Disclaimer
Fairy Tail milik Hiro Mashima
Previous Story
"Aku benci kamu!" Lucy mendorong Sting, kemudian berlari kabur dari perpustakaan.
Sting tersenyum kecil, kemudian menggumam, "aku berhasil kan, Lis?"
.
You Are My Destiny
.
Genre : Romance/Drama/Friendship
.
Pair : Lisanna S. X Natsu D. X Lucy H. X Sting E.
.
AU. Maaf bila gaje, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya
.
[Lucy's POV]
Kemah tahunan. Semua siswa Fairy Tail wajib mengikuti kegiatan ini. Tapi sejujurnya, aku agak sedikit malas untuk ikut.
Aku memasukkan bajuku ke dalam tas. Kemudian menghela napas pelan. Setidaknya ini lebih baik. Empat hari tidak bernyanyi dengan Sting? Ya, itu lebih baik.
Kami sudah berbaikan sejak kejadian di perpustakaan itu. Namun, aku masih tidak bisa menghilangkan rasa sebalku padanya. Yang menambah semuanya lebih buruk, aku tidak tahu bagaimana hubungan Natsu dan Lisanna setelah itu.
Kyuu~
Rasanya hatiku menciut. Mereka pasti sudah kembali berpacaran. Lagipula, mereka kan dijodohkan?
~Tenonet tenonet. Tenonet tenonet.~
Aku segera mengangkat telpon dari Levy-chan.
"Moshi moshi. Ada apa Levy-chan?"
"Lu-chan sudah berangkat?"
"Ah ya sebentar lagi aku berangkat."
"Oke. Aku dan yang lain sudah di sekolah. Jaa~"
"Jaa~"
Klik. Lucy mematikan telponnya, dan bergegas pergi ke sekolah.
IOIOIOI
"Berapa jauh lagi kita akan berjalan?" Aku bertanya pada siapa pun yang akan menjawabnya. Letak kemah kami memang sedikit di atas bukit. Jadi, kami harus berjalan cukup jauh dan menanjak. Kini aku itu tengah berjalan bersama grupku, Cana, Juvia, Gray, dan Gajeel.
"Mungkin sekitar lima belas menit lagi." Gray menjawab pelan, sambil terus berjalan. Ia berada di depan, sementara Juvia dan Cana dibelakangnya. Gajeel berada di baris paling belakang, menemaniku yang sudah kepayahan.
"Juvia tidak akan lelah selama Juvia berada di dekat Gray-sama!" Juvia terus berjalan di belakang Gray, dengan matanya yang dari tadi berbentuk hati.
"Tch. Stalker." Cana menggumam pelan. Kemudian hening menyelimuti hutan ini.
"Aaw!" Kembali suara Juvia mengisi atmosfir. Ia tersandung sesuatu, terjatuh, dan kakinya terbaret tanaman berduri. "Hwaa Gray-sama tolong Juvia!"
Gray pun membantu Juvia berdiri, dan mendudukannya di sebuah kayu. Ia mengeluarkan botol airnya dan mencuci luka di pergelangan kaki Juvia. Ah, ini familier.
"Ah aku tidak bawa plester. Apa kalian ada yang bawa?" Gray menengok pada ketiga anggota grupnya.
"Aku bawa!" Sahutku ringan. Aku membuka resleting depan tasku, kemudian mengambil plester. Dan menyerahkannya pada Gray. Pria itu pun menempelkan plester pada pergelangan kaki Juvia.
Ah aku ingat. Saat aku ditemukan Sting, Rogue yang membersihkan luka pada lututku. Aku tersenyum.
"Kau bisa berjalan Juvia?"
Juvia berusaha berdiri, kemudian terjatuh lagi. Dengan sigap, Gray menangkapnya dan mata mereka bertemu. Kulihat wajah Gray menimbulkan sedikit kemerahan. Hihihi, ia tak mau menyadari perasaannya ya?
"Uh... Sepertinya tidak." Gray mengedikkan bahunya kemudian berjongkok di depan Juvia. "Naik."
Juvia pun segera melompat ke punggung Gray. Kutebak, pikiran Juvia pasti sedang fangirling. Hihihi.
Klontang klontang!
Aku menengok pada sumber suara. Ah, itu botol minum Juvia. Botol kaleng berwarna biru itu menggelinding ke bawah. Aku berlari kecil mengambilnya.
Tes! Tes! Tes!
Eh? Hujan?!
Kudengar samar-samar pembicaraan grupku, walaupun aku sedang berlari kecil mengambil botol Juvia.
"Ayo cepat! Keburu hujan deras!" Gajeel berteriak.
Tap tap tap! Langkah kaki memburu ke atas bukit. "Hey! Tunggu aku!"
Untung botol Juvia terhentikan oleh sebuah kayu yang cukup besar. Aku memungutnya dan berlari kecil mengejar grupku.
"Hah... hah..."
Dimana mereka? Apa langkah kakiku kurang cepat?
Saat aku ingat... aku kan punya ponsel! Duh, Lucy, kadang-kadang kau sama saja dengan Natsu.
...
Eh? Kenapa aku mengingat dia? Huh. Lupakan Natsu, Lucy. Lupakan.
Aku merogoh kantong celanaku dan mengambil ponselku.
Tidak ada sinyal?! Kami-sama! Hal sial apa lagi yang akan menimpaku?
"GRAY! CANA! JUVIA! GAJEEL!" Aku meneriakkan nama mereka satu-satu. Kakiku mulai lelah. Sebenarnya, dari tadi kakiku sudah lelah. Napasku sudah mulai payah. Sepertinya suaraku akan habis.
"Levy... Erza..."
Bruk! Badanku terjatuh, dan tersandar pada pohon. Untung saja, kalau tidak mungkin aku sudah tertidur di hutan ini.
Dingin. Hujan tak mau bersahabat denganku. Badanku mulai menggigil. Bajuku basah sepenuhnya. Aku lupa membawa jas hujan.
"Mama..." Sebuah kata terselip dari bibirku yang bergetar. Air mata mulai mengaliri pipiku. Siapapun tolong aku...
Ah. Aku ingat sesuatu.
Aku mencari jimat di saku bajuku. Tidak ada? Tidak! Aku tidak boleh kehilangan jimatku!
Aku mencari benda kecil itu di segala tempat, jaket, celana, ransel, setiap tempat yang mempunyai celah. Tak ada.
Tanganku yang gemetar bergerak menyibak dedaunan yang jatuh. Dimana benda itu?
Brr...
Napasku mulai pendek. Udara semakin dingin. Angin bertiup kencang. Butiran air hujan yang besar menghujam kulitku. Dadaku mulai menyesak. Aku menelungkupkan kepala ku ke dalam lutut.
Aku sudah tidak kuat berteriak. "Natsu... tolong aku..."
Fuuuh... fuuh...
H-hangat? Sesuatu yang hangat. Aku mendongakkan kepalaku, dan menemukan seseorang tengah berjongkok di depanku, meniup tanganku yang mulai membeku.
[Normal POV]
Natsu meniup tangan Lucy yang sudah memucat. Ia sedikit tersentak ketika gadis itu mengangkat kepalanya.
"Luce, daijobu?"
Pria berambut merah muda itu segera melepas jaketnya yang berbahan parasut, dan memakaikannya untuk menghangatkan Lucy. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan yang berada di kantong celananya dan mengusap air mata Lucy.
Sementara gadis itu hanya menatap ke depan, kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin ia terlalu takut untuk menganggap kejadian ini merupakan suatu kenyataan.
"Mau ke camp?" Natsu bertanya dengan lembut.
Namun Lucy malah menggeleng. Natsu mengerutkan keningnya. "Kamu sakit?" Lucy kembali menggeleng.
"Pusing?" Lucy menggeleng lagi.
Lucy membuka mulutnya, hendak mengucapkan sebuah kata. Natsu menunggu dengan sabar, sambil terus mengusap-ngusap tangan Lucy.
"Ji...mat..." Bibir Lucy terus bergetar. Namun Natsu langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Lucy. Tumben sekali bukan? #pletak
Natsu mencari ke sekeliling Lucy. Namun tangannya masih ia genggamkan pada tangan Lucy, menjaga agar gadis ini terjaga dan hangat.
Diantara rerumputan dan dedaunan yang basah, Natsu melihat sebuah kilauan. Ia melepas genggamannya sejenak, kemudian mengambil benda itu. Natsu kembali berjongkok di depan Lucy, kemudian mengacungkan benda yang merupakan gantungan kunci itu ke depan wajah Lucy.
Mata Lucy melebar, namun mulai memancarkan kehangatan. Ia dengan perlahan mengambil gantungan itu dan mendekapnya erat-erat.
Lucy tersenyum simpul, dibalas oleh cengiran Natsu yang khas. "Mau ke camp?"
Gadis itu mengangguk, kemudian berjalan bersama dengan Natsu.
IOIOIOIOI
"Lu-chan!"
"Lucy!"
Erza dan Levy langsung memeluk sahabatnya yang masih terlihat pucat.
"Guys, maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir." Ucap Lucy kemudian tersenyum pada dua sahabatnya.
"Lucy, maafkan kami karena telah meninggalkanmu." Gray berkata dengan nada sedih.
"Natsu!"
Pria berambut merah muda itu pun menengok, mengikuti arah suara pacarnya. Yup, kalau boleh diulangi lagi, suara pacarnya.
"Yo, Lis!"
"Kau tidak apa-apa?"
"Tentu saja, Lis. Untung saja aku bisa menemukan Lucy." Natsu tersenyum senang. Sementara Lisanna berusaha membalas dengan senyumnya. Kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Natsu.
"LU-CHAN!" Natsu sontak menengok ke arah Lucy.
Gadis itu tiba-tiba saja pingsan. Namun Sting yang entah darimana langsung membopongnya ala bridal style, kemudian membaca Lucy ke tenda P3K.
Natsu ingin melangkah, menawarkan diri untuk menjaga Lucy. Namun tangan Lisanna justru semakin kencang memeluk lengannya.
IOIOIOIOI
Lucy mengerjapkan matanya pelan. Yang ia lihat hanya... oranye?
"Lu-chan! Syukur lah kau sudah bangun!" Suara Levy langsung menghambur ke telinga Lucy.
"Ah, Levy-chan. Apa yang terjadi?"
"Sepertinya kau sudah terlalu lelah dan lapar. Jadinya, pas kamu sampai bersama Natsu, kau pingsan."
'Natsu? Jadi... tadi itu bukan mimpi?'
"Untung saja Sting segera menangkapmu dan membawamu ke sini. Rasanya seperti melihat kalian waktu kecil, lucu sekali. Ia menggendongmu ala bridal style. Ia pernah melakukannya padamu waktu kecil, dan kau sangat marah padanya. Hahaha."
'Sting? Sting yang membawaku kesini?'
Sejujurnya Lucy tak terlalu senang ketika ia mendengar nama Sting. Tapi fakta bahwa Sting telah menyelamatkannya membungkamkan rasa tak suka itu.
Tiba-tiba Lucy merasa ada sesuatu yang hilang.
"Jimatku!"
Levy menaikkan satu alisnya namun tersenyum. "Maksudmu ini, Lu-chan?" Levy mengangkat sebuah gantungan kunci logam berbentuk naga.
Lucy mengambil gantungan itu kemudian tersenyum, "arigatou, Levy-chan."
"Boleh kah aku bertanya, Lu-chan?"
"Tentu saja. Ada apa?"
"Kau suka pada Natsu?"
Tenda kesehatan itu menjadi hening seketika. Levy bisa melihat dengan jelas bahwa muka sahabatnya sudah merona merah. Dan tentu saja ia sudah tau jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.
"E-eto..."
"Uhuh, tak usah mengelak. Aku sudah menduganya. Kenapa kau tidak bercerita padaku?"
"A-aku takut Lisanna akan marah padaku. Dan kau juga ikut membenciku."
Levy mendesah pelan, "Lu-chan, aku tidak akan pernah membencimu." Kemudian tersenyum pada Lucy.
"Terimakasih, Levy-chan. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tau?"
"Nama Natsu terukir pada jimatmu. Sekarang, kau mau menceritakan bagaimana kau bisa mendapatkan benda itu? Kau membuatnya sendiri?"
"T-tentu saja tidak. Jadi, waktu mamaku meninggal..."
Dan Lucy menceritakan segalanya. Tentu hanya bagian dimana ia bertemu dan dihibur oleh Natsu, sampai ia bertemu Sting. Setelah itu, Levy sudah mengetahui ceritanya, bahkan sudah diulang berkali-kali oleh Lucy sewaktu mereka kecil.
"Astaga, Lu-chan! Tak kusangka dia bisa menjadi begitu manis."
"Yah, begitu lah..." Kembali muncul rona merah pada pipi Lucy.
"Tenang saja, Lu-chan. Aku tidak akan memberitahukan ini pada siapa-siapa." Ucap Levy sebelum Lucy memintanya.
"Arigatou, Levy-chan!"
IOIOIOIOI
Terangnya cahaya api berpendar, menyinari wajah-wajah murid SMA Fairy Tail. Malam itu mereka habiskan dengan senang. Api unggun telah dinyalakan, dan beberapa dari mereka tengah bersiap-siap untuk mementaskan sesuatu.
"Uh. Sayang sekali Rogue tidak bisa tampil." Lucy berkata sambil mengecek stem gitarnya. Yap, Lucy juga bisa bermain gitar loh. Walaupun cuma sedikit lagu yang bisa ia mainkan.
"Naa, Lucy. Tidak kah kau senang bisa tampil hanya berdua dengan pangeranmu ini?" Goda Sting.
"Tch. Pangeran ketekmu." Sahut Lucy ketus. Ia masih sedikit sebal karena harus bernyanyi dengan Sting lagi. Bahkan lebih buruk, ia hanya berdua dengannya.
"Ouch. Princessku masih belum memaafkanku?"
Lucy melirikkan matanya tajam pada Sting, namun pria itu justru tersenyum menggoda.
"Ugh, baiklah. Aku memaafkanmu."
"Sudah siap bernyanyi, Hime?"
Lucy tersenyum, "yup."
Sting dan Lucy dengan kompak memulai permainan gitarnya. Dan musik yang menenangkan mengalun mengisi malam yang gelap itu.
Lucy memulai nyanyiannya,
"I've never gone with the wind
Just let it flow
Let it take me where it wants to go
Till you open the door
There's so much more
I've never seen it before,
I was trying to fly
But I couldn't find wings
Then you came along
And you changed everything,
You lift my feet off the ground
Spin me around
You make me crazier, crazier
Lucy menengok pada Sting, mengisyaratkannya untuk bersiap-siap menyanyikan bait selanjutnya. Namun, Lucy malah larut dengan mata Sting yang menatapnya terus menerus, dan melanjutkan nyanyiannya.
"Feels like I'm falling and I
I'm lost in your eyes
You make me crazier,
Crazier, crazier
Kemudian Sting yang gantian bernyanyi,
"Watched from a distance as you
Made life your own
Every sky was your own kind of blue
And I wanted to know
How that would feel
And you made it so real
Dan membiarkan Lucy melanjutkan bagiannya,
"You showed me something that I couldn't see
You opened my eyes and you made me believe,
You lift my feet off the ground'
Spin me around
You make me crazier, crazier
Feels like I'm falling and I
I'm lost in your eyes
You make me crazier,
Crazier, crazier,
ohh...
Baby, you showed me what living is for
I don't want to hide anymore... more...
Mereka pun menyanyikan bait terakhir bersama-sama,
"You lift my feet off the ground,
spin me around
You make me crazier, crazier
Feels like I'm falling and I
I'm lost in your eyes
You make me crazier,
Crazier, crazier
Lucy nyaris menahan napasnya ketika menyanyikan baris terakhir dari lagu ini. Entah sesuatu membuatnya kembali menengok ke arah Sting, dan mendapatinya sedang melihat ke arah Lucy. Mata mereka bertemu. Walaupun hanya dalam beberapa detik, jantung Lucy dibuatnya berdegup dengan kencang.
"Crazier, crazier..."
Jreng... Petikkan terakhir dari Sting menutup lagu tersebut. Lucy bahkan tidak menyadari sejak kapan dia berhenti memainkan gitarnya. Yang ia rasakan hanya... sesuatu yang hangat menyusup dalam tubuhnya. Mulutnya terus berkomat kamit sesuai lirik lagu. Dan saat matanya menatap mata Sting, oh, gadis ini tak tahu harus berbuat apa. Bahkan, gadis itu tak menyadari betapa riuhnya tepuk tangan atas pentas mereka yang mengagumkan.
'Jangan-jangan aku...'
"Lucy?"
Lucy sontak sadar ke dunia sebenarnya. Ia melihat Sting yang tiba-tiba menaikkan satu alisnya.
"Um. Karena tidak ada yang mau bergantian menampilkan sesuatu, kau harus melempar kertas ini. Kau tau? Seperti pengantin?" Sting berkata dengan nada yang sedikit menggantung pada akhir kalimatnya. Namun Lucy langsung mengerti.
Sting memberikannya segrumpel (?) kertas, kemudian Lucy membelakangi para penonton yang merupakan teman-teman SMAnya. Dan beberapa detik setelah ia melempar kertas itu,
"AAWW!" Lucy tahu benar milik siapa suara itu, dan langsung menengok ke belakang.
"Geez, Luce. Aku tau ini hanya kertas, tapi kau tidak perlu melemparnya kencang-kencang." Ucap Natsu sambil mengusap jidatnya yang telah tersiksa oleh segumpal kertas. Lucy hanya menyunggingkan sebuah senyum, dan melupakan firasatnya tentang Sting.
Natsu pun berdiri dan mengambil gitar yang tadi dipakai Lucy. Ia sedikit menyetem gitar itu sesuai 'setting'an biasanya, kemudian memetik senar gitar itu.
"Lagu ini, kupersembahkan untuk seorang gadis." Ucap Natsu seolah-olah ia sedang bernyanyi dalam suatu konser.
Suara bisikkan mulai memenuhi murid ketika Natsu mengucapkan kalimat itu. Yah, kebanyakan dari mereka menggosipkan bahwa, 'Natsu dan Lisanna sudah berpacaran lagi.', 'Pasti lagu itu untuk Lisanna.', dan semacamnya.
Tak peduli dengan gosip yang beredar, Natsu mulai menggenjreng gitarnya.
"Oh thinkin' about all our younger years
There was only you and me
We were young and wild and free
Now nothing can take you away from me
We've been down that road before
But that's over now
You keep me comin' back for more
Natsu tampak melihat ke arah penonton. Melirik ke sana dan kemari, mencari seorang gadis yang menjadi tujuannya menyanyikan lagu ini.
"And baby you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven
Oh once in your life you find someone
Who will turn your world around
Bring you up when you're feelin' down
Now nothin' can change what you mean to me
Oh there's lots that I could say
But just hold me now
'Cause our love will light the way,
Lisanna tersenyum senang. Malam ini merupakan malamnya. Yah, setidaknya itu yang dia pikirkan.
"And Baby you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven
Dan mata Natsu kini berhenti melirik. Ia tengah menatap seorang gadis. Gadis itu kini tengah duduk di antara kerumunan orang. Seolah tak ingin duduk paling depan. Namun Natsu justru berharap gadis itu berada paling depan, mendengar nyanyiannya dengan jelas.
I've been waitin' for so long
For somethin' to arrive
For love to come along
Now our dreams are comin' true
Through the good times and the bad
I'll be standin' there by you, oh!
Natsu masih menatap gadis itu, kini ia sedang mengobrol dengan sahabatnya yang memiliki rambut berwarna biru. Kemudian sahabatnya itu tersenyum pada gadis itu. Dan dibalas kembali dengan senyum. Membuat hati Natsu tersenyum pula.
"And baby you're all that I want
When you're lyin' here in my arms
I'm findin' it hard to believe
We're in heaven
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn't too hard to see
We're in heaven, heaven
Whoa, oh, oh!
You're all that I want
You're all that I need
We're in heaven
We're in heaven
We're in heaven..."
IOIOIOIOI
"Lu-chan! Bangun lah. Hari ini kita boleh memilih antara memancing atau naik perahu!" Ucap Levy bersemangat, sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang masih tertidur pulas.
Namun, gadis itu masih saja menutup matanya.
"Lu-chan! LU-CHAN!" Levy pun berteriak di kuping Lucy.
"Warna kolorku bukan biru muda!" Lucy berteriak kencang dan cepat sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Pufffttt... Huahahahahaha!" Levy tertawa dengan senang, lebih tepatnya mengejek. "Pufhahaha. Lu-chan, kau bermimpi apa barusan?"
"A-ano...e-eto..."
"Hahaha. Lupakan saja. Ayo kita siap-siap!"
Lucy segera duduk dari posisi tidurnya, "siap-siap? Memangnya hari ini acaranya apa? Kenapa kau senang sekali?"
"Benar. Kau masih memikirkan warna kolormu ketika aku memberitahumu..."
"Le-Levy-chan!"
"Baiklah. Kita akan naik perahuuuuuu! Yuhuuu!"
"Aaah~ Aku tau kenapa kau senang sekarang. Kau mau naik perahu sama Gajeel, 'berdua' saja kan?" Ucap Lucy sambil menekankan kata 'berdua'.
"T-Tidak! Aku kan mau naiknya sama Lu-chan!"
"Ara ara~ Jangan berbohong, Levy-chan. Tenang saja. Aku akan mencari partner lain untuk naik perahu. Kalau begitu, aku duluan. Jaa~" Lucy berkedip kemudian meninggalkan Levy dengan muka memerah di dalam tenda.
IOIOIOIOI
"Huff. Levy dengan Gajeel. Erza dengan Jellal. Bahkan Gray satu perahu dengan Juvia..." Lucy menggumam pelan sambil mendayung perahunya ke tengah danau.
Ia menaiki perahu sendirian. Tadinya ia mau mengajak Cana. Tapi sebelum Lucy mengucapkan satu patah kata sekali pun, Cana langsung pergi dan mengambil sebotol minuman di kotak minuman. Tandanya, ia tak mau diganggu.
Manik karamelnya berputar menuju ujung danau. Tempat beberapa murid lain sedang memancing di sana. Matanya yang indah itu kini menangkap seorang pria berambut merah muda dengan wanita berambut putih sedang memancing bersama. Lucy melepaskan napasnya.
"Mereka sudah jadian lagi, ya? Guess luck is not with you, Lucy."
Kini ia sudah berhenti mengayuh. Ia melihat ke sekelilingnya, ia sudah berada di tengah danau yang cukup luas itu. 'Astaga, apa yang kupikirkan?'
Jemari Lucy kini hendak menyentuh air danau yang bening dan bersih. Ia kembali menggumam, "aku jadi kangen... KYAAA!"
Benar. Gadis itu kini sudah tidak berada di dalam perahu mungil itu lagi. Kini tangannya sedang menggapai-gapai ke udara, berusaha meminta pertolongan. Kakinya terus bergerak melawan air, membuat kepalanya sedikit terlihat di atas permukaan air.
"LUCY!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung! Whoope! Kira-kira siapa ya yang bakal nyelametin Lucy? Kekeke :3 Tunggu di chapter selanjutnya :D
Ohya, lagu yang Sting dan Lucy nyanyikan adalah 'Crazier' yang dipopulerkan (?) oleh Taylor Swift. Sedangkan yang dinyanyikan Natsu judulnya 'Heaven', yang nyanyi aslinya Brian Adams.
Okey, Karin mau balas review dulu yaaa :)
Melda Heartfilia : iyaaaa merekaaa gilaaaaaaa #ikutan injek injek #plak hohoho. Bagaimana lisanna dan sting di chapter ini? Masih mengesalkan? Kekeke :3 Ini sudah dilanjutkan :D
PinkXYellowNaLu : Em, sepertinya mata Sting biru. Entahlah, Karin lebih suka liat mata natsu #plak Dan... yak. Aku sudah membaca chapter 367 yang super mengesalkan, walaupun di 368 masih ada mereka tapi zero baik sekali memberikan kain :") Tapi tetep aja itu NALIIIIII *lempar pisau ke lisanna*
Lheartfilia : Hehehe, biasa saja. Itu kewajiban sebagai author (?). Emmmm kalau harus dijawab, aku jawabnya 'iya'. Tapi gak tau loh yang nikah siapaaa #kabuuurr
ErinMizuMizuna-Chan : yup betul! Hihihihi, tunggu tunggu. Mereka tidak jadian? Mereka itu Sting dan Lisanna? Atau Lisanna dengan Natsu? ._.
Guest (santika widya) : Ini sudah dilanjut :D *Ikutan kampanya pake tulisan NALU gede-gede* *jejelin tulisan nalu ke muka Sting sama Lisanna* wkwk
TheZarkMon : Iya nih hiks :'( Ini Karin sudah berusaha selipkan StiCy sedikit, kurang greget ya? Kalau begitu chapter selanjutnya tunggu Sticynya ya ehehe :3
Guest : Duuh, Karin galau nih, endingnya Nalu gak yaaa #plak gomennasai, jawabannya akan muncul pada chapter terakhir (?). Tunggu ya :) Erhm, sting sama lisanna? Entahlah, aku belum dapet feel menjadikan mereka pasangan walau hanya untuk sementara ._. ehehe, pertanyaan selanjutnya akan terjawab di chapter akhir2 :3
Hii-chan Dechiano : Yuhuu! Karin ikut senang kalau hii-chan senang hehehe :D Arigatou! Nah, kalau mau bakar Sting, minta aja sama Natsu, kan gampang (y) #Plak
Arigatou buat semuanya yang sudah membaca dan mereview hihi. Karin senaaangg sekaliii. Ohya, sedikit promosi, baca juga yah fic Karin yang "Fairy Tail in Fairy Tale" #plak Hehehe, direview juga jangan lupa #maksa
Baiklah baiklah, selain itu, Karin juga mau memunculkan fic baru kekeke :3 Masih tentang Nalu dan lagi-lagi multichap kekekeke. Sekali-kali pengen coba bikin fic yang misterius wkwk.
Kalau begitu, Karin pamit dulu. Jangan lupa review yaaa!
Jaa~
