"... can you hear it?" Deep within your heart.
It's surely the voice from that day: your sobbing voice.
.
.
SUATU ketika, disaat dirinya sedang bingung tentang dimana tempat dirinya berpijak saat ini, seseorang datang.
Dia memakai baju berwarna putih. Wajahnya bersinar sampai-sampai membuat manik biru mudanya tidak bisa melihat jelas wajah orang itu. Terlalu menyilaukan. Bisa-bisa kalau dipaksakan kedua matanya akan buta.
Orang itu menyapa, "Halo, apa kabar?" Suaranya terdengar ramah, dan sepertinya orang itu tersenyum kepadanya.
"Baik." Jawabnya seadanya, "Ano, kau siapa? Dan ini dimana?" Adalah hal yang lumrah untuk ditanyakan untuk orang yang sedang kebingungan seperti dirinya.
"Maafkan ketidaksopananku. Tapi maaf, Aku tidak punya nama."
"Kalau begitu bagaimana jika aku memanggilmu Shiro-san." Karna wajahmu begitu menyilaukan dan putih.
"Panggil saja sesukamu, dan terimakasih sudah memberiku nama."
"ini dimana?" Ia bertanya sekali lagi. Walaupun bingung, wajahnya sama sekali tidak menunjukan ekspresi itu. Matanya bulat, bibirnya membentuk garis lurus tanpa lengkungan keatas maupun kebawah.
"Hm, ini adalah tempat untuk jiwa yang tidak punya tujuan, untuk jiwa yang masih terikat di dunia, dan jiwa yang masih memiliki penyesalan."
Ia masih diam, air muka nya tidak berubah, masih tanpa ekspresi.
"Aku tahu, mungkin kau tidak mengerti maksud perkataanku ini. Biar aku jelaskan sedikit. Kau sudah mati."
Iris aquamarine melebar. Mendadak potret anak yang sedang terbaring diaspal di tengah jalan dengan bersimbah darah muncul. Kemudian, potret beberapa anak berambut pelangi yang sedang menangis selanjutnya ikut muncul.
Ah, ia baru ingat sekarang, fakta bahwa dirinya sudah mati.
Bibir itu sedikit melengkung keatas, "Begitu.. lalu, mengapa aku ada disini? Setauku bila sudah mati kita akan pergi ke Surga atau Neraka, atau kita akan berenkarnasi menurut kepercayaan orang-orang."
"Memang seharusnya begitu."
"Lalu kenapa aku ada disini?"
"Mungkin ada kesalahan dalam perjalananmu menuju sana. Apakah kau masih memiliki penyesalan di dunia ini, anak muda?"
Ia menunduk, memikirkan sesuatu, setelah beberapa detik bibir itu menjawab dengan suara yang amat pelan, "Um, sepertinya, ada."
"Nah, mungkin itu penyebabnya,"
"Dengar, nak. Untuk mereka yang sudah mati tapi masih memiliki penyesalan ketika hidup. Untuk mereka para jiwa yang tersesat, ini adalah tempat untuk menampung mereka,"
"Dunia ini tidak hanya satu, ada banyak dunia yang terhubung satu sama lain. Mungkin kalian biasa menyebutnya dunia parallel. Kau hidup tidak hanya di dunia yang kau tempati saat ini. Ada banyak dirimu yang lain hidup di dunia berbeda juga. Mereka itu, memiliki alur kehidupan yang serupa tapi berbeda dengan dirimu saat ini."
"Maksudmu?"
"Semisal, didunia ini, kau adalah seorang anak yang besar di panti asuhan, memiliki kehidupan yang sederhana sampai kelima anak beramput pelangi mengubah hidupmu. Di dunia yang lain, kau adalah anak yang dilahirkan di keluarga kaya dan terkenal, memiliki kehidupan super mewah dan lainnya,"
"Kau berada disini karena penyesalanmu. Tidak hanya dirimu saja, mungkin sebentar lagi dirimu yang lain akan datang. Dia adalah orang yang memiliki penyesalan sama sepertimu. Kalian akan bekerjasama untuk kembali ke dunia kalian yang seharusnya, kalau tidak ingin terjebak di tempat ini lebih lama lagi."
"Orang itu, mungkin termasuk jiwa yang tersesat. Atas alasan itulah aku akan menyegel ingatan pahitnya. Kau bisa memintanya untuk menyelesaikan urusanmu di duniamu."
"Kemudian, setelah urusanku selesai, apakah aku dan orang itu bisa kembali?"—ketempat kami masing-masing. Ia membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja.
"Tentu. Kalian, atau kau saja."
"Maksudmu?"
"Kau, berarti hanya kau yang kembali. Ada kemungkinan dia akan menggantikanmu di duniamu itu."
"B-bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, jika memang dia masih memiliki sisa hidup di dunia ini, dan keinginan kuat dirinya yang ingin hidup kembali,"
Diam.
"Nah, anak muda, kau bisa mengajaknya juga jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan kau tidak rela (bila dia menggantikan posisimu nanti)" Shiro-san, meletakkan sesuatu yang sudah ia pegang sedari tadi ke tangannya "Gunakan ini."
Di tatapnya sesuatu yang tampak mengkilat di tangannya itu, tangannya sedikit bergetar mengetahui apa yang di pegangnya, ia mencoba mendongak menatap wajah orang itu.
"Ya, kau bisa—
.
.
.
Kedua matanya terbuka tiba-tiba, menampilkan sepasang iris berwarna biru muda yang mengingatkan kita pada langit musim panas. Berkedip beberapa kali, ia berusaha menyesuaikan penglihatannya yang sedikit buram akibat tidur barusan.
Ia mengusap wajahnya kasar, terlihat frustasi.
"Kenapa aku harus memimpikan hal itu?" padahal biasanya yang ia impikan adalah memori masalalu dari Akashi Tetsuya, kembarannya dari dunia lain.
Ketika seseorang mati, Ia tidak akan bisa bermimpi lagi.
Ia tidak bisa bermimpi menjadi guru taman kanak-kanak setelah lulus, berkumpul-bercanda-bersama kelima kakaknya, mempunyai istri yang cantik dan lembut, mempunyai anak-anak yang lucu di masa depan, mempunyai kehidupan yang tenang dan damai, menghabiskan masa tuanya dengan istri dan cucunya, sampai pada akhirnya meninggal dengan senyum yang terpatri sebelum nyawanya diangkat.
Tidak, Kuroko Tetsuya sangat sadar, mimpi itu tidak akan pernah terwujud, takdir dengan kejamnya memutus impiannya ditengah jalan, bahkan sebelum ia bisa mengembalikan kepribadian kelima kakaknya-tujuan utamanya.
Kuroko mati, dengan wajah yang bagaimana ia juga tidak tahu. Kesakitan? Menderita? Entahlah. Tapi satu yang ia yakini, dirinya tidak tersenyum sama sekali seperti yang diinginkannya, mati dengan tenang.
Yah.. kalau Kuroko mati dengan tenang waktu itu, ia tidak mungkin berada disini sekarang, dan—tidak mungkin merasa bersalah akibat memperalat seseorang.
Tetsuya bilang dirinya punya pemikiran yang dewasa.
Salah.
Kuroko hanya berlagak seperti dirinya sendiri, dan beginilah dia. Otaknya tidak pernah berhenti berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila Kuroko melakukan hal ini dan itu. Mencoba berfikir logis dan realistis setiap detik.
Tapi, disamping itu, dirinya ini masihlah anak-anak, Kuroko hanyalah anak laki-laki berusia empat belas tahun saat dirinya terakhir kali hidup—seingatnya.
Labil dan egois. Bingung harus melakukan apa saat dirinya sudah salah memilih langkah. Penyesalan. Dosa.
Katakanlah Kuroko orang jahat.
Orang jahat yang sudah memanfaatkan dirinya yang lain, yang mempunyai nasib lebih mengerikan dari dirinya.
Ia mengerti, sangat mengerti. Dengan perasaan orang itu—Akashi Tetsuya.
Pernah suatu waktu ia bermimpi, salah satu dari memori masalalu Tetsuya. Dalam mimpi itu, ia dapat merasakan apa yang dirasakan Tetsuya, ia seakan menjadi diri Akashi Tetsuya.
Merasa tidak berguna. Merasa tidak berdaya, merasa lemah, dan perasaan negatif lainnya. Dirinya bahkan sempat menjerit—menangis, meronta-ronta, tapi tetap saja mimpi itu berlanjut walaupun bibirnya sudah berteriak agar berhenti, ia ingin bangun secepatnya.
Pada akhirnya Kuroko menyaksikan mimpi itu sampai akhir.
Kemudian Kuroko berpikir, 'Aah.. Mungkin ini yang membuatnya depresi sampai bunuh diri.' Tidak heran, bahkan Kuroko saja merasakan dampaknya. Mentalnya terutama, terguncang, hampir hancur.
Dan bagaimana dengan Tetsuya waktu itu?
Oke, Kuroko tidak mau memikirkan hal itu lagi.
Awalnya ia tidak mau melakukan hal ini, waktu itu Kuroko tidak tau apa-apa, tentang kebenarannya, alasan mengapa Tetsuya bisa berada disini. Tidak perduli, benar-benar tidak perduli.
Yang dipikirkannya hanya dirinya saja. Egois.
Sekarang, setelah ia merasakannya langsung, baru Kuroko sadar.
"Aku ini orang jahat.."
Bibir itu tersenyum getir, matanya menutup.
"Kau bisa membunuhnya, jika kau mau."
"Aku.. tegakah aku melakukan hal itu?" suaranya pelan, hampir berbisik.
"Miyuki kaa-san, anak yang sudah kau besarkan ini, benar-benar tidak bisa memilih pilihan yang bijaksana seperti harapanmu sekarang. Aku anak yang gagal."
.
.
Disebuah bukit, dibawah pohon besar yang rimbun dan lebat, seorang pemuda berjongkok di hadapan sebuah makam dengan nisan bertuliskan 'Akashi Tetsuya'
Semilir angin sore bertiup pelan, membelai surai kemerahannya. Matanya terpejam, sementara kedua telapak tangannya saling menempel, bibir itu bergumam sangat pelan— sebuah doa juga tak lupa sebuah kata 'Maaf' yang tak terhitung sudah berapakali ia ucapkan, untuknya.
Selesai, matanya terbuka kembali, menampilkan sepasang iris merah delima yang tampak berkaca-kaca. Ia tersenyum lembut, membelai batu nisan didepannya.
"Sejak kejadian itu, Tetsuya tidak pernah mengunjungi nii-san. Tetsuya masih marah? Tetsuya kecewa? Atau malah Tetsuya benci dengan nii-san..?"
"Kalau begitu, datanglah walau itu hanya dimimpi. Caci-maki, pukul, kalau perlu bunuh kakakmu yang tidak berguna ini. Seijuuro-niisan tidak akan keberatan jika harus mati ditangan Tetsuya."
"Aah.. tapi itu tidak mungkin. Nii-san bisa saja pergi menyusul Tetsuya, tapi.. yah, bagaimana, ya..? Yang ada nii-san nanti malah dibenci oleh kakak-kakakmu itu, terlalu tidak bertanggung jawab."
"Ne, Tetsuya tahu tidak? Mereka sudah mulai dekat lagi, seperti dulu. Sayang sekali Tetsuya tidak ada disini sekarang. Nii-san.. masih ragu, untuk bergabung dengan mereka. Tapi nii-san akan berusaha."
Terdengar suara langkah seseorang mendekat.
"Seijuuro.."
"Hai' hai', Gomen ne Tetsuya, kita akhiri sampai sini, Shintarou-niisan mu sudah menyuruhku pulang. seperti Okaa-san saja."
"AP—b-bukannya aku peduli! Sekarang sudah hampir malam dan cuaca akan bertambah dingin, aku tidak ingin Seijuuro-niisan mu yang jenius tapi bodoh ini sakit lagi seperti waktu itu. j-jangan dengarkan perkataannya—
"Kan? baiklah mari kita pulang Okaa-san~"
"K-kk-kau-
Meredam kekesalannya, pada akhirnya Shintarou hanya menghela nafas.
"Dia itu.." Ia memandangi punggung kakaknya yang sedang berjalan didepannya, kenapa kelakuannya jadi seperti anak kecil begini?
Shintarou merogoh sesuatu di saku celananya, ia membuka flip handphonenya mengetik sebuah pesan singkat lalu mengirimnya ke seseorang.
Tetsuya dan alasan kematiannya masih tanda tanya besar bagi Shintarou. Polisi juga sudah memutuskan tidak ada sangkut paut pihak ketiga dalam kasus bunuh diri Akashi Tetsuya dan masalahnya juga sudah ditutup.
Tetap saja, Shintarou tidak bisa menerima semua alasan itu.
Benar Tetsuya mati bunuh diri.
Benar, mungkin, Tetsuya bunuh diri atas keinginannya.
Masalahnya adalah- apa yang membuatnya sampai melakukan hal ini?
Diam-diam, Shintarou sedang menyelidiki masalah ini, tanpa sepengetahuan Seijuuro.
.
.
Chapter 6,5 END
.
.
AN: Hisashi buri da ne~ '-'/ Maafkan keterlambatan lanjut fic ini..Err.. kemarin-kemarin kena wb untuk FYTY (Authornya malah buat fic baru). Dan juga lanjutannya yang ini mungkin pendek, sebenarnya Cuma mau ceritain dikit tentang sebab-akibat di cerita ini. Ya, gatau juga chapter ini berguna atau engga. TAPI saya masih bersikeras nyembunyiin masalalu nya si Tecchan, nanti aja pas mau end baru diungkap :'v
Author ganti nama, dari Akashi Yukari menjadi nameless pierrot *gananya '-'/
Hanna Byun276 Iya, authornya juga ganyangka, lagi pengen nistain Midorin aja kemarin :'v Asahina Yuuhi udah dilanjut, maaf telat .. Guest bayangin berasa Kise jadi ukehh.. Lisette Lykoulen Uhh.. ganyangka ada yang nungguin.. Vanilla Tetsuya Blue maaf telaaat .. Kise Kairi maaf karna telat updatenyaaa macaroon waffle lagu kesukaan :3 antara tuntutan dan kepengen. Oh ayolah, Midorin kan juga laki-laki :v Hyra Z Ah! Ini nyerempet BL? Ganyadar dan ganiat awalnya .-. Caesar704 Uh.. endingnya aja masih samar bagi si pembuatnya.. Akakurofans kayanya engga deh. Bakal dipercepat, ga sampe wintercup '-'/ zhichaloveanime ini udah dilanjut~ ^^ BlackCrows1001 Itu.. ada di chapter awal2, semua KnS manggil Kuroko Tetsuya pake nama kecil '-'?
.
.
Next Chapter 7 (Full Kise/Akashi Ryota sepertinya)
see you '-')/
