggam tangan Luhan. Kali ini tidak ada pemberontakan dari tangan mungilnya.

"Wah, tempat ini tak banyak berubah," ucap Luhan sambil memandang sekelilingnya.

"Tentu Lu, kita tidak terlalu lama meninggalkan Seoul," ucap Sehun.

Kini mereka disuguhkan pemandangan gembok-gembok yang terpasang. "Apa kau ingat di sebelah mana kita memasang gembok kita Lu?" tanya Sehun.

"Tidak, siapa orang bodoh yang masih mengingat dimana ia menguncikan gembok mereka diantara ribuan gembok ini?" tanya Luhan.

Sehun tertawa. "Bagaimana jika kita taruhan, siapa yang bisa menemukan dimana gembok kita, maka yang kalah harus menuruti permintaan pemenangnya," tantang Sehun.

"Mwo?! Aku tidak mau menghabiskan waktu mencari gembok itu Sehun-ah," tolak Luhan.

"Ayolah, ini menyenangkan. Kau boleh meminta dan menyuruhku apa saja," ucap Sehun. "Atau kau ingin ku cium sekarang juga?"

Luhan membolakan matanya, "kau selalu mengancamku dengan ciuman Sehun, kau menyebalkan," gerutu Luhan.

Sehun memajukan wajahnya, membuat Luhan menahan napas dan berniat memundurkan langkahnya. Namun terlambat, Sehun sudah mengunci punggungnya agar tak bisa melangkah mundur.

"Fine! Kau mendapatkan tantangan itu, ayo cari gembok kita," ucap Luhan cepat lalu berjalan menjauhi Sehun menuju tumpukan gembok. Entah berapa lama ia akan mencari gembok itu, mungkin hingga rambutnya memutih baru menemukannya, pikir Luhan.

Sehun terkekeh melihat Luhan yang sibuk mencari gemboknya di tumpukan gembok lainnya. "Kau akan menemukan gembokmu jika kau mencarinya sedikit ke kiri Lu," ucapnya.

Perlu kalian ketahui, Sehun sampai di Seoul lebih dahulu daripada Luhan, bukan? Tentu saja Sehun sudah mengunjungi Namsan Tower ini dan mencari keberadaan gemboknya mereka. Ia berpura-pura mencari di tumpukan gembok yang sama dengan Luhan dan tanpa membuang waktu ia langsung menemukan gemboknya.

"Lihat! Lu, aku menemukan milikku," ucap Sehun berpura-pura senang.

Luhan berlari menuju tempat Sehun, "benarkah?" tanya Luhan tak percaya.

"Lihat saja,"

Luhan memfokuskan matanya pada sebuah gembok yang Sehun pegang. 'Saranghae XLH. OSH' baca Luhan dalam hati. Saat ini jantung Luhan berdetak tak karuan, apa wajahnya memerah? Semoga saja tidak.

"Kau menang, cepat apa permintaanmu?" ucap Luhan menatap malas Sehun.

"Uuuu, kau sangat tidak sabar ternyata Nona Xi," goda Sehun.

"Oh Sehun!"

"Arraseo, arraseo mianhae–" kekeh Sehun "baiklah–"

Suara ponsel dengan tidak sopannya menginterupsi ucapan Sehun, "changkaman Lu," ia merogoh sakunya lalu membuka pesan yang ternyata dari eomma-nya. Segera saja ia membuka pesan tersebut.

Oh Sehun anakku yang tampan. Jangan lupa malam ini kau ada janji dengan eomma hmm. Kalau aku tak melihat kau menggandeng tangan gadis, maka aku akan langsung menelfon gadis cantik ini, lihatlah. Tak ada bantahan lagi.

Oh! Hampir saja Sehun melupakan hal itu. Ia mengacak rambutnya kesal sambil melihat foto wanita dengan baju cukup terbuka dan bibir yang sangat merah karena lipstik-nya.

"Waeyo?" tanya Luhan sambil menatap Sehun khawatir.

Sehun memasukkan memasukkan kembali ponselnya dan menggeleng, "aniyo, bukan apa-apa,"

Agh! Padahal Sehun sudah memikirkan permintaanya pada Luhan. Ia akan meminta Luhan menemani malamnya (?) Eits, maksudnya menemaninya semalaman tanpa tidur. Jadi mereka harus terjaga sepanjang malam dan melakukan hal yang Sehun mau seperti, piknik tengah malam, bermain kembang api, bermain di laut, dan yang pasti melakukan apapun berdua. Ya, ia melakukan itu karena esok hari ia harus menuju Thailand karena urusan bisnis.

"Nanti malam pukul 7 aku akan menjemputmu, jadi.." Sehun mengecek jam tangannya "..sekarang sudah pukul 4, Nona Xi kau harus bersiap dan dandan yang cantik oke,"

"Ya! Aku ada jadwal melatih hingga malam, kau lupa aku tak jadi pergi dari kantormu?"

"Kau cerewet sekali Nona Xi, kau melupakan perjanjian kita? Atau.."

"Kau akan menciumku? Iya, kan Tuan Oh?" kesal Luhan.

Sehun tertawa, "so smart, Lu," ia meletakkan ponselnya di telinga, "oh Nona, hari ini Luhan libur oke, gantikan dengan pelatih lain," lalu Sehun mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari sebrangnya

"Hey! Aku ada projek, tidak bisa seperti itu!" Luhan kesal dengan tindakan semena-mena Sehun. Tanpa rasa bersalah Sehun hanya merangkul bahu Luhan dan mengajaknya turun. Sehun hanya tertawa mendengar ocehan Luhan yang terus memarahinya karena menghalangi projeknya.

Hati Sehun saat ini sangat bahagia bisa kembali bercanda tawa dengan gadis yang selalu ia rindukan. Terima kasih Tuhan telah mempertemukan kembali kamu berdua, walaupun pada awalnya harus bertengkar, tapi akhirnya kami bersama. Doa Sehun dalam hati.

.

.

"Joonmyeon-ah," suara wanita yang sangat lembut mengalihkan perhatian pria yang sedaritadi berkutat dengan komputer di depannya dengan sepasang headset terpasang dikedua telinganya.

"Ah, yeobo, kau di sini?" ucap pria itu ketika melihat siapa yang datang ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.

Pipi Yixing bersemu merah ketika mendengar pria yang resmi menjadi suaminya bulan lalu itu memanggilnya dengan panggilan mesra seperti itu. "Aku membawakanmu makan siang. Kau pasti tidak sempat keluar untuk makan siang karena akan mendebutkan soloist itu kan?" Yixing menatakan makan siang untuk mereka berdua di meja ruangan itu.

Joonmyeon meninggalkan meja kerjanya dan duduk tepat di sebelah Yixing, ia menerima sepiring nasi yang disodorkan istrinya. "Gomawo yeobo, kau benar-benar memperhatikanku. Maaf kalau aku sibuk belakangan ini," ucapnya sedikit murung.

Yixing menuangkan sup ke mangkuk kecil dan menyuguhkan untuk suaminya, "gwaenchanha, aku juga bekerja di perusahaan ini. Jadi aku paham bagaimana sibuknya jika akan mendebutkan grup ataupun penyanyi baru," ucapnya sambil tersenyum.

"Kau benar-benar pengertian. Aku benar-benar bahagia mencintai wanita sepertimu," Joonmyeon menatap isrinya lembut.

"Kau membuatku malu," Yixing menundukkan wajahnya.

"Baiklah-baiklah ayo makan siang sekarang, yeobo" kekeh Joonmyeon.

"Lepaskan aku!"

"Aku perlu bicara padamu"

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!"

Samar-samar terdengar suara pertengkaran dari luar ruangan Joonmyeon. Pasangan suami-istri yang sedang menikmati makan siang itu tentu saja penasaran siapa yang berani membuat keributan di kantor.

"Seperti suara Kyungsoo," ucap Yixing.

"Tunggu sebentar, aku akan melihatnya," Yixing mengangguk dan membiarkan suaminya itu memastikan siapa yang ada di luar ruangan.

Joonmyeon membuka pintu dan menolehkan kepalanya ke sekitar lorong. Benar saja, ia menemukan dua orang yang sepertinya tengah bersiteru. "Kyungsoo.. Kai?" gumamnya. Lalu ia mendekat pada dua orang itu.

"Apa yang kalian lakukan di sini? Ini kantor– Yaampun Kai! Lepaskan tangan Kyungsoo, kau tak melihat tangannya merah seperti itu?" ucap Joonmyeon.

"Joo– Joonmyeon Hyung? Kau di sini?" Kai tak menyangka jika akan bertemu dengan sepupu sahabatnya. Dengan segera Kai melepaskan cengkramannya pada tangan Kyungsoo.

"Aku pergi, permisi," Kyungsoo memanfaatkan keadaan lalu pergi dari hadapan Kai dan juga Joonmyeon. Kai ingin sekali mengejar Kyungsoo saat ini, tapi melihat Hyung-nya yang seperti meminta penjelasan ia mengurungkannya.

"Kapan kau kembali dari Amerika hah? Kenapa kau tak mengabariku anak nakal?" Joonmyeon memukul belakang kepala Kai tanpa permisi.

"Aish Hyung! Appo, aku tiba di Seoul 2 hari yang lalu," Kai memberitahu.

Joonmyeon merangkul Kai dengan sedikit berjinjit karena Kai lebih tinggi darinya, "kau benar-benar makin tinggi Kai, cepat ke ruanganku sekarang," perintah Joonmyeon.

Mereka sampai di ruangan Joonmyon, Yixing sudah membereskan makan siang mereka. "Apa yang terjadi?" tanya Yixing ketika melihat suaminya masuk dengan seorang laki-laki berkulit agak gelap.

Joonmyeon mengangkat kedua bahunya, "aku baru akan menginterogasi anak nakal ini,"

"Hyung, ini istrimu?" tanya Kai.

"Oh, annyaeonghaseyo, aku Zhang Yixing istri Joonmyeon," Yixing sedikit membungkuk. Ia tersenyum memperlihatkan lesungnya yang sangat cantik.

"Bukan, ia Kim Yixing, bukan Zhang Yixing lagi," ralat Joonmyeon.

Kai tertawa, "sejak kapan Hyung-ku jadi norak?" ejek Kai.

"Diam!" Joonmyeon memeberika tatapan tajamnya pada Kai.

"Kau sangat cantik Noona, mengapa kau bersedia menikah dengan Hyungku yang kaku ini. Seingatku ia sangat kaku dahulu," Kai ternyata masih berniat mengejek Hyung-nya itu. Joonmyeon hanya bisa mengeratkan rangkulannya pada Kai dan membuat Kai sedikit tercekik, "Ya ya Hyung, ampun" ucap Kai sedikit tercekat.

"Joonmyeon-ah, kasihan dia. Lepaskan," Yixing mengingatkan suaminya itu.

"Gomawo, Noona," Kai tersenyum manis pada Yixing dan dibalas anggukan geli dari Yixing.

"Oh, ya aku belum memperkenalkan diri. Aku Kim Jongin sahabat Oh Sehun yang berwajah datar keponakan Joonmyeon Hyung yang kaku, senang bertemu denganmu Noona, maafkan aku tak menghadiri pesta pernikahan kalian karena aku masih di Amerika," jelas Kai.

"Gwaenchanha Jongin-ah, kau sepertinya pandai sekali berbicara," Yixing tertawa.

"Aku seorang guru dance di sekolah terbaik Seoul, Noona" tambah Kai.

"Woah kau hebat. Mengapa jauh-jauh ke Amerika hanya menjadi guru?" tanya Yixing.

Kai tersenyum, "aku senang mengajarkan orang lain Noona, aku ingin memberikan ilmuku pada mereka. Untuk apa jika aku mempunyai ilmu tetapi tidak dibagikan?"

"Kau benar-benar guru sejati," puji Yixing.

"Gomawo Noona,"

Joonmyeon masuk dan membawakan 3 buah cola di tangannya. Lalu ia duduk di samping istrinya dan memberikan colanya pada Kai dan Yixing.

"Gomawo, Hyung" Kai langsung meneguk minumannya. Tubuhnya memang sudah mendingan daripada kemarin-kemarin, makanya ia dengan santai meminum minuman dingin.

"Bisa kau jelaskan, mengapa kau bisa bersama Kyungsoo?" tanya Joonmyeon yang mulai sesi introgasinya.

"Kyungsoo, mantan kekasihku," jawab Kai.

"Mwo?!" teriak kedua orang di depannya. Untung saja Yixing tak tersedak saat menelan colanya.

"Kenapa kalian berlebihan sekali?" heran Kai.

"Bagaimana bisa? Kau tak pernah menceritakannya?" tuntut Joonmyeon.

"Aku hanya 6 bulan menjalin hubungan dengannya, tepat saat kelulusan kami Ayahku mengirimku ke Amerika untuk melanjutkan sekolah di sana. Aku memang menjalani hubungan jarak jauh dengan Kyungsoo, hanya 2 bulan dari kepergianku ke Amerika Kyungsoo tiba-tiba memutuskan hubunganku dengannya tanpa alasan"

Joonmyeon dan Yixing masih mendengarkannya.

"Apalagi sebelum Kyungsoo memutuskanku, Luhan mengucapakan kata-kata yang tidak ku mengerti. Ia berkata jangan pura-pura mengkhawatirkan Kyungsoo. Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan kekasihku yang tak ada kabar selama seminggu?"

"Ku rasa ada hal yang tak kau sadari hingga membuat Kyungsoo mengakhiri hubungan kalian" ucap Yixing.

"Maksud Noona?"

"Apa kau pernah berbohong padanya hingga Kyungsoo mengetahuinya dari orang lain, bukan dari dirimu secara langsung?"

Kai mengingat kembali semua yang ia lalui ketika berada di Amerika, "sepertinya tidak Noona,"

"Benarkah? Bagaimana dengan teman-temanmu di sana, apakah ada yang mendekatimu?" tanya Yixing lagi.

"Siapa yang–" seketika Kai mengingat seseorang yang selalu mengikutinya kemana pun, bahkan Kai sudah kasar padanya tapi tetap saja wanita itu berada di dekatnya hingga, "ya, ada. Wanita gila itu, aku sudah berkata padanya beberapa kali bahwa aku sudah memiliki kekasih. Tapi ia tetap saja seperti tak mendengar apapun," Kai mulai emosi jika mengingat wanita itu.

"Lalu, apa ia terus bersamamu selama kau di sana?"

"Seingatku, ia tak lagi mengikutiku kemana pun semenjak.. ya benar, semenjak Kyungsoo tak menghubungiku wanita itu tak pernah mengikutiku lagi" jelas Kai.

"Ini hanya tebakanku saja Kai, mungkin perempuan itu melakukan sesuatu pada Kyungsoo hingga Kyungsoo memutuskanmu dan wanita itu pergi begitu saja setelah berhasil menghancurkan hubunganmu dengan Kyungsoo." Ucap Yixing.

"Benarkah Noona? Aku pun tidak tahu, karena sulit sekali bertemu Kyungsoo. Saat aku menemukannya, Joonmyeon Hyung menggagalkannya," Kai menatap Joonmyeon tajam, yang ditatap hanya menyengir dan membela diri bahwa Kai menyakiti pergelangan tangan Kyungsoo.

Diperjalanan pulang, Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia memikirkan apa yang terjadi saat Kyungsoo tak menghubunginya selama seminggu. Terkadang ia memukul stir-nya karena tak mengingat apapun yang mencurigakan. "Musim dingin.. coklat panas.. aish! Apa itu? Mengapa aku hanya mengingat minumanku saat musim dingin?!" kesal Kai.

"Hmm.. saat itu aku masih baik-baik saja dengan Kyungsoo, tetapi setelah aku–"

Kai menepikan mobilnya dan mencoba meyakinkan ingatannya. Apakah ia salah ingat? Atau memang seperti itu? Mengapa ingatannya saat hari itu harus seperti ini? Kai mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar bodoh kehilangannya hanya karena hal itu. Tidak! Aku harus memastikannya. Kyungsoo-ya, mianhae. Kai memutar balik mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Kesalahanku..

Tidak mencaritahu lebih cepat apa yang terjadi pada kita–"

.

.

to be continued-

.

.

Maaf baru bisa update karena semalem laptopnya... lagi ngambek :( hahaha

Aku update sekali dua nih, hehe. Sepertinya kalian bosen ya nungguin Hunhan gak baik-baikan? huhu. Semoga update-an yang ini gak bikin bosen ya :)

Oh ya, jangan marah karena ada Kaisoo-nya juga :D selinganlah ya ada masa lalu kaisoo-nya hihihi

Makasi buat yang masih nungguin nih ff ^^ makasi buat yang udah review, cinta kalian deh :* muahhh hahaha

#ohjasminxiaolu: nanti bakal jadian kok tenang aja *ehahaha sabar saja menunggu kkkk. Aku udah update 2 nih ching ;) semoga suka ya. Makasi buat reviewnya ^^

#Princess Xiao: Jengjengjeng.. jiah tau aja kalo ada Sehunnya di sana :p tapi author gak punya hadiah buat kamu :p kkk. Terimakasih reviewnya :)

#no name: siapapun kamu, terimakasih sudah menunggu dan menyempatkan review :) semangatt!

See you in next chapter!

Gamsahamnida *loveforHUNHAN yeayy!