hallo minna! saya dateng lagi, ngapdet fic...
lagi buru-buru dikejar waktu (perasaan gitu terus ya?) karena adikku tersayang ini, minta tukeran, dan karena saya juga banyak PR (pekerjaan rumah; masukin baju, nyuci kipas angin, nyuci sepatu) dan sekarang adikku ini teriak-teriak "Game for girls.. game for girlsss!!! ayooo!! cepetan! iiih" hahahaha... gue sih ketawa-ketawa aja ngedengernya
dan ungkapan perasaan Hitsugaya soal dia rela mati demi Rukia itu sedikit copas dari novel Supernova: Petir. Daan... entah mengapa, saya merasa ni fic lama-lama kaya sinetron... gomen sodara2.. =.=
oh iya, saya selalu lupa bikin disclaimer (baru ingen karena repiunya si Rizu yang bikin saya terkaget-kaget): Kesamaan nama, tokoh, dan juga sifat (walaupun saya rasa fic ini OOC =.=) emang milik Kubo Tite, tetapi alur cerita ini asli buatan saya, dan bukan hal yang disengaja bila alur cerita sama!!!
So, enjoy this chap~!
I N S O M N I A
Chap 7:
Malam Kamis
Malam itu, keluarga Hitsugaya dan Rukia berkumpul di ruang keluarga. Besok libur nasional, dan hari Jumat yang kejepit diliburkan. Ukitake dan Unohana sedang berbicara santai, sementara Hitsugaya dan Rukia sedang adu mulut. Sekarang mereka sering bertengkar dan berbaikan kembali tanpa kata maaf. Semuanya berlalu begitu saja, seperti mereka adik-kakak betulan yang sering bertengkar lalu tau-tau—tanpa kata maaf—berbaikan lagi. Di pangkuan Rukia ada laptop kesayangannya dengan modem tersambung. Di sebelahnya, Hitsugaya mengonta-ganti channel tivi bosan.
"Bukannya Ichigo sahabat baik, Shiro-nii?" kata Rukia sibuk mengetik komentar.
"Yaa… tapi yang berhasil menebaknya baru kau!" kata Hitsugaya menggaruk-garuk kepalanya.
"Emang kenapa sih kalo curhat sama aku? Kan aku bisa dipercaya. Apa… karena aku cewek gitu?" tebak Rukia tepat sasaran.
"Bu-bukannya gitu, tapi…."
"Nggak biasa curhat sama cewek? Kalo gitu dibiasain! Ntar kalo Shiro-nii udah jadian gimana curhatnya? Biasain dong…."
"Alaaa nggak pernah pacaran aja lu," ejek Hitsugaya. Baru Rukia ingin membalas, telepon berdering. Rukia bangkit mengangkatnya.
"Halo, rumah keluarga Hitsugaya disini. Ya, ini aku, Momo," kata Rukia. Hitsugaya memperhatikan obrolan Rukia dengan seksama begitu tau yang nelpon Momo.
"APAAAA????!!!" seru Rukia kemudian. Hitsugaya, Unohana, dan Ukitake ikut kaget mendengar Rukia berteriak tiba-tiba. Rukia yang diperhatikan senyam-senyum minta maaf walaupun Hitsugaya bisa melihat tangan Rukia lemas dan matanya berkaca-kaca. Rukia seolah mengakhiri pembicaraan cepat-cepat. Ia menutup telepon lemas sambil menatap Hitsugaya.
"Siapa Rukia?" tanya Tantenya.
"Temen, Tante," jawab Rukia pelan. Unohana dan Ukitake melanjutkan pembicaraan mereka. Rukia duduk disebelah Hitsugaya kembali, bersender pada tembok. Posisi duduknya agak melorot.
"Kenapa?" tanya Hitsugaya curiga. Rukia menatap kakaknya itu hampa.
"Ichigo… dan… Momo," bisik Rukia. Hitsugaya mengerutkan keningnya. Seakan mulutnya bisu, Rukia tak melanjutkan, hanya mengklik ini-itu, dan memperlihatkan laptopnya pada Hitsugaya. Di layar laptop tertulis Hinamori Momo berpacaran dengan Ichigo Kurosaki.
Hinamori Momo berpacaran dengan Ichigo Kurosaki. Tertulis jelas-jelas di Home facebook Rukia. Tangan Hitsugaya mencengkram lengan Rukia.
"Ini…."
"Benar, Momo barusan nelpon bercerita tentang itu. Dia ditembak Ichigo barusan dan dia sangat senang," lirih Rukia. Mereka bertatapan. Entah bagaimana muka mereka nanti kalau bertemu dengan sahabat masing-masing.
Hitsugaya menatap Rukia tak percaya. Tapi mata violet Rukia yang berkaca-kaca memberitahunya kalau Rukia tak bohong dan itu kenyataan.
"Ru…."
"Tante, Oom, aku tidur cepat ya," Rukia bangkit, tersenyum pada Unohana da Ukitake.
"Kau pasti lelah ya, Rukia. Tidurlah, nanti sakit," jawab Unohana lembut. Rukia tersenyum dan berlari ke tangga.
Hitsugaya memandangi punggung Rukia yang berlari. Mengingat senyuman perihnya tadi. Mengingat matanya berkaca-kaca. Hitsugaya menggertakkan giginya, kesal. Tangannya terkepal.
"Kurosaki Ichigo…!"
*
Ini sudah tengah malam dan Rukia tak bisa tidur. Dari tadi ia menangis sesenggukan. Ia memejamkan mata, berusaha tidur, dan berharap begitu ia bangun besok pagi menerima kenyataan kalau semua ini bohong dan Hinamori mengerjainya. Tapi air mata yang mengalir tak mau berhenti, terus membuatnya terjaga.
Ia bangun. Bantal, kasur, guling, boneka chappynya… semuanya basah karena air mata. Gadis itu mengucek matanya, menatap bayangannya di cermin. Acak-acakan sekali. Rambutnya kusut, keluar-keluar, matanya merah sembab, sama dengan hidungnya, bajunya lecek, dan perutnya… keroncongan. Ia belum makan tadi.
"Rukia," sapa sebuah suara. Hitsugaya. Rukia yakin itu, "ini ada makanan sisa semalam. Kalau laper nggak bisa tidur kan? Nih, makan dulu. Berenti nangisnya…."
Rukia melirik pintu. Begitu suara langkah Hitsugaya menjauh, ia membuka pintu lalu berjongkok mengambil piring yang ditaruh di bawah pintu.
"Nah, laper kan?" kata Hitsugaya yang mendadak ada di depannya. Rukia terkejut. Hampir ia terjatuh.
Beberapa menit kemudian, Rukia memakan nasi goreng pemberian Hitsugaya di sofa dengan Hitsugaya di depannya. Hitsugaya mengamati Rukia. Adiknya itu berantakan sekali. Bener-bener putus cinta.
Mungkin Hitsugaya terlihat tak peduli. Padahal rasa sakit hatinya lebih dari Rukia. Ia pernah patah tulang, ia pernah geger otak ringan, terluka sampai ke daging, dan berkali-kali masuk RS karena sakit, tapi sakit hatinya ini lebih sakit dari semua penyakit yang ia alami (iya, iya, emang lebay =.=). Apalagi yang membuat ia tak percaya, Ichigo—dengan status sahabatnya dari dulu—menyakitinya sedemikian rupa. Memang bukan salah Ichigo kalau ia pacaran sama Hinamori karena Ichigo tak tahu isi hati Hitsugaya. Bukan salah Hinamori pula kalau ia pacaran sama Ichigo karena Hinamori tak tau siapa yang Rukia sukai. Tapi Hitsugaya tak bisa memaafkan Ichigo yang membuat Rukia menangis, tak peduli Ichigo salah atau tidak.
Karena… malam itu juga, Hitsugaya sadar, ia rela melakukan apa saja demi Rukia, demi adiknya—walaupun bukan adik kandungnya. Ia rela mati demi Rukia, ia rela kehilangan apa saja asal Rukia bahagia. Biarlah seluruh dunia memusuhinya, asal Rukia bahagia. Biarlah Rukia membencinya, asal Rukia bahagia.
Makanan Rukia sudah habis. Gadis itu menaruh piringnya di atas meja. Matanya sayu. Perlahan namun pasti, air keluar lagi dari matanya. Ia tak bisa menahan jatuhnya air mata itu. Berkali-kali ia mencoba melupakan wajah Ichigo dan Momo yang bermesraan di kepalanya, berkali-kali pula bayangan itu makin kuat. Semakin ia melupakannya, semakin jelas di ingatannya.
"Rukia," bisik Hitsugaya—yang tiba-tiba ada disampingnya—lirih. Kakaknya menepuk pundaknya pelan, mengelus kepalanya sayang.
"Shi-Shiro-nii…," balas Rukia. Matanya—lagi-lagi—berkaca-kaca, menangis. Sedetik kemudian, ia sudah menangis di pelukan Hitsugaya.
"Eh?" Hitsugaya terkejut. Ia bisa merasakan bajunya basah karena air mata Rukia. Ia lalu membelai kepala Rukia gugup. Deru napas Rukia bersenandung di telinga Hitsugaya. Isak tangisnya bersarang di dada Hitsugaya. Membuat dada Hitsugaya sakit, lebih sakit daripada berita Hinamori dan Ichigo tadi.
"Berhenti Rukia," kata Hitsugaya tegas. "Kau tahu aku tak suka melihatmu menangis."
"Ta-tapi ini…, sakit…," kata Rukia pelan. Hitsugaya mendekap Rukia lebih erat.
"Aku juga merasakannya," kata Hitsugaya. Sebelah tangannya terkepal, "lebih sakit daripadamu…."
Rukia terdiam. Ia masih menangis di pelukan Hitsugaya. Ia masih merasakan hangatnya pelukan Hitsugaya, masih merasakan belaian tangan kakaknya di kepalanya. Saat itu pula, ia sadar…, betapa Hitsugaya menyayanginya, betapa ia menyayangi Hitsugaya pula, betapa miripnya mereka dan betapa berbedanya mereka pula. Seolah Rukia bisa melepaskan semua bebannnya di pelukan Hitsugaya.
"Rukia…," bisik Hitsugaya, "pernahkah kau rela melakukan apapun demi seseorang asal dia bahagia?"
"…."
"Kau akan lebih bahagia saat ia bahagia dan kau akan lebih sedih saat ia sedih. Kau akan lebih sakit saat ia sakit, kau akan lebih menderita dibandingnya…, dan itulah yang kurasakan sekarang."
"…."
"Dan… itulah yang kurasakan sekarang. Kau tahu betapa sakitnya aku saat tahu Hinamori berpacaran dengan Ichigo. Dan ternyata, kau juga merasakan hal yang sama denganku. Melihatmu, memelukmu…, membuatku merasakan lebih sakit daripadamu."
"…."
"Kau tahu? Saat kau menderita, aku lebih menderita. Saat kau sakit, aku lebih sakit. Tapi saat kau bahagia, aku lebih bahagia. Jadi kumohon… jangan menangis…."
"…."
Mendengar tak ada jawaban, Hitsugaya melepas pelukannya, melihat wajah Rukia.
"Krr…krr," Rukia tertidur di pelukan Hitsugaya. Pipinya masih basah, matanya masih sembab, hidungnya masih merah.
"Yaah, dia tidur," kata Hitsugaya, namun ia tersenyum simpul. Senyum yang paling jarang ia perlihatkan, kecuali di depan Rukia. Ia menidurkan Rukia di sofa—mengingat tinggi dan berat badan yang berbeda sedikit dengan Rukia—membuatnya tahu, ia takkan kuat menggendong Rukia. Setelah menyelimuti Rukia dengan selimutnya sendiri, ia meminum kopinya sambil menatap Rukia penuh rasa sayang. Walaupun ia baru beberapa bulan bertemu sepupunya itu, tapi rasa sayang menyeruak ke dalam dadanya. Betapa ia menyayangi Rukia, melebihi apapun juga. Dan rasa sayang ini berbeda dengan rasa sukanya pada Hinamori. Dan Hitsugaya pikir, inilah rasanya mempunyai adik perempuan yang selalu ingin ia jaga. Berbeda dengan perasaannya pada Hinamori.
Tiba-tiba Hitsugaya teringat Ichigo. Sahabatnya yang menusuk adik dan dirinya dari belakang. Dengan tangan kanan kiri masih membelai kepala Rukia, tangan kanannya terkepal kesal.
"Awas kau, Ichigo…!!"
*
Senin, JIS
"Pa-pagi, Momo," kata Rukia gugup. Hinamori bangkit dari bangkunya dan memeluk Rukia erat.
"Rukia," bisiknya bahagia. Harusnya Rukia ikut bahagia saat sahabatnya bahagia, tapi bisikan bahagia itu bagaikan pisau yang menusuk jantungnya.
"Se-lamat," kata Rukia lirih, memaksakan senyumnya.
"Momo," seseorang menepuk pundak Hinamori. Hinamori mendongak, menatap Ichigo, pacar barunya.
"Kau kenapa, midget?" tanya Ichigo mengejek. Rukia cemberut.
"Jangan begitu, Ichigo," Hinamori memukul dadanya pelan. "Kau belum makan kan? Ayo kutemani sarapan di kantin."
"Oh, baiklah. Ini gara-gara tadi pagi baka oyaji itu heboh sekali mengetahui kita pacaran," keluh Ichigo merangkul Hinamori mesra.
"Kau mau ikut, Rukia?" tawar Hinamori. Rukia menggeleng.
"Aku tak mau mengganggu kalian," kata Rukia tersenyum perih.
"Ayo, Momo," ujar Ichigo menarik tangan Hinamori. Rukia menatap punggung 2 sahabatnya itu. Ia menyentuh dadanya. Perih. Sakit. Kepalanya tiba-tiba pening.
"Rukia! Sedang apa kau disitu?" seru Inoue dari bangkunya. Ia menepuk-nepuk meja Rukia yang ada di belakangnya, menyuruh Rukia kesitu.
"Pagi Inoue, pagi Tatsuki," sapa Rukia menaruh tasnya di bangku.
"Kau lihat tadi kan? Hinamori dan Ichigo ternyata cocok juga ya," kata Tatsuki memangku tangannya tersenyum, "baguslah. Walaupun kupikir, Hinamori lebih pantas dengan Hitsugaya. Kau sendiri taka pa, Orihime?"
Rukia tersentak mendengar perkataan Tatsuki. Memang Hinamori sangat pantas dengan kakak sepupunya itu. Tapi kalimat terakhir Tatsuki membuatnya terkejut.
"Kau ini Tatsuki! Sudah kubilang, aku tak menyukai Ichigo lagi. Bukankah aku baru cerita padamu kemarin?" ujar Inoue malu-malu. "Eh, Rukia belum tahu ya?"
"Tau apa?" tanya Rukia.
"Inoue sudah melupakan Ichigo. Ia sekarang menyukai Ishida Uryuu, yang lagi menjahit di depan itu," cerita Tatsuki menunjuk Ishida dengan dagunya.
"Eh?"
"Aah, Tatsuki pelan-pelan ngomongnya. Aku malu," Inoue menutupi wajahnya. Rukia dan Tatsuki tertawa, meskipun tawa Rukia dipaksakan.
*
Di taman belakang JIS, ada air mancur dan kolam yang cukup besar. Isinya berbagai jenis ikan dan kadang-kadang kecebong. Rukia senang disana. Tempatnya cukup terpencil untuk merenung. Seperti sekarang. Ia duduk di kursi sebelah kolam. Matanya menerawang jauh. Tangannya menyebarkan rempah-rempah roti gandum bekalnya tadi.
Sakit.
Perih.
Bodoh! kenapa diingat lagi?? Rukia mengutuki dirinya sendiri. Ia menatap ikan-ikan yang memakan rempah rotinya, namun kepalanya kemana-mana.
"Rukia?"
*
Atap adalah markas rahasia Hitsugaya. Dimana ia bisa bertamsya ke alam mimpi tanpa kuatir guru-guru akan menemukannya. Dimana ia bisa berpikir jernih. Dimana ia merasakan angin menyapanya, membelai rambut abunya.
Ia tiduran di atap. Tak peduli atap itu kotor atau tidak. Dengan tangan menopang kepalanya, ia menatap langit.
3x lebih perih.
3x lebih sakit.
3x lebih menderita. Di banding Rukia. Ia menerka-nerka perasaannya dengan Ichigo sekarang, menebak-nebak perasaanya dengan Hinamori sekarang, menyangka perasaannya dengan Rukia sekarang. Bencikah? Kesalkah? Sayangkah? Cintakah? Atau campuran?
Hitsugaya tak peduli lagi.
Kalau mereka memang berjodoh, Hitsugaya tak bisa berbuat apa-apa. Toh ia sudah berusaha.
Yang ia pedulikan sekarang hanyalah Rukia.
Adiknya.
Yang lemah.
Yang rapuh.
Yang harus ia lindungi.
Ia juga ingin membunuh Ichigo… tapi pasti akan dihalangi Hinamori dan Rukia—tentu saja. Yang ada justru dirinya yang dibenci. Dan kalau ia benar-benar membunuh Ichigo, pasti Hinamori dan Rukia akan sedih… dan itulah yang paling ia benci.
"Hi-Hitsugaya?"
*
"Rukia? Sedang apa kau disini?" tanya Ichigo mendekati Rukia. Rukia mundur menjauh.
"Tidak…, jangan kesini," kata Rukia, ia menundukkan kepalanya, tak ingin Ichigo tahu ia menangis.
"Rukia…."
*
"Hinamor? Sedang apa kau disini?" Hitsugaya bangun, menatap Hinamori kaget.
"A… aku sedang mencari Ichigo," jawab Hinamori.
"Hinamori…."
*
"Aku menyukaimu!" seru Ichigo dan Hitsugaya bersamaan di dua tempat yang berbeda. Rukia dan Hinamori terkejut.
"A—"
***
huhuhu.. sepertinya chap ini ketebak banget sama para repiuer dan juga readers..
okeh! balesan repiu!!
Ruki_ya: betul sekali.. itu Hinamori dan Ichigo.. ketauan ya? =.=
ruki4062jo: skg udh nggak penasaran kan ^^
Sagara Ryuuki: betul betul betul..! haduuh... makasih banget udah di fave.. *nunduk-nunduk*
Ruise: yeeeaaaahhh!! betul sekali itu!! anda memang pintar!
Rizu Auxe09: sekarang udah tau kan siapa yang ngomong di akhir cerita? hehehe.. aku kaget baca repiumu lho.. jadi kubikin disclaimer kaya diatas... hahaha..
kaoririn: sayangnya... itu bukan ichi dan inoue... sama.. aku juga mau punya kakak kaya hitsu.. ada yang mau?
hikaru kurochiki: betul!! sama.. aku juga mau.. -,-
Jess Kuchiki: ehehe.. udah tau kan, siapa?
Been-bin Mayen Kuchiki:sama, gue juga mau.. namanya juga adek-kakak, mas
kuchiki horie:bukan.. tenang aja, ichi dan inoue ga bakal jadian kok~ lam kenal juga ^0^
Yumemiru Reirin: uhmm... gimana? udah puaskah dengan chap ini? ehehehe.. pengen nyoba bikin Ichihina walopun dikit
yosh! sori kalo nggak bales pake PM... tapi.. repiulah.. pliiiisss =.=
