Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. We don't own anything except our stories.
Author : Light of Leviathan
ID: 1884744
.
Wasurenaide
.
Itachi Uchiha mendecih. Sampai kapan orang idiot yang menyaingi terik matahari itu berhenti mengganggunya? Sudah sepertiga tahun, persistennya memicu emosi sampai limitasi. Akhirnya Itachi muak, ia memutar badan menghadap makhluk laknat tersebut, namun bersitatap dengan mata lazuardi yang disisipi lara, dan jeritan frustasi.
"Berhenti mempermainkanku, UCHIHA SASUKE TEME!"
.
Uchiha Sasuke.
Sasuke.
Sasuke. Di mana ia pernah mendengar nama itu—
"Sasuke!"
.
—kepalanya berdenyut menyakitkan.
"SASUKE!"
Keping-keping memori asing berhamburan. Berserakan. Menyakitkan.
"SASUKEEE!"
Uchiha Itachi jatuh pingsan.
Dia terdampar dalam dimensi memori yang tidak ia ketahui. Keping-keping kenangan menggenang, dari hulu masa lalu bermuara deras ke hilir masa kini, memenuhi dirinya. Menakutkan. Sayup-sayup suara membimbingnya pada secercah cahaya, ia meraihnya. Dan terbangun pada realita dengan mata terbuka.
"SASUKEEE!"
Orang asing itu menerjangnya.
Kepalanya berdenyut sakit setiap mendengar nama itu. Perih menikam hatinya.
"Ukh—" Ia menjambak rambutnya, memijat-miijat untuk mengurangi rasa sakit yang mendera kepala, "—diamlah."
Tatkala matanya telah terbiasa dengan cahaya dari saung tempat ia ditidurkan, ditemukannya mata biru terang memandangnya.
"Siapa namamu?" tanya Hokage itu ekspetatif.
"Uchiha Itachi."
"Astaga—!"
"—diamlah!" Mata hitam menajam. Rasa sakit memalu-malu kepalanya. Dia mengerling si pirang yang dengan tolol malah berniat menjitak kepalanya.
"Aku mencarimu sekian lama setelah kau hilang—dan semua berpikir kau dibunuh Kaguya, tahu-tahu aku menemukanmu di pelosok Amegakure bawa-bawa cangkul dan benih tanaman. Sasuke Uchiha si penjahat dunia malah jadi petani sesudah aksi heroiknya?! Dan setiap kuhampiri kau terus saja kabur—"
"—kabur? Kau menggangguku."
"—Ya Tuhan, apa yang kaulakukan pada Sasuke—ttebayo?!" raung si pirang frustasi.
Ditelusurinya figur Hokage. Benar. Persis sekali seperti bayang-bayang kenangan asing yang menginvasi ruang memorinya.
"Kau … Idiot … Baka … Ahou—"
"—woy, Sasuke! Kenapa hanya panggilan menyebalkan yang kau—"
"—Usuratonkachi?"
Anggukkan kepala kuat-kuat.
Pemuda yang jadi pusat perhatian menegakkan duduknya. Ditatapnya lekat mata laksana langit yang selama amnesia selalu ia pandangi dengan kerinduan anomali. "Aku ini Uchiha Itachi—"
"TEMEEEE!"
Dia balas meninju kepalan tangan yang terarah padanya. Ekspresinya datar. "Dengarkan aku bicara."
"Kau itu Sasuke. Kau ingat aku, bahkan semua panggilan sialan itu, jadi—"
"Sssh." Dia meletakkan telunjuknya untuk membungkam bibir yang tak berhenti menyemburkan amarah padanya. "Dalam ingatan Sasuke Uchiha, aku lebih pintar darimu. Biar aku yang analisis apa yang terjadi."
"Maksudmu apa?" Dia duduk bersila, melipat kedua lengan di dada.
"Aku sudah ingat semua memori … Uchiha Sasuke." Pemuda berkulit terang itu menghela napas pendek. Tangannya sesekali menekan pelipis yang berkedut, menahan deraan sakit di kepala. "Semuanya. Kau. Kakashi-Sensei. Klan Uchiha. Itachi. Akatsuki. Konoha. Shinobi. Kejadian hari itu ketika Kaguya membuang kita ke jurang dunia dan hal yang terakhir kulakukan adalah mengonter dengan rinnegan dari Hagoromo."
"…terus?"
"…tapi, itu Uchiha Sasuke." Ketika menyebut nama yang diucapkan si pirang, ia merasakan kepalanya kembali dihantam rasa sakit. "Itu bukan aku. Aku ini Uchiha Itachi. Meski sebenarnya Itachi adalah kakaknya Sasuke."
"Aku tidak mengerti. Jelaskan!" kesal Hokage.
Dia berdecak. "Bodoh seperti biasa." Ditahannya Hokage yang nyaris mengamuk untuk menendangnya. "Selama ini, aku hidup sebagai Itachi Uchiha. Ingatanku pun sebagai Itachi Uchiha. Orang-orang di sini mengenalku sebagai Uchiha Itachi. Saat tadi kau memanggil nama itu—" Sasuke. "—ingatanku sebagai Sasuke Uchiha kembali. Tapi…"
"Tapi … apa?"
"Aku tidak merasa bahwa aku adalah Uchiha Sasuke. Itu adalah orang lain. Asing."
"Itu kau, Brengsek! Benarkah amnesiamu separah ini, Sasuke—"
"—aku ingat. Ingat segalanya. Tapi, tidak ada perasaan bahwa itu adalah aku." Dia melarikan jari-jemari, menarik kuat-kuat surainya untuk mengurangi deru sakit di kepala. "Jika … ingatan Uchiha Sasuke menguasaiku … jika dia hidup lagi menguasaiku … apakah aku yang ini akan mati?"
"Kenapa mati? Kau bicara apa, Sasuke—"
"Aku yang Itachi Uchiha. Aku yang ini." Sasuke menatap datar Hokage yang kebingungan.
Hokage terhenyak melihat titik melankolia bergulir dari sudut manik malam.
"Apa aku akan hilang selamanya?"
"Kau Sasuke—"
"—bukan. Aku ini Itachi."
"Sasuke! Kau membenci Itachi! Lagipula Itachi itu kakakmu!"
"Itu Sasuke yang benci tapi menyayangi Itachi. Aku adalah Itachi Uchiha."
"Berapa kali aku harus bilang kau adalah Sasuke?!"
Mereka terus berdebat. Hokage terkini Konoha terus bersikeras. Petani yang dulu mantan buron dunia konstan bersikukuh. Tak ada yang mengalah apalagi menyerah. Silat fisik dilibatkan. Mereka lebih bisa saling memahami ketika kepalan tinju bertemu.
Tinju familiar merealisasi rasengan kecil bertemu aliran dinamis chidori. Dimensi lain membuka seluk-beluk pemahaman baru yang menamparkan sebuah kenyataan.
Sasuke kini merasakan desperasi Hokage yang putus asa dan hampir gila sekian ratus hari mencarinya untuk pulang ke Konoha. Ketidakpercayaannya pada siapapun atas vonis yang dijatuhkan bahwa Sasuke Uchiha sudah mati.
Mungkin benar Sasuke Uchiha sudah mati, terbunuh oleh memori yang reras dilapuk waktu.
Sang Hokage itu kini mengerti ketakutan terdalam orang yang selama ini dicari. Kebingungannya karena tak mampu mengingat apapun dan terbangun di tempat asing, hidup sebagai persona baru, dengan nama terakhir yang tertinggal di benaknya: Uchiha Itachi. Hidup sebagai Itachi si petani berbakat yang menandang keajaiban berkebun di desa hujan tanpa sinar matahari. Tidak ada ninja, kekuatan, kegelapan, kengerian, seorang diri damai menghirup sepi.
Mungkin Sasuke sudah lelah dengan semua ini. Mungkin harapan sang Hokage agar Sasuke pulang dari dulu benar-benar mati.
Terengah-engah, kepulan napas menghela hujan yang merinai atap saung. Sasuke menindih Hokage yang menyendu ketika tangannya dipiting tak berdaya di atas kepala. Setelah sekian lama merindukan langit biru yang akhirnya Sasuke temukan di kanvas mata di hadapannya, ia tidak mengharapkan melihat pedih di sana tersepih.
Karena dalam memori Sasuke Uchiha, mata biru itu brilian, meradiasi hangat hingga mata hati dirinya yang nyaris mati.
"Kau ingat aku, Sasuke?" bisiknya pilu.
Disentuhkannya kening mereka. Berbagi napas perlahan. Mata hitam itu enigmatis, jari-jemari kapalan menaut genggaman tangan tan yang mendingin.
"Uzumaki … Naruto." Dan Itachi memanggil nama yang bersemayam di lubuk hati Sasuke. "Dobe."
Naruto merengkuh entitas yang selalu dicarinya, selamanya hanya harus pulang padanya—tidak peduli tentang benci atau memori lagi.
Sasuke mencium sarat kerinduan pada bibir yang mengurva pelangi sendu bagi persona sesuram hujan miliknya. Akhirnya merasa benar-benar pulang.
.
"Jangan lupakan aku lagi, Sasuke."
Lebih baik dibenci daripada dilupakan.
.
Thanks for reading!
Please review :)
