SULLI

Menjelang ujian akhir semester, tidak banyak pertandingan basket antarsekolah yang diadakan. Hal ini membuat jadwal latihan cheers semakin berkurang, dan Kyuhyun bersyukur untuk itu. Kini, dia tidak lagi bertegursapa dengan Sulli. Di kelas, mereka terpisah dalam sudut yang berlawanan, Kyuhyun dengan Kibum dan Victoria, Sulli dengan teman-temannya. Terkadang, jika berpapasan dengan sesama cheerleader, mereka akan tersenyum sekilas pada Kyuhyun, tetapi tidak pernah benar-benar memulai percakapan seperti yang dulu mereka lakukan. Awalnya Kyuhyun merasa tidak nyaman, seperti kehilangan teman dekat, tapi dia akhirnya sadar, bahwa sebenarnya teman-teman itu tidak pernah menjadi miliknya.

Bukankah lucu jika persahabatan harus memiliki sebuah alasan? Lebih lucu lagi karena sebuah hubungan pertemanan bisa putus begitu saja hanya karena alasan itu sudah tidak lagi eksis. Kyuhyun merasa sedih jika memandang murid-murid perempuan berseragam cheers sedang berkumpul di sudut ruangan, tertawa-tawa tanpa dirinya. Dulu dia sempat menjadi bagian dari mereka.

Dia pun tahu Sulli mengharapkan dirinya berhenti dari tim. Keluar begitu saja, dengan alasan tidak tahan diperlakukan seperti orang asing, dan merasa tidak lagi diterima di sana. Tapi, Kyuhyun tidak ingin berbuat begitu untuk melayani ego mereka. Jika dia sudah kehilangan teman-temannya, dia tidak ingin kehilangan cheers juga.

Hari ini pertandingan basket tahunan antara TX SHS dan SM SHS dilaksanakan lagi. Tepat setahun yang lalu, acara inilah yang mempertemukan Kyuhyun dengan Changmin.

Kapten basket yang kini menggantikan posisi Changmin berdiri di tengah lapangan sambil men-dribble bola. Kyuhyun masih ingat dulu Changmin melakukan hal yang sama, memicingkan mata untuk mencari anggota timnya yang sedang berda dalam posisi bebas. Pandangan mereka sempat bertemu untuk sepersekian detik, lalu pecah oleh gerakan lawan yang mencoba merebut bola itu dari tangan Changmin. Sudah lama sekali, tapi masih segar dalam ingatan seakan baru terjadi kemarin.

Kyuhyun melakukan gerakan rutin yang sudah dilatihnya tanpa semangat. Kenangan-kenangan itu terasa masih mentah dalam benaknya. Changmin, Sulli, Kibum, malam itu. Dia bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa gerakanna sudah melenceng jauh dari anggota cheers yang lain.

.

Sulli membiarkan air dari keran shower menitik turun dan membasahi tubuhnya seperti gerimis. Dia selalu menyukai perasaan memenangkan sebuah pertandingan, merasa menjadi bagian dari kemenangan itu, walau hanya berada di samping untuk menyemangati.

Hanya saja, hari ini dia tidak merasa menang. Entah karena alasan apa, adrenalin yang sama tidak dirasakannya, hanya kehampaan yang amat sangat.

Dia mengingat Wajah Kyuhyun ketika melihat Changmin dalam gandengan tangannya. Wajah Changmin ketika mengetahui bagian dari rencananya, dan tatapan mata pemuda itu ketika berbalik untuk meninggalkannya. Pandangan itu lebih menyakitkan daripada kata-kata penuh amarah dan kesedihan yang dia harapkan dari Changmin. Air mata kini berbaur dengan air dingin, mengguyur Wajahnya yang kotor oleh keringat dan debu. Sulli memutar keran, berharap dentuman air menyembunyikan isakannya supaya tidak terdengar oleh siapa pun.

.

Kyuhyun meletakkan peralatan mandinya di sisi wastafel, membersihkan Wajahnya dengan sepotong kapas. Dia selalu menunggu hingga anggota cheers lain sudah pulang sebelum menyelinap ke dalam ruang ganti untuk membersihkan diri, karena dia merasa tidak nyaman bertukar pakaian di tengah orang-orang yang tidak bersahabat dengannya.

Samar-samar, didengarnya suara tangisan dari salah satu ruang mandi yang sedang digunakan. Kyuhyun tidak tahu masih ada orang di sana, karena tadi dilihatnya sekelompok murid perempuan berjalan keluar dari ruangan itu sambil tertawa-tawa.

Dengan tentatif, ia menghampiri kubikel yang tertutup oleh tirai plastik, mengulurkan tangan untuk menyibakkannya, tapi lalu berubah pikiran dan memutuskan untuk menunggu, menemani siapa pun yang ada di sana hingga tangisannya mereda.

.

Baik Kyuhyun maupun Sulli sama-sama terkejut ketika mendapati satu sama lain di ruangan itu. Sulli keluar dengan rambut basah, tetapi yang mengejutkan Kyuhyun adalah betapa pias Wajahnya, bibirnya pucat dan kedua matanya merah. Dia belum pernah melihat Sulli terlihat rapuh—sama sekali. Sulli selalu terlihat composed, percaya diri, penuh otoritas.

"Sulli?"

Sulli mengangkat dagu dengan angkuh dan mengubah ekspresinya, tapi Kyuhyun tidak tertipu.

"Kau... tidak apa-apa?"

Mereka saling menatap, memikirkan seribu satu makna yang terkandung dalam satu pertanyaan sederhana itu. Mereka sama-sama tidak pernah menanyakannya kepada satu-sama lain, mungkin karena mereka tidak pernah menjadi seakrab itu untuk saling memperlihatkan sisi rapuh masing-masing.

"Kau masih peduli?"

Mata Kyuhyun menyipit mendengarnya. "Kita pernah berteman, Sulli. Aku masih menganggap kau salah satu teman dekatku."

Sulli terkekeh hambar. "Bahkan, setelah hal-hal jahat yang ku perbuat?"

"Hal-hal yang kau lakukan itu beralasan, bukan?"

Kyuhyun sering kali memikirkan kejadian malam itu, perkataan Sulli yang menusuk, pengakuan Changmin yang membuatnya kecewa, dering lonceng sepeda Kibum. Dan, yang paling tidak bisa dilupakannya adalah sorot mata mereka, terutama Sulli. Saat itu, dia mengartikannya sebagai perasaan menang telah menyakiti Kyuhyun, bangga telah membawa Changmin ke sisinya, tapi kini Kyuhyun menyadari, pandangan mata itu penuh kesedihan. Sudah berapa kali dia melewatkan ekspresi yang sama? Ketika dia bercerita penuh semangat mengenai perkembangan hubungannya dengan Changmin, dia hanya memikirkan kesenangannya sendiri, tanpa memperhatikan perubahan raut Wajah Sulli. Kyuhyun lupa betapa sering Sulli menyebut nama Changmin sebelum pertandingan basket antarsekolah itu dimulai, melupakan pandangan memuja yang disapukan Sulli pada pemuda itu saat mereka berkumpul di lapangan, dan senyumnya ketika membicarakan Changmin.

Kyuhyun terlambat menyadari bahwa dialah yang sudah melukai Sulli.

"Maaf."

Sulli mendongak cepat, mengira dirinya salah dengar. "Maaf?" ulangnya ragu.

Kyuhyun mengangguk. "Maaf, karena aku juga tidak pernah menjadi teman yang baik untukmu. Aku tidak pernah sadar jika kau sangat menyayangi Changmin."

Sulli menggeleng, ekspresi Wajahnya letih. "Kau pasti senang sudah menemukan kelemahanku, tapi aku tidak butuh dikasihani."

"Bukankah kita berdua sama-sama terluka oleh hal yang sama?"

Sulli tersenyum pahit, menyadari kebenaran di balik pertanyaan itu. "Dia pernah menyukaimu, sedangkan dia sama-sekali tidak punya perasaan apa-apa untukku. Benci, mungkin."

Kyuhyun tahu alasan sebenarnya Sulli melakukan hal itu bukan sekedar untuk melukainya, tapi untuk membuktikan sesuatu—perasaan Changmin yang sesungguhnya. Dia juga paham bagaimana rasanya mengetahui bahwa cinta yang kita miliki selama ini bertepuk sebelah tangan, dan kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubahnya.

"Changmin berkata dia akan pergi ke Australia untuk menyusul Sooyoung. Dia tidak menyalahkanmu untuk sesuatu yang sudah seharusnya dia lakukan sejak dulu."

Sulli menggeleng. "Kau tidak tahu, aku sudah memperhatikan Changmin selama bertahun-tahun, sejak kami bertemu di pesta ulang tahun Sooyoung. Dia tidak ingat padaku sama sekali, karena pandangannya selalu mengikuti gerak-gerik Sooyoung. Lagi pula, siapa yang tidak jatuh cinta pada Sooyoung? Dia sempurna, punya segalanya. Tapi dia tidak bisa menerima Changmin, justru berhubungan dengan seorang guru yang sudah menikah. Aku invisible di hadapan Changmin. Dia tidak pernah melihatku, padahal aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk terlihat. Dia banyak berpacaran dengan gadis-gadis lain setelah ditinggal Sooyoung, sampai akhirnya dia bertemu denganmu. Kenapa harus kau? Kenapa dia bisa melihatmu dan gadis-gadis itu, dan bukan aku?"

Kyuhyun tidak berusaha menjawab pertanyaan itu. Perlahan, dia mendekat dan menyentuh lengan Sulli dengan gestur bersahabat.

"Kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk menyukai kita. Yang bisa kita lakukan Hanya merelakan, berharap supaya dia bahagia." Kyuhyun tidak dapat menahan diri untuk menyelipkan sebuah canda. "Walau yang jelas dia rugi besar karena sudah melewatkan gadis-gadis hebat seperti kita, bukan?"

Sulli mengangguk, diWajahnya tersungging seulas senyum tulus yang pertama kali Kyuhyun lihat, walau kedua matanya berkaca-kaca. Mereka mungkin tidak lagi bersahabat, tapi Kyuhyun senang dapat memulai halaman baru dengan seseorang yang bisa disebutnya teman.

.

SURAT UNTUK KIBUM

Kibum melongok ke dalam kotak pos, menemukan beberapa amplop di dalamnya. Tagihan kartu kredit milik Nickhun, katalog, undangan untuk kedua orangtuanya, lalu sepucuk surat beramplop putih yang ditujukan untuknya.

Nama sekolah yang tertera di sudut amplop membuat hatinya bergejolak. Beberapa bulan yang lalu, dia pernah mengirimkan aplikasi dan rekamanaudisi atas rekomendasi guru musiknya, lalu melupakannya segera setelah mengeposkannya. Sekolah itu adalah salah satu sekolah musik terbaik di Amerika, dan dia tidak terlalu berharap dapat diterima, karena banyak sekali anak-anak berbakat yang gagal masuk ke sana. Disobeknya ujung amplop dengan perasaan tidak enak. Kata-kata yang tercetak pada lembaran suratnya membuat Kibum gelisah.

Kibum mengumpulkan surat itu dan menyelipkannya ke dalam saku, mencoba melupakan.

.

"Bum."

Sebuah tangan mungil dikibaskan di hadapan Wajahnya, membuatnya tersadar dari lamunan.

"Bum!"

Suara itu kian tak sabaran. Kibum mengerjapkan mata dan memfokuskan pandangan pada Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan aneh.

"Kenapa dari tadi melamun melulu."

Kibum baru menyadari bahwa sedari tadi suaranya menggema di ruangan. Kyuhyun sedang mendengarkan rekamanberisi lagu-lagu yang direkamnya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Dengan satu gerakan, dimatikannya, menghentikan lagu yang baru memasuki reff.

Kyuhyun merengut. "Kenapa dimatikan?"

"Jelek."

"Bagus. Jika jelek kenapa sering kuputar?"

"Jelek."

"Bagus."

"Jelek."

Kyuhyun mengembuskan napas kesal. "Kau selalu pesimis, padahal lagu-lagu ini bagus sekali, lho. Tidak kalah dengan lagu-lagu yang sering diputer di radio."

"Jika kau mendengarkan suaramu sendiri menyanyikan lagu-lagu ini, kau akan mengerti mengapa aku merasa risih."

Kyuhyun mengangkat bahu, lalu menarik iphone itu lalu memasukkan earphone miliknya. "Jika kau tidak mau mendengarkan, biar aku saja."

Sejak memiliki rekaman itu, Kyuhyun semakin sering mendorongnya untuk menulis lebih banyak lagu, juga mengambil kesempatan untuk manggung di kafe-kafe kecil. Dia selalu berkata bahwa lagu-lagu Kibum harus didengarkan oleh semua orang, ada dalam setiap CD player dan dikumandangkan di stasiun radio terkenal.

Hiperbola, Kibum tahu, karena lagunya tidak sebagus itu. Masih perlu banyak perbaikan di sana-sini, dan permainan gitarnya tidak sempurna. Lagi pula, dia benci mempertunjukkan lagunya di depan khalayak ramai, dan ini sudah menjadi rahasia umum. Kibum ingin belajar musik lebih banyak lagi, di sebuah lingkungan yang profesional. Itulah satu-satunya alasannya mengirimkan aplikasi ke sekolah itu. Dan, kini begitu surat penerimaannya tiba, dia malah tidak tahu harus berbuat apa.

Nickhun yang menemukan gumpalan surat itu di tepi tong sampah ketika sedang berkunjung ke kamarnya. Rasa penasaran membuatnya meraih lembaran lecek itu dan meluruskannya untuk membaca isinya.

"Kau daftar ke universitas musik di luar negeri?"

Kibum tertegun. "Diminta oleh guru musik di sekolah," dia berusaha menjawab senetral mungkin.

"Dan kau diterima untuk audisi kedua. Lalu, kenapa surat ini akan dibuang?"

Kibum menyambar surat itu. "Bukan dibuang, tapi tercecer." hyungnya tidak percaya, dia tahu itu. "Kau ingin pergi?"

"Masih belum tahu."

"Ini kesempatan yang jarang datang."

Kibum juga tahu itu. Gurunya sudah menceritakannya berulang-ulang, bahwa sekolah musik itu menetapkan standar yang tinggi dengan acceptance rate hanya tujuh persen. "Aku masih belum bisa memutuskan."

"Karena Kyuhyun?"

Sebagian besar, ya. Dia tidak ingin meninggalkan Kyuhyun, Victoria, sekolah, rumahnya. Kyuhyun, terutama. Siapa yang akan menjaga gadis manja itu jika dia tidak ada? Lagi pula, bukankah banyak sekolah musik yang bagus di Seoul?

"Dia sudah dewasa, Bum." Nickhun melanjutkan seakan-akan dia bisa membaca penjelasan dalam kepala Kibum dengan gamblang. "Membuat pilihan bukan berarti harus meninggalkan salah satu. Kau masih bisa memiliki keduanya—persahabatan dan cita-cita."

Kibum menatap hyungnya datar. Tidak semudah itu. Baginya, pilihan adalah menentukan mana yang lebih penting bagi dirinya.

Bagaimana jika dia kembali dan Kyuhyun sudah berubah? Atau, justru dia yang berubah?

.

"Pergilah, Bum, it'd be silly to waste such a big opportunity."

Kibum sudah mengira Victoria akan berkata begitu, dengan nada yang sama seperti hyungnya. Sebenarnya, dalam hati dia pun tahu itu adalah jawaban yang benar, tapi dia masih menyimpan secercah keraguan. Surat itu masih di antara sampah yang tidak lagi diinginkannya. "Jika memang tidak ingin pergi, mengapa harus ragu?"

Kibum ingin pergi. Kibum ingin belajar. Kibum ingin menjadi seseorang. Tetapi, mengapa sulit untuk menjelaskan?

"Jangan bercerita pada Kyuhyun dulu sebelum aku memutuskannya, Vic?" pintanya pada Victoria. "Aku butuh waktu."

Victoria hanya menggeleng-geleng dengan pasrah, lalu menyipitkan mata untuk mengamati Kibum. Ia mengambil gumpalan surat penerimaan itu dari tempat sampah dan meletakannya di meja Kibum, sebuah pesan agar ia memikirkannya baik-baik.

.

Akhir-akhir ini, Kyuhyun merasa Kibum terlihat kurang bersemangat. Dia sering melamun jika diajak bicara tentang ujian akhir. Gitarnya diletakkan jauh-jauh di sudut lemari, lagu-lagu yang dulu sering disenandungkannya hampir tidak pernah terdengar lagi. Setiap kali Kyuhyun memutar rekaman pemberian Kibum keras-keras, lelaki itu pasti segera mematikannya. Terkadang, dia memandang Kyuhyun lama, seakan sedang berusaha menemukan sebuah jawaban.

Akhir-akhir ini, Kyuhyun tidak bisa mengerti Kibum.

"Ada apa?" Begitu dia selalu bertanya.

"Tidak ada apa-apa." Begitu juga jawaban otomatis itu selalu terdengar.

Kibum juga enggan membicarakan pilihan kampusnya. Ketika Kyuhyun membicarakan kehidupan kampus yang tampaknya menyenangkan, Kibum terlihat masa bodoh dengan semuanya.

"Jika sudah menjadi mahasiswa nanti, kita masih tetap bisa hangout bersama, Bum. Kalau jam kuliahnya pas, kita bisa janjian makan siang juga, dengan Vic. Seru banget, bisa belajar memakai baju bebas, tidak terikat peraturan macam-macam dan tidak ada hukuman kalau membolos. Rasanya jadi seperti orang dewasa, benar tidak?" Kibum hanya mengangguk tanpa banyak komentar.

Kyuhyun tidak jadi meneruskan ocehannya. Ia terdiam menatap Kibum lama, menunggu hingga sahabatnya jengah dan mendelik ke arahnya.

"Ada apa!" cetus Kibum dengan tidak senang. "Mengapa aku diperhatikan seperti objek penelitian begitu?"

"Justru aku yang harusnya bertanya begitu, Bum. Kau kenapa? Akhir-akhir ini selalu begitu, menghindari pembicaraan. Menyebalkan, dicueki seperti itu."

"Jadi aku harus bagaimana?"

"Cerita, jika ada yang mengganggu pikiran."

Kibum menghela napas. Dia tahu pada akhirnya dia harus memberi tahu Kyuhyun yang sebenarnya. Dalam beberapa hari ini, dia sudah membicarakan kepergiannya ke Amerika dengan guru musiknya, juga keluarganya dan Victoria. Mereka semua sangat mendukung, apalagi kesempatan semacam ini jarang datang dua kali. Kini yang belum dilakukan Kibum adalah memberitahu Kyuhyun, dan ini adalah bagian yang tersulit untuknya. Bagaimana caranya, jika setiap hari yang bisa dibicarakan Kyuhyun adalah betapa senangnya jika mereka bisa kuliah di tempat yang sama? Setiap kali ingin buka mulut, Kibum berhenti dan menyimpan kembali kata-katanya. Dia tidak ingin ada ekspresi kecewa di Wajah mungil itu.

Namun, ketika memandang Wajah Kyuhyun yang bahagia, Kibum sadar akan sangat tidak adil jika tidak segera memberi tahunya. Sekarang, Kyuhyun memandanginya dengan intens, menunggu apa pun jawaban Kibum yang bisa menjelaskan perilaku anehnya belakangan ini. Kibum menghela napas, lalu berdiri dan berjalan ke arah meja belajarnya, membuka laci paling atas tempat surat-surat mengenai kepergiannya ke Amerika tersimpan. Lembaran surat penerimaan masih terletak paling atas, lecek karena Kibum pernah berusaha melenyapkannya. Diambilnya kertas itu dan diberikannya tanpa kata-kata kepada Kyuhyun.

Kyuhyun menerimanya dengan ekspresi bingung. Diluruskannya lembaran tersebut dan dibacanya sekilas. Kibum menunggu perubahan raut Wajah Kyuhyun, seperti yang telah diduganya. Perubahan itu datang. Terkejut, pada awalnya, lalu gembira, lalu sedih. Berubah kecewa.

"Ini surat apa?" Dia bertanya walaupun isinya sudah jelas.

"Surat yang menyatakan aku diterima di sekolah musik, di New york." Kibum berusaha menjelaskannya sedatar mungkin, tetapi tidak dapat menghentikan gejolak aneh dalam suaranya.

"Aku tidak tahu kau apply ke sekolah di luar negeri."

Kibum mengangguk. "Aku apply beberapa bulan yang lalu atas rekomendasi Lee Saem, yang juga alumni sekolah itu. Aku tidak menyangkan akan diterima, maka dari itu aku tidak pernah bercerita pada siapa-siapa."

"Kau sudah memutuskan untuk pergi ke sana?" Pertanyaan itu bernada menuduh.

"Aku tidak tahu." Kibum meringis dalam hati. Dia tidak ingin berbohong pada Kyuhyun, bahwa ada sebagian besar dari dirinya yang sudah memutuskan bahwa dia ingin mengambil kesempatan langka ini.

"Semua orang sudah tau? Orangtuamu, Nickhun Oppa, Vic?"

Kibum menunduk, tidak dapat menjawab. Dia tidak menemukan jawaban untuk berkata-kata, kata-kata yang akan memperbaiki kesalahannya dan mengobati Kekesalan Kyuhyun.

Kyuhyun tersedak dengan tawanya sendiri, tetapi kedua matanya berlinang air mata. "Selamat ya, Bum. Kau memang hebat."

Kibum merasa hatinya kecut ketika air mata pertama meluncur di pipi Kyuhyun. Dia telah membuat Kyuhyun menangis. Selama ini, dia berjanji akan menghajar jahanam mana pun yang membuat Kyuhyun menangis, tapi ternyata dialah si berengsek itu. Dipandangnya gadis itu meremukkan surat penerimaannya sekali lagi, lalu beranjak keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata pun.

.

Kyuhyun meremas erat-erat surat di kepalan tangannya dengan gemas, lalu melemparkannya ke ujung ruangan. Bola kertas itu memantul sedikit di ujung tempat sampah lalu berguling ke lantai.

Patutkah ia kesal? Bukankah seharusnya dia gembira karena Kibum berada satu langkah lebih dekat menuju mimpinya?

Dia tidak menghiraukan ketukan samar pada pintu kamarnya. Didengarnya pintu berderit terbuka, juga langkah kaki yang berjalan mendekat. Victoria.

Kyuhyun menoleh, bekas air mata masih menodai Wajahnya, Victoria mengulurkan sebelah tangan untuk menghapusnya. Dibelainya helaian anak rambut Kyuhyun yang menempel di sisi Wajahnya yang basah, lalu menyelipkannya di balik telinga. "Kau marah karena Kibum akan pergi atau karena dia memutuskan tanpa memberi tahumu?" tanyanya lembut.

"Aku marah karena aku menjadi orang terakhir yang tahu." Kyuhyun menatap Victoria. "Aku marah pada diri sendiri karena aku egois. Lebih egois lagi karena aku tidak ingin dia pergi."

Raut Victoria berubah muram. "Kita semua tidak ingin dia pergi, Kyu. Kibum tidak berani memutuskan kepergiannya karena memikirkan kita, terutama kau. Tapi terkadang, kita harus membiarkan dia membuat pilihan yang terbaik."

Pertanyaannya adalah, yang terbaik untuk siapa?

*sursursure*

Wish #43: saling memiliki, apa pun yang terjadi (Kibum, Kyuhyun, dan Victoria)

Sudah tengah malam. Kibum bolak-balik berjalan mengelilingi kamarnya, menghempaskan tubuh di atas tempat tidur, melongok ke luar jendela, bahkan mencoba untuk tidur, tapi tidak berhasil. Akhirnya ia menyerah dan menyambar ponsel, hampir saja menekan digit-digit angka yang dihafalnya di luar kepala, jika tidak menyadari bahwa sudah terlalu malam baginya untuk menelepon. Oh ya, Kyuhyun juga sedang marah padanya.

Frustasi karena insomnia dan rasa tidak nyaman yang menyesakkan dada, Kibum bangkit lalu berjalan ke luar melalui pintu belakang di dapur. Tiba-tiba saja ia ingin melompat-lompat di atas trampolin, sekedar untuk melampiaskan Kekesalannya.

Kibum tidak menyangka akan menemukan Kyuhyun di sana, mengenakan setelan piyama putih dengan corak kelinci, berbalut selimut perca yang selalu dipakainya setiap malam. Kyuhyun tampak terkejut juga ketika melihatnya tapi tidak ingin berkata-kata, hanya menatapnya dingin.

"Sedang apa kau malam-malam di sini sendiri?" Pertanyaan itu terdengar kasar, padahal Kibum tidak bermaksud begitu.

"Ingin merasakan bagaimana rasanya duduk sendiri di sini, setelah kau pergi nanti."

Entah mengapa jawaban itu justru membuat Kibum sedih.

"Kyu, aku minta maaf. Karena aku egois, dan aku berengsek. Untuk pertama kalinya aku mengakui hal itu."

Sudut-sudut bibir Kyuhyun terangkat, hampir membentuk seulas senyum, dan Kibum merasa sangat lega melihatnya.

"Aku tau seharusnya aku langsung memberi tahumu saat daftar ke sekolah itu, juga waktu aku diterima. Tapi sebelumnya aku ingin memikirkan keputusanku matang-matang, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari. Aku tidak bisa bercerita, karena aku tahu kau pasti kecewa."

"Kau sangat ingin masuk sekolah itu bukan, Bum?" Ketika Kibum tidak menjawab, Kyuhyun menatapnya sendu. "Aku mengerti. Maaf, karena aku menjadi alasan yang membebanimu dalam mengambil keputusan."

Kibum tercekat saat mendengar permintaan maaf itu. "Jangan berkata begitu."

Kyuhyun tersenyum, walau masih dengan air mata di pelupuk matanya. "Bodoh. Aku akan selalu mendukungmu, apa pun yang kau pilih. Selama itu adalah impianmu."

Kibum tidak dapat menahan diri untuk beranjak mendekat dan menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya, tidak lagi berpikir apa yang seharusnya dia lakukan dan tidak lakukan. Gadis dalam pelukannya tidak meronta, justru mengulurkan kedua lengan untuk balas melingkari pinggangnya. Mereka berpelukan dalam diam, dua sahabat yang saling mengerti dan menerima bahwa mimpi yang berubah menjadi kenyataan adalah hal terbaik yang dapat terjadi pada seseorang. Walaupun salah satu dari mereka harus berkorban untuk itu.

.

DEPARTURE

Hari ini, Kibum dan Kyuhyun berjanji untuk menghabiskan hari terakhir Kibum di Seoul bedua saja. Kyuhyun berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menangis, apa pun yang terjadi, tapi janji itu sepertinya lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.

Menjelang kepergian Kibum, ia berusaha keras untuk tampak gembira, memasang ekspresi bangga walaupun sejujurnya ia masih menyimpan sedikit luka di hati. Puncaknya adalah ketika dia dan Victoria membantu mengepak barang-barang Kibum. Melihat separuh isi kamar Kibum yang kini berpindah ke dalam koper, entah mengapa Kyuhyun merasa tertekan. Dia tidak menyadari bahwa dia sedang menangis hingga Victoria menegurnya lembut.

Buru-buru, Kyuhyun mengusap air matanya, berharap teman-temannya tidak akan mempermasalahkannya lebih lanjut. Tapi, Kibum meletakkan tumpukan pakaian yang telah dilipat rapi, berjongkok di hadapannya dan berkata dalam nada lembut yang jarang digunakannya.

"Kau tidak perlu merasa harus berpura-pura senang di depanku, Kyu. Aku juga merasakan hal yang sama dengamu."

Kyuhyun mengangguk, mati-matian berusaha menghapus air matanya yang kini mengucur deras dan tidak bisa dihentikan. Victoria merasakan matanya sendiri basah dan ia menyelinap keluar, meninggalkan dua sahabatnya sendirian. Dia juga butuh waktu untuk menata perasaannya.

Selagi bergerak ke arah dapur untuk membuat secangkir teh hangat, ia berpapasan dengan Nickhun yang memegang sekantung besar keripik kentang pedas di tangannya.

"Hai."

"Hei."

Mereka berdua berdiri di dipan, memandang ke luar jendela. Matahari bersinar cerah, kebun kecil keluarga Kibum tampak terawat dengan bugenvil warna-warni yang mekar pada saat yang tepat, tapi Victoria merasa mendung dan kelam. Dia tidak pernah mengungkapkannya, tapi mengetahui bahwa keputusan Kibum akan pergi sudah final juga membuatnya merasa sedih.

"Besok Kibum akan pergi."

Victoria mengangguk kaku.

"Kau juga tidak ingin dia pergi, bukan?"

Victoria mendekatkan cangkir ke bibir, sesekali meniup minuman di dalamnya supaya cepat dingin, sengaja mengulur waktu untuk menjawab. "Semua orang tidak ingin Kibum pergi." Dia berusaha menjawab dengan netral.

"Tapi, kau masih menyayanginya."

Itu bukan pertanyaan. Hanya pernyataan yang membuat hatinya lebih miris lagi. "Bagaimana perasaan Oppa ketika Tiffany pergi?"

Nickhun tidak berusaha menghindari pembicaraan ketika mendengar pertanyaan tersebut, tidak juga memasang ekspresi sedih. Dia hanya tersenyum, senyum seseorang yang sedang mengenang masa lalu tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disesali.

"Tiffany orang yang tegas. Dia berkata ada tiga jenis orang di dunia ini; orang yang memiliki mimpi lalu memilih untuk mengejarnya sampai dapat, orang yang memiliki mimpi, tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata, dan orang yang sama sekali tidak mempunyai mimpi. Sejak kecil, dia tahu jika dia akan pergi jauh dari sini, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya pergi."

"Oppa pernah memintanya untuk tinggal?"

"Ya. Tapi, dia berkata aku egois jika memaksanya tinggal, bodoh jika mengorbankan diri sendiri untuk mengikutinya ke sana. Karena kami punya mimpi yang berbeda. Dia ingin menjadi penari, sedangkan saat itu aku masih tidak tahu apa yang kuinginkan. Jika mengikutinya, aku tahu aku hanya jadi beban untuknya, begitu juga sebaliknya. Perasaan kami saat itu tidak cukup kuat untuk mempertahankan apa yang kami punya." Mengapa sangat mudah bagi seseorang untuk mengorbankan cinta demi cita-cita? Victoria ingin tahu.

Nickhun menatapnya tenang, dan saat itu juga Victoria mengetahui jawabannya. Karena cinta tidak ingin bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama. Karena jika salah satunya tidak memiliki ruang yang cukup untuk cinta, maka cinta itu akan beranjak pergi.

.

Wish #44: menjadi anak-anak lagi, yang tidak pernah memusingkan banyak hal rumit (Kibum)

Kyuhyun menyiapkan berbagai kudapan di basecamp mereka. Marshmallows bakar berbalut selai cokelat. Nachos saus keju kesukaan Kibum. Gelato matcha dan yogurt rasa blueberry. Soda dingin dan jus jeruk.

Mereka duduk bersebelahan, mendengarkan musik sambil memandangi bintang. Hangat kulit Kibum bergesekan dengan lengannya, membuatnya merasa aman. Sesekali, Kyuhyun melihat kerlip siluet pesawat melintas di kejauhan, dan ia merasakan tendangan kecil dalam hati, teringat bahwa besok pagi sahabatnya juga akan dibawa pergi oleh salah-satu benda tersebut.

Sudah belasan tahun mereka melakukan hal ini setiap malam, sebuah rutinitas yang sama kentalnya seperti minum air. Bagaimana dengan esok? Kyuhyun memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Apa pun untuk mengalihkan pikirannya.

"Ingat tidak ketika kau pertama kali mengajakku duduk di atas trampolin ini?"

Saat itu, mereka berdua berusia tujuh tahun. Trampolin baru itu terlalu besar untuk tubuh mereka yang mungil sehingga Kyuhyun selalu merasa dia tenggelam dalam kegelapan hitam pekat kain raksasa itu. Orangtua mereka mewanti-wanti supaya mereka tidak terlalu sering bermain di luar hingga larut malam, tapi baik Kyuhyun maupun Kibum tidak terlalu memedulikan nasihat itu. Merasakan angin semilir di Wajah mereka selagi berada di udara, di bawah langit yang cerah mengikuti terbenamnya matahari adalah salah satu hal terbaik yang pernah mereka rasakan.

"Ingat," Kibum menjawab dengan senyum di nada suaranya, "waktu itu kau terjatuh."

Pada hari kedua, Kyuhyun mengusulkan mereka berdua melakukan kontes untuk menentukan siapa yang bisa melompat lebih tingga. Kyuhyun melepaskan kedua sepatunya, lalu mulai memantulkan tubuh di atas trampolin, merasakan adrenalin yang luar biasa hanya dengan melompat dan melayang di udara selama beberapa detik. Namun saat mendarat, salah satu kakinya menyentuh ujung trampolin dan dia terpantul ke luar, terjerembab ke atas tanah. Kyuhyun hanya ingat tangannya terpelintir dalam posisi tak wajar, seluruh tubuhnya sakit bukan main, sedangkan Kibum berteriak-teriak histeris seperti kesetanan.

"Pertama kali aku masuk ambulans." Kyuhyun mengingat dengan senyum.

"Aku juga."

Saat itu, Kibum memaksa ikut masuk ke dalam ambulans bersama Kyuhyun, tidak pernah melepaskan tangannya sedetik pun. Kyuhyun mendapat lima jahitan di dagu, sekujur tubuhnya lebam dan luka-luka, tetapi untungnya tidak ada yang patah. Sejak saat itu, trampolin dilipat dan mereka dilarang menyentuhnya lagi, tapi setiap malam Kyuhyun dan Kibum mengendap-endap untuk berbaring di atasnya, memandang ke atas dan merasakan guncangan-guncangan kecil hasil gerakan tubuh mereka. Tidak pernah lagi diadakan kontes melompat.

"Setiap kali merajuk, pasti kau bersembunyi di sini dan tidak mau pulang." Kibum tidak ingat lagi berapa kali dia menemukan Kyuhyun yang bersembunyi di kebun ini, entah menangis cengeng sehabis diomeli karena nilainya jeblok, atau merajuk karena tidak diizinkan pulang malam. Tempat ini jadi semacam tempat rahasia mereka.

"Aku pernah melihatmu mengajak Vic ke sini." Kyuhyun berkata dalam suara kecil. "Waktu itu aku marah, karena tempat ini adalah tempat kita berdua. Mungkin egois jika aku berbicara begitu, tapi entah mengapa aku tidak senang jika ada orang lain yag duduk di sini selain aku."

"Kau cemburu pada Vic?" Kibum memainkan senyum nakal di Wajahnya, membuat Kyuhyun mencubit pinggangnya keras-keras.

"Jika kau tidak ada nanti, aku akan mengajak lelaki lain duduk di trampolin ini. Nanti baru kau tahu bagaimana rasanya."

Kibum berubah cemberut. "Tidak boleh," tithnya tegas.

"Malam ini, kita di sini saja, ya?"

Permintaan itu diekspresikan dengan sangat polos dan manja sehingga Kibum mengiyakan sambil menyembunyikan senyum di Wajahnya. Dia ingin menghabiskan malam-malam berbintang, mengobrol dengan Kyuhyun di sampingnya, selamanya.

.

Hampir pukul lima pagi. Kibum terjaga dari tidurnya, merasakan gelap masih mengelilingi mereka. Semalaman, dia dan Kyuhyun berbincang ngalor-ngidul hingga fajar, hingga mereka berdua akhirnya tertidur. Kibum merasakan hangat tangan kecil Kyuhyun dalam genggamannya. Entah bagaimana, kedua tangan mereka saling menemukan satu sama lain dan berpegangan erat, seakan tidak ingin terlepas.

Di ufuk timur, dua bintang yang sangat terang membentuk dua titik di langit. Tidak, bukan bintang. Kibum menyadari bahwa apa yang dilihatnya adalah planet Jupiter dan Venus, dalam sebuah fenomena alam yang dibacanya di halaman Astronomi koran pagi kemarin. Beberapa saat sebelum matahari terbit, kedua planet tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang, berdekatan membentuk segitiga dengan bulan.

Kibum menggoncang bahu Kyuhyun, yang meracau sejenak sebelum membuka mata dengan malas.

"Bangun Kyu, lihat."

Kyuhyun tidak berkata apa-apa, tapi Kibum tahu ia sudah sepenuhnya terjaga. Menahan napas, memperhatikan kedua planet bersinar, berdekatan seperti dua sahabat yang saling menjaga. Jari-jari Kyuhyun menggenggam tangan Kibum dengan lebih erat. Kibum melakukan hal yang sama.

.

Perjalanan menuju bandara diisi keheningan yang menyesakkan. Kibum duduk bersama Kyuhyun di kursi belakang, tangan gadis itu erat-erat mencengkeram lengan kemejanya seakan tidak merelakannya pergi. Kibum pun tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan, hanya sesekali mengulurkan sebelah tangan untuk menyandarkan kepala Kyuhyun di pundaknya. Nickhun yang sedang menyetir dan Victoria yang duduk di sampingnya menangkap gestur itu melalui kaca spion, lalu tersenyum samar.

Mereka berempat duduk berdempetan di ruang tunggu bandara yang penuh. Jarum jam merangkak pelan menuju waktu keberangktan Kibum. Panggilan yang ditujukan kepada seluruh penumpang pesawat yang akan berangkat ke New York sudah diumumkan dua kali, tetapi Kibum tidak kunjung beranjak dari kursinya untuk menuju antrean imigrasi. Tiket di tangannya dicekal hingga lecek, satu-satunya bukti nyata yang mengingatkannya bahwa dia sudah harus pergi. Sampai akhirnya ia menghela napas berat, lalu bangkit dan menatap mereka satu per satu—hyungnya, Victoria, lalu Kyuhyun.

"Aku harus pergi."

Jika bisa, Kibum tidak ingin mengucapkannya, tapi dia tidak punya pilihan.

Air mata perlahan-lahan mengalir di kedua sisi Wajah Kyuhyun, walau Wajahnya tersenyum. "Aku akan kuat, Bum. Aku janji."

Dengan satu gerakan cepat, Kibum menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya, tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sedang memperhatikan. "Kalau begitu jangan menangis," dia berbisik, tapi suaranya sendiri serak. "Aku akan telepon sesering mungkin. Jika ada perlu, kau juga bisa menghubungiku kapan saja."

Kibum merasakan anggukan Kyuhyun. Pelukannya mengendur dan dipandangnya Wajah Kyuhyun dalam-dalam, ingin menghafalkan garis Wajah itu baik-baik. Dia menahan diri untuk tidak mengatakan sekali lagi bahwa dia menyayangi Kyuhyun, dan akan melakukan apa saja untuknya.

Dia bahkan rela untuk tinggal, seandainya saja Kyuhyun memintanya sekarang.

Kibum merasakan matanya mulai berair, tapi berusaha untuk menyembunyikannya. Walaupun membenci kebiasaan yang kekanakan itu, dia mengulurkan jarinya dan mengaitkannya pada kelingking mungil Kyuhyun sebagai janji. "Jaga diri baik-baik."

Sekali lagi Kyuhyun mengangguk. Victoria dan Nickhun menyentuh lengan Kibum, mengucapkan selamat jalan. Mereka saling berpelukan singkat. Panggilan ketiga samar-samar terdengar melalui speaker, dan Kibum merunduk untuk mengecup kening Kyuhyun, membekaskan seluruh rasa cintanya pada gadis itu di sana.

Aku akan segera pulang. Dan, saat itu, aku tidak akan melepaskanmu lagi.

Dia berbalik dan berjalan menjauh, berusaha untuk tidak menoleh ke belakang lagi, pandangannya kabur oleh air mata yang tidak jadi menetes.

*sursursure*

Wish #45: aku tidak mau Kibum pergi (Kyuhyun)

Siluet tubuh Kibum menghilang di balik kerumunan orang yang memadati bandara. Kyuhyun tidak terlalu merasakan kehadiran orang lain di sana, hanya kehampaan yang amat sangat. Keningnya masih hangat akibat ciuman singkat barusan. Ketika menyaksikan Kibum menjauh, tiba-tiba saja ia merasakan separuh jiwanya ikut pergi meninggalkan dirinya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sangat penting. Dia menyayangi Kibum—tidak, bukan hanya menyayangi. Dia mencintai sahabatnya itu.

Kyuhyun tidak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya. Victoria maju dan merangkulnya erat, mengusap punggungnya dan memisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya. "Aku sangat menyayangi Kibum, Vic." Kyuhyun berkata lirih di antara isakannya.

Gerakan Victoria terhenti ketika mendengar pernyataan yang mendadak itu. "Kenapa kau tidak berkata pada Kibum sebelum dia pergi?"

Kyuhyun menggeleng. "Karena hanya dengan begini, dia akan tetap pergi untuk mengejar mimpinya."

Victoria terdiam, menemani Kyuhyun yang terus menangis di sampingnya, air matanya sendiri meleleh tanpa bisa dihentikan.

.

Kyuhyun mendorong pintu kamar Kibum, lalu perlahan berjalan masuk dan memandang sekeliling. Segalanya terlihat kosong tanpa Kibum. Gitar lelaki itu tidak ada di sana. Tidak ada tumpukan kertas yang berserakan di atas karpet, kertas-kertas yang berisi partisi lagu dan musik yang baru separuh dibuat. Kamar itu masih kental dengan aroma khas pemiliknya, walau sudah hampir sebulan Kibum meninggalkannya. Entah apa yang membuat Kyuhyun menyelinap masuk ke sana—untuk mencari sisa-sisa diri Kibum, mungkin, karena ia merindukannya.

Pandangan matanya berhenti pada flashdisk yang diletakkan di atas meja belajar. Benda tersebut terlihat asing dalam ruangan kosong yang tak berpenghuni.

Kyuhyun meraih flashdisk itu, lalu menancapkannya ke dalam CD player dan memencet tombol play. Petikan gitar yang lembut mengisi keheningan, mengiringi suara Kibum yang menyanyikan sebait lagu pendek.

Bulan emas tinggal separuh

Bintang-bintang sangat pemalu

Kau terduduk di sampingku

Aku lantas mencintai bayangmu

Kau menoleh untuk tersenyum

Hatiku berserakan... lebur dan lepuh

Hanya satu lagu itu yang terekam dalam flashdisk. Kyuhyun tercenung. Di mana, dia pernah mendengar kata-kata yang sama? Untaian kalimat itu sepertinya tidak asing. Mungkin lagu yang sempat diputarkan di radio? Atau sajak yang pernah dibacanya dalam sebuah buku sastra?

Tunggu sebentar. Puisi. Puisi yang disalin pada selembar kertas polos yang diselipkan ke dalam amplop biru, salah satu surat yang diterimanya pada hari Valentine. Ya, dia ingat sekarang.

Ternyata, bukan seorang penggemar rahasia tak bernama yang mengirimkan surat itu untuknya, tapi Kibum. Kibum yang selalu memperhatikannya, menjaganya, menyayanginya. Kyuhyun memejamkan mata dan membiarkan lagu itu bermain berulang-ulang, tersenyum sambil membisikan seutas doa dalam hati.

Tersenyum karena mengetahui Kibum telah meninggalkan lagu itu untuknya.

*sursursure*

EPILOG

Kyuhyun mengunyah cepat sandwich isi telur yang menjadi menu makan siangnya hari ini, lalu buru-buru menyambar telepon genggam yang bergetar di atas meja. Ia tersenyum ketika melihat nama peneleponnya di layar.

"Hei, Vic!"

"Hei, Kyu, sedang apa?"

Kyuhyun mengepit telepon di antara pipi dan bahu sambil terus memeriksa setempuk berkas di hadapannya. "Biasa, makan sambil menilai hasil ulangan anak-anak. Kau?"

"Baru selesai meeting dengan redaksi, dan sekarang akan men-drop beberapa foto permintaan klien di kantornya. Oh ya, paket kirimanku sudah sampai belum?"

"Mmmm... sebentar." Kyuhyun mengobrak-abrik surat-surat yang berserakan di atas mejanya. Sekali lagi ia mengingatkan diri sendiri agar segera membereskan segunung barang yang sudah menumpuk di sana, malu mengingat mejanya memang sudah melewati tahap berantakan yang normal. Beberapa saat kemudian, ia menemukan sebuah paket berbentuk segi empat dengan namanya dalam tulisan tangan Victoria di bagian depan, lalu menyobeknya hingga terbuka.

Sebuah bingkai sederhana yang terbuat dari kaca, dengan selembar foto diselipkan di dalamnya. Kyuhyun masih ingat foto itu—diambil pada hari kelulusan SHS, yang juga merupakan hari ulang tahun Kyuhyun yang kedelapan belas. Kyuhyun, Kibum, dan Victoria membolos upacara kelulusan dan pergi ke pantai tanpa sepengetahuan guru. Dalam foto itu, mereka bertiga tersenyum lebar, masing-masing saling merangkul, seragam mereka basah kuyup. Kyuhyun tersenyum, ujung jemarinya menyentuh permukaan bingkai dengan rindu.

"It's my birthday present for you. Happy birthday, Kyuhyun."

"Thanks, Vic. Aku suka sekali hadiahnya."

Tiba-tiba, Kyuhyun merasa sentimentil. Tidak terasa, lima tahun telah berlalu menggantikan hari cerah di pantai itu. Dia rela melakukan apa saja untuk kembali ke masa-masa itu, saat mereka hanyalah anak-anak yang polos, saat persahabatan saja sudah cukup.

Victoria sepertinya dapat membaca perubahan emosinya, karena ia lalu menyambung dengan suara lembut, "We'll always have each other. Kita bertiga."

Kyuhyun mengangguk walau Victoria tidak bisa melihatnya. Dia pun percaya pada hal itu.

*sursursure*

Kibum berdiri di depan pagar sekolah lamanya dengan kedua tangan dalam saku. Sekolah itu tidak berubah, masih dengan cat biru muda yang sama walau terlihat dimakan usia. Han Ahjussi yang selalu menjaga pagar telah digantikan oleh seorang laki-laki muda berseragam satpam, sedang berusaha menghalau penjual asongan yang berkumpul di depan sekolah. Sebuah gedung baru telah dibangun di sebelah gedung tempatnya bersekolah dulu. Ruang-ruang kelasnya masih tampak sama walau kini terlihat lebih modern. Kibum menyusuri satu-persatu, bersyukur telah datang pada sore hari seusai jam pelajaran sehingga dia dapat mengenang kembali masa kecilnya tanpa gangguan.

Rasanya sudah lama sekali sejak dia terakhir menginjakkan kaki di sana. Ketika berdiri di bawah naungan pohon besar yang sudah puluhan tahun menjaga sekolah itu, Kibum melihat bayangan dirinya sendiri sedang berlari menuju pagar, Kyuhyun mengikuti di belakangnya. Mereka berdua terengah-engah, memohon pada Han Ahjussi supaya membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk, sebelum mereka dihukum karena terlambat. Kibum melihat dirinya menyendiri di balik pilar, memandangi Kyuhyun yang sedang bersenda-gurau bersama teman-temannya. Dia melihat Kyuhyun yang masih kental dalam ingatannya, berbalut seragam cheers, melakukan gerakan dalam formasi piramid yang selalu membuatnya menahan napas, takut gadis itu jatuh. Dia melihat mereka berdua bersepeda pulang, tangan Kyuhyun memeluk pinggangnya.

Selama ini, Kibum tidak pernah melupakan Kyuhyun. Kepergiannya ke Amerika tidak mengubah apa-apa, perasaannya masih sama seperti dulu. Teriakan seseorang membuatnya menoleh mencari asal suara. Suara tawa anak-anak yang mengerjai gurunya dalam sebuah permainan petak umpet tidak jauh dari sana membuat Kibum berhenti untuk memperhatikan.

Sang guru, seorang perempuan muda, berdiri memutari kebun belakang, mengenakan celana jeans biru tua dan kemeja putih berlengan pendek. Rambutnya yang lurus panjang sepinggang, kulitnya kuning langsat. Ia mengenakan sepatu hak tinggi berujung runcing. Kedua matanya ditutupi oleh saputangan, bibirnya membentuk senyum jenaka sambil memanggil-manggil sekelompok anak kecil berseragam yang sedang berlarian di sekelilingnya.

"Yongsun! Hwasa! Kalian di mana?"

Hati Kibum berdesir. Dia terpaku di sana, tidak mampu bergerak, bahkan ketika perempuan itu berjalan semakin dekat, lalu tersandung, supaya tidak jatuh, Kibum mengulurkan tangan untuk memegangi kedua bahunya, menahan napas saat perempuan itu melepaskan ikatan di matanya sambil tersengal. Mereka berdua saling berpandangan. Tawa perempuan itu surut, mulutnya menganga seakan tidak memercayai pengelihatannya. Dia sepertinya ingin berseru, tapi justru hanya berbisik dengan suara tercekat.

"Kibum."

.

Kyuhyun terpaku lemas, lidahnya berubah kelu begitu mengenali siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Tubuhnya gemetar saat ia mengambil satu langkah mundur.

Perubahan pertama yang Kyuhyun sadari mengenai Kibum adalah tinggi badannya. Dulu, Kibum memang tergolong jangkung, tapi sekarang tingginya jauh melampaui Kyuhyun. Tubuhnya kekar, bahunya bidang, dan tangannya besar. Rambutnya dipotong cepak, Wajahnya lebih dewasa dan dagunya dipenuhi bintik-bintik halus. Tapi banyak hal mengenai Kibum tidak berubah—senyumnya, pandangan matanya, sentuhannya. Mereka berpandangan untuk waktu yang cukup lama, berhadapan tidak hanya sebagai sepasang sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki banyak hal yang belum sempat tersampaikan.

Ia ingin berkata bahwa dia sudah menemukan mimpinya—menjadi seorang guru. Ia ingin bilang bahwa Victoria kini sudah mendapatkan tambatan hatinya dalam sosok Nickhun Oppa. Ia ingin Kibum tahu bahwa mereka semua baik-baik saja.

Kyuhyun selalu menunggu Kibum—ingin mengetahui perasaan apa yang akan terefleksikan saat ia menatap langsung pada dua bola mata pemuda itu. Ingin tahu apakah semuanya sudah berubah, sudah terlambat, atau lebih baik tidak terucapkan seperti kalimat yang disimpannya dalam hati pada hari kepergian Kibum, lima tahun yang lalu.

Tapi, ketika mereka berdiri tidak jauh dari satu sama lain dan saling berusaha menata hati, Kyuhyun menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak perlu dikatakan hanya untuk membuatnya nyata. Dia tahu jelas apa yang ingin Kibum katakan kepadanya melalui pandangan mata itu, dan dia yakin Kibum pun mengerti isi hatinya. Tidak ada yang berubah. Mereka masih saling memiliki; dulu, sekarang, dan selamanya.

"Aku sudah kembali, Kyu."

Kyuhyun menyambut ucapan itu dengan senyum. "I've missed you."

Kibum membalas senyumnya, tangan kanannya menyentuh jari-jari Kyuhyun dan menggenggamnya erat. "I know."

..

Plain melodies

Simple guitar chords

Your humming to my song

Lyrucs of the heart

...and the rhymes of the moon

Make the best night music

Night music

That belongs to you and I

..

END

.

Ketika aku menyelesaikan ff ini reaksiku adalah "kalian (kihyun) bodoh dan lamban -.-" Pendapatku pribadi, cerita ini tipikal novel teenlit Indonesia, tetapi cerita ini memiliki nuansa yang berbeda karena bukan hanya menonjolkan segi romancenya tetapi juga kental akan persahabatan dan keluarga -terutama part vic-.

Awalnya epilognya mau diganti, tetapi karena aku kehabisan waktu jadilah dibatalkan. Maaf jika banyak hal yang tidak berkenan, dan aku sangat berterimakasih karena masih ada yang mau membaca, aku tidak berekspetasi banyak karena ff ini merupakan remake, sekali lagi, terimakasih telah membaca dan silakan tonggalkan review!

Desember Ceria Kihyun.