World is Not Just All About You
Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang
Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya
Just normal high-school romance
Don't like don't read
.
.
.
Chapter 8
Kedua gadis itu hanya bisa berlari menjauh. Mendapati dua orang laki-laki berperawakan tinggi besar tengah membuntuti mereka semenjak keluar dari stasiun. Beberapa kantong belanja sedikit banyak mengganggu tingkat kecepatan berlari mereka. Hingga tanpa sadar menyeret kaki mereka sendiri ke sebuah gang buntu yang diapit dua gedung tinggi.
Si pirang dan si bubble gum berjalan terseok, membentur dinding dingin pembatas tempat itu. Melihat kedua pria yang tersenyum menyeringai membuat kedua remaja itu saling memeluk ketakutan. Sudah terlambat untuk meminta bantuan, apalagi melihat kondisi tempat itu yang tersembunyi semakin menambah presentase datangnya bala bantuan semakin kecil. Keduanya hanya bisa berdoa dalam hati supaya tidak terjadi apa-apa pada mereka.
Rasa takut mengalahkan nalar mereka. Melihat kedua laki-laki itu semakin mendekat, kedua gadis itu semakin menutup matanya rapat-rapat. Detik demi detik berlalu, jarak antar keempatnya semakin menipis. Sakura, gadis dengan warna rambut merah muda melepas pelukan sahabatnya. Berdiri di depan teman berkuncir satunya, berusaha untuk melindungi. Mengabaikan bagaimana begetarnya kakinya sekarang.
Brakk
Namun atensi keempat orang itu mendadak terlaihkan. Keempat orang itu langsung menoleh setelah mendengar suara sebuah pintu yang dibuka keras.
"Otsukaresama deshita." Ditambah suara nyaring seseorang yang menjadi pelaku kegaduhan tadi. Diantara keempat orang itu berdiri sesosok gadis yang berada ditengah. Menatap dengan bingung kondisi yang secara tak sengaja ia rusak.
"Hyuuga-san?" Itu suara Sakura. Meskipun dalam keremangan postur tubuh mungil itu sudah pasti tersimpan dalam memori otaknya.
Hinata menoleh pastinya, mengingat namanya disebut pelan. Apalagi dengan suara yang sudah tidak asing ditelinganya.
"Haruno-san dan juga...um." Hinata berusaha mengingat siapa nama perempuan dibalik tubuh Sakura. Yang ia tahu, gadis pirang itu adalah teman satu kelasnya.
"Ino. Yamanaka Ino." Suaranya terdengar begetar menahan sesuatu.
"Ah. Maaf, Yamanaka-san." Hinata sedikit menunduk untuk menunjukkan betapa menyesalnya karena tidak ingat namanya. Dan hal ini juga ditanggapi sama oleh Ino.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Gadis dengan rambut lurus itu merasa aneh tentunya. Ini adalah hal yang sangat aneh, mendapati dua gadis cantik ini berada malam-malam di sebuah gang gelap dan bau.
"Kami baru selesai belanja." Ino sedikit mengangkat tas belanjaan yang ada di kedua tangannya dengan sangsi. Sedang Sakura kembali was-was dengan dua orang di seberang sana.
"Kalau Hyuuga-san sendiri?" Sakura benar-benar ingin menjitak kepala Ino sekarang. Tidakkah gadis itu sadar bagaimana kondisi mereka saat ini? Dua orang dengan tampang seram tengah menghadang kedua gadis itu, ditambah dengan munculnya Hinata yang tiba-tiba malah akan semakin menambah jumlah korban. Dan Ino masih sempat-sempatnya berbasa-basi.
"Aku baru saja selesai kerja paruh waktu disini." Hinata sepertinya juga kurang sadar bagaimana kondisi mereka sekarang, buktinya Hinata malah terlibat obrolan santai Ino dengan menunjuk pintu besi abu-abu dengan jempol tangannya.
"Oh, begi–"
"Sudah selesai bicaranya?" Ucapan Ino terpotong mendadak akibat ulah salah satu laki-laki dengan model rambut cepak. Menyadarkan Ino dan Hinata dengan keberadaan kedua orang yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Sepertinya kalian sudah dijemput. Kalau begitu permisi." Hinata kembali mengangguk sebelum pergi. Kemudian mengangguk kembali untuk menyapa dua orang yang ia kira adalah pelayan yang menjemput kedua ojou-san mereka. Namun hanya dua langkah setelah melewati dua orang asing itu, tubuh Hinata seketika terhimpit ke dinding.
Bruakk
Membuat Sakura dan Ino menjerit kaget. Tas belanjaan mereka langsung terjatuh seketika.
"Mau kemana gadis kecil?" Hanya satu orang yang mencengkeram wajah Hinata, sedang yang satunya lagi tetap pada posisinya, masih mengahadang Ino dan Sakura.
"To-tolong lepaskan, Hyuuga-san." Tangis Sakura pecah mendapati temannya yang tidak tahu apa-apa terhimpit tubuh besar itu. Ino yang ada di belakangnya juga tak kalah histeris.
"Kalau kalian ingin uang, ambil saja." Sakura menyodorkan dompet kulit dari dalam tasnya. Disusul Ino juga ikutan mengeluarkan dompet. "Tolong, lepaskan Hyuuga-san." Sakura kembali memohon untuk melepaskan teman satu kelasnya.
"Kalian pikir kami menginginkan uang? Bukan. Bukan cuma uang, kami ingin keduanya." Orang itu maju mendekati Ino dan Sakura yang menggigil ketakutan. Tangannya melonggarkan dasi yang mengikat lehernya. Sejurus kemudian membuka jas dan kemeja.
Tak sampai duapuluh detik, pipi Sakura yang sudah basah diusap pelan oleh telapak tangan kasar. Membuat Sakura semakin gemetar ketakutan. Ino yang melihat sahabat kentalnya tengah atau hampir mendapat pelecahan buru-buru mengeluarkan handphonenya.
"Eits. Apa yang kau lakukan, gadis manis?" Salah satu tangan laki-laki itu mengambil paksa benda persegi berwarna ungu pucat dari tangan Ino dan melemparnya asal. Sekarang kedua tangan laki-laki itu mencengkeram wajah Ino dan Sakura. Sama seperti laki-laki satunya.
"Kupikir malam ini hanya ditemani dua gadis manis, ternyata ada bonus tambahan." Meskipun kedua tangannya tidak menganggur, tangan laki-laki itu masih bisa berpindah cepat untuk mencengkeram bahu Ino maupun Sakura. Semakin turun menuju tempat yang selama ini ia incar.
"Oi. Brengsek sialan. Lepaskan tanganmu dari mereka." Suara dingin ini tentu bukan milik Ino ataupun Sakura. Apalagi kedua laki-laki itu. Hanya ada mereka berlima yang berada di tempat itu, dengan kata lain hanya satu orang yang tersisa.
"Lepaskan mereka atau kau tahu akibatnya."
.
.
.
Jantung Sasuke sudah dua kali merasakan debaran ini. Adrenalin yang berpacu cepat ia rasakan saat mendapat kabar dari teman pecinta ramennya. Sebuah kabar yang menyatakan ada sebuah peristiwa tak mengenakkan yang terjadi pada salah dua sahabatnya. Tanpa menunggu, di detik itu juga Sasuke langsung menyambar jaket dan juga kunci mobil miliknya. Membiarkan Itachi yang berteriak nyaring menahannya untuk pergi.
Hell
Saat seperti ini mana mungkin ia hanya diam saja. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan ugal-ugalan, Sasuke membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai ke sebuah tempat yang dimaksud Naruto. Sebuah tempat yang dulu pernah ia datangi beberapa minggu yang lalu.
Bagaikan deja vu, Sasuke bisa menebak dengan satu kali lihat. Jika mendapati Hinata yang berada di kantor polisi, pasti ada satu masalah besar yang telah dilakukan oleh kekasihnya. Bedanya dengan dulu mereka tidak sendiri. Kedua oniks Sasuke langsung menggelinding ke kerumunan yang berisikan dua perempuan dengan warna rambut berbeda.
"Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya pada Naruto yang terlihat masih panik.
"Sakura dan Ino dibuntuti dua orang di sebuah gang." Shikamaru yang menjelaskan, melihat betapa gupuhnya Naruto tentu pemuda pirang itu tidak akan memberikan jawaban yang jelas.
"Untung saja ada Hyuuga-san, dia membantu Sakura dan Ino." Shikamaru memandang Hinata yang duduk sendiri di kursi kosong dekat dengan pintu masuk. Kata membantu tentulah bukan hanya sekedar membantu. Sasuke paham apa yang dilakukan gadis itu, mengingat ini sudah kali kedua Sasuke datang kemari.
"Kalian tidak apa-apa?" Atensi Sasuke ia alihkan pada dua sahabatnya. Meskipun pertanyaan yang Sasuke lontarkan merujuk pada keduanya, namun hitam dimatanya terfokus hanya pada satu obyek.
"Sasuke-kun." Ino memandang Sasuke dengan mata berkaca-kaca. Meskipun sudah berkumpul tiga pemuda, kedatangan Sasuke tentu menjadi tambahan obat penghibur untuk Ino.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" Sakura mengangguk pelan. Namun bahunya bergetar pelan, itu sudah cukup bagi Sasuke untuk tahu bagaimana kondisi orang yang disukainya. Tentu tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sakura hanya berusaha tegar dihadapan semuanya.
Sasuke sedikit menunduk mendapati pelukan Sakura yang tiba-tiba. Tubuhnya tegang untuk lima detik pertama. Tapi mendapati bagaimana Sakura yang menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Sasuke, membuat kedua pasang mata yang memperhatikan mereka seolah bungkam. Terus memandang Sasuke yang membelai punggung Sakura pelan untuk menyalurkan penenang pada gadis cantik itu.
.
.
.
Hinata heran dengan kekasihnya ini. Jelas-jelas tadi ia melihat bagaimana perhatiannya ia pada Sakura. Memeluk tubuh gadis itu untuk waktu yang lumayan lama, sampai membuat gadis itu tertidur dalam dekapannya. Namun bukan itu yang membuatnya heran, melainkan keberadaannya disini, disampingnya, yang menjadi masalahnya.
Hinata kira Sasuke akan menggendong Sakura ala putri dan membawanya ke dalam kereta labu. Mengantarkannya sampai istana tempat putri itu tinggal. Bukannya malah menyerahkan sang putri pada pangeran dari negeri lain dan bersama dengan penyihir jahat.
Untuk kali ini, Hinata dibuat bingung. Kenapa Sasuke lebih memilih memberikan Sakura pada Naruto dan malah memilih mengantar dirinya pulang. Bukan seperti ini yang Hinata inginkan. Tidak dengan bagaimana terpaksanya Sasuke bersama dengan dirinya.
"Kau itu bodoh atau idiot?" Itu adalah kalimat pertama setelah keluar dari kantor polisi. Apalagi nada yang Hinata gunakan terkesan meremehkan.
"Apa maksudmu?" Sasuke masih serius menyetir saat kekasihnya menyumpali telinganya dengan pertanyaan itu.
"Seharusnya mobilmu mengarah ke kediaman Haruno-san. Bukannya ke rumahku."
"Naruto pasti mengantarnya dengan selamat."
"Kesempatan Sasuke! Kau melewatkan kesempatan emasmu!" Hinata berteriak histeris. Ngakunya orang pintar, masa peluang sebesar ini ia lewatkan begitu saja.
"Sasuke?" Kepala jabrik itu sedikit menoleh. Ini pertama kali Hinata memanggilnya dengan nama depannya, tentu tanpa paksaan ataupun dengan nada mengejek. Terdengar mengalir begitu saja.
Hinata yang sadar segera meralat ucapannya. "Uchiha. Maksudku Uchiha." Sedang Sasuke malah menyeringai mendengar nada yang Hinata keluarkan.
"Panggil dengan Sasuke juga tidak apa-apa."
"Euh~. Aku hanya keceplosan saja. Setelah ini panggilanmu tetap sama, kok."
"Aku lebih suka kau memanggilku Sasuke. Seperti tadi." Hinata menatap Sasuke tanpa ekspresi, menunjukkan ketidakantusias dengan ide kekasihnya. Malah Sasuke harus menahawan tawanya melihat raut wajah Hinata. Acara menggoda Hinata menjadi salah satu kesukaannya akhir-akhir ini.
"Oi. Bukannya kau sendiri yang bilang aku tidak cocok memanggilmu dengan nama depanmu."
"Jika kau menambahkan suffix menggelikan di belakangnya." Sasuke menambahkan cepat.
"Sasuke-kun. Begitu?"
"Cih." Berbeda dengan sebelumnya, decihan Sasuke disertai dengan senyum tipis saat ini.
"Kupikir kau suka." Membuat Hinata semakin menyipitkan matanya.
"Kau bukan perempuan Hyuuga, sadarlah."
Kau bukan wanita Hyuuga, sadarlah.
Hinata tersadar. Percakapan ini sudah pernah Sasuke katakan sebelumnya. Dalam hati Hinata tersenyum, sampai tidak sadar bibirnya juga ikutan melengkung mengingat potongan adegan yang terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Dimana pada saat itu, ia tidak akan sampai memikirkan berbicara dengan Sasuke seperti saat ini. Berdekatan sedekat ini. Ataupun saling bercanda satu sama lain. Yang dulu ia pikirkan hanyalah berusaha pergi menjauh dari jangkauan lebarnya.
"Kenapa diam?" Sasuke sudah bersiap jika Hinata kembali melontarkan ejekan tambahan untuknya. Tapi diamnya Hinata malah membuat Sasuke sedikit bingung. Apa jangan-jangan si hebi onna kehabisan bahan ejekan untuknya? Kalah lebih tepatnya.
"Ah. Tidak apa-apa." Pandangan Hinata mengarah pada jari-jari tangannya yang berada dipangkuannya. Sedikit membersihkan kotoran darah yang berasal dari luka goresan. Melakukannya pelan-pelan.
"Tunggu disini." Sasuke tiba-tiba memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang sangat Hinata yakini bukanlah rumahnya. Bahkan daerahnya saja bukan. Hinata hanya diam saja saat Sasuke masuk ke sebuah tempat yang Hinata tidak pusingkan tempat apa itu. Menunggu dalam diam sambil kembali mengulas kejadian tadi.
Sedikit Hinata meringis, bagaimana reaksi kakaknya yang mendapati adik satu-satunya kembali keluar dari kantor polisi. Jika kejadian dulu bisa ditolelir dengan bantuan Sasuke, entah bagaimana dengan satu ini. Meskipun ia sendiri yakin kakaknya tidak akan marah dengan alasan dibalik kejadian ini, tapi tetap saja kakaknya akan berceloteh panjang lebar tentang norma dan etika sebagai perempuan yang sudah ia hapal di luar kepala. Jangan lagi Hinata meminta bantuan Sasuke untuk membantu menjelaskan, terakhir kali Sasuke bertatap muka dengan Neji, pemuda gondrong itu masih menyimpan dendam kesumat perihal diseretnya ia ke dalam love hotel tempo dulu. Hinata menggaruk kepalanya, ia sudah pasrah dengan hadiah wejangan super panjang Neji saat di rumah nanti.
"Berikan tanganmu." Hinata terlonjak kaget, mendapati Sasuke yang sudah duduk manis di dalam mobil.
"Tanganmu." Hinata mendengar Sasuke kembali meminta tangannya. Dengan ragu Hinata menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.
"Untuk apa?" Jangan bilang Sasuke akan mengerjainya, mengingat candaan mereka tadi berhenti di tengah jalan.
Sasuke mengabaikan pertanyaan Hinata. Salah satu tangannya menarik tangan kanan Hinata ke depan. Menunjukkan betapa merahnya tangan mungil itu.
"Mattaku. Lihat bagaimana lukanya yang lebar." Sasuke mencelupkan kapas pada cairan antiseptik, kemudian mengoleskannya pelan pada luka menganga itu.
"Lepaskan. Aku bisa sendiri." Hinata menarik tangannya kasar lalu berusaha mengambil kapas basah dari tangan Sasuke.
"Diamlah. Jika kau yang melakukannya sendiri pasti tidak akan rata." Sasuke kembali menarik tangan Hinata. Tidak peduli bagaimana kasarnya tarikan Sasuke, Hinata bertanya. "Kenapa kau bisa berpikir demikian?"
"Sifatmu sudah menjelaskan semuanya." Sasuke kembali fokus pada kegiatannya. Membubuhi cairan itu di setiap bagian pada telapak tangan Hinata. Pasti Hinata tadi menghajar dua orang itu habis-habisan. Lukanya yang banyak menjadi buktinya.
"Kau mengalahkan mereka?" Sasuke meniup luka yang baru saja ia oles dengan cairan pembersih kuman.
"Menurutmu?" Hinata menyeringai senang. Mengingat bagaimana ketidakberdayaan mereka di bawah dominasinya.
"Berhenti menunjukkan raut begitu. Menakutkan tahu."
"Kau tidak penasaran bagaimana aku mengalahkan mereka?" Hinata terlihat antusias jika Sasuke memintanya menceritakan kembali pertarungannya tadi.
"Tidak. Kau pasti dengan sadis menyiksa mereka."
"Hei! Apa-apan itu? Aku tidak melakukannya."
"Bukan tidak tapi belum. Aku pastikan jika mereka tidak pingsan duluan, kau pasti masih menyiksa mereka."
"Sudah kubilang aku tidak menyiksa, aku hanya memukul."
"Sama saja."
"Cih."
Mereka terdiam untuk beberapa waktu. Sasuke masih menyelesaikan membungkus tangan Hinata dengan perban. Sedikit sulit dengan kecilnya tangan itu. Hinata hanya diam saja tidak mencoba mengganggu kegiatan Sasuke seperti yang ada di benaknya lalu. Memperhatikan bagaimana telatennya pemuda jabrik ini dalam merawat tangannya.
"Seharusnya kau bersama Haruno-san, Uchiha." Kegiatan Sasuke mendadak terhenti, nada suara ini sering Hinata keluarkan dulu. Saat dirinya dan si indigo belum terlalu kenal.
"Dia lebih membutuhkanmu." Hinata menarik tangannya yang telah terlilih perban, menggerakkannya pelan. Mencoba keluesan setelah tambahan aksesoris itu.
"Bukannya malah denganku." Hinata ingin sekali menambahkan 'Kau tidak bosan apa selalu didekatku?' tapi urung.
"Lalu membiarkan luka di tanganmu infeksi dan berakhir dengan amputasi?"
"Jangan berpikir terlalu jauh. Kau pikir lukaku sampai seperti it–"
"Kau pasti membiarkannya saja. Luka ditanganmu." Sasuke membereskan sisa kapas merah dan memasukkannya pada plastik. Tanpa memandang Hinata.
"Kalaupun masalah Sakura, dia sudah pasti punya seseorang yang mengurusnya sekarang." Sasuke kembali menarik pergelangan tangan kanan Hinata, membuat Hinata mau tidak mau memandang kearahnya. Membetulkan perban yang terbuka. Bohong jika Hinata tidak tahu arti tatapan Sasuke barusan. Sebuah tatapan yang mengisyaratkan sebuah kepedulian mendalam. Namun lavendernya tahu, tatapan itu bukan ditujukan padanya.
Tangan kiri Hinata terangkat ke udara. Merambat ke pundak Sasuke yang tidak jauh darinya.
Puk Puk Puk
"Kau harus optimis untuk memenangkan hati Haruno-san, Uchiha." Hinata menyemangati dengan menepuk pundak Sasuke. Suaranya terdengar tegas.
"Aw! Kau terlalu keras menampar pundakku." Sasuke langsung menjatuhkan tangan kanan Hinata untuk mengusap pundaknya yang terasa sangat panas.
"Auch. Kau sengaja membanting tanganku, kan?" Hinata tidak terima tangan kanan yang sebenarnya terasa sakit membentur gigi mobil dengan keras.
"Kau yang memulai duluan. Kenapa menampar pundakku, huh?!" Sasuke juga ikutan tak terima, tenaga Hinata untuk menepuk pundaknya sama seperti saat dia memukul kedua orang yang mengganggunya tadi.
"Aku hanya menyemangatimu, bodoh." Hinata mengusap tangan kanannya dengan sayang.
"Aku tidak butuh dukungan dari bocah ingusan sepertimu."
"Huh?! Bocah ingusan?!"
"Sou da. Bocah ingusan tidak tahu apa-apa soal cinta." Meskipun masih dengan mengusap pundaknya, dagu Sasuke terangkat untuk menunjukkan siapa yang berkuasa. Dari cerita awal tentang kesepakatannya dengan Itachi, Sasuke menangkap jika Hinata terlihat belum pernah menyukai seseorang sama sekali.
"Cinta? Huh. Kau pikir aku tidak tahu apa-apa?" Kerah baju Sasuke dicengkram erat, menarik tubuh lebih besar itu untuk mendekat pada tubuh kecilnya. Bukan menjadi hal sulit, tidak butuh tenaga banyak untuk perihal kecil ini.
Cup
Secepat kilat Hinata mengecup bibir Sasuke. Menempelkan bibir mereka tidak kurang dari tiga detik. Membuat Sasuke membelalakkan matanya akibat serangan cepat itu. Rasa panas yang tadi dirasakan di pundaknya berpindah pada kedua pipinya.
"Sekarang siapa yang disebut bocah, kuso gaki."
.
.
.
TBC
.
.
.
hai haloooooo! sudah lama tidak bertemu, 'semakin lama ceritanya kok gini ya?' pasti ada yang berpikiran begitu, 'udah lama dikit pula word-nya' ditambah dengan ini juga. hehehe, saya cuma bisa nulis begini mohon dimaklumi, oke langsung aja balasan review:
aindri961: arigatou gozaimasu, saya langsung senyum saat baca review anda
reza juliana322: gaahina moment tentu bakalan ada nanti, kalo hina suka sama gaara akan saya pertimbangkan dulu :D berhubung saya suka sifat gaara yang saya buat di fic ini, kalo hina tentu saya buat jadi heroine di fic saya lainnya, arigatou sudah mau review fic saya XD
ppkarismac: saya selalu berharap liat gaara merona seperti itu #karenasaya, tolong lupakan hashtag itu
ryeovy621: sasu emang sengaja mancing anikinya buat me-stalk mereka pas dating :D
ovihime: maaf baru update sekarang, pengennya juga begitu saya ingin menamatkan fic ini sesegera mungkin, arigatou gozaimasu sudah menyemangati XD
ana: ini udah lanjut kok :D
rapita azzalia: tentu saja sasuhina endingnya, upss keceplosan...
nurmalaprieska: toneri? oh no...sudah terlalu banyak ikemen yg mengitari dunia hina. ps: saya sebenarnya kurang tahu #duhjadimalu tentang sifat toneri gara-gara saya nonton the last saya cepet-cepetin, alasan knp tidak memasukkan toneri
queen: arigatou :D tenang ini udah lanjut
keta: bahagia sih pasti, ups keceplosan (2)
morita naomi: tenang sudah update kok
lily: arigatougozaimasu :D
namikaze daichi-chan: bunga yang hanya mekar di hati gaara, sabar ya gar #pukpuk
nhiyla234: ah benarkah? wah, terima kasih banyak, benarkah mirip? kalo ingat apa judulnya tolong beritahu saya, saya akan langsung donlot tu anim, buahahahaha
mawar: sama pada saat saya nulis, saya juga senyum sendiri bahkan sampai tertawa keras sampai ibu saya memandang aneh anak bungsunya itu
lisna wati716: hina sengaja saya buat beda, arigatou lisna-san :D
clareon: 2 bulan 24 hari setelah anda review
sky: arigatou, hina mah emang saya buat gak gampang baper gak seperti yang nulis,
hanayuangka: iya sasu suka sama buble gum, hina sengaja saya buat gitu, strong girl
hinahyuu: sasu pas waktu kesel aja ngolok hina, selebihnya diempet, gara kedepannya bakal nongol agak banyak untuk mbantu ngembangin cerita
arizawa: last review for this chap, tenang saja arizawa-san saya udah update kok
terima kasih untuk para readers yang sudah review, fave, dan follow fic saya.
Jaa adios
