Chapter 8

Meanie

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku membencimu seumur hidupku Jeon Wonwoo!"

Diluar hujan turun dengan derasnya, suara petir saling menyambar membuat siapa saja berjengit kaget dalam tidurnya. Wonwoo sendiri terlihat sangat gelisah dalam tidurnya, dengan kening dan pelipisnya yang sudah basah oleh keringat.

JDER! (effect suara petir yang gagal)

Wonwoo segera membuka matanya, dia cukup terkejut karena suara petir kali ini yang terdengar sangat besar dan menggelegar. Namja itu segera merubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang, diusapnya keringat yang membasahi kening dan pelipisnya.

"Haaah…." Wonwoo menghela nafas panjang, mimpinya tadi terasa sangat nyata, tapi untungnya itu hanyalah mimpi jadi Wonwoo bisa bernafas lega kali ini. Kemudian dia melirik jam yang berada diatas nakas, masih terlalu pagi untuk bangun tidur.

"Semua ini benar-benar mengganggu…."gumam Wonwoo sembari menatap lantai kamarnya, kembali terdengar suara petir menyambar.

"Aku harus membicarakan semua ini pada Mingyu".

.

.

.

Hari ini semua pegawai kembali bekerja seperti biasanya karena liburan singkat mereka sudah habis. Jeonghan dan Seungcheol juga sudah kembali dari liburan mereka di Jeju, kedua orang itu sudah datang ke kafetaria pagi-pagi sekali.

Seungcheol tampak asik dengan sandwich dan orange juice yang tersedia diatas meja, berbanding terbalik dengan Jeonghan yang terlihat resah karena Wonwoo belum juga muncul. Tapi setelahnya senyum namja bersurai panjang itu mengembang ketika melihat Wonwoo datang.

"Wonwoo-ya~"ujar Jeonghan yang kemudian menghampiri Wonwoo, namja itu segera memeluk Wonwoo dengan erat.

"Aku rindu sekali denganmu~"lanjut Jeonghan sembari melepas pelukannya, Jeonghan bisa melihat dengan jelas wajah pucat Wonwoo, namja bersurai panjang itu langsung menatap khawatir kearah Wonwoo.

"Kenapa kau pucat sekali?"tanya Jeonghan sembari menangkup kedua pipi Wonwoo. "Aku sedang tidak enak badan hyung"jawab Wonwoo dengan jujur, Jeonghan masih mempertahankan wajah khawatirnya yang terlihat lucu sekali dimata Wonwoo.

"Kau harus istirahat"ucap Jeonghan setelahnya yang tentunya langsung dibalas gelengan oleh Wonwoo. "Aku tidak mau hyung, aku masih kuat untuk bekerja"tolak Wonwoo secara halus segera Jeonghan menyilangkan tangan didepan dada.

"Hyung mau kau istirahat, hyung tidak mau kau tambah sakit"balas Jeonghan dengan tegas berusaha membujuk namja didepannya.

"Aku ingin bekerja, hyung tidak usah khawatir. Sakit ini nantinya akan hilang sendiri" Mendengar ucapan Wonwoo tersebut, Jeonghan langsung mempoutkan bibirnya.

"Baiklah kau boleh bekerja. Tapi kau harus janji pada hyung, kalau kau merasa benar-benar lelah kau harus istirahat arra?" Wonwoo mengangguk patuh dengan perkataan Jeonghan.

"Aku kembali bekerja ne hyung…" Setelahnya Wonwoo memulai pekerjaannya, tapi Jeonghan masih saja memandang Wonwoo dengan pandangan khawatir. Seungcheol menghampiri sang kekasih setelah selesai dengan 'urusan'nya.

"Kau harus makan Jeonghan, atau tidak aku akan memakan sandwich punyamu"ucap Seungcheol terdengar mengancam, Jeonghan memasang wajah malas kearah Seungcheol. "Kau bisa makan sandwich ku kalau kau mau"balas Jeonghan yang tentunya membuat Seungcheol tersenyum senang, Jeonghan tidak habis pikir kenapa kekasihnya itu gila makan.

.

.

.

Seperti rencananya tadi tadi pagi, sore harinya Wonwoo pergi ke apartment Mingyu untuk membicarakan dan mengakhiri hubungan palsu mereka. Wonwoo benar-benar ingin mengakhiri semuanya, setelah itu dia ingin pergi kerumah kakek dan neneknya yang ada di Changwon.

Bukannya ingin kabur. Tapi Wonwoo ingin menenangkan pikirannya disana, dan mungkin saja dia akan menetap di Changwon, berhenti dari pekerjaannya lalu membatalkan niatnya membeli sebuah apartment.

Ting tong!

Wonwoo berdiri didepan pintu apartment Mingyu, sudah hampir dua menit dia menunggu disana tapi tidak ada satupun yang kunjung membukakan pintu untuknya.

"Ada apa?"

Wonwoo mendongak, dihadapannya sudah berdiri Mingyu yang sedang menatapnya. Kelihatannya Mingyu baru saja bangun tidur, bisa dilihat dari pakaian yang dikenakannya dan rambutnya yang sedikit berantakan.

Tiba-tiba fokus mata Wonwoo beralih kebibir Mingyu, membuatnya teringat dengan kejadian tadi malam. Kemudian banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya; 'Kenapa Mingyu menciumku tadi malam?' –'Apa arti ciuman itu tadi malam?' –'Apakah–'

"Ada apa?" Wonwoo langsung membuyarkan pandangannya dari bibir Mingyu, rupanya namja satu ini terlalu asik memandangi bibir lawannya. Mingyu sendiri melayangkan tatapan 'sedikit' jengkel kearah Wonwoo, pasalnya namja itu malah terdiam sangat lama membuat waktunya habis begitu saja.

"Aku ingin membicarakan sesuatu" Wonwoo berusaha memasang ekspresi se-normal mungkin. Kemudian Mingyu sedikit menggeser tubuhnya bermaksud membuka jalan sekaligus mempersilahkan Wonwoo masuk kedalam apartmentnya.

Setelah Wonwoo masuk kedalam, Mingyu segera menutup pintu apartmentnya. Dia berjalan menyusul Wonwoo, ia bisa melihat namja itu sudah duduk diatas sofa. Mingyu menghampiri Wonwoo dan ikut duduk disampingnya.

"Jadi kau mau bicara apa?"tanya Mingyu sedikit menolehkan kepalanya kearah namja disampingnya. Wonwoo jadi bingung ingin mengatakan apa, sekarang jantungnya berdetak tidak karuan, dia jadi takut Mingyu mendengar detakan jantungnya.

"Emmm itu…. Aku ingin membicarakan tentang hubungan palsu kita" Mingyu merubah posisi duduknya menjadi menghadap kearah Wonwoo.

"Kenapa? Kau ingin hubungan palsu kita berakhir?"tanya Mingyu dengan wajah seriusnya, Wonwoo mengangguk pelan. "Jadi kau ingin hubungan yang sebenarnya begitu?" Untuk seperkian detik Wonwoo memasang wajah bingung, tapi setelah mengerti maksud Mingyu dia langsung menghadiahi namja dihadapannya dengan death glare.

"Aku serius!"ujar Wonwoo kesal, Mingyu malah tertawa melihat wajah Wonwoo.

"Aku bercanda"balas Mingyu setelah selesai dengan acara tertawanya, Wonwoo menyilangkan tangan didepan dada, Mingyu selalu menyebalkan seperti biasanya.

"Kau serius ingin mengakhiri semuanya?"tanya Mingyu kembali memasang wajah serius, Wonwoo menatapnya.

"Aku serius"jawab Wonwoo dengan yakin, dengan tiba-tiba Mingyu mendekatkan wajahnya kewajah Wonwoo, tinggal beberapa centi lagi. Mingyu bisa melihat wajah Wonwoo dengan jelas dari jarak sedekat ini.

"Kau…." Wonwoo menahan nafas, jantungnya berdetak tambah kencang saat ini.

"Kenapa..." Dan Wonwoo hampir pingsan ditempat ketika mata mereka kembali bertemu.

"Kenapa…. Kau tegang sekali? pfhh–" Mingyu sekarang malah mati-matian menahan tawa, dia tidak tahan melihat wajah tegang Wonwoo.

Wonwoo segera mendorong Mingyu, lalu mendengus sebal; 'Apa-apaan'pikirnya kesal. Akhirnya tawa Mingyu lepas, butuh beberapa menit bagi namja itu tertawa. Ruang tamu pun terasa sangat ramai oleh tawa si pemilik apartment.

"Aku benar-benar membencimu" Wonwoo mendesis tidak suka ketika tawa Mingyu sudah mereda. Mingyu kembali menatap kearahnya, namja itu baru sadar kalau wajah Wonwoo kali ini terlihat sedikit pucat.

"Wajahmu pucat… kau baik-baik saja?" Mingyu tampak khawatir sekarang, ya raut wajahnya sudah persis seperti Jeonghan tadi pagi. Wonwoo segera mengangguk. "Ne, aku baik-baik saja" Mingyu malah meletakkan punggung tangannya diatas kening Wonwoo.

"Hangat" Lagi-lagi Wonwoo merasa de javu, "Kau tidak baik baik saja sekarang, kau berbohong padaku!" Mingyu segera melayangkan protes, membuat Wonwoo langsung menatapnya tajam.

"Memangnya aku peduli?!"balas Wonwoo dengan sinis, Mingyu malah mempoutkan bibirnya kesal karena jawaban sinis dari Wonwoo.

"Kau harus minum obat. Tunggu sebentar! Aku akan mencarinya" Mingyu segera pergi kekamarnya meninggalkan Wonwoo sendirian diruang tamu. Wonwoo sendiri tidak habis pikir kenapa namja satu itu tiba-tiba perhatian padanya.

Cukup lama waktu yang dihabiskan Mingyu untuk mencari obat, dia kembali membawa nampan berisi segelas air, roti, dan obat.

"Hanya ada roti, kau harus makan roti ini dulu baru kau boleh minum obatnya"ujar Mingyu setelah meletakkan nampan diatas meja. Wonwoo memutar bola matanya malas, obat yang ada diatas nampan itu adalah obat yang dibelinya beberapa minggu yang lalu.

"Haruskah aku berterima kasih padamu?, seingatkan obat itu aku yang membelinya"balas Wonwoo sedikit menyindir Mingyu,

"Kau bisa berterimakasih atas roti dan segelas air yang aku berikan, karena bukan kau yang membelinya". Wonwoo langsung memasang wajah datarnya, ternyata Mingyu bisa membalas sindirannya tadi.

"Terimakasih!"kata Wonwoo sedikit tidak rela, tapi Mingyu malah tersenyum mendengarnya. "Jja makanlah"ucap Mingyu sembari memberikan roti yang ada diatas nampan ketangan Wonwoo.

Dengan berat hati Wonwoo memakan roti pemberian Mingyu, walaupun kenyataannya dia memang sedang lapar. Setelah roti ditangannya habis, Wonwoo segera meminum obat yang diberikan Mingyu.

"Aku lelah, aku ingin tidur sebentar" Wonwoo memposisikan tubuhnya menjadi tidur diatas sofa, otomatis Mingyu harus menyingkir karena kaki milik Wonwoo dengan sengaja mendorong atau lebih tepatnya menendang bahunya.

"Kalau aku sudah tidur satu jam tolong bangunkan aku"lanjut Wonwoo dengan memejamkan matanya, meringkuk dengan nyaman diatas sofa.

"Baiklah"jawab Mingyu yang tidak sadar malah tersenyum melihat posisi tidur Wonwoo. Namja itu kembali kekamarnya mencari selimut yang hangat untuk Wonwoo. Setelah menemukan selimut yang dicarinya, Mingyu keluar dari kamar.

Saat sampai diruang tamu, Wonwoo terlihat sudah tertidur dengan lelap membuat senyum Mingyu kembali terkembang. Dengan perlahan Mingyu meletakkan selimut tersebut diatas tubuh Wonwoo.

Ini adalah kali keduanya Wonwoo tidur diapartment miliknya. Mingyu segera mendudukkan dirinya diatas lantai, sehingga dia bisa melihat dengan jelas wajah tertidur Wonwoo. Diusapnya dengan pelan kepala Wonwoo.

"Bersabarlah, aku akan segera mengakhiri semua ini"

.

.

Matahari baru saja menampakkan diri tapi Wonwoo sudah membuka matanya. Setelah meregangkan otot dia segera merubah posisinya menjadi duduk, bisa dilihatnya Mingyu yang masih tertidur disofa sebelah.

"Dia gila atau bagaimana…" Wonwoo segera beranjak dari atas sofa, diletakkannya selimut yang dipakainya tidur kemarin malam diatas tubuh Mingyu. Dia tidak mau Mingyu sampai sakit, karena sangat merepotkan jika harus merawatnya lagi.

"Aku akan membuatkannya sarapan" Kemudian Wonwoo pergi kedapur, mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Hanya butuh waktu sebentar untuk Wonwoo menyiapkan makanan, karena dia hanya membuat Croque Madame Sandwich dengan segelas susu vanilla.

Setelah selesai, Wonwoo pergi dari apartment Mingyu. Tampaknya dia sudah lupa dengan rencana 'mengakhiri hubungan palsu'nya dengan Mingyu.

.

.

.

.

Sekarang masih menunjukkan pukul 9 A.M KST, tapi Ny. Kim sudah duduk disebuah café dekat dengan kantor sang suami. Dia sudah membuat janji dengan seseorang.

"Maaf membuat umma menunggu lama" Ny. Kim tersenyum kearah 'seseorang' yang sudah ditunggunya dari tadi. Orang itu duduk dihadapannya.

"Munje eobs-eo Hyujin-ah"jawab Ny. Kim masih memasang senyum tulusnya. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?"lanjut Ny. Kim bertanya maksud Hyujin yang meminta bertemu dengannya hari ini.

"Ini umma…" Hyujin mengeluarkan sebuah tape-recorder dari dalam tasnya, diletakkannya alat perekam tersebut dihadapan Ny. Kim.

"Umma harus mengetahui kebenaran ini. Aku tidak mau umma terus menerus dibohongi oleh Mingyu"sambung Hyujin dengan memasang wajah sedih, Ny. Kim sendiri hanya diam tidak berniat sama sekali membalas ucapan Hyujin.

"Mungkin kau tidak akan percaya dengan perkataanku, tapi aku sudah memiliki bukti kuat kalau hubungan Mingyu dengan Wonwoo itu palsu. Umma bisa mendengar kebenaran itu dari tape recorder ini"ujar Hyujin sembari menunjuk tape recorder yang diletakkannya diatas meja tadi.

"Cukup." Ny. Kim menghentikan pergerakan tangan Hyujin ketika yeoja itu hendak memutar rekaman yang disebutnya sebagai 'bukti' hubungan palsu Mingyu dan Wonwoo.

"Aku sudah mengetahui semuanya. Aku tahu hubungan Mingyu dan Wonwoo itu palsu. Ingat aku ibu dari Kim Mingyu, dengan melihat wajahnya aku sudah tahu dia jujur atau berbohong…" Hyujin menatap Ny. Kim tidak percaya.

"Kenapa umma hanya diam jika sudah mengetahui hal ini!? Umma senang dibohongi seperti ini oleh Mingyu?!"ucap Hyujin tidak terima, dia merasa perjuangannya untuk membongkar hubungan palsu Mingyu sia-sia begitu saja.

"Tentunya umma marah" Perlahan senyum Hyujin mengembang. "Tapi setelah bertemu terus menerus dengan Wonwoo, umma merasa sangat senang dan kemarahan umma lenyap begitu saja. Dia selalu bersikap baik pada umma, dia sangat sopan, penyayang, dan sederhana. Jadi umma rasa dia cocok untuk Mingyu, walau umma tahu mereka tidak mungkin bersama karena hubungan mereka hanya sebuah kebohongan…"lanjut Ny. Kim membuat senyum Hyujin hilang seketika,

"Bisa-bisanya umma tertipu oleh sikap baik namja itu, seharusnya umma sadar bahwa namja itu hanya memanfaatkan Mingyu! Dia itu sama seperti jalang diluar sana yang mau melakukan apapun demi uang! Umma sadarlah!"

Plak!

Beberapa pengunjung café menghentikan kegiatannya, mereka menatap kearah Hyujin dan Ny. Kim. Wanita itu baru saja melayangkan tamparan yang cukup keras dipipi kiri Hyujin, membuat yeoja tersebut meringis kesakitan.

"Jaga mulutmu! Kau bahkan tidak mengenal Wonwoo dengan baik! Kau lebih pantas disebut jalang!" Amarah Ny. Kim sudah memuncak, nafasnya naik turun menahan emosi.

"Umma….." Mata Hyujin sudah berkaca-kaca mungkin sebentar lagi air matanya akan tumpah. Dia tidak menyangka akan begini jadinya.

"Jangan pernah temui aku! Jangan pernah muncul dihadapanku!"ucap Ny. Kim sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hyujin sendirian. Beberapa pengunjung menatap iba kepada Hyujin, yeoja itu sekarang sudah menangis terisak.

.

.

.

Beberapa jam setelah kejadian di café tersebut, Ny. Kim memutuskan bertemu dengan Wonwoo. Wanita itu langsung datang kekafetaria untuk menjemputnya. Mereka memutuskan untuk mengobrol bersama disebuah taman, tapi setelah sampai mereka malah terdiam.

"Mianhae Wonwoo-ya" Suara Ny. Kim memecah keheningan diantara mereka, Wonwoo menolehkan kepalanya kearah Ny. Kim, dia memandang bingung kearah wanita itu.

"Maaf? Maaf untuk apa?"tanya Wonwoo tidak mengerti, Ny. Kim memandangnya dengan tatapan bersalah.

"Maaf untuk semuanya, maaf membuatmu harus terlibat dalam kehidupan Mingyu…"jawab Ny. Kim dengan suara yang terdengar parau karena menahan tangis.

"Kenapa umma harus meminta maaf?" Wonwoo mengusap punggung Ny. Kim berusaha menenangkan wanita tersebut.

"Umma sudah mengetahui semuanya, hubunganmu dengan Mingyu itu palsu iyakan?" Sekarang Wonwoo malah terkejut karena ucapan Ny. Kim, dia tidak menyangka akan secepat ini hubungan palsunya terbongkar.

"Mianhae umma, mianhae aku telah membohongimu"ucap Wonwoo penuh sesal, Ny. Kim menggeleng. "Seharusnya aku yang meminta maaf, maafkan aku Wonwoo-ya"balas Ny. Kim yang sudah menjatuhkan liquid bening dari matanya. Wonwoo tidak tega melihat wanita dihadapannya ini menangis.

"Seharusnya aku mengerti perasaan anak ku sendiri. Mingyu pasti merasa tertekan karena keegoisanku, aku umma yang buruk hiks"ucap Ny. Kim lagi sembari terisak pelan, Wonwoo segera memeluknya.

"Jangan berkata seperti itu, umma adalah ibu terbaik yang pernah ada untuk Mingyu"ujar Wonwoo menepuk-nepuk dengan pelan punggung Ny. Kim,

"Gomawo Wonwoo-ya…"kata Ny. Kim setelah melepas pelukannya, tangisannya sudah mereda. Wonwoo tersenyum kearahnya.

"Ne umma" Ny. Kim membalas senyum Wonwoo, "Sekarang aku bisa meninggalkan Seoul dengan tenang karena semua kebohongan ini sudah berakhir" Ny. Kim menautkan alisnya bingung.

"Kau mau meninggalkan Seoul? Kau mau kemana Wonwoo-ya?"tanya Ny. Kim terdengar tidak rela, "Aku mau pergi kerumah kakek dan nenek ku"jawab Wonwoo membuat Ny. Kim memasang wajah sedihnya.

"Kau pergi hanya sebentar kan?" Wonwoo menggeleng pelan, "Aku tidak tahu umma" Jawaban Wonwoo membuat Ny. Kim benar-benar ingin kembali menangis sekarang. Diraihnya tangan Wonwoo untuk digenggamnya.

"Apakah Mingyu mengetahui rencana mu ini?" Lagi-lagi Wonwoo menggeleng, "Kurasa dia tidak perlu mengetahui rencanaku ini…"balas Wonwoo sembari menatap kebawah.

"Apakah kau menyesal telah mengenal Mingyu?" Wonwoo mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan Ny. Kim, ditatapnya wanita tersebut.

"Awalnya aku menyesal…. Tapi sekarang aku merasa senang pernah mengenalnya"jawab Wonwoo berusaha jujur, Ny. Kim tersenyum mendengar jawaban Wonwoo. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Wonwoo.

"Umma ingin kau jujur. Apakah –kau mulai menyukai Mingyu?" Wonwoo terdiam mendengar pertanyaan Ny. Kim, dia terlalu takut untuk berkata jujur.

"Wonwoo-ya"panggil Ny. Kim saat dilihatnya Wonwoo hanya terdiam tidak mau menjawab pertanyaan tersebut.

"Aku tidak mengerti dengan perasaanku… Terkadang aku sangat membeci Mingyu karena sikap arogannya, tapi aku merasa senang ketika melihatnya, aku merasa nyaman bersamanya, walau kita lebih sering bertengkar saat bertemu" Ny. Kim kembali tersenyum, bahkan senyumnya terlihat sangat cerah sekali.

"Itu pertanda bahwa kau mulai menyukai Mingyu."ucap Ny. Kim dengan yakin. "Kurasa Mingyu juga mulai menyukaimu" Wonwoo segera menggeleng.

"Mana mungkin dia menyukaiku" Ny. Kim mengerucutkan bibirnya kesal.

"Kau tidak percaya pada umma? Baiklah umma akan membutikan kalau Mingyu itu juga menyukaimu!"ucap Ny. Kim sembari menyilangkan tangan didepan dada, sikap childishnya muncul.

Wonwoo jadi gemas melihat tingkah Ny. Kim. "Bagaimana umma akan membuktikannya?"tanya Wonwoo dengan nada meremehkan, tapi dia hanya ingin menggoda Ny. Kim yang sedang bersikap childish saat ini.

"Kapan kau akan berangkat ke Changwon?" Ny. Kim malah balik bertanya dengan tangan masih menyilang didepan dada. "Dua hari lagi"balas Wonwoo.

"Kau akan pergi kesana dengan naik kereta bawah tanah?" Wonwoo mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ny. Kim.

"Lusa kau harus berangkat pada pukul dua siang. Aku pastikan sebelum kau berangkat Mingyu akan datang dan menyatakan perasaannya padamu, jika rencana umma berhasil kau harus berjanji untuk kembali ke Seoul"ucap Ny. Kim dengan raut wajah serius membuat Wonwoo ingin tertawa melihatnya.

"Jika rencana umma tidak berhasil kau boleh menetap di Changwon selamanya, umma tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi" Setelah mendengar rencana Ny. Kim, Wonwoo langsung mengangguk setuju.

"Kau setuju dengan rencanaku?"tanya Ny. Kim terdengar bahagia, sekali lagi Wonwoo mengangguk. "Ne umma~"jawab Wonwoo yang langsung saja dihadiahi pelukan erat oleh Ny. Kim.

'Kau harus menjadi menantuku Wonwoo-ya. Titik'batin Ny. Kim sembari menampilkan smirk-nya, yang tentu saja tidak bisa dilihat Wonwoo karena mereka masih berpelukan.

.

.

.

.

Wonwoo melambai kearah Ny. Kim, setelah mobil milik wanita itu tidak terlihat, Wonwoo berjalan kearah kafetaria dengan riang. Moodnya sangat bagus malam ini, menghabiskan waktu bersama Ny. Kim sekarang menjadi salah satu kegiatan favoritnya.

"Malam hyung…"ucap Wonwoo menebar senyum cerah kearah Jun yang baru saja keluar dari kamar mandi. Namja keturunan cina itu menatap heran kearah Wonwoo.

"Kurasa kepala Wonwoo terbentur"ucap Jun sembari menatap kearah Wonwoo yang sekarang malah bernyanyi sembari menutup pintu kamarnya, tapi beberapa detik kemudian pintu itu kembali terbuka.

"Oh ya hyung aku mau bilang padamu bahwa lusa aku akan berhenti bekerja, aku akan pergi ke Changwon" Jun masih terdiam memproses kata demi kata yang diucapkan Wonwoo, bahkan pintu kamar namja emo itu sudah tertutup.

Mata Jun langsung membola. "Yak! Kau bercanda?!"

.

.

.

Siang harinya terlihat banyak pengunjung dikekafetaria. Sang pemilik baru saja datang bersama kekasihnya. Wonwoo tersenyum kearah Jeonghan saat melihat namja bersurai panjang itu baru saja masuk kedalam kafetaria.

"Ini pesanannya…" Setelah meletakkan semua makanan diatas meja, Wonwoo segera pergi menemui Jeonghan yang sekarang sudah duduk dipojok kafetaria bersama Seungcheol.

"Hyung"panggilnya ketika Jeonghan sedang asik memainkan ponselnya, dan Seungcheol yang sibuk melihat daftar menu. Jeonghan menoleh kearahnya.

"Kenapa Wonwoo-ya?"tanya Jeonghan dengan meletakkan ponselnya diatas meja, Seungcheol terlihat masih asik dengan daftar menu ditangannya.

"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi hyung jangan marah ne?"jawab Wonwoo membuat Jeonghan menatap bingung kearahnya. "Ne katakana saja…"balas Jeonghan sedikit ragu, Wonwoo langsung memasang senyumnya.

"Hyung aku mau berhenti bekerja, a–"

"APA?! Big no!" Belum selesai Wonwoo berbicara, teriakan Jeonghan sudah menghentikan ucapannya. Bahkan Seungcheol sempat terkejut dan memilih meletakkan kembali daftar menu ditangannya keatas meja.

"Kenapa kau berteriak?"tanya Seungcheol khawatir. Tampaknya dia benar-benar tidak mendengar perkataan Wonwoo tadi.

"Hyung" Wonwoo memasang wajah melasnya, "Aku rindu sekali dengan tempat kelahiranku, aku ingin tinggal bersama nenek kakek ku"lanjut Wonwoo masih mempertahankan wajah memelasnya,

"Jangan pergi Wonwoo-ya, kau boleh berhenti bekerja dikafetaria ini, tapi jangan menetap di Changwon, hyung mohon…." Wonwoo tidak tega melihat wajah sedih Jeonghan, namja itu terlihat sudah hampir menangis.

"Aku janji akan kembali secepatnya…"ucap Wonwoo kemudian yang tentunya membuat air muka Jeonghan cerah kembali, namja bersurai panjang itu segera bangkit dan memeluk tubuh Wonwoo.

"Gomawo" Wonwoo membalas pelukan Jeonghan, kekasih Seungcheol ini tampaknya sangat menyayangi Wonwoo.

'Kuharap Mingyu akan datang menemuiku besok siang'

.

.

.

.

.

Jam dinding dikamar Mingyu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan Mingyu sendiri masih tertidur dengan lelapnya. Salahkan saja penyakit insomnia yang akhir-akhir ini menyerangnya, sehinga dia baru bisa tertidur pada pukul lima pagi.

Diluar, tampak Ny. Kim tergesa-gesa menekan password apartment Mingyu. Untungnya sang anak dengan berbaik hati memberitahukan password apartmentnya, jadi dalam hitungan beberapa detik Ny. Kim sudah berada didalam apartment milik putranya.

Kamar tidur Mingyu terlihat tidak tertutup, dengan segera Ny. Kim masuk kedalam kamar anaknya.

"Mingyu bangun!" Ny. Kim mengguncang dengan keras tubuh Mingyu, membuat tidur namja itu terganggu. Perlahan Mingyu membuka matanya.

"Hmm?" Mingyu menyahut dengan malas, Ny. Kim berdecak sebal, wanita itu segera memulai aktingnya.

"Wonwoo –hiks , hentikan dia hiks" Mata Mingyu langsung terbuka sempurna ketika mendengar nama 'Wonwoo'.

"Wonwoo kenapa umma?"tanya Mingyu dengan panik, Ny. Kim masih berusaha mengeluarkan air matanya (soalnya air matanya baru dikit yang kluar #plak), ditatapnya sang anak.

"Dia mau pergi hiks –hentikan dia Mingyun-ie hiks –cepat dia sudah ada di Seoul Metropolitan Subway, empat puluh lima menit lagi dia akan berangkat" Mingyu langsung turun dari tempat tidurnya, namja itu terlihat terburu-buru sekarang. Bahkan dia pergi dengan hanya mencuci muka tapi untungnya masih sempat menggosok gigi.

Seringai tipis muncul dibibir wanita itu. "Berhasil!"

.

.

.

Wonwoo duduk seorang diri disalah satu bangku panjang yang tersedia di stasiun kereta bawah tanah Seoul Metropolitan, dia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Sepuluh menit lagi keretanya akan datang, dan sampai sekarang Mingyu belum juga muncul.

Wonwoo menghela nafas kecewa, dia sudah menduga dari awal bahwa Mingyu tidak akan datang untuk menemuinya. Dia segera berdiri dari duduknya.

"Wonwoo-ah!" Mingyu berteriak dengan keras membuat beberapa orang menatapnya kesal, Wonwoo sendiri langsung menoleh kearahnya. Mingyu langsung mempercepat larinya, sehingga sekarang dia sudah berhadapan dengan Wonwoo.

"Hah –hah….." Mingyu sibuk mengatur nafasnya yang naik turun karena berlari. "Kumohon jangan pergi"ucap Mingyu setelah hembusan nafasnya sudah teratur, namja itu menggenggam pergelangan tangan Wonwoo.

"Kenapa kau melarangku pergi?"tanya Wonwoo sembari memasang wajah datarnya, Mingyu menatapnya. "Aku –aku…." Wonwoo memutar matanya malas, tepat beberapa detik kemudian kereta api yang ditunggu Wonwoo datang.

"Kalau tidak ada yang mau kau katakan, aku akan pergi sekarang"ujar Wonwoo memperingati Mingyu yang dari tadi hanya diam, tidak mau melanjutkan perkataannya.

Dengan cepat Mingyu menarik tubuh Wonwoo; membawa tubuh Wonwoo kedalam pelukannya. Wonwoo sendiri cukup terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Mingyu.

"Kumohon jangan pergi…." Wonwoo bisa mendengar detak jantung Mingyu yang terdengar sama dengan detak jantungnya. Senyumnya terkembang, perlahan dia membalas pelukan Mingyu.

"Maaf membuatmu harus masuk kedalam kehidupanku…"ucap Mingyu sembari mengeratkan pelukannya. Wonwoo mengusap punggungnya dengan pelan.

"Kumohon tetaplah disini, aku baru menyadari perasaanku sendiri."lanjut Mingyu, kemudian dia melepaskan pelukannya dari tubuh Wonwoo.

Mingyu memegang kedua bahu Wonwoo. "Aku menyukaimu –ani, aku mencintaimu"ujar Mingyu dengan tulus, Wonwoo tersenyum kearahnya.

"Terkadang sangat sulit membedakan antara cinta dan benci. Yakinkan hatimu sekali lagi"balas Wonwoo dengan melepas tangan Mingyu yang berada diatas bahunya.

"Aku sudah yakin sekali. Aku mencintaimu, apakah itu masih kurang?"ucap Mingyu terdengar putus asa. "Aku percaya padamu…"

Setelah mengatakan hal tersebut, Wonwoo langsung menarik tengkuk Mingyu. Bibir mereka kembali bertemu, Mingyu merasa shock sekaligus senang. Ditariknya pinggang Wonwoo sehingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.

Beberapa orang yang berlalu lalang melirik kearah mereka, ada yang mencibir, ada pula yang mengatakan mereka sangat romantis. Tapi Mingyu dan Wonwoo tidak terlalu peduli dengan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Tanpa ragu Mingyu melumat bibir Wonwoo, dia merasa sangat senang ketika Wonwoo membalas ciumannya. Akhirnya mereka saling melumat bibir satu sama lain, bahkan Mingyu sempat menyesap bibir bawah Wonwoo, membuat namja dihadapannya melenguh tertahan.

"Chogiyo." Wonwoo langsung mendorong tubuh Mingyu, pipinya terasa memanas sekarang.

"Kereta dari Seoul ke Changwon akan berangkat sebentar lagi" Mingyu ingin menendang pria yang merangkap sebagai petugas kereta api tersebut karena sudah mengganggu kegiatannya bersama Wonwoo.

"Oh benarkah? Baiklah saya akan segera masuk kedalam kereta"balas Wonwoo yang cepat-cepat meraih tas miliknya, Mingyu lagi-lagi menahannya.

"Kau tetap akan pergi?"tanya Mingyu dengan wajah kecewanya, Wonwoo mengangguk.

"Aku hanya pergi sebentar, aku janji akan segera kembali"jawab Wonwoo berusaha melepaskan genggaman tangan Mingyu dipergelangan tangannya.

"Kereta akan segera berangkat, tolong cepat tuan" Petugas itu malah menarik Mingyu dan Wonwoo, mendorong kedua orang tersebut masuk kedalam kereta. Dalam hitungan mundur, kereta yang mereka tumpangi mulai bergerak. Dan sangat mustahil bagi Mingyu untuk turun.

"Untung ahjussi itu mendorongku kedalam kereta…" Mingyu menampilkan smirknya. Wonwoo menatap tajam kearahnya.

"Kurasa menghabiskan waktu berdua di Changwon bersama mu bukanlah hal yang buruk".

Walaupun Wonwoo mendelik tajam kearah Mingyu, tapi sejujurnya dia merasa senang. Mengenal seorang Kim Mingyu adalah hal tersial yang menguntungkan bagi Jeon Wonwoo.

END

A/N : HAIIIIII~ kita bertemu lagi dichapter delapan, chapter final, chapter yang paling panjang ini. Akhirnya fanfic 'Lucky or Unlucky' end dengan nistanya. Terkesan buru-buru ya alur ceritanya? Sengaja soalnya saya udah bingung mau bikinnya kayak gimana. Maaf ya kalau chapter terakhir ini kurang memuaskan atau benar-benar tidak memuaskan reader or sider T–T, udah buntu banget soalnya nih, ditambah batuk pilek, ulangan harian, tugas sekolah yang menumpuk membuat fokus saya terpecah belah *pyang!*.

Rencananya saya mau publish fanfic baru full kegiatan mereka di Changwon alias saya mau bikin sequel gituhh, hmmm ada yang mau gak? Kalau enggak juga gak apa xD. Btw makasih semuanya yang sudah fav, follow fanfic ini dari awal saya publish :*. Makasih udah mau menyempatkan waktu berharga kalian untuk membaca karya tulis aneh bin ajaib milik saya :* Saya sayang banget sama kalian semua muahh *tebar cinta* #digampar.

Makasih juga untuk review kalian semuanya, makasih atas saran dan kritiknya. Tanpa kalian aku bukanlah apa-apa *eaaaak*. Untuk kesan, masukan, atau apapun mengenai fanfic ini silahkan tulis dikotak review ya, terus di send deh ;) #apaan #ditabok. (yuk temenan sama aku, siapa tau kita bisa sharing tentang meanie atau couple favorit kita bareng-bareng ;), kamu follow twitter aku nanti aku follow deh twitter kamu usernamenya:adexo21, atau add line jga boleh idnya:astitidewi21. Maacih ceman).