Judul: Little Fire on the Candle

Sub-Judul: Another Question

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Drama/Hurt/Comfort

Rating: T

WARNING: AU, OOC-ness

Pairing: SasuHina ; SasuSaku

NOTE: Cerita sudah memasuki critical point, banyak aksi terjadi ketimbang dialog perdebatan antar tokoh di chapter ini.. ^^;;

Dan, seperti janji saya di chapter-chapter awal bahwa tidak akan ada Mary Sue, kali ini giliran Sakura yang terperangkap dalam emosi. Baik Sasuke, Hinata, maupun Sakura, semua dapat imbas yang besar dari main api yang dilakukan Sasuke.. ^^


Little Fire on the Candle

( Act. 8: Another Question I )


.

Terkadang mendengarkan jauh lebih mudah daripada mengalaminya langsung. Bagi Sakura yang selalu menjadi pendengar yang baik, membantu kawannya yang dalam masalah—baik dari segi bantuan moral maupun material, hidup sangatlah menyenangkan.

Ada banyak hal yang ia pelajari dari kehidupan di sekelilingnya. Ia melihat segala sesuatu dengan perspektif orang lain, merasakan, membayangkan, dan memahami setiap kejadian.

Daya adaptasinya terhadap lingkungan baru, bersama dengan kuatnya rasa empati dia, menjadikannya tumbuh sebagai seorang gadis yang sensitif pada perasaan orang lain. Hal inilah yang membuatnya begitu disenangi teman-temannya.

Ia bukan malaikat yang akan selalu memberikan obat penawar bagi luka setiap orang, namun ia mampu menolong mereka dari rasa gundah mereka untuk terus melangkah maju dan berusaha bersama.

Kehidupannya selama tujuh belas tahun dijalani seperti itu. Memberi dan menerima, tanpa menuntut terlalu banyak.

Namun semua teori tentang dirinya itu hancur tak bersisa ketika Uchiha Sasuke muncul dalam sejarah kehidupannya.

Detik ketika ia bertemu dengan Uchiha Sasuke, adalah detik dimana ia telah berubah menjadi seorang anak gadis biasa. Yang dipenuhi gejolak rasa di dadanya.

Hatinya yang tak mau mengakui, namun kepalanya yang menyadari. Tentu saja ini tidak lazim, karena hati biasanya bereaksi duluan dalam urusan perasaan. Tapi inilah yang terjadi pada dirinya.

Sakura tahu benar bahwa lambat laun ia mungkin akan menyukai Uchiha Sasuke lebih dari sekedar teman. Logikanya berputar dengan tanggap dan membisikinya bahwa Sasuke adalah sosok yang selama ini ia dambakan.

Bukan kemunculan seorang pangeran yang ditunggunya, melainkan seseorang yang mampu membuat jiwanya bagai tertarik ke dalam pusaran emosi yang hangat dan kuat. Seseorang yang mampu membuatnya paham bahwa orang itulah yang diciptakan untuk melengkapinya. Saling melengkapi satu sama lain.

Dengan pemikiran yang seperti itu, Sakura berusaha menyegel hatinya rapat-rapat. Ia tahu benar bahwa jika sekali saja ia lengah, pusaran kebimbangannya itu akan menarik hatinya dalam kekotoran. Pikiran kotor untuk menodai persahabatan mereka.

Pantaskah ia dikatakan sebagai sahabat dari Uchiha Sasuke?

Sakura tidak tahu itu. Bahkan Sasuke sendiri tak pernah menyinggung hal itu.

Namun setiap kali ia melihat cerminan dirinya berjalan bersisian dengan pemuda itu, berbicara dengan pemuda itu, bercanda bersama pemuda itu, tanpa dapat dihindari yang dirasakannya adalah mereka ada untuk satu sama lain.

Sakura berusaha membuat keadaan mengalir apa adanya. Dan inilah kesalahan terbesarnya. Ia tak tahu bahwa berbeda dengan teori, segala hal yang terjadi di depan matanya tak dapat dielakkan sanggup membuat semua teori itu hancur lebur.

Membiarkan dirinya berada dekat dengan Sasuke, membawa dirinya masuk ke dalam kehidupan Sasuke. Ia pikir semua itu hal yang wajar saja. Sama halnya dengan ia pada Shikamaru, Kiba, Chouji, Tenten, Temari, Ino, dan yang lainnya.

Tapi ia tak mengerti, bahwa rasa dalam hati lebih tak dapat dibendung daripada pikiran itu sendiri.

Uchiha Sasuke tidak sama dengan yang lainnya. Tidak sama dengan Shikamaru, Kiba, Chouji, dan lainnya. Ia berbeda dari mereka.

Bukan Sakura yang membuat ukuran perbedaan itu. Bukan pula Sasuke atau siapapun. Semuanya terjadi begitu saja. Begitu saja, hingga ketika tersadar ia telah melangkah terlalu jauh untuk dapat kembali lagi ke titik permulaan.

Seperti sebuah lelucon, manusia dipertemukan oleh benang takdir, namun tidak semua dari mereka akan terus bersama-sama dalam rangkaian suratan takdirnya.


Mengatur taplak meja bercorak kotak-kotak merah di atas meja kayu panjang yang kecokelatan, Sakura mengembangkan senyum ketika melihat sesosok pemuda berambut emas datang menghampirinya.

"Sedang sibuk?" ujar si rambut emas—yang tak lain adalah Naruto.

"Seminarnya dimulai satu jam lagi. Kau ikut tidak?" Sakura tak mengalihkan pandangannya dari meja di hadapannya yang memisahkan antara ia dengan lawan bicaranya itu. Kedua jemari lentiknya dengan lihai menggulung dan menyimpulkan ujung taplak yang menjuntai di kaki meja.

Naruto mengangguk, "Aku ikut."

Sakura hendak berterima kasih padanya, ketika Naruto kembali membuka suaranya, "Bersama Sai dan Hinata."

Sedikit perasaan tak terdefinisi menggelitik hati Sakura. Oh, tidak—pikirnya. Akhir-akhir ini ia selalu begitu. Bereaksi setiap kali nama Hinata menyusup selaput gendang telinganya. Seolah kata tabu yang membuatnya dadanya sesak seketika.

"Ah itu dia! Sakura!" suara seorang gadis menyeruak dari kejauhan. Di sana Tenten tengah berlari kecil menjinjing kantung kertas besar di kedua tangannya. Di belakangnya Temari tengah memberi instruksi pada siswa-siswa OSIS yang tengah mengangkut kantung-kantung plastik besar berwarna hitam mengkilat.

Dalam hitungan detik, Tenten sudah tiba di meja tempat Sakura berada. Dengan cekatan ia meletakkan kedua kertas jinjingan di tangannya di belakang meja.

Sakura mengintip ke dalam kantung-kantung kertas itu, "Berapa buah semuanya?"

"Tujuh puluh kotak. Sudah termasuk untuk pembicara dan peserta seminar," Tenten menjawab mantap.

Sakura mengangguk dan beralih pada Temari yang menghampirinya, "Sudah OK?"

"OK. Delapan puluh lima kotak. Untuk pembicara, peserta, dan panitia," jawab Temari seraya melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya sambil tersenyum lebar.

Sakura meliukkan pena di atas buku catatannya, menceklis 'Coffee-break: OK' dan 'Lunch: OK' dalam perincian persiapan Konsumsi. Menulis angka tujuh puluh dan delapan puluh lima di masing-masing kolom.

"Biar kubantu menyusun buku tamu dan aksesoris di meja," seru Tenten, dan dengan semangat mengeluarkan isi kardus cokelat di bawah meja. Dengan cekatan ia atur benda-benda dalam kardus itu ke atas meja sedemikian rupa. Vas bunga kecil lengkap dengan beberapa tangkai bunga plastik, dua buah buku tamu sederhana yang dibuka di atas meja menghadap pengunjung, serta dua buah bolpen bertinta hitam di samping masing-masing buku tamu.

"Sakura, bisa bantu mengatur kursi di dalam? Anak laki-laki semua payah dalam keteraturan dan kerapian," seru Haku tiba-tiba dengan kepalanya yang tersembul dari pintu masuk besar ruangan seminar.

Sakura mengangguk dan sigap menghampiri Haku—yang memperkenalkan dirinya sebagai Bendahara OSIS ketika ia mengurus dana untuk konsumsi sehari sebelumnya itu. Sesekali sudut mata Sakura menangkap sosok Haku di sampingnya, yang entah bagaimana, pemuda itu tampak seperti seorang gadis. Mungkin karena pembawaan dari wajahnya yang lembut dan didukung dengan postur tubuhnya yang cenderung ramping.

"Biar kubantu," Temari muncul mengikuti Sakura dan mengarahkan beberapa orang staf logistik untuk mengarahkan kursi supaya lebih rapat atau renggang, tergantung keharmonisan barisan yang setengah melingkari panggung utama dan podium.

"Aku heran," ujar Temari tiba-tiba, menarik perhatian Sakura yang tengah menggeser sebuah kursi berkaki besi keperakan dengan busa merah pekat di bagian dudukan dan sandarannya.

"Hm?" Sakura bergumam sebagai isyarat bahwa ia mendengarkan, walau perhatiannya tetap pada deretan kursi.

"Sasuke belum datang," sahut Temari dengan tenang.

Sakura terkesiap.

"Ini tidak biasanya. Biasanya dia selalu datang paling awal dalam setiap kegiatan OSIS," tambah Temari lagi, yang tak ayal membuat dada Sakura semakin terasa bergemuruh hebat.

"Mungkin dia sedang sibuk mengurus persiapan festival," timpal Sakura beberapa saat kemudian.

Temari bergumam dan kembali membuka suaranya, "Dia mengurusi apa yang masih akan terjadi dua hari lagi dan menelantarkan event yang terjadi sekarang di depan matanya?"

Sakura tahu benar bahwa Temari tidaklah sedang bertanya padanya, namun lebih pada mempertanyakan pernyataan Sakura yang baginya tak masuk akal.

Sakura hanya mampu menghela napas dan mengangkat bahunya.

"Lho, Sakura! Anak perempuan tidak boleh angkat yang berat-berat, biar aku saja!" suara nyaring yang akhir-akhir ini terdengar akrab di telinganya menyeruak.

Sakura memutar lehernya dan mendapati Naruto mengambil alih kursi di tangannya cepat, sebelum kemudian menyusunnya rapi dalam deretan. Sakura tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Dalam belasan menit, berbondong-bondong muncul para siswa-siswi peserta seminar dan mulai bercakap-cakap di depan lobby utama.

Sakura segera kembali ke posisi awalnya, meja resepsionis, dan duduk bersama Tenten di sebelahnya. Ia telah menginstruksi Kiba dan Shikamaru untuk menjadi MC dan Moderator. Mereka telah siap di atas panggung utama dan duduk di sofa empuk, tenggelam dalam script di tangan mereka yang tengah mereka pelajari dengan tekun. Chouji tengah memeriksa slideshow di laptop yang dibawanya dan mengamati pembiasan gambar pada layar infocus, untuk kemudian diatur tingkat pencahayaan dan ketajaman warnanya.

Selang beberapa menit, Sakura melirik jam tangannya dan menoleh pada Tenten. Tenten mengangguk dan berdiri, sebelum kemudain berseru pada para siswa-siswi di lobby yang cukup luas itu dengan lantang namun tetap dalam nada yang sopan, "Teman-teman, seminarnya akan dimulai lima belas menit lagi, silahkan mendaftar ulang dan mengisi buku tamunya di sini."

Dalam sekejap meja resepsionis Sakura dan Tenten dikerubungi para peserta seminar yang berbaris rapi dalam dua antrian, satu di deretan Tenten dan satu di deretan Sakura. Masing-masing mengisi nama, kelas, alasan mengikuti seminar, nomor ponsel, dan tanda tangan.

Dalam sekejap para peserta seminar telah memasuki ruang seminar semua, dan Temari kini tengah mengendalikan kondisi dalam ruang seminar sampai pembicara datang.

Sakura menghela napas lega, seolah segala beban berat di pundaknya terlepas seketika. Tenten tersenyum lebar di sampingnya, "Kalau seminar ini terkendali, maka semuanya berjalan lancar. Tidak sia-sia kau sibuk mengurusi persiapan seminar ini yang begitu menyita waktu dan energimu banyak sekali," ujarnya riang, penuh rasa bangga pada sahabatnya yang satu itu.

Sakura mengangguk dengan polesan senyum yang tak kalah riangnya, "Dengan begini kewajiban kita beres sudah!" ujarnya.

"Syukurlah kalau begitu," tiba-tiba sebuah suara lembut dan tenang menyeruak.

Sakura tercekat. Itu bukan suara Tenten maupun Temari. Itu…

"Hinata?" Tenten menyuarakan rasa terkejutnya. Rupanya iapun tak mengira Hinata akan hadir dalam seminar itu.

Dan terlebih lagi…

"Sasuke! Darimana saja kau! Kita tadi kelimpungan mengatur kursi, tahu!" Temari mengomel panjang lebar, keluar dari ruang seminar dan menghampiri meja resepsionis tempat Sakura dan yang lain berkumpul.

Benar. Hinata bersama Sasuke.

"Aah, maaf. Aku menjemput Hinata dulu ke rumahnya," jawab Sasuke sambil mengurut punggung lehernya pelan.

Temari menghela napas dan sedikit mencibir. Dapat tertangkap oleh mata Sakura sekilas, bahwa Temari sempat melirik cepat ke arahnya sebelum kembali menatap Hinata. Sakura merasa tak enak hati dan kontan perutnya terasa mual.

"Sakura," Hinata memanggil namanya dengan nada yang lembut dan sedikit mengalun. Namun entah kenapa Sakura merasa merinding.

"Kamu sudah berusaha keras ya," ujar gadis berambut hitam panjang itu dengan senyum lembut terpoles di wajah cantiknya. Pembawaannya yang anggun didukung dengan pakaian yang tak kalah anggun dan feminin-nya, membuat Hinata tampak seperti wanita ningrat kelas atas yang berdiri berdampingan dengan Sasuke di sampingnya.

Sasuke, tak kalah formal dengan Hinata, mengenakan kemeja putih berlengan panjang di balik rompi abu metaliknya dengan hiasan kotak-kotak kelabu dan hitam. Kedua kancing bagian atas kemejanya dibiarkan terbuka, menimbulkan kesan seksi dan menawan.

Berdua, sepasang kekasih itu bagaikan dua sejoli yang begitu sempurna. Berdiri bersisian dengan postur tubuh yang pas, gestur tubuh yang sesuai, dan penampilan yang luar biasa cocok.

Sakura sedikit bergurau dalam hatinya. Jika di dunia ini ada kontes pasangan ideal, pastilah kedua muda-mudi di hadapannya itu menjadi pemenangnya. Berdua, mereka begitu sempurna. Seolah masing-masing tercipta untuk satu sama lainnya.

Sakura menelan ludah.

"Sakura," suara baritone yang begitu lembut di telinganya, menghenyakkan Sakura dari pikiran kusutnya.

"Ya?" Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke—sang pemilik suara yang mampu menyihirnya dengan hanya suara lembutnya itu, dengan air muka yang tenang.

"Kau sudah melakukan semuanya dengan baik. Aku salut padamu, " ujar Sasuke dengan senyum terpoles di wajah tampannya. Garis wajahnya tegas dengan struktur tulang yang sempurna. Kulit putihnya terlihat kontras dengan rompi gelap yang dipakainya. Rambut hitam kebiruannya menambah estetika yang ditampilkan dari sosok rupawannya. Ia begitu menawan. Sekali pandang saja orang sudah tahu bahwa laki-laki macam inilah yang pastinya digilai banyak wanita, menjadi pangeran impian bagi mereka.

Namun sekali lagi, hidup bukanlah dongeng impian belaka. Semua orang harus menghadapai kenyataan. Setiap benda berharga, pasti tidak mungkin terus menjadi milik bersama. Dan Uchiha Sasuke yang begitu digilai para wanita ini sudah sejak lama telah menjadi milik seseorang. Hyuuga Hinata.

"Sakura?" suara Sasuke kembali membuyarkan lamunan Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat, "Ah maaf. Aku sedikit lelah akhir-akhir ini," ujarnya dengan tawa kecil yang sedikit dipaksakan.

"Ya, dia jadi sering melamun," timpal Temari. Sontak Sakura melotot ke arahnya.

Sasuke mengerutkan keningnya. Menatap Temari dan Sakura bergantian.

"Sebaiknya kita segera mencari tempat duduk di dalam?" Hinata memecah keheningan seraya mengacungkan arloji keperakan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya yang putih lembut, pada Sasuke.

Sasuke mengangguk dan melambaikan tangannya pada Sakura dan Temari, "Aku masuk duluan," ujarnya singkat.

Setelah kedua sejoli itu menghilang dari pandangan, Tenten menyodok Sakura dengan sikutnya.

"Apa?" ujar Sakura tak acuh.

"Tidak apa-apa?" tanya Tenten, tak mengindahkan mood Sakura yang telah berubah.

"Apanya yang apa-apa?" Sakura mengerutkan keningnya, menatap Tenten dengan pandangan tak suka.

"Yaa itu, Sasuke datang bersama Hinata…" jawab Tenten hati-hati.

Sakura mengibaskan tangannya di udara, "Memangnya kenapa musti apa-apa? Apa hubungannya dengaku??" nada suaranya sedikit meninggi.

Tenten sedikit terkejut dengan reaksi Sakura yang baginya cukup berlebihan itu. Seorang Haruno Sakura yang dikenalnya tidak pernah bersikap seperti itu, ia tahu benar akan hal itu. Namun Sakura yang kini ada di sampingnya itu…

"Hentikan tingkah konyolmu itu," sebuah suara tegas menerobos tensi tak mengenakkan antara Sakura dengan Tenten.

Sakura memutar bola matanya. Ia lupa bahwa sang mulut berbisa—Temari—masih ada di situ.

"Aku sedang tidak mood bercanda atau semacamnya," ucap Sakura menyandarkan punggungnya dengan sedikit keras pada sandaran kursi yang didudukinya, dan menghela napas seraya memijit keningnya yang terasa mengedut dan pening.

Ingin Tenten menyahut bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda. Namun segera ditepisnya hal itu, mengingat seorang Haruno Sakura yang sedang dalam suasana hati yang buruk dapat sangat menyeramkan.

Tanpa disangka, Temari maju mendekat pada meja resepsionis dan menyorongkan pundaknya pada Sakura. Setengah berbisik ia berujar, "Kalau tidak melakukan sesuatu cepat-cepat, nanti keburu lepas lho."

Sakura terkejut mendengarnya. Belum sempat ia bertanya, Temari sudah melenggang masuk ke dalam ruangan seminar sambil melambaikan tangannya.

Sakura menatap punggung Temari yang menjauh dengan sedikit geram. Ia sendiri merasa bahwa sikapnya sungguh berlebihan dan tidak jelas, seolah ini bukan dirinya saja. Namun bagaimanapun suasana hatinya yang tidak enak betul-betul mengusiknya tanpa mampu dielakkan.

.

Seminar mengenai Astronomi itu berjalan dengan lancar. Nara sumber kini tengah tenggelam dalam khotbahnya di depan podium dan menunjuk-nunjuk layar infocus dengan senter lasernya. Chouji sibuk mengutak-atik laptop untuk memutar slideshow dan beberapa video sebagai media bahan seminar. Sesekali Kiba dan Shikamaru bergantian menanggapi penjelasan nara sumber, dan mengarahkan peserta seminar untuk bertepuk tangan. Semua berusaha dengan keras, dan semua berjalan dengan baik.

Tak dapat dipungkiri bahwa suasana hati Sakura yang tidak baik itu kini mulai terhibur dengan kesuksesan seminar yang ia tangani dengan sepenuh hatinya dari awal hingga akhir persiapannya itu. Kerja kerasnya telah berbuah ranum dan kini saatnya ia mencicipi keberhasilan dengan dada yang terbusung dan penuh rasa kebanggaan. Hal ini merupakan suatu prestasi besar untuk klub Astrologi-nya yang sudah cukup lama tidak mengadakan event resmi.

Namun tentu saja, hambatan selalu muncul tanpa dinyana.

"APA?!" sebuah suara lantang dan nyaring terdengar beberapa meter dari meja resepsionis.

Sakura menelan ludah, firasatnya tidak enak. Dilihatnya Temari tengah mengomel pada siswa yang tak ia kenal—namun ia tahu siswa itu adalah salah satu staf logistik, dari arm-band yang disematkan di lengannya. Sakura mengerutkan keningnya, menunggu apa yang akan terjadi. Dan firasatnya mengatakan bahwa hal apapun itu, bukanlah hal yang bagus.

Dengan langkah gusar dan berdebum keras, Temari menghampiri meja Sakura. Raut mukanya tampak menegang.

"Plakat!" Temari berseru, mengibaskan tangannya dengan gusar.

Sakura mengerutkan keningnya semakin dalam.

"Plakat yang seharusnya dipersiapkan tiga buah untuk masing-masing nara sumber, patah satu buah. Pecah," Temari menjelaskan dengan nada tajam. Tampaknya ia sama sekali tak berniat menyembunyikan rasa kesalnya.

"Bagaimana bisa?" Tenten memekik kaget. Sakura hanya menatap tak percaya, kedua bola matanya tebelalak lebar.

"Salah satu anak logistik menyenggolnya dan pecah. Pecah begitu saja," Temari menjawab dengan jengkel.

"Apa kita masih sempat meminta lagi pada Kepala Sekolah?" Sakura cepat-cepat menepis keterkejutannya dan berusaha mencari jalan keluar. Walau ia berucap dengan tenang, namun kilatan di matanya tak mampu menutupi rasa cemasnya.

Temari menggeleng, "Sayangnya tidak. Untuk mendapat tiga buah plakat dalam waktu kurang dari satu minggu itu saja sudah sangat sulit. Kami harus meminta izin melalui tiga tahapan hingga mendapat ACC dan diberi ketiga buah plakat itu," ujarnya kehabisan akal.

"Aku tak percaya semuanya berjalan begitu baik hingga momen terakhirnya bisa begitu berantakan begini," Tenten berkomentar, "bagaimana ini, Sakura?"

Sakura memutar otaknya. Pikiran buntunya, ditambah suasana hatinya yang tidak enak sungguh tidak membantunya sama sekali. Berkali-kali ia mengetukkan bolpen di atas meja di hadapannya dengan tak sabar seraya berpikir keras.

"Aku akan panggil Sasuke," Temari beranjak masuk ke dalam ruang seminar.

Tenten terlihat menghela napas. Tampaknya ia merasa tenang ketika nama Sasuke disebutkan. Mungkin sugesti tentang Sasuke melekat begitu erat dalam kepalanya. Sugesti bahwa yang bersangkutan akan selalu membawa jalan keluar dalam segala masalah.

Tak lama kemudian pemuda tampan yang ditunggu itupun muncul, menapaki lantai keramik lobby ruang seminar dengan langkah sedikit tergesa.

"Temari sudah menjelaskan," ujarnya menatap Sakura lurus.

Sakura mengangguk. Air mukanya mengkhianatinya dengan menampakkan kegelisahan yang sebetulnya tak mau ia tunjukkan di depan Sasuke.

Menyadari hal itu, Sasuke menarik sudut bibirnya sedikit dan menepuk pundak Sakura yang kemudian terhenyak, "Tidak perlu cemas begitu, aku punya plakat sekolah di rumahku, sisa acara seminar OSIS sebelumnya."

Sontak kedua kelopak mata Sakura melebar, bola matanya berkilat dengan harapan, "Benar begitu?"

Sasuke mengangguk sembari tersenyum lebih lebar, "Ayo kita ambil," ujarnya sesaat kemudian.

"Eh?" Sakura mengerutkan keningnya.

"Ambil," ulang Sasuke.

"Ambil kemana?" Sakura setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Sasuke balas mengerutkan keningnya, "Tentu saja ke rumahku. Kemana lagi?"

Sakura sudah hendak membuka suaranya lagi ketika Sasuke menggamit pergelangan tangannya dan menariknya dari meja resepsionis menyusuri koridor lobby, "Kita harus bergegas, waktu kita tidak banyak," ujar Sasuke singkat namun tegas.

Sakura hanya bisa patuh dan pasrah diseret oleh pemuda berambut hitam itu menyusuri lorong gedung sekolah. Hak sepatunya yang tidak terlalu tinggi memantul berirama pada lantai keramik di bawah sepatunya. Sepanjang lorong, keduanya larut dalam hening. Hanya irama langkah sepatu yang membentur keramik yang menggema sepanjang lorong.

.

Tiba di parkiran, Sakura menarik tangannya dari cekalan Sasuke, "Aku tidak akan kabur," sahutnya setengah bercanda. Sasuke tertawa kecil dan melepaskannya.

Masuk ke dalam mobil, keduanya mengencangkan seatbelt-nya masing-masing, dan dalam sekejap mobil yang ditumpangi keduanya itu meluncur cepat menyusuri pelataran parkir yang cukup lengang. Hari Jumat seperti ini memang tidak banyak mata pelajaran yang diambil para siswa sekolah swasta ternama itu.

Mengamati pemandangan di luar jendela kaca di sampingnya, Sakura larut dalam pikirannya. Suasana sunyi senyap bersama Sasuke sungguh tidak menyenangkan.

"Sasuke," akhirnya Sakura memutuskan untuk memecah keheningan yang menyesakkan dada itu. "Terima kasih. Kalau kau tidak ada, entah apa jadinya seminar ini. Hancur," sambung Sakura.

"Kenapa kau bicara begitu? Justru aku yang berterima kasih. Kalau kau tidak ada, entah bagaimana aku menangani seminar yang begitu dituntut Dewan Murid ini. Semuanya berkatmu, terima kasih," timpal Sasuke dengan segaris senyum di bibir tipisnya.

"Terutama, terima kasih sudah datang," Sakura berkomentar dengan sedikit bergurau.

Sasuke mengerutkan keningnya, "Tentu saja aku akan datang, kenapa kau bicara seolah aku tidak akan datang saja?"

Sakura mengangkat bahu, "Kupikir kau cukup sibuk dengan persiapan festival dan hal lainnya, tidak akan sempat menghadiri seminar yang membosankan ini."

"Seminarnya menarik," tukas Sasuke, "dan aku tidak sebegitu sibuknya hingga mencampakkan rekan-rekan kerjaku yang telah bersusah payah mewujudkan seminar ini hanya dalam tenggat waktu kurang dari satu minggu."

Sakura tak menyahut.

"Kalian semua adalah kawan-kawanku yang hebat," tambah Sasuke lagi.

Sakura kembali tak menyahut.

Bukan sanjungan semacam ini yang ia harapkan. Sesuatu dalam dirinya merasa tak puas. Ia sendiri tak mengerti apa itu, apa yang ia harapkan dari Sasuke?

"Dan aku ingin menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat pada Rapat Evaluasi nanti, untuk kesuksesan kerjamu hari ini padamu," tiba-tiba Sasuke kemabli membuka suaranya.

Sakura membelalak, terkejut bukan main. Ditolehkannya kepalanya pada Sasuke, dan dalam sekejap saja ia telah mengerti.

Yang diinginkannya adalah pernyataan Sasuke bahwa ia datang hari ini untuk dirinya. Bukan demi sertifikat seminar ataupun kewajiban sebagai Ketua OSIS, melainkan untuk dirinya. Hanya untuk Sakura seorang.

"Terima kasih," Sakura berujar pelan. Perlahan sneyum terkembang di wajahnya. Dadanya yang sedari pagi terasa sesak, kini mulai terasa lega dengan perasaan hangat menyusup di antaranya.

"Berterima kasih lagi? Kan sudah kubilang—"

"Terima kasih sudah hadir untukku," potong Sakura cepat.

Sasuke tertegun.

Sakura kembali mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela kaca mobil. Sisa perjalanan mereka dihabiskan dalam diam.


Pandangan mata gadis berambut hitam panjang berwajah sendu itu terfokus pada pembicara di atas podium. Sesekali gadis itu mengangguk, tersenyum simpul dengan lelucon yang disuguhkan, atau bertepuk tangan.

"Kulihat Sasuke keluar tadi," sebuah suara menyeruak dari samping tempat gadis itu duduk dengan anggun dan berkomposur.

Gadis berambut hitam panjang itu melirik sekilas pada sang pemilik suara, "Hai, Naruto," sapanya singkat.

Naruto mendengus, "Kulihat tadi Sasuke keluar," ulangnya sedikit menekankan kata-katanya.

"Ya, ada masalah dengan seminar ini," timpal gadis berambut hitam panjang itu dengan tenang.

"Hinata tidak ikut dengan dia?"

Gadis berambut hitam panjang yang rupanya adalah Hinata itu kembali melirik pada Naruto dengan sudut matanya.

"Kenapa aku harus ikut? Ini kan bukan tanggung jawabku," Hinata balas bertanya.

Naruto mengangkat bahunya, bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki—tempat yang sama yang sebelumnya ditempati Sasuke, "Yah, aku aku hanya heran saja kau membolehkan pacarmu itu pergi dengan gadis lain, biasanya kan kau over-protektif," ujar Naruto ringan. Sama sekali tak ragu mencemooh rekan satu proyeknya itu.

"Aku tidak pernah berprasangka buruk pada Temari," timpal Hinata sekenanya.

Naruto mengerutkan keningnya, "Temari?" sejenak kemudian ia menahan tawanya, "Jadi gadis berambut merah muda yang menjadi saingan cintamu itu namanya Temari?"

Kontan Hinata terperanjat, kedua pupil matanya mengecil, "Apa maksudmu?" pekiknya sedikit memelankan suaranya, tak ingin menarik perhatian para peserta seminar lainnya.

"Kau tidak tahu?" Naruto kembali balas bertanya, seringai kecil terpampang di sudut bibirnya.

Hinata menggelang cepat. Rambut panjangnya yang indah tergerai bergoyang seirama dengan gerakan kepalanya, "Tadi Temari datang dan Sasuke pergi dengannya. Kupikir mereka pergi mengurus masalah apapun yang terjadi. Kurasa aku mendengar tentang plakat atau semacamnya," tegas Hinata.

"Ya, ya. Tapi yang pergi mengambil plakat itu Sasuke dan…. Tebak siapa?" Naruto menyunggingkan senyum lebar, "Haruno Sakura."

Hinata menghela napasnya, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Mengatupkan kedua kelopak matanya perlahan.

Naruto memperhatikannya dari ekor matanya, "Begitu tidak apa-apa?" tanyanya tanpa merasa canggung sedikitpun.

Hinata menggeleng pelan, "Tidak apa-apa."

Naruto mengerutkan keningnya, sedikit ragu ia berujar perlahan, "Aku tak pernah berpikir bahwa kau adalah orang yang bersedia melepaskan apa yang kau miliki untuk orang lain."

Hinata menarik sudut bibirnya cepat, melirik pada Naruto, "Kau betul-betul mengungkapkan apa yang ada dalam kepalamu ya?" ujarnya sembari menahan tawa.

Naruto tak menanggapi candaan Hinata itu, "Apa yang kau rencanakan, Hinata?"

"Tidak ada," Hinata mengangkat bahunya.

"Apa yang ada dalam kepalamu?"

Hinata menatap Naruto lekat. Kedua bola mata biru langit itu memancarkan cahaya yang kuat dan berkilat penuh energi kehidupan. Kini kedua bola mata itu tengah menatapnya tajam dengan kecemasan yang tersirat dari sorotan matanya.

"Apa yang membuatmu cemas? Aku tidak sebodoh itu untuk menyakiti gadis itu secara langsung," Hinata membuang muka, kembali menatap lurus pada podium seminar.

Hening sejenak sebelum Naruto membuka suaranya, "Sebaliknya. Yang kukhawatirkan adalah kamu."


"Mau masuk sebentar?" Sasuke berujar sebelum membuka pintu mobilnya dan siap keluar dari mobil.

Sakura menggeleng, "Biar cepat, aku tunggu saja di sini."

Sasuke mengangguk dan tanpa berkata-kata lagi segera beranjak keluar dari mobil dan membanting pintu mobil sedikit keras, sebelum kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk menemukan benda yang semenjak beberapa bulan lalu hanyalah hiasan tanpa arti di sudut meja belajar di kamarnya, dan kini telah menjadi benda yang begitu penting.

Sasuke mengayuh langkah kakinya cepat, tak menghiraukan pandangan heran Ibunya yang tengah menikmati segelas jus alpukat di ruang televisi.

"Sasuke, sebentar. Ada—"

Suara Ibunya tenggelam di udara. Sasuke menaiki tangga menuju kamaranya yang terletak di lantai dua lebih cepat.

Dalam hitungan detik kini ia telah sampai di depan pintu kamarnya. Segera ia tarik kenop pintunya dan mendorong daun pintu itu hingga terbuka lebar dan beranjak masuk.

Betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya sesosok pemuda tengah duduk di kursi meja belajarnya dan membelakangi pintu masuk.

Dari rambut merah terangnya yang terpangkas pendek, tak butuh waktu lama bagi Sasuke untuk mengenali sosok berkulit pucat itu.

"Gaara?"

Sosok berambut merah menyala itu membalikkan badannya dengan memutar kursi putar yang tengah didudukinya dengan santai itu.

"Sedang apa kau di sini?" Sasuke mengerutkan keningnya sembari menghampiri si rambut merah di seberang ruangan.

"Begitu sikapmu pada sepupumu sendiri?" pemuda berambut merah menyala yang dipanggil Gaara itu menyahut dengan tak kalah dinginnya.

"Sudah kukatakan berulang kali, kalau mau pacaran jangan pakai laptop-ku," Sasuke mendengus. Tangannya terjulur dan menggapai sebuah plakat hijau berbingkai keemasan yang terpajang kaku di sudut meja belajarnya.

"Ayahku betul-betul melarang keras kugunakan internet di rumah," Gaara menimpali dengan tak acuh, kembali menatap layar monitor laptop di hadapannya.

"Tentu saja. Itu supaya kau berhenti berhubungan dengan pacarmu itu," sungut Sasuke sedikit merasa tak senang wilayah privasinya dijamah orang lain tanpa izin.

"Aku tidak merasa ada yang salah dengan menjalin hubungan bersama orang yang sangat kusukai," Gaara kembali menyuarakan suara hatinya.

Sasuke hanya mengangkat bahu dan beranjak keluar ruangan, "Jangan sentuh barang-barang lainnya. Cepat pualng kalau urusanmu sudah selesai," ujarnya sedikit ketus dan melangkah keluar kamar.

Tepat sebelum pintu ditutup, sesuatu dalam benak Gaara terbersit, "Sasuke, sejak kapan kau tertarik pada chatroom tempatku dulu menghabiskan waktu senggang sambil kencan virtual?"—namun sang lawan bicara telah menutup pintunya dengan sempurna. Gaara mengangkat bahu dan kembali menghadap monitor.


Sasuke melangkah tergesa, menghampiri mobilnya sambil menenteng plakat di tangannya. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil dan memberikan plakat itu pada Sakura yang menunggunya sedari tadi.

Sakura menerima plakat yang disodorkan Sasuke dan membawanya ke pangkuannya. Sejenak ia amati plakat kaca berwarna hijau tua itu dan menyusuri tepian keemasannya yang bercorak. Hatinya terasa lega kini semua masalah telah teratasi. Dengan senyum terkembang di bibrnya, ia mulai menikmati perjalanan bersama Sasuke.

Mobil yang mereka tumpangi tercegat lampu merah. Sasuke tahu benar lampu merah di perempatan wilayah pertokoan ini cukup lama, dan ia menghela napas dengan sedikit menggerutu.

"Dengan ini semua akan baik-baik saja," Sakura mengacungkan plakat di tangannya, berusaha mencairkan suasana beku di antara mereka.

Mendengar hal ini, Sasuke balas tersenyum, "Ya, syukurlah," sahutnya dengan suasana hati yang lebih baik.

"Akhir-akhir ini…banyak hal terjadi ya," Sakura memulai pembicaraan lagi. Kali ini dengan lebih berani, mengangkat tema yang selama ini tabu di antara mereka berdua.

Sasuke tak menyahut sejenak, Sebelum kemudian menjawab dengan setengah berbisik, "Ya, banyak hal terjadi…" ujarnya pelan, seolah hal itu diucapkan untuk dirinya sendiri.

"Macam-macam hal terjadi. Senang dan sedih, lelah dan letih, semuanya campur aduk. Tapi aku senang," Sakura tersenyum pada Sasuke yang kini menatapnya.

Hening menyesap kembali. Baik Sakura maupun Sasuke, keduanya tak membuka suaranya. Membiarkan kesenyapan melingkupi kedua insan yang tengah larut dalam pikirannya masing-masing itu.

Bunyi lengkingan klakson membuat mereka terhenyak dari alam pikiran mereka yang tak berujung. Rupanya lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau tanpa mereka sadari. Segera Sasuke memacu mobilnya meluncur menuju gedung sekolahnya kembali tanpa membuang waktu.

.

Mobil yang meluncur mulus di atas aspal hitam pelataran parkir kompleks sekolah swasta Konoha itu mulai memperlambat lajunya, mendekati sebuah lahan kosong untuk parkir. Dengan hati-hati Sasuke memarkirkan mobilnya, dan secepat kilat ia keluar dari mobil diikuti oleh Sakura.

Kini mereka berdua menyusuri lorong gedung sekolah dengan sedikit terengah, meniti satu persatu anak tangga menuju gedung seminar yang terletak di ujung sayap kiri lantai tiga.

"Akh!!"

Sakura sama sekali tak memperhatikan langkah kakinya, ketika ia jatuh terjerembab di tangga yang cukup curam itu.

Sasuke terkejut bukan main. Segera ia bantu Sakura berdiri, namun Sakura kembali memekik kesakitan. Sasuke mengerutkan keningnya, "Kau tidak apa-apa?"

Sakura tak menyahut, namun ia berusaha mendudukkan dirinya di anak tangga dan membuka sepatu dan kaus kakinya. Didapatinya tumit kaki kanannya membiru dan sedikit bengkak.

Sasuke membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ketika ia hendak membuka suaranya, tiba-tiba sebuah suara lain menyeruak memotongnya, "Biar aku yang bawa plakatnya, kalian pergi ke ruang kesehatan saja."

Kontan Sakura dan Sasuke mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara.

"Ino??" Sakura berseru tak percaya.

Di puncak anak tangga, berdiri seorang gadis berambut pirang panjang sepinggul, memperhatikan mereka berdua. Gadis itu menjulurkan tangannya pada Sakura, "Kemarikan palakatnya, biar kuserahkan pada Temari," ulangnya lagi, lebih lembut kini.

Sakura dan Sasuke saling berpandangan.

"Kenapa? Tidak percaya padaku?" gadis berambut pirang itu bertanya dengan nada suara yang tenang. Seolah hal yang baru saja diucapkannya barusan adalah hal yang biasa.

Baik Sasuke maupun Sakura tak membuka suaranya.

.

.

TBC


End Note:

Seperti yang saya singgung di chapter sebelumnya, chapter ini sangat panjang, hingga saya terpaksa memenggalnya jadi dua bagian. Berikutnya 'Another Question II' sebagai akhir dari chapter 8 ini. Seperti dugaan saya, fic ini akan tamat di chapter 10, ga lama lagi.. ^^

Sebelumnya, saya mohon maaf atas keterlambatan update fic ini. Ada macam-macam hambatan, mulai dari kegiatan klub di kampus, perpisahan Ketua Klub yang melanjutkan studi ke Jepang, hingga pada kesibukan saya menggarap fanfic lain, dan masalah teknis semacam mood. Mood menulis saya gampang naik-turun.. ^^;;

Apalagi akhir-akhir ini saya buat fic angsty, dan yang terbaru saya malah buat fic comedy ala barat, jadi mood-nya kebawa-bawa nempel terus ^^;;

Berikutnya saya usahakan ga sengaret ini lagi! ^^

.

Saatnya review-reply untuk reviewer non-login..

.

Naru-mania: Iya.. :) Masing-masing tokoh punya pandangan sendiri. Nanti bagian 2 saya tentang pandangan Sakura, terus nanti Sasuke, dan penghubung dari semuanya muncul..

Buat ngingetin petunjuk, masih inget kan saya pernah bilang kalau ga ada satu hal pun yang merupakan kesia-siaan dalam fic saya yang manapun? Semua kejadian pasti ada pengaruhnya besar maupun kecil sama topik utamanya.. Kalo jeli pasti ngeh bayak hal kecil di awal yang berpengaruh ke chapter-chapter berikutnya sebelumnya ini ^^

Yang gila itu…. Nanti ada yang ngerasa, kok. Tunggu aja XD

Baka Tantei Seishiro Amane: Amane-kun, makasih chapter lalu udah di typo-beta, kau tau sendiri saya lagi sibuk-sibuknya kemarenan itu :p

Diajarin gimana? Nanti kalo ke kostanmu saya adain kuliah gratis bikin fic yang full adegan dramatis :p (langsung di-black list dari kostan)

Madame: Nanti di bagian 2 chapter ini debat Sasu vs Saku ;D

Nanti juga ada debat Saku vs Hinata (spoiler) ^^

Saya juga seneng liat tokoh-tokohnya adu mulut XD (lho)

Wah, saya seneng denger pendapat tentang bagian yang paling disuka (dan yang bikin bingung—biar bisa saya edit) Soal fluktuasi cinta itu kepintas pas saya bikin teh manis liat buku Mikroekonomi I di rak buku. (rupanya ilmu apapun berguna buat bikin fanfic XD)

Risle-coe: Wahh kalo kita ketemu curiga jadi pertarungan adu mulut nih? XD

Becanda, becanda, saya keras kepala tapi ga suka permusuhan cuma gara-gara debat (nyisir depan kaca *digebukin*) Debat kan olah raga mulut ya? Menuntut kemampuan berpikir cepat & bicara tepat, jadi musti sportif :D (makin ngelantur)

Iya, jadinya nanti pas 10 chapter tamat :) Rencana awal cuma 8 chapter, tapi beberapa bagian lepas kendali dan berkembang kebanyakan.. (lap keringet)

Saya seneng kalau fic ini kamu anggap realistis dan ga berlebihan ^^ Batas antara dramatis ama lebay kan tipis banget, untung ga dianggap lebay.. Berarti saya cukup sukses bikin fic Drama heheh ^^ (lega)

Uchiha Cesa: BENAR :D. Yang berusaha saya tonjolkan di sini perasaan antar tokohnya. Bukan tepatnya tokoh anu lawan tokoh anu, tapi perasaan anu lawan perasaan anu.. ^^ (author gajelas)

Nanti di bagian 2 chapter ini Sasu vs Saku ^^

Bagian 2 masih tentang seminar (makanya tetep jadi satu kesatuan chapter) dan diakhiri perdebatan SasuSaku. Saya janji deh ga bakal lama munculnya bagian 2-nya.. ^^;;

Nona Biru Tua: Makanya sumbanglah saya mood~ XD (lho)

Nggak satu sekolah, kan Sasu kenal sama Saku di Konoha Chatroom, terus di chapter berapa gitu saya lupa (ditampar) Saku bilang: "Gapapa nih aku yang ngurus seminar ini? Kan aku orang luar?"—bukan gini tepatnya, tapi intinya ini.

Kesalahan saya dalam fic ini adalah settingnya. Mungkin lain kali saya buat setting kuliahan aja, biar saya ga pusing sendiri.. Kalau mahasiswa kan ga tentu jam kuliah dan harinya, jadi banyak waktu bebasnya (macam Sakura di sini).

Yah mari anggap aja sekolah Sakura semacam Private School yang banyak waktu bebasnya, demi kenyamanan bersama ok ^^ (digebukin readers)

Mugiwara piratez: Iya uhuu gomenchai~ T.T

Saya jelasin tuh alesan keterlambatan saya.. (Mugi: Jelasin apa ngeles hah??)—saya panggil kamu Mugi biar ga kepanjangan :) (seenaknya)

Nanti endingnya saya usahakan ga bakal mengecewakan penggemar Sakura atau Hinata, sebagai ucapan makasih bagi para fans Sakura maupun Hinata yang sudi baca fic ini.. ^^

Kyoro: Chapter ini dibagi dua, debat SasuSaku-nya di bagian 2 nanti ya ;)

Buat pertanyaan kamu di 'Memento', jangan cemas, ending Little Fire ga bakal kayak Memento yang ngenes.. Janji deh :D

YoyoY: Saya di Bandung ^^ (gadayangnanya)

Pacarnya Sakura ditunggu-tunggu tampaknya ya.. Yang jelas ybs ga bakal muncul sebagai pahlawan kesiangan, segitu doang bocorannya heheh :p

Iya, tadi pagi perut saya mules karna baru dapet, padahal mood bagus buat ngetik, adaaaa aja aral rintangan menghadang (mule ngaco)

Panggil aja saya Ayame.. :) (banyak yang manggil gini karna avatar saya dulu anime chara namanya Ayame)

Kaori a.k.a Yama: Temari belum muncul, nanti di bagian dua chapter ini ^^

Tuh Gaara muncul, tapi…. Heheh silahkan tebak-tebak dulu aja :p (ditimpukin kaleng)

Neji sekolah di sekolah yang beda sama Sasuke, alasannya nanti dibeberin ;)

Antara 2 cewek yang begitu menarik hatinya, Sasu nanti musti milih salah satu. Hoho salah sendiri main api (niru Neji) XD

F-Fic ini jadi inspirasi bikin tugas sekolah? O.O (shock)

Uhh jadi malu sendiri ^//^ (blushing) Kalau ada yang bikin bingung, silahkan tanya aja, lewat review atau PM juga boleh :)

Untuk pertanyaan kamu di fic 'Memento', udah saya ETA ficnya, makasih udah nunjukkin bingungnya dimana.. ^^

Dan jangan khawatir, ending Little Fire ga bakal mirip Memento. :D

Imuri: Ini udah update, gomen lama.. ^^;; *lap keringet* Moga ga mengecewakan ^^

(hearts)94: Udah update.. Maap ya lama ^^;; Moga tetep minat baca.. ^^

All in all, Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah memberi saya semangat dalam bentuk feedback. Review atau komentar sangat membantu semangat saya muncul.. ^^

.

(NB: Typo-error akan dikoreksi secepatnya)