Disclaimer
Naruto © Kishimoto Masashi
My Doctor © Haruno Aoi
Warning
AU, OC, OOC, TYPO
- just for fun -
.
.
.
Saya ucapkan terima kasih kepada:
Miya-hime Nakashinki, Asa no hikari, hina-chan, YamanakaemO, Mega hime, Miyabi Kise, ulva-chan, Ani Shiroona, ririrea, ReNnoVv, Sugar Princess71, keiKo-buu89, NaruSaku SakuNaru, uchan, Keira Miyako, harunaru chan muach, namikazeallem, aichan, uchihyuu nagisa, sasuhinalover, Saqee-chan, chibi tsukiko chan, Mimi love, Nao-shi Arisu Caelum, rika nanami, ichsana-hyuuga, Cutie white, Mikyo Hikazu, Kimidori hana, Luce stellare of Hyuzura, Nerazzuri, Lavender chan, Meiru Uchiffer, stellachastela, Aiiko Aiiyhumi, nagisha furukawa, Nyx Quartz, Kaka, Haru3173, swan, Neary Lan, Uchihahyuga, Dindahatake
Maaf karena apdetnya lama banget. Terima kasih banyak semuanya…
Langsung saja…
.
.
.
…oOo… My Doctor …oOo…
.
.
.
Setelah tahu kalau Hinata menolak perjodohan, malam itu Sasuke langsung memulangkan gadis penggemar piyama aneh tersebut. Waktu itu Hinata tidak berani untuk memecah kecanggungan yang secara mendadak menyelimuti keduanya. Beberapa hari setelahnya, Sasuke tidak pernah datang ke kediaman Hyuuga untuk mengajar Hinata, dengan alasan sibuk. Dokter anak itu hanya menitipkan soal-soal latihan untuk Hinata kepada Hiashi yang bekerja satu rumah sakit dengannya. Sebagai orang tua, sepertinya Hiashi belum ingin ikut campur dalam masalah yang terjadi di antara putri dan calon menantunya.
Sejak saat itu Hinata jadi sering murung dan lebih pendiam dibandingkan biasanya. Orang tuanya sampai khawatir bila ia malah tidak bisa konsentrasi saat ujian akhir yang sudah di depan mata. Andai saja waktu itu ia lebih sabar dan bersedia menunggu orang tuanya menyelesaikan penjelasan tentang perjodohan antara dirinya dengan guru privatnya, pasti ia tidak akan menyesal seperti sekarang. Setelah Sasuke melontarkan pertanyaan yang lebih terdengar seperti kesimpulan sepihak itu, ia baru tahu kalau ternyata orang yang dijodohkan dengannya dan orang yang mencuri hatinya adalah pria yang sama.
Malam itu, di saat Hinata masih diliputi keterkejutan, Sasuke malah menyeringai seram dan dengan santainya mengucapkan, "Fine." Saat Hinata berniat meminta penjelasan dari Sasuke mengenai perjodohan yang direncanakan para orang tua, pandangan menusuk dan sikap dingin yang ditunjukkan pria itu malah membuat nyalinya menciut. Ketika ia ingin menjelaskan kesalahpahaman yang tercipta karena kebodohannya, pria itu malah diam saja hingga membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. Kalau seperti itu, sebenarnya siapa yang kekanak-kanakan?
Hinata memakan black forest ice cake yang baru diantarkan oleh waitress dengan tampang malas. Dua temannya yang masing-masing berambut merah muda dan pirang pucat hanya membiarkannya hingga pulih dengan sendirinya. Keduanya sudah mengerti kalau Hinata akan merasa lebih baik atas sugesti dalam diri gadis manja itu sendiri. Sakura dan Ino hanya bisa sedikit menghibur Hinata dengan mengajaknya hang out di akhir pekan dan makan siang di outdoor café dekat rumah sakit milik Universitas Konoha seperti saat ini.
"Eh, lihat keluarga bahagia itu!" tiba-tiba saja Ino berseru dalam bisikan.
Hinata seolah tidak peduli dan tetap memakan es krimnya dengan kepala menunduk. Sakura menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Ino tanpa berhenti memakan crème brulle gelato yang sangat disukainya. Mata hijau gadis itu memicing untuk mengamati seorang pria berambut gelap, seorang wanita berkacamata dan berambut merah, serta dua anak kecil seumuran, yang baru saja menempati meja yang tak jauh dari mereka bertiga.
"Memangnya kenapa?" tanya Sakura saat pandangannya beralih kepada Ino.
"Apa dua anak itu kembar, ya?" Ino bertanya entah kepada siapa tanpa mengalihkan perhatian dari pria berambut hitam yang sedang membaca buku menu. "Yang cowok mirip ayahnya, kalau yang cewek mirip ibunya," tambahnya sembari menyuap green apple sorbet miliknya. Keadaan menjadi tenang sebelum gadis bermata biru itu kembali membuka mulutnya. "Sepertinya aku sudah pernah melihat pria tampan itu," gumamnya, "Tapi, di mana, ya?"
"Mommy!"
Suara anak-anak yang terasa tak asing itu seketika membuat Hinata menegakkan kepalanya. Sendok kecil es krim masih dikulumnya tatkala matanya membulat karena sosok yang dilihatnya di depan sana. Pada saat yang sama, Sakura dan Ino menoleh ke Hinata ketika empat pasang mata juga terpusat ke arah gadis bermata lavender tersebut.
"Daddy, aku juga mau kayak punyanya Mommy," rengek bocah laki-laki tiga tahunan dan berambut hitam yang menunjuk ke arah Hinata.
Pria yang merasa dipanggil hanya menatap tajam Hinata untuk beberapa saat sebelum berbicara dengan wanita berambut merah yang duduk di seberangnya.
"Kaoru makan nasi saja," kata pria bermata hitam itu pada bocah yang duduk di sebelahnya.
"Nggak mau, nggak mau," rengek Kaoru sambil mengayunkan kedua kakinya yang menggantung. "Nanti Daddy aku aduin ke Papa cama Mama, loh…" ancamnya dengan wajah cemberut.
Sakura dan Ino kembali melihat ke arah Hinata yang sedang makan dengan menunduk setelah mengamati batita yang hampir menangis itu.
"Apakah pria itu adalah guru privatmu yang pernah mendatangi kelas kita?" bisik Ino yang sudah teringat akan pria bernama Sasuke yang pernah datang ke sekolah mereka hanya untuk mengantarkan barang milik Hinata yang terbawa oleh dokter anak tersebut. "Berarti dia calon suamimu?" imbuh Ino setengah tak percaya karena Sasuke bersikap seolah belum pernah mengenal Hinata.
"Tapi, kok…" Sakura tidak berani melanjutkan kalimatnya karena tidak mau membuat Hinata semakin sedih atas kehadiran wanita berkacamata yang terlihat sangat akrab dengan Sasuke.
"Namanya Karin," lirih Hinata. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Sasuke yang sedang menikmati salad sembari bergantian menyuapi Kaoru. "Kata Uchiha-sensei…" bahkan untuk menyebut namanya saja hampir membuat tenggorokan Hinata serasa tercekat, "…mereka sudah berteman sejak di sekolah menengah."
Dua teman Hinata itu hanya membulatkan mulutnya tanpa berani berkomentar lagi. Mereka mulai khawatir melihat raut wajah Hinata yang berubah sendu.
"Aku ingin pulang…" gumam Hinata sembari menopang dagu. Sejurus kemudian, ia dikejutkan oleh Kaoru yang berlari ke arahnya dan tanpa peringatan langsung duduk di pangkuannya.
"Mommy, aku mau…" ujar Kaoru yang melihat es krim Hinata dengan mata berbinar-binar, membuat Sakura dan Ino menggigit sendok mereka sambil memekik gemas di dalam hati.
Hinata semakin tak bisa berkata-kata ketika Sasuke bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekat dengan langkah tenangnya. Mata hitam kelam itu tampak lebih tajam bila tidak dihalangi kacamata tanpa bingkai seperti saat ini, membuat dada Hinata berdebar-debar. Ia sampai tidak menyadari bahwa pandangan matanya tak sekali pun lepas dari makhluk indah itu, hingga akhirnya ia langsung menundukkan wajahnya yang memerah setelah sosok yang sedari tadi ditatapnya sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo pulang," ajak Sasuke sambil mencoba menggendong bocah yang sedang menyendok es krim Hinata.
"Nggak mau…" rengek Kaoru yang mencengkeram lengan mantel hitam Hinata.
Sasuke berusaha melepaskan cengkeraman jemari Kaoru pada lengan mantel anak didiknya yang hanya menutup mulut, sama dengan dua gadis lain yang berada di sana. Hampir semua pengunjung kafe melihat ke arah Sasuke karena perbuatan pria tersebut. Walaupun membuatnya menangis sambil meronta-ronta, Sasuke berhasil menggendong Kaoru dan membawanya menghampiri meja Karin untuk meletakkan beberapa lembar uang. Karin hanya mengangguk maklum disertai senyum ketika Sasuke berpamitan untuk kembali ke rumah sakit terlebih dahulu.
Belum lama Sasuke berjalan menyusuri trotoar menuju rumah sakit dengan Kaoru dalam gendongannya, ia merasakan punggungnya dilempar dengan sesuatu, dan bunyi pecahan terdengar setelahnya. Saat ia berbalik, alisnya tampak hampir bertautan, apalagi setelah melihat bangkai ponsel flip yang berada di depan ujung sepatu pantofelnya. Matanya kembali menatap tajam ketika wajahnya menghadap sosok gadis yang berdiri tak jauh di depannya dengan napas yang sedikit memburu.
"Dasar pencuri!" pekiknya, "Pemakan gaji buta!"
Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya sebelum menyeringai.
"Kalau aku tidak lulus sekolah, kau harus tanggung jawab!"
Pria berambut hitam kebiruan itu malah terkekeh pelan sembari mengelus kepala Kaoru yang sudah mulai tenang dalam dekapannya.
"Hwaaa…"
Sasuke heran sekaligus langsung terpaku di tempat karena secara mendadak gadis kekanak-kanakan itu berjongkok saat tangisnya pecah. Dengan langkah kaku, ia berjalan menghampiri gadis yang sedang menangis tersedu-sedu itu agar orang-orang di sekitarnya tidak berpikir bahwa ia adalah seorang pria jahat seperti yang dikatakan remaja putri tersebut.
"Berdirilah," perintahnya datar ketika menghentikan langkahnya di depan Hinata. "Kau sudah berhasil membuat mereka berpikir bahwa aku adalah orang jahat," katanya sambil sesekali melirik ke sekelilingnya, dimana beberapa pejalan kaki masih melihat ke arahnya. Setelah berdecak sebal karena gadis itu belum menghentikan tangisannya yang cukup kencang, ia mengulurkan tangan kanan yang tidak digunakan untuk memeluk tubuh mungil Kaoru.
"Ponselku…" katanya dengan sesenggukan, "Hwaaa… ponsel baruku…"
Kening Sasuke berkedut bersamaan dengan decihan yang dikeluarkannya. Sementara Sakura dan Ino yang sedari tadi mengintip dari balik pohon di depan salah satu toko perhiasan, malah cekikikan melihat tingkah kekanakan Hinata dan merasa sangat terhibur atas reaksi yang ditunjukkan oleh Sasuke.
.
.
.
Hinata yang berada di ruangan dokter Sasuke, duduk bersandar di kursi kerja berwarna hitam yang kini membelakangi pintu masuk. Saat ini ia merasa sangat malu dan takut pada Sasuke. Sejak berjalan menyusuri trotoar bersama-sama hingga berada di ruangan ini, Sasuke dan Hinata memang belum berbincang lagi. Untung saja ibu Kaoru datang dan otomatis sedikit mencairkan suasana canggung di antara keduanya. Tak jauh dari pintu putih ruangan yang tengah terbuka, berdiri Sasuke yang sedang menyerahkan Kaoru pada ibunya yang datang untuk menjemput bocah berusia tiga tahunan itu.
"Mama, tadi Daddy nggak mau beliin aku aicu kulimu…" adu Kaoru.
"Kaoru memang belum boleh makan es krim," tutur Yuugao lembut sambil membelai putranya yang berdiri di depannya dengan kepala menengadah dan kedua lengan memeluk kakinya. Ia tersenyum melihat Kaoru yang cemberut karena merasa tidak dibela. "Ayo ucapkan terima kasih pada Daddy," perintahnya kalem.
Kaoru hanya menggeleng cepat tanpa berbalik ke arah paman semata wayangnya. Padahal biasanya ia atau Hikaru yang selalu merengek ingin ikut Sasuke saat kebetulan pamannya itu pulang ke kediaman utama keluarga Uchiha. Seperti kemarin, Kaoru yang menempel terus pada Sasuke agar diajak menginap di apartemen, ketika adik ayahnya itu makan malam di rumahnya.
Sasuke yang merasa sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari para keponakannya, tidak ambil pusing dan mengalihkan perhatian kepada Yuugao. "Seingatku Baka Aniki tidak akan mengizinkan kakak ipar mengemudikan mobil dalam keadaan hamil," katanya.
"Dia tidak akan mengomel, kecuali jika kau memberitahunya," balas Yuugao seraya tersenyum, "Sekarang dia sedang memimpin rapat di kantor setelah sebelumnya pulang ke rumah untuk makan siang."
"Kabur, eh?"
"Begitulah." Yuugao terkikik pelan, diikuti senyum tipis Sasuke. Perlahan ia melepaskan pelukan Kaoru di kedua kakinya setelah melihat putranya itu menguap karena mengantuk. "Sudah saatnya Kaoru tidur siang. Terima kasih, ya…" ucapnya disertai senyum ramah.
"Hn," gumam Sasuke.
"Mama, gendong…" rengek Kaoru, "Aku ngantuk…"
Yuugao menggeleng pelan tanpa memudarkan senyum ketika menyadari bahwa Sasuke hendak membantunya. Ia menggandeng tangan Kaoru dan berbalik setelahnya, membiarkan putranya itu berjalan sambil sesekali menguap kecil.
Setelah kakak ipar dan keponakannya memasuki lift di ujung koridor, Sasuke teringat akan seseorang yang belum mengeluarkan suara sejak masuk ke ruangannya. Seringai tipis tampak di wajah rupawannya ketika melihat punggung kursi kerjanya yang sukses menyembunyikan tubuh mungil Hinata. Ia melangkah pelan dengan harapan tidak menimbulkan suara gesekan antara sepatu dengan lantai.
Hinata yang sebelumnya menunduk terlihat sangat terkejut saat Sasuke sudah berada di depannya dengan kedua tangan yang sudah mencengkeram lengan kursi di kanan kirinya. Ia belum berani mengangkat wajahnya karena merasakan dekatnya jarak di antara dirinya dengan Sasuke yang membungkukkan badan.
"Minta ganti rugi?" tanyanya datar.
Sasuke bosan karena tak kunjung mendengar jawaban dari mulut Hinata. "Asal kau tahu, aku tidak digaji untuk menjadi guru privatmu," bisiknya, "Dan, aku tidak merasa telah mencuri sesuatu darimu…"
Kepala Hinata terlihat semakin menunduk dalam. "Ada yang Sensei curi…" lirihnya.
"Hn?" gumam Sasuke dengan salah satu alis yang terangkat.
"…hatiku," lanjut Hinata yang seketika membuat Sasuke membatu untuk sejenak. Pegangan Sasuke pada lengan kursi terlihat sedikit mengendur sebelum ia mengeratkannya kembali. "Jadi, Sensei tidak boleh mengenalkan dunia orang dewasa kepada perempuan lain," pintanya dengan suara bergetar karena gugup.
Jangan salahkan Sasuke bila sekarang pria itu tidak mampu menahan lengkungan bibirnya. "Kau tidak bisa melarangku tanpa menyebut namaku," ia berbisik sembari mengangkat wajah Hinata hingga mata hitamnya bertemu pandang dengan lavender khas Hyuuga.
"Uchiha-sensei?" gumam Hinata.
"Ibuku juga Uchiha," Sasuke berbisik lirih di depan wajah Hinata.
"Kalau begitu, Sasuke-sensei."
Sasuke malah menyeringai tipis dan semakin mendekatkan wajahnya, membuat Hinata membelalakkan mata serta menelan ludah paksa. Hinata juga merasa sedikit sesak karena tidak bisa bebas untuk bernapas.
"Sasuke-san?"
"Begitu lebih baik," ujar Sasuke tanpa mengubah jarak di antara dirinya dan Hinata. "Kau berani menagih hadiah dariku, berarti kau sudah mengambil keputusan untuk masa depanmu," ia menyimpulkan seenaknya.
Hinata mengangguk lemah agar tidak menimbulkan benturan antar kepala.
"Dimulai dari mana?" desah Sasuke disertai seringai anehnya.
Gadis bermata lavender itu sedikit memiringkan kepalanya, pertanda tidak mengerti. "Apanya?" tanyanya dengan tergagap.
"Pelajaran baru dariku," jawab Sasuke dengan santainya.
Sasuke sama sekali tidak menduga kalau Hinata akan melingkarkan kedua lengan di lehernya, hingga membuatnya hampir limbung. Matanya terbelalak ketika merasakan wajah Hinata yang menempel di salah satu sisi lehernya. Ia memejamkan matanya dan berhenti mengambil napas untuk sejenak tatkala merasakan sensasi aneh yang baru kali ini diterimanya.
"Aku sudah membuat tanda yang untuk beberapa hari tidak bisa hanya ditutup dengan kerah kemeja Sensei…" Hinata berbisik dengan mesra tepat di telinga Sasuke yang sampai saat ini belum membuka matanya. Setelah itu ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dari Sasuke. Tidak sulit karena kedua lengan pria itu telah lemas ketika ia membuka jalan untuk berlari meninggalkan ruangan.
"Sial, aku lengah," desis Sasuke seraya menyeringai dan menutupi leher kanannya menggunakan salah satu telapak tangannya.
Tunggu pembalasan dari dokter Sasuke, Hinata…
.
.
.
…oOo… Thank You …oOo…
.
.
.
Akhirnya TAMAT juga. Maaf jika ada yang kecewa, tapi saya memang sudah merencanakannya tamat di chapter delapan. Maaf fic ini tidak bisa diperpanjang lagi, saya memang masih lemah dalam menyusun plot dan mengembangkan konflik. Sebenarnya fic ini memang sekedar untuk suka-suka, jadi tidak memiliki konflik yang berat dan cenderung datar… *alasan* ^^v
Terima kasih banyak saya ucapkan kepada para pembaca, pereview, dan semua pihak yang turut berperan dalam kelangsungan fanfic (just for fun) ini… v(ToT)v
Maaf karena sampai sekarang saya hanya memenuhi arsip FNI dengan fanfic-fanfic tanpa amanat dan hanya sekedar suka-suka… v(ToT)v
Go koui, arigatou gozaimashita. See ya… ^^v
.
.
.
R
E
V
I
E
W
