Taekwoon kembali menjadi Taekwoon semasa kelas sepuluh, yang penuh intimidasi dan beraura kelam. Seluruh teman sekelasnya tidak begitu heran dengan perubahan drastis Taekwoon sejak tiga minggu lalu. Sejak pertengkaran konyol antara Hakyeon, Hyuk, dan Jaehwan.
Taekwoon merasa bersalah. Ia bodoh sekali karena tidak menyadari kalau Hakyeon suka padanya. Ia sadar saat Hakyeon berteriak kepadanya. Hakyeon tentu saja merasa sakit. Taekwoon tidak hanya baik kepada Hakyeon saja, pada semua orang, ia berlaku seperti itu. Taekwoon bodoh sekali. Apalagi sampai menuruti permintaan Hakyeon untuk menemani Hyuk. La la la la. Seharusnya, ia menyadari hal ini saat Hakyeon berkata padanya di telepon malam lalu. Seandainya ia bisa lebih peka, yang seperti ini pasti tidak akan terjadi.
Taekwoon rindu Hakyeon.
Ia tidak mungkin rindu dengan Jaehwan dan Hyuk, kan? Toh dia masih dekat dengan kedua orang itu. Meskipun tidak sehangat lalu.
Hakyeon bukan pendendam. Hakyeon hanyalah orang yang rumit. Itu membuatnya segan setiap kali berniat untuk menemuinya. Taekwoon takut dan kebingungan. Satu-satunya jembatan penyalur rindunya hanyalah chat lama mereka dan gantungan kunci bulan yang ia pasang di case ponselnya.
"Kau baik, Taekwoon?"
Taekwoon mengangkat wajahnya. Jaebum disana, membawa sekaleng kopi dingin dan mengulurkannya kepada Taekwoon. "Terima kasih, Jaebum."
"Tak masalah." Cowok itu duduk di meja Taekwoon sambil menyeruput minuman kalengnya sendiri. "Kau belum menjawabku. Kau baik?"
"Begitulah."
"Begini, laki-laki seangkatan benar-benar sudah mirip dengan perempuan. Kita jadi suka bergosip."
Taekwoon tersenyum tipis. Inginnya ia terkekeh. Tapi tidak bisa, entah mengapa. "Sudah satu bulan lalu lho padahal," tukas Taekwoon. "Lebih baik belajar. Minggu ini ada try out, kan?"
"Ya." Jaebum menghela nafas. "Kau masih belum menyadari perasaanmu sendiri?"
"Maksudmu?"
"Bukankah kau suka dengan Hakyeon?"
"Hanya gosip dari anak perempuan. Jangan terlalu di telan mentah-mentah."
"Jangan membohongi diri terus, Taek." Jaebum menepuk bahu temannya yang terlihat semakin murung dan kalau diperhatikan, selalu melihat ke gantungan ponselnya. "Kau suka dengannya."
"Bagaimana kau tahu aku suka padanya? Aku juga dekat dengan Jaehwan."
Jaebum benar-benar tidak habis fikir, mengapa temannya ini sangat bodoh dalam menyadari perasaannya sendiri?!
"Lupakan saja. Kau mau tau cerita lengkapnya sebelum Jaehwan dan Hakyeon bertengkar? Aku baru dapat informasi ini dari anak perempuan."
"Kalian benar-benar kerja sama."
"Bukan kerja sama!" Sanggah Jaebum sambil tertawa. "Kau dan Hakyeon menjadi hot topic seangkatan. Mungkin satu sekolah juga."
Taekwoon menghela nafas. Ia tahu hal itu. Kejadian tempo lalu benar-benar menggemparkan sekolah sehingga menjadi gosip yang masih panas. Bahkan kadang kala, Taekwoon harus mengecek papan mading. Takut-takut kalau ada berita semacam itu disana.
Ia juga penasaran kenapa Jaehwan, Hyuk, dan Hakyeon kemarin bertengkar. Hari itu, Taekwoon sedang menyalin catatan Jaebum karena tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba, koridor kelasnya ramai dan heboh, berteriak-teriak yang intinya, 'JAEHWAN DAN HYUK LAGI RIBUT DI LOBBY'.
Keduanya adalah orang yang Taekwoon kenal dengan dekat. Kenapa bisa marahan? Kenapa bisa bertengkar?
Tahu-tahu disana Jaehwan sudah memarahi Hyuk. Taekwoon panik dan segera memeluk Hyuk. Tanpa sengaja, ia mendengar lirihan yang memanggil nama Hakyeon. Hakyeon disana, memeluk seorang cewek dan menangis.
Tapi Jaehwan menarik Hakyeon dan mereka saling berteriak! Taekwoon benar-benar terkejut dan merasa tidak enak hati, karena namanya yang disebut, diperebutkan. Yang menjadi alasan tersulutnya emosi Jaehwan dan menyebabkan keributan begini.
Jaehwan hendak menampar Hakyeon. Hyuk yang berada di pelukannya langsung berhambur keluar, menghentikan tangan Jaehwan.
Namun adegan selanjutnya benar-benar membuat Taekwoon tak habis fikir. Hakyeon yang ia kenal lembut dan kalem baru saja mendorong Hyuk jatuh dan hampir menginjak perut Hyuk kalau saja tidak ditahan oleh Taekwoon.
"Hey! Jung Taekwoon!"
"Huh?" Taekwoon menerjap saat Jaebum menepik dahi sempitnya. Perasaan sakit hatinya saat Hakyeon bilang mereka bukan teman lagi masih terasa baru dihatinya. Belum sama sekali membaik.
Taekwoon tidak marah. Justru ia merasa bersalah.
"Aku tanya, mau tahu tidak cerita lengkapnya? Malah melamun."
"Ceritakan saja."
"Jaehwan setengah mati khawatir dan kesal terhadap Hakyeon saat istirahat pertama. Akhirnya saat istirahat kedua, Jaehwan berkeliling sekolah, menghampiri ruangan demi ruangan dan bertanya pada semua orang, melihat Hakyeon hari itu atau tidak. Lalu di perpustakaan, Jaehwan bertemu dengan Hongbin. Hongbin menjawab iya, kalau dirinya melihat Hakyeon hari ini." Cerita Jaebum.
"Hongbin langsung dicecar pertanyaan dari Jaehwan. Namun dari situ Jaehwan tahu kalau Hyuk selalu berbicara pada Hakyeon. Hyuk selalu berbicara tentang mu, menanyakan saran, curhat ini dan itu tentangmu kepada Hakyeon. Perihal kupon donat itu juga. Hakyeon mendapatkannya dari Jaehwan, tapi Hakyeon malah memberikannya pada Hyuk untuk digunakan denganmu."
"Taekwoon, Hakyeon jelas suka padamu."
"Aku tahu." Jawab Taekwoon. Masih kepikiran meskipun sudah tiga minggu lalu. Jadi itu cerita aslinya. Taekwoon tidak kaget. Ia memang merasa Hyuk sedikit aneh dibarengi dengan Hakyeon yang menjauh. Hyuk memang seakan memanfaatkan Hakyeon agar bisa memonopoli dirinya.
"Kau juga suka dengannya, Taekwoon."
Taekwoon melirik. "Bagaimana kau bisa sadar kalau kau suka pada seseorang?"
"Mudah saja." Jaebum tertawa. "Taekwoon, Taekwoon. Sudah mau lulus SMA, sudah dicap playboy sekolah, tapi gak tahu cara menyadari perasaan sendiri."
"Berisik." Dengus Taekwoon kesal.
Perasaan Taekwoon, memang dirinya sendiri tidak tahu. Yang ia rasakan hanyalah rasa bersalah yang semakin hari semakin besar terhadap Hakyeon. Taekwoon merasa tidak enak. Begini-gini, artinya Taekwoon mencampakkan perasaan Hakyeon, kan?
"Bukankah kau selalu menyempatkan waktu untuk gadis itu? Menjemputnya, berbicara padanya sebelum pulang. Kalau saja kau tidak mengantar Hyuk pulang, kau akan mengantarnya pulang, kan?" Tuding Jaebum.
Taekwoon terdiam, namun mengiyakan. Selama ini, setelah mengenal Hakyeon dua tahun lalu karena masuk organisasi OSIS bersama, Taekwoon selalu menyempatkan waktu untuk Hakyeon. Bermula dari kegiatan perdana mereka yang mengharuskan Hakyeon dan Taekwoon harus bekerja bersama. Taekwoon ingat sekali, saat anggota OSIS harus menginap di rumah Ilhoon, dirinya dan Hakyeon tanpa sengaja tertidur di karpet dengan posisi Taekwoon meminjamkan lengannya pada Hakyeon.
Untungnya, Taekwoon terbangun sebelum anak-anak OSIS lain menyadari posisi mereka berdua. Itu benar-benar kejadian yang bagi Taekwoon, sangat special, hingga dirinya tidak ingin membagikan cerita itu pada siapapun. Bahkan dengan Jaehwan, atau dengan Hakyeon itu sendiri.
Taekwoon tidak tahu. Tapi setelah melihat wajah tertidur Hakyeon saat itu, ada rasa di hati Taekwoon ingin berteman dengan Hakyeon. Ingin melindunginya. Ingin menjadi sandaran Hakyeon. Dari situlah, Hakyeon selalu dimanja oleh Taekwoon.
Tapi Hakyeon memang perempuan mandiri.
"Itu yang dinamakan suka pada seseorang?" Balas Taekwoon, dengan pertanyaan juga.
Jaebum menghela nafas. "Akui saja."
"Aku hanya bingung. Tidak yakin. Aku selalu berusaha untuk melindunginya, melayani— bukan melayani. Memberikan Hakyeon akses terbaik. Itu saja. Bukankah aku teman yang baik?" Ujar Taekwoon lagi yang sukses membuat Jaebum semakin gemas dan rasanya ingin memberikan rahang itu bogem mentahnya.
"Kau, teman laki-laki yang buruk bagi Hakyeon, tahu tidak?!" Kesal Jaebum. "Sudahlah. Kau cari Hakyeon sana."
"Kalau sudah ketemu juga akhirnya buang muka." lirih Taekwoon.
Memang benar. Taekwoon dan Hakyeon seringkali berpapasan satu sama lain. Bukan hanya waktu istirahat, bahkan saat jam pelajaran berlangsung dan Taekwoon izin ke toilet, ketika Taekwoon keluar dari kelas, ia melihat Hakyeon juga keluar dari kelas.
Hakyeon hanya melihatnya, lalu membuang muka. Memang tidak langsung. Gerakannya alami sekali. Namun Taekwoon tahu, Hakyeon masih menghindarinya.
"Hakyeon menggantungkan liontin bintang di gelangnya."
"Apa?"
"Gantungan kunci itu sepasang dengan punyamu yang digantung di ponsel, kan? Hakyeon memakainya sebagai gelang."
"Hakyeon bukan pemakai aksesoris."
Jaebum langsung melenggang pergi karena kesal setengah mati pada Jung Taekwoon. Jaebum jadi heran, kenapa Jaehwan dan Hyuk betah sekali jadi teman bicara manusia bodoh itu? Untunglah Jaebum hanya jadi teman makan bersama saja. Gak lagi-lagi dirinya akan mengajak Taekwoon berbicara serius seperti tadi. Tidak akan.
Kemudian Jaehwan masuk ke dalam kelasnya dan langsung duduk disamping Taekwoon.
Jaehwan menyembunyikan wajahnya dilengannya. "Aku kangen Hakyeon."
"Kau belum berbaikkan?"
"Memangnya kau sudah, hah?" Jaehwan menjawab dengan nada sinis. Taekwoon hanya bisa diam saja, sambil lagi-lagi, memainkan gantungan kunci di ponselnya.
Jaehwan melihat gantungan kunci itu. "Itu sepasang?"
"Kenapa?"
"Aku juga punya sepasang dengan Ravi. Ravi dapat gratis dari cafe Hakyeon waktu itu."
"Gambarnya kembar dong?" Tukas Taekwoon, seakan tidak rela.
Jaehwan mendelik kesal. "Beda lah! Yang aku punya benar-benar karakter anak kecil perempuan. Kalau Ravi pegang yang anak kecil laki-laki."
"Oh."
"Hanya Oh?!"
Taekwoon tidak menjawab pertanyaan Jaehwan. Lebih baik ia memikirkan Hakyeon. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus rasa rindu dan rasa bersalah.
"Taekwoon. Kalau kau suka dengan seseorang, kau akan selalu memikirkan dia. Selalu rindu. Selalu melakukan sesuatu yang berhubungan dengan orang itu. Kau selalu akan memprioritaskan dia lebih dari apapun."
"Lalu?"
"Dulu, prioritasmu selalu Hyuk. Kau selalu melakukan sesuatu yang berhubungan denganku. Lalu, apa Hakyeon untukmu?"
Taekwoon mendesah sebal. "Sampai kapan pembicaraan ini akan berhenti? Kepalaku bisa pecah karena Hakyeon dan rasa bersalahku."
Jaehwan tersenyum tipis. Tangannya menepuk pipi Taekwoon lembut. "Aku minta maaf. Sepertinya kau memang tidak menyukai Hakyeon seperti bagaimana harapku." Ujar Jaehwan lirih.
Hati Taekwoon berdenyut nyeri. Inginnya ia menggeleng, tapi tidak bisa. Lehernya terasa kaku. Taekwoon tidak suka Jaehwan berkata seperti itu. Tapi dirinya tidak bisa mengelak. Kelu. 'Jangan berkata seperti itu, Jaehwan. Tolong bicara sesuatu yang dapat meyakinkanku.'
"Aku... merasa bersalah pada Hakyeon. Aku selalu mendukungnya agar bisa memperjuangkanmu. Aku malah menyakitinya."
Taekwoon semakim diam.
"Maaf ya, Taekwoon. Aku tidak akan mengganggumu dengan hal-hal berbau Hakyeon lagi. Lagipula, dia memang sudah kecewa pada kita, kan? Kita sudah punya jalan masing-masing."
"Berisik."
Jaehwan terkejut bukan main saat Taekwoon justru berdiri, menggebrak meja dengan keras. Kemudian langsung berjalan keluar kelas.
Ia harus bertemu dengan Hakyeon.
Hari Jumat memang benar-benar hari tenang bagi Hakyeon. Jumat lalu, ia ditugaskan untuk merekap siswa di ruang BK. Lalu Jumat ini, ia dipanggil ke ruang BK untuk mengetik jadwal intensif Ujian Nasional. Setelahnya ia bebas sampai pulang sekolah.
Benar-benar menyenangkan.
Hakyeon berjalan bahagia ke arah kantin untuk membeli ice americano. Setelah membayar, ia menyempatkan diri untuk ke kelas, mengambil buku diarynya lalu berlari cepat ke perpustakaan.
Sengaja berlari. Meskipun sudah meyakinkan dirinya sendiri kalau teman-teman lamanya sudah tidak peduli dengannya, tetap saja masih agak was-was untuk berjalan santai di sepanjang koridor kelas. Ia merasa tidak aman, entah mengapa.
Di halaman selanjutnya pada buku diarynya, Hakyeon menggambar bulan dan bintang, sambil melirik gelang yang melingkar di tangan kirinya.
Gelang itu ia buat sendiri. Sekedar tali karet berwarna coklat muda dan manik warna-warni berbentuk bulat, dan di hiasi oleh gantungan kunci bintang yang tempo lalu diberikan oleh Taekwoon.
Hakyeon menyeruput kopinya sebelum menulis beberapa kata di bawah gambarnya. Tidak jauh-jauh topiknya dari halaman yang kemarin-kemarin. Karena memang perasaannya hanya rindu pada teman-temannya. Terutama pada Taekwoon.
Pernah sekali Hakyeon datang sedikit terlambat, dan ia melihat Taekwoon berjalan didepannya. Rasanya Hakyeon ingin berlari, dan memeluk punggung lebar Taekwoon itu. Tapi Hakyeon masih cukup waras untuk tidak nekat seperti itu.
Ia fikir, dramanya telah selesai sampai pertengkaran lalu. Nyatanya ia salah. Hakyeon justru menambah masalah baru. Setidaknya, baginya sendiri.
Rasa sukanya malah semakin membesar dibarengi rasa rindu yang menggebu-gebu. Hakyeon sangat tidak suka dengan getarannya. Tapi mau bagaimana lagi.
Hakyeon sedang asyik mencorat-coret bukunya dengan berbagai gambar bulan dan bintang, bahkan lettering namanya dengan nama Taekwoon.
Namun, sebuah suara sukses membuat Hakyeon hampir menjerit di perpustakaan dan langsung menutup bukunya dengan kasar. Hakyeon menoleh tergesa kearah belakangnya.
"Saya fikir kamu tidak suka kopi."
Jung Taekwoon, tersenyum lembut kearahnya.
