Hai semuanya. Semoga aku nggak kelamaan update-nya ya. Ngomong2, sorryyyyyyy banget. Tepat setelah ngepost chapter 7, aku baru baca ulang tulisanku yang belom diedit itu dan ternyata berantakan banget! banyak dialog yang aneh, deskripsi yang aneh, dan typo. Mohon maaf sebesar2nya, mulai sekarang aku akan rajin edit. Dan ngomong2, aku baru tau juga kalo Saguru itu dari Inggris ya bukan Amerika HAHAHAH. Tadinya aku rada lupa inggris apa amerika. Kupikir dia Amerika, kan pas ama Haibara yang dulunya pernah tinggal di Amerika. Eh gataunya. Tapi pembaca juga ngga ada yang ngeh sepertinya. Oleh karna sudah terlanjur, kita sama-sama berlagak aja ya kalo Saguru itu dari Amrik. Oke? Oke? Okedeeeehh..

BALASAN REVIEW

coffeelover98 as your wish :)

carverwords19 akhirnya memutuskan untuk lanjut nih :)

betiace kamu betul, konflik utamanya udah selesai memang, mungkin aku akan ganti summary ff ini, karna skg udah nggak relevan lagi dengan adanya chapter tambahan ini.

Mell Hinaga Kuran Nantikan aja di chapter selanjutnya ya. Aku berniat memunculkan Shin lagi kok. Hehe

Selamat membaca dan mereview! .


Saguru Hakuba

Pakaian rapi dan formal mungkin akan selalu jadi trademark-ku di sini. Rasanya memang cuma aku satu-satunya mahasiswa yang berpakaian serapi ini hanya untuk ke kampus. Tapi tidak apa. Untuk memikat hati para wanita memang dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Meski tanpa pakaian ini pun aku sudah cukup sukses menawan hati banyak wanita. Bukannya aku sombong. Tapi berkat beberapa kasus yang sempat terjadi di kampus ini, namaku mulai melambung karena terus membantu NYPD (New York Police Departement) memecahkan kasus. Dan lambat laun mereka jadi tahu kalau aku memang detektif tingkat dunia yang memecahkan kasus di banyak negara. Ah, memang sulit menyembunyikan reputasi sebaik ini.

Hari ini hari pertama tahun ajaran baru di Columbia University. Aku tidak terlalu bersemangat untuk kuliah, kalau boleh jujur. Alasannya sederhana. Orangtuaku lah yang memaksaku untuk mempelajari berbagai reaksi kimia dan nama-nama latin biologi di kampus ini, sementara aku lebih tertarik mencari pembunuh. Yah, kuakui jurusan Biokimia Molekul sedikit banyak memang membantu menambah wawasan sebagai modal menjadi detektif, karena itulah selama ini aku juga berusaha belajar dengan baik dan mendapatkan nilai bagus. Tapi kalau aku bisa sekolah di kampus khusus para detektif, itu pasti sangat seru.

Oke, pagi ini kampus terlihat sepi. Atau aku yang datang terlalu pagi? Hmm, ada baiknya juga. Aku jadi tidak perlu berurusan dengan para penggemarku dulu hari ini.

"Saguru!" Seruan lembut bergema di telinga. Aku menoleh dan melihat seorang gadis kaukasia berambut merah dengan wajah berbintik yang tingginya sepuluh senti di bawahku kini sedang berjalan dengan tempo cepat ke arahku. Aku menampilkan senyum terbaikku, yang menurut gosip sangat ampuh untuk membuat para gadis tergila-gila. Bukannya aku hobi bergosip, tapi aku selalu tertarik akan segala fakta yang terkait dengan reputasiku.

"Hei, Cecile," sahutku begitu dia tiba di depanku. Ya, aku mengenalnya. Cecile seorang gadis Inggris yang kuliah di Columbia University. Kami sekelas. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa dia menyukaiku sejak hari pertama masa orientasi. Sebetulnya tanpa gosip itu pun aku sudah tahu bahwa dia naksir padaku. Bagaimana tidak? Dia sering menunjukkan gejala-gejalanya karena ia terlalu polos. Kadang aku memergokinya sedang memperhatikanku diam-diam di kelas, kadang ia dengan malu-malu mengajakku makan siang bersama, dan ia memerah setiap kali aku menatap, atau bicara, atau tersenyum padanya. Seperti sekarang ini.

Tapi aku tidak bermaksud mempermainkannya. Sungguh. Dia gadis baik, dan aku senang berteman dengannya. Aku harap dia tidak akan kecewa kalau tahu hatiku sudah dimiliki orang lain. Aku juga tidak suka membuat gadis patah hati.

"Mau ke kelas?" tanyaku sambil menunggunya menstabilkan napasnya lantaran berjalan cepat tadi.

"Ya. Kau juga?" Ia mengangguk sambil tersenyum, tanpa bisa menutupi kegugupannya.

Profesor Walter sedang menerangkan materi praktikum kami hari itu sementara sebagian besar dari kami menguap, melamun, membuat coret-coretan asal di atas kertas, dan mengaca. Ya, memang tidak semua orang kuliah di jurusan ini karena menyukainya. Tapi sebagian lagi memang memperhatikan penjelasan menjemukan Profesor Walter dengan tekun. Sedangkan aku? Aku mengamati segalanya. Aku ini detektif, ingat?

"Baiklah," Profesor Walter berdeham. "Ada yang mau ditanyakan?"

Beberapa murid mengacungkan tangan dan profesor menjawab mereka satu per satu dengan sabar. Tidak lama acara tanya jawab itu usai.

"Jika sudah tidak ada lagi yang mau bertanya, sekarang kita akan memulai praktikum kecil ini di lab. Tapi sebelumnya saya ingin memperkenalkan seorang asisten yang akan membantu saya selama mata kuliah ini berlangsung untuk satu semester ke depan."

Kemudian arah matanya memandang ke pintu dan dari sana muncullah sosok gadis berambut coklat kemerahan bergaya bob dengan mata sipit yang amat cantik. Perpaduan wajah mongoloid dan kaukasoid yang sempurna. Aku menyadari semua mata kini sedang terpekur memandangi wajah asisten dosen yang perkiraan usianya kurang lebih sama dengan kami itu. Dia cantik, cuma ada satu yang kurang. Ekspresi wajahnya betul-betul dingin. Dan aku mendapati diriku terkejut sekaligus bahagia karena asisten dosen kami yang cantik itu sudah lebih dulu kukenali dengan nama Ai Haibara.

Setelah dipersilahkan Profesor Walter, gadis itu memperkenalkan dirinya. "Halo semuanya. Aku Ai Haibara, asisten Profesor Walter dalam mata kuliah ini. Kuharap kita dapat bekerja sama dengan baik."

"Oke," Profesor Walter berdeham. "Karena kalian sudah mengenalnya, sekarang kalian bisa bersiap-siap untuk praktikum di lab. Kita akan bertemu lagi di lab usai jam makan siang tiba. Selamat siang." Profesor Walter berjalan keluar setelah mengatakan kalimat itu. Asistennya mengekor di belakangnya.

Aku bergegas menyandang tasku dan berlari mengejar gadis itu. Ketika sudah bisa menyusul aku menepuk bahunya. "Hei!" sapaku.

Ia menoleh. Wajahnya nampak kebingungan. "Ya?" ucapnya. "Ada apa?"

Melihat reaksinya yang nampak tidak mengenaliku, kini aku jadi salah tingkah. "Ehm, aku..eh, kau tidak ingat padaku?"

Kedua alisnya bertaut. Mungkin ia nampak bingung melihatku yang mengajaknya bicara dalam bahasa Jepang. Namun beberapa detik kemudian kernyitan di dahinya hilang. "Oh!" serunya."Kau... Hakuba-san. Aku ingat sekarang."

"Kita bertemu di pesawat tiga hari yang lalu," ucapku sambil menganggukkan kepala.

"Eh, kau murid di sini?" Matanya mulai menelusuriku dari atas ke bawah.

"Lebih tepatnya aku akan diajar olehmu selama satu semester ini." Aku menyeringai.

Gadis itu tersenyum sekilas. "Kau salah satu murid Profesor Walter rupanya."

Aku mengangguk-angguk. Melihatnya nampak akan beranjak dari sini, aku cepat-cepat mengatakan, "Oh ya, kau juga akan makan siang kan? Mau makan denganku?"

Gadis itu baru saja membuka mulutnya hendak menjawab saat tiga orang mahasiswi dari fakultas lain menyapaku. "Saguru, ayo makan siang dengan kami."

Ini benar-benar gawat. Penggemar datang di saat yang salah. "Ehm, yah, sebenarnya aku..."

"Ayooo." Mereka mulai menarik-narik lengan kemejaku.

"Eh, tapi aku..."

"Tidak baik menolak tawaran makan siang, Hakuba-san." Haibara berdeham padaku. "Lagipula aku berencana makan siang bersama Profesor Walter. Masih ada hal yang harus kubahas untuk praktikum nanti." Lalu ia berbalik dan pergi.

Aku masih kesal lantaran tidak jadi makan siang dengan Haibara. Kini saat praktikum pun ia berpura-pura tidak mengenalku sama sekali. Yah, bukannya aku minta dia mengobrol denganku selama praktikum sih. Tapi setidaknya dia bisa tersenyum sekilas padaku atau apa. Selama praktikum dia benar-benar memperlakukan kami SEMUA sebagai murid. Ugh. Susah sekali mendekati gadis semacam ini. Pesonaku saja tidak mempan. Padahal menurut gosip tidak ada wanita yang tidak akan terpikat padaku.

Eh, kecuali... kecuali dia menyukai orang lain! Oke, nampaknya itu satu-satunya penjelasan paling masuk akal, tapi aku tetap tidak terima. Aku harus mencari tahu siapa laki-laki yang disukai Haibara.

Begitu kelas selesai, kami semua merapikan peralatan yang kami gunakan. Dan para penggemar mulai mendatangiku. Ini ritual usai kelas seperti biasanya. "Saguru, boleh pulang bersama denganmu?"

"Eh, maaf aku ada urusan hari ini. Maaf, Nona-Nona. Kita pulang lain kali saja ya." Aku melemparkan senyum mautku dan seketika gadis-gadis ini langsung mengangguk setuju lalu pergi. Fiuh. Sekarang...

Aku melihat seisi kelas. Sudah hampir kosong. Profesor Walter pergi duluan. Hanya ada aku, seorang mahasiswa yang baru selesai merapikan barang-barangnya dan sesaat lagi akan beranjak dari kelas ini, dan... Haibara.

Oh, ini kesempatan. Aku pun mendekatinya.

"Hei, biar kubantu merapikan peralatan itu." Tanpa menunggu jawabannya aku langsung mengulurkan tangan dan membantu meletakkan peralatan praktikum ke rak penyimpanan.

"Oh, terima kasih." Haibara tersenyum sekilas, lalu merapikan peralatan kembali. Astaga. Apa dia benar-benar setidakpeduli itu padaku?

"Bagaimana rasanya menjadi asisten dosen?" tanyaku berbasa-basi, dengan harapan dapat mencairkan suasana, sekaligus mencairkan hatinya yang beku.

"Mm, biasa saja. Pada dasarnya hanya mengajar. Bukan hal sulit." Ia menjawabku sambil tetap merapikan peralatan.

"Ya, tentu mudah untuk ukuran gadis cerdas sepertimu," sahutku sambil menatapnya. Dan aku melihat keningnya berkerut. Kenapa? Dia tidak suka dibilang cerdas?

"Kau tidak suka dibilang cerdas ya?" tuduhku.

"Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa... kurang nyaman."

Kecanggungan mengisi udara. Dengan segera aku mengalihkan topik perbincangan. "Omong-omong kau pulang dengan siapa nanti? Mau pulang denganku?"

Kini ia menghentikan aktivitasnya dan menatapku dengan kernyitan di dahi. Mungkin dia tidak suka diajak pulang bersama. Tapi dia hanya mengatakan, "Terima kasih tawarannya, tapi aku sudah ada tumpangan untuk pulang."

Nah kan! Pulang dengan pacarnya? Apa dia dijemput? Tapi aku tidak menanyakannya. Aku hanya mengangguk-angguk.

"Lagipula Profesor Walter masih ada kelas yang harus diajar. Aku tidak enak kalau membiarkanmu harus menungguku."

"Ah, sebenarnya aku tidak keberatan menunggumu pulang." Aku menyunggingkan senyumku yang paling memesona, tapi ia tidak tersentuh atau luluh sama sekali. Terbuat dari apa hati gadis ini?

Ia tetap menggeleng. "Tidak usah, Hakuba-san. Aku bisa pulang sendiri."

"Oh ya, panggil aku Saguru saja. Tidak usah formal seperti itu."

"Baiklah." Ia tersenyum. "Kau juga panggil nama depanku saja."

Ini benar-benar kemajuan yang bagus kan? Maksudku, pagi tadi dia masih tidak mengingatku, tapi sekarang kami sudah bisa saling memanggil nama kecil. Aku memang hebat. Nah sekarang, saatnya aku mencari tahu siapakah laki-laki misterius yang akan menjemputnya pulang nanti. Apa dia lebih tampan dariku? Lebih tinggi? Aku ingin tahu. Aku sudah menunggu sejak dua jam yang lalu, tapi gadis itu belum keluar juga.

Tapi, oh, itu dia akhirnya keluar juga. Dan nampaknya Profesor Walter juga akan pulang. Aku memperhatikan sekeliling. Hanya ada beberapa mobil yang diparkir di sini, yang mana mobilnya? Hei, tunggu dulu. Gadis itu dan Profesor Walter berjalan ke arah mobil yang sama. Astaga. Mereka pulang bersama?

Hm, oke. Mungkin rumah mereka memang searah? Ck. Sebagai detektif, aku tidak suka membiarkan rasa penasaran menghantuiku seperti ini.

Sekarang bagaimana? Apa aku harus mengikuti mereka?