AN: Aku sebenarnya ingin meng-update ini besok berbarengan dengan "Home", namun karena "Permana-ryu" sudah menanyakan mana, jadi ini silahkan dibaca! Hope you guys enjoy!
—O—
Seribu kuda—dalam dua baris—berlari pelan secara sejajar, sinkroni, dan harmoni menyusuri padang rumput yang begitu luas dan sangat hijau, derap kaki kuat mereka menderu memecah sunyi dan suara itu terus merambat hingga ke pelosok-pelosok padang rumput. Setiap kuda-kuda tersebut dinaiki oleh seorang prajurit Dragonic Kingdom yang sangat handal dalam memainkan tombak, bisa dikatakan mereka adalah seribu terbaik di-seantero Dragonic Kingdom. Belasan meter di belakang pasukan kavaleri dragonic kingdom itu terdapat sebuah wagon mewah beroda empat berjalan mulus dengan kecepatan yang menyamai kuda-kuda tersebut, wagon tersebut ditarik oleh dua ekor magical beast berkaki delapan yang dikenal sebagai sleipnir. Di depan, kanan, dan kiri wagon itu terdapat beberapa prajurit menunggangi kuda mereka mengawal wagon tersebut. Total terdapat sepuluh penunggang kuda: dua di depan, empat di kiri, dan empat sisanya di kanan.
Di belakang wagon dan kesepuluh penunggang kuda itu, dua puluh lebih kuda yang masing-masing kuda dinaiki oleh satu orang berjalan dalam tempo yang sama mengikuti wagon mewah tersebut. Puluhan meter di belakang mereka terdapat pasukan infanteri kerajaan, yang terdiri dari para prajurit yang ahli pedang, gada, kapak, dan juga pedang. Secara total mereka berjumlah empat puluh ribu lebih, berjalan cepat dalam lima ratus kolom dan delapan puluh baris, dengan prajurit barisan terdepan membawa serta tameng-tameng besi dan baja.
Di barisan belakang dari rombongan-rombangan prajurit infanteri tersebut, terdapat dua ribu lebih wagon bermuatkan logistik-logistik ditarik empat ribu lebih kuda berjalan mengikuti para prajurit dengan tempo yang lambat, kuda-kuda itu diiringi oleh empat ribu lebih prajurit. Mereka semua memasang wajah sigap dan sedikit pun tak terlihat raut ketakutan di wajah-wajah mereka, kendati semuanya tahu kalau mereka sedang bergerak menuju ke perbatasan Beastman Country. Dan tepat belasan meter di belakang wagon-wagon yang mengangkut logistik perang itu adalah para magic caster Dragonic Kingdom, jumlah mereka hanya hanya seratus lebih, masing-masing hanya bisa menggunakan sihir tingkat satu dan beberapa ada yang bisa menggunakan sihir tingkat dua. Kendati begitu, para magic caster itu tetap dipercaya untuk memastikan agar tak ada yang menyerang mereka wago-wagon itu dari belakang. Para magic caster itu tak sendiri, para adventurer yang mengajukan diri menjadi relawan juga bergabung dengan mereka. Dengan begitu lengkaplah sudah pasukan Dragonic Kingdom, Queen Draudillon meyakini kalau mereka semua akan cukup untuk memastikan tak akan ada satu pun beastman yang bisa melarikan diri.
Ratusan meter di belakang para magic caster dan adventurer, enam ekor kuda berlari kencang menyusuri padang rumput asri nan hijau, terlihat begitu jelas kalau keenam orang penunggang kuda tersebut sangat berhasrat untuk menyusul para prajurit yang sedang dalam perjalanan itu.
Keenam kuda itu berlari dengan elegan. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit mereka mampu menyusul para magic caster. Mulanya para adventurer dan magic caster merasa sedikit was-was terhadap keenam penunggang kuda yang mendekat, namun begitu mereka mendapati sosok Zisvon berada di antara penunggang kuda itu, semuanya menjadi rileks lalu membiarkan keenam kuda dan penunggangnya untuk melewati mereka.
"Her Majesty berada di belakang pasukan kavaleri," ucap salah seorang magic caster.
Zisvon mengangguk berterima kasih pada sang magic caster dan langsung memacu kudanya memimpin Blue Rose ke ujung kanan barisan pasukan agar tak mengganggu formasi mereka. Kemudian ia dan kelima wanita perkasa itu langsung bergegas melewati wagon-wagon yang mengangkut logistik, lalu terus maju hingga melewati barisan pasukan infanteri, dan seterusnya hingga mereka sebaris dengan dua puluh lebih kuda yang setia mengikuti wagon mewah dari belakang.
"Jadi mereka adalah Blue Rose, tak terlihat kuat bagiku," komentar Cerebrate ketika kuda Zisvon tepat berada di samping kuda yang ditunggangi sang adventurer terkuat di Dragonic Kingdom.
"Oh, jadi dia Cerebrate, tak terlihat cukup kuat untuk menahan ayunan war-pick-ku," cetus Gagaran, dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.
"Heh, sekali tebasan pedangku sudah cukup untuk membuatmu bertekuk lutut."
"Untuk seukuran Cerebrate ternyata kau punya nyali yang cukup besar, heh, Cerebrate."
Raut muka Cerabrate sedikit berubah. "Apa maksudmu dengan 'seukuran Cerebrate'?! Kau menantangku?" tanyanya dengan nada sedikit tersinggung.
"Heh, kau berani?" tanya Gagaran dengan cengiran menantangnya.
Sebelum Zisvon sempat melerai pertikaian keduanya, Lakyus mendahului sang pengantar pesan kerajaan tersebut. "Sudah, sudah, Gagaran, jangan memancing Cerabrate-dono seperti itu," tukas Lakyus. "Perkenalkan Cerebrate-dono, aku Lakyus Alvein Dale Aindra, ketua tim adamantite adventurer, Blue Rose. Yang baru saja bercanda denganmu adalah Gagaran, di kananku secara berurutan adalah Tina, Tia, dan Evileye."
"Setidaknya ketuanya tak setakkaruan wanita berpenampilan seperti pria itu, dan setidaknya kalian memiliki tiga gadis cantik berambut pirang yang menyertai kalian, kalau tidak maka aku mungkin akan menunjukkan akibat dari mencari masalah denganku ini." Cerebrate tak sedikit pun mendaratkan pandangannya pada Lakyus, iris matanya hanya terfokus pada sosok Tina, Tia, dan Evileye.
Lakyus mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Cerebrate. Entah kenapa ia merasa tersinggung mendengar perkataan serius pria berambut kecoklatan tersebut. Protes Gagaran kepada Cerebrate ia hiraukan, pikirannya sudah sepenuhnya tertuju pada satu hal yang tidak terasa "pas" bagi Lakyus. Semasa hidupnya menjalani karir sebagai adventurer, ini kali pertamanya ada yang lebih tertarik pada Tina, Tia, dan Evileye daripada dirinya. Bukannya apa, hanya saja, Lakyus sangat percaya diri dengan penampilan dan lekuk tubuhnya, dan pria ini sama sekali tak memiliki ketertarikan terhadap dirinya? Lakyus tidak mengerti. Mungkin ia bukan yang tercantik, namun tubuhnya sangatlah proporsional, tak mungkin ada yang tidak menemukannya menarik! Namun lelaki yang bernama Cerebrate ini sama sekali tak melihat ke arahnya! Lakyus benar-benar tidak mengerti.
"Cerebrate itu lolicon," bisik Zisvon sepelan mungkin, namun masih cukup kuat untuk di dengar Lakyus yang berada di sebelah kanan Gagaran.
Ah.. jadi begitu, maka kalau seperti itu Lakyus bisa mengerti. Tapi, jika memang itu masalahnya, rasanya ia harus melindungi ketiga loli yang berambut pirang sepertinya itu dari tangan Cerebrate. Lakyus bertekad untuk tak membiarkan Cerebrate berada di dekat mereka bertiga, dan untung saja ketiganya saat ini berkuda dengan jarak yang agak jauh dari Cerebrate.
"Sebaiknya kita menghampiri Her Majesty," saran Zisvon.
Lakyus mengangguk mendengar perkataan Zisvon. Kemudian tanpa aba-aba Blue Rose dan Zisvon langsung memacukan kuda mereka meninggalkan Cerebrate dan yang lainnya mendekati wagon Queen Draudillon. Begitu mereka mendekat, para pengawal memberikan ruang bagi mereka dan seorang pengawal mendekati wagon kemudian langsung mengetuk jendela wagon, "Your Majesty," panggil sang pengawal lalu kembali memasang jarak dengan wagon. Beberapa detik kemudian jendela wagon terbuka, dari dalamnya kepala Draudillon menyembul keluar.
"Ada ap-oh, Zisvon, kau sudah kembali, Alfred menginstruksikanmu untuk langsung menyusul kami?"
Zisvon mengangguk, kemudian ia melaporkan tugasnya kepada Draudillon, mulai dari perjalanannya ke Re-Estize hingga ia kembali ke Kota Brightness, tak satu pun yang dia lewatkan.
Draudillon mengangguk mendengar laporan Zisvon. "Kerja bagus, Zisvon, kau boleh kembali ke ibukota, aku yakin istrimu akan membutuhkanmu." Zisvon mengangguk dan berterima kasih kepada sang ratu, kemudian ia berpamitan pada Blue Rose lalu langsung memacu kudanya untuk berlari ke arah Dragonic Kingdom.
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan kalian, Blue Rose, tapi sepertinya kami tak lagi memerlukan bantuan kalian. Namun karena kalian sudah menerima pekerjaan ini maka apa boleh buat, aku tetap akan mempekerjakan kalian sebagai pengawalku, tentu saja itu jika kalian tidak keberatan."
"Perkenalkan Your Majesty, saya Lakyus Alvein Dale Aindra, ketua tim adamantite adventurer, Blue Rose. Wanita berzirah ungu ini bernama Gagaran, di kananku secara berurutan adalah Tina, Tia, dan Evileye. Tentang pekerjaan itu, prime minister sudah menjelaskannya ketika kami tiba di ibukota. Dan berhubung kami sudah tiba di Dragonic Kingdom, akan sangat disayangkan jika kami kembali tanpa melakukan apa pun, rasanya itu sama saja dengan kami membuang-buang waktu yang seharusnya bisa kami gunakan untuk mengerjakan banyak misi, oleh karena itu, kami menerima perubahan misi ini. Lagipula, kami penasaran dengan kedua orang yang dielu-elukan sebagai pahlawan Dragonic Kingdom: 'golden heroes' atau ' dewa dan malaikatnya'."
Draudillon tersenyum kecil mendengar penuturan Lakyus. "Aku senang mendengarnya," ucapnya sambil membuka total jendela wagon, membuat Lakyus dan yang lainnya dapat melihat kedua orang lainnya yang menemani sang ratu di dalam wagon. "Emily, perkenalkan diri kalian," perintah Draudillon.
"Sebuah kehormatan untuk bertemu dengan kalian Blue Rose. Perkenalkan, aku Emily Avosvin, vice-commander dari Dragonic Knight, lelaki yang berambut biru gelap sebahu itu adalah commander dari Dragonic Knight, Reinhart Elzenkirl."
"Aku sudah mendengar banyak tentang kehebatan kalian, Blue Rose, terutama tentang kekalahan Sunlight Scripture di tangan kalian."
"Sebuah kehormatan juga bertemu kalian, commander, vice-commander." Lakyus menundukkan sedikit kepalanya memberi hormat, hal ini diikuti oleh seluruh anggota Blue Rose. "Tapi sebelum melanjutkan, saya ingin mengkonfirmasi sesuatu, Your Majesty."
"Silahkan, Lakyus."
"Apa benar Anda menginginkan mereka untuk memusnahkan seluruh beastmen dari Beastman Country tanpa terkecuali, your majesty?"
"Tidak, Naruto-sama sendiri yang ingin melakukan itu, dan tentu saja aku sebagai ratu tidak akan pernah menolak sesuatu yang akan menguntungkan kerajaanku. Selain itu, mereka adalah pahlawan kami, sudah sepantasnya kami tidak menghalang-halangi usaha mereka untuk membuat negeri kami menjadi lebih aman."
Lakyus mengernyitkan keningnya mendengar respon Draudillon. "Bagaimana dengan anak-anak tak berdosa dari kalangan para beastmen? Bagaimana dengan bayi-bayi para beastmen yang baru dilahirkan serta ibu mereka, apa akan dimusnahkan juga?"
"Tentu saja, pasukan yang kubawa akan memastikan tak ada satu beastman pun yang akan melarikan diri."
"Tapi mereka tak berdosa, mereka tak bersalah sama sekali, kita harus adil dalam menyikapi sesuatu!" seru Lakyus dengan sedikit emosi, namun ia langsung membungkuk meminta maaf begitu sadar kalau ia baru saja berteriak di hadapan seorang ratu yang mempekerjakannya.
Draudillon hanya tersenyum kecil menanggapi reaksi yang "normal dan tak normal" dari Lakyus. Reaksinya terbilang normal dikarenakan rasa keadilan Lakyus yang tinggi, sedangkan tak normal adalah karena statusnya yang merupakan priest dari kuil dewa air yang notabenenya akan membenci dan mengutuk setiap makhluk yang bukan manusia, seperti apa yang diajarkan secara umum oleh para cardinal.
"Aku mengerti apa yang ingin kau sampaikan, Lakyus, tapi coba jawab pertanyaanku ini: jika kerajaan tempatmu tinggal di-invasi oleh beastmen, kemudian mereka menangkap saudara/i atau keluargamu untuk dijadikan makanan untuk mereka dan anak-anak mereka, apa kau tidak akan berhasrat untuk membantai para beastmen hingga keseluruhan dari mereka lenyap dari dunia ini, termasuk anak-anak yang memakan daging saudara-saudarimu?"
Lakyus terdiam mendengar hal itu. Bayangan-bayangan tentang Re-Estize Kingdom di-invasi oleh para beastmen muncul di pikirannya, kemudian wajahnya langsung dipenuhi kemurkaan begitu gambaran keluarga dan saudari seperjuangannya dihidangkan di hadapan para beastmen dan anak-anak mereka merasuki pikirannya. Tangan Lakyus terkepal, gigi-giginya bergeretak, matanya menajam.
"Aku akan membunuh semua beastmen yang kujumpai kalau sampai mereka memakanmu, sis," komentar Tia pada Tina. "Aku pun akan melakukan hal yang sama, sis," balas Tina pada Tia, keduanya kemudian saling tersenyum dan saling mengangguk.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada kalian," ucap Evileye dengan suara pelan, namun cukup kuat untuk didengar yang lainnya.
"Aku tak suka membayangkan hal itu terjadi, tapi mungkin aku akan membiarkan kemarahan mengendalikanku, boss."
Lakyus tahu semua itu adalah normal untuk dilakukan; hanya seorang yang apatis yang akan diam saja melihat orang yang dicintainya mengalami nasib yang seperti itu. Tapi.. apakah adil jika membinasakan seluruh beastmen? Sebelum itu, keadilan itu pada dasarnya apa?
"Tidak perlu memikirkan banyak hal, Lakyus," ujar Draudillon, "tugasmu dan teman-temanmu hanya melindungiku saja, kau tak perlu merisaukan apa pun: cukup lakukan tugasmu dan kau akan baik-baik saja."
Lakyus tidak tahu harus merespon apa. Di satu sisi ia setuju dengan pendapat mereka semua, namun di sisi lain itu tidak sesuai dengan apa yang telah dijejalkan ke kepalanya oleh para priest dan keluarganya. Tentu saja Lakyus tahu kalau bagi Theocracy, semua yang bukan manusia adalah musuh, namun kuil tempatnya belajar tidak menekankan hal itu; Lakyus lebih ditekankan pada asas keadilan bahwa yang tak berdosa tak boleh disakiti. Tapi, seperti tadi, keadilan itu pada dasarnya apa? Dan yang tak berdosa, apakah ada makhluk yang seperti itu? Tentu saja ia mengerti kalau anak-anak beastmen tidak tahu menahu tentang makanan yang mereka makan, tapi tetap saja itu tak memungkiri bahwa mereka tetap menyantap daging manusia.
Pada akhirnya Lakyus hanya mengangguk dan mengenyahkan gambaran-gambaran mengerikan itu dari benaknya. Ia tidak melakukan apa pun selain melindungi Queen Draudillon Oriculus, Lakyus meyakinkan dirinya untuk memfokuskan perhatiannya pada tugasnya, dan menutup mata dari apa yang akan terjadi pada para beastmen.
"Aku senang kau mengerti, Lakyus," kata Draudillon seraya tersenyum. "Fokus saja pada tugasmu untuk melindungiku selagi para prajuritku menghabisi para beastmen yang mencoba melarikan diri. Lagipula, mereka semua itu adalah pendosa, bukankah para pendosa memang harus diberi hukuman?" Draudillon tak menunggu respon dari Lakyus, ia langsung memasukkan kepalanya kembali ke dalam wagon dan kemudian menutup jendela yang tadi dibukanya.
Lakyus menautkan alis matanya memandang jendela wagon yang sudah kembali tertutupi. Mungkin memang benar, para beastmen adalah para pendosa. Tapi.. masih ada dari kalangan beastmen yang tidak pernah memakan manusia, beastmen seperti itulah yang dilindunginya dari tangan Sunlight Scripture. Ha.. dilema.. mungkin itu adalah kata yang menyimpulkan tentang apa yang dirasakan Lakyus saat ini.
"Ayolah, boss, tak perlu memikirkan banyak hal."
"Kami akan selalu mendukungmu, oni-leader."
"Seperti yang sis bilang."
"Mereka benar, Lakyus, kita hanya perlu menjalankan peran kita sebagai tim adamantite Blue Rose. Kita profesional, masalah pribadi tak boleh kita campur padukan dengan masalah pribadi."
Lakyus menghela napas pelan, senyum kecil kemudian terbentuk di wajah cantiknya. "Kalian benar," ucapnya sambil mengarahkan padangannya ke depan. "Kita tim adamantite Blue Rose, kita bekerja secara professional."
Perjalanan Blue Rose dan para pasukan Dragonic Kingdom terus berlanjut. Mereka berhenti sekali untuk bermalam, kemudian ketika fajar menyingsing mereka langsung melanjutkan perjalanan jauh mereka.
..Beastman Country..
Beastman Country sedang dalam keadaan yang mengejutkan: tak ada satu beastman pun yang terlihat di seluruh penjuru negeri, seolah-olah mereka sudah lenyap dari alam kehidupan tanpa meninggalkan jejak barang sedikit pun. Beastman Country benar-benar terlihat seperti negeri mati, senyap akan tanda-tanda kehidupan. Bergeser beberapa kilometer dari pinggiran Beastman Country, terlihat dua ratus lima puluh ribu lebih beastmen berjalan dengan penuh percaya diri menyusuri padang rumput yang luas. Para beastmen yang lebih kuat berada di barisan depan, sedangkan yang lemah dan anak-anak berada di barisan belakang sekaligus berperan sebagai pembawa logistik perang—manusia. Yang bertugas mengatur anak-anak dan para beastmen yang lemah adalah Tigre, sedangkan pasukan utama dikomandoi oleh para dewan dengan Rhobio sebagai komandan utamanya. Di barisan terdepan dari semua pasukan, terdapat enam beastmen berjalan dengan wajah angkuh memimpin para beastmen lainnya. Mereka adalah para dewan, hanya perwakilan dari bafolk yang tidak bersama mereka karena tak ada yang cukup kuat untuk menggantikan posisi Guugu. Namun karena seluruh pasukan utama berada di bawah kepemimpinan Rhobio, maka para bafolk pun juga berada di bawah kekuasaan Rhobio selama sampai perang kecil ini selesai.
Para beastmen berjalan terus dengan gagahnya, derap langkah kaki mereka saling beresonansi memenuhi kesunyian padang rumput, membuatnya terdengar lebih keras dari yang seharusnya.
Sudah sehari lebih lebih sejak mereka meninggalkan Beastman Country, namun jarak yang sudah mereka tempuh tidaklah signifikan. Ada dua alasan mengapa mereka baru menempuh beberapa kilometer dari pinggiran kota meski sudah sehari lebih berjalan: yang pertama adalah karena mereka sudah dua kali berhenti selama dalam perjalanan itu, dan yang kedua adalah karena mereka memang berjalan dengan tempo yang lambat. Itu dilakukan bukan tanpa alasan, para beastmen ingin agar pertempuran menjorok ke arah teritori mereka, dengan begitu mereka akan benar-benar bisa menjustifikasi kalau mereka hanya mempertahankan tanah air mereka dari serangan manusia, lalu memutuskan untuk menginvasi balik Dragonic Kingdom karena khawatir kalau-kalau Dragonic Kingdom akan melakukan yang lebih parah lagi jika dibiarkan begitu saja.
Otak dari semua strategi perang yang diterapkan oleh Beastman Country berasal dari Bagi, pemimpin dari para bearmen ini benar-benar menunjukkan kalau julukan yang dia miliki bukanlah gurauan belaka, kejeniusannya benar-benar nyata. Tentu saja, tak ada yang meragukan Bagi, tak ada beastmen yang akan mengatakan kalau julukan Bagi hanyalah gurauan semata dikarenakan status Bagi sebagai beastmen terkuat nomor dua di seantero Beastman Country. Beastmen mengutamakan kekuatan bertarung, selain itu tidak akan mereka pentingkan. Jadi, meskipun Bagi jenius, jika dia tidak memiliki kekuatan tempur untuk mengakomodasi kejeniusannya itu maka takkan ada beastmen yang akan mendengarkan setiap ucapannya. Tak ada yang lebih penting dari kekuatan, begitu motto para beastmen di mana pun mereka berada.
Perjalanan para beastmen kembali dihentikan begitu malam menyapa. Beberapa tenda didirikan untuk para petinggi pasukan, sisanya tidak menggunakan tenda sama sekali karena fisik para beastmen jauh lebih kuat daripada fisik makanan mereka, mereka tak perlu selimut untuk menghalangi dinginnya malam dari menggerayangi tubuh mereka. Setelah tenda-tenda didirikan, perapian-perapian pun dibuat. Tigre yang tugas utamanya adalah mengatur logistik mulai kembali menghitung jumlah manusia yang mereka bawa, kemudian setelah itu ia langsung menginstruksikan bawannya untuk membagikan para makanan: satu ekor manusia dewasa untuk sepuluh beastmen dewasa atau dua puluh beastmen anak-anak.
Butuh waktu yang lumayan lama untuk memastikan semua beastmen kedapatan makanan, namun Tigre dan bawahannya melaksakan tugas mereka dengan sabar dan penuh keseriusan. Kendati lama, pada akhirnya seluruh beastmen sudah mendapatkan bagian makanannya, dan acara makan pun dimulai. Para beastmen sama sekali tak menghiraukan teriakan-teriakan depresi dan putus asa yang keluar dari mulut-mulut para ternak yang masih hidup, kebanyakan dari mereka bahkan dengan sengaja makan sambil menghadap ke arah para makanan, membuat para manusia memandang horor mereka dan menutup mata serta telinga mereka dari menyaksikan kenyataan yang akan segera mengenai mereka, di pemberhentian selanjutnya.
Ketika fajar akan menjelang, tenda-tenda mulai dirobohkan, perapian-perapian langsung dipadamkan, para beastmen pun mulai melanjutkan perjalanan mereka kembali, tulang-tulang dan sampah lainnya mereka tinggalkan begitu saja, pikiran mereka sudah kembali tertuju pada kandang ternak mereka: Dragonic Kingdom.
xxXxx
Naruto dan Arthuria berdiri bersebelahan tepat di perbatasan antara Dragonic Kingdom dan Beastman Country. Belasan meter di belakang mereka berdirilah Illya dan Taranis, keduanya berdiri tepat di depan gerbang "istana sementara" yang telah Naruto keluarkan di situ tiga hari yang lalu. Awalnya Naruto berniat untuk langsung mengahampiri ibukota Beastmen Country, namun ia menghentikan niatnya begitu melihat para beastmen tengah mempersiapkan diri mereka untuk bergerak, melihat hal itu Naruto langsung bisa mendeduksi bahwa para mongrel itu akan bergerak menuju ke perbatasan. Dan berhubung Draudillon dan pasukannya juga sedang dalam perjalanan ke perbatasan, Naruto akhirnya memutuskan untuk menunggu di perbatasan. Lagipula, tidak elok rasanya jika ia yang menghampiri para mongrel, para makhluk hina itulah yang harus datang dan mempersembahkan nyawa mereka untuknya.
"Apa perlu menghabisi mereka semua, master?" tanya Arthuria, dia dapat merasakan keberadaan para beastmen yang semakin mendekat, saat ini jaraknya dan para beastmen itu masih sekitar lima atau enam kilometer lebih. Pun ia juga dapat merasakan kalau Draudillon dan yang lainnya juga kian mendekat, saat ini jaraknya dengan mereka hanya terpaut dua kilometer saja, dia bisa melihat pergerakan para pasukan itu jika dia menoleh ke kebelakang.
"Apa Sylphynski yang mengajukan kata-kata keberatan itu padamu?" tanya Naruto.
Arthuria hanya diam, senyum kecil terpatri di bibirnya, ia tidak perlu menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah jelas seperti itu.
"Hmph, memang tak seharusnya mereka dilenyapkan secara total. Karena jika kita memikirkannya dengan sebenar-benarnya, maka para mongrel itu tidak melakukan kesalahan apa pun, mereka hanya melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup. Hal itu tak ubahnya dengan para manusia yang menjadikan sapi, domba, kambing, dan hewan ternak lainnya sebagai makanan, semua itu dilakukan agar manusia bisa bertahan hidup. Tapi, apakah para hewan tersebut melakukan kesalahan yang membuat para manusia menjadikan mereka sebagai makanan?" Naruto tak menunggu respon Arthuria, ia kembali berbicara. "Tentu saja tidak, hewan-hewan tersebut sama sekali tidak melakukan kesalahan; itu sepenuhnya adalah inisiatif manusia itu sendiri untuk menjadikan mereka sebagai makanan. Lalu, apa bedanya para beastmen dengan manusia? Mereka sama-sama melakukan apa yang mereka bisa untuk bertahan hidup. Para manusia tidak pernah merasa bersalah ketika mereka memisahkan ibu hewan dari anaknya, mereka tak keberatan untuk menyembelih seekor hewan di hadapan hewan lainnya, mereka tak pernah merasa bersalah ketika melakukan berbagai hal yang kejam dan mengerikan terhadap hewan.. lantas, mengapa mereka protes ketika para beastmen memandang manusia sebagai makanan sebagaimana halnya manusia yang memandang hewan sebagai makanan?
"Tentu saja manusia bisa beralasan kalau manusia adalah makhluk berakal, sedangkan hewan bukanlah makhluk berakal; hewan tidak punya kemampuan untuk protes sedangkan manusia punya. Jika memang begitu, lalu apa bedanya manusia dengan beastmen, yang memaksakan kehendak mereka pada yang lain hanya karena mereka bisa melakukan itu? Pada akhirnya itu semua akan kembali pada hukum dasar: the strong survive and the weak perish, survival to the fittest. Semua ini bukan lagi tentang salah dan benar, semua ini murni tentang bertahan hidup: semua makhluk hidup, baik yang berakal mau pun tidak, mereka semua memiliki insting untuk bertahan hidup. Ketika moral dan keberlangsungan hidup saling berseberangan, maka sudah sewajarnya mereka menyampakkan moral itu demi mempertahankan kehidupan, tak ada yang salah dengan itu.
"Mungkin sebagian akan menganggap itu salah, tak seharusnya mereka menyampakkan moral begitu saja. Namun sebagian lainnya akan bersikeras bahwa nyawa mereka lebih berharga daripada secuil moral yang pada dasarnya tak ada. Jika kau melihat dari sisi netralnya, maka tak ada yang salah dengan itu, karena semuanya hanyalah terbatas pada pemikiran: benar dan salah itu tak absolut, tergantung dari sisi mana kau memandangnya. Orang-orang yang percaya pada dewa akan beranggapan kalau membunuh sesama itu salah, namun jika dewa mereka menuntut mereka untuk membunuh maka membunuh itu akan menjadi sebuah kebenaran. Apa dewa mereka memerintahkan kebenaran? Kembali lagi, benar dan salah itu relatif, tergantung dari sisi mana kau melihatnya: beda sudut pandang beda pula nilai benar dan salahnya.
"Dan kau menanyakanku, apakah perlu menghabisi mereka semua? Jawabannya: tentu saja, para mongrel itu harus musnah, aku hanya akan mentolerir mereka-mereka yang memiliki tubuh humanoid untuk menginjakkan kaki di tempat yang akan segera menjadi surga dunia ini."
Arthuria terdiam sejenak. Setelah beberapa saat ia berpikir, akhirnya ia sadar bahwa penuturan panjang Naruto sama sekali tak ada hubungannya dengan alasan masternya itu. Arthuria sangat yakin masternya berniat mengeliminasi semua penduduk beastman country hanya karena dia tidak suka pada mereka. Jika tidak maka tak mungkin dia ingin menghabisi mereka, karena para beastmen masih bisa digunakan sebagai pekerja untuk membangun ulang Pendragon. Masternya ini terlalu suka untuk memberikan jawaban yang panjang lagi memutar yang membuat pendengarnya berpikir keras, yang sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali dengan alasan sebenarnya dari setiap tindakan yang dilakukannya.
"Bukankah mereka bisa dijadikan sebagai pekerja?" tanya Arthuria pada akhirnya. "Sayang sekali jika mereka dimusnahkan begitu saja, master."
Naruto hanya tersenyum kecil mendengar respon NPC-nya. "Siapa bilang mereka akan mati begitu saja, kalau menginginkan itu maka aku hanya perlu menjatuhkan Supernova di tengah-tengah ibukota mereka, dan boom, semuanya akan lenyap tak bersisa."
Mendengar itu membuat Arthuria melebarkan matanya. "Master ingin menjadikan mereka sebagai tumbal, seperti apa yang master lakukan terhadap mereka yang di Veldyr?"
"Seperti itulah. Aku ingin mencoba memanggil Hyperion, dan kalau mencukupi aku akan memanggil beberapa High Spirit lainnya untuk menjadi penjaga Pendragon nanti."
..Keesokan paginya..
Draudillon dan rombongannya mendirikan tenda-tenda belasan meter di belakang istana megah yang berdiri tepat di perbatasan Dragonic Kingdom dan Beastman Country. Mereka tiba di sini ketika malam tiba. Mulanya Draudillon langsung menghampiri "istana sementara" Naruto, namun Illya mengatakan kalau dia tidak diizinkan memasuki istana malam itu, tunggu hingga fajar menjelang, begitu kata Illya. Karenanya, setelah matahari terbit, dan ketika barisan para beastmen terlihat di ufuk timur, Draudillon, Blue Rose, dan petinggi-petinggi kerajaan lainnya langsung bergegas menghampiri "istana sementara". Namun begitu mereka mendaratkan pandangan pada gerbang, di sana sudah terdapat Illya dan seorang wanita bersayap bernama Taranis yang memandang lurus ke timur. Draudillon dan rombongannya langsung menoleh mengikuti arah pandangan mereka berdua.
Di sana, puluhan meter di hadapan mereka berdirilah dua sosok luar biasa berambut pirang panjang, yang satu digerai sedangkan satu lagi disisir dengan model elegan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Mereka berbahaya," ucap Evileye secara refleks sembari memundurkan dirinya dua langkah.
Mendengar ucapan refleks Evileye membuat semua anggota Blue Rose melebarkan matanya memandang sosok Naruto dan Arthuria yang berdiri berdampingan. Pasalnya, ini pertama kali dalam kebersamaan mereka Lakyus dan lainnya melihat Evileye sampai bereaksi seperti itu.
"Tentu saja," komentar Draudillon dengan sedikit bangga. "Naruto-sama dan Arthuria-sama adalah yang terkuat, bahkan Platinum Dragon Lord tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka berdua."
Lakyus dan yang lainnya memandang Draudillon dengan wajah skeptikal, namun yang sudah menyaksikan aksi kedua orang berambut pirang itu langsung mengangguk menyetujui pendapat Draudillon. "Kau tak akan menemukan kesatria yang lebih superior dari Pendragon-sama," tutur Reinhart mendukung pernyataan sang ratu.
Sebelum ada yang berkomentar lagi, Draudillon langsung mengambil alih pembicaraan begitu para beastmen semakin terlihat jelas. "Reinhart, Emily, Regald, Cerebrate. Aku ingin kalian semua mengambil posisi untuk memotong setiap jalur yang mungkin digunakan para beastmen untuk melarikan diri. Kepung mereka semua pada jarak satu kilometer, bawa sebanyak pasukan yang kalian perlukan, jangan sampai ada satu beastman pun yang bisa melarikan diri. Tak peduli jika itu beastman wanita atau anak-anak, habisi setiap dari mereka tanpa ampun, sebagaimana mereka menghabisi saudara-saudari setanah air kita!"
"Hai." / "Dimengerti." / "Sesuai perintah Anda." / "Hmph."
Setelah memastikan semua petingginya pergi melaksanakan perintahnya, Draudillon dan Blue Rose langsung beranjak menghampiri Illya dan Taranis yang berdiri tepat di depan gerbang.
"Queen Draudillon." / "Draudillon Oriculus."
"Illya, Taranis-dono."
"Apa mereka itu anggota Blue Rose?" tanya Illya, matanya memandang penasaran pada Lakyus dan yang lainnya.
"Ya," jawab Draudillon. "Mereka adalah Blue Rose."
"Perkenalkan, saya Lakyus Alvein Dale Aindra, ketua tim adamantite adventurer, Blue Rose. Wanita berzirah ungu ini bernama Gagaran, di kananku secara berurutan adalah Tina, Tia, dan wanita bertopeng itu adalah Evileye, magic caster kami."
"Senang bertemu dengan kalian, perkenalkan namaku Illya Sylphynski, panggil saja aku Illya, aku adalah pelayan Arthuria-sama dan Uzumaki-sama. Di sebelahku ini adalah guruku sekaligus pelayan Uzumaki-sama, Taranis."
"Senang bertemu denganmu juga Illya, Taranis-dono."
"Um." / "Hn."
Draudillon kembali mengambil alih pembicaraan begitu mereka selesai berkenalan. Ia bertanya banyak hal kepada Illya, namun ketika ia bertanya tentang apa yang akan Naruto dan Arthuria lakukan untuk melawan para beastmen, Illya hanya memberinya senyum kecil lalu berkata, "Arthuria-sama tidak mengatakan apa pun, karena itu lebih baik kita diam dan melihat baik-baik apa yang akan mereka lakukan."
Perkataan Illya mengakhiri perbincangan mereka, kedelapan wanita itu kini dengan segenap jiwa mereka memfokuskan pandangannya pada dua sosok yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
—O—
Naruto dan Arthuria memperhatikan para beastmen yang jumlahnya lebih dari dua kali lipat jumlah penduduk Veldyr sebelum diinvasi. Arthuria dapat merasakan tingkatan kekuatan mereka. Ada dua orang yang berada pada level antara 45 sampai 50, satu orang berada di level 40-an, dan tiga orang berlevel di atas 30, sisanya bervariasi mulai dari level 3 sampai 20-an. Tanpa perlu bertanya pun Arthuria dapat menyimpulkan kalau keenam orang itu adalah pemimpin dari sekian banyak beastmen. Jika level mereka lebih tangga maka ia berniat untuk mengetes kemampuan mereka, namun dengan tingkat kekuatan yang seperti itu maka mau sehebat apa pun mereka dalam berpedang, mereka tak akan mampu bahkan hanya untuk menggores baju zirahnya.
"Apa mereka sudah dalam jangkauan Gate of Babylon-mu, master?" tanya Arthuria.
Naruto menyipitkan pandangannya memandang para mongrel, "Belum, sepertinya kau sudah meng-overestimasi jangkauan seranganku, Arthuria."
"Eh, aku bisa melenyapkan mereka dengan melepaskan kekuatan penuh Excalibur, karena itu kupikir mereka juga sudah dalam jangkauan seranganmu, master."
"Hm.. mungkin jika aku mengeluarkan panah [Crusade Shooting Star] maka aku akan bisa mengenai mereka. Tapi, dengan tingkat kekuatan para mongrel, jika aku menggunakan divine item itu maka seluruh tubuh mereka akan lenyap. Aku tak bisa melakukan itu karena aku menginginkan mereka agar tetap hidup untuk bisa kukorbankan, akan lebih baik jika aku bisa memanggil undead, namun aku bukan necromancer. Karenanya, aku akan menunggu sampai mereka tiba dalam jarak di mana sihir gravitasiku bisa bekerja."
Arthuria mengangguk mengerti. Mungkin ia juga harus mencoba untuk memanggil salah seorang seraph untuk nantinya membantu spirit-spirit masternya untuk melindungi Pendragon. Mungkin Lord Gabriel atau Lord Raphael? Atau justru Lord Michael? Tapi tak seperti spirit masternya, malaikat level tertinggi itu tidak memerlukan pengorbanan, namun mereka bakal tetap bisa eksis selama Arthuria tetap mensuplai mereka mana-nya, kalau tidak maka mereka akan menghilang dalam waktu lima menit. Kecuali kalau ia menggunakan skill terkuatnya, God's Wrath: Seraph's Judgment. Skill itu akan membuat Arthuria untuk bisa memanggil kedua belas seraph berlevel 95 itu pada saat yang bersamaan, mereka akan tetap bersamanya selama dua puluh menit nonstop, dan ia sama sekali tak perlu mengorbankan setetes mana pun. Kalau tanpa menggunakan skill itu, ia hanya bisa memanggil seorang seraph berlevel 95, artinya jika ia memanggil Lord Gabriel maka ia tak akan bisa memanggil yang lainnya selama Lord Gabriel ada.
Sepertinya ia tidak akan bisa membantu Naruto, mungkin setelah ini usai ia akan meminta masternya untuk menjelajahi Hanging Garden of Babylon untuk mencari item yang bisa digunakan sebagai suplai mana untuk membuat para Seraph kekal di dunia.
"Mereka sudah dalam jangkauan sihirku," ucap Naruto, membuat perhatian Arthuria kembali tertuju padanya. "Aku akan mengaktifkan sihir gravitasi yang akan membuat mereka semua tak bergerak, setelahnya aku akan langsung memanggil Hyperion. Aku tidak tahu berapa banyak mongrel yang dibutuhkan Hyperian untuk muncul dalam kekuatan penuhnya, namun jika masih banyak yang tersisa, ayo buat perlombaan Arthuria."
Alis Arthuria sedikit terangkat mendengar perkataan Naruto. "Perlombaan yang seperti apa, master?" tanyanya penasaran.
"Kita akan menghabisi sebanyak mungkin dari para mongrel yang tersisa, tapi jangan sampai mereka mati. Siapa yang bisa melumpuhkan mereka lebih banyak, maka dia yang menang. Jika aku menang, maka kau harus memakai pakaian maid dan bendo telinga kucing lengkap dengan ekor kucing selama seminggu penuh, bagaimana?"
Pikiran Arthuria langsung melayang memikirkan dirinya berdiri di hadapan Naruto yang duduk angkuh di atas tempat tidur dengan senyum jenaka di bibirnya, dengan dirinya dibaluti pakaian maid serta bendo bertelinga kucing lengkap dengan ekor kucing menghiasi dirinya. Kemudian dengan wajah merona "Arthuria" di dalam bayangannya mengepalkan kedua tangannya meniru telapak kaki kucing lalu berkata, "Ada apa memanggilku, master-nya~?"
Ugh, memalukan sekali! Aku, King of Knights Arthuria Pendragon berpenampilan seperti itu?
"Ada apa, Arthuria? Kau takut?" tanya Naruto, senyum angkuh bertengger manis di bibirnya.
Arthuria mengernyitkan keningnya, kedua alisnya bertautan. "Bagaimana kalau aku menang, master?" tanyanya sangsi.
"Kau bebas memintaku melakukan apa pun."
"Hm, aku akan bersedia jika master setuju untuk tak menggunakan Gate of Babylon."
"Ee, aku tak keberatan untuk tak menggunakan Gate of Babylon."
Ekspresi Arthuria langsung berubah drastis begitu perkataan itu keluar dari mulut Naruto, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. "Baiklah kalau begitu, aku setuju," ucap Arthuria sambil mengulurkan tangan kanannya.
Naruto juga mengulurkan tangan kanannya menyambut tangan Arthuria. "Deal!" seru Naruto sambil mencengkram erat tangan mulus Arthuria, Arthuria juga mencengkram balik tangan Naruto dan keduanya memasang senyum kemenangan di bibir mereka.
"Baiklah, aku akan mengaktifkan sihirku."
Naruto maju selangkah dan mulai memikirkan spell gravitasi yang paling efektif untuk menghentikan pergerakan para beastmen. Setelah beberapa saat memilah, akhirnya Naruto memutuskan untuk memilih spell yang paling efektif. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, matanya fokus pada sekian banyak mongrel di sana, dan segera saja tiga lingkaran sihir berwarna abu-abu dengan ukuran yang berbeda muncul begitu saja di hadapan Naruto. "Triplet Maximize Magic: Field of Gravity!"
Tepat setelah mengatakan itu, awan-awan yang berada di atas para beastmen langsung menyingkir dan segera saja tekanan gravitasi menghantam para beastmen, membuat mereka semua terjatuh dan menghantam tanah hingga menimbulkan retakan dan suara gedebuk yang menggema. Itu adalah sihir tingkat sepuluh, dan diperkuat dengan Triplet Maximize Magic, tak mungkin ada dari antara para beastmen yang bisa menahan diri dari sihir itu.
Puas dengan kinerja sihirnya, Naruto memajukan tangan kanan dengan telapak tangan terbuka ke depan. "Aspect of Dragonoid:-" ucapnya dengan intonasi bak seorang raja. Seluruh medan pertempuran langsung dilingkupi dalam cahaya keemasan sesaat setelah kata-kata itu meninggalkan mulut Naruto, kemudian sebuah lingkaran sihir rumit raksasa muncul di tengah-tengah para beastmen dengan diameter mencapai lebih dari satu kilometer. "-Dragon King Hyperion!"
-7-
Q&A:
-Bagaimana Arthuria tahu kalau iris Naruto dulunya biru?—Akan terjawab di Part III: Strongest Duos.
-Apa Ainz bakal muncul?—Pasti, dia akan dibicarakan pas intermission dan benar-benar muncul di Part III.
-Stats Arthuria lebih tinggi dari Naruto?—Ya.
-Apa akan terjadi perang besar?—Ya, tapi nanti di Part XVII: The Great War.
