DREAM CASTLE
Pairing : Gilbert Beilschmidt/Ludwig Weillschmidt
Rating : T
Genre : Drama/Angst
Summary : "...istana impian ini adalah milikmu, Ludwig. Maka jagalah baik-baik..."
Disclaimer : All characters belong to Himaruya Hidekazu-sensei
Warning : Apa pun yang terjadi di sini adalah rekayasa walau sedikit mengena ke sejarah masing-masing negara. Timeline yang ada di sini saya sesuaikan dengan yang ada di Hetalia, di mana mereka sepertinya berumur panjang (terutama Jerman). Kalau ada yang kurang berkenan, saya sarankan untuk tidak membaca dengan segala hormat. First Ger/Pru, trial and error... :/
~Chapter 8~
Please forgive me for the sorrow, for leaving you in fear
For the dreams we had to silence, that's all they've ever be
Berlin - World War II
Normal's POV
Ring…ring…
Ludwig Weillschmidt sedang membaca koran di ruang tengah, kemudian beranjak mengangkat telepon yang mengganggunya pagi itu.
"Ya? Oh, ada apa, Fuhrer? Tidak bisa hari ini, kakakku sakit. Ya, baiklah. Terima kasih."
Laki-laki berambut pirang itu meletakkan kacamata bacanya dan mengurut batang hidungnya. Dia lalu pergi ke dapur menemui Madam Bertha yang sedang menyiapkan sarapan untuk dia dan kakaknya.
"Madam, teh untuk Gilbert sudah siap?"
"Ya, semuanya sudah siap. Apa perlu saya antar ke kamarnya?"
"Tidak, biar aku yang membawanya."
Ludwig sudah lama menunggu saat-saat di mana dia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan kakakknya. Setelah terpisah beberapa tahun, sempat bertemu dengan begitu banyak konflik, keduanya sekarang dipertemukan kembali, entah untuk berapa lama. Karena pagi tadi, Ludwig menerima telepon dari komandannya untuk segera bersiap masuk ke barisan perang.
Jerman menyatakan perang dengan banyak negara di dunia…
Dia tidak ingin meninggalkan rumah ini begitu cepat. Kakaknya sedang sakit, dia tidak mungkin meninggalkannya sendirian walau ada Madam Bertha yang akan merawatnya. Awalnya, dia sangat berharap kakaknya itu bisa ikut perang dengannya. Tetapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.
"Guten morgen, Gilbert…"
Laki-laki berambut perak itu sedang duduk di tempat tidurnya, dia tersenyum melihat adiknya masuk membawakan sesuatu untuknya di pagi hari.
"Teh kesukaanmu, Kak."
"Terima kasih. Aku tidak tahu kalau kalian masih menyimpan teh itu di rumah ini."
Gilbert Beilschmidt terserang flu dan batuk beberapa hari belakangan ini. Dia menolak minum obat, dia menolak ke dokter, maka Ludwig pun dengan penuh kasih sayang merawatnya sampai sekarang.
"Kau merasa lebih baik?"
"Ya, aku tidak lagi bersin-bersin. Tapi batuknya…"
"Kalau kau minum obat khan bisa cepat sembuh, Kak."
"Aku tidak suka obat, Ludwig. Yang ada nantinya aku malah tambah sakit."
"…"
"Melihatmu setiap hari sudah bisa membuatku merasa lebih baik. Hehehe…"
"Begitu?"
"Oh, apa kau tidak senang melihatku sembuh, Ludwig?"
"A-aku tidak bilang begitu kok! Siapa sih yang tidak senang melihatmu sembuh, Kak? Minum tehnya, nanti keburu dingin!"
Pagi yang cerah, Ludwig membuka tirai jendela agar cahaya matahari bisa masuk ke kamar kakaknya. Masih ada waktu beberapa jam sampai nanti akhirnya dia harus meninggalkan rumah ini untuk berperang. Apa reaksi kakaknya mendengar kabar ini?
"Gilbert, kau bisa jalan khan?"
"Hey, kau bertanya begitu seakan aku ini lemah sekali. Tentu saja aku bisa jalan! Mau lari-larian juga bisa."
"Kita ke taman, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Ketika Gilbert meraih tangannya, Ludwig merasakan jantungnya berdegup kencang. Perasaannya bergejolak, di antara rasa takut dan senang. Terakhir mereka bergandengan tangan, adalah ketika dia masih kecil dan Gilbert selalu mengajaknya bermain di taman. Maka itu dia tidak ingin saat-saat bersama kakaknya ini berlalu begitu cepat.
"Apa yang…oh…"
Maket istana itu diletakkan Ludwig di antara kebun mawar. Dia membangun semacam undakkan kecil, dan di sanalah istana impian itu berdiri. Gilbert berlutut melihat keindahan istana kecil itu. Dia tersenyum bahagia.
"Kau mengecat ulang istananya, Ludwig?"
"Aku tidak menyangka warnanya bisa pudar termakan waktu. Aku mewarnai ulang semuanya."
"Ah, kau bahkan menambahkan miniatur bunga di halaman belakangnya. Cantik sekali."
"Kau suka, Kak?"
"Hahaha…adikku memang pintar. Kau merawatnya dengan baik, Ludwig."
"Dan sekarang, giliranmu menyelesaikan istana ini."
"Apa?"
"Oh, kau lupa? Kau pernah berjanji padaku akan mengibarkan bendera di tiga menara ini."
"Hahaha…ya, tentu saja aku ingat. Tapi, bendera apa yang harus aku kibarkan di sini, Ludwig?"
"Tentu saja bendera kita, Kak."
"Masalahnya menara istana ini ada 3, Ludwig. Kalau hanya dua, mungkin kita bisa mengibarkan bendera kita masing-masing."
"Hm…lalu di menara yang paling tinggi, bendera siapa yang akan dikibarkan?"
Keduanya kemudian berbaring di rumput dan menghadap langit. Gilbert mengangkat tangannya, menghalangi silau sinar matahari mengenai matanya. Dia tersenyum, dia memperhatikan adiknya yang sedang bingung memikirkan soal bendera tadi.
"Hey, Ludwig."
"Ya, Kak."
"Kau mau berjanji sesuatu padaku?"
"Apa yang harus kujanjikan untukmu, Gilbert?"
"Kau tidak boleh menangis lagi, Ludwig."
"…"
"Hey, ini adalah janji dengan kakakmu. Apa jawabanmu, Ludwig?"
"Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku begitu, Kak?"
"Pokoknya, kau tidak boleh menangis lagi. Mengerti?"
Ludwig menatap kedua mata merah kakaknya yang menatapnya dalam. Dia mencoba mengingat kembali ke belakang. Sudah berapa kali dia menangis di depan kakaknya? Saat masih kecil, saat remaja, bahkan saat sudah sebesar ini pun, air mata itu seakan tidak bisa dibendung ketika berhadapan dengan kakaknya. Dia juga tidak mengerti mengapa ketika perasaan berkelut di hatinya, saat berhadapan dengan Gilbert, dia ingin sekali menangis.
"Kau bilang, seorang ksatria itu tidak boleh menangis."
"Karena kau seorang ksatria, maka kau tidak boleh lemah di hadapan siapa pun. Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi lemah, Ludwig."
"…"
"Dan yang paling penting, kau tidak boleh melupakan aku. Kau tidak tahu bagaimana bangganya aku kepadamu, Ludwig. Aku senang melihat perkembanganmu sampai sejauh ini, sama ketika aku melihat perkembangan Jerman."
"Gilbert…"
"Kau bertambah besar seiring dengan perkembangan negaramu. Aku melihatmu dalam tampilan lain, tetapi masih dengan jiwa suci yang sama seperti pertama kali aku bertemu denganmu."
"Aku tidak lagi suci seperti dulu, Kak. Kau tahu, Nazi telah-"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Nazi, bodoh. Aku berbicara mengenai kau seorang. Jika Prussia masih ada, maka orang-orang Prussia akan menyanjungmu karena telah berhasil mewujudkan cita-cita leluhur bangsa Jerman."
"Membesarkan Jerman…"
Kedua kakak beradik ini tersenyum menatap langit. Ludwig lalu mengajak kakaknya duduk berhadapan dengannya. Sekaranglah saatnya dia harus mengatakan kepada kakaknya. Dia memantapkan hatinya, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengeluarkan suaranya. Walau hatinya terasa sesak…
"Gilbert, maafkan aku…"
"Ada apa, Ludwig?"
"Aku…aku…uurgh…"
"Hey, kau mulai lagi, hm? Siapa yang baru saja berjanji padaku untuk tidak menangis? Ayolah, aku tidak akan bisa mendengar dengan jelas jika kau bicara sambil sesenggukan begini."
"Aku harus pergi berperang…"
"…"
"Jerman telah menyatakan perang kepada negara Aliansi, termasuk Uni Soviet. Pembentukan barisan akan dilakukan malam ini. Maka itu…"
"Maka itu…?"
"Uuurgh…maafkan aku, Kak. Aku harus meninggalkanmu lagi…"
Melihat adiknya bertingkah begini, Gilbert lantas menepukkan kedua tangannya di pipi adiknya. Dia tertawa kecil menanggapinya. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya kapan Ludwig bisa bersikap lebih dewasa jika masih terus menangis begini.
"Bodoh, itu sudah menjadi pekerjaan semua ksatria, bukan?"
"Tapi…tapi…"
"Aku tidak pernah mengajarimu menjadi lemah, Nazi pun sepertinya juga tidak pernah mengajarimu menjadi laki-laki lembek begini. Iya khan? Jika memang sudah tugasmu, maka pergilah."
"Aku takut meninggalkanmu…"
"Untuk apa kau takut meninggalkanku, Ludwig? Khan aku sudah bilang, tugas ksatria adalah mempertahankan negaranya dari marabahaya. Jika memang perang adalah bagian dari tugasnya, demi tujuan itu, maka kerjakanlah. Kau tidak perlu melihat ke belakang."
"Aku lelah berperang, Kak. Sungguh, aku ingin hidup tanpa peperangan di muka bumi."
"Ludwig, apa tujuan manusia berperang?"
"…"
"Apa jawabanmu?"
"Mempertahankan sesuatu yang berharga."
"Jerman adalah sesuatu yang berharga untukmu, iya khan? Nazi pun sama halnya menganggap Jerman sebagai negara yang paling berjaya di daratan Eropa. Sekarang kondisinya terancam, maka mereka pun menyatakan perang."
"Tapi…"
"Seorang ksatria tidak boleh mencari alasan untuk berhenti berperang. Jika dia tidak berperang, maka orang lain akan merampas apa yang penting untuknya. Istana kecil itu misalnya. Jika kau tidak mempertahankannya, maka dia akan rusak."
"Lalu bagaimana denganmu, Kak? Apakah kau mau bergabung dengan barisanku untuk berperang melawan negara-negara sekutu?"
"…"
"Gilbert, ikutlah denganku…"
"Aku bantu kau mempersiapkan dirimu, Ludwig."
Tidak ada jawaban terucap dari mulut Gilbert ketika Ludwig mengajaknya berperang bersamanya. Mereka pun beranjak dari taman menuju kamar tidur Ludwig. Di sana, Gilbert membantu Ludwig mempersiapkan dirinya untuk berangkat berperang.
Gilbert sebenarnya ingin sekali ikut berperang dengan adiknya. Tidak peduli dia berada di barisan Nazi atau bukan, yang penting bisa mendampingi adiknya untuk berperang. Melihat seragam-seragam militer adiknya dijajarkan di tempat tidur, dia jadi ingin mencoba salah satunya. Apakah dia masih pantas mengenakan pakaian perang macam ini? Di bawah bendera apa dia akan berperang? Di bawah komando siapa dia akan menembakkan senjatanya?
"Apa Hitler mau memasukkan bendera Prussia dalam barisannya, Ludwig?"
"Aku sudah bilang padamu, dia setuju. Semakin banyak negara yang bergabung dengannya, dia akan merasa lebih hebat."
"Tetapi hanya aku seorang…"
"Walau kau sendiri yang mengibarkan bendera itu, tetapi jutaan personil perang akan ikut serta denganmu. Mereka pasti akan menghormatimu karena kaulah yang membuat mereka ada. Kau tidak sendirian, kau punya aku di barisanmu, Gilbert."
"…"
"Kita akan membebaskan Jerman dari segala ancaman perang. Kau akan kembali berjaya seperti dulu, Kak. Bukankah itu hebat?"
"…Tidak."
"Eh?"
Gilbert melipat seragam militer Ludwig di atas tempat tidur. Kemudian dia duduk sambil memangku seragam itu. Kepalanya tertunduk sedih, dia berbicara dan tidak menatap Ludwig.
"Masa kejayaanku sudah berlalu, dan sekarang giliranmu meneruskan perjuanganku. Aku sudah terlalu lelah berperang. Mengayun pedang, menaikki kuda, menaklukkan jajahan, semuanya sudah pernah kurasakan. Pedang itu kini berganti dengan senapan, kuda perang pun berganti dengan tank dan mobil perang. Menaklukkan jajahan tidak perlu baku tembak, bisa juga dengan cara seperti pimpinanmu."
"…"
"Yang bisa kulakukan sekarang adalah mendukungmu berperang. Aku dan kau besar di tanah yang sama, tetapi tidak selamanya kita harus selalu berjalan beriringan. Kau sudah besar, kau punya banyak kekuatan mengelilingimu. Aku hanya perlu menyaksikan segala perjuanganmu, Ludwig."
"Kau akan mendukungku, Kak?"
"Tentu saja, karena kau adikku."
"…"
"Berangkatlah berperang, aku akan menunggumu pulang di rumah ini. Sekarang giliranku yang menunggumu pulang, sama seperti yang pernah kau alami saat kutinggal pergi berperang."
"Gilbert…"
Laki-laki berambut perak itu kemudian mendekati adiknya. Direngkuhnya tubuh besar itu dalam pelukkannya. Dia ingin melepas kepergian adiknya, tetapi hatinya masih ragu. Perang yang satu ini tidak bisa dianggap remeh. Demi menentukan masa depan Jerman, Hitler tidak tanggung-tanggung mengerahkan jutaan pasukannya untuk disebar ke seluruh daratan Eropa.
"Kau masih memakai kalung salib hitam itu, Ludwig?"
"Ya, aku masih pakai."
"Jangan sampai lepas, jangan sampai hilang. Aku juga masih memakai kalung yang sama denganmu."
"Aku janji…"
"Aku akan berdoa untukmu, Ludwig. Berjuanglah, pulanglah dalam keadaan selamat…"
"Ya…"
"Setelah kau pulang, kita kibarkan bendera kemenanganmu di istana itu…"
Still I'll be the hand that serves you
Though you will not see that it is me…
~to be continue~
Chapter 9 coming up next!
