Maaf udah lama banget gak update, biasa, kuliah sibuk banget...akhirnya setelah selesai ujian (masih ada remed sih) bisa ngetik lagi.

Oh ya, untuk yang mau liat Suito itu kayak gimana, silahkan ke deviantart ku, dia juga muncul di doujin NaruGaaku, hehehe...

Enjoy it


Gaara ingin berteriak, ia ingin memberontak, ia bahkan ingin menangis bila bisa. Namun, matanya ditutup, entah kenapa ia tidak bisa menemukan suaranya ketika pandangannya menjadi gelap, sedangkan ia terikat dan chakranya disegel sehingga ia tidak bisa melawan. Menangis? Ia tak akan menangis di depan orang-orang ini.

Tapi sayangnya, pendengarannya masih berjalan dengan baik. Semua panca indranya yang lain masih bekerja dengan normal.

Oh, tidak bisakah mereka melakukannya ketika ia pingsan saja? Setidaknya ia tidak perlu mengingat semua hal mengerikan ini.

Tapi, tentu hidup tak semanis itu. Gaara bisa merasakan ketika celananya di lepas, membuatnya ingin menendang siapa pun yang ada di depannya, tapi ia tak punya tenaga.

Kenapa? Kenapa mereka akan melakukan hal ini? Ia tidak mengerti. Membunuh, menjebak, memeras... ia bisa mengerti semua itu. Tapi ini? Apa untungnya mereka memperkosa dirinya dan membuatnya hamil? Ia tidak mengerti.

"Kau pasti sedang bertanya-tanya sekarang."

Suito, ya ini suara Suito. Gaara mengenalnya karena ia sangat membenci ninja itu sekarang.

"Kenapa kami melakukan hal ini?" kata Suito, melucuti Gaara perlahan, menyiksa Gaara dengan rasa cemas dan takut.

"Untuk apa menjelaskan semuanya padanya?" ia mendengar ninja lain bersuara.

"Aku rasa ia perlu tahu," jawab Suito. Gaara tak mendengar nada apapun pada suara ninja itu, datar tanpa ekspresi.

"Sudahlah, buang-buang waktu saja, cepat perkosa dia," kata ninja lain lagi.

Gaara mendengar suara benda tumpul di hentakan ke tanah. Tongkat?

"Diam," kata Suito, tak bernada tapi lebih rendah dari yang tadi. Semua ninja yang lain segera membungkam mulutnya.

"Kau tau desa Raida, mantan Kazekage-sama?" Gaara mendengar Suito bertanya padanya.

Raida? Gaara bertanya pada hatinya. Ya, ia pernah mendengar soal desa itu. Desa kecil dan terpencil yang bahkan tak masuk di peta. Desa yang terisolir dan diblokade oleh desa-desa lain. Desa yang tak punya kekuatan militer.

"Kami adalah ninja dari desa itu, yah kalau memang kami bisa disebut ninja," kata Suito, ia melanjutkan melucuti Gaara. Sang mantan Kazekage hanya menggigit bibirnya ketika merasakan udara dingin menyentuh kulitnya. Hanya tinggal boxernya.

Dimana Naruto? Ryuuki? Gaara merasa ia ingin menangis. Ia tak mau disentuh oleh orang-orang ini. Tapi, rasa penasaran itu tetap ada, entah kenapa cerita dari Suito justru membuatnya mampu menenangkan diri.

"Kepala desa kami...sangat brengsek."

Gaara bisa mendengar nada 'kebencian' pada kalimat itu. Ia lalu mendengar suara batu yang dipukul dan suara decakan. Sepertinya bukan hanya Suito saja yang membenci kepala desanya di sini.

"Ia ingin desa Raida diakui negara lain dan ia siap mengorbankan penduduk desa untuk itu. Ia sudah membentuk pasukan militer yang terdiri dari ninja-ninja yang belajar secara otodidak seperti kami," lanjut Suito.

Gaara tersentak saat boxernya ditarik lepas. Ia ingin segera melipat kakinya, menyembunyikan kemaluan yang seharusnya hanya boleh dilihat oleh Naruto saja. Tapi kakinya lemas seperti orang lumpuh.

"Wow...tanpa bulu...manis sekali."

Ia mendengar ninja lain mengatakan hal itu, langsung membuat pipinya memerah. Tapi ia kembali mendengar suara tongkat dipukul ke tanah, membuat susana hening kembali.

"Kami ingin menghentikan kepala desa sinting itu... tapi kami tidak memiliki kemampuan untuk itu," jelas Suito.

"Karena itu, muncul ide lain, bagaimana bila desa lain yang menghancurkan desa kami? Tapi, hubungan desa kami dengan negara lain sangat buruk, apalagi kami tahu tak akan ada yang mau menghancurkan desa kami tanpa alasan jelas," jelas Suito. Kali ini Gaara bisa mendengar nadanya yang sedikit sedih.

"Karena itulah kami punya ide cemerlang, 'bagaimana kalau kita bunuh saja istri dari Hokage baru yang masih muda'?" sahut ninja lain, bernada seakan itu adalah ide paling cemerlang.

"Tapi kami pikir mungkin itu tak akan cukup, para ninja Konoha pasti akan memburu kami tapi tak akan menghancurkan desa kami," jelas ninja lain.

"Yang lebih menakutkan dari pembunuhan adalah perkosaan dan kemudian hamil dari perkosaan itu. Rasa trauma yang akan diingat sepanjang hidup, mencoreng nama baik dan sebagainya," timpal ninja lain lagi.

Gaara bisa merasakan ketakutan kini berada di luar -ninja di hadapannya ini serius. Mereka bukan ingin melakukan hal bejat ini karena keinginan atau nafsu belaka, tapi ini adalah 'misi' bagi mereka. 'Misi' yang harus mereka lakukan. Gaara adalah ninja, meski ia sudah hampir tak pernah menerima misi lagi, tapi ia tahu bagaimana ninja akan melakukan misinya.

'Apapun yang terjadi harus berhasil'.

"Kurasa ini bukan ide jelek, Hokage baru masih muda, ia jinchuuriki, terlebih dia sangat 'mencintai'mu. Tak sulit membayangkan ia akan lepas kendali dan membuat desa kami rata dengan tanah," lanjut Suito. Gaara mendengar Suito mengambil sesuatu dan membuka sesuatu.

Botol? Tutup botol? Lube...?

Gaara ingin merangkak mundur. Ia ingin berteriak memanggil Naruto sekuat tenaga. Ia kini mengerti apa yang akan ninja-ninja ini lakukan. Mereka akan memperkosanya, membuatnya hamil, dan ketika Naruto tahu, suaminya serta Kyuubi akan mengamuk sejadi-jadinya.

Ia tak mau itu terjadi.

Tak boleh!

Tapi, ia tak bisa menggerakkan badannya. Ia hanya bisa diam, digerogoti rasa takut dan cemas hingga perlahan hilang kendali.

Dan ketika air mata mengalir dari matanya, ia sudah tak peduli lagi kalau ia sedang menangis di depan para ninja keparat ini.

IoI

"Aku tak percaya...kita kehilangan jejak..."

"Kau benar-benar tak bisa melacaknya Kiba?" tanya Shikamaru.

"Tidak, mereka menyamarkan bau mereka dengan bau lain," kata Kiba dengan kesal.

"Sepertinya mereka juga sudah menghapus jejak mereka dengan semacam jutsu, siapapun yang kita hadapi sepertinya handal dalam bersembunyi," kata Sai melihat jejak yang menghilang di pohon.

Shikamaru menoleh melihat Naruto, ia bisa merasakan api kemarahan temannya itu. Bahkan suhu di sekitar Naruto seperti meningkat dan Shikamaru tahu Naruto mencoba untuk tenang. Ia tak mengatakan apapun, tapi sekarang bahkan tak ada yang berani bertemu mata dengannya. Naruto bisa lepas kendali kapan saja, ia seharusnya mengajak Kakashi atau Yamato atau salah satu klan Hyuuga untuk membantu melacak jejak tapi semuanya terjadi begitu cepat dan hanya mereka yang bisa Shikamaru kumpulkan dalam waktu singkat.

Sai segera membuka gulungan kertasnya dan melukis banyak tikus yang kemudian ia lepaskan ke dalam hutan.

"Aku akan mencoba merasuki burung untuk mencari jejak dari langit," kata Ino.

Namun, Shikamaru terkejut saat Naruto menoleh dengan cepat ke arah samping mereka.

"Ada apa Naruto?" tanya Shikamaru. Dari ekspresinya, Naruto seperti sedang berusaha memfokuskan dirinya pada sesuatu sampai tak mendengar suara Shikamaru.

"Tidak mungkin...," kata Naruto tidak percaya. Shikamaru tidak mengerti, bahkan dengan otaknya yang jenius ia tak mengerti maksud Naruto. Sepertinya bukan jejak para penculik Gaara yang Naruto rasakan, tapi sesuatu yang lain? Mungkin kelompok ninja susulan? Tidak mungkin bisa secepat itu sampai sini...lalu?

Tiba-tiba Naruto segera berlari, membuat teman-teman tim pengejarannya terkejut.

"Naruto! Ada apa?" tanya Kiba, bingung melihat temannya segera melesat dengan kecepatan tinggi.

Shikamaru memberi sinyal untuk mengikuti Naruto. Tidak ada gunanya mereka berpencar ketika bahkan mereka tak tahu dimana musuh berada.

Mereka berusaha mengejar Naruto yang melesat seperti sambaran petir. Bila tadi Naruto sengaja menekan kecepatannya karena ia harus mengikuti Kiba yang mencari jejak. Tapi sekarang Naruto yanng berada di depan, tidak berpikir apakah teman-temannya bisa mengikutinya.

"Naruto tunggu!" teriak Ino, jelas-jelas tak bisa mengimbangi kecepatan Naruto.

Shikamaru hanya mendesah, sekarang mereka tak ada di pikiran Naruto. Ketika Hokage muda itu fokus akan satu hal, ia bisa melupakan segalanya.

Tidak butuh waktu lama untuk Naruto yang segera menghilang dari pandangan mereka. Untungnya ada Kiba yang mampu mengikuti bau Naruto, kalau tidak mereka bisa kehilangan jejak si pirang itu.

Tapi, Shikamaru segera menyadari ada sebuah 'keberadaan' yang terasa aneh. Tidak bisa dijelaskan, seperti manusia tapi...

Seperti jinchuuriki?

Naruto berhenti di tanah, mengerem tiba-tiba dari kecepatannya yang secepat kilat sampai menimbulkan jejak dalam di tanah. Ia menatap ke satu arah. Saat teman-temannya yang lain datang tak lama kemudian, mereka terkejut melihat sesuatu melesat secepat cahaya dan Naruto segera menangkapnya.

Naruto terdorong jauh hingga beberapa meter namun akhirnya berhenti dan masih berdiri di atas kedua kakinya.

"Ryuuki!?" sahut Kiba terkejut bukan kepalang. Bau ini, rambut oranye itu...tak salah lagi.

Shikamaru terdiam melihat keadaan Ryuuki yang ada di pelukan Naruto. Giginya jelas meruncing, kuku-kuku jarinya seperti cakar tajam...

"Ryuuki, kenapa kamu ada di sini!?" sahut Naruto terkejut.

Ryuuki yang sesaat seperti tak sadar keadaan sekitarnya segera mendongak begitu mendengar suara ayahnya.

"Kaa-chan...To-chan, Kaa-chan...," lirih Ryuuki. Ia menggenggam erat baju Naruto, ar mata kembali mengalir.

"Kau...tahu dimana Kaa-san berada?" tanya Naruto tak percaya. Ryuuki mengangguk. Sang ayah segera menoleh pada Shikamaru dan yang lainnya.

Semoga mereka belum terlambat.

Masalah perubahan dan chakra aneh Ryuuki bisa disimpan untuk nanti.

IoI

"Tidak jauh dari sini, aku mulai bisa menciumnya," kata Kiba.

"Awas, ada jebakan!" seru Sai, kaget saat sebuah kayu besar seukuran pohon raksasa tiba-tiba mengayun ke arah mereka. Tapi, Naruto memukul kayu besar itu sampai terbelah menjadi dua. Tanpa jeda, ia segera berlari kembali.

Ryuuki yang ada di pelukan Naruto menggenggam erat ayahnya seperti kucing ketakutan, tapi gigi runcing dan cakar itu membuat Sai tahu kalau keadaan sang anak pun tak normal. Marah atau sedih? Sai tak tahu.

Mereka berhenti di depan sebuah gua, tidak begitu besar tapi tampak dalam.

"Bugh!"

Sai terdiam melihat Naruto memukul Ryuuki sampai anak itu tak sadarkan diri.

"Naruto!" hardik Ino tak percaya. Tapi selimut chakra yang perlahan menyelimuti Naruto dan muncul ekor-ekor membuat semuanya terdiam. Setelah sampa di sini, Naruto sudah tak mampu mengontrol dirinya lagi. Membuat Ryuuki tak sadar ada pilihan yang terbaik ketimbang membiarkan sang anak melihat ayahnya mengamuk membabi buta.

Naruto menyerahkan Ryuuki pada Kiba.

"Tunggu Naruto, kita belum tahu gua-"

Dan Naruto kembali berlari secepat cahaya.

Shikamaru hanya mendesah dan mereka berlari mengikutinya.

Mereka berlari berusaha mengejar Naruto, tapi tampaknya Naruto sudah berlari jauh dari jangkauan mereka.

Saat terdengar gemuruh, membuat gua bergoyang dan kerikil-kerikil berjatuhan dari atap, Shikamaru tahu kalau Naruto sudah menemukan penculik Gaara.

Terdengar keributan, suara pertarungan dan gua kembali bergemuruh.

Shikamaru hanya diam melihat pemandangan di depannya.

Gua yang jebol penuh reruntuhan, sebentar lagi gua ini pasti akan runtuh lebih banyak. Gaara yang terduduk dengan jaket Naruto menutupi selangkangannya. Wajahnya membatu, sangat syok, matanya seperti tak fokus, ada bekas air mata yang mengalir di pipinya.

"Gaara-san," Ino segera berlari menghampiri Gaara.

Shikamaru menoleh ke gua yang jebol. "Kiba, kau tetap di sini, Sai ikut aku," kata Shikamaru. Kiba tampaknya ingin protes, tapi Ryuuki yang tak sadarkan diri di pelukannya membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.

Shikamaru dan Sai segera mengejar para penculik Gaara yang melarikan diri.

IoI

Gaara ingin menghilang, ia ingin lenyap, ia menyesal kenapa ia harus dilahirkan di dunia ini. Air matanya mengalir deras saat ia merasakan jari asing di masukkan ke dalam anusnya.

Ia ingin meraung, melarikan diri, ia ingin...

Gaara menutup dirinya, satu-satunya yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Ia menumpulkan diri dari semua panca indera, menolak kenyataan, hanya duduk di sana mematung tanpa mengakui apa yang sedang terjadi padanya.

"Gaara!"

"Sial ia sudah di sini!"

"Aku kan sudah bilang kau cuma buang-buang waktu, sialan!"

"Gaa- A-apa yang kau lakukan!? Apa yang kau lakukan pada Gaara!?"

"Kau seharusnya mengerti apa yang sedang kami lakukan..."

"KAU! SIALAN! TAK AKAN KUMAAFKAN KALIAN!"

Bunyi gemuruh sangat dahsyat, seperti lantai hancur. Lalu gemuruh hebat lagi seperti dinding hancur.

Saat ia dipeluk seseorang, Gaara hanya diam tak bergerak, kemudian sesuatu diselimutkan padanya. Rasa hangat yang familiar... aneh...

Lalu rasa hangat itu segera pergi meninggalkan Gaara. Dan Gaara kembali mematung di sana.

"Gaara-san!" ia merasakan ada seseorang yang menyentuhnya, tapi Gaara tak melawan. Hanya pasrah.

"Sepertinya ia tak sadar! Apa yang terjadi padanya?"

"Aku tak tahu...sepertinya ia menutup dirinya sendiri..."

Dan tiba-tiba sebuah pukulan keras melayang ke pipinya, membuatnya terbang menghantam dinding.

"KIBAAA! KAU SUDAH GILA!?"

"Habis aku cuma tahu cara ini untuk menyadarkan orang..."

"Tapi kan tidak begitu juga caranya!"

Gaara hanya duduk di sana, tak bergeming. Tak bereaksi pada apapun. Pipinya sangat sakit tapi ia tak mau mengakuinya.

"Kaa-chan?"

Mata Gaara mulai terbuka, ia mula bisa melihat sekitarnya dengan jelas.

"Kaa-chan? Angun..."

Sesuatu yang hangat memeluk Gaara dan ketika Gaara akhirnya sepenuhnya sadar...

"Ryuu-chan...?"

Si kecil sedang menangis di pelukan Gaara, entah karena apa. Cakarnya menancap di baju Gaara.

"Kaa-san baik-baik saja kok, Ryuu-chan jangan menangis," naluri ibu Gaara bangkit dan ia menenangkan sang buah hati. Ia menepuk-nepuk punggung Ryuuki pelan.

"Gaara-san, kau sudah sadar?"

Gaara mendongak dan melihat Ino serta Kiba menghampirinya.

"Ya aku sudah sadar... ," jawab Gaara lirih. Ia kemudian mencari sosok yang sudah dinanti-nantinya sejak tadi.

"Naruto...?" tanya Gaara.

"Ia mengamuk...di luar sana," jawab Kiba, tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan apa yang tengah terjadi.

Gaara terpaku. Naruto mengamuk? Ia kemudian teringat kembali semua cerita Suito lalu...

Suito tidak menyentuhnya...

Ia mencium dan mempreparasi Gaara, tapi tak sempat melakukan apapun setelah itu...

Naruto... salah paham dan mengamuk?

Suito memanfaatkan hal itu?

"Kita harus menghentikannya!"

Dan Gaara segera bangkit, mengejar suaminya sementara buah hati mereka ada di pelukannya. Ia tahu, para ninja sial itu perlu diberi pelajaran tapi... ia tak mau Naruto mengamuk dan membunuh mereka semua apalagi sampai menghancurkan satu desa...

IoI

Semua diluar perkiraan...

Suito hanya tersenyum tipis...

Tidak, tidak, semuanya sesuai perkiraannya...

Ternyata ia memang tidak cocok jadi orang jahat. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia bisa membunuh...tapi memperkosa dan menghamili seseorang...

Ia tak sanggup.

Karena itu tanpa sadar ia mencoba mengulur waktu, mencoba untuk menghentikan semuanya.

Dasar bodoh, terima kasih atas kebaikan hatinya semuanya jadi sia-sia sekarang...

Desa masih puluhan kilometer lagi, tak mungkin ia bisa sampai sana.

"TUNGGUUUU! DASAR BRENGSEK!"

Ya tak mungkin...

Suito tak bisa menghindar saat ia merasakan sesuatu menarik dirinya, menghempaskannya ke tanah.

Ia menoleh ke belakang, melihat sosok yang sempat menjadi sumber ketakutan orang-orang. Banyak orang tidak suka dan takut pada jinchuuriki tanpa alasan yang jelas. Sekarang Suito paham betul alasannya.

Miniatur Kyuubi ada berdiri tak jauh darinya. Tidak mengamuk ataupun hilang kontrol, tapi ia bisa merasakan aura kemarahan dan kebencian di udara sekitar Hokage muda itu.

Ia tak akan selamat...Suito hanya tersenyum tipis.

Saat Naruto melompat ke arahnya, ia hanya menutup mata.

Ia menuai benih yang ia tebar sendiri...

Naruto menendangnya ke tanah, begitu kuatnya sampai tanah di bawah Suito ikut retak dan hancur. Suito bisa merasakan organ pencernaannya rusak dan tulangnya patah. Tapi penderitaannya tak berhenti sampai disitu, serangan bertubi-tubi datang. Naruto seperti terobsesi untuk mematahkan semua tulang yang ada pada tubuh Suito.

Saat tangan itu sampai pada leher Suito, ninja berambut coklat itu hanya tersenyum tipis meski ia sudah hampir tak bisa merasakan tubuhnya lagi.

"Kenapa kau lakukan itu pada Gaara, hah!? Kenapa kau-sial!"

Ternyata meski berupa miniatur Kyuubi, Naruto masih bisa bicara.

"Kepala desa Raida... yang menyuruhku...," kata Suito lirih, bahkan untuk bicara dan bernapas pun susah.

"Kenapa!? Kenapa kau harus melakukan itu!?" teriak Naruto frustasi.

Suito sedikit merasa menyesal. Namun, sudah sejauh ini...

"Karena ia ingin berperang...dengan negara api...," gumam Suito, makin kehilangan suaranya.

Naruto tak mengatakan apapun lagi. Ia hanya menatap Suito penuh kebencian. Hanya karena itu ia menodai istrinya tercinta? Istri yang sangat ia sayangi, istri yang sangat ia kasihi, istri yang selalu ia lindungi...

Tak bisa dimaafkan...

"Naruto hentikan!"

Naruto tersentak dan melihat Gaara sedang menggendong Ryuuki tak jauh dari ia berada.

"Ia bohong."

"Eh?" otak Naruto berhenti berpikir.

"Percuma, jangan kau bunuh dia, justru itu yang ia inginkan darimu," kata Gaara.

"Ta-tapi...ia sudah melukaimu...menyentuhmu...me-" Naruto terdiam saat Ryuuki berlari dan menubruknya kemudian memeluknya erat.

"To-chan..."

Entah kenapa rasa amarah Naruto langsung lenyap. Chakra yang menyelimutinya perlahan hilang, menyisakan dirinya yang dipenuhi luka bakar. Ia mengusap kepala Ryuuki dengan pilu kemudan menatap Gaara.

Gaara tersenyum lirih padanya dan Naruto hanya menutup matanya.

"Aku tetap tak bisa memaafkannya," kata Naruto.

"Ya... aku mengerti," kata Gaara. Ia berjalan menghampiri Suito yang terbaring, terluka parah namun masih hidup.

"Seharusnya...kau bunuh aku saja...," gumam Suito.

Gaara hampir tak mendengarnya, namun masih bisa membaca gerak bibirnya.

"Kami akan membawamu ke Konoha dan kau akan diadili di sana, itu cukup."

Suito hanya menutup matanya dan tersenyum lirih.

Ia memang menuah benih yang ia sebar sendiri...

IoI

"Jadi begitu ceritanya..."

"Ya..."

Naruto menatap Gaara, istrinya tak terluka minus lebam di pipinya karena pukulan Kiba. Ryuuki terlelap di ranjang di samping mereka sementara dibalut seperti mumi disekujur tubuhnya, hanya menyisakan mata, rambut dan mulut.

"Kau... tak apa-apa Gaara?"

Gaara mendongak, tersentak dengan perkataan Naruto.

"Kau tak apa-apa?" tanya Naruto lagi.

Gaara hanya diam, kemudian wajah tanpa ekspresinya mulai runtuh. Semua ingatan itu kembali lagi, kini ketika ia aman bersama Naruto, ia tak mampu menahan semuanya lagi. Ia merasa kotor... hina...

Ia memang tidak sampai diperkosa tapi...hampir... membayangkan itu saja membuat tubuh Gaara gemetar hebat. Apalagi bila ia ingat ia hampir saja dihamili oleh mereka. Ia tak akan sanggup... hamil selain oleh Naruto...

Naruto hanya diam menatap Gaara yang trauma dan terguncang, tubuhnya gemetar hebat dan air mata mengalir deras di pipi Gaara.

"A-aku...aku...," Gaara terbata-bata, ia bahkan tak tahu apa yang ia ingin katakan.

Gaara terdiam saat Naruto meraih pipinya kemudian mencium bibirnya. Bibir yang sudah dicium orang lain...

Gaara hanya berpegangan lemah pada Naruto, air matanya masih mengalir namun bibir Naruto seperti menghapus jejak kotor bibir Gaara. Sang istri tak melawan dan hanya diam, membiarkan Naruto menciumnya.

Saat Naruto mundur, Gaara melihatnya tersenyum. Pilu namun hangat.

"Aku cinta padamu."

Gaara terbelalak, menatap Naruto tak percaya.

"Apapun yang terjadi, aku mencintaimu Gaara," ulang Naruto lebih tegas.

Air mata Gaara kembali mengalir, namun kali ini bukan karena kesedihan. Tapi kehangatan...

"Aku juga...," jawab Gaara pelan. Naruto tersenyum lebih cerah dan mencium Gaara lagi.

Mereka terhanyut dalam dunia kecil mereka, menikmati keberadaan satu sama lain, melupakan rasa benci dan amarah, yang ada hanya cinta dan kehangatan.

Tbc


Sori nulisnya kecepetan... ngantuk dan feelnya masih kurang

Soal Suito, trauma Gaara dan keanehan pada Ryuuki akan dibahas chapter depan

So, see you next time

REVIEW

REVIEW PLEASE!