Disclaimer: YunJae dkk bukan milik saya.
Warning: AU, BL, Don't Like Don't Read
OC: Jung Jiyool
.
.
Lotus Candles
.
.
Terkadang cinta bagaikan lilin, menerangi yang lain dengan mengorbankan diri sendiri.
.
.
"Kau kelihatan lebih fresh dengan rambut barumu."
Yuno tersenyum tipis, "Aku selalu tampan bagaimanapun keadaanku."
"Tch." Changmin menendang pelan kaki Yuno.
Ia sedang sibuk membuka tokonya, tapi Yuno malah berjalan ke sana kemari hanya dengan bathrobe, bahkan rambutnya masih setengah basah. Ia tahu Yuno akan memulai rencana gilanya hari ini, tetapi ia baru sadar kalau kakaknya itu belum mempersiapkannya sama sekali.
Bunga-bunga segarnya baru ia pajang sebagian ketika sebuah mobil putih berhenti di depan tokonya. Tak lama orang-orang yang tak asing baginya berbondong turun dan memasuki toko bunganya. Sekilas ia bertemu pandang dengan sosok yang serupa Yuno, saat pria itu berjalan melewatinya mengekor pada seseorang yang ia ketahui bernama Jaejoong.
"Keringkan rambutmu dulu."
Yunho dengan Jiyool yang menemplok di dadanya, hanya mengawasi Jaejoong yang tengah mempersiapkan segala keperluan Yuno pagi ini. Ya, hanya untuk hari ini, guna memberikan arahan pada Yuno tentang bagaimana seorang Jung Yunho biasa berpenampilan. Pun Jaejoong sampai membawakan setelan miliknya untuk dipakai Yuno.
Ia memilih untuk memerhatikan pemuda jangkung yang sedang menata bunga di teras toko, dengan tatapan yang sesekali terarah padanya. Tak lama Yuno kembali dari lantai dua, sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Sekali lagi ia harus menabahkan hatinya kala melihat Jaejoong menyambar dasi yang hendak dikenakan oleh Yuno.
"Sini biar ku bantu."
Ia tahu Yuno harus segera berangkat, juga kondisi tangannya yang kurang baik, tetapi perlukah menyiapkan kebutuhannya sampai sejauh itu? Apalagi di depan dirinya yang notabene lebih berhak mendapatkan semua perlakuan tersebut.
Yuno bukannya tidak suka memperoleh perhatian lebih dari Jaejoong. Pun ia senang bisa memandangi rupa elok Jaejoong dari jarak yang begitu dekat. Hanya saja ia dapat menangkap raut tak bersahabat Yunho, juga rahang yang sempat mengeras. Tetapi adiknya itu berlagak tak melihat apa yang dilakukan Jaejoong padanya, dengan menyibukkan diri pada Jiyool yang masih setengah mengantuk di gendongannya.
"Kalau urusanku dengan klien cepat kelar, aku akan segera menemuimu, nanti kita makan siang bersama," ujar Jaejoong sembari meletakkan kotak berisi irisan buah semangka dan stroberi untuk camilan Yunho di meja kasir.
"Hm, tapi jangan memaksakan diri, aku bisa makan bersama Jiyool."
"Baiklah." Kemudian Jaejoong mengalihkan perhatian pada Jiyool yang sedari ia jemput dari kediaman Bibi Jang kemarin terus menempel pada sang appa.
"Yoolie masih mengambek sama papa, eoh?" godanya sembari menciumi pipi tembam balitanya, namun putri tersayangnya itu justru mengerang dan semakin mengeratkan pelukannya di leher appanya. Tampaknya Jiyool masih merajukinya karena keterlambatannya kemarin.
"Sudahlah, kau berangkat saja. Biar aku yang membujuknya nanti. Lagipula dia rewel karena masih mengantuk."
Jaejoong lantas mengangguk paham dan segera keluar toko berbarengan dengan Yuno. Kebetulan Jung Property sejalan dengan tempat pertemuan Jaejoong dengan sang pengguna jasa, jadi keduanya berangkat bersama. Lagi-lagi ia disuguhi kenyataan yang kurang mengenakkan pagi ini.
Keadaan bersangsur sepi manakala hanya ada Yunho dan Changmin selaku orang dewasa di sana. Apalagi belum ada pelanggan yang datang. Hanya terdengar derit kursi kayu yang sedikit terdorong saat Changmin mendudukkan dirinya. Yunho merasa canggung karena ini kali pertamanya bertemu Changmin. Dan untuk sementara ia akan sering berdua saja dengan pemuda yang katanya adalah adik seibunya itu karena ia sudah memutuskan untuk menggantikan peran Yuno di toko bunga tersebut. Dengan kikuk ia turut menduduki salah satu kursi kayu di depan meja kasir.
"Hyong, bicaralah."
"Hm?"
"Aku bosan, tapi kau juga diam. Ajak aku mengobrol."
Yunho bingung harus bersikap bagaimana. Ia sukar membuka obrolan dengan orang baru. Bahkan lebih mudah baginya melakukan negosiasi dengan relasi bisnisnya, dimana tujuan pertemuan sudah terkonsep.
Barangkali Changmin lelah menunggu reaksi darinya, sehingga pemuda itu meninggalkannya ke lantai dua. Namun tak lama pemuda itu turun dengan membawa sebuah gitar akustik. Secara mendadak ia ingin memetik dawainya. Ia hanya diam mengamati Changmin yang kembali duduk dan mulai membunyikan alat musik petiknya. Samar-samar ia juga bisa mendengar nyanyian Changmin yang dilagukan dalam gumaman.
"Permainan gitarmu bagus." Akhirnya Yunho memiliki topik untuk ia angkat, "Kau pasti gemar berlatih. Hanya saja progresinya kurang dinamis."
Changmin menghentikan permainannya, "Kau mengerti soal gitar?"
"Waktu masih sekolah, aku sering curi-curi kesempatan ke ruang musik untuk meminjam gitar atau alat musik lainnya."
"Kau kaya tapi kau tak mampu membelinya?" Changmin menunjukkan senyum miring.
"Bukan begitu, hanya saja aku tak pernah diizinkan untuk memilikinya, dulu. Halmoni tidak suka melihatku bermusik. Kalau sekarang, aku juga punya piano di rumahku sendiri, Jaejoong senang mendengar permainanku."
Changmin terdiam cukup lama, menimbang apa yang hendak ia utarakan, "Okaan pernah bilang kalau dia dulu penyanyi opera."
"Okaan?"
"Eomma."
"Oh."
Sekarang Yunho tahu dari mana bakat seninya diturunkan. Dari buku harian ibunya, ia bisa menyimpulkan bahwa neneknya tidak menyukai wanita yang telah melahirkannya itu, meskipun ia tak paham perihal alasannya. Bisa jadi ia mengingatkan neneknya pada seseorang yang kurang disukainya itu bila bermain musik, sehingga tidak sekalipun memperbolehkannya bermusik.
"Appa~ aus~"
Rengekan Jiyool mengalihkan fokus Yunho. Melihat putrinya sudah bangun, ia mendudukkan bocah yang tengah mengucek matanya itu di kursi sebelahnya. Tanpa ia minta, Changmin mendekat dengan membawakan segelas air putih untuk Jiyool.
"Hiii~ ada paman seleeem~" Jiyool mencengkeram lengan baju Yunho kuat-kuat. Pun ia beringsut menempel pada sang appa yang hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Eoh? Apa kau bilang?" Changmin meletakkan gelas Jiyool di meja yang dihadap Yunho, "Aku menyesal mengambilkanmu minum. Dasar keponakan durhaka. Lagipula aku belum setua itu untuk kau panggil paman—panggil oppa."
"Andweee~"
Semakin ditolak, Changmin kian gemas pada Jiyool. Ia berusaha melepaskan bocah itu dari Yunho, dan memeluknya erat tanpa peduli pada rontaannya ketika ia membawanya menjauh dari sang appa.
"Appa, Yoyi diculiiik~ tenapa Appa nggak nolong Yoyiii~ huweee~"
Yunho tahu Jiyool aman di tangan Changmin, sehingga ia memilih menanggapi denting lonceng angin yang menandakan ada pelanggan masuk. Ia pun beranjak menyambut sang pembeli disertai rasa grogi karena ini adalah pengalaman pertamanya.
"Nak Yuno, seperti biasanya, ya," ucap wanita tua itu, membuat Yunho kebingungan. Sedangkan Changmin yang hendak ia mintai tolong malah asyik dengan Jiyool.
Satu belum beres, ia kedatangan pelanggan lainnya, "Aku tidak tahu banyak tentang bunga, bisa kau pilihkan bunga yang bagus untuk ku berikan pada istriku di hari ulang tahunnya?"
Astaga, ia tidak menyangka bahwa pekerjaan yang menurutnya sederhana ternyata begitu rumit. Ia benar-benar tidak boleh meremehkannya.
Melihat Yunho kewalahan, Changmin berhenti main-main dan mengambil alih tugas sang kakak. Begitu selesai, ia mengambilkan beberapa buku tebal dan diletakkan di meja Yunho.
"Beberapa nama pelanggan tetap sudah tercatat di sini." Changmin menunjuk salah satu buku yang tampak paling tipis, "Tapi aku juga sudah menyimpan datanya di komputer itu."
Yunho hanya manggut-manggut seolah mengerti, padahal kepalanya mendadak pening disuguhi ensiklopedia beserta buku kumpulan bahasa bunga.
.
.
.
"Park Soojin sshi…."
"Nde?"
Soojin tahu bahwa yang kini menduduki kursi wakil direktur utama Jung Property bukanlah Yunho yang sebenarnya. Sebagai salah seorang yang nantinya terlibat dalam permainan ini, tidak mungkin ia tak diberi tahu. Pun ia mesti mendampingi seseorang yang belum berpengalaman dalam bidang yang biasa digeluti Yunho.
"Aku butuh bantuanmu."
Ia menghampiri meja sang wakil direktur dan berdiri di samping kursi yang diduduki Yuno untuk memberikan arahan. Namun di tengah penjelasannya ia sedikit terkejut ketika Yuno beranjak mendorong kursi lain untuk ia duduki. Ragu-ragu ia duduk, bersebelahan dengan Yuno yang menyimaknya dengan saksama.
Seingatnya ia belum pernah sedekat ini dengan Yunho. Ia bahkan bisa mencium bau parfum Yuno dari jarak sedekat itu, yang entah bagaimana aroma kayu tersebut mampu mendatangkan desiran di dadanya. Diam-diam ia meneliti garis rahang Yuno, hal yang tak pernah dilakukannya kepada Yunho. Baginya Yunho tak ubahnya seperti Yoochun, adiknya. Yunho yang terkadang kalem lebih cenderung dingin dan angkuh, tak mungkin bersikap manis selain kepada orang-orang yang dikasihinya. Sedangkan Yuno berbeda. Selain lebih dewasa dibandingkan Yunho, di matanya, pria ini begitu hangat, kesan pertama yang menguat setelah ia mendapatkan perlakuan ramahnya.
"Ugh."
Konsentrasi Yuno buyar ketika Soojin berhenti menjelaskan padanya mengenai tumpukan kontrak di meja yang perlu dibubuhi tanda tangan. Dilihatnya wanita itu tengah menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan dari raut wajahnya seperti menahan sesuatu. Ia yang berangsur mengerti, cepat-cepat merogoh sapu tangannya dan memberikannya pada Soojin.
"Perlu bantuanku untuk ke toilet? Kau juga bisa memakai toilet di ruangan ini."
Soojin menggeleng lemah dan segera menggunakan sapu tangan Yuno untuk menutup mulutnya. Namun aroma wewangian yang tercium dari sana sama sekali tidak membantunya, justru membuat perutnya semakin bergejolak. Ia menyerah dan membawa langkah lebarnya ke toilet, diikuti Yuno yang kemudian memijitkan tengkuknya sekaligus memegangi rambut panjangnya agar tidak basah tepercik air keran.
"Kau sering mengalami ini? Kenapa kau masih bekerja?"
"Tidak masalah," balas Soojin setelah mengelap mulutnya. Sekilas dipandangnya pantulan wajahnya di cermin; pucat, dan bibirnya seakan kehilangan warna.
Yuno membantunya untuk kembali ke tempat duduknya, kemudian dilihatnya pria itu memencet interkom ke pantri, "Bawakan teh hangat."
Yuno kembali duduk setelahnya. Tak ada yang bersuara, sampai Yuno memecah keheningan di antara keduanya, "Menurutmu, bagaimana reaksi Jung sajangnim kalau aku mengatakan akan tinggal di kediaman utama hari ini juga dan segera menikahimu?"
Dan Soojin merasa seperti mendapatkan pinangan, kendati ia tahu bahwa Yuno melakukan semua ini demi saudara kembarnya.
.
.
.
"Aigoo, Noona—apa tak masalah jika kau sering datang kemari?"
"Anieyo." Boa melepas kacamata hitamnya disertai senyum yang menampakkan lesung pipitnya, "Selama aku tak menciptakan lautan manusia di depan tokomu ini. Lagipula aku menemuimu bukan tanpa alasan."
Changmin tampak ragu menerima ponsel yang diangsurkan Boa padanya. Ia memang tidak punya alat telekomunikasi itu, namun bukan berarti ia tak mampu membelinya. Ia hanya merasa kalau telepon seluler belum terlalu dibutuhkannya, selain pesawat telepon untuk tokonya. Dan lagi, game player lebih menarik minatnya.
"Agar aku mudah menghubungimu, dan tidak selalu harus datang ke sini selagi kau belum tinggal di asrama."
Changmin memang sedang disiapkan untuk menjadi seorang trainee. Ia juga dikabarkan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk debutnya.
"Sebenarnya aku bisa membelinya sendiri jika memang diharuskan punya."
"Sudahlah, pakai itu saja."
"Jangan menolak niat baik orang lain, atau nasib baik yang akan menjauhimu." Yunho yang sedari tadi diam-diam memerhatikan, akhirnya memiliki celah untuk menimpali.
"Nah, kakakmu benar."
Boa tersenyum lebih lebar karena akhirnya Changmin tak menolak. Sedikit membungkukkan badannya ketika ia bertemu pandang dengan pria lainnya, dan atensinya cukup lama tak teralih, tertegun mendapati pria itu tampak lebih segar dengan style rambut yang baru, rapi namun terkesan cool. Tidak buruk, meskipun ia pernah terpikir ingin melihat kakak Changmin itu memanjangkan rambutnya.
.
.
.
Yunho bersimpuh di depan batu nisan ibunya. Batinnya pedih melihat tanggal kematian ibunya. Kalau saja ia bertemu dengan saudara-saudaranya sedikit lebih awal, barangkali ia bisa bersua dengan ibunya juga. Namun ia tak diberi kesempatan hanya untuk memeluknya sekali saja. Wanita yang telah melahirkannya, yang tak pernah ditemuinya selama ini selain dalam foto yang diperlihatkan Changmin kepadanya, dan ternyata ibunya begitu anggun, lebih cantik dari yang sanggup ia bayangkan.
Diletakkannya bunga krisan putih dan sebotol anggur beras di pusara sang ibu sebelum ia memejamkan matanya serta menangkupkan tangannya untuk berdoa.
"Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku juga tidak membencimu. Tenanglah di sana … Eomma…," bisiknya sendu usai memanjatkan doa.
Dukanya sedikit terobati manakala ia mendapati Jiyool masih jongkok di sebelahnya, melakukan seperti yang ia lakukan sebelumnya.
"Moni, ini Yoyi … anak appa," ucapnya lugu.
"Cucu halmoni," sambung Yunho seraya mengusap kepala Jiyool dengan sayang.
"Yang paing tantik," imbuh Jiyool disertai tawa kecil ketika Yunho membawanya ke pangkuannya.
Yunho belum ingin beranjak dari sana, masih duduk bersila dengan Jiyool dalam rengkuhannya, menikmati semilir angin sore yang seolah mampu menerbangkan kesedihannya.
.
.
.
Tak diragukan lagi, nenek Jung sumringah mendengar kabar dari Soojin yang baginya begitu menggembirakan. Mulai malam ini Yunho akan kembali seatap dengannya, begitupun dengan Soojin yang ia perintahkan untuk turut serta. Ia mulai berpikir untuk segera menyiapkan pesta besar-besaran untuk pernikahan cucu tersayangnya.
Air mukanya seketika berubah tatkala ia teringat kesaksian Park Hyunchul tempo hari, bahwa ada seseorang yang begitu mirip dengan Yunho di lingkungan tempat tinggal cucunya itu. Benaknya terus memutar segala kemungkinan yang bisa terjadi. Namun ia belum yakin mantan menantunya kembali ke Korea dengan membawa saudara Yunho setelah ia usir dengan begitu kejam. Pun ia kehilangan jejak wanita itu setelah bermukim di Jepang. Wanita yang telah melahirkan cucu untuknya, akan tetapi sedari awal tidak ia restui untuk bersanding dengan putra semata wayangnya. Dan begitu sang anak satu-satunya meninggal dalam kecelakaan mobil yang dikemudikan wanita itu, ia begitu murka. Bahkan hingga kini hatinya panas bila mengingatnya.
.
.
.
Jaejoong tidak bisa pulang lebih cepat seperti yang telah ia rencanakan. Ia baru menjemput Yunho dan Jiyool di toko bunga Shim menjelang jam makan malam. Serta-merta ia memeluk pria itu dari belakang, mencurahkan segenap kerinduan.
"Bogoshipo…," gumamnya dibarengi pelukan yang mengerat. Sesaat bisa dirasakannya tubuh tegap itu menegang.
"Boo…?"
Jaejoong terbelalak mendengar sumber suara itu bukan berasal dari pria yang tengah dipeluknya. Dengan cepat ia memisahkan dirinya dan berbalik. Hatinya mencelos menemukan Yunho memandangnya sayu di sana, bersama Jiyool dalam gendongannya.
"M-mianhae…," ucapnya tergagap, menyadari bahwa dirinya keliru lantaran keduanya kini begitu mirip setelah memiliki potongan rambut yang sama.
"Aa—rencananya aku akan mengambil beberapa keperluan pribadiku, sebelum Soojin datang menjemputku ke kediaman utama Jung." Yuno berinisiatif menghentikan kekakuan di antara mereka, namun dapat dilihatnya Yunho tak menanggapinya dan langsung memasuki mobil putih Jaejoong yang diparkirkan di depan toko.
.
.
Waktu yang akan membuktikan sebuah komitmen.
.
.
.
TBC
Terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan review di chapter sebelumnya; DahsyatNyaff, 5351, Guest, irna. lee. 96, Vic89, Guest, ClouDyRyeoRez, SinushYJS, vermilion, jema agassi, FlowAraa23, Fitsoniaaa, kim anna shinotsuke
Terima kasih juga untuk yang sudah fav atau follow, para pembaca dan reviewer setia.
Note: Ini gak terlalu panjang kok, udah masuk konflik. Btw dipanggil berlian? Yang ini [B]ee, hehe. Terima kasih untuk dukungannya, semuanya.
Thanks for reading #B
20140824
