SLEEP WITH THE DEVIL - SANTHY AGATHA - BAB 8
Pair : Jeno/Renjun (Noren), dll.
OOC, YAOI, MPREG.
BAB 8
Renjun tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh dua sebentar lagi. Kenapa Jeno bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Renjun tertarik, tetapi dia akan memuaskan Jeno kalau dia mengikuti Jeno untuk berbicara dengannya. Jangan-jangan memang itu tujuan Jeno, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti Jeno.
"Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas disini." Api menyala di mata Jeno, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri,
"Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku," suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.
Setelah puas menikmati hujan, Renjun masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Jeno, lagipula sepertinya lelaki tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Renjun tidak yakin kalau Jeno akan menunggunya. Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.
"Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?" suara di kegelapan itu mengagetkan Renjun. Dia menajamkan matanya dan melihat Jeno duduk di sana, di keremangan kamarnya.
"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?!" Renjun berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di dinding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Jeno, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.
Renjun berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Jeno. Lelaki itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan disebelah tangannya memegang gelas minuman. Renjun melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Jeno selama menunggunya. Apakah lelaki itu mabuk? Jantung Renjun mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Jeno sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.
"Apa yang kau lakukan disini Jeno?"
Jeno mendengus dan menatap Renjun dengan tajam, "Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku."
Renjun mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Jeno bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri.
Jeno tersenyum melihat tingkah Renjun,
"Kau seperti kelinci ketakutan lagi Renjun, apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau … melemparkanmu dari balkon lagi?," Jeno menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Renjun.
"Apakah kau mabuk Jeno?" Renjun melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Renjun ingin melarikan diri dari Jeno. Dia pasti bisa melakukannya.
"Lee Jeno tidak pernah mabuk," Jeno melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap endap mengincar mangsanya. "Dan kau…. Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Renjun."
Renjun tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Jeno kehilangan kesabarannya, karena itulah Renjun langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Jeno sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.
Jeno mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Renjun bisa merasakan kejantanan Jeno yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Jeno sudah menahannya di semua sisi.
Renjun ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Renjun mulai terengah-engah.
"Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri," Jeno berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Renjun menggelenyar, "Dan kau membuatku ingin melakukannya"
Renjun terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Jeno begitu kuatnya,
"Apakah kau akan memaksaku lagi, Lee Jeno?" Renjun berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, "Kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah lelaki bajingan yang hanya bisa mendapatkan orang dari pemerkosaan."
Kata-kata Renjun rupanya berhasil membuat kesadaran Jeno kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Jeno melepaskan Renjun,
"Sialan kau, dasar!" Jeno berbisik marah di telinga Renjun dan meninggalkannya.
Sendirian, Renjun berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Jeno ternyata juga mempengaruhinya. Dan Renjun semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Jeno.
Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Jeno luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.
Pagi tadi Jeno sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Haechan dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan.
Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi. Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.
Haechan masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Jeno, "Ada apa?"
"Bagaimana?"
"Baju-baju untuk Tuan Renjun sudah datang."
"Bagus"
"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Renjun lebih lama?"
"Tutup mulutmu Haechan!," Jeno menggeram, "Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!"
Haechan mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti pagi tadi.
Jeno berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.
Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada perempuan-perempuan atau bahkan laki-laki yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang orang, dia ingin Renjun. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada pemuda itu? Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Renjun, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Renjun ada di kamar.
Jisung ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Renjun, sedangkan lelaki itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.
Jisung langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Jeno masuk dengan wajah muram.
"Kau menyukai pakaian-pakaian itu? "
"Apakah pendapatku penting?"
Jeno menatap Renjun marah, "Apa maksudmu?"
"Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Lee Jeno bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu."
"Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?"
Renjun menegakkan dagunya menantang, "Karena siapa?"
"Karena kau, dasar laki-laki kecil yang keras kepala!"
Renjun mengernyit marah, "Dan apa yang kulakukan padamu wahai tuan Jeno yang baik hati?"
"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"
"Kau pikir aku harus bagaimana Jeno? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan."
"Selalu ke arah itu," gumam Jeno kesal, "Aku masih belum ingin membahasnya," lelaki itu menatap Renjun tajam, "Aku memintamu melakukan sesuatu untukku."
Renjun mengangkat alisnya, tertarik, Jeno tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.
"Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu."
Renjun melangkah mundur tanpa sadar, "Menerimamu sebagai apa…? Apa kau sudah gila?"
"Hmm…. Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti," matanya menatap Renjun penuh rahasia, "Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu.."
"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!," Renjun berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.
Jeno terkekeh, "Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu," Lelaki itu meraih Renjun ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya.. Jeno melumat seluruh bibir Renjun, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Renjun, bertautan dengan lidah Renjun dan kemudian menjelajahi seluruh diri Renjun, bibirnya bergerak melumat bibir Renjun tanpa ampun.
Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Renjun terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Jeno yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah Renjun melepaskan dirinya dari pelukan Jeno,
"Renjun.. sudah siap untukku" mata Jeno menyala penuh gairah, "Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"
"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Renjun keras.
Jeno menyipitkan mata, menatap Renjun dengan tatapan menuduh, "Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku"
Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua orang pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Jeno berperilaku lembut. Oh, Renjun pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas
"Kau adalah pembunuh orangtuaku," Renjun menatap Jeno dengan penuh kebencian, "Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu."
Tertegun sejenak, lalu Jeno mundur selangkah dengan begitu dingin,
"Oke"
Dan ketika Renjun mengangkat kepalanya, Jeno sudah keluar dari ruangan itu. Renjun menghembuskan nafas panjang. Apakah dia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Jeno atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa? Renjun tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Jeno seperti perempuan murahan. Seperti para kekasih Jeno yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Jeno dengan penuh harga diri.
Jeno berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Renjun di lantai dua.
Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Jeno menatap jendela itu dengan frustrasi. Lelaki itu ada di sana dan Jeno seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap laki-laki itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Renjun.
Jeno tertegun ketika melihat bayangan Renjun terpantul dari kamar. Sepertinya Renjun berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.
Renjun tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Jeno menatapnya dengan penuh minat. Lalu laki-laki itu membuat gerakan membuka bajunya. Jeno menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet laki-laki berganti baju dengan penuh gairah.
Siluet Renjun melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu Sialan! Jeno mulai mengumpat ketika bayangan Renjun di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana pendeknya.
Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Jeno menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Renjun malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela – meskipun dia tidak sengaja – Dan Jeno sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Jeno melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Renjun sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan piyama tidurnya dan sedang membaca sebuah buku. Renjun mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang, "Ada apa Jeno?"
Jeno terengah menahan kemarahan, "Jendela itu!," tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Renjun dengan posisi siap bertarung, "Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!," teriaknya marah.
Renjun menatap Jeno bingung, "Memangnya kenapa?" Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena….
Jeno berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Renjun dengan dingin dan mendesis pelan,
"Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!," Dan dengan penuh harga diri, Jeno melangkah keluar dari kamar Renjun, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Renjun, sepertinya mereka orang baru. Renjun masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.
Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Renjun tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Renjun menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.
Renjun menoleh ke arah Jisung, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Renjun yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Renjun,
"Kenapa mereka bersikap seperti itu?" tanya Renjun ingin tahu. Jisung melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum,
"Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu"
"Penasaran denganku?"
"Kekasih Tuan Jeno yang terbaru," jawab Jisung datar, "Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gossip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Jeno Lee yang misterius. Kau adalah satu-satunya kekasih tuan Jeno yang pernah tinggal bersama Jeno, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu."
Pipi Renjun merah padam, tetapi Jisung sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, "Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka ahkirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya," gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Renjun sambil mengangkat alisnya, "Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu Renjun?" tanyanya penuh arti, membuat pipi Renjun semakin merah padam.
"Tuan Renjun?" Haechan masuk dan mengangkat alis melihat Renjun mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah. "Apa?", suara Renjun tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Jeno membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.
"Tuan Jeno ingin bertemu anda",
Bagus. Renjun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Haechan, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Haechan membawa Renjun ke kamar Jeno,
"Di kamar ini?"
Haechan mengangguk, dan entah Renjun salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Jeno.
"Ya Tuan, tuan Jeno ingin menemui anda di kamar ini." Sejenak Renjun ingin kabur saja. Tetapi Renjun sadar, ini sebuah tantangan, Jeno menantangnya dan Renjun tidak akan kalah.
"Baiklah", Renjun menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Haechan membukakan pintu untuknya, Dia langsung berhadapan Jeno yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Haechan menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang,
"Selamat malam Renjun," Jeno tersenyum tenang, "Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke duapuluh dua….", senyumnya berubah misterius, "Tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja."
Hening, Jeno terdiam dan Renjun menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu,
"Aku sudah memutuskan masa depanmu." Mata Jeno begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam. Masa depannya? Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya? Renjun ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Jeno tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Renjun berpikir bahwa Jeno mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Renjun mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Jeno.
Renjun mengamati Jeno lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Jeno begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.
Renjun tidak suka, dia lebih suka Jeno yang meledak-ledak dan marah daripada Jeno yang seperti Jeno yang meledak-ledak Renjun bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Jeno yang begitu dingin yang bisa dilakukan Renjun hanyalah menyurut mundur, ketakutan. Jeno mengamati reaksi Renjun melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya,
"Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Renjun. Mulai malam ini," Jeno mulai berdiri, "Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku."
Apa?
Keringat membasahi dahi Renjun, Jeno bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya?
Apakah Jeno ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Jeno tidak mungkin sekejam itu bukan? Renjun menatap mata Jeno dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya. Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?
"Bagaimana Renjun? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?"
Renjun menatap Jeno marah, "Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu"
"Jangan menantangku Renjun" desis Jeno tajam, "Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada orang yang kuanggap tidak berguna lagi"
Renjun tertegun. Apakah Jeno benar-benar serius?
"Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Jeno Lee dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku."
Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Renjun ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Renjun yakin Jeno tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Jeno akan membiarkan Renjun mati, tetapi dia akan memastikan Renjun menderita dulu sebelumnya.
"Kau," Renjun menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat. Ada nyala di mata Jeno, "Apa Renjun? Aku tidak mendengar" Jeno sengaja dan Renjun menggeram marah dalam hatinya, kurang ajar lelaki itu!
,"Kau, aku memilih kau"
Senyum di bibir Jeno adalah senyum kemenangan yang dingin.
"Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku," Lelaki itu membuka tangannya, dan Renjun melangkah dengan tertahan ke arahnya.
Dengan sensual, lelaki itu meraih Renjun dan mengecup bibirnya sekilas, "Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini."
TBC
Uh ha uh ha, USBN menggila mennnn, aku tuh ya rela tidur sampai jam setengah tiga pagi, ngapalin materi ini itu, tapi yang keluar nggk ada 40%! Aku gila rasanya men, mana guru aku tuh sableng semua, nggk PAI, PKN, KKPI, asli dah.. Udah mau nangis pas baca soal KKPI haha.
Sudah selesai memang USBN nya, tapi kecewaku itu nggk akan berakhir, aku kecewa sama guru dari tiga maple itu yang kejem. TT-TT, tapi yah buat pengalaman. Semoga hasil di ijazahnya nggk buruk-buruk amat ya kawan. Doain yaaaaa semua…..
Ah sudahlah, aku malah curhat hehe. Maap curhatanku gaje dan nggk tau tempat wkwk. Tapi karena hari ini berondong gue si Renjun ultah, aku update ff ini. Nggk ada ff special kayaknya, belum ada ide. Kalaupun ada aku post nya hari sabtu. Hari sabtu gue libur coyyyy hakhak.
Oh iya, yang kemarin nanya Jisung sama Chenle lom muncul, udah kok, si Jisung udah muncul, yang Chenle. Nanti aja nunggu karakter yang cucok hehe.
Terima kasih yang sudah Review dan nggk bisa sebut satu satu, juga yang follow, fav, dan siders semua..
Sukses buat kalian semua.
