| HUNHAN | DARK & GOLD | CHAPTER 8 |
Author : LarasAfrilia1771
Genre : Drama, Angst, Tragedy, YAOI, Romance, Little action
Cast : Lu Han
Oh Sehun
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
A/N : Judul FF ini terispirasi dari salah satu iklan kesukaan saya. Cerita milik saya almiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^
.
.
Summary
Setiap orangtua pasti ingin anaknya menjadi penerus keluarga. Orangtua yang berpangkat jendral dengan kekayaan berlimpah tak menjamin keinginannya pada Luhan sang anak bungsu. Luhan terlahir dengan figur yang berbeda dari keluarga kemiliteran Choi. Lemah lembut, penyayang juga cantik meski Luhan seorang namja. Keluarga Choi menjadi khawatir akan hal itu, mereka takut Luhan akan diperebutkan oleh siapapun yang menginginkannya.
.
.
.
_Sebelumnya_
SREKK
Masker itu sudah terlepas dan untuk kali ini Yifan sungguh tak percaya dengan siapa yang berada dihadapannya sebelum ia menarik paksa Baekhyun disana. Saat ia bertemu dengan Baekhyun juga Chanyeol tadi ia sudah menaruh curiga pada mereka. Dan sekarang ia sudah tahu siapa dibalik ini semua.
"Apa maksud semua ini?"
.
.
.
_D&G_
Sehun diam dan Chanyeol pun begitu. Mereka telah tertangkap basah sekarang dan sulit untuk keluar dengan mudah. Terkepung dengan banyak orang disekitarnya.
Yifan mengepalkan tangannya, merasa emosinya memuncak saat ini juga. Antara percaya dan tidak, karena dihadapaannya sekarang adalah Sehun dan Chanyeol. Kedua orang kepercayaannya yang sungguh membuat dirinya mati kutu.
Luhan sudah berada digendongan sang ayah yang mulai membawanya pergi dari tempat itu. Dengan keadaan seperti ini Luhan masih bisa memikirkan tentang Sehun. Cukup, bukankah ini kemauannya sekarang. Pergi dari kukungan Sehun maupun Chanyeol untuk menjalani kehidupan normal lagi. Luhan patutnya senang, namun entah kenapa perasaannya bertolak belakang.
.
Yifan menyuruh seseorang untuk membawa Baekhyun untuk pergi menjauh darisana. Namja tinggi itu yakin jika Baekhyun tak ada sangkut – pautnya dengan ini, ia hanya tak sengaja terjebak dan berakhir ditangan mereka.
Chanyeol menoleh saatnya matanya melihat Baekhyun yang dibawa pergi seseorang. Chanyeol menyeringai, pasti namja mungil itu senang karena telah bebas sekarang.
Namun apa yang dipikirkan Chanyeol tidak mepenuhnya benar. Ada perasaan kehilangan dan takut akan hal ini. Entah kenapa Baekhyun menjadi seperti ini, ia tak mengelak jika dirinya memang sangat membenci keduanya terutama Chanyeol. Dimana orang pertama yang telah menyentuhnya. Namun dibalik itu semua Baekhyun tak menampik jika ia menyukai Chanyeol.
.
BUGGG
BUGG
Dengan cukup keras Yifan memukul keduanya bergantian. Sehun maupun Chanyeol tak bisa untuk membalas, pasalnya jika ia memukul balik Yifan, merekalah yang kemungkinan akan mati dengan cepat. Jangan lupa jika mereka telah dikepung dengan pistol yang tepat mengarah kepadanya.
BUGG
BUGG
Kembali Yifan melayangkan pukulan keras itu. Ini jelas tidak cukup namun apa boleh buat Yifan ingin melampiaskan barang sedikit kepada kedua orang dihadapannya.
Sehun tersungkur dengan darah yang menghiasi sekitar sudut bibirnya. Chanyeol hanya diam saat dirasa perutnya mulai di tendang dengan kencang oleh Yifan. Membuat mulutnya mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Nyatanya apa yang dilakukan Yifan belum cukup. Namja tinggi itu terus saja memukul, menendang kedua namja yang nampak sudah babak belur itu. Ini jelas bukan apa – apa menurut Yifan, dan setelah emosinya mereka ia tak akan segan – segan memenjarakan kedua namja itu.
"Cukup"
Siwon memberhentikan apa yangan anaknya telah lakukan. Jelas ini tak akan menghasilkan apa – apa. Karena menurut Siwon hanya penjelasanlah yang akan menyelesaikan semuanya.
Sehun menyeringai saat beberapa polisi membawanya pergi begitupun juga Chanyeol. Melirik sekilas ke arah Siwon yang nampak diam menatapnya.
.
.
Untuk kesekian kalinya Yifan nampak belum puas hanya memukul beberapa kali kedua namja yang kini berada dihadapannya. Saat mereka sudah tiba di sebuah tempat yang mereka tak tahu dimana. Siwon jelas ingin segera ditinjak lanjuti di meja hukum atas kasus ini, namun lain halnya dengan Yifan, ia lebih memilih untuk membuang tenaganya untuk menghabisi pengkhianat ini.
Semenjak tadi Sehun maupun Chanyeol sudah babak – belur dengan kedua tangan yang diikat dibelakang kursi. Keduanya jelas tak bisa menolak lagi setiap pukulan yang diberikan.
Bibir yang hampir sobek, juga luka leban dimana – mana. Sehun nampaknya sudah sangat pasrah dengan ini dan juga Chanyeol mungkin sama.
"Jangan membuang waktumu percuma" Yifan melirik ke samping dimana sang ayah yang berada disana.
"Berikan hukuman yang setimpal pada mereka"
.
.
.
_D&G_
Setelah melakukan pengobatan yang intensif di rumah sakit. Akhirnya Luhan sudah tidak sering merasakan nyeri pada dadanya. Tak terasa sudah beberapa hari ia berada di rumah sakit ini. Hampir tiga hari dan hal itu yang membuatnya senang telah merasakan tubuh yang lebih baik dari sebelumnya, meski dalam lubuk hatinya ia merasakan kekosongan.
Ayah dan juga kakaknya dengan rutin datang untuk menjenguk juga menjaganya. Luhan jelas mengerti dengan pekerjaan masing – masing. Jadi untuk masalah menjaga dirinya mungkin bisa dihitung beberapa kali.
Dan untuk hari ini Siwon dan Yifan berada disini. Dengan kondisi yang sudah membaik, Luhan nampak lebih berbinar dari biasanya.
"Aku sudah merasa baik Appa" Ujar Luhan senang, memeluk sang appa dengan erat.
"Kau harus hidup dengan baik sayang, aku mencintaimu" Luhan tersenyum atas penuturan itu, melirik sang kakak yang tersenyum ke arahnya.
"Kau harus makan dengan teratur, jangan mengelak jika diberi bubur" Yifan menyela, bergantian ia yang memeluk sang adik yang duduk di kursi rodanya setelah sang ayah. Luhan mengangguk lemah dalam pelukan itu.
Setelah kejadian itu kehidupan Luhan menjadi normal kembali. Tanpa kedua orang yang selalu berada di sisinya selain keluarganya. Ya, Sehun juga Chanyeol kedua orang yang membuatnya sedikit merasakan sesak saat mengingatnya kembali. Dan saat Baekhyun menjenguknya waktu itu. Namja mungil tersebut membuatnya terbayang kembali akan sosok Chanyeol.
Baekhyun selalu mengalihkan pembicaraan saat dirinya yang mengungkit kembali tentang Sehun maupun Chanyeol. Baekhyun menjadi aneh, Luhan yakin Baekhyun juga mengkhawatirkan orang yang sama.
.
Luhan menatap jam dinding yang sekarang menunjukan pukul empat sore. Dengan menggunakan kursi rodanya ia mulai keluar dari ruang rawat menuju taman rumah sakit. Ia sudah tak diinfus lagi karena ia yang meminta dan sebentar lagi ia akan pulang.
Tersenyum saat melihat beberada anak kecil yang berada di taman yang nampak sedang bermain dengan senang di disana. Dengan gelembung – gelembung yang membuat Luah terkikik sendiri, mengingat masa kecilnya dulu.
Mata yang mulanya terfokus pada anak – anak menjadi teralihkan oleh sosok yang nampak sedang diam di kursi taman di sudut sendirian. Luhan memicing, merasa kenal dengan sosok itu.
Luhan mencoba mendekatinya dengan susah payah karena baru pertama ia menggunakan kursi roda seperti ini. hingga beberapa meter dari tempatnya, ia bisa melihat siapa yang kini berada disana.
"Baekhyun"
Seseorang yang dipanggil menoleh. Wajahnya sedikit menunjukan raut terkejut.
"Luhan, kenapa kau disini dimana Yifan?" Baekhyun berujar panik entah kenapa.
"Yifan sudah pulang, hyung akan menjemputku besok karena aku sudah diperbolehkan pulang" Ucapan itu membuat Baekhyun mengangguk. Ia tersenyum sekilas sebelum melanjutkan ucapannya "Seharusnya kau diam saja di kamar, jangan pergi sendirian" Luhan menggeleng, lagipula ia sudah sehat dan sebenarnya sekarang ia sudah bisa berjalan sendiri.
"Kau kenapa duduk sendirian?" Tanya Luhan.
"Oh.. aku hanya sedang istrirahat saja. Aku bosan harus terus didalam" Ujar Baekhyun dengan senyuman terpaksa.
"Kau nampak murung, kau memikirkan sesuatu?"
Baekhyun mengangguk lemah. Akhir – akhir ini ia sering teringat dengan Chanyeol. Oh ayolah Yifan sudah menyatakan cinta padanya beberapa hari yang lalu dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. Namun Baekhyun tak bisa menampik jika ia masih menginginkan Chanyeol.
"Tidak, aku tidak memikirkan apapun" Luhan tak percaya dan ia terus mendorong Baekhyun untuk menceritakan masalahnya.
"Apa karena Yifan hyung, dia melakukan apa padamu?"
"Tidak bukan Yifan" Elak Baekhyun Dan Luhan lantas berpikir untuk hal yang lain.
"Chanyeol?"
Pertanyaan telak Luhan membuat Baekhyun bungkam. Ia menunduk tak berani menatap Luhan sekarang.
"Betapa aku malu saat isi kepalaku memikirkannya" Baekhyun terseyum remeh. Luhan masih menunggu apa yang akan Baehyun ucapkan lagi.
"-Aku tak tahu kenapa kau bisa memikirkan orang yang jelas – jelas akan membahayakan diriku" Baekhyun menghela napas berat. Oh Luhan benar – benar memancingnya untuk mengatakan hal ini. Baekhyun sungguh ingin membuang semua hal bersama Chanyeol dulu, tapi sisi lain dalam hatinya berkata lain.
"Baekhyun, emm.. aku pikir kita sama. Aku pun tak bisa untuk berhenti memikirkan Sehun" Ujar Luhan dengan suara lirih. Ia juga tak megelak, setiap kali Yifan hyung menemuinya disitulah bayangan Sehun selalu menghampirinya.
"-Entah bagaimana kamar mereka sekarang"
"Aku pun tidak tahu Luhan, jika kau berani kau bisa tanyakan itu pada hyungmu"
"Dan sayangnya aku tak berani. Yifan hyung akan marah, mungkin jika kau yang meminta itu akan lebih mudah" Ucapan diakhir kalimat itu membuat Baekhyun berfikir keras. Mungkin saja, namun ia tak menjamin jika nantinya Yifan akan berfikir macam – macam tentang dirinya. Bagaimanapun mereka sudah menjadi sepasang kekasih.
Baekhyun sontak menoleh pada Luhan. Menatapnya dalam seakan hal itu dapat memberi kepastian akan hal ini. Tapi, mungkin tidak sekarang Baekhyun tidak mau mengambil resiko untuk memanfaatkan Yifan agar bisa membebaskan mereka.
"Aku akan usahakan itu"
.
.
_D&G_
Bau anyir yang tercium membuat siapapun yang datang ke tempat itu akan mengernyit jijik. Tempat itu tidak layak untuk disebut sebagai bangunan dengan ruangan pengap yang hanya terdapat satu fentilasi kecil disana.
Gelap, becek dan bau. Semua bercampur menjadi satu dan siapapun yang berada disana pasti akan menatap jijik ke arah kedua namja yang sudah babak belur dengan semua luka yang kontras dengan kulit masing – masing.
Kedua namja itu hanya diam saat pintu ruangan pengap itu dibuka oleh beberapa orang berbadan besar dengan beberapa makanan ditangan mereka. Hal yang selalu diberikan untuk kedua orang istimewa ini setiap harinya. Makanan bergizi di tempat yang sungguh nyaman. Oh bukankah Yifan memberikan mereka fasilitas yang baik setelah mereka menculik adik tersayangnya.
"Makan ini" Ujar salah satu orang berbadan besar itu.
Sehun dan Chanyeol saling melempar pandangan. Mereka sudah sangat tidak kuat berada ditempat ini, rasanya ingin mati saja.
"Jika tidak kau bisa mati membusuk disini"
Chanyeol menatap remeh. Beberapa hari berada disini dengan semua perlakuan yang membuat mereka sangat tidak manusiawi. Bukan, bukan karena mereka meminta haknya hanya saja mereka pikir Yifan berlebihan, terlalu murka pada mereka.
Hingga beberapa detik berikutnya dengan lengan mereka yang masih sama – sama diikat kuat pada kursi yang mereka duduki. Sehun dan Chanyeol mendecih saat orang – orang itu sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Apa yang mereka ikirkan dengan makan makanan yang ada dihadapannya sekarang. Limana hari berlalu dan setiap makanna yang diberikan tak ada sedikitpun yang mereka makan. Maish beruntung mereka belum mati.
"Aku pikir para bawahan Yifan benar – benar sangat bodoh" Remeh Chanyeol pada Sehun saat orang – orang itu sudah pergi.
"Dan aku pikir kita harus bisa keluar dari sini. Cukup beberapa hari yang menyenangkan ini"
Chanyeol menyetujui itu semua. Mereka masing – masing berpikir untuk mencari cara agar mereka cepta bisa keluar dari tempat laknat ini.
Bukan semata – mata hanya keluar begitu saja, namun ada hal lain yang menjadi tujuan mereka. Bukan lagi masalah penculikan, melainkan lebih dari itu.
.
.
.
"Apa ini benar kamarku?"
"Siapa lagi, kami hanya mendekornya sedikit. Apa kau suka?"
Luhan tak dapat berkata apa – apa lagi, selain takjub dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Pasalnya kamarnya kini sudah berubah sekali dan iapun sebenarnya agak lupa bentuk kamarnya yang dulu karena terlalu lama berada di rumah sakit.
"Kamar ini bagus sekali, terimakasih" Luhan segera memeluk kedua namja itu sayang. Sudah ditinggal oleh sang eomma Luhan merasa merekalah yang andil dalam semua urusan dirinya. Kasih sayang mereka selalu membuat Luhan tersanjung. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuknya.
"Aku merasa beruntung sekali memiliki kalina yang sangat sayang padaku, terimakasih" Luhan memeluk erat kedua namja tersebut, merasakan hatinya menghangat saat berada didekat mereka. Luhan merasa hidupnya sangatlah sempurna dengan kehadiran mereka, meski belakangan ini ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ya, siapa lagi jika bukan namja itu.
"Kau harus istirahat, ini sudah waktunya untuk tidur"
Siwon memberi intrupsi, menyuruh anak bungsunya untuk segera bergegas tidur. Memang Luhan sudah dalam kondisi yang sangat stabil, tapi bukan berarti dirinya membiarkan Luhan tidur larut malam.
"Baiklah, kalian juga. Besok harus kembali bekerja bukan" Ujar Luhan dengan senyumannya.
"Tentu" Seru Yifan menimpali "-Jadi tuan putri juga harus tidur, selamat malam" Yifan mengejek adiknya dengan sebutan yang membuat Luhan sebal. Namja manly seperti dirinya tak mungkin disebut seperti itu.
"Ukh, kau menyebalkan" Luhan merengut, menepis halus tangan sang kakak yang mengusak rambutnya.
"Sudah, sudah. Yifan kau juga cepat tidur. Besok kita punya agenda yang padat, kau ingat bukan?" Yifan mengagguk paham. Ia melupakan sesuatu, untung sang ayah mengingatkannya.
"Selamat malam sayang" Luhan mendapatkan satu kecupan didahi yang diberikan sang ayah. Luhan tersenyum sekilas sebelum kedua orang tersebut sudah menghilang dari balik pintu.
Luhan menatap kosong ke arah pintu setelahnya. Entah kenapa ia merasa aneh dengan perkataan sang ayah barusan. Ia berfikir jika hal itu ada kaitannya dengan Chanyeol dan Sehun. Luhan memang tak tahu pasti, namun hatinya merasa dugaannya benar.
Dengan langkah gontai ia mulai mendekati ranjang besar miliknya. Duduk di sana dengan pandangan yang menatap langit malam dari jendela besar kamar itu. Salju turun malam ini dan membuat hati Luhan makin bergemuruh mengingat Sehun lagi.
"Kenapa aku seperti ini?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ditengah kesunyian itu Luhan hanya bisa berbaring menatap langit – langit kamarnya. Meskipun sekarang dirinya sudah terbebas penuh dari Sehun, namun hatinya merasakan kekosongan setelahnya.
Ia juga bingung, kenapa sulit sekali melupakan Sehun yang jelas – jelas membuatnya ketakutan. Apa mungkin karena dirinya sudah disentuh oleh Sehun dan juga Chanyeol.
Memikirkan itu membuat dirinya merasa murahan. Seakan menginginkan sentuhan mereka lagi.
Luhan mendengus, untuk apa ia memikirkan ini semua. Toh sudah sering di setubuhi oleh mereka pun dirinya tak akan bisa hamil. Dia namja dan sangat mustahil seperti itu.
Dan di malam itu Luhan memutuskan untuk terlelap damai di ranjangnya. Membuang sejenak pikiran menyebalkan mengenai sosok itu. Cukup untuk hari ini, esok ia tak akan lagi memikikran si brengsek itu. Namun itu juga jika tak ada yang memancing dirinya untuk mengulas topik lagi tentang dua orang brengsek yang sayangnya sangat tampan untuk sekedar dibahas.
"Sehun, aku merindukanmu"
.
.
.
_D&G_
BRUK
BRAKK
SRETTT
Dengan susah payah kedua orang itu mulai mencoba melarikan diri. Setelah berhasil melepaskan ikatan pada lengan mereka, akhirnya keduanya bisa lepas dari cekalan menyakitkan yang membuat lengan mereka terasa kaku.
Namja yang memilki warna kulit yang lebih kontras dengan sigap mencoba membuka pintu ruangan pengap tersebut. Berbekal tenaga mereka saja itu nampaknya cukup meski masing – masing merasa tenaga yang dimilki sangatlah minim.
Yang lebih tinggi mengintrupsi saat pintu itu benar – benar terbuka lebar untuk akses mereka keluar. Sehun mengikuti arah jalan Chanyeol.
"Aku pikir mereka tak mungkin datang saat malam gelap seperti ini" Ujar Sehun.
Chanyeol sependapat. "Mereka akan datang besok pagi, dan sekarang saatnya untuk kita pergi jauh dari tempat laknat ini"
Mereka terus berjalan, mendobrak smeua pintu yang nampak sudah usang dihadapannya. Meskipun begitu tenaga mereka nampaknya terkuras habis hanya dnegan mendobrak beberapa pintu tersebut. Mereka sudah tak berfikir tentang luka yang menghiasi sekujur tubuh mereka, karena yang terpenting sekarang adalah keluar dari bangunan ini.
.
.
Berlari sekuat tenaga dan pada saat titik tenaga yang hampir habis. Mereka akhirnya sampai keluar bangunan tersebut.
Sehun mengambil napas sebanyak – banyaknya karena kelelahan berlari dan begitupun dengan Chanyeol. Oh ayolah, bangunan itu bukanlah sebuha mension megah yang mereka punya. Hanya sebuah bangunan kecil tanpa pengawasan ataupun itu. Mereka hanya dikiurung disini dan merasa di bodohi karena yang mereka pikir sebelumnya adalah sebuah bangunan nan jauh disan dengan akses terbatas dan jangan lupa penjagaan ketat oleh para mirinir.
Hingga beberapa kilometer mereka berjalan akhirnya mereka menemukan sebuah rumah kecil di tengah hutan tersebut. Mereka pikir mereka sudah berjalan cukup jauh dari bangunan tadi. Tak memikirkan apapun lagi mereka segera berlari ke arah rumah itu. Tak memperdulikan apapun lagi, dan mereka berharap jika di dalam rumah kecil itu mereka bisa meminta bantuan.
.
.
Ketukan pintu beberapa kali yang membuat mereka tidak sabaran untuk segera meminta bantuan. Chanyeol menatap sedikit ke arah dalam rumah melalui jendela. Terdapat ruangan yang nyaman disana, Chanyeol merasa ingin menangis dengan kondisinya sekarang.
CKLEK
Pintu pun akhirnya terbuka, menampakkan seorang lelaki mungil yang menatap mereka kaget.
"Kalian siapa?" Ucap namja mungil itu sedikit ketakutan. Ya, dengan kondisi mereka berdua yang tidak bisa dibilang baik – baik saja. Luka dimana – mana dan juga darah yang bercucuran di sekitar pelipisnya.
"Bolehkan kita meminta bantuan?" Sehun lengsung mengarah ke topik inti. Ia tak ingin berbasa – basi, mereka hanya ingin meminta bantuan saja.
Seseorang yang lain menampakkan diri dari balik pintu. Seorang namja parubaya yang nampak sama terkejutnya dengan namja mungil itu.
Hingga tanpa berbasa – basi lagi sang kakek segera mempersilahkan keduanya masuk kedalam rumah. Diluar turun salju, dan takut terjadi badai.
Sehun dan Chanyeol tersenyum lega dan menerima suruhan mereka untuk masuk kedalam rumah tersebut. Dan mereka mulai mengetahui jika namja mungil tadi adalah seorang cucuk dari kakek itu, karena sang kakek baru saja memperkenalkan jika namja mungil itu adlaha cucunya.
"Sebaiknya kalian membersihkan diri dulu, biar Jinhwan yang akan mempersiapkan baju gantinya" Ujar sang kakek, dan Sehun maupun Chanyeol hanya bisa berterimakasih setelahnya. Dan setelah mereka membersihkan diri mereka kana menjelaskan apa yang terjadi.
"Terimakasih banyak"
.
.
.
_D&G_
Baekhyun menatap langin malam yang nampak sangat kelam. Saljun turun malam ini dan ia lupa untuk membawa jaket tebalnya. Dan sekarang ia masih berada didalam ruangan kerjanya sendirian, termenung menatap buliran kristal putih yang satu persatu turun dari langit.
Jam kerjanya sudah berakhir beberapa menit yang lalu dan ia belum mau untuk sekedar pulang ke apathementnya sekarang. Lagipula ia juga bosan sendirian disana, meskipun sekarang ia telah menjadi kekasih Yifan, namun tetap saja kekosongan masih sangat terasa. Karena ia juga tak mengerti dengan jalan pikirannya sekarang yang nampak aneh ini.
Terus memikirkan sosok lain selain Yifan dalam hatinya. Ya, siapa lagi jika bukan Chanyeol.
"Andai dia disini, aku rasa tangan ini sudah meninjunya dengan sekuat tenaga" Monolog Baekhyun.
"-Tapi, bodohnya aku merindukanmu. Kau sedang apa disana?"
Dan ucapan yang memang sesuai dengan perasaannya membuat Baekhyun menatap bodoh pada dirinya sendiri. Serindukah ia pada Chanyeol sekarang. Seseorang yang sudah resmi menghancurkannya dan membuat hidupnya sedikit berandatakan ini. Baekhyun tak tahu kenapa, tak ada yang dapat mendeskripsikan segala bentuk rasa ini. Intinya ia hanya menginginkan Chanyeol seorang.
"Oh Tuan bodoh, aku merindukanmu"
.
.
.
T
B
C
.
.
Hallo ada yang maish inget cerita ini? Gak ada ya makasih kalo gitu. Tanpa basa – basi aku pikir yang minat bisa baca dan memberikan komennya barang sedikitpun, ya sedikit penghargaan pada author yang sebenarnya gak dibayar ini hehe. Sorry buat typo yang selalu nyempil juga cerita yang masih gaje.
.
.
REVIEW PLEASE
