Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Genre : Romance, fluff
Selamat membaca!
Love Me One More Time
Chapter 8 : Rencana Sasuke Bag. 2
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto berdiri di depan daun pintu yang telah ditutup. Sejenak pandangannya melayang ke arah pegangan pintu. Wanita muda itu menghirup udara dengan rakus, memenuhi paru-parunya yang mendadak terasa begitu kosong.
Sial, kenapa aku harus begitu terpengaruh?! Makinya di dalam hati. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, giginya gemertuk, menahan sejuta emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Kenapa juga aku harus keluar dari ruangan itu?" gumamnya pelan. Ekspresinya mengeras, pikirannya kalut. "Apa yang sedang mereka lakukan di dalam?" gumamnya lagi, penasaran. Naruto mengulurkan tangan kanannya, nanun sedetik kemudian ia menariknya kembali. Berat hati, wanita itu memutuskan untuk berbalik, dengan dagu terangkat ia berjalan semakin menjauh.
Sementara itu, di dalam ruangan, Koyuki menatap lama daun pintu yang sudah ditutup oleh Naruto, lalu perlahan dia menoleh ke arah Sasuke yang memasang wajah masam. "Aku benar-benar mengganggu yah?" tanyanya dengan ekspresi polos. Dengan langkah lebar dia berjalan mendekati ranjang lalu menghempaskan pantatnya di atas kursi yang ditinggalkan oleh Naruto.
Suara dengusan kasar menjadi jawaban pertanyaan wanita itu. Koyuki mengangkat sebelah alisnya saat Sasuke menatapnya tajam. Ia mengangkat dagunya dengan angkuh, menyempitkan mata, balas menatap tajam Sasuke dengan sikap menantang, hingga akhirnya tawa yang sedari tadi ditahannya pun terdengar keras. "Lihat wajahmu itu!" oloknya, sembari menunjuk wajah Sasuke dengan telunjuk kanannya, tawanya kembali menggelegar setelahnya.
"Sudah puas?" tanya Sasuke dingin setelah tawa Koyuki mereda. Koyuki menggelengkan kepala pelan, sembari menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawanya. "Aku benar-benar merasa kasihan pada semua penggemar fanatikmu itu. Andai mereka mendengar cara tertawamu saat ini," tambahnya dengan ekspresi mencemooh.
Koyuki berdeham, mengangkat bahunya ringan dan menjawab cuek. "Aku tidak perlu berpura-pura menjadi Sang Artis saat bersama dengan kerabat dekatku, kan? Apa aku harus terus memasang topeng saat bersama dengan kerabatku?"
"Terserah," balas Sasuke datar. "Lalu untuk apa kau kesini?" tanyanya.
Koyuki berdecak, sedikit kesal karena Sasuke sama sekali tidak menghargai usahanya untuk menjenguknya. Bukankah seharusnya pria itu mengatakan terima kasih? Yah, walau hanya sekedar basa-basi, namun hal itu akan terlihat lebih sopan. "Aku tidak mau kasusku terlantar hanya karena kau sakit," ujarnya ketus. "Aku membayarmu sangat mahal, Tuan Uchiha Sasuke!" tambahnya cepat, mengingatkan.
"Apa kau tidak lihat jika aku sedang mempelajari berkas lanjutan kasusmu?" balas pria itu dengan ekspresi dingin.
"Mana aku tahu jika kau sedang bekerja," sahut Koyuki tidak kalah ketus. "Yang kulihat; kau sibuk mencium seorang wanita."
"Aku ucapkan terima kasih karena kau sudah sangat lancang mengganggu moment berhargaku!" desis Sasuke penuh penekanan, emosinya kembali tersulut.
Koyuki mengangkat bahunya ringan. "Sama-sama," jawabnya cuek, membuat Sasuke menutup berkas di tangannya keras lalu melemparnya ke atas meja di samping tempat tidur. "Jadi, siapa dia?" tanya Koyuki sama sekali tidak terganggu dengan sikap kasar Sasuke. "Apa dia kekasihmu?" tanyanya lagi dengan ekspresi serius.
"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke dingin. Ck, terkadang teman masa kecilnya ini bisa amat sangat mengganggu. "Bisakah kau pergi dan tinggalkan aku sendiri?!" erangnya kesal.
"Apa itu caramu memperlakukan teman masa kecilmu?" tanya Koyuki dengan mata melotot.
"Seingatku kita hanya berteman saat sekolah dasar, itupun karena kita bertetangga."
"Kenapa aku merasa jika kau tidak suka memiliki teman masa kecil seperti aku?" ujar Koyuki dengan nada sedih berlebihan. Dia menghela napas panjang, menatap Sasuke dengan ekspresi terluka yang nyaris saja membuat Sasuke mual. "Ah, sudahlah!" ujarnya kemudian, kembali dengan sikap cueknya, sembari mengibaskan tangannya di udara. "Asal kau tahu, Sasuke. Entah kenapa, aku merasa sedang diperalat olehmu! Sejujurnya aku datang untuk memastikan hal ini. Jujur saja, biasanya insting-ku selalu tepat."
Sasuke menoleh, menatap Koyuki dengan satu alis terangkat.
"Kau menggunakanku untuk membuat seseorang cemburu. Iya, kan?" katanya, menuntut penjelasan.
Ruangan itu kembali senyap untuk sejenak.
"Ternyata benar." Raung Koyuki dengan ekspresi tidak percaya saat Sasuke mengangkat bahunya cuek. "Dari awal aku sudah merasa aneh, kenapa kau tiba-tiba mau menggandeng tanganku di depan kamera wartawan, tempo hari. Ternyata tujuanmu memang untuk membuat seseorang cemburu, huh?"
Sasuke terdiam.
"Apa seseorang itu- wanita tadi? Dia kekasihmu? Atau mantan? Incaran? Siapa namanya? Dimana dia tinggal? Apa pakerjaannya? Apa kalian sudah kenal lama?" tanyanya beruntun.
"Ini bukan urusanmu!" ujar Sasuke datar.
"Oh... ini urusanku." Jawab Koyuki mutlak. "Kau menggunakanku untuk kepentingan pribadimu. Aku harus menghitung jumlah kerugian karena ulahmu ini," ujarnya, dengan pose berpikir.
Sasuke menghela napas panjang. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya, masih dengan nada datar.
Koyuki tersenyum dan menjawab, "berikan aku potongan harga." Pintanya, membuat Sasuke memutar kedua bola matanya. "Kenapa biaya jasa firma hukummu sangat tinggi?" keluh Koyuki kemudian.
"Kenapa kau bersikap seperti orang miskin?" ejek Sasuke.
"Ayolah... berikan aku potongan- lima puluh persen?" rengek Koyuki, sama sekali tidak peduli dengan ejekan yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Dua puluh lima," tawar Sasuke.
"Tujuh puluh lima," sahut Koyuki, membuat Sasuke melotot karena permintaan yang semakin tidak masuk diakal itu. Ya, Tuhan. Ini sama sekali bukan tawar-menawar.
"Tiga puluh," tawar Sasuke dengan gigi gemertuk, menahan kesal.
Namun wanita itu malah menyeringai dan menyahut, "yeah... discount seratus persen!" teriak Koyuki senang. "Terima kasih untuk pengertianmu, Sasuke." Ia berdiri, berjalan ke arah Sasuke lalu menjabat paksa tangan pria itu sebagai tanda kesepakatan. "Aku tidak menyangka jika kau bisa bersikap begitu baik," tambahnya dengan air mata buaya.
Sasuke menegakkan punggungnya saat Koyuki berjalan menjauh. "Aku tidak menyetujuinya. Brengsek, Koyuki, kembali!" teriaknya kesal, namun Koyuki bergeming, dengan anggun dia mengenakan kacamata hitamnya, bergegas berjalan keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh kemenangan.
.
.
.
Dua hari pun berlalu dengan cepat setelahnya.
"Sampai kapan kau akan merajuk seperti ini?" tanya Mikoto cemas. Wanita paruh baya itu melirik ke arah putra sulungnya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Itachi hanya mengangkat bahu ringan, menjawab ketidaktahuannya mengenai Sasuke yang bersikap aneh sejak dua hari yang lalu. "Apa yang kau inginkan, Sasuke?" tanya Mikoto parau. Ia sedikit terisak, sementara tangannya meremat sapu tangan sutra yang kini terlihat kusut dalam genggamannya. "Apa kau juga tidak suka makanan yang ibu buatkan untukmu?" tanyanya dengan sorot mata terluka.
Itachi menghela napas kasar, lalu bergerak mendekati ranjang Sasuke untuk kemudian berdiri di belakang Mikoto. Dengan lembut, Itachi memijat bahu ibunya yang menegang karena cemas. "Berhenti membuat kami cemas, Sasuke!" ujarnya kemudian, gemas. Dibawah telapak tangannya, ia bisa merasakan otot-otot bahu ibunya mulai melemas. Sudah dua hari ini Sasuke mogok makan, membuat dokter, perawat serta keluarganya kebingungan. Tubuhnya hanya bergantung pada cairan nutrisi yang diinfuskan ke dalam tubuhnya saat ini.
Di tempatnya, Sasuke memejamkan matanya dan menjawab dengan suara lemas. "Aku harus memegang janjiku."
Mikoto dan Itachi mengernyit. "Janji apa?" tanya keduanya kompak.
"Aku berjanji tidak akan makan jika dia tidak datang untuk menjengukku," jawab Sasuke lagi, nyaris tak terdengar. "Aku akan makan setelah Naruto datang nanti."
Itachi dan Mikoto saling bertatap pandang, untuk waktu yang tidak singkat. Itachi bahkan berniat memeriksakan telinganya ke bagian THT setelah ini. Sasuke mogok makan karena seseorang tidak menjenguknya? Alasan macam apa itu? Katanya di dalam hati.
"Itachi, panggil istrimu kesini!" perintah tegas Mikoto membangunkan Itachi dari lamunan pendeknya.
Itachi mengernyit dan menjawab datar. "Untuk apa?"
Wanita paruh baya itu bergerak untuk berdiri lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Sasuke. "Dia harus memeriksa otak adikmu," jawab Mikoto terdengar panik. "Ada yang tidak beres di dalam otak adikmu."
Hening.
Mikoto menoleh ke arah Itachi, berkacak pinggang saat putra sulungnya bergeming di tempatnya. "Apalagi yang kau tunggu?" bentaknya tidak sabar. "Cepat panggil Kyuubi kesini!" tambahnya masih dengan nada tinggi yang sama.
Itachi memutar kedua bola matanya, menghela napas panjang sebelum berkata, "Bu..." ujarnya dengan nada setenang mungkin.
"Apa?!" balas Mikoto dengan mata melotot, kesal karena Itachi masih bisa bersikap tenang disaat genting seperti ini.
"Istriku- dokter kandungan," tukas Itachi dengan ekspresi datar, mengingatkan.
Mikoto mengerjapkan mata, lalu berujar pelan dengan ekspresi lucu. "Ah... Ibu lupa," katanya dengan senyum kering, merasa bersalah karena sudah membentak Itachi. Mikoto berdeham, sementara tangannya merapikan rok biru selututnya. Dengan gerakan anggun dia kembali mendudukkan diri.
"Baiklah, jadi siapa Naruto?" tanya Mikoto, memutus keheningan singkat di dalam ruangan itu. "Apa dia kekasihmu?" tanyanya lagi saat Sasuke tak kunjung menjawab pertanyaannya. Mikoto melirik ke arah Itachi yang hanya mengangkat bahu. "Kenapa dia tidak mau menjengukmu?"
Sasuke kembali memejamkan mata, di dalam hati dia meminta maaf pada ibunya karena sudah membohonginya saat ini. Tapi hanya rencana ini saja yang sekarang berputar di dalam otaknya. "Dia marah," tukas Sasuke mencoba untuk menjaga nada suaranya agar terdengar biasa. "Dia cemburu pada Koyuki," tambahnya membuat Mikoto menaikkan sebelah alisnya.
Itachi mengernyit dan menimpali. "Ah, bukankah Koyuki datang menjengukmu, dua hari yang lalu?" katanya saat teringat gosip yang sedang panas membahas mengenai Koyuki yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sasuke.
"Hn," jawab Sasuke. "Naruto semakin salah paham karenanya," tambahnya dengan suara nyaris tak terdengar. "Sampai hari ini dia tidak mau menjawab pesan atau mengangkat telepon dariku."
"Wanita normal mana yang tidak marah melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain?" Mikoto mendengus kasar lalu memicingkan mata. "Jangan memotong ucapanku!" ujarnya saat Sasuke membuka mulut hendak bicara. "Gosip-gosip murahan itu pasti sangat menyakitkan bagi Naruto. Dan kenapa kau harus menggandeng tangan Koyuki, hah? Apa perlu kau melakukan hal itu?" tambahnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.
Di belakang Mikoto, Itachi tersenyum simpul. Dia menatap Sasuke penuh arti. Ibu mereka mungkin bisa dengan mudah dikelabui, tapi Itachi terlalu lihai. Sasuke harus berusaha lebih keras jika mau membohonginya. Hah, Itachi jadi penasaran pada wanita bernama Naruto itu.
Tunggu, pikir Itachi dengan kernyitan dalam. Bukankah Kyuubi pernah mengatakan jika Sasuke memperkenalkan seorang wanita yang bernama Naruto? Apa wanita yang sedang mereka bahas saat ini adalah wanita yang sama yang pernah dibahas oleh Kyuubi? Menarik, pikir Itachi. Dia semakin penasaran terhadap wanita yang berhasil menggenggam hati dan pikiran adiknya ini.
"Itachi, antar ibu ke rumah Naruto!" perintah Mikoto, mengejutkan Itachi.
Itachi mengerjapkan mata, memasang ekspresi bingung. "Apa?"
Mikoto menghela napas panjang. Tangannya meraih tas tangannya yang diletakkan di atas meja. "Apa kau tidak mendengar ucapanku? Antar aku ke rumah Naruto."
Itachi menatap Sasuke yang menyeringai lalu menatap Mikoto secara bergantian. Berapa lama dia melamun hingga tidak menyimak apa saja yang tadi dibicarakan oleh ibu dan adiknya ini.
"Adikmu sudah mengatakan dimana alamat Naruto. Sekarang antar ibu kesana. Ibu akan membujuknya untuk datang menemui adikmu. Apa kau tidak cemas melihat kondisi adikmu?" tukas Mikoto panjang lebar.
Itachi kembali melirik ke arah Sasuke yang tersenyum tipis ke arahnya. Sial. Sasuke berhasil memperalat ibu mereka.
"Tunggu apa lagi?" bentak Mikoto tidak sabaran. "Jika perlu, kita akan membawa Naruto kesini dalam keadaan pingsan."
"Bu, itu tindakan kriminal." Itachi mengingatkan. Tubuhnya merinding ngeri, ibunya bisa sangat menakutkan jika dalam keadaan terdesak.
"Jangan membantah, Itachi! Bantu ibu atau kupotong rambut kesayanganmu itu!" ancamnya membuat Itachi menelan air liurnya dengan susah payah. Itachi melempar tatapan mematikan kepada Sasuke, sebelum akhirnya memilih untuk menuruti perintah ibunya.
.
.
.
Kota Tokyo terasa lebih panas siang ini. Matahari bersinar terik, sementara udara panas terasa menyengat kulit. Naruto memilih untuk duduk manis di dalam apartemennya, menyetel lagu-lagu patah hati dan mengatur suhu AC serendah mungkin untuk mendinginkan ruangan serta otaknya yang panas dua hari ini.
Wanita muda itu tengah menikmati minuman dinginnya saat bel pintu apartemennya berbunyi nyaring. Naruto menghela napas, otaknya menebak-nebak siapa kira-kira yang datang berkunjung.
Kedua alis wanita itu saling bertaut saat melihat dua orang yang tidak dikenalnya berdiri di depan pintu rumahnya. "Maaf, Anda mencari siapa?" tanya Naruto pada Mikoto, dengan nada sopan. Sial. Seharusnya dia tidak keluar hanya dengan mengenakan piama katun berpotongan sederhana, berwarna merah muda seperti saat ini.
Mikoto tersenyum lembut dan menjawab sopan. "Kami mencari Namikaze Naruto."
Naruto mengernyit mendengarnya. Dibukanya pintu apartemennya lebih lebar. Dengan gugup dia menjawab. "Saya Namikaze Naruto."
Ya, Tuhan. Kenapa aku mendadak gugup? Batin Naruto saat Mikoto dan Itachi menatapnya dari ujung kakinya yang telanjang hingga ujung rambutnya yang hanya disanggul asal di atas kepala. Keduanya mengamatinya dengan senyum tipis dan binar geli.
Mikoto mengulurkan tangannya dan tersenyum menawan, memperkenalkan diri, saat Naruto menjabat tangannya. "Perkenalkan, Uchiha Mikoto." Ujarnya membuat Naruto membatu di tempat. "Mungkin kau belum tahu, aku ibu dari Sasuke." Tambahnya masih dengan senyum menawan.
Belum juga rasa kagetnya hilang, Itachi melangkah maju untuk memperkenalkan diri. "Uchiha Itachi," ujarnya, membuat wajah Naruto semakin pucat. "Aku kakak sulung Sasuke," tambah Itachi sembari menyambar tangan Naruto dan menjabatnya cepat. "Boleh kami masuk?" tanyanya pada Naruto yang masih terlihat bingung.
"Ah, tentu saja." Kata Naruto saat kesadarannya kembali. "Silahkan masuk," tambahnya cepat.
Dengan pelan Naruto menutup pintu setelah dua orang tamu yang tak terduga itu masuk ke dalam apartemennya. Dengan sikap sopan dia mempersilahkan keduanya untuk duduk sementara ia sibuk membereskan buku-buku novel, majalah serta koran yang tergeletak, berserakan di atas sofa dan lantai.
"Kau tinggal di sini sendiri?" tanya Mikoto, mencoba mencairkan kecanggungan di dalam ruangan itu. Wanita itu mengamati ruang yang ditata sederhana itu dengan detail, mengamati setiap benda yang diletakkan di dalamnya.
"Ya. Saya tinggal sendiri." Jawab Naruto dengan senyum kaku ke arah Mikoto dan Itachi. Wanita muda itu kemudian meletakkan buku-buku di tangannya di atas meja terdekat, lalu menarik napas untuk mengendalikan kegugupannya. "Maaf, ruangannya berantakan," ringisnya, malu.
Mikoto melambaikam tangannya di udara. "Tidak terlalu berantakan. Hanya saja, apartemenmu terlihat kosong. Apa kau baru pindah ke sini?" tanyanya, penasaran. Mikoto bahkan mengabaikan tatapan Itachi yang seolah menegur pertanyaannya itu.
"Saya hanya tinggal sementara di sini," jawab Naruto. Dia berjalan ke arah dapur untuk membawa satu buah baki berisi teko berisi jus jeruk dingin serta dua buah gelas kosong di atas baki tersebut.
"Sementara?" beo Mikoto dengan kedua alis diangkat.
Naruto mengangguk pelan, sementara tangannya sibuk menuangkan jus jeruk tersebut ke dalam gelas. "Maaf, hanya ini yang bisa saya suguhkan," ujarnya.
"Tidak masalah," jawab Itachi. Pria itu mengambil gelas miliknya lalu menyesap jus jeruk dinginnya dengan nikmat. "Jadi, kau mau pindah dari sini?" tanyanya kemudian, meneruskan pertanyaan Mikoto.
"Saya hanya tinggal di Tokyo hingga pekerjaan saya selesai," jawab Naruto sembari mendudukkan diri di salah satu sofa kosong. "Setelah itu saya akan kembali ke Birmingham," tambahnya.
"Begitu?" sahut Mikoto dan Itachi kompak.
Ketiganya kembali terdiam, menyisakan keheningan yang mencekik bagi Naruto. Hah... andai saja dia tahu jika ibu dan kakak Sasuke akan datang berkunjung, tentu dia akan berpenampilan sebaik mungkin saat ini. Ya, Tuhan. Ini sangat memalukan, batinnya penuh sesal.
"Kau pasti bertanya-tanya mengenai kedatangan kami yang sangat mendadak." Kata Mikoto pada akhirnya menjawab keingintahuan Naruto. "Kau tahu jika Sasuke sakit, kan?" tanyanya, sementara Naruto hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. "Kedatangan kami kesini, untuk memintamu datang ke rumah sakit bersama kami."
"Eh?" pekik Naruto, jelas terlihat sangat kaget.
"Sudah dua hari ini Sasuke mogok makan. Kami semua dibuat cemas olehnya," kata Mikoto lagi dengan ekspresi khawatir yang berlebihan. Di sampingnya, Itachi nyaris tersedak oleh minumannya sendiri saat melihat akting ibunya yang terlihat sangat meyakinkan. "Aku sangat mengerti jika kau sangat marah pada Sasuke. Tapi bisakah untuk kali ini saja kau memaafkannya dan datang untuk menemuinya?" tanya Mikoto yang terdengar seperti sebuah permohonan. "Sasuke dan Koyuki hanya teman biasa. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Kau jangan terpancing oleh gosip-gosip murahan itu. Kumohon Naruto, tolong ikut bersama kami untuk menemui Sasuke."
"Nyonya Uchiha, saya-"
"Sasuke hanya mencintaimu," potong Mikoto cepat, membuat mulut Naruto terbuka lebar karenanya. "Aku tahu, wajar jika sepasang kekasih bertengkar. Tadinya aku tidak mau ikut campur, tapi ini menyangkut kesehatan Sasuke yang semakin memburuk. Orang tua mana yang bisa tahan melihat anaknya menderita?" katanya panjang lebar dengan air mata yang mengalir dikedua pipinya.
Hebat! Cibir Itachi di dalam hati. Sekarang dia tahu, darimana bakat akting Sasuke berasal.
"Masalahnya saya dan Sasuke-"
"Kumohon, Naruto." Sekarang giliran Itachi yang memotong ucapan Naruto.
Wanita muda itu menghela napas lelah, bingung menghadapi air mata Mikoto serta ekspresi memohon Itachi saat ini.
"Setidaknya tahan amarahmu hingga Sasuke pulih," cicit Mikoto. "Aku tidak tahan melihatnya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Kumohon..."
Dan dengan berat hati, Naruto akhirnya memilih untuk mengabulkan permohonan kedua orang bermarga Uchiha itu.
.
.
.
Sasuke mencoba mendudukkan diri saat Mikoto, Naruto serta Itachi masuk ke dalam ruangan itu. Dibalik ekspresi datarnya, jauh di dalam lubuk hatinya dia bersorak riang karena rencananya berhasil dengan gemilang. Sasuke tidak perlu tahu bagaimana cara ibunya hingga berhasil mengalahkan sifat keras kepala Naruto. "Kalian kembali?" Sasuke melempar tatapannya pada Mikoto yang tersenyum, lalu pada Itachi yang memasang ekspresi mencemooh. Sasuke mendengus di dalam hati, bertepuk tangan karena Itachi bisa mengendus akal bulusnya. "Kau datang?" ujarnya kemudian pada Naruto dengan nada lemah.
"Sebaiknya kami tinggalkan kalian berdua di sini," kata Mikoto pengertian.
Andai saja bisa, Sasuke pasti sudah meloncat untuk memeluk ibunya erat. Ibunya itu bukan hanya bisa diandalkan, tapi juga sangat pengertian.
"Kenapa kau mogok makan?" tanya Naruto dengan ekspresi masam, sesaat setelah Mikoto dan Itachi keluar dari ruangan itu. Sasuke hanya mengangkat bahunya ringan, dan tersenyum tipis. "Apa kau sudah gila? Kenapa kau bersikap sangat kekanakkan? Apa yang dipikirkan ibumu mengenaiku? Kau menggunakan aku sebagai alasan sikap konyolmu ini?!" cecar Naruto dengan napas memburu. "Apalagi yang kau tunggu? Aku sudah datang, kenapa kau tidak makan?" tanbahnya, semakin kesal.
Naruto mengambil mangkuk berisi bubur di atas meja, mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu menyuapi Sasuke dengan telaten. Bibirnya bergetar, menahan tangis. Melihat wajah pucat dan tubuh Sasuke yang semakin kurus membuat hatinya merasa bersalah.
"Jangan menangis. Apa aku menyakitimu lagi?" tanya Sasuke parau. Dengan lembut dia menggenggam tangan Naruto yang kini juga bergetar. "Maafkan aku..."
"Bagaimana bisa aku memaafkanmu?" kata Naruto cepat, sedikit terisak. "Kau menyakiti dirimu sendiri hanya karena memegang teguh janji konyolmu itu. Bagaimana jika aku tidak mau datang? Apa kau akan terus bersikap konyol seperti ini?"
"Maaf..."
"Mudah sekali untukmu minta maaf," ejek Naruto. "Kau membuat keluargamu sangat cemas. Membuatku merasa bersalah dan kau dengan mudahnya mengatakan maaf?" tambahnya parau. "Kau brengsek, Sasuke. Sangat brengsek."
"Maaf..." ujar Sasuke berulang-ulang. Susah payah dia menggeser tubuhnya untuk memeluk Naruto. "Maafkan aku. Tolong maafkan aku!"
"Lepas!" pinta Naruto, setengah berbisik.
"Tidak." Tolak Sasuke serak, keras kepala. "Aku tidak bisa melepasmu lagi, Naruto. Sekarang aku sama sekali tidak memiliki keyakinan jika kau akan kembali setelah aku melepasmu untuk yang kedua kali."
.
.
.
TBC
Halo... selamat tahun baru, Teman-teman! Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik di tahun ini. Semoga apa yang belum berhasil kita raih di tahun2 sebelumnya berhasil dicapai di tahun ini. Semoga yang belum lulus; lulus kuliah, lulus interview kerja, lulus seleksi calon mertua bisa lulus di tahun ini. Moga yang masih jomblo bisa melepas predikatnya di tahun ini. #PeaceYahMblo XD
Btw, niatnya mau bikin pembaca kesengsem sama Sasuke, eh... apa daya, kayaknya dichap ini malah ngebuat dia makin nyebelin ye... Hahahaha!
Terus, banyak yang tanya masa lalu antara Sasuke dan Naruto. Nanti akan saya bahas di satu chap khusus. Mohon untuk kesabarannya! ^^
Ada beberapa request masuk juga, minta dibuatkan fic, mohon maaf sebesar-besarnya, untuk saat ini belum dapat saya kabulkan. Ayo... kenapa tidak mencoba membuatnya sendiri? Akan lebih berkesan kalau hasil kita sendiri, kan? Sekali lagi saya mohon maaf. (:
Dan disini, Naruto memang terkesan plin-plan ye... Tapi, itu mah salah saya sebagai penulis yang membuat karakter dia menjadi plin-plan untuk kebutuhan jalan cerita dific ini. Lalu, untuk pertanyaan mengenai siapa Koyuki, sudah saya jawab dichap ini juga. Masih kesel nggak sama Koyuki? :D
Untuk yang tanya saya orang mana: Saya orang Indonesia, asli. Udah dicap paten dijidat nih. ^^
Sekian dan sampai jumpa dichap selanjutnya! (;
#WeDoCareAboutSFN
