Kouki tengah memandangi langit malam yang saat ini dipenuhi oleh cahaya bintang-bintang. Wajahnya terlihat sedih. Pipinya membulat. Bibirnya menekuk ke bawah. Baru kali ini, melihat langit yang disukainya jadi terasa sesedih ini.

Lalu datanglah anak kecil yang sebaya dengannya. Ia masuk sambil mendorong kardus kosong yang sangat besar - bahkan seluruh tubuhnya yang kecil itu bisa tertutupi seluruhnya.

Setelah mendorong kardus tersebut ke pojok ruangan, ia menghampiri Kouki yang masih setia termangu di jendela.

Anak laki-laki itu menepuk pundak Kouki lalu berkata, "Sudahlah, Kouki. Jangan sedih terus."

Kouki menengok. Melihat orang yang berusaha menghiburnya membuat ia merasa dua kali lebih menyedihkan. "Ta-tapi... Otou-san tidak membolehkan aku jadi astronot hiks.." ia kembali terisak.

"Sei-kun..." panggil Kouki. Anak laki-laki di depannya pun menyahut dengan gumaman. "Kenapa aku tidak boleh jadi astronot? Padahal itu kan keren.. bisa bermain sama alien, bisa pegang bintang-bintang..."

Seijuuro berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kalau jadi astronot kan kerjanya jauh. Kalau Kouki tersasar bagaimana? Jii-san tidak bisa jemput. Katanya di luar angkasa tidak ada handphone."

"Ta-tapi aku bisa tanya pada tuan alien.. hiks hiks..."

"Kalau tuan aliennya jahat bagaimana? Tidak ada yang bisa tolong Kouki nanti.."

Isakan Kouki mengeras. Dia masih bersikeras ingin jadi astronot, tapi kalimat Seijuuro ada benarnya. Luar angkasa itu jauh. Kouki mudah nyasar. Dan tuan alien yang tidak tau akan ramah atau tidak pada Kouki.

Seijuuro mengambil satu tangan Kouki. "Tadi pagi aku menonton tv. Spongebob. Kau tau kardus ajaib? Kalau kita masuk ke dalam kardus lalu memejamkan mata, dan dengan imajinasi, kita bisa merasakan apapun yang kita inginkan secara nyata."

Kouki mengangguk. "Iya... aku menonton yang itu."

"Dan aku sudah bawa kardusnya. Lihat!" Tunjuk Seijuuro dengan tangan kanan, sementara tangan satunya masih memegang tangan Kouki. "Jika kau tidak bisa ke luar angkasa beneran, kenapa tidak kita coba ke luar angkasa yang ada di dalam imajinasi. Sama-sama ke luar angkasa kan?"

Kouki termenung sejenak. Namun tarikan Seijuuro pada salah satu tangannya untuk mendekat kardus besar itu membuatnya tersadar kembali. Ia tersenyum dan mengikuti Seijuuro untuk memasuki kardus yang sangat besar itu.

"Nah, ayo tutup mata!" ajak Seijuuro. Kouki mengangguk dengan semangat.

Kouki memejamkan matanya. Namun beberapa saat kemudian ia bingung ingin melakukan apa. 'Setelah memejamkan mata, aku melakukan apa?'

Bingung. Pada akhirnya Kouki hanya menghitung dalam hati tiap detik yang ia lewati sambil terpejam.

Hitungannya terus bertambah. Sampai hampir 30 hitungan, namun tidak ada yang terjadi. Kouki cemberut. Ini tidak berhasil.

Kouki membuka matanya lalu mengeluh, "Sei-kun, ini tidak berhasil!"

Seijuuro yang berada di samping Kouki pun jadi ikut membuka mata saat mendengar suara anak manis itu.

"Ah maaf Kouki!" Ucap Seijuuro. "Ini tidak berhasil karena salahku."

Kouki mengedipkan matanya tidak mengerti.

"Ini karena aku tidak mengimajinasikan Kouki yang pergi ke luar angkasa." Lalu Seijuuro memasang senyum polosnya. "Tadi aku malah membayangkan Kouki menjadi istriku. Imajinasi kita tidak sama, jadi ini tidak berhasil."

Seijuuro meletakkan tangannya di puncak kepala Kouki. "Maafkan aku. Ayo kita coba lagi."

Seijuuro memejamkan mata kembali. Dan Kouki masih terpaku.

Merasakan tidak ada respon, Seijuuro membuka matanya kembali. "Ada apa?"

"Menjadi istri itu... seperti mama?"

"Ya... seperti itu" jawab Seijuuro kurang yakin.

"Aku mau seperti mama. Bisa memasak. Bisa mengobati luka tuan chihuahua. Bisa melakukan baaaanyak hal."

Kali ini giliran Seijuuro yang tidak mengerti. "Hnn... lalu?"

"Aku tidak mau jadi astronot lagi. Aku mau jadi istri saja, seperti mama. Lebih keren!"

Seijuuro tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu jadi istriku!"

Kouki mengangguk senang. "Hu-um! Ayo!" Lalu ia menutup matanya. Memulai perjalanan ke dunia imajinasi.

Yah, setidaknya dimulai dari menjadi istri di dunia imajinasi pun bukan awal yang buruk, pikir Seijuuro.