"C'mon boy, MOVE!" teriak Vermouth dengan keras.

Laki-laki itu tetap pada posisi—melindungi Shiho. Memeluknya, erat nan lembut. Tidak peduli jika peluru itu bersarang di tubuhnya, asal jangan di tubuh Shiho.

Vermouth mendecih kesal. Tapi beberapa saat kemudian ia menyeringai. "Kenapa aku ragu? Aku juga akan membunuhmu nanti." Vermouth kembali memoncongkan pistolnya ke arah mereka dan bersiap menembak—

—ketika terdengar suara sirine mobil polisi.

"Merepotkan," gumam wanita blondie itu. Beberapa saat berpikir akhirnya dia pun urung menembakkan pelurunya.

Vermouth segera bergegas untuk kabur. Namun sebelum itu dia sempat mengatakan kata-kata yang sanggup membuat kedua orang yang sedang berpelukan itu terengah.

"Hebat, kau bisa kabur dari pengasinganku. Tapi apa kau pikir ayahmu selamat kali ini? Segera bunuh Sherry atau kau dapatkan jasad ayahmu."

Warning : Semi-canon, maybe OOC

Detective Conan © Aoyama Gosho

Author tidak mengambil keuntungan material dari cerita ini.

.

Takdir Bisa Diubah

.

Chapter 8 : Teman

.

.

.

Happy safe reading

xxxxx


"Ittai!"

"Gomen."

Saguru melirik kesal ke arah Shiho yang sedang menyuapinya. "Bisakah kau tidak menyenggol?"

"Aku tidak sengaja. Sudahlah diam saja," sahut Shiho yang juga ikut kesal.

Pemuda berambut pirang itu menghela napas sambil sesekali menahan sakit di tangannya yang terkena tembakan tadi. Mereka sudah ke rumah sakit dan mengobati seperlunya, dan sekarang mereka berada di rumah Shiho—Shiho tidak akan membiarkan Saguru pulang ke rumahnya sebelum menjelaskan apa yang terjadi.

Dan di sinilah mereka, di ruang TV, dengan semangkuk bubur hangat yang dipegang oleh Shiho guna menyuapi Saguru.

"Sudahlah, aku tahu kau terpaksa. Aku tidak begitu lapar. Sudah hentikan," gerutu Saguru menolehkan kepalanya ke direksi lain.

Shiho memutar bola matanya. "Kau ngambek atau apa?"

"Aku hanya tidak ingin melihat seseorang tidak tulus melakukan sesuatu."

"Aku tulus menyuapimu, aku tulus," sahut Shiho. "Lagipula kau sudah menyelamatkan nyawaku."

"..."

"Arigatou," ucap Shiho pelan.

Saguru menoleh. "Aku justru membahayakan nyawamu, bodoh."

Kedua insan itu jatuh dalam keheningan yang cukup panjang.

"Tidur saja dulu. Besok kau berhutang cerita padaku," ucap Shiho berdiri dan membereskan makanan-makanan.

Saguru masih terdiam. Dia sangat ingat kata-kata Vermouth yang tidak menjamin keselamatan ayahnya tersebut. Takut, kalut, semuanya menjadi satu. Shiho pun merasa prihatin, tapi di satu sisi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka berdua pun tidak tahu di mana lokasi penyekapan ayah Saguru.

Shiho mendekati Saguru. Ditaruhnya tangannya ke pipi kanan Saguru, mata lurus menatap hazel yang sedang kosong. Meski dia sangat penasaran dan bingung akan korelasi antara Saguru, ayah Saguru dan Vermouth, dia tetap menahannya. Berusaha mengerti dan menghargai keadaan.

"Saguru, sekarang yang penting istirahat dulu. Besok kita akan menganalisis bersama apa yang kita ketahui dan mulai menyelidiki Vermouth. Juga menyelamatkan ayahmu," ucap Shiho.

"Tidak ada waktu lagi," ucap Saguru setengah menangis.

"Vermouth tidak akan membunuh ayahmu sekarang. Dia masih mengharapkanmu untuk membunuhku, kan? Kata-kata terakhirnya tadi sangat jelas dicerna." Shiho kemudian membantu Saguru untuk berdiri. "Ayo, kutunjukkan kamar untuk tamu."

xxxxx

Saat pagi telah menjelang, Saguru dan Shiho sudah berencana untuk tidak masuk sekolah. Mereka akan berbincang mengenai kejadian kemarin di kantor detektif Saguru.

Walaupun Hakase bertanya-tanya kenapa Saguru sampai begitu, Shiho tidak mau menjelaskannya. Dia berpesan untuk tidak mengatakan apapun kepada Shinichi tentang Saguru yang terluka dan dirawat sementara di rumah Shiho. Hakase hanya bisa mengangguk, dia mengerti Shiho pasti menjelaskan semuanya jika waktunya sudah tepat.

"Tidak apa kau tidak sekolah?" tanya Saguru.

"Aku sudah lulus kedokteran, aku tidak akan bodoh jika membolos," omel Shiho.

"Bukan begitu maksudku," ucap Saguru sedikit sweatdrop. "Tapi Kudo. Dia pasti mencarimu."

Shiho menengadah—melihat angkasa yang membiru. "Shinichi, ya?" gumam Shiho pelan. "Dia tidak akan seperhatian begitu padaku. Apalagi sekarang dia sudah ada pacarnya, jadi apa gunanya memperhatikanku?"

"Kau cemburu?" Saguru melirik aquamarine Shiho yang sedang setengah melamun.

Hening sejenak sebelum Shiho menyeringai. "Apa? Kau cemburu melihat aku yang kau duga sedang cemburu pada Shinichi?"

"Sudah jelas kan," omel Saguru pelan ketika ia membuka pintu kantor detektifnya. Shiho yang mendengar itu terhenyak sebentar, sebelum akhirnya ia mengikuti Saguru untuk masuk ke dalam.

xxxxx

"Saguru dan Shiho absen," gumam Sonoko menelungkupkan wajahnya. "Apa yang terjadi, ya?"

"Sonoko, kau lihat Shiho?" tanya Shinichi yang menghampirinya.

Sonoko menggeleng. Dia pun bercerita bahwa kemarin saat pulang sekolah Shiho diajak kencan oleh Saguru dan kemudian sekarang mereka berdua absen bersama. SMS dan telepon ke nomor mereka pun masuk, tapi tidak juga dijawab.

Sonoko kemudian memberi pemikiran anehnya yang beranggapan bahwa mereka berdua pasti melakukan hal yang aneh-aneh. Shinichi langsung terlihat kesal dan menyangkal itu semua.

"Shiho mau diajak kencan oleh Saguru?" gumam Shinichi yang seakan tidak percaya. "Dengan Saguru yang terlihat aneh kemarin?"

"Kenapa kau mengurusi mereka, Shinichi-kun? Urusi istrimu sendiri, tuh. Kasihan dia, ajak dia kencan juga dong!" ucap Sonoko menyenggol lengan Shinichi—berusaha untuk menggoda.

Ran yang ada di sebelahnya langsung blushing. "Sonoko! Kami bukan suami istri!"

Shinichi terlihat tidak peduli dengan candaan kedua gadis itu. Dia terlalu sibuk memikirkan keadaan Shiho. Akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi rumah Hakase sepulang sekolah untuk konfirmasi.

xxxxx

"Jadi, begitulah."

Saguru menyesap teh buatan asistennya—tangannya sudah lumayan bisa untuk digerakkan meskipun masih sakit. Menaruh kembali cangkir buatan London itu, Saguru menunduk.

"Aku harap kau mengerti. Maafkan aku, Shiho. Sungguh."

Shiho terdiam. Cerita yang baru saja dia dengar itu masih dia putuskan bagaimana sebaiknya sikap untuk masalah ini.

Saguru bercerita bahwa dia diperintah paksa oleh Vermouth untuk membunuh Shiho, dengan ayahnya sebagai tawanan. Dia diberi waktu untuk membunuh Shiho secara pelan-pelan, sehingga Shiho tidak mendeteksi adanya aura jahat—aura hitam. Setelah Shiho benar-benar percaya pada Saguru, seharusnya Saguru segera membunuh Shiho dan menyelamatkan ayahnya.

Tapi apa?

Saguru tidak bisa melakukannya. Meskipun itu demi ayahnya.

Vermouth yang kesal karena Saguru tidak kunjung membawa mayat Shiho ke hadapannya, segera mengambil tindakan. Dia menyekap Saguru juga dan menguncinya di tempat lain, dan dia sendiri yang menyamar menjadi Saguru dan segera membunuh Shiho.

Tapi takdir berkata lain. Saguru yang nyatanya berhasil keluar dari tempat penculikan langsung menuju taman bermain—tempat Shiho dan Vermouth beradu pistol. Saguru bisa langsung tahu tempatnya karena selama ini Saguru sudah memasang alat tracker atau GPS pada handphone Shiho.

Dan sekarang keadaannya, Saguru terluka, ayah Saguru masih disekap dan Shiho harus memutuskan bagaimana langkah selanjutnya.

Dimaafkan?

Orang yang sudah terlanjur berurusan dengan seorang Vermouth, sudah pasti hidupnya tidak akan damai. Harusnya Shiho mengerti ini dan memaklumi Saguru yang memang notabene dipaksa.

Atau tidak dimaafkan?

Walaupun tidak sampai setahun, Shiho telah ditipu oleh Saguru. Dia bahkan menempelkan alat pelacak di handphone Shiho yang tidak diketahui pemiliknya sampai dia mengakuinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Shiho berdiri dan menampar Saguru.

Saguru hanya diam saja, sudah pasti Shiho akan membencinya. Sudah pasti. Gadis mana yang tidak benci ketika seorang laki-laki menipunya selama beberapa lama? Tidak ada yang bisa Saguru perbuat untuk membela dirinya, ini semua memang salahnya.

Hening. Suasana awkward.

Shiho bersimpuh di depan Saguru yang masih duduk di sofa—mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Saguru. Menepuk-nepuk lembut rambut pirang Saguru, dan mulai membelainya.

"Eh?" Saguru terhenyak melihat aksi Shiho. Mata hazel yang sedari tadi melihat ke bawah sekarang melihat aquamarine Shiho dengan sempurna.

"Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu."

Saguru tampak tidak percaya dengan perkataan Shiho barusan. Dengan reflek Saguru pun memeluk Shiho erat. Dengan tak lupa mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang—sampai telinga Shiho merasa bosan mendengarnya.

"Sudah, sudah," ucap Shiho menepuk punggung Saguru pelan. Saguru pun merenggangkan pelukannya.

"Lagipula kau tidak sepenuhnya bersalah. Walaupun kau selama ini telah menipuku, tapi dengan fakta bahwa kau tidak siap untuk membunuhku ... itu membuktikan bahwa kau baik," ucap Shiho menatap mata Saguru lekat.

Saguru tersenyum kecil. "Arigatou."

"Tapi, kenapa kau tidak mau membunuhku? Hora, aku seorang yang dulunya jahat—komplotan Vermouth. Aku juga tidak bersikap begitu ramah padamu. Dan ini tentang nyawa ayahmu sendiri yang berada di ujung tanduk."

"..."

"Seharusnya kau bunuh saja aku. Aku juga tidak ada gunanya berada di dunia ini. Keluargaku bahkan sudah meninggalkanku semua," gumam Shiho pelan. Mengingat bahwa Shinichi, orang yang disukainya sudah bersama pacarnya dan seketika Shiho merasa hampa—meskipun Shiho tahu itu akan terjadi.

Saguru menempelkan dahinya ke dahi Shiho. "Karena aku mencintaimu."

Shiho membeliakkan matanya.

"Ja-jangan bercanda di saat seperti ini, Saguru bodoh."

"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa—aku tidak bercanda. Ini semua salahmu. Kenapa kau begitu menarik, hm?"

"..."

"Aku menikmati semua waktu yang kita lalui bersama. Aku sampai lupa bahwa tujuanku mendekatimu sebenarnya adalah untuk membunhmu. Aku pun jadi bingung dan tidak bisa membunuhmu."

"Saguru ... aku ..."

"Sudah, jangan bilang apapun lagi. Aku tahu kau tidak punya perasaan padaku. Tapi setidaknya berterima kasihlah, perasaanku padamu ini menyelamatkan nyawamu, tahu?" Saguru menjauh dari muka Shiho dan berdiri menuju jendela.

Shiho memandang punggung Saguru. Entah apa yang Saguru pikirkan, yang jelas kedua bahu Saguru agak bergetar.

Mendekati Saguru, Shiho memeluknya dari belakang.

"Arigatou."

Udara mengalir pelan. Keheningan yang tercipta sungguh sangat damai. Semilir angin membelai lembut rambut pirang Saguru, yang berharap pada waktu untuk berhenti sekarang juga.

Saguru berbalik dan balas memeluk Shiho.

"Aku berjanji akan menyelamatkan ayahmu," ucap Shiho.

"Eh?"

"Aku berhutang padamu. Aku akan membantumu untuk menyelamatkan ayahmu dan memberantas Vermouth. Kita lakukan sekarang juga." Shiho melepaskan pelukannya dan menatap mata cokelat Saguru dengan lurus.

Saguru tersenyum. Dia kemudian mengangkat tangannya—berniat bersalaman dengan Shiho.

"Mulai sekarang, sudah tidak ada yang tersembunyi lagi. Kita adalah teman."

Shiho balas tersenyum dan bersalaman dengan Saguru. "Teman."

Beberapa momen kemudian Saguru menyeringai. Dia menarik tangan Shiho—yang masih berjabat tangan dengannya. Dia berbisik dengan halus di telinga Shiho—yang langsung mendapat hadiah jitakan kecil di kepala pirangnya.

"Teman tapi mesra, boleh kan?"

xxxxx

"Jadi kau tidak tahu di mana Shiho, Hakase?" tanya seorang pemuda yang terlihat gusar.

"Hmm, yah. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi dia pasti bercerita tepat pada waktunya," jawab Hakase sekenanya.

Shinichi berpikir sebentar. "Apakah Hakuba ke sini kemarin? Atau tadi pagi?"

"Tidak," ucap Hakase berbohong.

Walaupun masih dilanda kebingungan, Shinichi pun pamit dan kembali ke rumahnya sendiri. Dia tidak begitu konsentrasi dengan apa yang dia kerjakan, karena otaknya terus berpikir di mana Shiho berada sekarang.

Bahkan Ran, yang datang untuk mengantarkan makan malamnya, hanya bisa melihatnya dengan tatapan sedih. Ran selalu membuyarkan lamunan Shinichi saat makan malam berlangsung, sehingga makan malam itu berlangsung tidak nyaman.

Sedangkan Shinichi masih berpikir keras.

"Kau memikirkan Shiho-san ya?" ucap Ran akhirnya.

Shinichi yang mengunyah makanan itu menjawab dengan jujur. "Yah, begitulah. Aku khawatir di mana dia berada sekarang."

Ran sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa amarahnya. Dia berdiri dan sedikit menggebrak meja. "Jadi kau masih memikirkan gadis lain ketika kau makan malam dengan seorang gadis?"

"Ran, maksudku—tunggu, RAN!"

Shinichi mengejar Ran yang berlari keluar rumahnya. Tapi tepat di depan halaman rumah, langkah Shinichi terhenti. Dia tampak memikirkan sesuatu untuk sesaat dan akhirnya dia tidak mengejar Ran. Dia masuk kembali ke dalam rumah.

"Kalau dipikir-pikir, benar juga. Bisa-bisanya aku memikirkan Shiho saat aku makan malam bersama Ran, kekasihku?" gumam Shinichi yang duduk di kursi kesayangannya di perpustakaan.

"Tapi sekarang Shiho menghilang. Aku tidak bisa tinggal diam juga kan. Sungguh, Ran tidak menghargai Shiho sama sekali," ucap Shinichi lagi.

Shinichi berpikir kembali. Pasti ini ada hubungannya dengan Saguru. Shiho kan bekerja sebagai asisten Saguru, jadi pasti Saguru yang membawa Shiho dalam masalah.

Menyambar jaket, Shinichi segera menuju kantor detektif Saguru.

Shinichi segera mendapati kantor detektif Saguru, namun tidak mendapatkan kehadiran seorang pun di sana. Lampunya masih padam, jadi tidak mungkin ada orang di dalamnya.

Shinichi juga berkali-kali menghubungi Shiho dan Saguru. Walaupun telepon dia masuk, namun tidak satupun dari mereka yang menjawabnya. Sepertinya dibiarkan begitu saja. Ini membuat Shinichi menjadi bingung dan khawatir.

Namun karena tidak kunjung mendapatkan akal—karena otaknya yang sudah terlalu khawatir dan stress akan Shiho, Shinichi memutuskan untuk pulang.

xxxxx

"Bagaimana, kau menemukan sesuatu?" tanya Saguru.

"Kau sudah bertanya itu ratusan kali. Aku bosan mendengarnya," ucap Shiho kesal.

"Aku hanya berpikir akan ada perkembangan," sahut Saguru ikut kesal.

Shiho berkacak pinggang. "Bagaimana bisa ada perkembangan selama satu menit? Aku tidak bisa konsentrasi, tolong diamlah."

"Yes, madam."

Mereka kini tengah berada di ruang penelitian di sebuah gedung. Gedung yang sebelumnya dibuat Vermouth untuk menyekap Saguru. Gedung yang lumayan besar, namun sepertinya tidak terawat dan sudah ditinggal pemiliknya. Sepertinya gedung ini bekas sebuah pabrik.

Saguru dan Shiho yang memulai penyelidikan dari pagi hingga malam menjelang, menemukan beberapa barang. Seperti alat-alat penyamaran—mungkin itu milik Vermouth. Dan sekarang mereka sedang meneliti banyak hal untuk dijadikan bahan diskusi.

Saguru menemukan sebuah pistol, baju dan banyak hal lainnya. Dia pun meminta tolong Shiho untuk memeriksa apakah ada sidik jari yang tertinggal di barang-barang itu. Sementara dia sendiri kembali meneliti apakah ada barang yang aneh lagi.

"Mungkin dia sudah menghapus jejaknya," ucap Saguru. "Dia adalah seorang Vermouth, kau tahu."

"Tapi kenapa kau menyuruhku untuk mendeteksi sidik jari jika kau benar-benar kagum pada caranya yang tidak meninggalkan jejak?" omel Shiho.

Saguru tersenyum. "Siapa tahu."

BRAK

Kedua insan itu langsung terhenyak ketika mendengar suara keras di lantai bawah.

"Siapa itu?" tanya Shiho.

"Mana kutahu," sahut Saguru spontan. "Aku akan memeriksanya. Kau tetaplah di sini," lanjut Saguru. Shiho hanya mengangguk pelan.

Saguru keluar dari ruangan dan turun ke bawah untuk melihat keadaan. Karena langit sudah menggelap—dan semakin gelap, tidak ada cahaya yang tersisa. Listrik tidak bisa dihidupkan. Maka dari itu Saguru, dengan lampu senternya, menjalari setiap sudut ruangan dengan mata tetap waspada.

BRAK

Suara itu muncul lagi. Dengan mengandalkan indera pendengaran, Saguru bisa tahu kalau suara itu bermuara di sebelah kanannya. Saguru langsung mendekati ruangan sumber suara itu dan membukanya.

Ketika membukanya, Saguru sudah siap-siap pistol di tangannya. Dan ketika ia mengetahui sosok yang ada di balik ruangan itu—

—dia kaget.

To be Continued

xxxxx


[A/N]

Aku ketawa ketiwi waktu baca review yang (semuanya) menebak bahwa Shinichi yang menyelamatkan Shiho waktu di taman bermain. Haha, kalian semua salah tebak, ahihihi.

Sekarang, kira-kira yang ditemui Saguru itu siapa ya? ^3^ coba tebak. Pikirkan tokoh yang tidak terduga! Hehe.

Maaf sekali lagi, karena molornya waktu update. Pemilihan jurusan SMA membuatku galau, minna! Dan akhirnya aku pun masuk IPA, haha ^^

Thank you and big hug for:

aishanara87, Guest, Aria-chi, Nana, kawaii, Enji86, fujisaki eja, finestabc, Byzan, orang, hanz.dfrogz, Comel, hayaa mls login, Sung Rae In, Eunike Yuen, renee, Yureka, aisherry.haibara1, chapter 8, Guest, Guest, dan Jean Cosz.

[ FLAMES ALWAYS ALLOWED, BUT NO FOR SILENT READER ]

V

V

V

V

V