JUST THE TWO OF US

Chapter 7

Rated : T / M

Cast : All Member Suju dan bertambah seiring waktu

Pairing : All pair official Suju

Warning : Genderswitch , OOC , typo yang tak bisa terelakkan , cerita pasaran

Genre : Romance , Drama , Hurt

Disclaimer : Semua cast milik dirinya sendiri dan Tuhan saya hanya pinjam nama dan karakter. Tapi cerita ini 100 % murni milik saya.

Don't Bash The Cast Please !

Don't Like Don't Read

©Park Ah Reum

Happy Reading

Harap maklumi kalau menemukan banyak kekurangan yang membuat ff ini jauh dari kata sempurna.

.

.

.

Chapter 7 !

"Kyuhyun-ah malam ini kita ada makan malam dengan keluarga Song," Heechul berbicara ketika melihat Kyuhyun menuruni tangga.

"Eomma, bisakah kau berhenti? Aku sudah muak," balas Kyuhyun dingin tanpa menoleh.

"Tidak Kyuhyun-ah, hari ini eomma tidak menerima bantahan. Kau turuti perintahku atau kau akan tau apa yang bisa aku lakukan pada kekasih miskin mu itu," ancam Heechul.

Kyuhyun terdiam di tempatnya mendengar ancaman Heechul. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu saat kekasihnya hampir saja di tabrak sebuah mobil. Sampai sekarang orang suruhan Kyuhyun tidak berhasil menemukan si pelaku itu. Kejadian itu seperti sudah di rencanakan dengan matang, tidak ada bukti yang dapat membawa Kyuhyun pada si pelaku.

Tidak ada saksi, nomer plat mobil yang tidak terdaftar, jenis mobil yang tercatat tidak ada di Korea, CCTV di pinggir jalan yang rusak. Apapun! Kyuhyun sudah memikirkan berbagai cara untuk menemukannya tapi tetap nihil, semua terencana dengan rapi. Namun, Kyuhyun tidak lantas menyerah. Kyuhyun tetap menyuruh orangnya untuk terus mencari pelaku itu. Kyuhyun tidak ingin mengambil resiko Sungmin kembali celaka dengan membiarkan orang itu tetap bebas berkeliaran.

Kyuhyun mengepalkan tangannya menahan amarah. "Ini terakhir kali aku menurutimu," tanpa menyentuh sarapannya, Kyuhyun segera melangkah pergi meninggalkan Heechul sendiri di ruang makan megah itu.

Heechul terdiam beberapa saat memandangi sepotong roti di hadapannya. Selera makannya hilang karena perdebatannya dengan Kyuhyun. Entah mengapa setiap membicarakan kekasih anaknya itu selera makan Heechul selalu menguap. Membicarakan Sungmin di meja makan seperti membicarakan kotoran, membuatnya enggan untuk meneruskan sarapannya.

Heechul bangkit lalu meletakkan garpu dan sendoknya. Melangkah anggun menaiki tangga menuju kamarnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Dia akan memastikan malam ini berjalan sesuai keinginannya.

.

.

Percakapan dengan Heechul tadi pagi berdampak buruk bagi perasaan Kyuhyun. Sepanjang hari ini dia begitu sensitive terhadap apapun. Bahkan hanya masalah kopi yang terlalu manis saja sudah membuat Kyuhyun marah. Tak terhitung sudah berapa kali Kyuhyun membentak Hyorin sepanjang hari ini. Gadis sexy itu bahkan tidak mengerti kesalahan apa yang telah dibuatnya hingga membuat Kyuhyun marah.

Hyorin keluar dari ruangan Kyuhyun dengan perasaan kesal. Ini sudah ketiga kalinya laporannya di tolak.

"Hyorin-ah kau kenapa?" Donghae bertanya ketika melihat wajah kesal Hyorin.

"Ahh oppa. Sajangnim di dalam itu sepertinya ingin membunuh ku perlahan," adu Hyorin.

"Yah kau harus bersabar. Bukankah kau sudah tau dia itu seperti apa?" Donghae menepuk pelan pundak Hyorin memberi kekuatan gadis itu.

"Aku mau resign saja oppa," Hyorin memasang wajah ingin menangis. Rasanya lelah juga terus dimarahi tanpa sebab.

"Semangat Hyorin-ah. Hwaiting," Donghae mengepalkan tangannya memberi semangat.

Donghae melanjutkan langkahnya menuju ruangan Kyuhyun. Berteman sejak kuliah dengan Kyuhyun membuatnya mengerti sikap pria itu. Jika perasaannya dalam keadaan buruk Kyuhyun memang seperti itu, Kyuhyun akan melampiaskan semua kekesalannya pada siapapun orang yang ditemuinya salah atau tidak. Kejam? Kyuhyun tidak pernah peduli toh dia pemimpin siapa yang berani padanya.

Donghae mengetuk sekilas pintu ruangan Kyuhyun. "Boleh aku masuk?" Kepalanya menyembul dari celah pintu. Kyuhyun melirik kearah pintu sekilas kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Donghae melangkah memasuki ruangan itu ketika tidak mendapati jawaban dari Kyuhyun. "Kau kenapa seharian ini terus marah?" Tanya Donghae.

"Perasaanku tidak dalam kondisi baik. Pergilah jika kau tidak ingin mendengar omelanku," Kyuhyun berkata dingin tanpa melihat Donghae.

"Apa ada yang mengganggu mu? Apa kau sedang ada masalah dengan Sungmin?" Donghae bertanya, tidak mempedulikan ucapan pedas Kyuhyun.

Kyuhyun diam mendengar pertanyaan Donghae. Sudah berkali-kali Kyuhyun berusaha melupakan masalahnya tapi tidak pernah berhasil. Rencana perjodohan ibunya sangat mengganggu pikirannya. Apa yang akan terjadi pada Sungmin nantinya? Apa yang akan ibunya lakukan pada Sungmin? Itu semua yang mengganggu Kyuhyun sejak tadi. Kyuhyun tidak bisa terus berada di samping Sungmin. Ada kalanya dia harus meninggalkan gadis itu walaupun dia amat enggan. Satu-satunya cara melindungi gadis itu adalah dengan menikahinya, tapi Sungmin begitu keras kepala menolak ajakannya hidup bersama.

"Kau bisa berbagi padaku Kyu," lanjut Donghae.

"Apa yang harus aku lakukan pada ibuku, hyung?" kata Kyuhyun lirih. Tatapannya tidak semengerikan ketika Donghae masuk tadi. Yang ada di depannya sekarang bukan Kyuhyun si presdir kejam tapi Kyuhyun seorang lelaki rapuh.

Kyuhyun merebahkan badannya pada sandaran kursi. Matanya terpejam dengan satu tangan menutup matanya. Dia lelah, amat sangat lelah dengan semua ini. Dia hanya ingin bahagia apakah memang sesusah ini?

"Turuti saja. Ibumu tidak akan berbuat apapun jika kau mendengar perkataannya," Donghae mencoba memberi saran.

"Dan meninggalkan Sungmin?" Kyuhyun bangkit dan menatap tajam Donghae.

"Aku tidak berkata begitu. Aku hanya berkata kau turuti saja perkataannya, dengan begitu ibumu tidak akan berbuat apapun," jelas Donghae.

Perkataan Donghae membuat Kyuhyun terdiam. Dalam hati sedikit membenarkan ucapan Donghae, tapi selebihnya tidak setuju sama sekali. Ibunya memang akan diam jika Kyuhyun menurut, tapi apa dia harus selamanya menuruti kemauan wanita itu? Sekali dua kali tidak masalah, tapi bagaimana jika terus terjadi? Kyuhyun tidak akan membiarkan wanita itu terus mengatur hidupnya.

"Ibumu tau bahwa Sungmin adalah kelemahanmu. Selama kau masih menunjukkan perasaanmu pada Sungmin, ibumu tidak akan pernah berhenti mengganggunya," lanjut Donghae menjelaskan pikirannya selama ini.

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Melepaskan Sungmin? Kalau begitu kau akan membaca berita kematian ku esok harinya," kata Kyuhyun dingin.

"Simpan perasaanmu dulu dan selesaikan semuanya," kata Donghae.

"Keluarlah aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi," kata Kyuhyun mengusir Donghae. Kakinya melagkah menuju jendela besar yang langsung menghadap jalanan Seoul.

Donghae keluar begitu mendapati pengusiran Kyuhyun, tidak ingin membuat Kyuhyun lebih marah lagi. Setelah mendengar suara pintu ruangannya tertutup Kyuhyun langsung jatuh terduduk sambil memegangi dadanya. Air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya. Rasanya sakit sekali melihat seseorang yang kau cintai harus menderita karena mu. Kyuhyun mencintai Sungmin bukan untuk memberikannya kesusahan.

.

.

"Saem, ajarkan aku membuat perahu," Haru menarik rok Sungmin sambil menyodorkan kertas origami berwarna pink itu. Sungmin tersenyum dan merendahkan badannya.

"Aigo, sini saem akan mengajarkanmu membuat perahu." Sungmin duduk sambil mengangkat Haru kepangkuannya.

Hari ini Sungmin mengajarkan muridnya membuat origami. Belajar membuat origami membantu anak berfikir kreatif, terlebih Sungmin sangat suka membuat origami. Anak-anak didik Sungmin terlihat gembira melipat kertas berbagai warna itu. Ada yang membuat kapal terpang, perahu, boneka, burung, sampai kincir angin. Menyenangkan rasanya melihat anak-anak didiknya begitu antusias belajar bersamanya.

"Saem apakah burung buatanku boleh aku gantung di jendela?" Tanya seorang gadis manis berambut panjang pada Sungmin.

"Tentu saja Soojin-ah," jawab Sungmin sambil membelai rambut halus gadis itu. Soojin tersenyum kemudia berlari membawa origaminya untuk digantung di jendela.

Lima menit kemudian terdengar bunyi bel pertanda pulang. Semua anak-anak bersorak dan langsung berhambur duduk di bangku mereka masing-masing, mengambil sikap siap untuk berdoa. Sungmin terkekeh melihat antusiasme mereka untuk pulang.

"Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian anak-anak," Sungmin mengingatkan mereka sebelum mereka pulang.

"Neee," jawab mereka serempak. Setelah Sungmin menyelesaikan doanya semua anak langsung berlari menuju pintu menghampiri orang tua mereka.

Setelah muridnya habis Sungmin baru mengemasi barangnya dan melangkah meninggalkan ruangan kelas. Kaki Sungmin melangkah menuju ruang guru, suara ketukan sepatunya menggema di lorong yang sepi. Semua murid sudah pulang jadi jelas saja lorong-lorong kelas ini tampak sepi.

"Minnie, apa Kyuhyun menjemputmu hari ini?" Eunji bertanya ketika melihat Sungmin memasuki ruang guru.

"Ani, tadi dia mengirimi ku pesan kalau dia banyak pekerjaan dan akan lembur. Seharian ini bahkan dia tidak menelponku," jawab Sungmin.

"Ah, geurae? Ayo temani aku belanja. Aku ingin membeli sebuah dress baru," Sungmin menolehkan kepalanya menatap curiga Eunji. Temannya ini buka tipikal wanita yang suka berbelanja karena hobi. Dia hanya akan berbelanja pakaian jika dirasa butuh. Dress? Oh, Eunji bukan tipikal wanita pengoleksi dress, dia hanya mengenakan pakaian itu jika menghadiri acara resmi.

"Apa kau sedang berkencan?" Tanya Sungmin langsung keintinya.

"Yah kencan apa? Aku hanya ingin berbelanja," jawab Eunji gugup. Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya. Eunji bangkit dari duduknya dan bergegas pergi sebelum Sungmin sempat bertanya lebih jauh lagi. Sungmin yang melihat kepergian Eunji semakin menatapnya curiga. Ada yang tidak beres dengan temannya yang satu itu.

.

.

Setelah sempat makan siang bersama Sungmin akhirnya setuju menemani Eunji berbelanja. Tadi Sungmin sempat memaksa Eunji untuk bercertia dan akhirnya wanita itu mau mengaku. Eunji sedang dalam proses menuju sebuah hubungan dengan seorang pria, tapi siapa pria itu Eunji masih belum mau bercerita.

Akhirnya disinilah mereka berdua, di sebuah butik mewah di daerah Myeongdong. Eunji terlihat sibuk memilih beberapa dress yang berjejer di depannya. Sungmin hanya melihat beberapa saja walaupun ingin tapi dia tidak mungkin membelinya. Pakaiannya di rumah masih layak pakai jadi lebih baik uangnya ditabung untuk keperluan lain saja.

Eunji membawa beberapa potong dress ke ruang ganti, sedangkan Sungmin menunggunya di luar ruang ganti. Beberapa kali Eunji keluar dan meminta pendapat Sungmin, hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dress berwarna maroon dengan lengan berwarna putih yang berbahan brokat. Dress itu tampak apik membungkus badan Eunji, tampak sangat manis sekaligus elegan.

Sungmin dan Eunji melangkah keluar dari butik itu. Langit hitam menyapa pandangan mereka, berbelanja memang membuat wanita manapun lupa waktu.

"Minnie, rupanya suda malam," Eunji mengadahkan kepala menatap pekatnya langit malam ini.

"Kau benar, kita terlalu asik di dalam," jawab Sungmin.

"Aku harus segera pulang Min, sepertinya kita tidak bisa pulang bersama," kata Eunji menyesal.

"Gwaenchana, aku akan menggunakan bis," kata Sungmin menenangkan Eunji.

"Baiklah, sampai betemu besok Min," Eunji berjalan meninggalkan Sungmin.

Setelah kepergian Eunji, Sungin juga melangkah menjauhi butik itu. Perutnya mulai terasa lapar, jika saja Kyuhyun tidak sedang sibuk mungkin dia akan meminta lelaki itu menjemputnya. Seharian ini kekasihnya itu tidak menghubunginya sama sekali selain mengabarkan tidak bisa menjemputnya, membuat Sungmin harus memendam rindu untuk kekasihnya itu.

Sungmin menghentikan langkahnya, dia merasa seperti ada seseorang yang membuntutinya. Sungmin menolehkan kepalanya, tidak ada yang mencurigakan. Semua orang berjalan biasa melakukan aktivitas mereka masing-masing. Sungmin kembali melangkah mengabaikan perasaannya, mungkin dia terlalu berlebihan.

Sungmin terus melangkah hingga tiba di halte bis. Untunglah halte cukup ramai jadi Sungmin tidak perlu takut. Dalam keadaan ramai seperti ini tidak mungkin ada yang berani mencelakainya. Semua orang mulai maju ketika melihat bis yang datang dan mulai mendekat. Ketika bis itu berhenti tepat di depan halte semua orang langsung bergegas memasuki bis itu termasuk Sungmin.

Penumpang di dalam bis itu ternyata cukup banyak, membuat Sungmin tidak mendapatkan kursi hingga terpaksa berdiri. Berdiripun Sungmin harus sedikit berdesakan karena bukan hanya dia saja yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Hampir sejam Sungmin berdiri di dalam bis itu, betisnya sudah hampir mati rasa. Sungmin melangkah menuju pintu keluar ketika bis itu sudah mendekati halte tujuan Sungmin. Dari halte ini Sungmin butuh waktu lima belas menit untuk sampai rumahnya.

Sungmin turun ketika bis itu sudah benar-benar berhenti. Halte tempatnya turun ini tidak terlalu ramai, bahkan satu dari tiga lampu penerangan jalannya tidak menyala. Sungmin mencoba berani karena dia tidak punya pilihan lain lagi.

Sungmin berjalan sendirian diantara kegelapan malam. Ini bukan pertama kalinya Sungmin berjalan sendirian menuju rumahnya tapi baru kali ini dia merasakan perasaan gelisah seperti ini. Sungmin mempercepat langkahnya karena perasaannya semakin gelisah. Entahlah dia hanya merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi.

Ponsel Sungmin berbunyi di tengah kegugupannya, gadis itu sedikit terkejut karena ponselnya berbunyi di tengah kesunyian. Sungmin merogoh ponsel di tasnya. Ponsel itu berkedip menampilkan nama Kyuhyun sebagai penelpon. Sungmin tersenyum sedikit melupakan kegelisahannya.

"Ne, Kyu," sapa Sungmin ceria.

"Kau sedang apa sayang? Aku merindukanmu," kata Kyuhyun lirih. Tentu saja dia rindu seharian tidak berkomunikasi dengan kekasihnya itu membuatnya amat tersiksa. Terlebih lagi Kyuhyun harus membohongi kekasihnya, membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah.

"Aku dalam perjalanan pulang Kyu. Kau sendiri? Apa kau sudah makan malam? Jangan sampai tidak makan malam karena pekerjaanmu," ujar Sungmin perhatian. Perkataan Sungmin makin membuat Kyuhyun sedih, andai kekasihnya itu tau kalau dia berbohong.

"Kau baru pulang? Mengapa pulang semalam ini?" kata Kyuhyun cemas. Ini sudah malam dan kekasihnya itu baru pulang.

"Aku menemani Eunji berbelanja Kyu," jelas Sungmin.

"Haish kau selalu membuatku cemas, cepat pulang aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu," kata Kyuhyun tak sabar.

"Nee, aku sudah hampir sampai,"

"Lee Sungmin," tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari arah belakang ditambah sebuah tepukan di pundaknya. Sungmin sontak memutar kepalanya dan mendapati seorang pria berpakaian serba hitam. Seketika itu sebuah tusukan pisau bersarang di perutnya. Tak hanya sekali, pria itu kembali menikam perutnya hingga tiga kali. Sungmin merasakan perutnya seperti di robek secara paksa.

Sungmin mengepalkan tangannya pada ponsel di genggamannya, mencoba menyalurkan rasa sakitnya. Setelah tusukan ketiga pria itu mencabut pisaunya secara kasar dari perut Sungmin, membuat gadis itu jatuh tengkurap di atas tanah dengan tangan memegangi perutnya. Sebelum pergi pria itu menendang ponsel di tangan Sungmin. Menyebabkan ponsel itu terlempar beberapa meter dari Sungmin.

Sungmin mencoba meraih ponselnya tapi tangannya tak bisa menggapai ponsel itu. Sungmin mencoba berteriak namun yang keluar hanya sebuah pekikan lirih. Tubuhnya mulai lemas, pandangannya mulai mengabur dan kepalanya mulai pening. Sungmin merintih kesakitan sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.

.

.

Kyuhyun menatap heran ponsel di tangannya. Tadi dia sempat mendengar suara pria memanggil nama kekasihnya, setelah itu sambungan telponnya terputus tiba-tiba. Kyuhyun mencoba menelpon kekasihnya lagi namun nomer itu sudah tidak aktif. Tiba-tiba perasaannya menjadi cemas. Apa yang terjadi pada kekasihnya itu?

Kyuhyun segera kembali ke ruang tempat pertemuan keluarganya. Ternyata keluarga Song sudah tiba. Tadi sewaktu Kyuhyun pergi keluarga Song belum tiba. Kyuhyun langsung mengambil kunci mobilnya di atas meja.

"Kau mau kemana?" Heechul mencekal tangan Kyuhyun yang hendak mengambil kunci mobilnya.

"Aku ada pekerjaan mendadak omma, maafkan aku," Kyuhyun mencoba melepaskan cekalan ibunya. Perasaannya tidak enak dan dia tidak bisa meneruskan pertemuan keluarga ini.

"Tunda dulu pekerjaanmu, keluarga Song sudah disini," Heechul tidak melepaskan cekalannya.

"Tidak bisa omma aku harus bergegas. Ahjussi maafkan aku. Aku permisi," Kyuhyun melepaskan tangan ibunya dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Dia harus segera memastikan kekasihnya baik-baik saja.

Sementara Heechul di dalam sana menahan amarahnya. Putranya itu berani sekali mempermalukannya seperti ini. Victoria yang melihat kepergia Heechul hanya menundukkan kepalanya sedih. Dia baru sampai, bahkan belum sempat bertegur sapa dengan Kyuhyun. Sikap Kyuhyun tadi sudah jelas menunjukkan sebuah penolakan terhadapnya. Sepertinya Victoria harus lebih berusaha keras untuk mendapat hati Kyuhyun.

Di dalam mobil Kyuhyun tak hentinya mencoba menghubungi kekasihnya namun selalu gagal. Perasaannya semakin tak tenang. Kyuhyun menambah kecepatan mobilnya, tak peduli kalau dia akan ditangkap polisi nanti.

.

.

Begitu tiba di rumah kekasihnya Kyuhyun segera turun dari mobilnya. Bergerak secepat yang ia bisa menggapai pintu itu. Kyuhyun mengetuk pintu rumah itu tak sabar, dia ingin melihat segera kekasihnya.

"Hyung?" Sungjin kaget melihat Kyuhyun di depan rumahnya. Dia sedang menunggu Sungmin jadi dia mengira Sungmin yang datang.

"Sungmin dimana?" Tanya Kyuhyun tanpa basa basi.

"Noona? Noona belum sampai hyung. Kau mau menunggu di dalam?" kata Sungjin. Kyuhyun menanyakan Sungmin padanya, padahal dia sendiri sedang menunggu noonanya itu.

"Sungmin belum pulang? Setengah jam lalu aku menelpon dan dia bilang dia sedang dalam perjalanan pulang," Kyuhyun semakin panik mendengar kekasihnya belum pulang.

"Sungjin-ah, kau harus segera ke rumah sakit!" seorang ahjussi tiba-tiba memotong pembicaraan dua lelaki itu. Kyuhyun sontak menoleh mendengar kata rumah sakit.

"Ada apa ahjussi?" Sungjin menghampiri pria paruh baya itu diikuti Kyuhyun di belakangnya.

"Pemilik toko bunga di ujung jalan tadi berkata noona mu ditemukan pingsan bersimbah darah di dekat halte," jelas pria itu. Penjelasan pria itu membuat jantung Kyuhyun seketika berhenti berdetak. Apa ini? Apa firasat buruknya sungguh terjadi?

"Mw… mwo? Dimana ahjussi? Di rumah sakit mana noona ku di bawa?" Tanya Sungjin tak sabar. Tubuhnya seketika lemas mendengar noonanya ditemukan pingsan terlebih bersimbah darah?

"Param Hospital Sungjin-ah, cepatlah!"

Sungjin berlari masuk ke rumahnya mengambil jaket dan ponselnya. Tak lupa mengunci pintu rumahnya, sedangkan Kyuhyun sudah duduk di belakang kemudinya menunggu Sungjin. Detak jantungnya tak dapat di kontrol, keringat dingin keluar dari pelipisnya dan tangannya gemetar ketakutan.

Sungjin masuk dan menutup pintu di sampingnya kasar, menyadarkan Kyuhyun dari pikirannya. Kyuhyun segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam pikirannya hanya terpikir bagaimana caranya bisa tiba di rumah sakit secepat mungkin.

Kyuhyun memarkir asal mobilnya begitu tiba di rumah sakit. Kakinya berlari secepat yang ia bisa diikuti Sungjin di belakangnya.

"Lee Sungmin. Aku mencari pasien bernama Lee Sungmin,dimana dia?" Kyuhyun bertanya tak sabar.

"Tunggu sebentar tuan," Kyuhyun bergerak gelisah menunggu perawat itu mencari nama kekasihnya.

"Sungjin-ah!" Sungjin menoleh ketika sebuah suara memanggilnya.

"Ahjumma?" Sungjin berlari menghampiri seorang wanita itu.

"Ahjumma, bagaimana keadaan noonaku?" Tanya Sungjin cemas.

"Uisa sedang memeriksanya Jin-ah," jelas wanita itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi Nyonya?" Kyuhyun datang menyela.

"Aku baru saja pulang dari supermarket dan aku menemukan Sungmin tengkurap di tanah dengan bersimbah darah," Kyuhyun merasakan jantungnya berhenti berdetak mendengar penjelasan wanita itu. Tidak jauh beda dengan Kyuhyun, Sungjin juga merasakan hal yang sama. Udara terasa menyesakkan dadanya.

"Baiklah terimkasih ahjumma, biar aku yang mengurus semuanya kau kembali saja," ujar Sungjin. Rasanya tidak enak merepotkan wanita tua itu.

Setelah mengucapkan terimakasih wanita tua itu meninggalkan rumah sakit itu. Sungjin mengantar wanita itu sampai mendapatkan taxi.

Sungjin kembali ke ruang UGD setelah memastikan ahjumma pemilik toko bunga itu pulang dengan selamat. Kyuhyun masih menunggu dengan cemas di depan ruang UGD itu. Sungjin mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun. Keheningan menyapa keduanya. Kyuhyun dan Sungjin sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sama-sama berdoa untuk keselamatan seseorang di dalam ruangan itu.

Tiga jam kemudian akhirnya pintu ruang UGD di depan mereka berdua terbuka. Seorang dokter dengan setelan khas dokternya keluar dengan raut wajah yang tak terbaca. Kyuhyun dan Sungjin langsung berdiri menghampiri dokter itu.

"Uisa bagaimana keadaan noonaku?" Sungjin yang pertama kali bertanya.

"Limpanya robek hingga kita harus mengambilnya. Masalahnya adalah dia kehilangan banyak darah jadi kita lihat saja nanti, tapi untuk saat ini kesempatan sembuhnya sangat sulit," jelas dokter itu. sebelum pergi dokter itu menepuk pelan bahu Sungjin memberi kekuatan.

Beberapa saat setelah dokter itu pergi tiga orang perawat keluar dengan mendorong ranjang Sungmin. Sungjin mengikuti perawat itu memindahkan Sungmin ke ruang rawat. Kyuhyun di belakangnya terdiam melihat kondisi Sungmin. Selang oksigen, alat pendeteksi jantung, dan sekantong darah memenuhi tubuh Sungmin. Air matanya keluar tanpa diperintahnya. Pria mana yang tidak menangis ketika melihat wanita yang dicintainya terluka seperti itu.

.

.

Sungjin duduk di samping ranjang Sungmin. Tangannya menggenggam erat tangan Sungmin yang tidak di infuse. Sungjin mengangkat kepalanya ketika mendengar suara ketukan sepatu.

"Hyung, apa yang terjadi?" Sungjin bertanya tak sabar, kecemasan tergambar jelas dari nada suaranya.

"Tubuh Sungmin menunjukkan reaksi buruk setelah transfusinya, dia mengalami D.I.C yang menyebabkan pembekuan di pembuluh darahnya, jadi dia dalam kondisi sangat kritis Sungjin-ah," jelas Kyuhyun sambil menatap Sungmin sedih.

Sungjin terdiam mendengar penjelasan Kyuhyun. Tubuhnya seketika kaku mendengar keadaannya noonanya yang sangat kritis. Matanya memerah menahan buliran air mata. Sungmin satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini, jika noonanya itu pergi Sungjin akan sebatang kara hidup di dunia ini. Selama ini Sungjin tidak pernah mengenal orang tua nya. Dia baru berumur 5 tahun ketika orang tuanya meninggal, sedangkan Sungmin baru 8 tahun.

Setelah kepergian orangtuanya, Lee halmonie yang mengambil alih mengurus mereka. Namun baru lima tahun Lee halmonie ikut menyusul kedua orangtuanya. Bayangkan saja Sungmin yang baru berumur 13 tahun harus berjuang mencari nafkah untuk dia dan adiknya. Sungjin tidak akan pernah melupakan bagaimana noonanya itu berjuang untuk menghidupi mereka berdua.

Kyuhyun menatap Sungmin sedih. Kekasihnya yang ceria, kekasihnya yang selalu bersemangat kini terbaring lemah dengan bantuan alat penunjang kehidupan. Kyuhyun mengepalkan tangannya erat, mencoba meredam kemarahannya. Apa lagi ini? Siapa lagi yang membuat kekasihnya ini terluka? Kyuhyun tidak bisa membiarkan orang it uterus berkeliaran bebas. Kyuhyun akan membalas orang itu, kalau perlu Kyuhyun akan membunuh orang itu dengan kedua tangannya sendiri.

.

.

Pagi ini Sungmin masih belum sadar, keadaannya juga belum membaik. Kyuhyun masih setia menunggu di sampingnya. Pakaiannya tak serapi semalam, matanya pun kini dihiasi lingkaran hitam. Semalam Kyuhyun tidak bisa tidur sama sekali, takut terjadi sesuatu pada Sungmin jika dia memejamkan matanya.

Semalaman Kyuhyun sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja dia tidak berbohong pada kekasihnya itu, andai saja dia tidak menuruti kemauannya ibunya, andai saja dia ada di samping Sungmin pada saat itu, pasti ini semua tidak akan terjadi. Pasti Sungminnya tidak akan kritis seperti ini. Penyesalan memang selalu datang terlambat bukan?

"Hyung, kau tidak pulang?" Sungjin baru saja tiba dari rumahnya mengemasi untuk barang Sungmin.

"Ani, aku tidak bisa meninggalkan Sungmin," jawab Kyuhyun tanpa menolehkan kepalanya.

"Kau tidak bekerja?"

"Tidak. Aku tidak akan bisa bekerja jika Sungmin belum membaik. Kau sendiri tidak kuliah?" Kyuhyun balik bertanya.

"Aku juga tidak bisa meninggalkan noonaku,"

"Kau harus kuliah, pekerjaan ku bisa ku urus dari sini, sedangkan kuliahmu? Apa kau menyuruh dosenmu kemari?" ujar Kyuhyun menasehati calon adik iparnya itu.

"Tapi…." "Pergilah, bawa mobilku." Kyuhyun cepat memotong ucapan Sungjin. Tangannya merogoh saku celananya mengeluarkan kunci mobil.

Setelah menerima kunci mobil itu Sungjin bergegas berangkat kuliah, tentunya setelah dia membereskan penampilannya dulu.

Kini hanya Kyuhyun yang menjaga Sungmin. Kyuhyun tidak berbohong ketika dia berkata tidak bisa meninggalkan Sugmin yang masih belum membaik. Kyuhyun mengambil ponselnya di atas meja, dia harus memberitahu Donghae bahwa hari ini dia tidak bisa datang ke perusahaan. Kyuhyun menyalakan ponselnya dan masuklah puluhan panggilan tak terjawab dari ibunya. Semuanya dia abaikan begitu saja dan langsung mendial nomer asisten pribadinya itu.

"Hyung, aku tidak bisa ke perusahaan hari ini. Kau urus semua dan berikan laporannya padaku nanti," perintah Kyuhyun tanpa basa basi.

"YA! Bagaimana bisa kau menyuruhku mengurus semuanya. Apa yang kau lalukan?" jawab Donghae kesal.

"Sungmin sedang di rumah sakit dan aku tidak bisa meninggalkannya. Pokoknya aku percayakan semua padamu sementara waktu," Kyuhyun langsung menutup sambungannya sebelum Donghae sempat menjawab. Di sebrang sana Donghae mengutuki Kyuhyun yang seenaknya saja.

.

.

Sementara itu di mansion keluarga Cho, suasana mencekam terasa menyelimuti rumah itu. Nyonya besar keluarga ini sedang diselimuti kabut tebal, tidak ada satupun pelayan yang berani mendekatinya. Semua pelayan berusaha tidak menunjukkan dirinya dihadapan nyonya besar itu, takut menjadi pelampiasan kemarahannya. Tadi malam saja sudah 3 orang pelayan dipecat hanya karena tidak sengaja menumpahkan air di tangga.

Heechul benar-benar marah pada Kyuhyun kali ini. Bisa-bisanya Kyuhyun pergi begitu saja tadi malam, untung saja keluarga Song tidak marah dan merasa terhina. Kyuhyun seperti melempar kotoran ke mukanya semalam. Heechul tidak perlu berpikir terlalu keras kemana Kyuhyun pergi semalam, jawabannya pasti menemui kekasihnya yang murahan itu. Heechul tidak punya pilihan lain lagi.

"Cara satu-satunya memisahkan mereka adalah dengan mempercepat perikahan Kyuhyun dan Victoria," gumam Heechul dalam kesunyian.

Tekadnya sudah bulat dia akan mempercepat pernikahan Kyuhyun dan Victoria. Jika Kyuhyun menolak Heechul akan memaksanya bagaimanapun caranya. Sampai kapanpun Heechul tidak akan pernah rela anaknya yang berharga bersanding dengan gadis miskin yang tak berguna.

.

.

Di tempat lain, Jessica dan Woobin terlihat tengah asik bercumbu. Tangan Woobin menjamah setiap inci tubuh Jessica, sedangkan Jessica mendesah nikmat di bawahnya.

"Kau hebat woobin-ah," ujar Jessica di sela desahannya.

"Ku anggap itu sebagai pujian Jess," Woobin kembali melumat bibir Jessica. Tidak pernah ada kata puas baginya jika sudah menyangkut wanita di bawahnya ini.

Woobin benar-benar melakukan pekerjaan bagus kemarin jadi tidak masalah bagi Jessica untuk membayar pekerjaan pria itu. Sekarang tinggal menunggu malaikat maut menjemput gadis itu dan semua yang ia inginkan akan menjadi miliknya. Jessica ingin sekali merebut Kyuhyun kembali tpai ia akan bersabar setidaknya sampai gadis itu mati.

"Kau memang harus mati Lee Sungmin!"

.

.

~KyuMin~

.

.

TBC

.

.

Annyeonghaseyo~~

Saya kembali lagi membawa kelanjutan ff ini …..

Bagaimana chapter ini? membosankan? Saya harap chapter ini tidak mengecewakan kalian ya , ketakutan saya dari dulu cuma satu, tidak ada feel .. saya selalu takut moment hurt atau romantis yang saya buat tidak mendapatkan feel dari kalian ..

Tolong berikan saya masukan jika menurut kalian ada yang harus saya perbaiki ya … saya sangat berterimakasih ….

"KyuMin momentnya gak ada niihhh" maafkan saya /pundung/

Maafkan saya karena telah membuat uri Sungmin terbaring di rumah sakit , sabar ya nanti pasti sehat kok , jangan pukulin saya ya …..

Maafkan saya juga untuk update yang lama ya , saya selalu berusaha mencuri kesempatan untuk mengetik cerita ini disela kesibukan saya .. saya harap kalian dapat memaklumi jika saya baru bisa update 2 minggu sekali atau lebih .. kalian tenang saja saya tidak akan menelantarkan cerita ini .. Tetap dukung saya ^^

Thanks to :

Min Hwa , Kyumin , Abilhikmah , TiffyTiffanyLee , OvaLLea , Park Heeni , Jihae Kyumin , Miki Hibiki , dewi. , Lady Azhura , cloudswan , RinatyaLee JoYunjae Shipper , Chokyumin , Guest , sparkyuvil , superjuniorLiHe , Babychoi137 , Love Kyumin 137 , Kim Jihae , Kimteechul , JOYER , kyumin lovers , lee kyurah , 143 is 137 , hanna , Cywelf , leedidah , HaeHar. Gyumin Cho , Shallow lin , Gyeomindo , ai siti Fatimah , nuralarsyid , Chominhyun , Rinda Cho Joyer , lifani , melee , puspa , pinkkyumin , bunyming , PumpkinEvil , ELFishJOYers , kimjaejoong309 , Ekaa , elsa SJ1 , .1 , , Geishaa , miadevi137

Untuk silent readers terimakasih juga, sempatkanlah meninggalkan review agar saya bisa mengenal kalian ….

Sampai jumpa di chapter depan ya .. SARANGHAE …

Sign

Park Ah Reum