Sakura kembali menyibak gorden jendelanya dengan sedikit sentakan. Bibirnya komat-kamit tak karuan. Dua puluh menit yang lalu Sasuke menutup pintunya dengan wajah tenang. Laki-laki itu memang tidak membuangnya seperti sampah saat kawanan pewaris memergoki 'perselingkuhan' mereka, tapi Sasuke yang juga tidak mengatakan apapun setelah mengantarnya ke kamar sudah cukup membuatnya tercabik-cabik. Perasaan asing yang membuatnya terlihat bodoh, bahkan oleh dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa menyebut Sasuke sebagai teman, lalu kenapa perasaan resah dan bersalah terus merongrongya.
"Aku pasti sudah mulai gila." Desisnya sambil memukul kepala pelan. Wajah sangar Ino melekat dengan erat di ingatannya. Membuatnya bergidik khawatir. Tiba-tiba saja ia mulai menyangsikan kebenaran hubungan Ino dan Sasuke. Mereka memang terlihat hanya sebatas teman, tapi komunikasi mata yang selalu mereka lakukan benar-benar membuatnya harus berfikir ulang. Lagipula, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar kan? Sakura tahu, Ino selalu sekamar dengan Sasuke. Sebenarnya itu biasa, karena mereka selalu menggunakan kamar sebagai tempat untuk meyusun rencana. Hanya saja, kondisi kejiwaan dan perasaan membuatnya berfikir ke arah yang tak seharusnya.
Teett... teet...
Sakura menoleh mendengar bel pintunya berbunyi.
Apa mungkin itu Sasuke?
"Tidak mungkin, dia pasti sedang bersama Ino." gumamnya menampik suara yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Shikamaru?" Alis Sakura tertaut melihat siapa sosok yang tengah bersandar di dinding dekat bukaan pintunya.
"Hai."
"Ada apa?"
"Kau sibuk?"
"Tidak," jawab Sakura sambil menegakkan badan, "Kupikir siapa, masuklah?"
"Menunggu seseorang?"
"Eh? Ti-tidak," Sakura menyelipkan helaian rambutnya dengan tawa gugup, "T-tentu saja tidak, kau ini," ucapnya sambil membuka pintu lebih lebar, "Masuklah."
Shikamaru masuk dengan wajah malas, menginspeksi ruangan sejenak lalu duduk di sofa dan mengangkat kakinya ke atas meja.
Sakura mengikutinya dengan dahi berkerut. Pertemanan mereka adalah yang terburuk dalam tim. Shikamaru adalah tipe menyebalkan yang kadang tidak ia tahu apa kontribusinya. Meski di saat-saat darurat, dialah yang paling dibutuhkan.
"Kau tidak menawariku sesuatu?"
Suara Shikamaru menariknya kembali ke dunia nyata.
"Eh?"
"Minuman?" Shikamaru menurunkan kakinya dan bersandar dengan santai, "Atau mungkin sesuatu yang bisa mengenyangkan. Makan siangku sedikit bermasalah hari ini."
"Aah," Sakura mengusap tengkuknya yang tak gatal, tahu kalau Shikamaru tengah menyindirnya. "Hanya ada buah dan air mineral di kulkas."
"Tidak masalah," sahut Shikamaru cepat, "Aku bisa makan apapun."
Sakura mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Ia masih memilih buah yang ingin ia sajikan saat Shikamaru terlihat berjalan pelan menuju jendela. Dibukanya tirai hingga cahaya bebas masuk dan membuat tempat mereka tampak terang.
"Kau datang untuk memperingatkanku?"
Sakura mengangsurkan sekaleng air mineral pada Shikamaru. Ia hanya menerima tanpa mengatakan apapun.
"Sejujurnya, aku tidak tahu dimana letak kesalahanku," Sakura menyesap minumannya pelan, "Bahkan meski aku merasa bersalah, aku tidak tahu itu untuk apa."
"Kau menyukai Sasuke?"
"Aku tidak tahu."
"Aku tidak senang mengatakan ini, tapi...," Shikamaru menoleh pada Sakura yang juga tengah melihat kepadanya, "Sasuke bukanlah orang yang tepat untuk dicintai. Kau tahu maksudku, kan?"
Sakura menahan nafas untuk beberapa saat, ia bahkan yakin lupa untuk berkedip.
Apa ia begitu mudah terbaca? Sekali lagi, mereka -shikamaru dan dirinya- tidak dekat, dan saling membaca pikiran harusnya adalah hal yang mustahil. Kecuali memang dalam tim mereka membocorkan informasi pribadi adalah legal.
"Aku memberitahumu," Shikamaru kembali membuang pandangan ke luar, "Sebagai teman," Laki-laki itu berbalik dan melangkah santai menuju pintu keluar.
"Ah iya, berkemaslah. Kita pulang sore nanti."
Sakura tak mengatakan apapun untuk kalimat penutup Shikamaru. Tiba-tiba saja ia merasa lelah. Melarangnya untuk mencintai Sasuke? yang benar saja. Memangnya perempuan mana yang tidak jatuh saat berhadapan dengan Sasuke. Bahkan meski ia menolak untuk melupakan betapa banyak perempuan yang ditidurinya di luar sana, Sasuke tetaplah memiliki pesona.
"Kenapa hidupku bisa rumit begini?" dengusnya kesal.
"Ohayo, Sakura-chaaaaaannnnn."
Suara cempreng Naruto adalah yang pertama di dengarnya saat menjejakkan kaki di depan fakultas. Ia menoleh, dan melihat Naruto melambaikan tangan dari ujung lorong. Di sampingnya Sasuke tengah berbicara serius dengan seseorang yang terlihat mirip dengannya.
"Hai Naruto, kau ada kuliah?"
Sakura membalas lambaian tangan Naruto dan berniat mendekatinya.
"Oh, tunggu aku di situ Sakura-chan, biar aku saja yang menyusulmu," ucap si rambut pirang sumringah. Sakura hanya tersenyum dan mengangguk mendengar teriakan itu.
"Wah, Sakura-chan kau terlihat cantik hari ini, aku..."
"Berani memeluknya kupatahkan tanganmu, Naruto," bentak Ino yang entah muncul dari mana. Tangannya menarik kerah kemeja Naruto yang sedikit lagi berhasil memeluk Sakura, membuatnya sedikit terjengkang ke belakang, Sakura tertawa sambil menutup mulutnya melihat adegan itu.
"Maaf Sakura, dia besar di barat. Terkadang skinshipnya sungguh sangat menganggu."
"Oi, Ino kau jangan bicara yang tidak-tidak ya," protes Naruto kesal, tak terima nama baiknya ternodai begitu cepat. "Aku hanya senang ttebyo. Kita sudah kembali ke kampus yang indah ini."
"Memangnya sejak kapan kau peduli kuliahmu?" cibir Ino sambil melipat kedua tangan di dada, "Tidak usah berakting di depan Sakura, dia tidak akan tertipu."
Naruto memonyongkan bibir mendengar itu. Sementara Sakura hanya bisa tertawa sambil memegang perutnya yang mulai terasa kram. Suasana ini, sungguh berbeda dengan yang dialaminya di Vegas. Ino bahkan seperti tidak pernah mengulitinya sebelum ini. Gadis pirang itu sudah kembali menjadi Ino yang riang dan bermata lebar.
"Kalian ini, bukankah seharusnya bersikap lebih baik?" tegur Sakura sambil merapikan rambut dengan kedua tangannya, "Tsunade-sama pasti marah melihat kekacauan yang selalu kalian buat."
"Ralat Sakura, bukan 'kalian' karena aku tidak pernah terlibat kekacauan dengannya." Ino menunjuk dada Naruto dengan telunjuk lentiknya.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya mendengar protes Ino. Sedangkan Naruto hanya mencibir kecil.
"Ayo, sebentar lagi kelas dimulai." ucapnya sambil berjalan mengapit lengan Ino. Membawa gadis itu berjalan dengannya. Naruto mengekori dari belakang. Sesekali masih terdengar keduanya beradu argumen dan Sakura yang tertawa tertahan karenanya.
"Jadi itu Sakura?"
Sebuah suara menyela keheningan sesaat yang ditinggalkan oleh ketiganya.
"Hn."
"Apa Mebuki-san tahu kau membawa puterinya memasuki lubang neraka."
"Aku akan menjaganya." gumam Sasuke membela diri.
"Aku tidak bilang kau akan mengabaikannya," ucap sosok itu dengan senyum miring yang memukau "Baiklah, kurasa ini sudah cukup. Sampai bertemu di rumah, Sasuke."
"Hn,"
Sasuke memandang punggung itu, bergerak menjauh dari tempatnya berdiri.
"Itachi," panggilnya penuh keraguan, laki-laki bernama Itachi itu menoleh mendengar namanya di sebut. "Aku bertemu paman di Vegas,"
Itachi memperbaiki posisinya hingga berhadapan dengan Sasuke dalam satu garis lurus. Dahinya berkerut mengkhawatirkan sesuatu.
"Aku, mungkin..."
"Sasuke," Itachi bergumam pelan. kedua tangannya tergenggam erat dalam saku coat. Uchiha corp sedang dalam keadaan buruk sekarang, dan obesesi Sasuke terhadap Tuhan benar-benar membuat kepalanya berdenyut tenang. "Aku tidak ingin berkomentar apapun atas keputusanmu, lakukan saja apa yang menurutmu baik."
Angin bertiup pelan begitu Itachi menyelesaikan kalimatnya. Mengibarkn helaian rambut yang dibiarkannya terikat sederhana di belakang. Mata tajamnya terlihat sendu, mengaburkan ketampanan seorang Uchiha.
Siapapun tahu, ada beban berat yang bergantung di pundaknya.
"Sasuke?"
Sasuke membuka matanya mendengar suara familiar itu menyebut namanya kaget.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Sakura celingukan ke sekeliling apartemennya, mencari petunjuk kenapa makhluk sialan tampan itu bisa bersandar di samping pintunya.
Sasuke menggerakkan kepalanya, meminta Sakura membuka pintu tanpa sepatah kata. Wajah angkuhnya tak berubah sedikitpun meski berhadapan dengan gadis tercantik di kampus mereka -versi sakura.
"Bukankah kau tahu kodenya?" tanya Sakura sedikit kesal. Bahkan hewan peliharaanpun selalu diajak bicara, lalu kenapa laki-laki itu hanya memberinya pesan isyarat yang menyebakan?
Mereka memasuki apartemen dengan beriringan. Sasuke langsung menjatuhkan dirinya di sofa yang digunakannya hampir tiga bulan lalu. Sebelah tanganya terulur ke lantai, sebelah lainnya ia gunakan untuk menutup mata.
"Ada apa?"
Sakura meletakkan segelas air dingin di meja kecil. Alisnya tertaut begitu menyadari wajah kusut Sasuke terlihat sedikit pucat.
"Apa ada masalah?" tanyanya lagi, kali ini sambil memeriksa dahi Sasuke. Ia sedikit tersentak kaget karena Sasuke langsung menyambar tangannya begitu mendarat di dahi. Menahan gadis itu untuk menginspeksinya lebih jauh. "K-kau membuatku kaget," hardiknya cepat, tak menyangka Sasuke akan melakukan gerakan refleks seperti itu "Tunggu, badanmu panas." Sakura bangkit dari kursi yang di dudukinya lalu bersimpuh di depan Sasuke, tangannya meraba denyut nadi Sasuke sembari melihat jam yang melingkar di tangannnya. Ia mengetuk pelan perut Sasuke saat bibirnya membentuk kerutan kesal.
"Kapan terakhir kau makan?"
"Hn?"
"Bahkan meski kau keturunan dewa, berhenti makan adalah cara terburuk untuk diet."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya mendengar opini asal Sakura, "Aku tidak diet."
"Lalu?" Sakura bangkit dari duduknya lalu beringsut menuju dapur "Tunggu sebentar, sepertinya ibu menyimpan sup Miso di kulkas. Aku akan memanaskannya untukmu."
"Sakura,"
Sakura menghentikan langkahnya mendengar suara lemah Sasuke. Menoleh dengan tatapan 'ya' tanpa suaranya.
"Apa kau percaya Tuhan?"
"Hah?"
"Apa kau percaya Dia ada?"
Sebulir bening jatuh melewati sudut masa Sasuke. Sakura berani bersumpah untuk itu. Meski posisinya tak berubah -tidur telentang dengan mata terpejam, Sakura yakin Sasuke tengah meneteskan airmata.
"T-tentu, Aku penganut katolik."
"Begitu ya?" Sasuke menghela nafas panjang, "Tapi aku bahkan tidak menanyakan tentang agama padamu."
"Kita bicarakan itu nanti," gumam Sakura cepat, tahu kalau pembahasan mereka akan sangat penjang dan melelahkan. "Saat ini, mengisi perutmu jauh lebih penting dari apapun." sambungnya disertai senyuman sederhana yang indah.
Sakura kembali berguling di atas ranjangnya pelan. Bayangan Sasuke yang murung saat menyantap sup miso buatannya terus menghantui. Sejujurnya, ia sedikit menyadari perubahan Sasuke setelah bertemu John di Vegas. Hanya saja, ia tidak tahu, kenapa itu bisa terjadi. Keduanya sempat saling bercakap dan meminta Sakura menunggu di mobil. Semoga saja itu bukanlah pembicaraan tentang gerakan bawah tanah atau terorisme, dan sepertinya memang bukan. Tapi otak cerdasnya terus membuat cerita fiksi berbahaya yang bahkan sulit diterima oleh akal sehatnya sendiri.
"Apa dia sudah tidur?" gumamnya dalam selimut yang menutup sekujur tubuhnya. Ia sudah meninggalkan selimut di meja, tapi saat ia keluar untuk mengambil air minum sepuluh menit yang lalu, Sasuke masih belum bergeming dari posisinya. Begitu juga dengan selimut kesayangannya.
"Sial," makinya pelan, "Kenapa aku harus pusing memikirkannya?"
"Kau bisa gegar otak kalau terus memukul kepalamu."
"Astaga," Sakura refleks duduk dan menarik selimutnya yang terjatuh karena bangun tiba-tiba. "Kau membuatku kaget, tunggu, bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?"
Sasuke hanya mengedikkan bahu mendengar protes Sakura.
"Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Sakura dengan wajah kesal. Bagaimana dia tidak menyadari ada penyusup di kamarnya, padahal ia yakin tidak pernah beranjak dari tempat tidur. "Memasuki kamar gadis tanpa izin itu tidak sopan, Sasuke."
"Ck, cerewet," balas Sasuke lalu berjalan mendekati ranjang, "Mingir." perintahnya sambil mendorong Sakura yang refleks langsung menggeser tubuhnya agak ke pinggir.
"A-apa yang kau lakukan?"
Suara Sakura mulai terdengar panik. Tangannya erat mencengkram sisi selimut.
"Tidur." balas Sasuke lalu menelusup masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata. Mengabaikan mata Sakura yang seolah mau loncat.
"Ya, S-sasuke. Kau tidak boleh tidur di sini," Sakura coba membangunkan Sasuke dengan jari telunjuknya. "Ini tidak benar."
"Ck," Sasuke menangkap telunjuk Sakura yang terus menusuk punggungnya, "Di luar dingin, dan sofa itu terlalu kecil untukku. Aku tidak akan memperkosamu, jangan khawatir."
Sakura kembali mendelik mendengar itu. Bagaimana mungkin Sasuke mengucapkan kata itu semudah ia mengatakan hari ini mungkin akan hujan.
"Keluar, Sasuke," ucap Sakura dengan suara penuh penekanan, Sasuke tetap tak bergeming. "Sasuke," semenit, dua menit. Sasuke masih nyaman memejamkan mata dengan posisi miring menghadap kepadanya, "Baiklah, kalau kau tidak mau, biar aku saja yang tidur di luar." ucapnya dengan nada pasrah. Ia baru akan menurunkan kakinya saat Sasuke tiba-tiba mencekal lengan kanannya keras.
"Keluar, kuperkosa kau."
Sakura menegang mendengar betapa kalimat itu lebih mengerikan dari yang seharusnya. Ia menoleh dengan gerakan robot, melihat Sasuke yang belum berubah dari posisinya. Masih dengan mata terpejam.
"Sas-suke."
Sasuke membuka mata perlahan, bersitatap dengan wajah tertekan Sakura sebelum akhirnya kembali menutupnya. "Jangan pergi kemanapun, aku mohon."
Sakura tertegun sejenak mendengar gumaman Sasuke. Ketegangan yang ia rasa seolah tersiram begitu saja. Berganti getaran aneh yang membuatnya ingin menangis. Perlahan diusapnya wajah Sasuke pelan. Menyalurkan sisa hawa dingin dari ketakutannya tadi.
"Ti-tidurlah, a-aku tidak akan kemana-mana."
Sasuke yang kesepian tiba-tiba membuatnya sangat terluka.
"Sakura."
Sakura memutar pandangannya ke belakang saat seseorang menyebut namanya dengan sedikit ragu. Matanya membulat melihat siapa yang kini berdiri di depannya.
"N-neji?"
Neji melangkah mendekatinya. Setelan resmi yang ia gunakan terlihat begitu sempurn di tubuhnya. Sebelah tangannya masuk ke dalam saku, sisanya menjuntai luwes mengikuti gerak tubuhnya.
"Kau kuliah di sini?"
Suara Neji kembali terdengar saat jarak mereka tak lebih dari satu meter. Memberi ruang bagi Sakura untuk kembali memperhatikan profil makhluk tampan di depannya.
Tak bisa dipungkiri, selain Sasuke, Neji adalah laki-laki yang mampu membuatnya terus menoleh penasaran. Benarkah mahluk-mahluk sempurna seperti mereka benar-benar ada. Betapa tidak adilnya dunia yang kejam ini. Seseorang terlahir dari keluarga terpandang, kaya raya, cerdas dan tampan di saat yang bersamaan. Sementara dia? Apa hal bagus yang bisa dibanggakan darinya? menyedihkan sekali.
"Kau melamun." ucap Neji disertai senyum segaris. Wajah bengong Sakura terlihat lucu baginya.
"Eh. Fakultas kedokteran semester tujuh," balas Sakura gugup. "K-kau?"
Lagi-lagi Neji tersenyum.
"Aku hanya sedang mengunjungi seseorang," jawabnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kampus yang mengelilingi mereka. Sudah lebih lima tahun dia tak kembali ke Konoha, tapi kampus ini terlihat sama saja. "Jadi, kau calon dokter yang gemar berjudi, atau..."
"Ah, itu," Sakura tertawa garing sembari mengusap tengkuknya yang tak gatal, "I-itu sedikit sulit untuk dijelaskan."
Neji mengangguk-anggukan kepala pelan. Memahami bahwa bukan hal mudah untuk mempercayai orang yang baru tiga kali kau temui. Lagipula, perpisahan mereka di Vegas sedikit tak menyenangkan.
"Kau mau menemaniku berkeliling?"
"Eh? Um... te-tentu..."
"Sakura,"
Seseorang merusak pertemuan mereka dengan aura mencekamnya. Keduanya menoleh bersamaan.
"Aku mencarimu ke mana-mana."
"Sasuke."
Sasuke dan Neji saling berpandangan dengan intens. Ini adalah pertemuan kembali setelah insiden peledakan lab kimia sekolah mereka bertahun-tahun lalu.
"Sudah lama sekali ya, Sasuke."
"Hn."
TBC
YES, YES, YES. update cepat untuk menjaga ide tetap berjalan.
Terimakasih untuk semua dukungannya. silakan sedekah di kotak reviews.
salam sayang- Beb
