Anything Can Happen -
- Ai -
- 2014 -
- Mashashi Kishimoto, Naruto-
- Pairing : Sasuke U. Hinata H. -
- Rate : T -
- Romance/Hurt/comfort
Sasuke POV
Aku baru saja mengerti sosok seorang Hyuga Hinata, dia bukannya marah terhadap teman-temannya, namun ternyata marah kepada dirinya sendiri. Ck Hinata… beruntungnya Aniki pernah dekat dengannya. andai saat itu aku bersedia di kuliahkan di Amerika... ini semua karena sahabat-sahabatku juga sih. Tapi tidak masalah, sekarang mungkin aku bisa mulai untuk mendekatinya.
Anything Can Happen
Chapter 8 Hurt
Normal POV
Hinata berdiri di balkon lantai 2, menikmati pemandangan dibawahnya yang begitu ramai, Fugaku bersama Mikoto dan Shika beserta Shino melihat tingkah konyol Naruto dan Kiba yang mempersembahkan acara stand up comedy dadakan.
Sasuke sibuk mengipasi daging yang tinggal beberapa pontong, terlihat sesekali dia menoleh kearah Hinata yang berada diatas, di perhatikan seperti itu membuat Hinata terkadang bersemu merah kemudian ia alihkan pandangannya kearah Naruto dan Kiba lagi.
"Aku ke toilet sebentar…" Shikamaru tiba-tiba beranjak dari tempatnya menuju kedalam rumah.
"Hinata sudah kau minum obatmu?" Hinata bergidik, dan menoleh kebelakang. Melihat sosok Itachi yang terkekeh akibat melihat Hinata yang kaget.
"Ita ni… kau mengagetkanku!" Ucapnya sambil cemberut. Pandangannya mengikuti kemana Itachi berjalan, dan sampailah ia disamping Hinata, ikut melihat kebawah.
"2 orang konyol yang tidak bisa dipisahkan." Gumam Itachi, sesekali ia terkikik lagi. "Hey. Kau sudah minum obat?"
Deg.
Shikamaru semakin mendekat kearah dinding yang tempatnya dekat dengan dimana Hinata dan Itachi sedang mengobrol. Tanpa sebab ia mulai penasaran akan apa yang mereka bicarakan.
"Ah. Yang benar saja. Aku lupa meminum obatku. Tas ku dibawah dan obatnya berada didalam." Ucap Hinata, wajahnya terlihat panic dan merasa bersalah.
Itachi menggaruk kepalanya. "Kalau Neji tau, aku akan dipenggal." Ucapnya sambil memandang tajam Hinata sebagai hukuman. "Ya sudah. Jangan kemana-mana, aku akan mengambilkan tasmu. Tunggu disini!" setelah mendapatkan anggukan dari Hinata, Itachi lekas melangkah menjauh, dan Shikamaru sembunyi ditempat yang tak terliahat.
Setelah melihat Itachi melaluinya, Shikamaru ingin menyusul kebawah tapi sebelum itu terjadi-
"Ah!" pekikan Hinata mencegahnya. Tidak bertindak ceroboh, Shikamaru kembali ketempat dia menguping terlebih dulu, memastikan keadaan. "Mimisan lagi… Augh! Perutku sakit…" rintihnya, Hinata menunduk sambil memegang perut sebelah kanannya kemudian bersandar pada dinding, mengambil nafas dalam-dalam, sementara darah merembes dari Hidungnya.
Melihat hal itu, Shikamaru langsung berlari dan mengeluarkan sapu tangan ditengah berlarinya. "Hinata! Kau kenapa?!" katanya panic, lalu berjongkok menyamai Hinata.
Ia usap sapu tangan itu kearah hidung Hinata, lalu sedikit ditekan sebelumnya ia dongakkan kepala Hinata. Mata Hinata membuka dan ia melihat jelas raut panic Shikamaru.
"Kau mimisan Hinata. Ada apa?"
Hinata menggeleng, belum sempat ia menjawab, Itachi keburu panic dan berlari. "Astaga. Apa yang terjadi dengan Hinata?!"
"Tadi tiba-tiba ia mimisan dan mengeluh sakit perut. Ada apa dengan Hinata Itachi?" Tanya Shikamaru, namun Itachi menggeleng lemah.
Memasang wajah santai, Itachi lanjut berkata "Tidak ada yang perlu dicemaskan. Hinata… hanya kelelahan." Jawab Itachi berusaha sesantai mungkin, ia ambil alih sapu tangan Shikamaru lalu berkata lagi. "Kau bukan orang bodoh akan situasi Shika." Itachi melihat tajam kearah Shikamaru yang masih menunjukkan raut meminta penjelasan. "Harusnya kau tau apa yang terjadi. Tapi aku tak bisa mengatakannya, Hinata tanggung jawabku. Maaf."
Perhatian Itachi kembali lagi kearah Hinata yang kini masih memandang Shikamaru dengan pandangan sayu. "Aku akan mencari tau sendiri kalau begitu." Perlahan dengan kecerdikannya ia mengambil salah satu tablet obat yang masih terbungkus sempurna, lalu ia ambil lagi satu kapsul dari tabung obat yang dibawa Itachi, memasukkannya kedalam saku celana, tanpa ada yang tau akan tindakan Shikamaru.
"Kau anak yang bandel Hinata… hah… masih sakit?" Tanya Itachi sembari menghela nafas.
Hinata menggeleng, sebelah tangannya terulur untuk meremas lengan baju Shikamaru yang masih didepannya. "Sudahlah, walau pun aku penasaran, kau tidak akan memberitauku kan? Aku akan cari tau sendiri, dan sebaiknya kau minum obatmu sekarang!" Perintah Shikmaru sambil melihat pergerakan Itachi yang sudah selesai membersihkan darah Hinata.
Setelah minum obat, Shikamaru pamit pulang dengan tergesa, beruntunglah mereka membawa mobil sendiri-sendiri jadi tidak perlu menunggu temannya pulang.
Hinata duduk di sofa keluarga setelah di antarkan Itachi dan Shikamaru, kondisinya masih lemah, dan Itachi menelfon Neji memberi kabar tentang keadaan Hinata.
Memejamkan mata dan sesekali menghela nafas, itulah kegiatannya saat ini, sedikit masih ia rasakan rasa nyeri seperi di tusuk jarum, namun itu bukan apa-apa untuknya, sudah biasa. Tiba-tiba suara langkah kaki mendera di pendengaran Hinata, membuat manic Hinata terbuka sedikit dengan perlahan.
"Kau tidak menghargai tuan rumah, eh? Nona Hinata?" sindir Sasuke.
Sasuke sedari tadi kehilangan wajah Hinata dari pandangannya, dan itu membuatnya sedikit banyak sering mendengus kesal, pikiran-pikiran kedekatan Hinata dengan Itachi mengganggunya, tapi jika acara barbekyu ditinggal begitu saja dia merasa tidak enak, dan lagi, takutnya Sasuke akan dikira mengganggu acara berduaannya Itachi dan Hinata karena cemburu. Tidak.. ia tidak bisa membiarkan Itachi ataupun Hinata berpikiran seperti itu padanya.
Dan beruntunglah sekarang, saat ia masuk ingin mengambil air putih yang telah habis, ia bertemu Hinata tanpa Itachi, kesempatan yang dia inginkan tentunya..
"Gomen-ne Sasuke-kun." Sekarang Hinata sudah memanggil Sasuke dengan suffix-kun. Ah ya, mereka kan sekarang bersahabat.
Hinata memperbaiki cara duduknya agar Sasuke tidak berpikiran aneh terhadap keadaan Hinata. Sasuke melangkah mendekat dan perlahan duduk disamping Hinata. "Wajahmu pucat." Ucapnya saat melihat wajah Hinata yang benar-benar pucat, efek dari rasa sakit yang sedikit masih ia rasakan.
Perlahan sebelah tangan Sasuke menangkup pipi kiri Hinata dan ibu jarinya mengusap pipi Hinata secara perlahan, tindakan Sasuke itu membuat Hinata sontak membulatkan matanya sambil memandang onyx Sasuke yang memandang Hinata entah fokusnya kemana.
"Kau sakit?" Tanya Sasuke kala melihat wajah pucat itu kini menorehkan semburat merah dipipi Hinata, sedangkan Hinata yang diberi pertanyaan tersebut menatap lebih dalam onyx Sasuke, sejururs kemudian ia menyadari tingkahnya lalu menunduk menyebabkan tubuhnya berdesir karena telapak tangan Sasuke mengusap pipi serta daun telinganya.
"U-um… tidak!" ucapnya malu-malu.
Menyadari tindakannya yang terlalu lembut pada Hinata, Sasukepun merasa aneh, sejujurnya tindakan tadi refleks yang ditimbulkan oleh tubuhnya sendiri kala melihat wajah Hinata yang berbeda dari biasanya. walaupun tiap harinya kulit Hinata memang pucat, tapi mata sayu itu yang membuat tangannya reflek ingin menyentuh Hinata.
Dan untuk sekian detik, Sasuke bersyukur atas tindakannya itu, ia jadi benar-benar mengerti bahwa ia mencintai Hinata, karena tanpa sadar, di alam bawah sadarnya, Hinata menjadi orang terpenting yang ia pikirkan.
Tangan Sasuke terjulur lagi dan meraih dagu Hinata. Menariknya agar wajah Hinata mengarah lurus dengan wajahnya. "Hinata…" lirih Sasuke.
Hinata tetap diam, namun jantungnya berdetak tidak karuan. 'Apa ini? Sasuke kenapa tiba-tiba-'
"Kau… " bola mata keduanya bergerak ke kiri dan kekanan, seolah mencari tau apa yang masing-masing dari mereka inginkan. "…jelek sekali dengan wajah pucat seperti itu." Ucap Sasuke sambil terkekeh.
Sukses Hinata dibuatnya mengerutkan kening, jantung yang berdegup kencang dari tadi semakin berdegup kencang dan cepat. 'Sasuke no Baka.' Umpat Hinata dalam hati 'Aku sampai memikirkan hal yang macam-macam.' Lanjutnya dalam hati.
Pegangan didagu Hinata terlepas seiring kekehan Sasuke tadi, Sasuke masih saja terus tertawa melihat wajah Hinata yang tadi merah semakin memerah pertanda kesal. "Sasuke-kun K-kau…" kata Hinata sembari menekan pada kata 'Kau' "Kau harus diberi pelajaran rupanya!" dan sejurus kemudian Hinata sudah memukuli bahu Sasuke.
Dug
Dug
Dug
"Aduh Hinata… hentikan serangan lemahmu itu!" kalimat Sasuke disela tawanya. Namun pukulan dari Hinata yang sedang kesal masih terus berlanjut.
"Sasuke baka. Baka. Baka…"
Itachi baru kembali dari kamarnya, berdiri di tangga saat mendengar kedua adik tersayangnya terlihat akrab, dan entah mengapa ada sedikit kerisauan disana. 'Mereka Nampak akrab sekali. Jangan-jangan… ah tidak-tidak.' Mengikuti insting, ia tetap terdiam disana melihat kedua adiknya bercengkrama.
"Ahaha… kenapa? Kau memikirkan hal yang tidak-tidak. Eh? Sudah ku duga pikiranmu itu mesum Hinata.." katanya lagi, kali ini suara tawanya sedikit demi sedikit menghilang.
Pukulan pun berhenti saat tangan Sasuke yang tidak gemetar akibat tertawa tadi mencengkram kedua tangan Hinata. Mengambil nafas dalam-dalam. Mereka berdua akhirnya saling menatap lagi.
"Kau manis Hinata…" ucap Sasuke lagi-lagi menimbulkan semburat merah muda di pipi Hinata, dan itu membuat Sasuke lagi-lagi tersenyum kecil.
"A-apa lagi sekarang? K-kau m-mengerjaiku ha?"
"tidak. Kali ini serius. Kau manis, tapi saat kulitmu memucat seperti ini, kau tampak sedikit jelek kurasa. Haha…" lagi Sasuke mambuat Hinata kesal dan senang dalam 1 kalimatnya. Dasar Uchiha Sasuke.
"Sasukeee…." Dan Hinata kembali lagi ingin memukul Sasuke, tapi tidak bisa karena tangannya tertawan tangan Sasuke.
"Sudah sudah… kau kelihatan sedikit segar sekarang." Sasuke tersenyum manis pada Hinata, sedangkan mata Hinata terus menatap raut wajah Sasuke yang selama sebulan ini memenuhi pandangannya.
Wajah tampan, putih, bersih, tegas, sungguh mempesona siapapun yang melihatnya. 'Kami sama… kurasa aku jatuh cinta pada pemuda didepanku ini, hatiku tidak bisa berkata bohong lagi…'
Perlahan tapi pasti, tiba-tiba Sasuke mendekatkan wajahnya begitu pula Hinata, entah siapa yang memulai, namun pikiran mereka reflexks membuatnya bergerak mendekat, pikiran kosong, hanya dipenuhi wajah Sasuke dan Hinata seorang.
Perlahan dan perlahan saat jarak mereka semakin dekat, Hinata sudah memejamkan matanya, namun suara aneh menginstrupsi. "Kasaaaaaaannnnnn…."
"Itachi sialan." Dengus Sasuke tiba-tiba pikiran kosong yang penuh wajah Hinata, menjadi dipenuhi wajah Itachi yang sedang berteriak. Sedangkan Hinata. Saat mendengar teriakan Itachi, dirinya langsung membuka mata dan sontak menunduk, membuat akses Sasuke terhadapnya tertutup pony tebalnya.
"A-ano S-sasuke-kun, s-sebaiknya aku pulang… s-sudah larut." Ucap Hinata sembari memainkan kedua telunjuknya didepan dada, semburat merahnya masih menempel disana, dan semakin memerah kala ia mengingat adegan yang hampir merebut ciuman keduanya.
"Ya, kurasa ini sudah larut. Perlu kuantar?" jawab Sasuke dengan nada dingin, kekesalannya pada Itachi membuat suasana hatinya dingin, walaupun didepan Hinata.
"T-tidak usah… a-aku bisa p-pulang sendiri." Tolak Hinata.
"Tidak. Hinata… kau pulang bersamaku, aku menginap dirumahmu malam ini." Sontak kedua pasang mata menoleh kebelakang, kearah Itachi sedang berdiri dengan tatapan tak terdenifisikan.
"Apa maksudmu aniki? Menginap? Dirumah seorang gadis? Gila. Kalau begitu aku ikut menginap juga dirumah Hinata!" dengus Sasuke, sungguh ia tidak terima dengan perlakuan Itachi pada Hinata, di samping itu juga sebenarnya Sasuke cemburu, ia menyadari bahwa selama ini Itachi seperti dengan mudahnya memonopoli Hinata.
"Hey… otoutou tercinta." Dan sukses membuat Sasuke melotot kearah Itachi. "Aku sudah dapat ijin dari Neji, sedangkan kau? Aku tidak mengijinkan selaku wali Hinata di Konoha." Lalu Itachi berjalan kearah Hinata, mengambil tas yang berada dimeja dan menyerahkannya pada Hinata yang masih setia mendengar celotohan kakak beradik ini.
"Aku tidak mungkin membiarkan sepasang berbeda gender menginap bersama."
"kami bahkan pernah tidur seranjang Sasuke!"
Sial. Kalimat itu adalah kalimat tertabu yang pernah Sasuke dengar. Sedangkan Hinata menunduk dan makin salah tingkah. 'Kenapa Ita ni mengatakan hal itu pada Sasuke-kun… nanti dia berpikir macam-macam.'
Death glare ditunjukkan oleh Sasuke pada Itachi. "Aniki. Aku mau ikut!" paksa Sasuke.
"Tidak. Ayo Hinata. Lagi pula ada yang ingin ku bicarakan denganmu besok pagi-pagi." Hinata mendogakkan wajahnya dan menatap iris Itachi yang menatap serius padanya.
Hinata mengangguk dan berdiri, setelah itu mengarahkan dirinya pada Sasuke. "Sasuke-kun, kita bertemu besok di kantor ya." Lalu setelah mengatakan itu, ia berbalik kearah Itachi. "Aku pamitan dulu pada Jisan dan Basan." Dibalas anggukan oleh Itachi.
Seperginya Hinata, Sasuke memandang benci dan penuh selidik pada sang kakak. "Kenapa kau memandangku seperti itu otoutou? Dan lagi. Ingat! Kau punya Sakura." Setelah mengatakan itu, Itachi langsung bergegas menyusul Hinata. Meninggalkan Sasuke yang terdiam mencerna ucapan Itachi.
'Sakura ya….' Gumamnya perlahan.
...
"Jisan Basan. Hinata mau pamit pulang. Naruto-kun, Kiba-kun dan Shino-kun. Aku pulang duluan." pamit Hinata sambil tersenyum.
"Oke Hinata-chan… hati-hati dijalan ya…" balas Kiba dan Naruto bersamaan.
"Hn." Itu balasan dari Shino.
"Ya, hati-hatilah, jalanan gelap, Itachi akan mengantarmu." Ucap Fugaku kala melihat Itachi berjalan di belakang Hinata.
"Aku akan menginap dirumah Hinata sehari." Pamit Itachi, dan dibalas anggukan oleh Fugaku.
"Hinata-chan…. Besok atau tiap libur kesini ya… basan tunggu loh, janji!" teriak Mikoto.
"Baik. Hinata janji basan." Dan setelah menjawab permintaan Mikoto, Itachi dan Hinata berjalan keluar rumah, sebelum mencapai pintu keluar, Hinata lagi lagi bertemu pandang dengan Sasuke yang kala itu sedang kalut, masih terdiam duduk disofa sambil memandang Hinata.
"Aku pulang Sasuke-kun, ja." Hinata melambaikan tangan dan tersenyum.
"Hn." Hanya dibalas anggukan dingin dari Sasuke.
'ada apa dengan Sasuke-kun? Apa aku membuat kesalahan?'
…...
Sepanjang perjalanan. Hinata merasakan hawa aneh dari Itachi, seperti kekhawatiran, takut, dan perasaan tak terdenifisikan, membuat perjalanan mereka didalam mobil yang biasanya tertawa renyah bersama, kini diam dalam selimut keheningan.
Tak beberapa lama, Hinata dan Itachi sudah sampai dirumah, setelah memasukkan mobil Hinata kedalam bagasi, Itachi langsung masuk dan mengunci pintu rumah Hinata, mengekori Hinata yang berjalan kedapur, demi membuatkan minuman untuk Itachi.
"Ada apa Itachi ni? Sedari tadi Ita ni diam?" Tanya Hinata tanpa menoleh kearah Itachi yang berada dibelakangnya, ia mengambil cangkir dan teh celup.
"Hm… tidak." Jawab Itachi ragu.
Mendengar nada ragu, Hinata yang sedang mengalirkan air panas di cangkir teh, kemudian menghentikan pekerjaannya. "Kenapa? Katakana saja." Perintah Hinata, lalu ia kembali menuangkan air panas, dan meletakkan cangkir di sebuah nampan, tidak lupa ia mengambil cangkir berisi beberapa gula batu.
Mereka berjalan keruang keluarga dan duduk disofa nyaman Hinata, bersisian. "Ada apa Itachi ni?" ulang Hinata sembari meletakkan nampan berisi 2 cangkir teh dan 1 cangkir gula batu.
"Hinata… ada yang ingin nisan tanyakan padamu." kata Itachi penuh penekanan, dan memandang Hinata yang tengah sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"Ya?" Hinata memasukkan 2 gula batu kedalam cangkir teh nya. Dan mengaduk-aduk perlahan.
"K-kau… apakah kau menyukai otoutou ku?"
Deg.
Sukses membuat Hinata berhenti mengaduk, dan menoleh kearah Itachi dengan tatapan horror. "I-ita ni a-apa-apan pertanyaan itu?" kilah Hinata, lalu ia duduk dengan tegap, namun tak berani memandang Itachi.
Itachi menghela napas pasrah. "Jadi benar begitu…." Lagi. Itachi menghela napas.
Hinata langsung dibuat kikuk oleh helaan napas Itachi. "Hinata… kau tau kan aku menyayangimu? Menyayangi otoutouku juga?"
Hinata memandang Itachi lalu memangguk, sedetik kemdian, ia mengalihkan pandangnnya pada cangkirnya yang masih setia di meja. "K-kau… tau. maksud ku kau… tau keadaanmu- argh… bagaimana aku mengatakannya, semua ini membuatku frustasi!" teriak Itachi tiba-tiba, membuat Hinata kaget dan memandang Itachi penuh Tanya.
Posisi duduk Itachi sudah dalam keadaan frustasi berat, ia meletakkan kedua sikunya diatas pahanya yang terbuka, kedua tangan itu menautkan jarinya dan menempel pada dahi Itachi. Hinata yang masih bingung langsung mengelus punggung Itachi yang lebar dan kokoh. "Ita ni, sebenarnya ada apa?"
"Hinata… aku minta maaf." Lirih Itachi.
"M-maaf? Untuk apa? Ita ni tidak salah apa-apa…"
"Aku akan menjadi orang yang menolak perasaan mu pada adikku Hinata…"
Deg.
'Itachi ni tidak suka aku dengan Sasuke bersama….'
"Kau sakit, Sasuke sehat, cukup hanya aku yang akan menderita jika kehilanganmu Hinata."
Dan detik itu juga Hinata paham kemana arah perbincangannya dengan Itachi sekarang, ya Hinata ingat, hidupnya tak akan lama lagi, dan dia sekarang sedang mengharapkan cinta seseorang yang sudah jelas-jelas akan berakhir tragis? Tentu Itachi tidak akan membiarkannya, apalagi yang bercinta adalah adiknya, adik kandungnya, pasti Itachi akan melakukan berbagai cara agar cinta ini tidak akan pernah terjadi, dan Sasuke tidak akan menderita jika kehilangan Hinata.
Tes
Tes
Kedua mata Hinata menjatuhkan bulir-bulir air mata, seketika elusannya pada punggung Itachi berhenti, dan beralih mengelus pipinya sendiri, mencoba menghapus jejak agar kesedihannya tidak dilihat Itachi.
"kheh… hi hi hi." Hinata tersenyum manis. "Ita ni… kenapa berpikiran sejauh itu?"
Itachi langsung menoleh pada Hinata. "Aku tidak pernah jatuh cinta lagi, setelah aku putus dengan Ita ni…" mereka pernah berpacaran, tentu, tahun kedua perkanalan mereka, mereka pernah menjadi sepasang kekasih, dan putus di tahun kelima setelah mendengar Hinata sakit ditahun keempat perkenalan mereka.
Itachi bisa menangkap raut wajah bohong dari Hinata, namun, hatinya tidak ingin mengungkapkan hal itu, ia lebih memilih mengikuti kebohongan Hinata, dari pada mendengar Hinata benar-benar jatuh cinta pada adiknya. Itachi tidak ingin kedua adiknya patah hati, tidak, ia akan berusaha membahagiakan kedua adiknya apapun yang terjadi, walaupun pertama-tama ia harus mematahkan hati mereka, tapi sebelum terlambat, ia akan berusaha, mereka belum jadian, belum, dan harusnya tidak akan pernah.
"Hinata…"
"Ita ni, aku mengerti perasaan Ita ni, aku mengerti orang yang ditinggalkan akan merasakan sakit yang berpuluh kali lipat daripada orang yang meninggalkan, seperti kematian tousan dan kaasan, saat itu aku dan hanabi yang paling menderita, aku pernah merasakannya. dan Ita ni berusaha melindungi itu untuk Sasuke-kun."
Itachi masih diam mendengarkan, ada rasa bersalah disana, karena ia harus menyakiti hati Hinata, tapi ia harus, sebelum keduanya tidak bisa dipisahkan.
"A-aku… minta maaf." Dan detik ini, hati Hinata sangat sakit, lebih parah dari sakitnya saat putus meninggalkan Itachi, lebih parah dari rasa sakit yang ia derita akibat penyakit terkutuk ini, sakit melebihi saat dirinya kehilangan kedua orang tuanya, ia harus menyerah akan perasaannya sebelum berjuang untuk perasaanya. "A-aku minta maaf karena telah m-mebuat Ita ni j-jadi seperti ini… i-ita n-ni tidak usah cemas akan hal itu."
'Hinata… nisan minta maaf, maaf karena menyakiti hatimu, tapi nisan tau, kamu pasti mengerti mengapa nisan melakukan ini, maaf…'
Itachi memeluk tubuh Hinata erat, sebelum ia melihat lelehan air mata Hinata. tidak, ia tidak mungkin melihat air mata Hinata karena perbuatannya. memang ia egois, tapi ini demi kebaikkan keduanya.
Semakin erat pelukan itu, Hinata semakin yakin, kebohongannya sudah Itachi ketahui sejak pertama kali ia berbohong, itachi jelas tau Hinata menyukai Sasuke walau ia berkata tidak, dan detik itu, Hinata menumpahkan semua kesedihannya, memeluk erat Itachi dan menangis sejadinya sambil menggumamkan sebuah nama. "Sasuke…Sasuke… hiks."
…...
"Periksa secepatnya! Aku butuh data obat apa itu, dan di tujukan untuk penderita penyakit apa, mengerti? Aku harap besok akan kuterima hasilnya." Shikamaru berada disebuah laboratorium milik orochimaru, dokter sekaligus dosen yang mengajar kabuto dulu.
"Akan ku berikan informasi obat ini, besok pagi buta. Cih. Mengganggu saat tidur malam seseorang. Untung saja Manda sedang tidur, kalau tidak kau akan di lahap hidup-hidup olehnya."
"setahuku, ular akan mematikan mangsanya terebih dulu jika ingin melahapnya, ya sudahlah, aku pulang, besok pagi buta jangan lupa."
"dasar si mendokudasai."
…...
Pagi-pagi sekali, Sasuke sudah berada di kantornya, mengingat perkataan Itachi mengenai Sakura membuatnya merasa bersalah, kapan terakhir kali ia berkomunikasi dengan Sakura?
'Seminggu yang lalu?' batin Sasuke, lalu menggeleng. '2 minggu yang lalu?' menggeleng lagi. '1 bulan yang lalu?' diam sejenak lalu menggeleng lagi. "1,5 bulan yang lalu mungkin."
"Akhirnya kau ingat pacarmu ya Sasuke?" tiba-tiba seorang bermasker, berambut perak masuk kekantor Sasuke tanpa permisi.
"Bisa kau ketuk dulu Kakashi? Tidak sopan." Dengus Sasuke, lalu kembali membalik dokumen penting didepannya.
"Haha… terimakasih. Ada apa dengan Sakura? Biasanya anak itu tidak akan tahan untuk tidak menghubungimu, apa dia sudah bosan denganmu?"
Deg.
'Bosan ya?' kalimat Kakashi membuatnya merasa sedikit kesal, mana ada yang bosan dengan Uchiha Sasuke ini. Wajah Sasuke seketika memandang Kakashi dengan tajam, tak suka dengan statemen nya.
"Haha… mungkin kan Sas? Bagaimana? Sekarang kau menganggap Sakura berarti eh?"
"Apa yang kau bicarakan Kakashi? Sakura itu pacaraku, baka!"
"Tapi kau selalu mengacuhkannya Sasuke, jalan saja 2 bulan sekali kurasa…" Kakashi berusaha memancing amarah Sasuke rupanya.
"Diam, dan keluarlah!"
"Oke oke, aku akan berhenti, hey aku mau konfirmasi beberapa hal denganmu. Apa benar sahabat-sahabatmu membantumu menghancurkan Hyuga Corp karena ingin Hinata kembali?"
Sasuke mengubah mimic wajahya menjadi super serius sekarang. "Hn. Itu yang ingin kubicarakan denganmu, akhir-akhir ini aku lupa membahasnya karena pikiranku tersita oleh Hinata." Dan Sasuke mengaku dengan sendirinya.
"Sas, kau mengaku mencintai Hyuga Hinata?"
Sasuke baru sadar atas omongannya sendiri, secepat kilat ia menggeleng. "Lupakan! kembali ke topikmu. Mereka bilang padaku bahwa memang itu alasan mereka, dan parahnya lagi tadi malam mereka mendeklarasikan akan membantu membangkitkan Hyuga Corp."
"Sudah semestinya kan, Hinata sudah kembali, dan sekarang mereka akan membantu membangkitkannya demi meminta maaf, dan mereka pasti sudah merencanakan ini jika Hinata kembali kan?"
"Tidak. Tidak akan semudah itu, lagi pula mereka telah menusukku dari belakang namanya! Kau harus membantuku."
"haha… sudahlah Sas… apa untungnya sih menjatuhkan perusahaan itu, lagi pula kini Hinata ada dalam genggamanmu kan?"
"Benar. Tapi tetap saja.- oh ya, bicara mengenai Hinata, aku ingin kau mencari informasi tentang kesehatan Hinata."
"maksudmu?"
"Aku merasa aneh dengan hidupnya, mulai dari kulitnya yang pucat, mengkonsumsi suplemen aneh, dan kemarin dia sempat mimisan, sedangkan tadi malam, wajahnya dingin dan pucat. Entahlah, sepertinya aku harus tau tentang keadaannya."
Kakashi memicingkan matanya kearah Sasuke, "entah mengapa kau semakin mengaku bahwa kau mencintai Hyuga Hinata."
"memang." Dan kalimat itu disertai dengan tatapan tajam dari Sasuke, agar Kakashi segera pergi dari tempatnya sekarang dan mulai mengorek informasi kesehatan Hyuga Hinata.
…...
Rasa bersalah terhadap Haruno Sakura membuat pikiran Sasuke kalang kabut, ia tidak bisa berkonsentrasi, dan melakukan apapun selalu tidak benar, rasa bersalah semakin besar, tapi ia masih ragu menghubungi Sakura atau tidak.
Jujur saja, tanpa dihubungi Sakura seperti ini, hidupnya merasa… sedikit… Tenang?
Dan sejurus kemudian ia mengambil ponsel dan menghubungi Sakura, ya, sudah ditetapkan.
Tuuutt tuutt tuu-
'SASUKE-KUUNNNN….' Teriak Sakura, membuat Sasuke mendengus, menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Hn. Ini aku." Jawab Sasuke sekenanya.
'Aku kangen padamu Sasuke-kun, ah… rasannya senang sekali saat melihat namamu memanggil di layar ponselku, ah… aku semakin yakin jika kau mencintaiku sasuke-kun.'
'Sial. Aku menyesal menghubunginya.' Dengus sasuke dalam hati.
Belum sempat menjawab. lagi, Sakura menyela. 'Katakan kalau kau rindu padaku Sasuke-kun.'
'hah… permintaannya selalu aneh dan membuatku merinding.'
'cepat Sasuke-kuuuunnnnn.'
"Hn. Aku merindukanmu!"
'Siapa? Yang jelas. Hihi…'
Cklek
Pintu terbuka, Hinata memasuki ruangan Sasuke tanpa permisi, karena dia sedari tadi melamun.
"Aku merindukanmu." Sasuke membalik badannya, sedangkan Hinata kaget, baru menyadari jika sudah sampai didalam ruangan Sasuke. "Sakura…" kedua pasang mata itu bertemu.
'Sakura…' gumam Hinta dalam hati. 'Jadi Sakura itu sebenarnya siapa?'
'Yeiiyyyy…' sorak Sakura bahagia. 'Sasuke-kun malam minggu nanti-' ucapan Sakura terpotong.
"Ya, baik. Nanti aku hubungi lagi, selamat pagi." Dan hubungan itu pun tertutup.
Hinata tau apa yang terjadi. Apalagi saat Sasuke mengatakan. 'Aku merindukanmu Sakura.' Sepertinya Hinata merasa dikhianati, tapi dikhianati siapa? Karena apa? Hinata bukan siapa-saiapa Sasuke, dan Hinata teringat ucapan Itachi, lagi wajah Hinata mendadak sayu.
"H-hinata… kau sudah sampai?" pertanyaan konyol pagi ini dari Sasuke.
Hinata hanya mengangguk diam, dan saat itu Hinata menetapkan dirinya agar menjaga jarak dari Sasuke.
Selama meeting ia tidak menatap mata Sasuke sama sekali, dan mendiamkan Sasuke, hanya sekali dua kali ia menyerukan pendapatnya, dan setelah itu tak ada komunikasi, selesai meeting biasanya Hinata singgah dulu di ruangan Sasuke, tapi kali ini, tidak, ia ingin segera balik ke Hyuga Corp sebelum air mata menetes, dan hatinya sakit.
…...
2 hari setelah kejadian itu, Sasuke merasa Hinata sering menghindarinya, entah itu saat meeting di kantor Uchiha, entah saat Hinata berkunjung demi memenuhi ajakan ibu Sasuke untuk membuat kue resep baru, dan dikeadaan lainnya.
Hinata lebih suka tersenyum dan beranjak dari sisi sasuke kala sasuke berusaha berkomunikasi dengannya, membuat Sasuke marah akan tindakan Hinata padanya.
'Selalu seperti ini… apa lain kali aku harus berpamitan dulu jika mau mencium bibirnya itu?' ya… batin Sasuke mengatakan Hinata menjauh karena ia hampir berciuman dengan Sasuke lagi.
Dan Sasuke tidak bisa pasrah lagi saat Hinata lagi-lagi menjauhinya kala ia ingin mengobrol dengan Hinata di ruang keluarga, berdua, karena saat itu Hinata sedang menonton tv sendirian dirumah keluarga Uchiha, menunggu Mikoto yang sedang mandi.
"Aku harus mengangkat kue dari oven Sasuke…" ucapnya, tidak mau kalah, Sasuke mengekori Hinata dari belakang.
'Atau… apakah dia mendengar perbincanganku dengan Sakura ditelfon? Dia…. Cemburu?' seringai jelas tercetak di wajah Sasuke kala mengingat hal itu.
"Aku bisa bantu jika hanya mengangkat kue dari tampat ovenan." Pinta Sasuke.
"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri, sebaiknya kau duduk lagi saja, kau mau melihat acara televisi kan?" Hinata memasang celemek dan sarung tangan, tanpa menoleh kearah Sasuke.
"Kau kenapa Hinata?" Tanya Sasuke dengan rahang yang sudah mengeras. Tapi Hinata diam saja dan melanjutkan kegiatannya. "Jawab aku!"
Hinata mengehal napas. "Aku tidak apa-apa Sasuke."
"Bohong! 4 hari ini kau menjauh dariku, cepat katakan ada apa?!" bentak sasuke.
Hinata diam, masih membelakangi Sasuke. bukan karena ia tidak ingin menjawab, tapi matanya sudah membendung air mata, dan ia yakin suaranya akan berbeda sekarang dari normalnya.
"Aku sudah cukup bersabar! Biasanya aku tidak akan membiarkan kesabaranku hingga selama ini Hinata Hyuga! Jawab aku!" lagi. Sasuke membentaknya.
"Eh… ada apa ini Sasuke? Kenapa kau membentak Hinata-chan?" Mikoto tiba-tiba datang dan mendengar anaknya teriak-teriak pada seorang gadis. Ia kemudian berlari kearah Hinata yang masih membelakangi Sasuke, lalu dari arah samping Hinata, Mikoto melihat air mata Hinata sudah menetes, untungnya tidak menjatuhi tempat kue-kue keringnya.
"Sasuke-kun kenapa sih? Jangan membuat gadis menangis dong, bicarakan baik-baik, kasan tidak pernah mengajari sasuke-kun galak sama seorang gadis kan?!" ucap Mikoto penuh penekanan.
Sasuke terbelalak, 'Hinata menangis? Apa aku memang terlalu kasar padanya? Huh, tapi apa boleh buat, kelakuannya membuatku frustasi.'
Sasuke segera menarik Loyang dalam genggaman Hinata dan menyerahkannya pada Mikoto, ia tarik tangan Hinata dan membawanya keatas kearah kamarnya tanpa memperdulikan teriakan Mikoto ataupun penolakan Hinata yang sedari tadi mengibas ngibas lengan yang sedang menjerat tangan Hinata, sedangkan Mikoto tersenyum.
"Dasar anak muda… bisanya bertindak ekstrim." Kemudian kembali melakukan rutinitas memasak untuk makan malam.
Di kamar Sasuke.
Sasuke menyeret Hinata kedalam kamarnya, lalu
BlaAM
Cklek
Mengunci pintu dan membalik badan kearah Hinata yang sudah terdiam dibelakang Sasuke sambil memegangi pergelangan tangannya. "Ada ada? Katakan!" ucap Sasuke tanpa basa-basi.
Ia pun berjalan kearah Hinata, dan memegang pundak gadis itu, kepala Hinata menunduk beberapa derajad tak berani menatap bola mata Sasuke yang mengintimidasi. "Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku lagi setelah ini, dan jika kau tidak menjawab, kau akan kuhukum, menjeratmu selamanya didalam hidupku!"
Deg.
Hinata mengangkat kepalanya. Sasuke tersenyum miring mendapatkan reaksi Hinata, dan sedetik kemudian wajahnya berubah sendu, kala mata Hinata sudah sembab. 'Sebenarnya ada apa dengan gadis ini…'
"Katakan padaku ada apa dengan mu?"
Tes.
Lagi, air mata kini yang berkata, Hinata masih belum sanggup mengatakan apapun. "Hiks." Dan hanya lirihan tangisannya yang ia berikan pada pertanyaan Sasuke.
"Hinata… kau ini!"
Grep
Sasuke memeluk Hinata erat, dan Hinata membalasnya dengan pelukan yang erat juga. "A-aku…" Hinata mulai bersuara.
"Ya?" bagaikan tersiram air dingin, jawaban Hinata membuat hatinya meluas.
"G-gomen…"
"Bukan itu Hinata, aku perlu jawabanmu." Dan Sasuke lagi-lagi memeluk Hinata dengan lebih erat, seakan takut Hinata akan melarikan diri darinya.
"A-aku t-tidak b-bisa mengatakannya p-padamu S-sasuke… g-gomen."
"Errrggggg... Hinata, habis sudah kesabaranku padamu. Katakan sekarang juga!" perintah Sasuke. Dengan nada yang sungguh kesal dengan jawaban Hinata.
Hinata merasa sesak, akibat pelukan dan belum lagi hidung mampet karena tangisannya, ia mendorong Sasuke agar melepaskan pelukan, tapi Sasuke tidak mau, dan beruntung Sasuke sedikit melonggarkan pelukannya. "katakan, ku mohon… jangan membuatku tersiksa Hinata…"
"A-aku… harus menjauh darimu Uchiha Sasuke!" Hinata mendorong Sasuke, dan sukses memberikan jarak diantara mereka.
Sedangkan Sasuke kaget dengan perlakuan Hinata padanya.
'Menjauh? Tidak akan pernah!'
TBC
Balesan Riview
Megami yozora, astia morichan, arum junnie, Aheleza kawai, makasih masih tetep baca Fic ini ya... :) oke, ini udah lanjut. Lovely SasuHina hehe, sebenernya ini gegara Authornya yang sedikit gak peduli chara lain selain SasuHina, hehe, gomen, nanti di perbaiki lagi sifat Author yang kayak gini. Guest hihi,,, aku juga pasti akan kecewa, tapi selama napas ini masih ada, selama umur masih dibadan, SASUSAKU ndak pernah ada dalam kamus hidup Fic ku, hehe, always pairing SasuHina, entah itu Sad atau Happy, tapi Sasuke tidak akan pernah hidup dengan Sakura di Fic ku, katakan tidak pada SasuSaku, :) jadi tenang aja... qq sejujurnya ada 2 ending disini, masih milih, antara Happy dan Sad, udah dipikirin mateng-mateng, sudah... tenang saja, ikuti Fic nya ya :) Chipana nanti mungkin endingnya, diikuti aja ya... :) 2 hihi, makasih, pada nanya hubungan SasuSaku karena jarang dibahas ya? hehe... aku kurang suka nulis romance SasuSaku, rasanya Sasuke mengkhianatiku, tapi Author akan mencoba profesional, nanti akan ada adegannya, tapi ndak janji romance ya, karena Author yakin tidak akan bisa membuatnya. MS.X nah yang ditunggu dateng nih, emang di chap 6 aku males ngedit, hehe gomen...ngomong-ngomong masalah Ryu Pm aneh-aneh apa nggak, aku udah janji ndak akan buka mulut, gomen... hehe salah sendiri ndak buat akun FFn. wkwk, makasih atas sarannya, dan kritikannya, setuju sama quote kamu, mohon dikasari lagi ya biar cepet halus. :) dan Fic chapter ini lebih panjang kan? Guest2 iya ditunggu aja ya :) Lovely SasuHina Sakura udah ngerti kok perasaan Naruto, tapi kan cinta Sakura gede banget sama Sasuke, hehe, nanti di akhir chap kayaknya Narusaku berjaya deh. wkwk.
sekin balesan riview nya, Ai ucapin makasih sedalam-dalamnya buat temen-temen yang baik udah ngereview maupun menjadi silent rider, thx for you guys...
tunggu chap berikutnya...
