Haloooo semuanya…. Apa kabar?

Terima kasih bagi yang telah membaca maupun mereview. :D

Langsung saja ya, kupersembahkan chapter 8 yang panjang ini! Selamat membaca! Jangan ketiduran ya! Hehe. :D

Captain Tsubasa Fanfiction

Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.

Fourteen-Teller presents….

-The Story of A Broken Heart-

Chapter 8: Gifts and The Photographs


"Mamaaaa…..!"

Pagi itu tangga rumah keluarga Aoba berguncang.

"Mama…! Mama…!"

Seorang anak perempuan turun terburu-buru dari kamarnya, masih dengan piyama, juga rambutnya yang berantakan.

"Ada apa, Yayoi? Ribut sekali."

Sang ibu sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ia sudah berdandan. Rambutnya yang sebahu ia ikat rapi. Blazer ia letakkan di sandaran kursi. Tas dan dokumen kantor di atas meja, ia jauhkan dari makanan. Yayoi mendekat.

"Ini…. Apa?"

Ia memegang sebuah kotak dengan bungkus kertas merah muda bermotif hati. Sang ibu melihatnya, tersenyum.

"Selamat pagi~"

Tiba-tiba sang adik muncul. Masih mengucek mata dan menguap, ia berjalan menuju dapur.

"Ah! Selamat pagi, Satoshi. Cepat mandi! Gantian sama kakak. Habis itu kita sarapan sama-sama!" Sang ibu berucap, sebelum mematikan kompor.

"Baik~"

Sang anak lelaki pun menurut dan berlalu menuju kamar mandi.

"Mama…. Ini…. Serius?"

Yayoi masih berdiri di tempatnya, memandang isi kotak itu dengan tatapan tak percaya. Ia baru saja bangun tidur, dan menemukan benda itu di meja belajarnya. Di atasnya tertempel sebuah memo bertuliskan 'Untuk Yayoi'.

Sang ibu tersenyum, melepas apronnya. "Kaget ya? Kejutan mama berhasil, dong."

"Eh?"

Wanita itu mendekati putrinya, mengelus pipinya lembut. "Selamat ulang tahun ke-14, sayang."

Mata Yayoi melebar. Ia telah membaca kartu ucapan di kotak itu, sama persis dengan perkataan ibunya sekarang. Namun, mendengarnya secara langsung, itu lebih membuatnya bahagia.

"Terima kasih, mama…." Ia tersenyum. "Tapi, ini…." Ia melihat kembali kado di tangannya.

"Kenapa?"

Sang ibu melihat putrinya seperti tidak gembira dengan hadiah yang diterimanya.

Yayoi masih menunduk. "Ini…. Apa tidak terlalu berlebihan?"

"Eh?"

Itu adalah sebuah ponsel baru. Desainnya flip, dengan warna dasar merah muda. Cocok dengan pemiliknya yang manis.

"Ya ampun…. Kau tidak perlu memikirkannya, Yayoi. Mama membelikanmu karena mama tahu kau sudah mulai membutuhkannya. Lagipula, mama belum bisa belikan yang lebih bagus dari itu kok."

"Eh?"

"Nanti, kalau kau sudah SMA, dan mama punya cukup uang, akan mama belikan yang lebih bagus."

Sang ibu tersenyum, menepuk bahu Yayoi pelan. Gadis itu menggeleng.

"Tidak…. Ini sudah lebih dari cukup, mama…." Ia tersenyum. "Terima kasih banyak!"

Sang ibu membalas senyumnya. "Sama-sama." Ia mulai duduk di sebuah kursi, memandang raut muka putrinya yang masih begitu sumringah.

"Dengan begini, kau bisa sering-sering kontak dengan Jun-kun, Yayoi…." ucapnya dengan senyuman penuh arti.

"Eh?"

"Benar, kan?"

'Jun-kun'. Itu bukan pertama kali Yayoi mendengar kata itu keluar dari mulut ibunya. Itu adalah cara yang dipakai sang ibu untuk menggodanya. Dalam sekejap, wajah kusut gadis itu memerah.

"Ka-kapten tidak ada hubungannya dengan ini!" Ia berseru sembari memalingkan muka.

Sang ibu bertopang dagu, masih tersenyum. "Benarkah?"

Yayoi membuat satu langkah mundur. "Tentu saja!" Ia berbalik badan, kemudian berlari menaiki tangga, menuju kamarnya kembali. Sang ibu terkikih.

Di kamarnya, Yayoi mencari benda untuk digantungkan di ponsel barunya. Ia membuka laci meja belajar, menemukan sebuah barang yang masih tersegel. Ia tak pernah membukanya. Seperti sengaja menunggu saatnya tiba.

Pelan-pelan, ia membuka segelnya. Karena meskipun itu hanya kotak kemasan, seperti memiliki nilai berharga baginya. Ia keluarkan isinya, segera ia coba pasangkan di ponsel yang saat itu juga menjadi kesayangannya. Ia tersenyum. Wajahnya semakin memerah.

"Akhirnya…." Ia berucap pelan.

#

#

"Selamat ulang tahun, Yayoi!"

Di sekolah, ia mendapat beberapa ucapan selamat, terutama dari teman sekelasnya. Berbeda dengan salah seorang teman yang ia kenal, dirinya tak menonjol. Tak pernah ia temukan lokernya penuh dengan hadiah. Kado dari teman dekatnya, baginya itu sudah cukup.

Ia menempati kursinya, kemudian menoleh ke bangku kosong di samping kirinya. Ia mendesah kecewa. Orang itu belum datang.

Bersamaan dengan bel masuk dimulai, seorang anak lelaki memasuki kelas. Ia mengenakan celana panjang dan sweater. Bukan dia satu-satunya. Semua anak berkostum serupa. Awal musim semi, namun sisa-sisa musim dingin belum sepenuhnya hilang. Yayoi melihat anak itu, memerah sendiri. Sebenarnya ia lebih suka melihatnya dengan kaus berkerah atau kemeja. Namun, ia sendiri meyakini bahwa busana apa saja cocok dengannya. Tanpa sadar, ia memegang erat ponsel di saku roknya.

Bel istirahat pertama, beberapa siswa meninggalkan kelas. Yayoi menolak ajakan ke kantin oleh Haruka. Bukan, bukan karena ia mencoba mengantisipasi kemungkinan temannya minta traktiran. Tapi, karena satu orang yang lebih penting.

Anak lelaki itu masih duduk di bangkunya. Ia keluarkan sebuah buku dari dalam tas, kemudian mulai membacanya dengan serius. Yayoi mendekat, berdiri di samping meja lelaki itu.

"Ah. Kupikir kau sedang belajar." Ia berucap begitu menyadari buku itu adalah sebuah majalah sepakbola.

Si anak lelaki mendongak, tersenyum kecil. "Tidak. Nilai ujian akhir sudah keluar, kan? Untuk apa belajar?"

"Hm. Kupikir kau masih ingin perbaikan."

Lelaki itu kembali melanjutkan bacaannya. "Perbaikan? Untuk apa? Ada-ada saja," ucapnya tanpa memandang Yayoi. Gadis itu tersenyum.

"Iya ya. Nilaimu kan sudah bagus semua."

Si anak lelaki menyeringai. "Hehe. Aku juga tidak menyangka."

"Huh, sombong sekali." Yayoi memasang muka cemberut. "Sepertinya aku harus belajar banyak darimu," ucapnya lagi sebelum mendapati temannya itu tertawa.

"Hahaha. Boleh boleh."

Satu dari hari keberuntungannya adalah melihat anak lelaki itu gembira. Kadang-kadang menjadi hal yang langka menemukan dia tertawa lepas.

"Hari ini kau kelihatan bahagia, kapten. Ada yang istimewa?" Yayoi bertanya, seperti ingin memastikan sesuatu.

Lelaki itu mengangguk, tersenyum. "Ya. Aku sangat menantikannya."

"Eh? Apa?"

"Big match Barcelona vs Real Madrid nanti malam."

Lelaki itu membuka majalah pada lembar yang berisi ulasan prediksi pertandingan itu. "Coba tebak berapa skornya!" ucapnya sembari mendongak ke arah Yayoi.

Gadis itu terdiam. Ada kekecewaan dari raut wajahnya. Mungkin terlalu berlebihan jika menganggap anak itu ingat hari ulang tahunnya. Ia mendesah.

"Berapapun, asal Barcelona yang menang!" ucapnya sedikit kesal.

Jun Misugi tersenyum. Untuk urusan klub favorit, mereka punya jagoan yang berbeda. Tebak-tebakan skor sering mereka lakukan. Yayoi sebenarnya tidak terlalu mengikuti pertandingan-pertandingan seperti itu. Ia hanya sering mendapat info dari TV, internet, juga mulut anak itu. Ketika ia mulai bicara tentang sepakbola, mau tak mau gadis itu harus meladeninya.

"Percaya diri sekali. Tapi, maaf. Malam ini pasti Madrid yang menang." Sang kapten berucap.

"Yah, lihat saja nanti!" Gadis itu menjawab sebelum mendapati sang kapten kembali fokus dengan majalah favoritnya.

Yayoi merogoh saku roknya, memegang ponsel barunya. Ada yang ingin ia lakukan saat ini, namun tampaknya itu tidak mudah. Ia melihat sekeliling, tak banyak siswa di kelas. Ia mengambil napas dalam-dalam, seperti sudah membuat keputusan.

"Ka-kapten…."

Ia mengeluarkan ponsel itu, digenggamnya erat.

Sang kapten menoleh. "Ya?"

"Nomor teleponmu, please!"

"Eh?"

Yayoi tiba-tiba menodongkan ponsel tepat di hadapan lelaki itu, membuatnya terkejut.

Salah. Yang ingin ia katakan sebenarnya bukan kalimat paksaan seperti itu. Padahal ia sudah menyiapkan kalimat seperti "Maaf, kapten, boleh minta nomor teleponmu?". Namun, karena gugup, kata-kata itu tidak keluar. Ia menyadari wajahnya semakin memerah. Sementara, sang kapten masih tampak keheranan.

"Nomor….ku?" Ia bilang, tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda yang terpampang di depan wajahnya.

Gadis itu mengangguk, tak berani menunjukkan raut mukanya.

"Ah, baiklah. 0-"

"Tidak tidak. Kapten yang simpan. Aku belum terbiasa menggunakannya. Hehe."

Yayoi mengangkat wajahnya, berusaha tersenyum wajar. Namun, yang terlihat justru seperti orang salah tingkah.

"Ah. Baiklah…." Jun mengambil ponsel itu. Meskipun berbeda dengan miliknya, namun ia tampak tak canggung mengoperasikannya.

"Baru ya? Desainnya lucu." Ia berkomentar.

"Hehe. Begitulah. Mama yang belikan. Katanya aku sudah membutuhkannya."

"Hm. Benar sih…."

Jun masih mengutak-atik benda itu. "Eh? Belum ada kontak satu pun?"

"Eh? Ah…. Iya. Aku masih bingung memakainya…."

"Bahkan nomormu sendiri belum disimpan?"

"Eh? Itu…. Aku lupa. Hehe…."

"Jadi, aku yang pertama?"

"Eh? Yah…. Begitulah…."

"Hmm…. Baiklah…. Kau ingin panggil aku apa disini?"

"Eh? Maksudnya?"

"Nama kontak."

"Eh? Itu…. Tentu saja…. Kapten, kan?"

"Kapten? Yang lain saja deh!"

"Eh? Tapi…."

"Misugi? Misugi-kun? Misugi-san? Jun-kun? Atau-"

"Tidak tidak. Lebih baik kapten saja. Aku tidak terbiasa yang lain. Hehe."

"Tapi, aku tidak mau."

"Eh?"

"Aku bukan kapten lagi. Lama-lama aku kesal kau panggil begitu."

"Tapi, kau panggil aku manajer juga. Aku kan sudah lama berhenti."

"Ah. Iya ya…. Lalu?"

"Sudah. Tulis saja kapten, seperti biasanya!"

"Tidak mau. Ah! Begini saja…." Lelaki itu mulai mengetik dengan cepat.

"Selesai. Nih." Ia menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya. Yayoi membaca nama kontak anak itu, bingung.

"J-U-N-E? Apa maksudnya? Seperti ejaan Bahasa Inggris…."

Lelaki itu tersenyum. "Nanti kau juga akan mengerti."

"Eh? Tapi, aneh…."

"Haha. Sudahlah! Itu tidak penting."

"Hm. Baiklah…." Yayoi merogoh sakunya kembali, mengeluarkan satu benda. "Kapten…. Satu lagi. Sebenarnya aku sudah coba memasangnya sendiri, tapi aku mengalami kesulitan." Ia menjulurkan ponsel dan benda itu kembali ke hadapan sang kapten. "Tolong….!" Gadis itu menyeringai, memerah lagi.

Jun Misugi belum mengambilnya. Ia terkejut. Gantungan handphone yang ada di depan matanya saat ini, bukan yang pertama kali ia lihat. "Ini kan…." ucapnya.

Yayoi mengangguk. "Ya. Tiga tahun lalu. Akhirnya bisa kugunakan juga." Ia tersenyum malu.

Jun mulai mengambil benda-benda itu. Ia tak butuh waktu lama memasangnya. "Kau sengaja ya, menyuruhku melakukan ini?" Ia bertanya, tersenyum penuh arti.

Yayoi semakin memerah. "Eh? Bu-bukan! Aku serius tidak bisa. Tangan laki-laki kan biasanya lebih terampil-"

"Hahaha. Nih!" Jun menyerahkan ponsel itu kembali.

"Te-terima kasih…." Gadis itu masih tersipu.

Jun tersenyum. "Berarti aku harus memasangnya juga ya?"

"Eh?"

"Begitu kan, perjanjiannya?"

"Eh? I-iya…."

"Baiklah. Besok kutunjukkan padamu."

"Ah. Te-terima kasih!" Gadis itu berucap girang, tidak menyangka bahwa sang kapten masih mengingatnya.

"A-aku ke kantin dulu ya. Haruka dan yang lainnya menunggu."

"Hm. Ya."

Yayoi berbalik badan, hendak melangkah, namun terhenti setelah mendengar suara lelaki itu.

"Tunggu!"

Sang kapten telah berdiri dari kursinya.

"Kau bilang ponsel itu dari mamamu?" Ia bertanya.

"Eh? Iya…. Kenapa?"

"Kapan?"

"Tadi pagi…. Ada apa?"

Lelaki itu memegang dagu, seperti berpikir. "Tunggu….! Apa aku melupakan sesuatu?"

Yayoi menyadarinya. Mungkin wajar jika lelaki itu tidak bisa mengingat dengan pasti ulang tahunnya. Ia tersenyum, mencoba memberikan petunjuk. "Orangtuaku memberiku nama Yayoi karena artinya bulan Maret."

Sang kapten mulai mengingat-ingat. "Eh? Ah. Maret ya…."

"Hm."

"Ah! Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa? Manajer, selamat ulang tahun!"

Akhirnya. Itulah kata-kata yang ingin Yayoi dengar hari ini. Ia tertunduk malu, merasa seperti melambung. Tidak tahu kenapa ia bisa begitu bahagia hanya karena hal simpel seperti ini.

"Empat belas tahun ya? Semakin tambah umur, semakin dewasa dan pintar ya, manajer!"

Lelaki itu tersenyum, menjulurkan tangannya di hadapan Yayoi. Gadis itu segera membalas jabat tangannya. Ia melihat perbedaan yang nyata pada kedua tangan itu. Miliknya begitu mungil dengan jari-jari yang lentik. Sementara milik sang kapten, semenjak terakhir kali ia menyentuhnya, kini ia merasa tangan itu bertambah besar. Namun, tetap kurus dan panjang.

"Terima kasih…." ucapnya pelan, masih tersipu. Kemudian keduanya saling melepaskan tangan.

Jun tersenyum. "Hm. Kau mau hadiah apa?"

"Eh?"

"Hm? Apa?"

"I-itu tidak perlu, kapten. Sungguh!"

"Tapi…."

"Begini sudah cukup. Hehe."

"Apanya yang cukup? Nanti sepulang sekolah, kita beli sama-sama, bagaimana?"

"Eh?"

"Ada Hideki-san yang mengantar. Bagaimana?"

"Ah. Ti-tidak perlu repot-repot. Lagipula, kapten sudah sering memberiku hadiah, kan?"

"Begitu ya? Tapi-"

"Ah! Aku ke kantin dulu. Sudah ya! Mau titip sesuatu? Jus, mungkin. Nanti kubelikan. Dah!"

"Eh? Manajer!"

Gadis itu berlalu dengan cepat, meninggalkan keheranan di wajah sang kapten.

"Aneh…" Jun berucap pelan. "Ya sudah lah." Ia pun duduk di kursinya kembali, melanjutkan bacaannya.

Meskipun tahu sang kapten tidak mengejar, Yayoi mempercepat langkah kakinya. Wajahnya masih memerah. Ia merasakan detak jantungnya meningkat. Ponsel itu ia genggam erat di dekapannya, kemudian mulai mengingat kembali satu kejadian yang membuatnya bahagia.

"Kapten, selamat ulang tahun!"

Pada akhirnya, waktu itu ia mengatakannya juga. Mereka berada di ruang kelas, berdua saja. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Anggota klub sepakbola lainnya sedang berlatih di lapangan.

Gadis itu menjulurkan sebuah benda di hadapan sang kapten. Sebuah kotak yang ia bungkus rapi dengan kertas kado dan pita merah. Sang kapten menerimanya, meskipun dengan wajah yang masih tampak heran.

"Terima kasih."

Yayoi sedikit menunduk. "Maaf, telat satu hari."

Lelaki itu tersenyum. "Tidak apa-apa. Boleh kubuka?"

"Eh?"

Yayoi tahu anak itu mendapat banyak kado dari fans. Tak satu pun ia buka di tempat. Tapi, sekarang? Ah, Yayoi kini mulai menganggap dirinya penting.

"I-iya…." Ia berucap malu.

Jun Misugi membuka bungkusnya pelan. "Ah!" Ia tampak terkejut.

"Jersey tim Jepang…. Serius, untukku?"

Tiba-tiba mata cokelat anak itu bersinar. Itu adalah gantungan handphone berbentuk boneka singa dengan kostum kebanggaan tim sepakbola Jepang. Merchandise Piala Dunia tahun itu.

"Iya."

Yayoi tahu ia mengambil keputusan yang benar. Benda yang semula ia berusaha beli untuk diberikan kepada yang ia panggil Tsubasa-kun, kini ia tak menyesal menyaksikannya berada di tangan orang lain.

"Aku sudah lama mencari yang ini, tapi tidak ketemu. Mereka bilang persediaannya terbatas. Kau yakin ini boleh untukku? Kau susah mendapatkannya juga, kan?"

Yayoi lupa kalau sang kapten adalah penggemar sepakbola. Barang semacam itu, mana mungkin ia tidak tahu.

"Jangan-jangan, kapten sudah punya ya?"

"Iya sih…."

"Ah. Maaf…. Kupikir…." Gadis itu menunduk kecewa.

"Kenapa minta maaf? Aku belum punya yang ini kok."

"Eh?"

"Aku memang punya banyak di rumah. Tapi, itu jersey dari negara lain. Aku tidak beruntung, karena kehabisan stok yang jersey Jepang. Kalah cepat dengan manajer. Hehehe."

"Begitu ya?"

"Hm. Makanya, ini…. Apa benar, boleh untukku? Ini pasti berharga bagimu, kan?"

"Eh? Ah. Tidak tidak. Tentu saja boleh, kapten."

"Serius?"

"Iya."

"Asyik! Terima kasih ya!"

Lelaki itu berucap girang. Menyaksikannya, Yayoi merasa lega, dan bahagia.

"Ah. Bagaimana kalau manajer kuberi satu?" Tiba-tiba lelaki itu berucap.

"Eh?"

"Kau mau jersey apa? Aku punya banyak, menganggur di rumah."

"Eh?"

"Hm? Pilih saja! Italia, Perancis, Jerman, Brazil, Inggris, Portugal, Spanyol, Belan-"

"Tidak perlu repot-repot, kapten."

Yayoi tersenyum, sembari menggeleng sedikit. "Sungguh. Aku senang kau menyukainya."

"Eh?"

"Hehe. Tidak apa-apa."

"Begitu ya…."

Gadis itu terlalu sungkan. Meskipun ia menyangkal tak mau menerima, keesokan harinya ia bahagia ketika sang kapten mengambil inisiatifnya.

"Salah satu tim favoritku. Aku ingin manajer yang simpan."

Lelaki itu menyerahkan benda yang sama di tangan Yayoi. Bedanya, seragam yang dipakai boneka itu bukan biru, melainkan oranye.

"Ah. Ini…."

Yayoi memegangnya. Sebenarnya masih ragu untuk menerima.

Lelaki itu tersenyum. "Tim nasional Belanda. Sudah lama aku mengaguminya."

"Berarti…. Ini penting bagimu juga kan, kapten?"

"Ya. Mungkin sama pentingnya dengan yang Jepang."

"Lalu, kenapa kau berikan padaku?"

"Eh? Kenapa? Tidak apa-apa, kan? Kau beri aku juga."

"Iya sih. Tapi…."

"Sudahlah. Kau simpan saja! Itu bukan apa-apa."

"Yah. Tapi…. Lagipula, aku belum punya ponsel…."

"Tidak masalah. Simpan saja dulu! Nanti kalau kau punya, baru kau pasang."

"Tapi, aku tidak tahu kapan?"

"Kapan saja boleh. Itu bukan barang yang mudah membusuk juga. Ah. Biar adil, aku juga akan pakai kalau kau sudah memasangnya."

"Eh?"

"Begitu lebih baik, kan? Sudah ya. Simpan baik-baik!"

"Ah. Ya…. Terima kasih, kapten."

Begitulah. Dan sejak saat itu, boneka singa lucu itu menjadi kesayangannya.

Esoknya, lelaki itu benar-benar menepati janjinya. Ia tunjukkan gantungan handphone berkostum tim Jepang di hadapan Yayoi. Penampakannya masih bersih. Jelas, ia menyimpannya baik-baik.

Yayoi tersenyum. "Sedikit ketinggalan jaman ya?"

"Hahaha. Benar juga. Tahun depan sudah Piala Dunia lagi. Akan ada maskot baru yang lucu lagi."

"Hehe. Iya. Tapi, ini juga lucu…."

"Hm." Jun Misugi merogoh saku celananya. "Manajer, satu lagi."

"Eh?"

Lelaki itu menyerahkan paper bag mungil berhias pita. "Ini. Hadiah kecil."

"Eh?"

"Terimalah!"

Lelaki itu tidak mengerti kenapa ia sedikit tersipu. Yayoi bengong, ragu-ragu, namun akhirnya ia menerimanya juga.

"Terima kasih. Boleh kubuka?"

"Hm." Jun mengangguk.

"Uwaaah! Cantik sekali!"

Yayoi mengeluarkan isinya. Matanya bersinar. Itu adalah sebuah jepit rambut berbentuk bunga sakura.

"Aku tidak tahu apa yang manajer suka. Kupikir, karena kau lahir di bulan Maret, bunga itu cocok denganmu…."

Lelaki itu sedikit memalingkan muka, menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Yayoi sumringah. "Terima kasih!"

"Hm. Ya."

"Ah. Tunggu….! Ini mahal ya?"

Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah rekannya.

"Eh?"

"Kalau mahal, aku tidak berani terima."

Jun Misugi melihat wajah sungkan gadis itu, kemudian mendesah. "Tidak. Kau pikir berapa uang sakuku?"

"Eh? Tidak? Beneran?"

"Iya."

"Oke. Kuterima. Terima kasih banyak, kapten!"

Gadis itu pun tersenyum girang.

Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Siswa disibukkan oleh kegiatan akhir tahun ajaran. Jun Misugi masih sering dikelilingi oleh fans fanatiknya. Meskipun begitu, Yayoi tak minder dan mengurangi jarak dirinya dengan lelaki itu. Ia bahkan lebih sering kontak dengannya. Ketika liburan musim semi tiba, saat tak bisa bertatap muka dengannya, frekuensi menelepon dan bertukar email menjadi lebih sering. Kini, tanpa sadar, tahun ajaran baru tinggal sebentar lagi.

"Halo. Selamat pagi~"

Beberapa saat yang lalu, Yayoi keluar rumah. Ia berjalan santai di jalanan kompleks. Tangan kanannya memegang ponsel, sementara tangan satunya menjinjing sebuah tas kanvas. Ia memakai dres berwarna jingga setinggi lutut berlengan panjang. Di bawah kerah, terdapat aksen renda yang manis serta kancing-kancing mungil. Pita kecil mengitari pinggangnya, juga flat shoes putih yang dikenakannya, menambah kesan feminin.

"Selamat pagi. Ada apa?" Suara di seberang telepon.

"Kau di rumah?"

"Iya. Kenapa?"

Jun Misugi berada di luar. Ia berjongkok, memberi makan ikan-ikan Koi di kolam samping rumahnya. Tangan satunya memegang ponsel. Akhir-akhir ini ia merasa perlu membawa benda itu kemanapun ia pergi. Padahal, biasanya ia tak terlalu peduli.

"Aku menuju kesana."

"Eh? Ada perlu apa?"

"Aku butuh bantuanmu."

"Eh? Bantuan apa?"

"Kau tahu kan, nilai bahasa Inggrisku buruk?"

"Ya. Lalu?"

"Mamaku menyuruhku privat denganmu karena tahu kau pintar."

"Hah?"

"Please…! Aku bermasalah dengan Grammar…"

"Ah. Tapi, apa harus sekarang? Liburan masih lama, kan?"

"Minggu depan sudah tahun ajaran baru, tuan muda."

"Eh? Yah… Santai saja dulu lah…! Ini masih pagi."

"Tapi, aku sudah terlanjur jalan kesana."

"Ah…. Begitu ya."

"Ya. Mau, kan? Please, Jun-sama!"

"Eh? Kau panggil aku apa?"

"Hahaha. Tidak tidak. Memangnya aku bilang apa?"

"Yang barusan itu."

"Haha. Apa? Kau salah dengar."

"Hei, aku mendengarnya. Kau mulai jadi fan-ku?"

"Enak saja!"

"Haha. Akui saja!"

"Aku cuma bercanda kok!"

"Bohong…!"

"Oke, tuan muda. Aku sudah di depan rumahmu."

"Ah. Cepat sekali. Tunggu sebentar!"

Pintu gerbang terbuka. Yayoi terkejut, melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya.

"Selamat pagi…." Ia berucap.

"Selamat pagi."

Itu adalah anak lelaki pemilik rumah. Ia memakai celana putih ¾ dengan kaus lengan panjang berwarna biru tua. Cuaca masih cukup dingin untuk akhir Maret.

Ia melihat gadis itu, tampil tidak dengan seragam. Entah kenapa ia suka penampilannya yang seperti itu. Kemudian dilihatnya rambut merah itu, tampak cantik dengan jepit rambut pemberiannya beberapa waktu lalu. Ia tersenyum.

"Itu…. Aku tahu cocok denganmu."

"Eh?"

"Di rambutmu."

Yayoi memegangi rambutnya. "Eh? Ini…. Terima kasih. Hehe." Ia menyeringai.

Jun tersenyum. "Masuklah!"

Yayoi membungkuk sedikit, kemudian melangkahkan kakinya masuk. "Tidak biasanya, kapten yang buka gerbangnya."

"Ah. Kebetulan aku sedang di luar. Sekalian saja."

Mereka memasuki ruang tamu. Yayoi melihat sekeliling.

"Sepi sekali. Kemana orang-orang?"

"Ada pembantu di dapur. Hideki-san mengantar mama belanja. Ayah pergi dengan rekan kerjanya."

"Oh. Begitu ya…."

"Mau dimana? Disini saja atau di atas?"

Yayoi sudah beberapa kali ke rumah itu. Namun, rasa sungkan masih ada. Ia boleh menganggap dirinya adalah teman baik sang kapten. Tapi, itu bukan berarti ia boleh melupakan sopan santun.

"Eng… Mungkin…. Disini saja." Ia berucap, tersenyum.

"Eh? Disini?"

Itu adalah ruang tamu. Tempat yang cukup luas untuk mereka mengobrol, atau belajar. Namun….

"Di atas saja ya! Ada banyak buku disana."

Sang kapten punya kehendak lain.

"Eh? Di atas?"

Maksudnya…. Di kamar? Yayoi mengikuti lelaki itu menaiki tangga. Ia pernah melihat kamar anak itu sebelumnya. Tapi, sekarang, jika berdua saja, meskipun niat mereka adalah belajar…. Bagi Yayoi, itu adalah masalah. Jantungnya mulai berpacu kencang.

"Nah, kita sampai. Silakan masuk!"

Jun Misugi membuka pintu ruangan itu. Mata Yayoi melebar.

"Uwaaah! Keren!"

Yang ada di hadapannya saat ini adalah hamparan lemari dan rak-rak tinggi dengan ratusan, mungkin ribuan koleksi buku. Pertama kali ia lihat di rumah seseorang.

"Maaf ya. Kamarku berantakan. Jadi, disini saja. Lagipula, kalau kau butuh buku, kau bisa langsung cari."

Lelaki itu lebih dulu masuk. Yayoi mengikuti. Matanya masih mengamati sekeliling.

"Aku tidak pernah tahu kau punya perpustakaan pribadi sebesar ini." Ia berkomentar.

"Hahaha. Sebenarnya, aku jarang kemari."

"Eh?"

"Kebanyakan buku-buku disini adalah koleksi ayahku. Aku tidak mengerti. Hehe."

"Hmm…."

"Ada buku pengetahuan umum juga sih. Tapi, aku malas membacanya karena tebal sekali. Mendingan baca majalah sepakbola."

"Hm. Khas dirimu…."

"Hehehe."

Yayoi mendekati satu lemari. "Ada banyak buku arsitektur disini. Punya ayahmu juga?"

"Hm. Ya. Sebelum memegang jabatan perusahaan ini, ayah sempat kuliah arsitektur."

"Wah, sama seperti ayahku dong."

"Benarkah?"

"Hm. Lalu, paman meninggalkan arsitektur?"

"Ya. Mau tidak mau. Setelah lulus, ayah langsung diminta memimpin perusahaan."

"Wah…. Paman pasti pintar sekali ya."

"Hehe. Begitulah."

Yayoi tampaknya lupa tujuannya kesana. Ia berjalan berkeliling, mencari buku bagus.

"Tidak adakah novel disini?" Ia bertanya, masih belum mengalihkan mata dari deretan buku-buku di depannya.

"Novel? Aku tidak tahu. Sepertinya ada, novel misteri. Tunggu sebentar! Dimana ya…."

"Ah. Tidak tidak. Yang seperti itu, terlalu berat untukku. Tidak usah saja. Hehe."

"Baiklah…."

Jun Misugi duduk di sebuah kursi. Salah satu sikunya bersandar di atas meja, ia topang dagunya. Ia sengaja memberikan temannya cukup waktu untuk melihat-lihat. Sebenarnya ia sedang tidak ada mood untuk belajar juga.

"Wow! Ensiklopedia binatang, flora…. Tata surya…. Kau pasti sudah membacanya ya? Tidak heran kau pintar."

Jun Misugi mengangkat alisnya. "Aku tidak ingat pernah membacanya. Mungkin, iya, waktu aku masih kecil."

"Hmm…. Anak rajin ya…."

Jari-jari Yayoi masih menyisir buku-buku disana, belum menemukan yang menarik perhatiannya.

"Ah!"

Tiba-tiba jari itu berhenti. "Apa ini?" Ia menarik sebuah benda menyerupai buku dari tempatnya. Tidak ada judul di sampulnya, melainkan beberapa tulisan. 'Memories'. 'My Little Treasure'.

"Album foto?"

Yayoi membalikkan badannya, menghadap sang kapten. Lelaki itu menurunkan tangannya, tampak sedikit terkejut.

"Ah. Itu…."

"Boleh kulihat?"

Yayoi tahu ia tak boleh lancang. Setidaknya, ia harus mendapat ijin untuk melihatnya. Jun Misugi mengenali benda itu.

"Itu album fotoku. Sebaiknya tidak usah dilihat. Tidak menyenangkan."

"Eh? Tidak boleh ya?"

Yayoi menurunkan album itu. Raut wajahnya kecewa. Sang kapten menyadarinya, tidak tega.

"Yah, apa boleh buat. Silakan saja!"

Ijin yang begitu mudah keluar dari mulutnya. Kini, ia bersiap untuk hal selanjutnya.

"Terima kasih!"

Yayoi berucap girang, kemudian duduk di depan lelaki itu. Ia membuka lembar pertama.

"Ah. Kalian benar-benar keluarga bahagia…."

"Eh?"

Itu adalah foto keluarga berukuran satu lembar full. Jun kecil, ayah, dan ibunya berfoto di ruang tengah. Sang anak tersenyum kecil dan tulus. Sang ayah memiliki senyuman seperti menyiratkan kebanggaan. Sementara sang ibu, senyumannya lemah, seperti dipaksakan.

"Ah. Di ruang tamu juga dipasang foto yang sama, kan?"

Sang kapten berkomentar. Yayoi mengangguk, tetap memandang foto itu, kemudian tersenyum tipis. "Ya. Aku suka foto ini. Kalian kelihatan bahagia."

"Eh?"

"Kapten beruntung, punya keluarga yang lengkap."

Gadis itu tersenyum lagi. Jun Misugi melihatnya, tahu, gadis itu sebenarnya menyimpan kesedihan dalam ucapannya.

"Tapi, kapten sama sekali tidak mirip paman. Hehe"

"Eh? Yah…. Banyak yang bilang begitu sih."

"Hm. Tapi, kau mirip tante."

"Hm. Benar."

"Tapi, kadang-kadang sifatmu mirip paman."

"Begitukah?"

"Oke. Selanjutnya."

Yayoi membuka lembar berikutnya. Yang ia lihat adalah seperti sebuah kronologi pertumbuhan seseorang. Ia membaca catatan yang tertulis di bawah masing-masing foto.

'Jun. Usia 1 hari. Biru dan kecil. Ayah mengambil foto ketika aku masih menangis di ruang perawatan.'

Dari tutur kata yang melankolis, Yayoi segera tahu siapa yang menulisnya.

'Jun. 1 hari. Bayi yang tidak berdosa.'

Itu adalah bayi kecil yang tampak tertidur dalam inkubator. Mungil dan rapuh. Yayoi melanjutkan.

'Jun. Usia 5 hari. Selesai operasi pertama. Kulitnya sudah sedikit pink. :)'

Kali ini, tampaknya sang ibu sedikit lega. Namun, bukan berarti kesedihan itu hilang. Yayoi melihat bayi kecil di foto itu, tubuh bagian atasnya terekspos, plester putih besar di dadanya, terlihat pula beberapa selang menembus kulitnya, masker oksigen di hidung, serta elektroda di dada yang terhubung ke mesin. Ekspresi gadis itu berubah.

"Sudah kubilang kan, itu tidak menyenangkan."

Jun berucap. Ia sendiri tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.

Yayoi tersenyum. "Tidak apa-apa. Akan kulanjutkan," ucapnya. Sang kapten mendesah.

'Jun. Usia 6 hari. Selesai operasi. Senyuman pertama. :)'

"Aku yakin mama menulis ini semua sambil menangis."

"Eh?"

Lelaki itu tiba-tiba berucap. Yayoi mengangkat pandangannya dari album.

"Coba saja lihat tulisannya!"

Yayoi mengamati tulisan itu kembali. Benar, terlihat tidak rapi, seperti bergetar. Ada bagian tulisan yang telah luntur, seperti terkena air.

"Kupikir juga begitu…." Ia berucap lemah.

Jun tersenyum tipis. "Mungkin mama tidak ingin melihatnya, makanya disimpan disitu."

"Eh?"

"Itu memori yang tidak menyenangkan, kan?"

"…."

Yayoi tertunduk. Ia membuka kembali lembar berikutnya Ia melihat bayi lelaki kecil berada di gendongan sang ayah, kadang dengan sang ibu. Ada sebuah foto ia sedang di pangkuan sang ibu, tangan kecilnya memegang biskuit bayi kuat-kuat. Rona wajahnya pucat.

Kemudian foto ketika anak itu sudah bisa berdiri, merangkak, juga berjalan. Orang tuanya seperti benar-benar tidak ingin melewatkan satu momen pun dalam kehidupan putra semata wayangnya.

Dari sekian banyak foto yang gadis itu lihat, ia tidak merasakan ada kebahagiaan dalam ekspresi sang ibu. Meskipun kadang ia terlihat tersenyum, bagi Yayoi, yang bahkan orang luar, tahu kalau ia sedang sedih.

Jun mungkin mengetahui hal yang sama. Lebih baik darinya.

"Melihat mama yang seperti itu, rasanya aku belum bisa menjadi anak yang berbakti ya." Lelaki itu berucap tiba-tiba.

"Eh?"

Ia menggeleng, tersenyum. "Ah. Tidak apa-apa. Lanjutkan saja!"

Yayoi menunduk kembali. Masih ada dua lembar tersisa. Dan ketika ia membukanya, saat itulah matanya melebar.

"Ini…." Suaranya bergetar.

Ia melihat sebuah foto di pojok kiri atas. Itu adalah Jun, kira-kira berumur 4 tahun, bersama seorang gadis kecil, sepertinya sebaya.

Jun melihatnya, tersenyum kecil. "Ah. Itu. Aku tidak tahu dia siapa. Aku juga tidak ingat pernah berfoto dengannya. Hehe."

Bukan. Masalahnya adalah, di foto itu, mereka terlihat sangat akrab. Si gadis kecil, begitu lugu dan percaya diri, mencium pipi Jun. Sementara, anak lelaki itu, punya ekspresi seperti syok, bingung, namun tetap cool. Yayoi tidak bisa menduga gadis kecil itu siapa. Tak ada yang tertulis di catatan. Yang jelas, dia sangat manis.

"Ayah bilang itu putri temannya. Mungkin dia suka padaku. Mungkin dia cinta pertamaku juga. Ah. Tidak tahu lah. Tidak ingat."

Jun tersenyum. Kali ini ekspresinya riang. Mungkin itu salah satu momen bahagia masa kecilnya, meskipun ia bilang telah lupa.

Yayoi masih terbelalak, memandang foto itu tak percaya. Wajahnya memerah. Tidak tahu kenapa. Mungkin, dalam hati ia berharap punya kenangan yang sama.

"Hei, kau cemburu?" Lelaki itu berucap tiba-tiba.

Yayoi mendongak. "Eh?"

"Kenapa diam saja?"

"Tidak…."

"Lalu kenapa wajahmu merah?"

"Eh?"

Yayoi memegang kedua pipinya. Apa yang dipikirkannya, sehingga tidak sadar wajahnya memanas?

"Tidak kok!"

Jun Misugi tersenyum menggoda. "Masa? Cemburu ya? Ada gadis manis yang menciumku."

"Tidak. Kenapa aku harus cemburu?"

"Hm. Benarkah?"

"Tentu saja!"

"Oh ya?"

"Ya!"

"Tapi, kenapa ekspresimu begitu?"

"Ah. Itu…."

"Kenapa? Kenapa?"

"Ini aku!"

"Hah?"

Jun Misugi mangap seperti ia tak pernah melakukannya. "Maksudmu…. Gadis di foto ini?" Ia menyeret ucapannya.

Yayoi menunduk, kemudian mengangguk lemah.

Jun Misugi jatuh di sandaran kursi. "Kau…. Pasti bercanda."

-End of chapter 8-

Kyaaaa! Readers! Author keterusan mengetiknya. Nggak terasa sepanjang ini. 4000-an kata!

Bagaimana? Bagaimana? Romance-nya mulai ada, kan? Hehehe.

Cerita selanjutnya, masih misteri. Nantikan saja!

Terima kasih telah membaca. Silakan mereview sesuka hati!

See you. :D