Malam ini Sasuke tak dapat tidur seperti malam-malam sebelumnya. Pikirannya tak tenang mengingat semua hal yang terjadi. Kenapa semua ini menimpa dirinya. Kesalahan apa yang ia perbuat. Kenapa yang harus menangggung adalah dia bukan dirinya. Jika boleh memilih ia ingin berada diposisinya bukan sebagai penonton saja. Tapi yang berlalu apakah bisa di ubah. Jika seandainya bisa dia akan mengorbankan semua yang ia punya demi hal itu. Tak perduli betapa besar nilainnya asal semuanya kembali seperti semula tidak seperti ini.

Sasuke tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia bukan dokter ataupun seorang tabit yang mengerti tentang pengobatan. Yang dia tahu hanya bisnis, itulah mainannya sejak masih remaja. Dalam hal bisnis semua bisa ia kendalikan tanpa harus membuka mata. Tapi untuk urusan satu ini ia tak tahu harus melakukan apa. Bertanya pada Itachi atau pun Fugaku mereka hanya bisa menggeleng dan menghelainapas. Semua dokter yang ada didalam rumah sakit ini pun sudah menyerah semua. Waktu yang Sasuke punya juga akan habis. Namun…. Bisakah dia memecahkan kaca yang jadi penghalang ini. Bisakah waktu yang akan habis itu ia manfaatkan untuk menemani sang istri a.k.a Naruto dalam setiap detik ini. Jawabannya tidak, ini bukan keinginannya tapi memang prosedur.

Sasuke sangat terpukul melihat keadaan yang terjadi pada Naruto. Setelah melakukan operasi beberapa jam lalu. Naruto keluar dengan perban dikepalanya, Kata dokter itu adalah sebuah keajaiban Naruto bisa saja mati ketika peroses itu berlangsung. Oprasi itu berjalan cukup lama para dokter kesulitan mengeluarkan darah yang bersarang di otak Naruto. Di tambah tubuh Naruto semakin kurus, lingkaran matanya semakin terlihat hitam, napasnya terlihat semakin berat berkali-kali dadanya terangkat seperti meminta asupan oksigen yang banyak, dan sesekali alat pendeteksi jantung itu menunjukan garis curam naik turun. Jika dilihat keadaan Naruto sangat miris, Sasuke tak dapat menahannya.

Sekarang bolehkah sifat Uchiha dalam dirinya luluh bersama air matanya menghilangkan kesedihan yang ada. Tapi bukan Sasuke jika ia tak menggunakan logikannya. Jika memang seluruh dokter disini tak dapat menyembuhkan Naruto, ia akan mencari semua dokter hebat yang terkenal didunia ini. Tak perduli berapa yang harus ia bayar, Sasuke rela menjual setengah bahkan seluruh perusahaannya agar bisa mengembalikan kesadaran Naruto. Kata seluruh dokter yang ada disini semangat hidup Naruto begitu besar jika tidak mungkin ia sudah menyerah ketika berada di rumah sakit jiwa. Apa lagi ketika melakukan operasi ia tak menyerah meskinyawanya diujung tanduk. Berkali-kali jantung Naruto berhenti berdetak ketika awal proses operasi, ketika itu para dokter sudah menyerah dan tak akan melakukan tindakan yang lebih jauh. Tapi Kami-sama berkata lain, jantung Naruto berdetak lagi dan semua dokter segera melakukan tindakan medis secara tepat.

.


Just a Dream

by

uzumakinamikazehaki

.

.

.

Disclaimer: Naruto cuma milik Mashashi Kishimoto. haki cuma minjem.

summary: Gimana rasanya di fitnah dan diasingkan? SasuNaru forever masih sakit hati sama Mk yang ngasih ending SS n' NH.

Pairing: SasuNaru sedikit SasuSaku.

Warning: geje, abal, bahasa kasar dll.(suka-suka author)

.

Silakan dibaca bagi yang tak SUKA jangan dibaca.

.

.


.

Sasuke tahu apa yang dilakukannya akan menimbulkan peraka besar dalam hidupnya. Ini adalah jalan satu satunya yang bisa ia lakukan, menjual sebagian perusahan dan melempar kerjasama pada perusahaan lain. Itu semua demi kesembuhan Naruto. Sasuke mencari semua dokter terhebat didunia ini dengan kemampuannya sebagai Uchiha. Dengan bantuan Itachi dan info dari semua dokter.

#FLASH BACK ON#

Setelah Itachi mendaptkan kabar dari sang Otouto, Itachi segera menuju kerumah sakit tempat Naruto berada. Seketika sampai disana Itachi sangat terkejut tentang keadaan Sasuke yang seperti mayat hidup diam didepan jendela sambil menatap kosong. Air mata Sasuke tak berhenti-hentinya mengalir. Ketika Itachi berjalan mendekat, Sasuke seperti tak menyadari akan kedatangannya.

Itachi melihat nyawa dibalik kaca. Betapa terpuruknya sosok yang menjadi pendamping adiknya itu. Dengan menghelai napas Itachi mencoba menyadarkan Sasuke. Tapi Sasuke tak bergeming ia masih tak tahu tentang kedatangannya. Itachi lalu menggoyangkan sedikit tubuh Sasuke berharap ia menerima respon dari Anikinya. Namun akhirnya sama Sasuke masih diam seperti patung. Akhirnya hanya cara ini saja yang bisa Itachi lakukan. Membisikan kata yang bisa menyadarkan Sasuke.

"Sasuke…." Ucap Itachi lirih tepat didepan telinga adiknya namun sayang Sasuke tetap tak merespon. Tapi Itachi tak ambil pusing, ia masih melanjutkan ucapannya.

"Dengarkan aku aku hanya akan menyampaikan sekali saja pada mu." Sasuke masih tak bergeming.

"Naruto masih bisa selamat…." Seketika itu mata Sasuke langsung melebar sempurna. Lalu Itachi memberitahukan semuanya.

Mereka(dokter) memberikan info kalau ada sebuah legenda yang beredar didalam dunia kedokteran dengan nama 'Sanin' mereka disebut 'Sanin' karena berhasil menyelamatkan banyak nyawa ketika perang tanpa memperdulikan keadaan tubuh mereka, dikenal dengan nama '3 legenda Sanin' dikala itu. Ilmu mereka dalam dunia kedokteran tidak bisa dipungkiri lagi sangat ahli. Namun sayang mereka tidak terlihat lagi dan terdengar namanya ketika perang berahir. Mereka menghilang dan menutup diri dari dunia medis. Mengisih hari-hari mereka dengan kesibukan yang mereka suka.

#FLASH BACK OFF#

Jadi ini lah cara yang dapat ia lakukan. Sasuke tak perduli seperti apa reaksi Tou-san atas hal ini tapi yang terpenting adalah Itachi mengetahuinya itu sudah lebih baik. Dengan menyebarkan pamphlet, lewat surat kabar, televisi dan juga radio. Sasuke tak segan segan memberikan imbalan yang sangat besar bagi orang yang bisa memberikan info atau membawakan mereka kehadapan Sasuke dalam waktu kurang dari 12 jam. What… 12 jam? Sunguh gila Uchiha yang satu ini.

Namun kami-sama berkata lain, hal yang dianggap tak mungkin itu malah menjadi mungkin. Faktanya mereka '3 legenda Sanin' itu mendatanginya. Awalnya Sasuke tak yakin kalu mereka adalah tiga sanin melihat dari tampang mereka yang terlihat aneh dan juga penampilan mereka. Lagian mana ada orang yang dicari dan menghilang selama hampir 30 tahun dari dunia medis tiba-tiba datang didepan Sasuke secepat ini.

Orang pertama wanita berambut pirang pucat bernama 'Senju Tsunade' wanita yang umurnya lebih dari lima puluh tahun datang bersama seorang wanita berambut hitam dengan babi di dekapannya. Kata wanita itu, ia membutuhkan uang untuk membayar semua hutang-hutangnya dalam berjudi.

'Apa dia tak pernah menang berjudi, jadi namanya Wanita Kalah Judi.'

Orang kedua terlihat sudah tua karean warna rambutnya yang putih. Memiliki tailalat dihidung. Menurut laporang dari anak buah Itachi, orang sangat terkenal dan dikagumi banyak orang sampai-sampai dipuja bagaikan dewa sehingga mudah untuk menemukannya apa lagi orang ini pembuat novel yang terkenal. Novel buatannya yang berjudul icha-icha sangat di sukai para kaum adam.

'Kalau tak salah buku itu adalah buku mesum yang sering aku baca dan praktekan pada Dobe.' Seulas senyum tergambar di bibir Sasuke. Pikiran sehatnya sekarang sudah ternoda dengan berbagai hal baru dalam bercinta. Namun pikiran itu segera di tepis karena melihat keadaan sang istri yang tak memungkinkan.

Orang ketiga berciri seperti Itachi memiliki rambut panjang, ketika berbicara sebelum dan sesudah bicara selalu mengeluarkan lidah menjilat ujung bibirnya dia juga membawa asistennya, yang berkacamata dengan rambut silvernya diikat kuda.

"Kabuto kenapa kau melibatkan ku dalam urusan ini."

"Maaf…. Orochimaru-sama anda harus melakukannya demi penelitian kita." Ucap sang asisten. Sasuke yang mendengar kata-kata Kabuto menjadi parno jagan-jangan mereka memanfaatkan keadaan istrinya untuk sebuah percobaan mereka.

'Jangan sampai mereka….'

Belum sempat Sasuke berguman laki-lai berambut hitam seperti ular itu sudah menyahuti asistennya.

"Kelihatannya dia objek yang baik." Ucap laki-laki itu sambil melihat Naruto, sedangkan Sasuke mulai mengeryitkan giginya setelah mendengar perkataan mereka. Tangan putihnya mulai mengepal ingin sekali si raven itu menghajar mereka berdua.

'Jika saja bukan untuk kesembuhan Naruto mungkin aku sudah membunuh mereka.'

"Kau tak boleh seperti itu…. Jangan bawa kebiasaan mu itu Orochimaru."

"Kau tahu apa…. Tsunade si nenek tua."

"Apa katamu… nenek tua." Ucap Tsunade tak percaya, memang dasarnya keras kepala jadi mendengar kata yang tak dia suka pasti langsung emosional. Dan dimulailah pertengkaran antara Tsunade dan Orochimaru. Untung ada Kabuto ana Jiraya yang melerai mereka berdua. Jiraya memegang Tsunade sedangkan Kabuto memegang Orochimaru.

"Sudah…. Jangan membuat keributan ini rumah sakit."

"Ha…. Benar yang dikatakan Kabuto ini rumah sakit, kalian sejak dulu tak berubah kenapa tidak jujur pada perasaan kalian." Ucap Jiraya dan membuat suasana hening antar keduanya. Hingga seorang perempuan berambut hitam pendek seperti anak laki-laki keluar dari dalam kamar rawat Naruto.

"Aduh kalian baru ketemu langsung bertengkar, aku yang ada didalam sampai bisa mendengar teriakan kalian. Apa kalian tak malu dengan umur kalian."

"Jangan sok menceramahi kami Suzune, apa pekerjaan yang ku berikan sudah selesai."

"Sudah selesai dan ini laporannya." Ucap Suzune yang memberikan map coklat pada Tsunade dan segera di pelajari olehnya. Tiap kata, baris dan bait tak terlewatkan olehnya. Setelah selesai ia lalu memberikannya pada Orochimaru dan juga Jiraya agar mereka mempelajari dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Namun tanpa di duga Suzune mendekat kearah Tsunade dan membisikan sesuatu. Sasuke yang sejak tadi melihat perdebatan 3 sanin itu seperti acuh dn tak acuh, mulai mengarahkan pandangannya pada Suzune dan Tsunade yang sedang berbisik.

'Apa yang mereka berdua sembunyikan.' Sebuah pertanyaan yang sedang mengisi pikiran si raven sekarang.

"Bagaimana Nona Tsunade…"

"Kita harus bertanggung jawab mau tak mau dia adalah anak didikku." Ucap Tsunade lirih pada Suzune namun bisa didengar si raven meski dia tak sepenunya melihat mereka. Cukup dengan memasang telinga saja sudah cukup bagi Sasuke.

'Anak didik…. Sakura kah?' batin si Raven. Jika benar Sakura yang dimaksud jadi dia bisa menuntut keadilan dari sang guru. Ngomong-ngomong Sakura masih belum tertangkap bersama beberapa anak buahnya. Sasuke takut kalau mereka datang dan membuat keadaan Naruto menjadi tambah sulit lagi.

"Kelihatanhya kasus ini sangat sulit…." Ucap Jiraya yang selesai membaca laporan Suzune. Orochimaru hanya bisa tersenyum sinis, pasalnya ia tahu kasus ini tapi tapi untuk apa di katakan jika yang bersangkutan sudah tahu.

"Sampai-sampai kita harus bertindak padahal ini bukan urusan kita." Lanjut ucapan Jiraya. Tak perlu diucapkan pun yang merasakannya sudah pasti bertanggung jawab. Tsunade tahu kalau teman-teman seperjuangannya itu tahu betul apa yang dibahas mereka.

"Tak usa kau katakan secara terang-terangan seperti itu aku tahu dan aku akan menjelaskannya pada mereka serta bertanggung jawab." Tsunade lalu berjalan mendekat, Sasuke hanya melihat dan memperhatikan kedatangan Tsunade. Ia tahu apa yang ingin dikatakan oleh Tsunade meski samar-samar dan hanya sebagian kata yang ia dengar dari pembicaraan wanita itu dengan asistenya.

"Ada hal yang ingin aku katakan tapi bukan sekarang. Yang terpenting istri mu selamat dari maut dan akan hidup menemanimu lagi." Ya apa yang dikatakan sang dokter itu benar juga Naruto sudah melewati masa keritisnya jadi yang terpenting menunggu kesadaran Naruto. Tsunade tahu kalau Uchiha yang satu ini sangatlah pintar jadi mendengar ucapan temannya tadi pasti sudah tahu maksudnya.

"Sekarang temani dia buat dia tenang agar tidak merasa tertekan."

"Hn…" Ucap Sasuke dan segera memasuki kamar rawat Naruto.

.

.

.

-tbc-


maaf ya hakilama up-datenya dan ceritanya sangat sedikit.

jangan lupa review dan terima kasih atas reviwnya di capter kemarin.

.

27 JANUARI 2015