A

Cio : sedihnya... TAT sekarang beneran episode terakhir...

All : akhirnya selesai juga ( - -)=3

Cio : ada yang ngomong sesuatu? *evil aura*

All : t-tidak sensei...

Cio : wuih, 85 review Σ (˚Д ˚") m-makasih buat smuanya TAT dan ini balasan review kalian~

mitoia-tan : iya, ini dah dibuat ^w^~ Dino emang keren kok *slapped* Thanks for all~

Fitria -AlyssAmarylissJeevas : makasih ya xD ahahaha... ES21 di cont. Ntar habis ini tamat xD *lusa besok di publish* makasih buat smua reviewnya (_ _)

Rst : mau dibuat kaya gimana lagi xD ga ada ide lagi xD #plak semoga ga terlalu sedih (_ _) makasih buat reviewnya xD

AiNeko-Chan : dan sekali lagi saya menipu seseorang xD dan kayaknya... Bakal sedikit kecewa sama endingnya ini ;w; makasih ya buat smuanya ^^

CursedCrystal : kita lihat apakah Hibari jadi jan- *siap tonfa* duda atau ga disini xD thanks for all review ^w^

tetsuhideyoshi : berarti saya sukses membohongi anda *ngakak ditendang* ini dia, updatenya~ thanks for all (_ _)

Nesia Yufa : 59 pedo dong xD masa sma sama anak sd x3 masalah ES21 karena ane ga seneng sho-ainya ;w; *bahkan untuk HiruSena* makasih buat reviewnya xD

Rui Arisawa : makasih xD sequelnya di flash disk dan dengan nistanya ilang ;w; *lagi nyari* makasih buat reviewnya selama ini (_ _)

Nakyo hibasawa : itu sbenernya cman makam buat simbol orang2 yang mati di kecelakaan pesawat tapi mayatnya ga ditemuin O.O dan lagi2 gara2 gw ngantuk salah nulis xD #plak makasih buat smua reviewnya (_ _)

bhiblu21 : waduh xD dah bikin nih yang sad ending xD makasih buat reviewnya xD

Nagisa Fujisaki : sama seperti diatas ^w^ itu simbol buat korban kecelakaan xD makasih ya buat smua reviewnya (_ _)

Sweet VerMouth : kayaknya bakal kurang sedih deh ;w; maaf kalau ga memuaskan ;w; makasih buat reviewnya (_ _)

Kurea Cavallone : lihatlah nasib Kyouyamu ini xD *plak* iya saya cari flash disknya dulu ya (_ _) #plak makasih buat smua reviewnya ^3^

Kamikaze-Rein : silahkan dilihat gmn nasib Byakuran disini xD dan~ saya ga sepinter itu smpe bisa masuk UI *mojok* cman Unsri kok angkatan 2008 ^^ makasih buat reviewnya xD~

.

.

.

All : silahkan dibaca Last Chapter Letter from Heaven!

.

Selamat pagi Kyouya!

Apa kabarmu hari ini?

Kau baik-baik sajakah?

Pasti diluar salju sudah turun...

Ayo, gunakan baju hangatmu!

Kau bisa sakit jika tidak!

Aku disini?

Tentu saja aku baik-baik saja...

Ayo bangun, dan bersemangatlah!

Aku mengawasimu loh,

Aku akan sedih kalau kau sampai tidak bersemangat karena aku!

Ayo, aku akan selalu menyemangatimu setiap pagi!

Sekarang, matikan ini dan keluarlah!

Seseorang sudah menunggumu diluar...

Sampai jumpa Kyouya!

P.S : Aku mencintaimu, Kyouya...

.

Title : Letter from Heaven

Rated : T

Genre : Angst/Hurt/Comfort

Main Pairing : 6918, in memorian D18

Major Pairing : G27 (Family)

Disclaimed :

Letter from Heaven © Me

KHR © Amano Akira

Warning : Gaje, AU story, OOC, Yaoi, tambah kaya sinetron TAT, Character Death!

Chapter 7, Alternative Ending 1 (Sad Ending -P.S I Love You-)

-20 Desember 20xx-

BZZZZT...

Selamat pagi Kyouya!

Apa kabarmu hari ini?

Kau baik-baik sajakah?

...

Suara itu terus diulang-ulang hingga beberapa kali. Laki-laki berambut raven hitam itu hanya menundukkan kepalanya, sambil mendengarkannya melalui earphone yang terpasang ditelinganya.

Musim dingin sudah tiba...

Salju mulai turun dengan derasnya...

Sudah 2 bulan sejak operasi itu berlangsung...

Dan 1 bulan sudah sejak kematian Dino...

Operasi itu berjalan dengan mulus. Tetapi, Dino mengalami koma karena shock diakibatkan pendarahan. Tubuhnya semakin lemah dan lemah.

Dan pada saat itu...

Saat salju pertama turun di kota Namimori...

Akhirnya ia meninggal dunia...

"...Dino..."

===Flash Back===

"Maaf Mukuro-kun... Kyouya..."

"Aku memang sudah berhasil mengangkat sel kanker yang ada di paru-parunya..."

"Tetapi..."

"Ia mengalami pendarahan hebat..."

"Dan..."

...

"Sekarang ia dalam keadaan koma..."

Hibari Kyouya, hanya bisa diam ketika ia berada didalam sebuah kamar. Didepannya, untuk yang kedua kalinya tubuh sang kekasih Dino Cavallone sedang terbaring didepannya.

Sudah 1 bulan lamanya ia berada disana menunggu sadarnya Dino dari tidur panjangnya. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu, dan menunggu. Berbeda ketika kecelakaan itu terjadi, kali ini Hibari benar-benar tidak meninggalkannya dan mengerjakan semua pekerjaannya disana. Mungkin hanya ketika ia mandi saja tidak.

Sekarang ini, walaupun Mukuro sudah membujuk dan terus menerus mengajak Hibari untuk keluar dari rumah, ia tetap menolak. Ia hanya menundukkan kepala dan memegang tangan Dino.

...

"...ya..." Siang hari, ketika Hibari tertidur disamping Dino ia benar-benar yakin mendengar suara Dino walaupun samar. "...Kyouya..."

...

Hibari yang yakin itu adalah suara Dino langsung bangkit dan melihat kearah Dino. Mata cokelat karamel itu sekarang menatapnya dan senyuman itu tampak diwajahnya yang pucat.

"D-Dino, kau sudah sadar! A-aku akan memanggil Byaku-" baru saja Hibari akan berdiri dan keluar dari kamar itu, Dino menahan tangan Hibari, membuatnya berbalik melihat Dino lagi.

"Biarkan saja..." Jawab Dino sambil tersenyum tipis. "Aku ingin minta sesuatu..."

"Hm?"

Letter from Heaven===

"Benar-benar!" Saat ini, mereka berada disebuah pegunungan. Malam sudah menjelang dan bintangpun terlihat menghiasi langit malam itu. Dino yang meminta Hibari menemaninya untuk pergi kemari. Sesampainya disana, dengan jarak tempuh cukup jauh yaitu 4 jam menggunakan mobil, Dino yang dipaksa oleh Hibari menggunakan kursi roda karena ia baru sadar hanya tertawa kecil sambil merenggangkan tangannya. "Aku paling suka tempat ini..."

"Kenapa kita harus ketempat ini Dino?"

"..." Dino hanya tersenyum sambil menatap kearah pemandangan gunung-gunung disekitar mereka. "Aku selalu beranggapan kalau disini... Aku akan berada lebih dekat dengan ayah dan ibuku. Menurutku, ini adalah tempat yang paling dekat dengan surga... Dimana ayah dan ibuku ada disana..."

...

Hibari hanya bisa diam mendengarnya. Ia tahu, ayah dan ibu Dino meninggal pada saat ia berusia 17 tahun. Dan disinilah tempat mobil mereka jatuh kedalam jurang, dan mayat mereka tidak pernah ditemukan sampai sekarang.

"Kau tidak berfikir untuk menyusul mereka kan...?"

.

.

.

"Menurutmu?"

.

.

.

...

.

.

.

"Tentu saja tidak Kyouya..." Dino hanya tertawa dan menatap keatah depan lagi.

...

Hening lagi...

"Ibu, Ayah!" Suara Dino yang besar dan tiba-tiba itu sukses membuat Hibari terkejut dan melihat wajah sang kekasih. "Aku sudah mendapatkan orang yang paling penting didalam hidupku... Dan didepan kalian, sekarang... Aku akan berjanji, akan selalu mencintainya sampai kapanpun! Walaupun aku sudah tidak ada lagi disampingnya..."

...

Hening kembali...

Hibari melihat kearah Dino dengan tatapan terkejut, dan rona merah ada dibawah pipinya.

"Kau... Mengajakku hanya untuk menunjukkan ini...?"

.

.

.

"Kau tidak suka?"

.

.

.

...

.

.

.

"Kyouya...?"

.

.

.

"Hm?"

.

.

.

"Aku mencintaimu..."

.

.

.

"..."

.

.

.

"Jangan mengatakan seolah-olah kau akan meninggalkanku..." Hibari berjalan dan melingkarkan tangannya dileher Dino dari belakang.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..." Dino hanya tersenyum dan memegang tangan Hibari yang memeluknya. Ia memegang dan mencium salah satu tangannya.

"Karena aku mencintaimu..."

...

"Aku juga... Dino... Aku juga mencintaimu..." Dino tersenyum mendengar jawaban Hibari. Ia menarik tangan Hibari agar wajahnya bisa mendekat kepadanya, dan detik kemudian Dino mencium Hibari cukup lama.

.

.

.

Dingin...

Butiran putih menuruni langit dan jatuh diatas permukaan tanah itu.

Salju...

Salju pertama yang turun di tahun itu...

Hibari dan Dino hanya melihat itu ditengah kesunyian. Ya, tidak ada satupun yang berbicara diantara mereka selama beberapa menit.

...

"Uhuk... Uhuk..."

"Dino, kau tidak apa-apa?" Hibari langsung melihat keadaan Dino ketika mendengar suara batuk Dino. Entah apa hanya perasaannya...

Atau saat ini wajahnya sangat pucat...

"Kau tidak apa-apa Dino?" Hibari mencoba untuk memeriksa keadaannya dari depan. Tetapi, Dino hanya menggeleng pelan dan tetap tersenyum.

"Hanya... Sedikit kedinginan..." Jawabnya pelan.

...

"Kalau begitu..." Hibari berdiri dan berjalan menuju ke tempat mereka memarkirkan mobil. Jaraknya lumayan jauh, karena mereka berjalan kaki selama 30 menit dari mobil. "Ayo kita pulang..."

"Aku ingin disini sebentar lagi Kyouya..."

...

"Baiklah, aku akan ke mobil untuk mengambilkan baju hangat untukmu oke?" Dino hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Hibari berjalan dan akan menuju ke mobil sebelum Dino menghentikan dan memeluknya dari samping. "Ada apa Dino..."

"Tidak apa-apa..." Dino hanya menutup matanya, mencoba untuk merasakan hangat tubuh Hibari. Lalu, ia melepasnya hanya beberapa saat setelah ia memeluknya. "Aku hanya ingin memelukmu..."

...

Hibari merasa sangat tidak ingin meninggalkan Dino saat itu. Tetapi, Dino bisa semakin parah jika ia tidak mengambilkan baju dingin untuknya...

"Aku hanya pergi sebentar..." Hibari mencium pipi Dino dan memegang kedua pipinya. "Aku akan segera kembali..."

Dino's POV===

Benar-benar...

Saat ini, aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena memberikanku waktu...

Walaupun hanya sedikit, untuk bertemu dengannya...

Walau bagaimanapun, Tuhan sudah memberikanku banyak sekali tambahan waktu di hidupku yang sedikit ini...

Dan aku mengerti...

Ini, adalah saatnya aku pergi...

Saatnya untuk kembali kepadaNya...

Tetapi tidak apa-apa, semua yang harus kulakukan sudah kuselesaikan...

Walaupun, aku harus meninggalkan Kyouya...

Tetapi, aku pasti akan terus melihatnya...

Menjaganya...

Dan menunggunya disana...

Di surga...

"...Kyouya..."

Normal's POV===

Dino, hanya diam sambil tersenyum. Ia menundukkan kepalanya hingga matanya tertutup oleh rambut kuningnya itu. Tiba-tiba cairan bening itu keluar dari sela matanya, dan tangannya bergerak untuk mengambil sesuatu dari sakunya...

Sebuah tape recorder...

Menaruhnya dipangkuan, ia membuka matanya dan memulainya...

Membuat sebuah surat kembali...

Surat yang terakhir...

"...Kyouya..."

End Flash Back===

...

Hibari hanya bisa memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya diantara tangannya. Semenjak kematian Dino, Hibari tidak pernah keluar dari ruangan itu...

Rumahnya...?

Tidak...

Itu adalah ruangannya...

Ruangan Dino...

Ia tidak pernah menginjakkan kaki keluar dari ruangan itu. Bahkan jika Giotto tidak membawakan makanan kedalam dan memaksanya untuk makan, ia tidak akan mungkin menyentuh makanan sama sekali.

Saat ini...

Ia seperti mayat hidup...

Tubuh, yang tidak memiliki jiwa...

...

Sekarang, matikan ini dan keluarlah!

Seseorang sudah menunggumu diluar...

Sampai jumpa Kyouya!

P.S : Aku mencintaimu, Kyouya...

"Aku juga bodoh..." Hibari hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku juga mencintaimu..."

...

===Letter For Heaven===

-21 Desember 20xx-

"Kyouya..." Mukuro membuka pintu ruangan Dino dan menemukannya masih menggunakan earphone yang dihubungkan dengan rekaman suara Dino. Ia membuatnya sebelum operasi itu dimulai, dan diberikan pada waktu-waktu tertentu.

Tetapi, ia menitipkannya pada siapa...?

Dipercayakannya pada siapa rekaman itu agar sampai ke sisi Hibari?

Tentu saja...

Orang lain yang mencintai kekasihnya itu,

Dan juga sahabatnya,

Rokudo Mukuro...

Tetapi Hibari tidak pernah tahu...

Ia tidak pernah memberitahukannya dan hanya memberikannya secara diam-diam.

Sekarang ini, ia masuk dan melihat kondisi Hibari yang tertidur diatas sofa yang ada didekat meja Dino...

Miris...

Ia benar-benar tidak menyangka Dino akan meninggalkan lelaki didepannya itu. Lelaki yang ia dan Dino cintai...

Dan selamanya...

Ia hanya akan mencintai Dino...

Bukan dia...

Mukuro's POV===

Dino...

Apakah kau melihatnya...?

Lagi-lagi, ia menangis karenamu...

Lagi-lagi, ia berubah karenamu...

Tetapi, kali ini berbeda. Kau tidak akan mungkin kembali dan mengusap kepalanya, memberikannya semangat seperti dulu...

Apakah kau tahu, semuanya berubah semenjak kau meninggal...

Walaupun kematianmu baru saja berjalan 2 bulan, semuanya berubah...

Giotto-san, sering melamun dan juga selalu berhenti ketika melewati ruanganmu...

Tsuna, ia menangis selama 2 hari ketika pemakamanmu. Walaupun aku dan yang lainnya sudah menenangkannya. Ia selalu mencarimu...

Gokudera, aku mendengar jika ia berhenti sementara dari konser piano...

Ia selalu mengunjungi makammu setelah pulang sekolah...

Dan kau tahu apa?

Xanxus meliburkan semua perusahaan yang berada dibawah kepemimpinannya ketika pemakamanmu...

Byakuran,

Ia menjadi jarang menggangguku dan memilih untuk menyibukkan dirinya mencari pengobatan lebih baik agar orang-orang selain kau bisa selamat tanpa ada resiko sepertimu...

Aku...

...

===Flash Back===

"Kalau memang aku tidak selamat..." Dino berjalan dan memberikan sebuah kotak berwarna biru tua pada Mukuro. "Kau bisa memberikan ini pada Kyouya...?"

"Apa ini?"

"Surat... Tetapi surat spesial untuk Kyouya..." Dino hanya tersenyum tipis. "Ada 3 surat untuknya... Berikanlah padanya ketika 1 bulan setelah kematianku, dan ketika natal"

"Lalu yang ketiga?"

"Kalau kau merasa ia menghadapi masalah..."

...

"Bagaimana kalau ia tidak bisa berubah seperti dulu?"

...

"Aku yakin ia bisa... Aku tahu..."

...

"Kau merasa pesimis tidak akan selamat?"

"Tentu saja tidak!" Dino hanya tertawa pelan mendengarnya. "Aku sudah katakan kalau aku menyetujui operasi ini bukan karena aku ingin mati, tetapi aku ingin tetap hidup..."

...

"Makanya, aku hanya ingin mengirimkan surat untuknya ketika aku sudah di surga..." Dino hanya tersenyum sedih.

.

.

.

"Kenapa harus aku..."

.

.

.

"Haruskah aku menjawabnya...?"

.

.

.

"Itu karena..."

.

.

.

"Kau adalah sahabatku..."

===End of Flashback===

Kau tidak perlu jawaban bukan Dino?

Aku melakukan pekerjaan bodoh yang kau bebankan padamu...

Aku, mengerjakannya sambil memakai topeng...

Topeng yang menyembunyikan semua kesedihanku...

Menyembunyikan semua kekecewaanku...

Dan menyembunyikan semua kerinduanku padamu...

Aku tidak bisa Dino...

Bahkan, ketika mendengar suaramu disana Kyouya sudah sangat sedih karena itu. Apakah aku bisa...

Memberikan semua rekaman itu padanya...

Tanpa melepaskan topeng yang ku kenakan sampai saat ini...?

===Letter for Heaven===

Setelah melihat keadaan Kyouya yang tidak mengalami perubahan sama sekali, aku memutuskan untuk kembali sebentar ke apartmentku.

Aku hanya ingin merebahkan diriku...

Dan melepaskan topeng yang aku gunakan...

Tetapi tidak bisa,

Seakan-akan topeng itu menempel didalam diriku...

Aku ingin marah padamu...

Karena kau sudah meninggalkannya...

Aku ingin menangis...

Tetapi tidak bisa...

Aku mengambil kotak biru yang kau berikan dan membukanya.

Satu...

Dua...

Tiga...

...

"Huh?" Aku menghitung sekali lagi, kaset yang ada dikotak itu. Ada lima, tetapi bukankah Dino berkata ia hanya ingin memberikan 3 kaset rekaman ke Kyouya? Dan aku sudah memberikannya satu. Seharusnya hanya ada 2 kaset rekaman.

Aku mencoba untuk melihat tulisan yang ada dikaset itu.

...

"Apa ini..."

For : Mukuro Rokudo, my Best Friend

===Normal POV===

"Untuk...ku...?" Mukuro hanya melebarkan matanya ketika melihat tulisan itu. Ia bangkit dan bergegas mencari MP3 miliknya. Menyetel, dan mendengarkan rekaman itu.

...

BZZZZT...

Hei Mukuro!

Bagaimana keadaanmu sekarang?

Baik-baik saja?

Atau...

Kau sepertinya cukup sedih karena kematianku?

Aku jadi ingin melihat bagaimana tampangmu sekarang.

*giggle*

...

Maaf ya...

Aku menitipkan surat rekaman itu padamu...

Kau pasti berat untuk memberikannya pada Kyouya...

Kau pasti menanyakan kenapa aku memberikan semua tugas itu padamu...

Kau seharusnya tahu,

Aku,

Hanya bisa mempercayakan Kyouya padamu...

Aku, tahu...

Kau akan mencintainya sepenuh hatimu.

Mukuro...

Jagalah ia jika aku pergi...

...

Cintailah ia, sebesar aku mencintainya.

Atau bahkan, melebihi ketika aku mencintainya.

Aku percaya padamu...

...

"Pada akhirnya..." Mukuro hanya menggenggam erat tape recorder itu. Tangannya bergetar, seakan-akan saat ini ia sedang menahan tangisnya. "Pada akhirnya, kau bahkan hanya memikirkan Kyouya... Walaupun kau sudah tidak ada didunia ini, kau tetap saja memikirkannya dan khawatir padanya Dino..."

Mukuro akan memencet tombol stop saat tiba-tiba rekaman itu muncul kembali.

Hei, hei Mukuro!

Oke, mengenai Kyouya cukup sampai disana!

Sekarang, ayo lepaskan topeng yang kau pakai Mukuro!

Kau selalu saja menyembunyikan semua yang kau rasakan!

Sudah aku katakan, kau tidak akan bisa membohongiku.

Walaupun kenyataannya aku bukan siapa-siapa...

Tetapi aku sudah menganggapmu sebagai sahabat yang paling dekat denganku.

Bahkan melebihi Squallo dan juga Giotto-senpai...

Aku tidak ingin kau menderita karena menyimpan semua perasaanmu.

Makanya...

Jujurlah pada dirimu sendiri,

Kalau kau memang ingin tertawa, tertawalah...

Kalau kau memang ingin marah, marahlah...

Dan kalau kau memang ingin menangis, menangislah...

.

Aku tidak akan mungkin bisa mengatakan ini lagi...

Tetapi...

Mukuro...

Kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki...

.

Terima kasih...

Jagalah Kyouya untukku...

"..." Mukuro hanya bisa diam menundukkan kepalanya saja. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Tetapi, cairan bening itu tiba-tiba turun dari kelopak matanya. "Bodoh... Kenapa kau harus mati... Kenapa kau harus mati Dino!"

Tangisnya pecah, tangis yang ditahan oleh Mukuro selama 2 bulan ini pecah begitu saja dan ia hanya bisa memegang dahinya dengan satu tangan dan membiarkan air mata itu jatuh.

===Letter for Heaven===

"..." Hibari yang sedang tertidur, terbangun begitu saja. Tetapi, ketika ia membuka mata yang ia lihat bukanlah pemandangan ruangan Dino yang ada dirumah sakit. Ia berada disebuah mobil.

...

Tunggu dulu...

Sebuah mobil?

Hibari segera bangkit dan melihat sekelilingnya. Benar, ia berada disebuah mobil dan yang mengendarainya tentu saja tidak lain tidak bukan Rokudo Mukuro.

"Mukuro, kenapa aku ada disini..." Hibari mendeathglare Mukuro yang hanya diam dan tidak menatap Hibari, hanya menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. "Jawab aku Rokudo Mukuro...!"

"Aku akan membawamu keluar..." Mukuro hanya mengatakan itu dengan nada datar dan tetap tidak menatap Hibari.

"Tidak, turunkan aku..." Hibari masih mendeathglare Mukuro. "Aku harus kembali ke tempat Dino..."

"Tidak..." Mukuro masih saja bersikeras tidak menghentikan mobilnya.

.

.

.

"Rokudo Mukuro, kubilang hentikan mobilnya..."

.

.

.

"Tidak akan..."

.

.

.

"Aku akan melompat dari mobil..."

.

.

.

"Cobalah kalau kau berani..."

.

.

.

...

Cklek!

Dengan nekadnya, Hibari membuka pintu sampingnya dan siap untuk melompat jika Mukuro tidak menghentikan mobil itu.

"Apa yang kau lakukan!"

"Kau tidak mau menghentikan mobil ini...! Aku akan melompat saja..." Hibari hanya bisa menatap Mukuro yang sudah menghentikan mobilnya.

...

"Baiklah..." Mukuro hanya diam membiarkan Hibari yang sudah turun disana. Ia hanya terdiam dan tidak menjalankan mobilnya.

Jagalah Kyouya untukku...

"Sial..." Mukuro hanya bisa membuka pintu mobilnya dan berlari mengejar Hibari.

===Letter for Heaven===

Hibari berlari menuju ke rumah sakit. Ia tidak tahu jalan yang ada disekitarnya, tetapi ia hanya ingin kembali ke rumah sakit itu.

"Kyouya!"

Hibari menghentikan langkahnya mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh, dan sebelum ia bisa melihat siapa orang itu, orang itu sudah memeluknya dengan erat.

"...Dino...?"

"...aku..." Mukuro, orang yang memeluk Hibari itu hanya bisa memeluknya dengan erat. "Aku memang bukan Dino... Kau memang tidak mencintaiku seperti kau mencintai Dino... Tetapi kumohon Kyouya... Kembalilah seperti kau yang dulu... Walaupun kau menganggapku pelampiasan kematian Dino, atau apapun itu... Kembalilah menjadi Kyouya yang aku kenal..."

...

"Aku hanya ingin ia kembali..." Hibari hanya bisa diam, menenggelamkan kepalanya di dada laki-laki didepannya. Perlahan membalas pelukannya. "Aku hanya ingin ia memelukku sekarang... Apakah... Tidak apa-apa... Aku kembali seperti dulu tanpa ada dia..."

"Itulah yang ia inginkan Kyouya..." Mukuro melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut kearahnya. "Percayalah... Itu yang diinginkannya..."

===Letter for Heaven===

-24 Desember 20xx-

"Merry Christmast!" Suara orang-orang dirumah sakit terdengar menggema. Beberapa orang dokter dan juga perawat merayakan natal di rumah sakit Namimori. Tentu saja termasuk Giotto, Mukuro, Tsuna, dan Hibari.

"Baiklah, semoga kita bisa melewati natal ini dan mengakhiri tahun ini dengan semangat!" Giotto, selaku kepala rumah sakit hanya berdiri dan memberikan pidato. Dengan menggunakan jas berwarna putih dan juga celana berwarna hitam, ia mengangkat gelas berisi sampagne yang ada ditangannya.

"Memang harus bersemangat..." Suara itu lagi-lagi terdengar di sudut ruangan yang dipenuhi oleh aura hitam disekitarnya. "Tetapi... Kenapa aku harus memakai ini lagi..." Hibari yang memakai baju maid menggunakan nekomimi hanya bisa mendeathglare semua orang yang ada disana. Tetapi, semua orang bukannya ketakutan, tetapi karena keimutan yang dipancarkan Hibari saat itu mereka (yang sebagian besar ternyata adalah fujoshi #plak) menutupi hidungnya yang sudah mulai mengeluarkan tanda-tanda akan mimisan.

"Sudahlah Kyouya..." Mukuro yang baru saja masuk juga tidak hebohnya, dengan baju maid berenda-renda dan juga memakai kuping kelinci itu hanya bisa mendekati Hibari dan mengedipkan matanya. "Kau sangat manis dengan kostum itu~"

"Kau ingin kugigit sampai mati ya..." Hibari hanya kesal dengan apa yang dikatakan oleh Mukuro.

"Mukuro-kun, kau sangat cute dengan baju itu~!" Byakuran yang tidak diketahui antah berantahnya tiba-tiba sudah ada dibelakang Mukuro dan memeluknya. Dan tentu saja Mukuro dengan refleks langsung memukul perut Byakuran dengan keras membuatnya tersungkur.

"Hentikan itu bodoh!"

Semuanya hanya tertawa dan juga bersenang-senang. Memang, semuanya terlihat sudah merelakan kematian Dino begitu juga dengan Hibari. Ia sudah mulai mau melakukan kegiatan seperti biasa dan juga berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Semuanya mencoba yang terbaik agar masing-masing tidak membuat yang lainnya bersedih.

"Salah kalian sendiri, lagipula bukankah Hibari-san tahu kalau terlambat diacara natal di rumah sakit hukumannya adalah seperti itu?" Giotto hanya bisa tertawa sambil melihat kearah mereka berdua. "Tahun lalu juga bukan, kau terlambat seperti ini..."

"Ah, jadi tahun lalu Kyouya juga memakai kostum seperti ini? Aku ingin melihat!"

"Bukan kami yang memotret ketika itu..." Giotto hanya bisa tersenyum tipis mengatakan hal itu. "Biasanya Dino yang melakukan itu..."

...

"Yah..." Mukuro yang pertama kali sadar hanya tersenyum dan mengeluarkan kamera dari tasnya. "Sekarang, biarkan aku memotretmu Kyouya~" Dan semuanya berakhir menjadi pertengkaran dari Mukuro dan Hibari serta Byakuran yang ingin memeluk Mukuro yang tentu saja langsung melancarkan serangannya.

"..." Hibari yang melihat jam dinding yang ada disana hanya berdiri dan akan pergi dari tempat itu.

"Mau kemana Hibari?" Giotto yang melihat Hibari akan pergi hanya bingung karenanya.

"Aku ingin pulang, sudah terlalu malam untukku jika berada terlalu lama lagi..." Hibari hanya tersenyum kecil dan terlihat sangat terpaksa.

BLAM!

...

Semuanya hanya bisa diam ketika Hibari pergi."Benarkan?" Mukuro hanya bisa menghela nafas berat melihat semua yang dilakukan oleh Hibari. "Ia belum bisa menerima kematian Dino dengan sepenuhnya..."

"Yah, sebenarnya aku juga belum..." Giotto hanya bisa menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Ia terlalu cepat meninggalkan kita..."

"Sebagai sahabatnya, aku hanya mengatakan... Ia adalah orang yang merepotkan..." Mukuro hanya menghela nafas panjang dan berat.

===Letter For Heaven===

"Hh..." Hibari yang sudah sampai di apartmentnya hanya merebahkan dirinya dan menutup matanya. Memang benar, ia belum bisa merelakan kematian Dino. Tetapi, ia tidak mau membuat semua orang cemas padanya. Dan memutuskan untuk berpura-pura menjadi seperti dulu lagi.

"Dino..." Lagi-lagi air matanya keluar, setiap kali ia mendengar atau mengingat nama itu. "Aku ingin bertemu denganmu..."

Tok... Tok... Tok...

Hibari tersentak ketika mendengar jendelanya diketuk oleh seseorang. Sesosok laki-laki yang memakai jenggot dan berpakaian seperti santa klaus tersenyum kepadanya. Ingin membuat Hibari percaya dia santa claus? Apakah ia fikir Hibari adalah anak kecil yang percaya dengan hal seperti itu?

Berjalan dan membuka jendela kamarnya, Hibari menatap datang laki-laki itu.

"Siapa kau..."

"Aku adalah santa..." Lelaki itu tersenyum dan mengelus kepala Hibari. "Karena kau sudah menjadi anak yang baik, aku akan memberikanmu hadiah..."

...

"Kamikorosu..."

"O-oke kalau kau tidak percaya... Setidaknya, aku hanya ingin memberikanmu ini sebagai hadiah natal..." Lelaki itu terlihat ketakutan dan memberikan sebuah kaset dari dalam sakunya. "Selamat natal Kyouya..."

Hibari tidak melihat kearah laki-laki itu. Matanya tertuju pada kaset yang diberikan oleh laki-laki itu. Sama seperti kaset yang ia temukan didepan rumahnya 1 bulan setelah kematian Dino. Ia segera kembali dan memasukkan kaset itu ke MP3nya untuk didengarkan.

Selamat Natal Kyouya!

Bagaimana keadaanmu disana sekarang?

Lebih baik bukan?

Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu...

Bagaimana natal tanpa aku?

Apakah kau merasa kesepian?

Tetapi, kukira Giotto-senpai dan juga yang lainnya pasti membuat acara di rumah sakit seperti tahun lalu...

Ngomong-ngomong...

Apakah kau mendapatkan hukuman seperti tahun lalu?

Ingatkan?

Ketika kau terlambat dan terpaksa untuk memakai baju perawat yang sangat mini itu

*giggle*

Kau sangat manis menggunakan itu Kyouya~

Ahahaha... Hanya bercanda...

Sebenarnya, aku ingin memberikan hadiah natal untukmu...

Tetapi aku tahu itu tidak akan mungkin...

Jadi,

Apakah semua ini sudah menjadi hadiah natal untukmu?

Aku masih mengawasimu dimanapun kau berada Kyouya...

Jadi, tetaplah bersemangat...

Sampai bertemu nanti...

P.S : Merry love christmast Kyouya...

"..." Hibari hanya bisa tersenyum mendengar suara itu. Tidak mungkin ia tidak tahu suara yang ada didalam rekaman itu. Dari nada suara, dan juga gaya bicaranya. Semuanya adalah milik laki-laki itu. Laki-laki yang ia cintai sampai sekarang. "Kau bodoh... Saat ini, suaramu bahkan sudah menjadi hadiah natal yang paling berharga bodoh..."

"Selamat natal... Dino..."

==Letter For Heaven=====

-16 Agustus 20xx-

"Ia pasti orang yang aku kenal..." Hibari sedang berada dirumah sakit bersama dengan Mukuro. Sifat Hibari sudah mulai berubah dan mulai menunjukkan kearah yang bagus.

"E-eh?" Mukuro hanya bisa menghentikan mengerjakan laporannya dan menatap Hibari dengan gugup. Ia memang menyembunyikan tentang dirinya yang merupakan orang misterius pembawa kaset Dino.

"Orang yang membawa kaset Dino..."

"Kenapa kau berfikiran seperti itu?"

"Karena ia tahu alamat rumah dan juga namaku..."

...

"Ahaha..." Mukuro hanya tertawa lepas mendengarnya. "Bukankah jika nama dan juga alamat bisa ditanyakan pada orang lain Kyouya..."

"Iya sih tapi-" Hibari melihat kearah Mukuro yang masih tertawa. Tiba-tiba ia membayangkan orang yang muncul pada malam natal itu. Dan yang lebih membuatnya heran, kenapa sekarang ia merasakan jika wajahnya memanas dan memerah?

Apakah karena Mukuro?

Tetapi, ia hanya mencintai Dino...

Tidak ada yang lainnya...

Tetapi...

Perasaan apa ini...?

Sama seperti pada saat ia bersama dengan Dino.

Hangat...

Dan menyenangkan...

Tidak, tidak...

Ia tidak mungkin jatuh cinta dengan orang selain Dino...

"Kyouya, kau tidak apa?"

"Y-ya aku tidak apa-apa..." Hibari hanya berusaha tersenyum dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Hibari's POV===

-20 Agustus 20xx-

Argh, ada apa denganku!

Kenapa aku selalu saja berdebar ketika bersama dengan Mukuro?

Seharusnya aku hanya mencintai Dino, tetapi kenapa aku malah berdebar jika bersama dengan Mukuro! Aku tidak bisa, aku hanya mencintai Dino dan tidak yang lain...

"Dino... Apakah aku..."

Normal POV===

-15 September 20xx-

"...ya... Kyouya..." Mukuro mengibaskan tangannya didepan wajah Hibari. Mereka sedang berada diacara mendaki yang diadakan Giotto dan pihak rumah sakit untuk memperingati ulang tahun rumah sakit.

"H-hm?"

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Mukuro melihat Hibari yang melamun. "Jangan melamun, kau bisa terjatuh jika tidak melihat jalan..." Mukuro hanya tertawa sambil menunjuk kearah belakang Hibari, lubang yang cukup dalam.

"O-oh... I-iya..." Hibari hanya memalingkan wajahnya dan berjalan duluan daripada Mukuro.

"Ada apa dengannya?"

===Letter for Heaven===

"Ah, sampai juga!" Mukuro merenggangkan tangannya dan melihat pemandangan yang ada dipuncak gunung itu. Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba disebuah bukit yang cukup tinggi dan sedikit curam.

"Kau mengatakan hal itu tetapi kau sendiri berdiri ditempat yang berbahaya bodoh..." Hibari menghampiri Mukuro sambil menyilangkan tangannya.

"Ahahaha, aku tahu sampai mana aku bisa berdiri kok..." Mukuro hanya tertawa lepas dan berbalik kearah Hibari.

DHEG!

"Tidak... Tidak, aku tidak boleh berdebar..." Hibari memalingkan wajahnya sekali lagi dari hadapan Mukuro.

...

"Kyouya...?" Mukuro membungkukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hibari. "Ada apa denganmu?"

"A-aku tidak apa-apa, sebaiknya kita-" Hibari yang akan berbalik malah menginjak tempat yang sedikit terjal membuatnya akan jatuh kebawah.

"Kyouya awas!" Mukuro menarik tangan Hibari tetapi ia malah tertarik juga dan akhirnya mereka terjatuh kebawah. Untungnya jarak antar daratan yang ada dibawahnya tidak terlalu tinggi.

"A, aduh..." Hibari memegangi kepalanya. Tetapi, sepertinya ia tidak terlalu terluka bahkan tidak merasa sakit karena terjatuh.

"Kau tidak apa-apa Kyouya..." Hibari melihat kearah bawahnya, ternyata Mukuro ada dibawahnya melindungi tubuh Hibari agar tidak terjatuh langsung keatas.

"M-Mukuro!" Hibari langsung bangkit dan mencoba untuk melihat keadaan Mukuro.

"Sepertinya kau tidak apa-apa, sudah aku katakan untuk hati-hati bukan...? Dasar... Bodoh..." Tiba-tiba Mukuro tidak sadarkan diri, dan darah keluar dari kepalanya.

"M-Mukuro, kau tidak apa?" Hibari mencoba untuk melihat keadaan Mukuro. Dan lagi-lagi perasaan yang sama ketika bersama dengan Dino muncul, sama ketika Dino sedang sakit saat itu.

Cemas...

Dan takut akan ditinggalkan...

Ia benar-benar tidak ingin ditinggalkan lagi seseorang...

Dan ia juga menyadari sesuatu saat itu...

Ia, mencintai seorang Rokudo Mukuro...

===Letter for Heaven===

-16 September 20xx-

"Dasar bodoh, kenapa kau malah melindungiku sampai kau terluka seperti ini?" Hibari hanya bisa mengirimkan dan memarahi Mukuro ketika ia dibawa kembali kerumah sakit dengan beberapa luka gores dan sedikit benturan dikepalanya. "Kau fikir aku akan senang?"

"Ahaha... Maaf Kyouya~" Mukuro hanya bisa tertawa sambil melihat Hibari. "Kau seperti mencemaskanku saja..." Mukuro melihat kearah Hibari yang sekarang hanya menundukkan kepalanya dengan raut wajah cemas. "Kyouya...?"

"Sudahlah, lebih baik aku kembali keruanganku..." Hibari berdiri dan akan keluar dari sana.

"Kyouya tunggu...!"

PRAK!

Sesuatu terjatuh dari jas putih milik Mukuro yang tergantung disebelah tempat tidurnya. Hibari melihat benda itu.

Kaset...

Bukan, itu bukan kaset biasa...

Itu...

"Kenapa kau... Memiliki kaset ini..." Hibari melihat kaset itu dan memegangnya.

...

"Kenapa kau tidak menjawabku Mukuro?"

"Karena... Dino menitipkannya padaku..." Mukuro hanya bisa menatap Hibari. "Ia ingin aku memberikannya padamu..."

"Kenapa..." Hibari mendekati Mukuro dan menatapnya dengan sedih. Ia tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Mukuro. "Kenapa kau melakukan hal ini...?"

"..." Mukuro mendekatkan wajahnya kearah Hibari. Wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat. Hingga bibir mereka bersentuhan. Hibari terkejut, tetapi ia tidak bisa melepaskan ciuman dari Mukuro. Sedikit menyentakkannya, akhirnya ia mendorong Mukuro sedikit keras.

"Kenapa...? Kenapa kau malah melakukan ini...!"

"...karena... Karena aku masih mencintaimu..."

Hibari hanya bisa menutup mulutnya, mencoba untuk menahan amarah dan juga tangisnya. Ia hanya bisa terdiam, dan sedetik kemudian ia berlari keluar dari kamar itu.

===Letter for Heaven===

-18 September 20xx-

Hei...

Ada apa Kyouya?

Apakah kau memiliki masalah disana?

Aku ingin sekali membantumu...

Walaupun hanya sekedar menghiburmu saja.

Tetapi, yang bisa aku lakukan hanyalah mengatakannya didalam surat ini...

Dan aku hanya bisa berkata...

Jangan menyerah...

Apapun masalah yang kau hadapi, jangan menyerah dengan mudah...

Aku percaya kau sudah berusaha sebaik mungkin...

Tetaplah bersemangat, dan selesaikan semua masalah yang ada didepanmu!

Aku yakin kau pasti bisa, jadi tetaplah bersemangat!

.

P.S : Tentu saja aku tetap mencintaimu...

...

Hibari hanya bisa terdiam dan duduk dipojok ruangan Dino. Membiarkan DVD Player itu memutar kaset yang ia ambil dari Mukuro itu. Ia hanya bisa menatap kearah langit malam, dan menutup matanya. Ia memikirkan semua yang terjadi kemarin, dan tentang perasaannya.

"Dino... Apakah benar apa yang aku rasakan sekarang...?"

Angin berhembus dengan pelan, menyibakkan jaket Hibari yang digantungkan diruangan itu.

PRAK!

Jaket itu terjatuh, dan terdengar suara sesuatu yang terjatuh. Hibari menyadarinya dan berdiri, mencoba untuk melihat isi dari kantong jaket itu.

"Ini..."

Letter for Heaven===

-20 November 20xx-

"Ada apa Kyouya..." Hibari yang membawa Mukuro menuju kesebuah tempat yang tidak lain tidak bukan adalah tempat terakhirnya bertemu dengan Dino hanya diam dan menatap pemandangan yang ada ditempat itu. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali. Ia hanya ingin menyelesaikan semua kegundahan yang ada dihatinya.

Ia berjalan mendekati Mukuro dan memberikan sebuah kaset. Sebuah kaset yang ia temukan dipangkuan Dino ketika ia kembali dari mobil, dan tentu saja ia menemukan Dino dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Ia ingin mendengarkannya sendirian... Tetapi, ia tidak akan sanggup mendengarnya. Ia tidak akan sanggup menerima sendirian kalau ini adalah surat terakhir yang akan didapatkannya dari Dino.

"Untuk apa..."

"Kumohon... Temani aku untuk mendengarkan ini..." Mukuro hanya menerima kaset itu dan menatap kearah Hibari.

"Apakah tidak apa-apa...?" Hibari hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Mukuro hanya bisa menghela nafas berat dan memasukkannya kedalam tape recorder yang ia bawa didalam tas. Perlahan, menekan tombol play yang ada ditempat itu dan menunggu rekaman itu berjalan dan menampilkan suara Dino.

Kyouya...

Mungkin ini adalah surat terakhir yang akan kau dapatkan dariku...

Aku sadar, walau berapapun aku membuat rekaman-rekaman suara untuk menghibur atau menyemangatimu...

Suatu saat pasti akan selesai dan tidak akan ada lagi Surat dari Surga...

Aku menyadari sesuatu juga...

Kalau waktumu akan terus bergulir...

Dan disaat itu, kau pasti akan merasakan sesuatu yang dinamakan cinta lagi bukan?

Dan ketika itu terjadi...

Janganlah takut untuk mencintai seseorang hanya karena kau masih mencintaiku...

Biarkanlah rasa itu mengalir didalam dirimu, dan bukalah hatimu untuk orang yang menurutmu memang kau cintai sepenuh hatimu...

Jangan membohongi dirimu sendiri Kyouya...

Aku tidak ingin kau berakhir sepertiku, yang hanya bisa sebentar menghabiskan waktu bersama dengan orang yang aku cintai...

Carilah cinta yang lain...

Jangan terikat dengan waktuku yang tidak akan mungkin lagi bisa berjalan...

Aku hanyalah satu bab cerita di kehidupanmu...

Dan kau tidak akan bisa memenuhi bab-bab kehidupanmu dengan bayanganku saja...

Bab-bab kehidupanmu yang lain sudah datang...

Janganlah takut untuk mencintai orang lain...

Karena suatu saat hidupmu juga akan berakhir...

Dan disaat itu kita akan bertemu lagi...

.

P.S : Walaupun pada akhirnya aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya...

Ingatlah...

Aku akan selalu mencintaimu...

...

Kyouya hanya bisa terdiam melihat semua yang didengarkan olehnya didalam rekaman terakhir Dino. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba untuk menutupi air mata yang keluar dari matanya. Ia sudah mencoba untuk menghentikannya, tetapi tidak bisa... Ia sudah terlalu sakit untuk menahan air mata itu.

Sampai akhirpun...

Dinolah yang paling mengerti tentangnya...

Dinolah yang selalu tahu apa yang ingin ia lakukan...

Dinolah yang paling menjaga hatinya...

Bahkan, sebelum ia meninggalpun Dino masih bisa mengetahui apa yang akan terjadi padanya ketika ia sudah tidak ada...

Mukuro hanya bisa diam mendengarkan rekaman itu. Ia menatap Hibari yang saat ini masih menangis didepannya. Ia ingin sekali memeluk dan menenangkannya. Tetapi ia tahu, saat ini yang terbaik yang bisa ia lakukan adalah membiarkannya menangis sampai ia benar-benar puas.

"..." Hibari mulai tenang dan tangisnya perlahan-lahan mereda. Ia mencoba untuk menghapus air matanya dan menatap kearah Mukuro.

"Kyouya..."

"Maaf Mukuro..." Hibari hanya bisa memegang erat tangan Mukuro tanpa mengatakan apapun. "Maaf... Walaupun aku mencintaimu saat ini... Aku tidak bisa bersamamu..."

.

.

.

"Kenapa..."

.

.

.

"Aku..."

.

.

.

"Aku takut... Kalau ternyata rasa cinta ini hanyalah pelampiasan atas kematian Dino... Aku takut, kalau ternyata... Aku tidak mencintaimu sepenuh hatiku..." Lagi-lagi Hibari hanya bisa menangis tanpa suara. Ia melepaskan tangannya dari tangan Mukuro dan hanya menundukkan kepala saja.

...

Mukuro tersenyum...

Ia menaruh tangannya dikepala Hibari, dan mengelusnya dengan lembut...

"Tidak apa-apa Kyouya..." Mukuro hanya tersenyum pahit melihat keadaan Hibari. "Aku... Tidak akan sanggup bersamamu kalau kau masih memikirkan Dino... Aku akan bahagia, ketika kau juga bahagia..."

"Maafkan aku Mukuro..."

...

"Apakah aku boleh... Memelukmu untuk yang terakhir kalinya...?" Mukuro ingin mencoba menenangkan Hibari. Dan ia hanya mengangguk dan memeluknya dengan erat. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka selama beberapa saat.

.

.

.

"Kyouya..."

.

.

.

"Ada apa?"

.

.

.

"..."

.

.

.

"Mukuro?"

.

.

.

"Tidak..." Mukuro hanya tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Terima kasih ya..." Mukuro mencium kening Hibari dan tertawa lepas.

"Kau akan tetap menjadi sahabatku..."

~~~~~Fin~~~~~

O

M

A

K

E

Keesokan hari kemudian, Hibari memutuskan untuk mengunjungi Makam Dino. Ia menenangkan diri disana dan juga melihat keadaan makam. Semenjak Dino meninggal, hanya 3 kali termasuk ini ia datang ke makamnya. Ia hanya ingin memberikan salam terakhir untuknya.

Ia berjalan sambil melihat sekitarnya. Sebuah makam yang terletak disebuah hutan mapel yang sangat indah. Ia mencari jalan menuju kesebuah makam. Tetapi, ketika ia tiba ditempat itu seseorang sudah berada disana. Dimakam Dino yang ada disana. Seseorang berambut hitam sepanjang rambut Dino itu memiliki model rambut yang hampir sama dengan Dino.

"Maaf...?" Hibari mencoba untuk melihat laki-laki itu yang juga menyadari kehadiran Hibari. "Apa yang kau laku-"

"Ah, maaf kau ingin mengunjungi makam ini ya...?" Laki-laki itu hanya tersenyum lembut dan menghindar sedikit untuk memberi Hibari jalan.

"Maaf, kau kenal dengan Dino?" Hibari yang melihat laki-laki itu semakin yakin ia sangat mirip dengan Dino. Wajahnya, senyumannya, dan suaranya.

"Ah, tidak..." Laki-laki itu melihat kearah makam Dino dan hanya tersenyum lembut. "Aku sedang mengunjungi makam seseorang disini..."

"Makam?"

Pria itu menunjuk kearah makam yang ada disamping makam Dino. Yah, tidak wajar karena itu adalah sebuah pemakaman dan tentu saja tidak hanya makam Dino yang ada disana.

Hibari hanya memberikan bunga anggrek putih yang ada ditangannya dan berdoa didepan makam Dino. Lalu ia langsung berdiri dan menatap laki-laki itu. Begitu juga dengan laki-laki itu yang juga menatap Hibari.

"Sepertinya ini adalah makam yang sangat sering dikunjungi..." Laki-laki itu hanya menatap kearah makam Dino sesaat setelah mereka saling bertatapan. "Setiap hari, aku melihat makam ini dan selalu ada bunga anggrek yang diletakkan disini..."

"Ya... Karena ia adalah orang yang baik..." Hibari hanya tersenyum dan menatap makam Dino.

...

Lagi-lagi laki-laki itu menatap Hibari tanpa mengatakan apapun. Hibari juga menatapnya, seakan-akan ia melihat kearah Dino yang terlahir kembali.

"Kenapa-" Mereka mengatakan hal yang sama dalam waktu bersamaan. Laki-laki itu hanya tertawa kecil dan melihatnya.

"Katakanlah apa yang ingin kau katakan..." Jawab laki-laki itu sambil tertawa kecil.

"Tidak... Katakanlah apa yang ingin kau katakan..."

"Kau saja dulu..."

"Tidak, kau saja..."

...

"Baiklah... Aku hanya ingin mengatakan, kau mirip sekali dengan orang yang aku kenal..."

"... Kau juga..."

"Eh?"

"Kau juga mirip sekali dengan orang yang sangat aku kenal..." Hibari hanya tersenyum lembut menatap laki-laki itu. "Namaku Hibari Kyouya..."

"Namaku Alfonso, salam kenal... Kyouya..." Sedikit terkejut, tetapi laki-laki itu hanya membalas senyumannya.

The End

.

-Letter from Heaven-

8 Chapters Complete

.

Author

Ciocarlie

.

Based Story

Tengoku de Kimi ni Aetara

(天国で君に逢えたら)

.

Special Thanks for :

Reviewer

Who favorite this story

Who following this story

.

Disclaimed

Letter from Heaven© Ciocarlie

KHR © Amano Akira

Tengoku de Kimi ni Aetara (If I see you in heaven)© Yoshikazu Okada dan Natsumi Iijima

.

Thanks for your attention (_ _)

After The Scene

All : Kanpai!

Cio : akhirnya selesai juga ("-∇-)=3

D : Selesai juga (;-Д-)=3

18 : aku tidak akan mau ikut AU story sensei lagi... *mojok* OOC banget gw disini...

69 : Kufufufu~ tetapi kau manis sekali Kyouya~

18 : Diamlah Rokudo Mukuro, atau Kamikorosu...

100 : Mukuro-kun~ ayo kembali ke Millefiore, aku sudah menyiapkan kue marshmallow untukmu~\(^∇^)/ *nyeret Muku*

69 : jangan menarikku Marshmallow bego! Gw mau sama Kyouya!

18 : untuk kali ini gw berterima kasih sama herbivore itu...

Cio : berisik amat sih (;-Д-)=3 ah, Tsu-kun, Gio nii, makasih buat smuanya~ (^∇^)/

G27 : Makasih balik sensei ^^

80 : Hayato, kau mau pulang? Ayo sama-sama saja~

59 : kembalilah ke neraka bodoh! Aku ingin pulang bersama Juudaime!

Xanxus : aku tidak akan mau muncul di fanfic sampah ini... *ngelengos pergi*

Squallo : VOOOI, kau buat aku mati lagi kubunuh kau!

18 : sebenarnya tidak perlu...

Cio : kenapa gw merinding ya...

? : *deathglare*

Cio : k-kalian...

Fans 6918 : kenapa 6918nya ga jadi bakka!

Cio : Σ (˚Д ˚") serangan darurat! Kalian, tutup studio sekarang juga!

All : Aiyeiyei boss!

Cio : Minna!

All : makasih buat semuanya! Sampai jumpa di ffic selanjutnya!