Halo semua……

Di chapter2 sebelumnya aku pake kata 'istri' tapi aku baru sadar kalau itu gak cocok. Baekhyun kan laki-laki jadi dari chap sekarang kata 'istri' akan di ganti sama suami. Maaf atas ketidak nyamannya.

.

.

.

.

Sebelumnya…"Kita akan ke rumah sakit!!"

"Ti-tidak perlu!! Sshh a-ku tidak apa-apa"

Hah!

Dari balik kaca helm, Kris menghela napas jengah. Pasalnya ini sudah kesekian kali. Ia kira akan mendapatkan jawaban yang berbeda tetapi ternyata sama saja.

Pemuda di belakangnya mempunyai sifat yang serupa seperti Baekhyun. Keras kepala.

Bodoh atau memang tidak peduli. Robekan di bibirnya saja sudah cukup untuk membuat sulit berbicara. Belum lagi memar lain walaupun ia tak tahu pasti seberapa banyak jumlahnya tapi yang jelas sudah tergolong parah.

Kris tak habis pikir, bagaimana bisa dengan semua luka seperti itu pemuda di belakangnya tetap bersikeras?

Beberapa saat lalu saat dalam perjalanan setelah mengantar Baekhyun, Kris mendapati seseorang tergeletak ditepi jalan.

Selain karena rasa kemanusiaan, waktu juga telah menunjukkan tengah malam. Orang dan kendaraan berlalu lalang pun sudah tidak se-ramai sebelumnya. Mereka lebih banyak memilih mengistirahatkan tubuh setelah lelah seharian beraktivitas dan hal itu membuat ia mau-tidak mau turun tangan untuk menolong.

Rasa was-was tentu saja ada mengingat sekarang motif kejahatan yang semakin banyak bahkan dari hal-hal sepele sekalipun. Seperti tadi, ia sebenarnya takut jika saja sampai masuk dalam perangkap tetapi saat melihat beberapa tetesan darah dan ringisan pikiran negatifnya perlahan menguap.

Ada beberapa luka di lengan dan pelipis, memar-memar lebam di sekitar wajah, lalu robekan di sudut bibir cukup membuat Kris ikut mendesis ngilu. Pasti sangat sakit

Anak remaja, Kris memastikan. Hal ini terlihat jelas walau wajah orang itu dipenuhi luka dan keadaan yang temaram sekalipun.

Dan dengan hal itu juga ia bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa pemuda penuh luka itu adalah korban pengeroyokan. Dua tahun menjabat sebagai ketua OSIS membuat ia hafal luar dalam bagaimana tingkah bar-bar kebanyakan remaja sekarang. Masalah sederhana seperti tersinggung, saling ejek, pamer kekuasaan bisa dijadikan pemicu bagi mereka yang bersumbu pendek.

"Hei….kau?! Kau bisa mendengarku?"

"A-Aakh!"

Tanpa sadar Kris menghela nafas lega. Karena setidaknya pemuda itu tidak kehilangan kesadaran jadi ia bisa dengan mudah membawanya ke rumah sakit.

"Aku akan membantumu, tapi tolong tetaplah sadar!" Kris membantu pemuda itu duduk. Sesekali ikut meringis saat ia tidak sengaja menyentuh luka pada lengan kurus yang dipegangnya.

"Sssh-a-ahkk!!"

"Ck, sakit bukan? Sudah tahu sakit tapi masih saja berkelahi" Kris mulai mengomel seperti ibu yang menasehati anaknya. Melupakan fakta mereka adalah orang asing.

Tapi meskipun begitu tangannya tetap dengan cekatan menyeka darah yang keluar menggunakan sapu tangan miliknya.

"Aku tahu kita sebaya, tapi biar aku memberimu sedikit nasehat. Jika kau memiliki masalah maka selesaikanlah dengan kepala dingin, bicaralah baik-baik bukan dengan cara perkelahian seperti ini. Lihat, kau hampir saja mati. Hei….kau mendengarkan ku tidak?"

Kris bingung saat pemuda yang baru ia nasehati tadi justru tiba-tiba menunjuk dirinya. "Kau…"

"Apa? Aku kenapa? Kau menge-Kau!!"

.

.

.

.

"Tao? Benar namamukan?"

"Hu'um" anak itu tersenyum, tak peduli jika hal itu pasti akan membuat bibirnya terasa perih. Tidak apabila orang ia sukai menyebutkan namanya. Ya, hanya nama sekalipun.

Tao tahu untuk mendapatkan perhatian Kris pastilah sangat sulit. Ia cukup tahu diri dan memilih mundur. Pengecut sekali memang tapi ia juga tidak mau merusak kebahagiaan orang lain. Ia tahu betul bagaimana rasanya.

Dan sekarang, setelah semua hal yang menyakitkan terjadi Kris datang bagai pahlawan untuknya. Maka dari itu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Memeluk erat pinggang orang yang ia begitu dambakan selama ini, menghirup aroma cologne bercampur angin malam dengan rakus.

"S-sebenarnya apa yang membuatmu tidak mau pergi ke rumah sakit?" Kris bertanya lagi meski ada rasa kurang nyaman ketika Tao memeluk pinggangnya. Biasanya yang melakukan hal itu adalah Baekhyun kemudian saat orang lain melalukan hal yang sama ia merasa aneh.

"A-ku tidak m-memiliki uang" jawab Tao jujur.

Kris mengambil kanan saat melihat perempatan di depannya. Gedung putih dengan lambang tambah merah besar sudah terlihat semakin dekat didepan sana.

"Tao dengar, jika aku berani menolongmu tentu saja aku sudah mengambil tanggung jawab. Biaya perawatanmu aku yang akan menanggung"

"Tapi, aku pasti akan sangat merepotkan mu!"

"Tidak akan, kau tenang saja"

"Daripada rumah sakit, bagaimana jika aku menukarnya dengan menginap di rumahmu saja?"

.

.

.

.

"Sssh Baekhyun jangan menangis. Bicaralah yang jelas, jangan membuatku khawatir" Kris berjalan mondar-mandir di depan kamar rawat tempat dimana Tao ditangani dokter saat ini. Alis matanya berkerut tanda jika ia sedang serius mendengarkan orang di seberang sana berbicara di tengah isakkan.

"Iya, tenanglah sayang. Aku akan segera kesana secepatnya" begitu panggilannya terputus kaki panjangnya dengan tergesa segera memasuki ruang rawat Tao. Ia dilanda panik sekaligus khawatir akan keadaan Baekhyun apalagi setelah mendengar isakkan dari kekasih mungilnya tadi.

"Jadi bagaimana keadaan taman saya, Dok?" Kris bertanya kepada seorang dokter muda yang tengah membalut luka sobek di lengan Tao.

"Ah, untuk keseluruhan lukanya memang banyak. Tapi jangan terlalu khawatir karena pada dasarnya tidak ada luka dalam yang serius. Hanya menunggu luka luarnya mengering dan sembuh"

"Syukurlah jika begitu" mimik kelegaan Kris tak luput dari penglihatan Tao. Dirinya ikut senang melihat Kris ikut mengkhawatirkannya.

Lalu berdehem sebentar untuk mengurangi kecanggungan, bibirnya gatal untuk bertanya "K-kris, i-itu untuk pertanyaan yang tadi? Bisakah aku menginap di-"

"Maaf, bukannya tidak mau tapi aku tidak bisa" menatap lurus mata panda itu. "Dan sekarang juga aku harus segera pergi, ada hal penting yang menunggu ku saat ini"

"Tap-"

"Sekali lagi aku minta maaf-" sesalnya.

"Kris ak-"

"Untuk administrasi aku sudah membayarnya. Jadi kau tidak perlu memikirkannya dan jangan merasa terbebani dan-astaga aku harus benar-benar pergi sekarang!!"

"Lekaslah sembuh!!" Kris berucap kembali sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat.

Yang Tao bisa lakukan adalah menatap kepergian Kris dengan pandangan kecewa. "Padahal aku hanya ingin berterima kasih" anak itu menunduk, matanya berubah sendu. "Dan semoga kita bertemu kembali" tersenyum kecut.

"Berusahalah lebih keras dengan begitu dia akan menjadi milikmu. Jangan cengeng!"

Kedua mata panda Tao terbelalak. Apa dokter muda itu bisa membaca pikirannya?

.

.

.

.

Title : Wedding

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre : Romance

Rate : M

DLDR

Sorry For Typo

.

.

.

.

"Perjodohan?"

Baekhyun mengangguk lemah "Ya, bisa dibilang seperti itu"

"Tapi, bukankah kau bisa menolaknya?"

"Aku sangat ingin melakukannya. Tapi, kau juga tahukan jika aku tidak mungkin melakukan hal itu"

Ya Tuhan, ingin rasanya ia mencekik dirinya saat ini. Raut wajah kecewa kekasihnya benar-benar tidak bisa membuat ia bernafas dengan benar. Setiap detiknya ia dihantui oleh rasa bersalah.

"Ya, aku mengerti" tidak! Tidak ada yang baik dari jawaban Kris. Kekasihnya itu bahkan tidak lagi menatap ke arahnya. Pemuda jangkung itu pasti sangat kecewa atas apa yang telah ia lakukan.

'Baekhyun bodoh! Apa yang telah kau lakukan? Bagaimana kau bisa ceroboh begini? Harusnya kau selalu memasukkan ponselmu kedalam saku atau paling tidak kau harus memberinya pengaman sandi.Lihat apa yang terjadi sekarang. Kau sendirilah yang membongkar rasahasiamu!!' Baekhyun merutuk dalam hati.

"Tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hanya mencintaimu Kris" anak itu memelas. Ia berharap Kris bisa mengerti posisinya saat ini karena walau bagaimanapun menikah dengan Chanyeol bukanlah keinginannya.

"Kris…" Baekhyun rasanya ingin menangis sekarang. Melihat kekasihnya tak menunjukkan respon apapun adalah hal yang sangat menakutkan. Karena itu tandanya Kris benar-benar sedang sangat marah padanya.

"Kris…" Baekhyun membawa kedua tangannya untuk menangkup wajah kekasihnya. Memberikan usapan lembut agar pandangan mereka bertemu.

"Kris, Lihatlah mataku!" ada keheningan sejenak, membiarkan kedua anak adam itu menyelami iris masing-masing. "Aku mencintaimu. Percayalah padaku!" ucapnya meyakinkan.

Tapi nihil, respon yang ia dapat seolah mencubit hatinya. Kris lagi-lagi tidak memberikan apa yang ia butuhkan saat ini. Akan jauh lebih baik apabila Kris mengomelinya seperti saat ia jatuh hanya karena tersandung atau saat ia demam karena terlalu banyak memakan ice cream, tidak seperti sekarang.

Jika begini terus Baekhyun bingung apa yang harus ia lakukan.

"Kau tetap tidak percaya padaku, Kris?" mata Baekhyun berkaca-kaca. Hanya dengan satu kedipan saja sudah bisa jika dipastikan beningnya akan jatuh dengan mudah.

Kris seolah membeku dan Baekhyun sama sekali tidak tahu apa yang sedang kekasihnya itu pikirkan.

Karena Kris tak kunjung membuka suara Baekhyun berinisiatif untuk memajukan wajahnya. Jika Kris sudah tidak mempercayai ucapannya mungkin saja ciuman darinya bisa membantu.

Sret!!

Kedua tangan mungilnya mengepal. Air mata yang sedari ia tahan saat ini benar-benar terjatuh.

Tidak mungkin! Kris tidak pernah sama sekali menolak ciumannya. Tidak pernah walau hanya sekali, tapi sekarang…

"Tidurlah, Baekhyun. Kau pasti sangat lelah" ucapnya. Ia berdiri lalu melangkah mundur.

"Kris, a-aku.."

"Aku juga sangat lelah dan mengantuk sekarang" menarik tipis sudut bibirnya "Selamat malam!"

Blam!!

Setelah pintu kamar itu tertutup tangis Baekhyun semakin menjadi. Semua bayangan menakutkan yang selama ini menghantuinya benar-benar telah terjadi. Kris marah dan kecewa padanya sedangkan ia di sini tidak melakukan apapun atau lebih tepatnya tidak bisa.

Mungkin hanya tinggal menunggu waktu hingga Kris dengan sedang hati memutuskan hubungan mereka.

.

.

.

.

Kriing kring!!

"Ayo, ke kantin!!"

"Tidak, kau saja" yang tadi mengajak –Kyungsoo membuang nafas kasar. Ingin sekali ia memaki-maki teman sebangkunya yang keras kepala itu. Baekhyun sudah seperti anak kecil yang masih pilih-pilih makanan. Tidak akan makan jika tidak sesuai selera.

"Terus saja seperti itu. Kalau perlu tidak usah makan sekalian, toh kalau sakit bukan aku yang rugi" ucapnya ketus.

"Kyung…" Anak itu merengek. Akan sangat sulit baginya jika sampai membuat teman pendeknya itu ngambek. "Serius, aku sedang tidak ingin makan. Aku sudah kenyang"

Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya-mengejek "Sudah kenyang, heh?" tanyanya sakratis. "Kau makan angin? Jelas-jelas kau tidak sarapan bagaimana mau kenyang"

Benar apa yang dikatakan Kyungsoo. Ia memang tidak sarapan, ia mengatakan itu tadi saat ia merasakan perutnya terasa perih. Dan berakhir ia diomeli karena telah melewatkan sarapannya.

Jika ditanya apakah iya lapar atau tidak? Maka jawabannya adalah ya. Ia lapar saat ini tapi ia juga sedang tidak berselera untuk makan. Bagaimana bisa berselera jika dikepala saja sudah menumpuk banyak masalah.

Mulai dari Chanyeol, ini sudah hari kedua ia pergi dari rumah tapi suaminya itu tidak ada tanda-tanda mencarinya. Jangankan mencari menelpon hanya untuk menanyakan kabar saja tidak. Tapi sebenarnya ia tidak begitu terkejut, paling-paling Chanyeol sedang sibuk bersama kekasihnya.

Lalu Kris. Bahkan dari malam itu hingga sekarang mereka masih dilanda perang dingin. Bukan, bukan seperti Kris mengabaikan sepenuhnya hanya saja kekasihnya itu lebih irit bicara dan terkesan dingin.

Baekhyun menegakkan kepalanya setelah sebelumnya ia telungkupkan di atas meja "Tapi aku benar-benar sedang tidak berselera sekarang" wajahnya memelas.

Kyungsoo mendengus sekali lalu menarik sebuah bangku menyeretnya tepat di samping Baekhyun "Kau tidak biasanya seperti ini. Apa ada masalah?" ia mencoba menjadi teman yang bisa diandalkan. Walaupun nanti hanya sebagai pendengar setidaknya ia bisa meringankan beban pikiran teman sebangkunya itu atau jika bisa ia akan memberi masukkan.

"Aku baik-baik saja, tidak ada yang serius. Jadi berhenti melotot kau menakutiku tahu!" memukul pundak temannya bercanda.

Sedangkan yang diperlakukan seperti itu berdecak kesal. Kyungsoo memutar mata bulatnya malas, bagaimana mungkin Baekhyun masih bisa bercanda sedangkan ia di sini khawatir dan mencoba sebisa mungkin menjadi teman yang baik.

"Ck, aku bertanya serius. Dan aku juga tidak melotot mataku memang begini, sipit!"

"Yak! Apa-apaan itu. Kau menghina mataku? Berati kau juga menghina seluruh penduduk Korea" Baekhyun tidak terima.

"Itu juga karna kau yang memulai!"

"Ya setidaknya jangan mengataiku. Mata sipitku ini normal tidak seperti mata bulat kelerengmu"

"Yah!! Baekhyun!! mata-yak kenapa kita jadi membahas soal mata?!"

Baekhyun tidak bisa membendung tawanya saat melihat Kyungsoo meledak marah. Ia bangga karena telah membuat wajah sahabatnya berubah merah lucu.

"Oke. Kembali kepermasalahan. Sebenarnya kau ada masalah apa dan demi Tuhan, berhentilah tertawa!! Kau ingin mulutmu ku sumpal kaos kakiku ha?"

"Hahaha oke oke. Kau sih terlalu serius, aku kan sudah bilang jika aku baik-baik saja dan tidak ada masalah"

Anak itu-Kyungsoo mendengus lagi "Kau bohong. Aku tahu, tapi yah mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin memaksamu untuk bercerita, itu privasi mu dan kau punya hak sepenuhnya. Hanya dengar, jika kau merasa sangat terbebani kau bisa bercerita padaku kapanpun itu"

Baekhyun tersenyum lembut. Walaupun Kyungsoo di luarnya tampak dingin dan apatis tapi sebenarnya dia mempunyai sisi hangat dan perhatian disaat-saat tertentu. Seperti sekarang, ia tahu benar jika sahabatnya itu sedang mengkhawatirkannya maka dari itu ia berusaha mengalihkan. Ia tidak ingin membuat lebih banyak orang mengkhawatirkan dirinya.

"Ne, Eomma…." Candanya.

"YAK!! Baekhyun kau-"

Drrt drrrt

Kyungsoo hampir menjitak kepala Baekhyun jika saja ponsel si pemilik kepala berbunyi.

Sedangkan di sampingnya, Baekhyun semakin terkikik geli melihat ekspresi marah sahabatnya "Hehehe…calm down Kyung"

From: Kris

Nanti malam, ayo bicara serius

Hanya dalam seperkian detik tubuhnya berubah menegang. Ia gugup untuk beberapa alasan.

"Yah Baek, ada apa?" Kyungsoo khawatir melihat perubahan wajah Baekhyun.

"O-oh bukan apa-apa"

Mata Kyungsoo menyipit "Kau berbohong lagi?" tuduhnya.

"Yah! Kau menyakitiku. Kau pikir aku seorang pembohong apa?" katanya tidak terima

"Memang"

"Aku tidak!!"

"Sudahlah, meladenimu justru membuatku semakin lapar. Ayo ke kantin"

"Tapi aku masih kenyang-Yak!!"

Akhirnya Kyungsoo benar-benar merealisasikan niatnya. Menjitak si keras kepala.

.

.

.

.

Ini sudah beberapa menit berlalu tapi diantara dua makhluk dengan perbedaan tinggi yang kontras belum ada yang berniat memulai pembicaraan.

Sebenarnya bibir Baekhyun sudah gatal untuk memulai pembicaraan hanya saja gugup mengalahkan segalanya. Ini adalah pertama kalinya selama dua tahun ia berhubungan dengan Kris mereka dalam suasana seperti sekarang. Rasanya aneh, walaupun sebelumnya mereka pernah bertengkar tapi Baekhyun rasa sekaranglah yang paling serius.

Yang lebih pendek berdeham. Menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah kekasihnya.

"Kris/Baek!" keduanya saling melirik canggung.

"K-kau duluan" Baekhyun mempersilahkan, sesekali jari-jarinya saling meremat untuk menghilangkan kegugupan.

Kris membuang nafas pelan sebelum berbicara "Beberapa hari ini aku berfikir tentang banyak hal. Salah satunya, apakah aku egois jika aku tidak mengerti dirimu?" Kris membawa pandangannya ke arah Baekhyun.

"Oke, anggaplah memang aku egois, tapi Baek kau harus tahu bahwa tidak ada kekasih yang tidak kecewa ketika di bohongi, dan kau-menikah" lanjutnya membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.

"Aku sangat kecewa. Mungkin untuk sekarang kau tidak mencintainya, tapi siapa yang akan menjamin masa depan? Aku tidak ingin kehilangan dirimu Baekhyun, aku sangat mencintaimu"

Baekhyun menunduk dalam, ia tidak berani menatap wajah Kris saat ini "A-aku tahu. Seharusnya aku lebih jujur padamu"

Kris memalingkan wajahnya ke arah lain "Tapi aku juga berfikir. Jika aku terus seperti ini justru aku pasti akan kehilangan dirimu" perkataan Kris membuat Baekhyun menahan napasnya tanpa sadar. Kedua matanya tiba-tiba memanas.

"Maka dari itu aku akan mencoba mengerti" finalnya

"Mulai sekarang ayo bersikap lebih terbuka, dan Baek-" menatap ke arah kekasihnya kembali "Jangan pernah berfikir untuk menyukainya dan berhenti mencintaiku. Aku-"

Cup!

Grep!

"Aku tahu! Terima kasih hiks hiks" Baekhyun mengeratkan rangkulannya. Wajah mungilnya ia tenggelamkan sepenuhnya pada leher Kris. Ia sekali lagi merasa sangat bersalah. Baekhyun tidak pernah mengira bahwa Kris akan mengerti dan memaafkannya semudah ini. Terlalu mudah hingga membuatnya merasa tidak pantas untuk bersama orang sebaik Kris..

Yang lebih tinggi ikut membalas pelukan Baekhyun dengan hangat. Tubuh bergetar kekasihnya membuat ia mau-tidak mau terkekeh geli. Baekhyunnya sangat lucu.

"Shhh Sudah jangan menangis lagi. Kau jelek nanti"

"Hiks hiks m-maafkan aku" anak itu semakin terisak.

"Hey! Hey" Kris mendorong pelan tubuh Baekhyun lalu kemudian menangkup kedua pipi berisi itu. "Aku memaafkanmu sayang" katanya "Jadi, berhenti menangis heum?" Kris menggesekkan hidung keduanya.

"Eung!!" si mungil mengangguk dua kali tanda mengerti.

Cup! Dan juga dengan berani memberi ciuman yang mana membuat Kris semakin gemas.

Cup! Cup! Cup!

Diawali dengan kecupan-kecupan ringan lalu Kris memberi sebuah lumatan pelan. Baekhyun tak mau kalah jadi ia juga ikut melumat bibir kekasihnya.

Tangan Kris yang semula berada di pipi Baekhyun kini berpindah pada area pinggang si mungil. Menarik hingga tubuh mereka mendekat tanpa sekat. Ciuman yang awalnya lembut kini kian menuntut apalagi tangan Kris yang bergerilya di pinggang kekasihnya.

Dan suhu ruangan yang semula dingin sekarang memanas, begitupun tubuh kedua anak adam yang sedang saling berbagi saliva.

Cpkh!

Kris lebih dulu menarik diri. Kedua matanya menatap dalam iris si mungil. Hembusan nafas mereka saling bertabrakan. Tidak ada suara terdengar selain detik jam yang setia menggantung pada dinding.

"Baekh…" panggilnya dengan suara berat.

Baekhyun bergumam pelang sebagai jawaban.

"Kau sudah menikah. Kau membohongiku…" Kris menjeda kalimatnya, dada Baekhyun kembali sesak ketika Kris mengatakam itu. Pikirnya, ternyata Kris belum sepenuhnya memaafkannya. "Jadi sebagai gantinya, aku ingin kau menjadi milikku" ucapnya serius.

"B-bukankah aku memang milik-"

"Bukan itu-" Kris membawa wajahnya mendekat kembali "Kau pasti tau yang ku maksud Baek" mencium sekali telinga si mungil.

Baekhyun, sebenarnya ia tahu dengan jelas arah pembicaraan kekasihnya. Baekhyun paham sepenuhnya, hanya saja yang menjadi masalah adalah karena ia telah menikah saat ini. Jika ia melakukannya dengan Kris bukankah itu berarti ia menghianati pernikahannya.

Ia akan menghianati Chanyeol. Suaminya pasti akan kecewa padanya. Ia belum siap menerima perubahan sikap Chanyeol jika suaminya itu tahu apa yang ia dan Kris lakukan.

'Baekhyun bodoh! Kau fikir Chanyeol akan peduli? Dan apakah kau fikir suamimu itu tidak pernah melakukannya dengan Luhan?!'

DEG

Benar.

Chanyeol mana mungkin akan peduli padanya.

D-Dan mereka pasti pernah melakukannya. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari sepasang kekasih yang saling jatuh cinta dalam ruangan yang sama dalam jangka waktu lama.

Tidak ada yang bisa diharapkan.

Kau hanya memikirkan hal yang sia-sia Baekhyun.

"Baek-" Kris memanggil, menarik Baekhyun sepenuhnya dari lamunan.

"Jadi?"

TBC

.

.

.

.

Hai hai teman-teman. Makasih banget buat kalian yang masih dan mau baca cerita ini hehe

Dan ini ff Chanbaek bukan Krisbaek. Aku juga gak suka cerita yang sad ending.

Kenapa lama up? : ya pokoknya gitu

Momen CB kok gak ada ?: nanti bakalan ada kok buat sekarang selesain dulu masalah sama Kris.

Kok pendek?; iya, ini sebenarnya belum selesai. Mau aku jadiin 1 chap tapi panjang banget jadi aku bagi 2.

Buat chap selanjutnya aku bakalan cepet up dan akan makin cepet kalo kalian ikut nyemangatin hehe

Gitu aja, makasih banget buat kalian yang udah mau ngeluangin waktu baca dan 300 fav sm follow cerita ini Big Thanks pokoknya.

Sori kalo banyak salah ketik sama cerita gak sesuai keinginan kalian.

See you…