"Dari mana ia tau code-namemu?" bisik Jinpei tajam ke telinga Misa.

"I…itu karena—"

"Otousan!"

"Itu karena gadis itu,"

Apa hubungan Misa dengan anak gadis walikota ini?

.

.

.

Avery Emmeline present:

The Uchiha

Chapter 8

.

.

.

"Gadis itu?" tanya Jinpei.

"Ya".

"Konyol. Bagaimana bisa?".

"Aku pernah menjalankan sebuah misi untuknya".

"Misi?"

Oke, lama-lama Misa bisa kesal sendiri. "Ya, misi. Tanyakan pada boss jika tidak percaya," kata Misa begitu melihat Jinpei. Jinpei mendengus. "Jelaskan itu nanti," katanya kemudian.

Anak walikota itu melihat sekeliling dan tanpa sengaja melihat Misa—dan Jinpei di belakangnya.

"Alice!" pekiknya senang.

"Alice, ini benar-benar kau 'kan?" anak muda itu mendekat. Misa hanya tersenyum getir. "Alice, ini kau," anak itu sudah ada di depan Misa yang menjulang tinggi dihadapannya.

"Hai, Shiina".

Matsuoda Jinpei memperhatikan gadis Jepang di depan Misa ini. Sepertinya gadis ini sangat mengagumi Misa. Misi seperti apa yang Misa jalani dulu? Hingga mampu membuat gadis ini, Doumoto Shiina, anak sang walikota menjadi akrab dengannya.

"Alice, dengar! Aku sudah memutuskannya. Aku akan menjadi penyanyi opera!".

Opera? Janganlah bilang gadis ini… alasan mereka berada di gedung opera saat ini. Jinpei mendengus jengkel. Ia sangat berterima kasih pada gadis ini. Sangaatt berterimakasih. Berkat gadis ini, ia akan menghabiskan beberapa jam ke depan dengan sia-sia. Menguap lebar dan tertidur yang mungkin akan Jinpei lakukan nantinya. Beberapa jam hidupnya terbuang di opera konyol ini.

"Aku sudah berlatih keras agar aku bisa menyanyi di opera. Alice, nanti kau harus mendengarnya. Harus."

Jinpei bosan. Daritadi Doumoto Shiina berbicara terus tanpa henti. Ini membosankan. Sangat membosankan.

Dan tanpa sadar, Jinpei menguap.

"Hoi," suara sadis Misa terdengar.

"Ng?" respon Jinpei, sedikit terkejut.

"Jaga sopan santunmu, bodoh," bisik Misa, tajam.

Jinpei hanya menatap bosan. "Gue bukan tipe orang yang suka nonton opera kayak ginian. Jadi kalo gue menguap ya iklaskan saja," kata Jinpei cuek. Misa merasa perempatan siku nongol di jidatnya. Kenapa teman masa kecilnya kampret kek gini sih?

"Gue gak peduli. Pokoknya, klo lu gak sopan, liat aja nanti, " seketika itu Jinpei merasa semua bulu kuduknya berdiri. Terutama perkataan terakhir Misa.

"Iya, iya," jawab Jinpei sambil mengacak-acak rambutnya dan melangkah begitu saja.

Dasar orang ini…

Jinpei dan Misa berdiri di belakang deretan kursi walikota dan rombongannya. Serasa bodyguard, pikir Jinpei. Jinpei akui, berlagak layaknya bodyguard ini bukan pertama kali baginya—dan Misa. Dan Jinpei merasa ia akan menguap lagi klo tatapan Misa tidak menghilangkan dengan sekejap keinginan untuk menguapnya.

Ukh,sial…

Dan yang lebih sial lagi…

Mengapa operanya tidak segera mulai?

Tau gak sih orang gak betah di opera?

Jinpei tuh ya, boro-boro nonton opera. Dengerin musik klasik saja ia langsung ketiduran. Dan Misa tidak boleh tau itu. Misa kan penggemar berat musik klasik. Ntar bisa-bisa Jinpei dibunuh sama Misa.

"Alice… Alice…" bisikan seorang gadis terdengar.

Sontak Jinpei dan Misa menoleh.

"Masih ada sisa kursi. Duduklah," tawar gadis itu, Doumoto Shiina. Sejujurnya Jinpei ragu teman masa kecilnya akan menerima tawaran putri Doumoto itu dengan senang hati. Secara Misa ,kan tegas orangnya.

"Tidak".

Tuh 'kan. Misa nolak.

Baru juga gue ngomong apa.

"Ti… tidak perlu sungkan. Kursinya memang masih sisa. Otousama pasti setuju kok. Temanmu juga boleh ikut duduk".

Jinpei terpukau sama anak ini. Nekad juga dia. Padahal udah tau klo Misa pasti nolak, masih aja membujuk.

"Tidak. Ini adalah pekerjaanku. Biarkan aku melakukan pekerjaanku dengan baik," kata Misa tegas.

"Ta… tapi—".

"Sudah biarkan saja," Jinpei memotong perkataan Shiina. Shiina duduk di dekat Jinpei sehingga memudahkan Jinpei memotong perkataannya. "Memang sudah begitu sifatnya. Percuma kamu ganggu," kata Jinpei lagi.

"Tapi, nanti kalian capek—".

"Tidak masalah. Kami sudah seperti ini bertahun-tahun," kata Jinpei tenang.

"Justru kalau kami terlalu terlena, nyawa kami bisa melayang," Jinpei melihat gadis itu agak ragu.

"Begitukah?" tanya Shiina kemudian.

"Ya".

"Berapa umurmu?" tanya Jinpei.

"De… delapan belas tahun".

"Impianmu menjadi penyanyi opera 'kan?"

"I… iya".

"Daripada mengawatirkan kami, lebih baik railah impianmu itu".

Shiina terdiam.

"Alice akan lebih suka itu," tambah Jinpei.

Doumoto Shiina menatap Misa sebentar.

"Baiklah," lalu ia duduk lagi dengan benar.

"Aku berterima kasih padamu," kata Misa.

"Bukan masalah".

Ini dia!

Ini dia yang Jinpei tunggu-tunggu dari tadi.

Akhirnya, operanya dimulai juga.

Pertunjukan musik pembukanya membuat Jinpei bernapas lega.

Ngomong-ngomong, opera kali ini tentang apa sih?

"Mi… Misa, ini opera tentang apaan sih?" bisik Jinpei.

"Madame Butterfly," bisik Misa.

"Apaan tu?" bisik Jinpei ketus.

"Sstttt," Misa memelototi Jinpei. Dengan sabar, ia membuka tasnya dan memberikan sebuah pamflet pada Jinpei. "Baca dan jangan berisik".

Dengan sedikit kesal Jinpei menerima pamflet itu.

Madame Butterfly

Sinopsis:

Karena kesulitan ekonomi, gadis Jepang berumur 15 tahun menjadi geisha. Ia bernama Cio-Cio San (Madama Butterfly). Ia kemudian menikah dengan Pinkerton, pekerja pelabuhan yang sedang bekerja di Jepang. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu, tanpa meninggalkan sepatah kata pun, ia kembali ke Amerika. Di sana ia bertemu wanita lain dan menikah. Cio-Cio yang tidak tau terus menunggu sang suami dengan anak laki-lakinya. Tiga tahun berlalu, Pinkerton bersama istri Amerikanya kembali ke Jepang beserta anaknya juga. Cio-Cio San yang mengetahui semuanya sangat kecewa dan bunuh diri.

Ceritanya kok WTF gini ya?

Belum puas Jinpei tenang, terdengar suara lengkingan pemain opera beserta melodi yang sangat rumit. Yang mampu membuat telinga Jinpei sakit.

The hell.

Jinpei menoleh ke arah Misa. Hebatnya, cewek ini malah terlihat kagum. Jinpei melongo. Mereka ini apa-apaan sih. Jinpei bertambah heran lagi karena tidak ada seorang pun bertepuk tangan saat sang pemain selesai menyanyi. Pada pelit tepuk tangan semua sih.

Tiba-tiba Jinpei menemukan sebuah kertas di pamfletnya.

"Etika menonton opera".

Tanpa ragu, Jinpei langsung membacanya.

· Saat menonton opera tidak boleh berpakaian sembarangan karena tidak sopan.

· Tidak boleh seenaknya dan harus mematikan HP.

· Setelah pertunjukan dimulai tidak boleh masuk ke teater.

· Selama pertunjukan tidak boleh ke toilet.

· Ketika jeda tidak boleh bertepuk tangan. Tepuk tangan hanya setelah pertunjukan selesai.

· Jangan gunakan parfum dan makanan yang berbau karena mengganggu yang lain.

· Tidak menggunakan topi di teater karena dianggap tidak sopan.

Tunggu dulu. Ini kan tulisannya Misa.

Jinpei mendengus. Pasti Misa sengaja mempersiapkan ini. Dan opera ini makin menyiksa saja.

Pertunjukan opera akhirnya telah selesai.

Jinpei dapat bernapas lega. Tepuk tangan para hadirin membanjiri gedung opera. Jinpei merasa lega sekali. Pertunjukan laknat ini akhirnya berakhir juga. Jinpei merasa tepuk tangan yang menggema ini bagaikan terompet kemenangan.

Walikota Doumoto dan keluarganya berdiri memberikan tepuk tangan dari bangku VIP. Misa hanya memberikan tatapan kagum. Berbeda sekali dengan Jinpei.

Saat menonton opera tidak boleh berpakaian sembarangan karena tidak sopan.

Jinpei baru saja menyadari bahwa semua orang yang ada di sini mengenakan baju yang sangat rapi. Ia dan Misa beruntung. Mereka menggenakan pakaian selayaknya mereka bekerja biasanya. Kemeja putih yang dirangkap jas hitam, celana panjang hitam untuk Jinpei dan rok hitam selutut untuk Misa. Ah, jangan lupakan kacamata hitam yang selalu Jinpei pakai. Keberuntungan, eh?.

Rombongan walikota Doumoto akan keluar di paling akhir. Demi keselamatan. Jika mereka keluar sekarang, mereka akan berjejalan dengan orang-orang yang pulang dari pertunjukan opera juga. Dan itu akan semakin mempersulit penjagaan.

Sehingga di sinilah Jinpei dan Misa saat ini. Masih tetap setia berdiri layaknya bodyguard. Jinpei nampak biasa saja. Opera sudah berakhir dan itu berarti sudah tidak ada lagi alasannya untuk mengantuk.

"Masih ramai ya di bawah sana," kata Jinpei, setengah bergumam.

"Begitulah," kata Misa tenang.

"Nah, sekarang…" Jinpei berkata.

"Bisa ceritakan misimu itu?".

"Bisa ceritakan misimu itu? Sekalian menunggu sampai gedung ini tidak ramai," kata Jinpei. Misa diam menatap 'saudara'nya itu. Lalu terdiam sebentar. "Ayolah. Tidak ada salahnya 'kan? Kau sudah berjanji akan menceritakannya". Misa yakin bahwa ia tidak pernah berjanji demikian. Dasar tukang ngarang.

"Oke… oke… akan kuceritakan," Misa mengalah. Sekaligus kesal dengan tatapan menuntut Jinpei. Catat: Misa tidak pernah menjanjikannya.

"Itu terjadi sekitar tiga tahun yang lalu…".

.

.

.

.

"Alice".

"Ya, boss".

Misa nampak berada di ruangan yang sangat besar dengan warna dominasi hitam dan sebuah layar monitor di tengah yang bisa dibilang cukup lebar. Dan pastinya ruangan itu ada di markas besar SSA.

"Aku ingin kau menjalankan sebuah misi".

Misa menatap tenang monitor itu. Ini dia. Sebuah misi.

"Dan misi ini mengharuskanmu pergi ke Jepang".

Ke luar negeri, huh? Bukan hal baru bagi Misa. Ia sudah sering keluar negeri untuk menjalankan misi.

"Aku tau kau saja naik pangkat dan mendapat code-name Alice, tapi aku ingin kau menjalankan misi ini. Hanya kau yang tersisa. Maafkan aku tapi—".

"Tak apa, boss. Aku menantikan misi kali ini," Misa tersenyum lebar. Ia sudah sangat menantikan misi ini.

Suara kekehan kecil terdengar dari monitor.

"Aku sudah menduganya. Tapi, dia(Jinpei) tidak bisa menemanimu kali ini. Ia sudah menerima misi ke Jerman dua hari yang lalu. Apa tak masalah?".

"Tak masalah. Aku akan melakukannya," jawab Misa mantap.

"Baiklah. Alice, inilah misimu. Dan kau akan berangkat besok".

Misa sedang mengepak barang-barang yang akan ia butuhkan untuk ke Jepang besok.

"Misimu adalah melindungi anak gadis dari walikota yang baru saja dilantik. Nama gadis itu Doumoto Shiina. Umurnya lima belas tahun. Kau harus melindunginya dari kelompok itu". Misa terdiam.

"Kelompok itu?" katanya setengah tak percaya.

"Ya, aku tak tau apa alasan mereka mengincarnya. Karena itu, lindungilah dia."

"Siap, boss".

Misa sudah selesai mengepak barangnya. "Sudah malam, ya. Saatnya tidur".

To be continue

Ada yang merasa horror dengan kata-kata di atas? #GakAda.

Author cepet-cepet buat ini karena bakal sibuk kedepannya dan karena…

Tsuki : GWS, author-san . Gak sabar nunggu kelanjutannya v

Memang sih cuma satu yang nge-review. Tapi, mampu membangkitkan semangat author #uwooooooooo. Yah walaupun update telat sih :v. Masalah kesehatan dan ilangnya inspirasi penyebabnya. Dan review "GWS" itu membuat author merasa lebih baik saat membacanya #nangis haru. Review memang bisa membuat semangat para author berkobar~. Yak, itu aja sesi bacot kali ini.

See you in next chapter~!