Yoongi adalah pangeran yang lemah.

Kondisi fisiknya memang sudah seperti itu sejak dilahirkan. Membuat dirinya hanya bisa berkutat di dalam kamar istana, tanpa pernah tahu bagaimana dunia luar yang sesungguhnya.

Sedang Jimin adalah gadis lincah yang sangat kuat.

Seorang anak pelayan istana yang seumuran dengan sang pangeran. Pandai memanah, terampil memainkan pedang dan gesit dalam berkuda diusia yang terbilang sangat muda.

Jadi Raja menciptakan Jimin sebagai Pangeran Bertopeng Perak.

Yang menggantikan posisi Yoongi dalam semua urusan di luar istana. Menjadi sosok yang dapat dibanggakan oleh kerajaan. Mengundang decak kagum dari semua rakyat ketika Pangeran mereka menunjukkan kebolehannya.

Tak ada yang merasa ditipu. Tak ada yang menduga bahwa dibalik topeng yang menutupi setengah wajah sang pangeran terdapat jati diri seorang gadis manis berparas indah. Karena yang diberitahukan kepada mereka adalah kabar si pangeran memiliki luka bakar di wajah yang layak untuk disembunyikan.

Tak ada satupun rakyat yang curiga, sampai sebuah kecelakaan kecil namun genting terjadi.

Ketika Sang Pangeran memainkan tarian pedang meminta hujan, topengnya terlepas, kain pada lehernya tersibak, menampakkan rupa cantik seorang yeoja dan tidak adanya jakun yang dimiliki setiap namja.

Gantosci

Annyeog haseo ~

Maaf, kelamaan update ~

Hope you still enjoy it ~

Happy reading ~

Warning! FF absurd terserah author! Typo (s)!

Gantosci

Pada hampir di setiap kerajaan, selalu muncul, selalu ada sosok yang ingin menjatuhkan Sang Raja. Tak jarang di antaranya merupakan pihak dalam kerajaan itu sendiri. Pihak yang berambisi untuk merebut kekuasaan Raja. Pihak yang selalu berpikir keras guna merampas tahta sang raja. Pihak bermulut manis, berotak licik, memposisikan diri sebagai orang-orang kepercayaan yang nantinya akan menusuk raja dari belakang.

Mereka akan menggunakan cara apapun, bagaimanapun. Termasuk memanfaatkan kelemahan yang dimiliki oleh sang raja. Hal kecil akan ia besar-besarkan. Hal besar akan semakin ia sebar luaskan.

Raja bisa mengaku, ia dapat memohon agar rakyat menerima alasannya. Bahwa Pangeran mereka yang sesungguhnya hanyalah pemuda lemah yang tidak bisa apa-apa. Namun Kasim telah lebih dulu mengambil celah dari penampakan wajah Jimin yang mengejutkan.

Secara diam-diam dan begitu halus, mulai menyebarkan keraguan di hati rakyat.

Secara diam-diam dan begitu halus, mulai menguatkan pihak pembangkang Raja bahwa sudah saatnya mereka mengatur rencana kudeta.

Rakyat mudah terhasut. Mereka sudah terlanjur membenci Raja karena berani-beraninya menggantikan peran Pangeran dalam tarian yang begitu sakrar, memberi posisi penting dalam peperangan kepada bukan seorang Pangeran, menciptakan Pangeran Palsu demi mengangkat citra kerajaan.

Raja terancam bahaya, dan rakyat ingin sang pangeran asli serta pangeran palsu menerima sebuah hukuman berat.

Gantosci

"DAEBAK!"Hoseok melototkan matanya takjub. Punggung ia rebahkan pada sandaran sofa, badannya melemas setelah mendengar penjelasan Taehyung, "jadi kami keturunan Raja dong!"sumringahnya kemudian dengan penuh kebanggaan.

"Aku belum pernah mendengar ini dari keluarga besar kami."

Berbeda dari Hoseok, Seokjin tampak berpikir dan masih belum percaya bahwa Keluarga Min merupakan keturunan salah satu raja di Korea.

"Kemungkinan besar memang begitu,"jawab Taehyung, "soalnya Keluarga Park adalah keturunan pelayan istana. Aku menyimpulkan berdasarkan perkamen lama di perpustakaan kediaman Park. Semua sudah aku telusuri baik-baik, dan Tuan Besar serta Junhyung-hyung -butler Tuan Park- menambahkan beberapa hal yang menguatkan dugaanku itu. Nah, mengenai Keluarga Min, masih belum terlalu pasti, karena data yang bisa aku kumpulkan sejauh ini hanya informasi dari satu pihak saja, pihak Keluarga Park. Informasi tersebut tidak membahas begitu detail sosok yang bertukar jiwa dengan keluarga Park, bisa jadi keturunan Sang Pangeran, bisa jadi reinkarnasi Sang Pangeran, yang jelas gadis itu bernama Yoongi. Aku ke sini untuk berbicara dengan orang tua kalian, apa Tuan dan Nyonya Min masih lama?"

Seokjin melirik sebentar jam dinding di ruang tengah, "sebentar lagi mereka pulang. Heol. Jadi ini benar kutukan turun temurun ya?"

"Sepertinya,"angguk Taehyung, "tapi, selama sepuluh abad ini, hanya terjadi empat kasus seperti ini."

"Hanya empat kali? Terhitung Yoongi dan Jimin juga?"

"Ne. Dan lima kali terhitung kasus pertama, Sang Pangeran dan Pelayan Istana. Sejauh ini, kasus terjadi ketika keturunan masing-masing pihak sama-sama bernama Yoongi dan Jimin. Pola ini memang belum pasti, tapi jika mengacu pada yang sudah lewat-lewat, sepertinya memang benar. Tetua Keluarga Park-pun tak pernah bosan mengingatkan perihal pemberian nama terhadap keturunan."

"Kalau begitu-"

"Memang, mudah sekali mengelakkan kutukan, tinggal memberi nama yang lain,"sela Taehyung, tahu apa yang hendak dikatakan Seokjin. "tapi, empat kasus itu terjadi dengan sendirinya, maksudnya seperti yang sekarang. Jimin adalah nama pemberian dari mendiang Nona Besar yang tidak diberitahu apa-apa mengenai kutukan ini, keluarga Park memang selalu menyembunyikan fakta ini dari pasangannya, Tuan Besar tentu tidak bisa mengindahkan permintaan Istrinya. Lagipula awalnya Tuan Besar sama sekali tidak percaya mengenai kutukan ini.

Beliau baru teringat akan kutukan ketika Jimin mulai menyukai hal-hal yang berbau feminin. Tiga kasus sebelumnya, selalu berawal seperti itu. Berlanjut pada pertemuan dengan seorang gadis bernama Yoongi. Dan berujung pada-"

Taehyung membasahi bibirnya, menatap Seokjin dan Hoseok bergantian tepat di mata mereka, "kematian."

Sontak saja kedua remaja itu menahan napas dan berpegangan erat, "APA-APAAN ITU!?"

Gantosci

Istana begitu tenang malam ini. Namun justru membuat suasana semakin mencekam di antara keduanya.

Min Yoongi dan Park Jimin.

Sepasang muda mudi itu diliputi keadaan paling menyedihkan dan memilukan yang pernah mereka alami. Di mana besok adalah eksekusi mati untuk keduanya.

Memang kekuatan cinta tak main-main, hingga ketakutan Jimin sedikit memudar karena ia akan mati bersamaan dengan terkasihnya.

Namun kini ia dihadapkan pada permintaan konyol sang terkasih itu. Meminta agar dirinya kabur bersama pesuruh Yoongi, dan biar Yoongi yang memikirkan dan menanggung sendiri bagaimana nanti.

Tentu Jimin tak menyetujuinya, daripada hidup tanpa Yoongi, biarlah ia mati meski dengan cara kematian yang tidak manusiawi dan memalukan.

Dan Yoongi tetap bersikeras agar Jimin kabur dan menyelamatkan diri.

"Hamba tidak bisa hidup tanpa dirimu, Pangeran..."berulang kali Jimin berkata disela tangisannya. Berulang kali juga Yoongi berusaha menenangkan serta membujuknya.

Malam beranjak pekat. Kian larut dan menggelap.

Bulan terasa mendung, padahal hanya langit yang bisa seperti itu. Seolah ia ikut bersedih dan tahu benar bahwa besok bukanlah hari yang baik bagi pihak pendukung Raja untuk sekedar terbangun ataupun bernapas.

Sang pangeran menarik Jimin ke dalam pelukannya. Mengecup kedua mata yang sudah memerah itu.

"Aku mencintaimu, Jimin..."bisiknya lembut. Terlampau lembut hingga Jimin semakin tak bisa menghentikan tangisannya.

"Dari awal seharusnya aku memang tak usah terlahir ke dunia ini,"ucapnya tenang, meskipun kata-katanya jelas-jelas menyakitkan, "aku hanyalah pemuda lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa selain membuat Ayah repot dengan segala macam pengobatan yang sia-sia-"

"Geumanhe... hiks!"Jimin memeluk erat leher Yoongi. Menggeleng-geleng kuat untuk setiap kata yang dilirihkan pujaan hatinya itu.

"Karena aku, Ayah terpaksa memanfaatkanmu. Karena aku Ayah terpaksa menghadapi hal seperti ini. Karena aku kerajaan menjadi begini."

"Geumanhe, hiks!"

"Tapi, Jimin,"Yoongi menjauhkan sedikit tubuh mereka, tersenyum lembut dengan padangan teduh serta mengelus-elus pipi basah Jimin penuh sayang, "aku jadi bisa mengenal dirimu, aku tahu ada seorang Park Jimin yang begitu memukau hidup di dunia ini. Bayangkan jika aku adalah seorang pangeran yang kuat, kita tak akan memiliki kesempatan untuk berkenalan dan bukannya tidak mungkin aku tak akan diizinkan berhubungan dengan orang sepertimu. Dan tentunya kita tak akan pernah merasakan hal yang sama."

Dan Yoongi kembali memeluk tubuh Jimin, "hal yang paling aku syukuri adalah mengenalmu. Hal yang paling kuhargai adalah rasa cinta terhadap dirimu..."

"Sangat menyakitkan setiap membayangkan diri ini berpisah dari dirimu, Jimin. Tapi lebih menyakitkan lagi mengetahui hidupmu yang berakhir tragis. Karena diriku... Karna itu aku mohon, turuti apa keinginanku. Aku mohon, untuk terakhir kalinya."

"Ya! Pendek!"

"Hiks..."

"Selamatkanlah nyawamu, demi diriku, Jimin..."

"Pendek, kau tidak apa-apa heoh?"

"Hiks..."

"Aku mohon..."

"Hei!"

Kata-kata memohon yang terdengar begitu lirih berulang kali menghujam hati sang pelayan istana. Gadis itu mana mungkin bisa menuruti kehendak sang pangeran yang dicintainya, namun tangisannya sempat terhenti beberapa saat, ketika sebuah cerita lama mengenai ritual terlarang terlintas dalam sedetik setelah itu Jimin mencium bibir Yoongi begitu lembut sembari berbisik dengan lembut pula, "baiklah, Pangeran. Hamba bersedia melakukannya..."

"Park Jimin! Bangun!"

Jimin terbangun. Air mata sudah membasahi pipi dan juga bantalnya. Terisak-isak ia mencoba menyadari di mana ia sekarang. Tatapan nanarnya menangkap siluet Yoongi yang sudah kembali ke tubuh semula. Berarti hari telah beranjak larut, sudah berjam-jam Jimin tak sadarkan diri.

"Hei, apa kau mimpi bu-"

Baru saja pandangannya menjadi jelas, Jimin langsung menghambur memeluk tubuh Yoongi.

"Hiks! Yoongi..."tangis Jimin.

Yoongi yang terdiam beberapa saat, meskipun merasa bingung kemudian perlahan-lahan membalas pelukan Jimin, "gwaenchana?"

Terdengar napas Jimin tercekat dan tersendat-sendat menahan tangis. Wajah ia tenggelamkan pada pundak Yoongi. Dan tak ada lagi yang keluar dari ranum tebal yang gemetar itu selain isakan dan ringisan pilu.

Sedang Yoongi mulai mengusap-usap punggung Jimin, dan juga membelai lembut surai kehitaman pemuda manis itu, "ssst, gwaenchana, aku ada di sini... Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jangan menangis, okay."

.

Just Look at My Soul

Cast:

Min Yoongi (GS)

Park Jimin

Kim Taehyung

Min Hoseok

Min Seokjin (GS)

Kim Namjoon

Jeon Jungkook

.

.

"Jadi, kalau salah satu dari mereka mencintai orang lain, maka yang lainnya meninggal?"tanya Seokjin.

"Ne,"angguk Taehyung, "kalau dua-duanya yang mencintai orang lain-"

"Dua-duanya meninggal dong?"

"Ne."

"Boeya!"

"Well, yang namanya kutukan memang buruk kan."

"Tapi masa begitu sih! Aish! Apa yang dewa pikirkan heoh! Astaga... mengerikan sekali. Memaksa sekali, mereka yang tidak bisa bersatu, malah mengharuskan generasi mereka selanjutnya untuk bersatu."

"Nah, setahuku Jimin tidak sedang menjalin hubungan spesial kan?"

"Seumur hidupnya Tuan Muda belum pernah menyukai seseorang. Dan untuk saat ini, kurasa kita bisa saja membuatnya jatuh cinta kepada Min Yoongi."

Seulas senyuman miris Seokjin lihat dari bibir Taehyung, pun gurat dan tatapan pria berkulit tan itu Seokjin yakini sebagai sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Membuat Seokjin mulai menduga-duga sesuatu.

"Tapi kabar baiknya,"sambung Taehyung, mendapati Seokjin hanya terdiam memandangi wajahnya, "perasaan Min Yoongi sudah jatuh kepada Tuan Muda."

"Hha!?"

"Kau tidak menyadari perasaan adikmu sendiri, Seokjin?"

"Min Yoongi jatuh cinta kepada Park Jimin!? Si muka datar itu tidak pernah tertarik pada hal lain selain Kumamon dan Basket lho! Mustahil... Dari mana Oppa menyimpulkan itu?"

Taehyung menerawang sebentar memikirkan kejadian tadi sore antara dirinya dan Yoongi, mengulang ingatannya tentang itu sembari menceritakannya kepada Seokjin dengan menghilangkan beberapa bagian yang ia pikir tak perlu Seokjin ketahui.

-Flashbak-

"Do you love him?"tanya Yoongi tiba-tiba, menatap lamat jemari Taehyung yang menggenggam erat jemari Jimin- jemari tubuhnya.

Taehyung mendongak. Melihat lawan bicaranya namun belum mau menjawab.

"Meski berada di dalam tubuh orang lain,"lanjut Yoongi, "kau tak pernah ambil pusing dan tatapanmu tetap sama ketika Jimin berada di tubuhnya sendiri. Hanya orang yang benar-benar mencintainya yang bisa bersikap sejauh itu. Yang dengan mudahnya secara murni dan begitu tulus hanya mempedulikan jiwanya saja."

Taehyung termangu, kembali beralih mematai Tuan Mudanya.

"Ne,"jawabnya setelah terdiam beberapa saat. Kemudian sosok yatim piatu itu tersenyum tipis, "apa aku terlihat menjijikkan sekarang?"

"Ani,"geleng Yoongi acuh, "aku pribadi sih, biasa saja dengan- apa namanya itu- ah, LGBT. Sudah banyak juga kok di Korea,"ujarnya enteng menghasilkan dengusan lega dari Taehyung.

"Tapi aku tetap tidak bisa terima."

"Eh?"heran Taehyung.

Dan Yoongi memberikan tatapan lekat serta ekspresi yang tegas, "because I love him too."

Sontak saja Taehyung mengernyit heran, kedua tangannya bahkan lepas dari tangan Jimin saking terkejutnya. Benar-benar tak menyangka bahwa Yoongi berkata seperti itu.

"Kau-"

"Aku serius."

Keheningan sempat menguasai ruang kesehatan itu. Taehyung dan Yoongi hanya saling pandang belum mau berucap sepatah katapun. Barulah ketika handphone Taehyung menandakan panggilan masuk dari Junhyung, mereka sama-sama tersadar dari pikiran masing-masing dan memutus tautan pandangan mereka.

Taehyung menghela napas setelah menutup panggilan, "aku hanya bisa sekedar mengantar Tuan Muda pulang, kau bisa menjaganya- ah, aku tak perlu bertanya ya. Nah, seharian ini dan setelah mengantar pulang kalian nanti, aku akan cukup sibuk mencari tahu mengenai permasalahan kalian. Jadi, kuharap kau bisa menemani Tuan Muda."

"Apa ada perkembangan sejauh ini?"

"Sedikit, tapi cukup penting. Junhyung-hyung sudah menungguku, aku akan menjelaskannya nanti. Untuk saat ini kalian cukup beraktifitas seperti biasa dan tunggu saja konfirmasi dariku."

"Apa kau sudah tahu pembicaraan kami dengan ayah Jimin?"

"Ne, Tuan Muda sudah menceritakannya kepadaku."

"Nah, berarti kau sudah mengerti bahwa posisiku memang beruntung, karena Jimin mau tak mau dituntut untuk menyukaiku. Tapi perlu kau tahu, aku ingin persaingan yang adil. Jangan menyerah karena alasan picik 'demi kebaikan Jimin'. Kuharap kau tetap memperjuangkan perasaanmu, akupun begitu, dan kita lihat bagaimana keputusan Jimin nanti." -ada tambahan sedikit mengenai kata-kata Yoongi ini di author's note-

-Flashback, end-

"Daebak! Daeeeeeebak! Jinjja yo?"

"Ne, Seokjin."

"Heol! Nah, tinggal Jimin dong. Omong-omong, rasa cinta itu sendiri sulit ditaksir waktu pastinya kan. Jadi kapan tepatnya nyawa mereka dalam bahaya?"

"Kemungkinan sementara, ketika melakukan penyatuan."

Wajah Seokjin sontak memerah, ia yang semula berbicara menghadap Taehyung yang fokus dalam mengemudi langsung berpaling ke arah jendelanya, "maksudnya..."

"Ne. Maksudnya seks. Jadi, selama mereka belum melakukan seks dengan orang lain, maka mereka masih bisa dibilang aman meskipun rasa cinta masing-masing sudah mulai diberikan kepada orang lain. Mungkin."

"Ou..."

Tepat setelah itu, Taehyung membawa mobil memasuki tempat peristirahatan tol. Mereka kini tengah dalam perjalanan menuju Daegu, kampung halaman Tuan dan Nona Min. Satu jam yang lalu, begitu orang tua Seokjin sampai di rumah, mereka langsung diajak bicara pajang lebar oleh Taehyung. Dan pembicaraan mereka berujung pada keberangkatan mereka menuju Daegu. Lebih baik menemui langsung tetua Min dan juga tetua Lee -keluarga Nona Min- serta mencari tahu lebih jauh di kampung halaman mereka.

"Kita makan dulu, kalian berdua melewatkan makan malam kan,"ucap Taehyung menjawab tatapan heran Seokjin, "aku senang kalian begitu bersemangat dalam masalah ini, berarti kalian benar-benar peduli dengan nasib Tuan Muda serta Min Yoongi. Sampai-sampai langsung bergerak begitu pembicaraan kita baru selesai."

"Ou..."

"Oh, ya. Kau tidak sedang diet kan?"

"Eh? Itu, em-"

"Tidak selama bersamaku, okay. Setelah makan malam, aku akan membeli banyak cemilan untuk perjalanan kita. Kuharap kau senantiasa mengisi perutmu agar tetap fit. Tapi, tenang saja berat badanmu tak akan bertambah karena aku tahu beberapa tips menjaga berat badan. Menjaga pola makan yang menyehatkan termasuk hal dasar sebagai seorang Butler."

Seokjin mengangguk-angguk paham, lalu melempar ranselnya pada Hoseok yang sudah tertidur sejak mereka meninggalkan Seoul di bangku belakang.

"YA! Bangun, Kuda!"

Gantosci

"Sudah lumayan?"tanya Yoongi menyapu kedua pipi Jimin dengan ujung sweater hitamnya.

Jimin mengangguk-angguk pelan, [un... mian, tiba-tiba saja memelukmu] ucapnya dalam hati, karena napasnya masih susah dikontrol dan mulutnya masih sulit untuk berucap sehabis menangis sejadi-jadinya.

"Kita sudah pernah ciuman lho,"dengus Yoongi, "kurasa sekedar berpelukan-"

[DASAR MESUM!]

Yoongi hanya menatap datar wajah Jimin, "iya, iya. Aku mesum. Iya, iya, terserah kau saja. Nah, tadi sore itu kau kenapa hm? Melamun, sampai-sampai tidak sadar dengan teriakanku."

"Eh?"

"Apa yang kau pikirkan heoh? Ada masalah apa? Kau jadi aneh sejak terlambat datang ketika istirahat siang."

"Em, Jungkook menembak-ku, eh, ani! Dia menembak-mu."

"Hha?"

"Iya, aku terlambat karena beberapa siswi melabrak-ku, eh, ani, melabrak-mu, lalu-"

"Ya. Jangan buat aku pusing, selama kau ada ditubuhku, kalau menceritakan sesuatu, ya pakai 'aku' saja."

"Ou, oke oke. Aku terlambat karena beberapa siswi mencegat dan menindasku di belakang sekolah."

"Hha? Seumur-umur aku tidak pernah bermasalah dengan siswi lain."

"Mereka tidak suka aku dekat dengan Taetae-hyung."

"Pantas aku rasanya mendengar suaramu meneriakkan 'Taetae-hyung' berulang kali."

"Heol! Kalau kau mendengarnya seharusnya kau datang menolongku dong!"

"Mana aku tahu. Soalnya kau itu manja sekali dengan butlermu kan. Aku pikir isi kepalamu memang selalu penuh dengan 'Taetae-hyung'. Dasar."

Jimin mengerjap cepat, mendapati kerucutan lucu tercipta di bibir tipis Yoongi. Ia menyipit sebentar lalu terkekeh samar, "kau bisa juga ya, berekspresi seperti itu."

"Apaan."

"Ani... kau-"

"Sudah, sudah. Lanjutkan yang tadi."

"Nah, Jungkook datang menyelamatkanku dan tiba-tiba saja menembak-ku. Eh, kalau yang ini mana bisa aku pakai 'aku', kan yang dia suka itu Min Yoongi bukan Park Jimin kan."

"Ou, iya juga ya."

...

Yoongi dan Jimin saling pandang. Lalu sama-sama mengerut,

"Pft!"

dan sejurus kemudian akhirnya tertawa bersama.

Dipikir-pikir baru kali ini mereka menceritakan sesuatu ketika tubuh mereka tertukar, pusing juga jadinya harus memakai kata ganti apa, tapi ternyata cukup lucu bagi keduanya.

"Jadi si kelinci menyebalkan itu menyukaiku heoh."

"Waah, nada bicaramu arogan sekali, Min Yoongisshi."

"Tentu saja, dia itu benar-benar menyebalkan, kalau dia menyukaiku berarti aku bisa berbuat seenaknya dong. Kau juga membencinya kan."

"Ugh..."

"Mau balas dendam?"

"Eh?"

-TBC-

GAMSAHAMNIDAAAAA!

MASIH ADAKAH YANG MENUNGGGU FF ABSURD INI?

KALAU ADA, THANKS BANGET! HIKS!

Nah, untuk ff lain (kalau ada juga yang nunggu ff lain) sedang ganto usahakan, harap bersabar, kalau muak nunggu, pm aja ganto minta jelasin endingnya, dgn senang hati ganto bisa nyeritainnya wkkwkwkw

Okay, mengenai kata-kata yoongi yg udah ganto kasih note, cuman mau ngingetin kalau yoongi ngomong kaya gitu karena dia belum tau perihal 'kematian karena mencintai org lain' kalau dia udah tau, berarti dia pasti nyuruh taetae mundur kan, soalnya bahaya bgt ga tuh. taetae juga baru bisa narik kesimpulan abis adegan itu, yaitu pas ketemu Junhyung. Okay?

Chapter kali ini, ngebingungin ga sih? Kalau iya, mian... review aja kalau butuh penjelasan ini penjelasan itu, ntar next chapter ganto jelasin.

Dan untuk masa lalu Yoongi dan Jimin, bagusnya ganto ceritain detail atau poin-poin penting aja ya? Udah ada yang bisa nebak kan, kalau belum, ntar bakal lebih jelas pas Taetae udah ketemu ama tetua keluarga Lee.

Trus, meskipun labelnya NamJin, ga nutup kemungkinan bakalan ada TaeJin lho kkkkk

O, ya. Ada yg nanya wattpad kan ya. Ganto punya, tapi ff yang dipublish di sana cuman Such a Liar (my first yoonmin ff ) dan dua cerita baru yang ga dipublish di ffn.

So, begitulah.

Once again, gamsahamnida

ASLILAH, BAGI YANG MASIH NGIKUTIN FF INI, MAKASIH BANGEEEEEEETTTT

LUV U ALL ~

.

.

Ganto, 2/27/2017