Chapter 15
Big Mistake
Tawa Astarte menggema di ruangan bulat itu, dia terduduk di kursi besar dengan ukiran sayap besar diatasnya, sambil memegangi perutnya, matanya hitamnya sampai berair.
"Tuanku tawa anda benar-benar tidak enak di dengar" protes Byleth
"Kenapa wajahmu Byleth, kau bilang begitu karena kau tidak tahu betapa lucunya bonekaku yang bernama Lecca" kata Astarte, lalu ia tertawa lagi.
"Karena itu sudikah anda menceritakannya padaku" tuntut Byleth, wajahnya cemberut
Tak mempedulikan Byleth yang semakin kesal karena ketidaktahuannya, Astarte terus tertawa, menyerah dengan sikap Astarte, Byleth hanya bisa diam dan membiarkan Astarte tertawa sampai dia berhenti sendiri, benar saja tak berapa lama tawa Astarte mereda, dia berhenti meski masih tertawa sedikit, dia mengusap matanya yang basah.
"Panggil Murmur dan Rusty kemari" perintahnya, masih tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
Tak bertanya banyak Byleth pun meninggalkan ruangan itu dan tak berapa lama kembali dengan seorang laki-laki berambut pendek, serta seorang wanita berambut panjang, bermata sayu, berserta yasha bertubuh tinggi besar, sebelah pipinya berhiaskan sisik ular.
"Aku sudah membawa mereka tuan, apa anda masih mau tertawa?" kata Byleth
Astarte menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum
"Rusty, saatnya kau pergi ke sanctuary bunuh Athena untukku" kata Astarte
"Bunuh Athena? Apa tidak sebaiknya aku langsung mengambil birthstone, kalau aku membunuh Athena akan membuang waktu saja, lagipula dia bisa disingkirkan nanti" balas Rusty, ada nada ketidakpuasan dari ucapannya
"Jangan membantah, atau kau tidak mampu melawan Athena?" balas Astarte
"Anda meragukan kemampuanku" tuduh Rusty
"Sedikit" jawab Astarte jujur
Bibir Rusty mengerut, kedua alisnya menyatu, jelas dari wajahnya dia tidak suka kata-kata Astarte. Tanpa bicara Rusty berbalik dan meninggalkan ruangan itu, tetapi sampai di pintu keluar.
"O, Rusty" panggil Astarte, Rusty menghentikan langkahnya, dan menoleh
"Jangan sampai cahaya itu menghancurkanmu" ucap Astarte lembut, dengan senyumnya yang menawan.
"Akan kuingat itu tuan" balas Rusty singkat dia mendorong pintu besar itu dan membantingnya keras-keras
"ckckckck" decak Astarte
"Tuanku, apa tidak berbahaya mengirimnya ke sanctuary kita sudah kehilangan Rozen karena ingatannya kembali saat merebut sardonyx, semakin para ghost itu dekat dengan ikatan jiwanya, maka kemungkinan besar ingatan mereka akan kembali dan kita akan kehilangan kendali atas diri mereka, dan kau tahu siapa Rusty dan yashanya itu" jelas Byleth
"Ya, aku sangat mengetahuinya Byleth" Astarte memangkukan kakinya, dan mengambil papan tebal terbuat dari batu hitam, disekeliling papan itu ada ukiran mamtera kuno, dan ada 12 lubang yang memutari lubang besar berisi batu hitam pekat dan dua dari 12 lubang yang mengelilingi batu hitam itu sudah terisi, Astarte memandang papan itu penuh kerinduan dan membelainya lembut.
"Aku tahu Byleth, karena itu aku mengutus Murmur untuk pergi ke Sanctuary" ucap astarte, masih membelai papan itu.
"Lecca dengan bodohnya akan mengumpulkan gold saint yang ada di sanctuary dalam satu ruangan yaitu kuil Athena, akan lebih mudah bukan mengambil anjing yang berkumpul seperti itu"
"Tetapi dia tidak akan membiarkan anjing-anjing itu tanpa penjangaan" sergah Murmur
"Kau cerdik Murmur, maka itu kita tidak akan menangkap anjing itu tetapi kita akan mengenyahkan penjaganya dulu, jangan lupa mereka adalah anjing Athena yang setia mereka tidak akan tinggal diam, jika majikannya dalam bahaya"
"Anda melewati penjaga satunya lagi tuan" sela Byleth
Murmur menggaruk dagunya yang berjenggot tipis "Dia benar tuan"
"Mudah saja" Astarte menunjuk Murmur.
"Saya" ucap Murmur heran, Astarte mengangguk, dan menunjuk Byleth, Byleth mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Apa rencanamu tuanku?" tanya Byleth
"Masuklah menjadi anjing-anjing Athena" jawab Astarte
Murmur dan Byleth melebarkan matanya, lalu Astarte tertawa keras
"Kau tahu sekarang Byleth, kenapa aku bisa tertawa sekeras tadi, dia hanya membuat jalanku mulus dan karena kejadian ini apakah anjing Athena mau menuruti kata-katanya lagi atau bahkan memecayainya lagi" tawa Astartepun kembali menggema di ruangan itu.
"Lalu siapa yang akan kami jadikan medium tuan?" tanya Byleth
"Byleth, pergilah ke Bluegard, disana gold saint Aquarius menunggumu, dan kau Murmur si cantik Pisces cukup untukmu" jelas Astarte
"Baik tuanku, kami pergi" Murmur dan Byleth berlutut dan bersama sapuan angin lembut mereka menghilang.
"Nah, Lecca apa kau sadar ini adalah kesalahan terbesarmu, kau lengah dan tak bisa membuat jalan empath kepadaku, apa yang akan kau lakukan dengan semua kenaifanmu tentang melindungi, kau benar-benar membuatku tertawa" gumam Astarte, lalu ia memandangi kembali papan tebal itu.
Chapter 16
12th castle
Istana ke-12 dalam sanctuary adalah istana yang paling indah dibanding ke-12 istana lainnya, dibelakang istana itu sepanjang jalan menuju kuil athena ditumbuhi mawar merah yang indah, mawar itu sama seperti pohon sakura yang ada di istana gemini yang selalu mekar di setiap musim, jalan itu seperti ditutupi karpet merah, wangi bunga itu begitu harum, begitu memabukkan. Tidak sembarang orang dapat melewati jalam merah ini, mawar ini indah tetapi ini adalah mawar beracun. Sama seperti pemilik istana ini yang berwajah cantik namun ia begitu mematikan, seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya. Wajahnya yang cantik digunakan sebagai kamuflase untuk menipu lawannya, sama seperti mawar yang dipeliharanya yang diam-diam menyimpan duri yang akan membuat jarimu terluka.
"Bunga yang indah" gumam Murmur, dia mendarat ringan di jalan mawar di belakang istana terakhir di sanctuary yaitu istana Pisces, ketika ia menginjakkan kakinya bunga-bunga mawar itu menlepaskan kelopaknya, aromanya, racunnya, kalau manusia biasa dia pasti sudah merasa pusing, dan berhalusinasi hal-hal yang mengerikan, tetapi Murmur hanya melihat kelopak-kelopak itu terbang ke langit, dia tetap berdiri ditempatnya, dan tidak terpengaruh oleh aroma mawar itu. Dia hanya menyunggingkan senyumnya, seakan dia mengagumi keindahan mawar-mawar yang ada di depannya.
Murmur melangkahkan kakinya, setiap dia melangkah mawar merah segar itu berubah menjadi mawar hitam yang suram kemudian mengering dan menghilang menjadi debu, beberapa menit dia berjalan dia sampai di bagian belakang istana megah itu, tanpa permisi dia memasukinya, tetapi baru selangkah dia disambut dengan hujaman batang-batang mawar putih, dari sisi kanan seharusnya mawar-mawar itu sudah menancap ditubuh Murmur tetapi mawat-mawarr itu menabrak dinding yang terbuat dari jalinan akar-akar yang mmuncul dari dalam tanah.
"Itu sangat tidak sopan sekali" ucap Murmur, akar-akar itu turun kembali tenggelam ke dalam tanah, dia melirik tajam pada pemilik istana Pisces yang sudah berdiri di sampingnya, pria berwajah cantik, kulit halus bak porselen, rambut panjang halus seperti sutera, bulu mata yang lentik, mata yang berkilau bagai kristal biru, tubuh tinggi semampai dibalut anggun gold cloth yang berkilauan.
"Untuk wajah secantik itu, tuan Aphrodite kelakukan anda sama sekali tidak mencerminkan kesempurnaan yang anda miliki" ucap Murmur sinis
"Apa aku perlu bersopan santun pada tamu yang masuk lewat pintu belakang, dan merusak kebun mawarku?!" balas Aphrodite tak kalah sinis
Aphrodite menyipitkan matanya "Kau ini siapa? Manusia biasa tak akan bisa melewati mawar-mawar itu"
"Maaf aku sampai lupa memperkenalkan diriku yang mulia, namaku Murmur, tapi manusia biasa memanggilku the demon of the forest" jawab laki-laki berambut pendek itu sambil tersenyum.
"Ka..kau bukan manusia!?" ujar Aphrodite, dia melompat mundur dan memasang kuda-kuda
"Yah, seperti yang anda lihat" seringai Murmur
Aphrodite melancarkan serangannya, tetapi dengan mudah murmur menangkisnya, sekali lagi dia menyerangnya tetapi sekali lagi pula serangannya itu ditepiskan oleh Murmur, entah kenapa rasa yang tak enak menggelayuti Aphrodite, tangannya terasa dingin kekuatan yang sangat besar datang dari Murmur, begitu gelap seakan menarik Aphrodite perlahan, Aphrodite menelan ludahnya dia merasa ketika dia dicekik rasa takut, dia bisa merasakan cosmo Murmur semakin besar, sepertinya demon ini semakin senang.
"Jangan melawan tuan, kalau tidak ingin wajahmu yang cantik itu terluka"
Aphrodite menggeretakkan giginya "Kau pikir aku takut?!" cemoohnya
"Jelas kau ketakutan" balas Murmur, dia menggerakkan jarinya kebawah, bersamaan dengan itu kaki Aphrodite seperti ditekuk oleh tangan yang tak terlihat, sehingga dia jatuh berlutut, Aphrodite mencoba bangun kembali, tetapi tidak bisa bahunya seperti ditahan oleh kekuatan besar.
"Satu kehormatan bisa melihat gold saint begitu mudahnya berlutut seperti yang anda lakukan sekarang tuan" ejek Murmur
"Lepaskan aku sialan!" maki Aphrodite dia masih bergelut dengan tenaga yang menahannya.
"Kau ini berisik sekali, kalau anda berteriak seperti itu Athena dan yang lain yang sedang menuju kemari akan mengetahui keberadaanku"
"Huh! Tanpa teriakanku Athena dan rekan-rekanku akan mengetahui kehadiranmu dengan kosmo jahatmu itu"
"Itu tidak akan terjadi tuan, tetapi lain cerita kalau kau terus berteriak" Murmur menjentikkan jarinya dan satu akar keluar dari lantai batu melilit mulut aphrodite, dan akar yang lainnya muncul mengikat kedua tangan aphrodite.
Murmur meletakkan jarinya ke dada Aphrodite, dan diapun berubah menjadi sosok Aphrodite, membuat aphrodite yang asli tercengang, matanya nyaris meloncat keluar melihat perubahan yang dilakukan Murmur.
"Nah, saatnya tidur tuan" Murmur memutar jarinya di dada Aphrodite, membuat Aphrodite di dera rasa sakit yang sangat amat, dia mencoba berteriak tapi tidak bisa, badanya mengejang, menggelepar-gelepar, lalu batu berkilauan keluar dari dadanya, dengan kesadaranya yang semakin menghilang dia bisa lihat batu itu keluar dari tubuhnya, bersamaan dengan itu tubuhnya terasa sangat ringan dan ia bisa melihat Murmur dengan sosoknya tersenyum penuh kemenangan sambil memegang batu berkilau itu.
"Athena!" jerit Aphrodite dalam diam
Disaat yang bersamaan, Athena menghentikan langkahnya dia memegangi dadanya, ada rasa sakit menusuk tiba-tiba datang begitu saja.
"Ada apa Athena?" tanya Shion "Apa anda baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa, Shion" jawab Athena, dia medongak menatap istana Pisces yang tak jauh di depannya.
"Sungguh anda tidak apa-apa?" tanya Shion sekali lagi
Athena mengangguk, dan melanjutkan langkahnya lagi, sepertinya sekelebat dia mendengar jeritan saintnya, Aphrodite, dan dia merasa terjadi sesuatu pada saintnya itu, apakah ini pertanda, firasatnya mengatakan ada hal yang akan terjadi, tetapi Athena segera membuang jauh-jauh pikiran itu, dan betapa leganya dia melihat Aphrodite muncul di pintu masuk istana, ini cukup baginya untuk membuktikan semua firasatnya itu hanya semata-mata proyeksi dari rasa takutnya.
"Athena" sapa Aphrodite, dia membungkukkan badannya, kemudian menegakkan lagi, dia melihat rombongan saint yang ikut dibelakang Athena. Dohko, Milo, Aiolia, Aiolos, Mu, Aldebaran, Shura, Saga.
"Aku tidak melihat Deathmask dan Shaka?" tanya Aphrodite
"Akan kujelaskan nanti Aphrodite" jelas Athena, "sekarang ini ikutlah denganku ke kuil Athena dan tetaplah berada di dekatku"
"Baik yang mulia" ucap Aphrodite, dia membiarkan Athena dan rombongannya melewatinya dan mengekor dibelakang Aiolos.
"Aiolos, apa Camus sudah tiba?" tanya Aphrodite, dalam perjalanan menuju kuil Athena
"Belum, aku juga belum dapat kabar darinya" jawab Aiolos
"Lalu apa yang terjadi pada Shaka dan Deathmask, Athena terlihat gusar" tanya Aphrodite lagi.
Aiolos memandang aphrodite, "tumben sekali kau peduli dengan hal seperti ini?" ujar Aiolos sedikit heran dengan rekannya yang satu ini, Aphrodite terkenal cuek sekali dengan lingkungan bahkan dengan rekannya, dia tidak mau bertanya tentang apapun tetapi dia mengetahui dengan sendirinya.
"Apa aku tidak boleh menanyakannya? Bagaimanapun juga mereka adalah rekanku" Aphrodite terlihat kesal dengan perkataan Aiolos
"Maaf...maaf habis kau ini tidak seperti biasanya" balas Aiolos sambil menepuk punggung Aphrodite
"Tidak seperti biasanya" Aphrodite mengerling Saga yang ada di depan Milo, "apa dia juga bisa dibilang bersikap seperti biasanya"
Aiolos mendongak memandang punggung Saga, punggung itu terlihat rapuh, tidak seperti biasanya, dia terlihat seperti prajurit yang kalah perang dan terluka parah. Aiolos sendiri masih penasaran, cerita versi lengkap tentang gadis yang bernama Lecca itu, dan ia tahu kunci dari semua itu adalah Adder, yasha itu mengetahui semuanya, semua rahasia yang enggan Lecca ungkapkan pada Saga atau gold saint lainnya.
"Yah, dia juga tidak biasa" gumam Aiolos
Aphrodite tidak menjawab hanya mendengus.
Sesampai di aula kuil Athena, Sang Dewi mengenyakkan pantatnya di kursi empuk yang ada di aula itu, dia menghela nafas dan memandangi saintnya satu persatu, dan lebih lama berhenti pada Saga yang duduk di salah satu kursi batu yang mengapit karpet merah marun yang membelah aula besar itu. Saga bersandar, pandangannya kosong jelas pikirannya tidak ada disini. Sedang saint yang lain berdiri di depan Athena, dan Shion ada di samping Athena
"Aku akan menjelaskan semuanya tentang situasi yang terjadi sekarang ini" ucapnya, dia berhenti sejenak dan menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi, dan Athena mulai bercerita.
