"Kau harus mandi dan mengganti pakaianmu atau kau bisa sakit." Siwon tanpa ragu menggenggam tangan Hyukjae dan menariknya, Hyukjae yang kaget, segera menahan tangannya dan menyentakannya untuk melepaskan genggaman Siwon.
"Tidak perlu." Hyukjae mendesisi sinis lalu melepas blazer dipundaknya dan segera berjalan menjauhui kelasnya. Ia tak butuh orang lain membantunya, ia tidak butuh orang lain menganggapnya lemah, ia tak butuh dikasihani, Ia tidak mau lagi terlibat masalah yang lebih menyusahkan jika orang lain membantunya. Biarlah ia menanggung masalahnya sendiri dan-
Hyukjae berteriak tertahan saat merasa tubuhnya tiba-tiba terangkat dari lantai lalu menggendongnya dengan bridal style. Membuatnya mau tak mau memegang pundak (tak mungkin ia memeluk lehernya) orang yang tengah menggendongnya. Matanya membulat lebar melihat sang pelaku yang tak lain adalah Choi Siwon.
"Maaf, tapi aku tak menerima penolakkan." Siwon berkata tanpa menatap Hyukjae, lalu berjalan di sepanjang koridor tanpa memperdulikkan tatapan terkejut murid SM High School.
"Turunkan aku!" Hyukjae yang sadar dengan situasi mencoba melepaskan diri dari gendongan Siwon yang entah mau membawanya kemana. Tapi sayan, tubuh kurusnya dan genggaman erat tangan yang melingkari tubuhnya tidak cukup untuknya melepaskan diri. Dan Siwon tak ada sama sekali niat untuk melepaskannya.
"Tolong jangan banyak bergerak kalau kau tak ingin jatuh. Aku hanya ingin membantumu." Siwon berkata lembut seraya menatap mata Hyukjae dengan senyum tulus dibibir tipisnya. Matanya yang sehitam arang menatap Hyukjae dengan pandangan yang membuat Hyukjae hanya dapat terdiam sambil mengalihkan pandangannya.
'Tatapan itu.. dia berbeda dari yang lain.'
Hidden Marriage
.
.
.
.
by Tsuioku Lee
.
.
.
HaeHyuk
,
,
,
And others
,
,
Cast owned by God and themselves
,
,
,
But HaeHyuk belongs to each other
.
.
.
.
Typos / OOC / AU / Yaoi / And find by yourself~
.
.
.
.
Chapter 8 : Confession
.
.
.
Don't like? Don't Read!
.
.
.
Enjoy your self~
.
.
.
Donghae berjalan sendirian menuju gedung sekolah. Niatnya berangkat bersam Hyukjae kandas karena Hyukjae sudah lebih dulu berangkat sendirian. Ia tak tahu kenapa Hyukjae memilih berangkat duluan. Karena walaupun tidak berangkat bersama sampai masuk kelas, Donghae tetap menjemput istrinya dan mereka akan berangkat bersama. Ia berniat akan menanyakan alasannya nanti kepada Hyukjae.
Dan lagi saat ini ia sangat khawatir kepada istrinya tersebut. Setelah insiden penyiraman dicafetaria kemarin, ia yakin hari ini akan terjadi sesuatu yang merepotkan untuk istrinya. Bukannya ia ingin ada kejadian tak diinginkan terjadi kepada istrinya, tapi ia yakin murid-murid yang melihat kejadian kemarin tak akan membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja. Entah itu pembullyan atau cemoohan. Karena siapapun yang mengganggu 'idola' mereka disini apalagi orang tersebuta adalah murid baru, mereka akan berbuat apa saja untuk melidungi 'idola' mereka. Apapun caranya dan tanpa terkecuali.
"Sendirian saja?"
"Astaga! Kim Yesung! Jangan tiba-tiba muncul seperti hantu begitu!" Donghae yang kaget langsung memegang dadanya agar jantungnya tidak loncat keluar. Walaupun Yesung sudah biasa muncul dibelakang seseorang tiba-tiba seperi itu, tapi Donghae tidak kunjung terbiasa dengan kebiasaan aneh sahabat anehnya itu. Dan ditambah aura tipis dan misteriusnya, membuat siapapun pasti merinding berada didekatnya. Yesung hanya memutar bola mata malas melihat reaksi Donghae.
"Habis kau melamun, memikirkan siapa memangnya?"
Donghae yang sedikt terkejut dengan pertanyaan tidak biasa Yesung mencoba untuk bersikap tenang.
"Bukan apa-apa." jawabnya kalem. Yesung itu termasuk yang paling peka diantara mereka ber empat. Sedikit saja ia mencium tingkah aneh dari salah satu sahabatnya, Yesung langsung bisa mengetahui apa yang terjadi. Menyeramkan memang. Setelahnya Yesung hanya menatap Donghae aneh. Seolah ia sedang meneliti wajah Donghae mencari kebenaran.
"Benarkah begitu? Kalau begitu kurasa kau harus membaca ini." Yesung tiba-tiba mengulurkan sesuatu kehadapan Donghae.
Donghae walaupun bingung tetap mengambil benda yang diindikasi sebagai sebuah majalah dari tangan Yesung. Tanpa disuruh ia kemudian melihat cover majalah tersebut. Donghae dapat merasakan langkahnya terhenti dengan mata terbelalak kaget melihat wajah Hyukjae terpampang close up dimajalah tersebut. Napasnya sedikit tercekat membaca judul artikel tersebut.
'Apa-apaan-
"Tatapan itu lagi." suara Yesung disampingnya tiba-tiba menyadarkan lamunan Donghae. Ia bahkan tak menyadari Yesung ikut berhenti dari langkahnya dan berdiri disampingnya dengan tatapan menyelidik.
"Maksudmu?"
"Kau mengeluarkan tatapan itu lagi. Kemarin kau memperlihatkannya saat melihat anak baru itu selesai menyiram Kyuhyun, dan sekarang kau memperlihatkannya lagi. Apa kau tak menyadarinya?" Yesung berkata santai seolah itu bukan hal yang aneh.
"Aku-
"Tatapan khawatir. Itulah yang ada dimatamu Donghae." Yesung memotong kalimat Donghae, membuatnya langsung menutup mulut tanpa tahu mau membalas apa. Karena yang dikatakan Yesung benar adanya. Ia memang merasa kekhawatiran kini menjalar otaknya, membuatnya berpikir hal negatif apa yang akan terjadi pada Hyukjae karena adanya artikel seperti ini. Membuatnya sama sekali tak bisa menyangkal perkataan Yesung.
"Kau tahu, Hae? Kau bukanlah orang yang sering mengkhawatirkan sesuatu atau seseorang. Tapi akhir-akhir ini kau terlihat sering gelisah. Kau seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Mau berbagi ceritamu?" Yesung kembali bertanya dan tak disadari mereka kembali berjalan berdampingan menuju koridor kelas mereka.
"Kau berlebihan, Sungie. Dan kalau soal masalah, mungkin aku masih memikirkan pekerjaan part time ku yang mendadak berhenti. Selain itu tak ada yang perlu dikhawatirkan." Donghae berkata setenang yang ia bisa. Tidak mungkin ia membiarkan Yesung tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Saat ini yang dapat ia lakukan adalah bertingkah setenang dan sewajar mungkin.
Donghae menunggu respon dari Yesung, tapi tak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Donghae akhirnya menoleh kearah Yesung yang mengerutkan alisnya bingung menatap koridor didepannya.
"Bukankah itu Siwon?" Yesung berkata seraya menunjuk kearah depan.
Donghae mengikuti arah jari Yesung dan seketika melihat objek yang dimaksud Yesung. Matanya membuka lebar dan mulutnya menganga terkejut. Tubuhnya seakan kaku melihat Siwon dengan tergesa berjalan kearahnya dengan Hyukjae yang ada digendongannya. Napasnya semakin tercekat melihat keadaan Hyukjae yang berada digendongan sahabatnya itu.
"Apa yang terjadi?!"
-OoO-oOo-OoO-
Donghae duduk disalah satu bangku yang terdapat diruang ganti club sepak bola. Kedua tangannya terkatup satu sama lain dan mencengkram dengan keras. Ekspresinya menggambarkan kalau ia sedang dalam mood buruk kali ini.
"Sial..!"
'Cklek'
Suara pintu salah satu kamar mandi yang terbuka membuat Donghae menengokan kepala. Ia cepat-cepat berdiri dan menghampiri Hyukjae yang berdiri tak nyaman memakai pakaian olahraganya dengan rambut yang masih meneteskan air pertanda ia sehabis mandi.
Donghae menggenggam tangan Hyukjae dan menarik tangannya bermaksud mengajaknya duduk dibangkunya tadi, tapi Hyukjae malah menahan tangannya dan matanya bergerak-gerak gelisah seperti tengah mencari sesuatu.
"Siwon sudah kembali kekelas, tidak ada orang lain selain kita disini." Donghae menjelaskan seperti tahu apa yang dipikirkan Hyukjae.
Setelah mendudukan Hyukjae, Donghae berjalan kesalah satu loker yang ada diruangan tersebut, setelah menemukan sesuatu yang ia cari yaitu sebuah handuk, ia kembali duduk disebelah Hyukjae. Hyukjae hanya menundukan kepalanya tanpa melihat kearah Donghae.
Dengan lembut Donghae menggosok-gosok rambut Hyukjae yang masih basah dengan handuk ditangannya. Matanya menatap Hyukjae khawatir.
"Kau tidak apa-apa, Hyuk?" tanya Donghae akhirnya.
Hyukjae hanya mengangguk pelan merespon ucapan Donghae.
"Apa mereka melakukan kekerasan fisik padamu? Atau mengatakan sesuatu yang buruk padamu?"
"Mereka menertawakanku." setelah hening yang cukup lama Hyukjae akhirnya berbisik pelan.
Donghae menghentikan gerakan tangannya dan menaruh handuk ditangannya kebangku sebelahnya tanpa mengalihkan matanya dari Hyukjae. Dengan satu tangan ia menyentuh pipi Hyukjae dan mengelusnya lembut.
Donghae mengepalkan tangannya yang bebas berusaha menahan emosinya yang meluap. Setelah Siwon menceritakan apa yang terjadi pada Hyukjae. Ia mencoba untuk menahan amarahnya, karena akan sangat aneh jika Donghae marah tanpa alasan dihadapan Siwon. Dan kali ini pun ia harus menahan amarahnya lagi karena Hyukjae lebih membutuhkan dirinya untuk menjaganya bukan untuk mengamuk membabi buta.
Donghae merasa gagal. Ia telah gagal melindungi istrinya. Ia gagal melindungi satu-satunya orang yang ia cintai. Ia ingin sekali menghajar satu-satu orang yang telah mengerjai Hyukjae. Tapi ia tahu, itu bukanlah alasan bijak untuk keluar dari masalah ini. Ia sudah berjanji untuk melindungi Hyukjae tanpa membongkar hubungan pernikahan mereka. Karena semarah apapun ia kepada orang-orang berengsek itu ia lebih marah kepada dirinya yang tidak berguna saat Hyukjae membutuhkannya.
"Kemarilah, Hyuk." Donghae sekali lagi mengangkat tangan satunya dan mendekap tubuh sedikit gemetar Hyukjae. Ia menyenderkan kepala Hyukjae pada dada bidangnya. Mengelus-elus pelan rambut brown Hyukjae dengan sayang. Donghae berkali kali berbisik "Maafkan aku." Ia dapat merasakan rambut Hyukjae yang masih agak basah tapi ia tak peduli, saat ini yang ia mau hanya membuat Hyukjae nyaman tanpa rasa takut apapun.
"Kalau kau sampai sakit aku berjanji akan membunuh mereka dengan tanganku." Donghae berkata serius yang membuat Hyukjae merinding seketika. Ia lalu melingkarkan tangan rampingnya dipinggang Donghae. Menikmati kehangatan yang diberikan suami tercintannya.
Cukup lama mereka ada diposisi itu sampai bel masuk berdering. Mereka langsung melepaskan pelukan hangat mereka (walau Donghae sangat ragu melakukannya) dan Hyukjae langsung berdiri dari duduknya.
"Hmm.. Aku akan masuk kelas terlebih dahulu lalu kau-"
"Kita kekelas bersama-sama." Donghae berkata final sambil menggenggam tangan Hyukjae keluar ruangan ganti club sepak bola.
-oOo-oOo-oOo-
Hyukjae menghela napas berat setelah sampai didepan pintu kelasnya. Ia benar-benar berharap kalau ia bisa pulang saja kerumah dan melupakan kejadian yang menimpanya, tapi apapun alasannya ia tak mungkin dapat melakukan itu. Tangannya dengan ragu terangkat memegang gagang pintu. Tapi sebelum tangan itu menggeser pintu dihadapannya, sebuah tangan menggesernya mundur.
"Biar aku saja yang membukannya." Kata Donghae lalu menggeser pintu itu tanpa ragu. Selain takut kejadian yang sama terulang kepada Hyukjae, Donghae tahu istrinya itu masih trauma jika ia membuka itu lagi. Donghae menggeser tubuhnya kesamping dan mempersilahkan Hyukjae untuk masuk terlebih dahulu.
Donghae memberikan senyuman yakin melihat Hyukjae tak kunjung bergerak dari tempatnya.
"Tak apa masuklah."
Dengan kikuk Hyukjae mulai masuk kekelasnya. Ia merasa déjà vu saat ia melangkah. Ini persis seperti saat ia baru pertama kali masuk kekelas ini. Bedanya saat ini ia langsung disambut tatapan mengejek dari hampir seluruh murid ketika masuk.
Berusaha acuh dengan tatapan itu, Hyukjae melangkah menuju bangkunya. Beruntung guru belum datang jadi ia tak mendapat pertanyaan kenapa terlambat masuk kelas dan kenapa malah memakai baju olahraga.
Oh hell! Baju seragamnya basah tak tersisa. Sama sekali tak ada bagian yang kering. Hanya boxernya saja yang selamat (thanks god!) Untungnya hari ini ada pelajaran olahraga, jadi ia tak harus memakai boxer saja saat pelajaran. Dan karena kejadian ini juga ia harus mandi dua kali pagi ini. Hal yang baru pertama ini ia lakukan.
Donghae menyusul masuk kekelas setelah Hyukjae sampai dengan selamat dibangkunya. Tapi bukannya berjalan menuju bangkunya, Donghae malah berdiri didepan papan tulis menghadap seluruh teman kelasnya.
Donghae menarik napas sebelum mengeluarkan suaranya.
"DENGARKAN AKU SEMUANYA!"
Seketika seluruh kelas hening mendengar suara ketua kelas mereka yang tak biasanya berteriak itu. Mata mereka terfokus kedepan.
"Aku tak peduli dengan apa yang ada dipikiran cetek kalian itu. Tapi setelah mendengar kejadian hari ini, aku sama sekali tak bisa berdiri saja melihat tindakan kalian yang kekanakan itu!"
Donghae menatap satu persatu teman sekelasnya yang diam mematung.
"Aku tak peduli motif dibalik tindakan konyol kalian itu. Tapi apa kalian menyadari dampak yang diterima kelas kita?!"
"Seperti kalian tahu, kelas kita dianggap kelas khusus. Kita ini murid-murid berbakat yang dikumpulkan dalam satu ruangan. Semua murid kelas lain iri dengan kita. Bahkan kepala sekolahpun memuji dan membanggakan kelas kita. Tapi yang kusadari setelah kejadian ini adalah, kalian tak lebih dari penghuni kebun binatang yang yang tak punya otak hanya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah!"
"Apa kalian tak menyadari apa yang terjadi jika kejadian ini sampai didengar kepala sekolah?! Bukan saja kelas kita dicap jelek karena kelakuan konyol kalian, tapi kalian juga bisa dikirim kekelas detensi! Apa kalian ingin?! Kalau tidak! Bersikaplah dewasa dan jangan membuat masalah! Pakai otak kalian sebelum melakukan sesuatu dan berhenti melakukan hal yang dapat merugikan kita semua! APA KALIAN MENGERTI?!"
Beberapa murid terlihat mengangukkan kepala, yang lainnya diam tercengang melihat emosi ketua kelas mereka yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Bagus."
Seperti kembali ke Donghae yang semula, ia mulai berjalan santai seperti tak terjadi apa-apa kebangkunya dipojok belakang. Tak ada satupun yang berani mengucapkan satu patah kata pun. Mereka masih membeku dengan kata-kata Donghae yang seperti masih terngiang didalam kelas.
Satu yang mereka pikirkan saat ini.
'Ketua kelas mereka yang tenang sangat menyeramkan ketika marah.'
Dan itu hanya karena satu orang yang juga hanya dapat membeku dibangkunya sambil menelan ludah dengan susah payah, Lee Hyukjae.
-oOo-oOo-oOo-
"Kalian tau aku masih tak percaya orang yang tadi teriak-teriak didepan kelas itu uri Lee Donghae."
"Dan Choi Siwon, apa kau juga tahu? Kau sudah 57 kali mengatakan hal itu dan aku sudah 57 kali mengatakan IYA! jadi berhenti dengan pertanyaan konyolmu itu!" Donghae berkata emosi seraya menggigit sandwichnya yang baru saja ia beli.
Donghae, Siwon, Kyuhyun dan Yesung saat ini sedang menikmati makan siangnya di cafetaria SM High School. Dan sejak kejadian 'Peringatan Lee Donghae didepan kelas' Siwon selaku teman dekatnya terus mengklaim kalau ia tak percaya dengan kejadian tersebut, bahkan setengah dari kelas khusus juga masih tak percaya melihat ketua kelas mereka yang tanpa perasaan dan tenang itu bisa kehilangan kesabarannya. Walau Donghae dikenal sangat menentang dengan pembullyan disekolah, mereka sama sekali tak menyangka ia sampai memberi peringatan kepada kelasnya dengan sangat menyeramkan. Mereka berpikir mungkin Donghae sudah kehilangan kesabarannya dengan tingkat pembullyan dikelasnya, Beberapa berpikir mungkin ada hubungannya dengan Hyukjae. Tapi yang mereka tahu, mau tak mau mereka harus menuruti apa kata ketua kelas mereka yang punya pengaruh besar disekolah.
"Tapi tak biasanya kau seperti itu." kali ini Yesung yang tengah menatap layar gadgetnya berkata datar.
Donghae yang sudah tahu akan mendapat pernyataan semacam itu, menjawab pernyataan Yesung dengan kalem.
"Walaupun terlihat yang paling cuek, Yesung sangat peka dengan keadaan seperti ini." pikir Donghae.
"Aku hanya tidak ingin kembali direpotkan dengan hal semacam itu."
"Ah jadi kau merasa direpotkan ketika harus mengantar Hyukjae ke ruang ganti? Bukankah kau sendiri yang memintanya?" Siwon berkata dengan gestur khasnya.
"Itu karena hanya aku yang memegang kunci ruang ganti club sepak bola. Pada akhirnya pasti kau juga akan memintaku untuk melakukannya." Donghae tak mau kalah.
"Percaya diri sekali kau. Bisa saja aku meminta kunci ruang ganti club basket kepada Taeyeon."
"Maaf saja tuan Choi, tapi aku juga memegang kunci ruang ganti club basket jika kau lupa."
"Kalau begitu aku akan meminta kunci ruang ganti club renang." Siwon membalas juga tak mau kalah.
Donghae hanya memutar bola mata malas sambil kembali menelan seluruh sandwichnya tanpa sisa.
"Baiklah cukup debatnya dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi." Kyuhyun tiba-tiba berkata dengan nada memerintahnya dan langsung di mendapat death glare dari kedua hyungnya.
"Ya Cho Kyuhyun! Apa kau tak menyadari, semua kekacauan ini terjadi karena ulahmu!" Donghae yang sudah tenang kembali emosi mendengar suara sang tersangka utama.
"Dan kau masih bertanya apa yang terjadi? Aishh jinjja!" Siwon tak ingin kalah.
"Mwo?! Bahkan aku saja tidak mengetahui apa yang terjadi. Bagaimana bisa aku yang disalahkan?!" Kyuhyun yang tadinya tenang-tenag saja, juga ikut tersulut emosinya karena tiba-tiba dituduh suatu yang tak merasa ia lakukan.
Dan terjadilah keramaian dibangku tempat duduk mereka. Membuat mata seluruh penghuni cafetaria tertuju kepada mereka. Tapi seberisik apapun mereka tak ada satupun yang berani menegur idola sekolah tersebut.
-oOo-oOo-oOo-
Setelah hampir 15 menit Donghae, Siwon dan Kyuhyun berdebat tanpa alasan dan malah semakin tidak jelas, akhirnya mereka memilih untuk berhenti karena Yesung yang tiba-tiba menggebrak meja makan. Dan selanjutnya tak ada lagi yang berbicara melihat aura gelap dari Yesung yang menguar diseluruh penjuru cafetaria. Alhasil mereka kini hanya duduk manis dengan Siwon yang menghabiskan makan siangnya, Donghae dan Yesung yang sibuk mengutak-atik iPhone mereka dan Kyuhyun dengan PSP-nya.
"Sejujurnya aku juga penasaran dengan alasan kau berbuat sejauh itu." kali ini Yesung yang mengawali pembicaraan. Mereka semua serentak menatap kearahnya dengan tatapan kukira-kau-tidak-ingin-membahas-soal-ini-lagi, yang dibalas cuek oleh Yesung.
"Ne, hal seperti itu 'bukan Donghae sekali." Kyuhyun mendramatisir sambil memijat stik PSP-nya.
"Apa jangan-jangan kau menyukai anak baru itu?"
Pertanyaan Yesung membuahi tatapan penasaran dari Siwon dan gerakan mulut 'impossible' dari Kyuhyun. Yesung bahakan mengalihkan wajahnya dari iPhone-nya saat bertanya. Yang artinya ia sangat-sangat penasaran dengan jawaban Donghae. Donghae yang sedikit menegang dengan pertanyaan tak terduga ala Yesung tersebut hanya menatap Yesung intens yang balik menatapnya datar. Dan sadar atau tidak Donghae dapat merasakan Yesung tengah menyeriangi dibalik tatapan datarnya tersebut.
'Berpikir Donghae, jika kau mengatakan kau menyukai Hyukjae. Apa itu akan membuat hubunganmu terbongkar? Kurasa mereka tak akan curiga jika aku hanya bilang suka. Dan kalaupun mereka mengetahui hubunganku dengan Hyukkie, mereka pasti akan mengerti dengan keadaanku.'
'Tapi lebih baik tak melibatkan Hyukjae dulu dalam keadaan seperti ini. Yesung mulai curiga, apalagi tentang pertanyaannya pagi ini. Dia terlihat dapat melihat sesuatu yang kau berusaha sembunyikan.'
Setelah berpikir cukup lama seraya ditatap 3 pasang mata dengan ekspesi berbeda-beda. Donghae menarik napas sedikit dan mulai bicara.
"Kalau iya memang kenapa?"
Donghae bertanya tenang. Dan ia dapat merasakan seriangan Yesung melebar disana, tapi bukannya bertanya lebih lanjut Yesung malah kembali menatap iPhonenya seolah rasa penasarannya sudah terjawab dan cukup membuatnya puas.
"TIDAK MUNGKIN!" kali ini suara Kyuhyun yang menggema menyadarkan Donghae. Ia sampai mempause PSP-nya ketika berteriak.
"Kecilkan suaramu itu, bodoh" Donghae berkata jengkel
"Apanya yang tidak mungkin?" kali ini Yesung yang bertanya.
"Apanya yang tidak mungkin kau bilang, hyung? Kau tidak lihat bagaimana rupa monyet itu? Bagaimana mungkin Donghae hyung menyukainya?" Kyuhyun berkata seolah seekor cicak barusaja melahirkan seekor anak gajah, yang benar-benar tidak mungkin akan terjadi
"YA! Apanya yang monyet, eoh?!" Donghae berteriak kesal kearah sang maknae yang memasang tamapang menyebalkan.
Kyuhyun menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Donghae, Ia menaruh PSP nya yang sudah ia pause dimeja makan. Dia mengedarkan pandangannya kesekitar cafeteria sebentar lalu menunjuk kearah seseorang yang tengah memesan minuman di mesin penjual minuman.
"Kau lihat itu. Apa yang seperti itu benar-benar tipemu, hyung?" Kyuhyun berkata, membuat 3 pasang mata yang lain melihat kerah yang ditunjuknya.
Disana Hyukjae sedang memesan minuman dengan memakai baju olahraganya. Mata dan telunjuknya bergerak lucu menelurusi daftar nama minuman yang akan ia pilih sebelum akhirnya memencet tombol yang menunjukan letak pilihannya. Ia lalu menunduk sedikit untuk mengambil minumnya. Dan satu kotak susu strawberry sudah ada digenggamannya membuat wajahnya yang manis berseri senang dengan gummy smile yang terkembang.
Dan hanya dengan melihat adegan seperti itu saja sudah mengembangkan senyum idiotic di wajah Donghae.
"Kalian lihatkan? Dia terlalu kurus, kulitnya juga sangat pucat seperti mayat hidup dan apa-apaan gusinya saat tersenyum itu? Konyol. Dan lagi bokongnya sangat rata!" Kyuhyun berkata tanapa dosa yang dihadiahi death glare oleh Donghae. Belum sempat ia mengucapkan protesnya, Siwon memotong perkataannya yang membuat Donghae melebarkan matanya shock.
"Kurasa dia menarik."
Dan bukan Donghae saja, Kyuhyun bahkan Yesung saja kaget mendengarnya.
"Kau pasti bercanda, hyung." Kyuhyun berkata tak percaya.
"Tidak. Maksudku kalau kau melihatnya bukan hanya dari fisik saja kau pasti akan menganggapnya menarik, Kyu. Dia itu bukan tipe yang mudah didapat seperti semua incaranmu. Meski agak keras kepala tapi aku akui, ada hal pada dirinya yang membuatku ingin lebih mengenalnya. Dan lagi kurasa dia cukup manis dan gummy smile-nya sama sekali tidak konyol." Siwon berkata santai seraya menatap Hyukjae dengan tatapan yang ingin membuat Donghae mencongkel mata sahabatnya itu. Bagaimana tidak? saat ini istrinya sedang ditatap seintens itu oleh orang lain, oke Siwon itu sahabatnya tapi tak pernah ia bayangkan bahwa teman baiknya itu kalau bisa dibilang.. menyukai Hyukjae. Bahakan Siwon mengatakan kalau Hyukjae itu manis. Entah ia harus marah atau malah senang mendengar sahabatnya mengatakan itu. Atau ia malah senang jika Kyuhyun mengatakan hal-hal jelek tentang Hyukjae? Arghh ia sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana?!
"Sepertinya akan ada cinta segitiga." suara Yesung lagi-lagi menyadarkan 3 orang lainnya.
"Wah wah.. benar juga. Dan lagi sainganku Lee Donghae. Orang yang dikenal tak pernah jatuh cinta dan tak tertarik dengan cinta. Tidak kusangka tipe mu yang seperti Hyukkie." Siwon berkata mencoba menggoda Donghae yang kelihatannya sangat stres mengetahui kalau ia menyukai Hyukjae. Donghae menggretakkan giginya kesal mendengar istrinya dipanggil seperti itu oleh Siwon. Walau nadanya bercanda ia tahu ada maksud tertentu dengan ucapan Siwon.
"Jangan memanggilnya seperti itu," Donghae berkata dengan nada mengancam.
"Santai saja, Hae. Jangan terlalu serius dengan ini. Lagipula ini 'kan pengalaman pertamamu menyukai seseorang. Aku akan dengan senang hati mngajarimu." Siwon berkata seraya menepuk bahu Donghae.
"Aku tak butuh ajaranmu, Won. Dan karena ini adalah pengalaman pertamaku. Maka aku akan menganggap ini serius. Jika kau menganggap ini main-main, lebih baik kau tidak usah mengejarnya." Donghae berkata serius dengan penekanan kata 'pengalaman pertamaku'
"Whoa whoa whoa santai tuan Lee. Kau tak perlu menatapku seolah kau siap memakanku hidup-hidup seperti itu." Siwon berkata membuat Donghae membuang wajahnya kearah lain dan kembali memainkan iPhonenya. Ia tahu emosinya dapat meledak jika ia menanggapi ucapan Siwon.
Tapi ia sama sekali tak menduga hal seperti ini akan terjadi. Sahabatnya menyukai istrinya. Dan lagi orang itu adalah Choi Siwon. Bukannya ia takut Hyukjae akan mengkhianatinya atau apa. Ia sangat yakin jika istrinya itu setia dan akan selalu mencintainya. Yang ia takutkan adalah dirinya yang bisa atau tidak menjaga istrinya agar selalu mencintainya.
"Tapi aku penasaran, memang apa yang kau lihat dari anak baru itu sampai kau bisa suka padanya?" entah kenapa mereka pikir hari ini Yesung banyak bicara sekali.
Donghae sedikit tertegun dan tanpa sadar tersenyum bodoh mengingat apa saja yang ia suka dari istrinya. Tapi tentu ia menghindari jawaban yang membuat teman-temannya merasa aneh jika ia terlalu terdengar sudah lama mengenal Hyukjae.
"Saat pertama masuk kelas kurasa dia sudah menyedot perhatianku. Cara dia bicara, gesturnya yang sedikit kikuk tapi terlihat lucu, mata bulatnya, kulit putihnya, bibir plumnya-"
"Kau jelas terdengar seperti seorang Pervert, Lee Donghae." Siwon memotong perkataannya dengan tatapan skeptis.
"Yeah, jangan-jangan hyung hanya tertarik dengan tubuhnya saja." Kyuhyun berkata enteng yang membuahi jitakan 'sayang' dari Donghae.
"Watch your mouth, Evil." Siwon memperingati.
"Tapi sungguh! Kau saja belum tahu bagaimana sifatnya selain dia itu keras kepala dan ya.. mungkin nekat." Kyuhyun membela diri seraya mengenang kejadia ia disiram oleh Hyukjae kemarin. Tentu itu jadi salah satu kejadian yang tak akan pernah ia lupa seumur hidupnya.
"Dibalik sifat nekat dan keras kepalanya kurasa dia punya kelembutan dan kebaikan yang tersimpan dalam hatinya dan dia memiliki sesuatu yang membuatku ingin melindunginya." Donghae lagi-lagi tersenyum tipis dengan kata-katanya. 'Iya, aku pasti akan mencintai dan melindunginya apapun yang terjadi.' pikir Donghae.
"And there you with your chessy words." Siwon berkomentar.
Sementara Kyuhyun hanya memutar bola mata malas.
"Tapi aku senang karena akhirnya uri Donghae masih punya hati untuk menyukai seseorang. Aku mendukungmu penuh dengan hal ini, Hae." Siwon melanjutkan seraya menepuk pundak Donghae dengan gestur bersahabat.
"Bukankah seharusnya kau menjadi rivalnya dan bukan mendukungnya, Masi?" tanya Yesung.
"Entahlah," Siwon menarik napas seraya melihat kearah Donghae.
"Melihat kau yang seperti ini aku jadi seperti tak punya harapan. Lagi pula, ku kira kau hanya main-main saat kau bilang suka. Aku hanya ingin menggoda saja. Dan lagi caramu saat membicarakan Hyukjae seperti kau sudah lama menyukainya. Tapi itu pasti karena cinta pada pandangan pertama, iya 'kan?"
"Iya, kurasa kita seperti sudah ditakdirkan untuk bertemu lalu bersama selamanya." Donghae menambahkan. Ia sangat lega karena Siwon hanya ingin menggodanya saja saat bilang ia menyukai Hyukjae. Tapi ia juga tak ingin lengah.
"Jadi kau tidak menyukainya, Siwon?" Donghae beranya penasaran.
"Hmm.. kurasa aku masih menyukainya tapi berbeda dengan rasa sukamu saat aku bilang dia orang yang menarik aku sama sekali tak bercanda."
Entah Donghae harus merasa lega atau tidak dengan perkataan Siwon. Dan lagi Siwon itu termasuk tipe yang cepat mengagumi sesuatu namun juga cepat hanya berharap Siwon tidak mulai mendekati istrinya lebih dari pula siapa juga yang tak akan menyukai Hyukjae? Meskipun masih ada beberapa orang yang tak dapat melihat pesona Hyukjae dan menyukainya, yah seperti maknae-nya ini.
"Aku tak mengerti apa yang ada diotak kalian, tapi selera kalian sunggu rendah." Kyuhyun berkata malas seraya melanjutkan game PSP-nya.
Donghae sedikit tersulut dengan kata-kata tajam temannya tapi mencoba untuk tenang. Setidaknya ia harus membalas dengan kata-kata pedas juga.
"Kau bicara seperti itu karena ia berhasil mempermalukanmu didepan hampir seluruh penghuni sekolah, ya 'kan? Dan mengingat tak ada yang berani melakukan itu padamu membuatmu jadi frustasi." Donghae berkata kalem yang menusuk tepat jantung Kyuhyun.
"Jangan bercanda, hyung. Dan aku sama sekali tak frustasi!"
"Terus menyangkal dan kau makin terlihat seperti itu." Donghae berkata mengejek.
"Dia itu hanya monyet keras kepala dan tak punya bokong, bagaimana aku frustasi karenanya. Dan lagi masih banyak yeoja atau namja diluar sana yang lebih pantas untuk diberi perhatian dan aku tak membuang waktuku untuk namja sepertinya." Kyuhyun berkata tak mau kalah.
"Dan aku bertaruh monyet keras kepala dan tanpa bokong itu sama sekali tak akan tertarik dengan dirimu." Donghae berkata sakratis.
"Tak mungkin di dunia ini ada manusia yang dapat menolak pesonaku, Lee Donghae." Kyuhyun berkata narsis seraya menaruh PSP-nya dan menatap Donghae sanksi.
"Aku percaya sekali dengan kata-katamu, Cho Kyuhyun" kata-kata Donghae penuh dengan sarkasme.
Sementara Siwon hanya menghela napas melihat dua orang dihadapannya berargumen.
"Kurasa hanya ada satu cara membuktikannya." Yesung berkata membuahkan tanda tanya disetiap kepala 3 orang lainnya.
Dan belum sempat ketiga orang tersebut menanyakan maksud apa kata-kata sahabat anehnya tersebut, bel pertanda makan siang sudah usai, berbunyi dengan nyaringnya. Yang mau tak mau membuat ketiga orang tersebut menggeram kesal bersamaan.
-OoO-OoO-OoO-
From: Hae Fishy
Subject: Pulang bersama :3
Hyukkie hari ini pulang bersama. Praktek sepak bolaku diliburkan oleh pelatih. Aku tunggu di luar gerbang ok!
Hyukjae tersenyum manis melihat pesan dari suaminya tersebut. Ia memang tidak bisa setiap hari pulang bersama Donghae karena praktek sepak bolanya yang dilakukan sehabis pulang sekolah. Dan kali ini dia punya kesempatan pulang bersama jadi tak akan ia tolak kesempatan ini.
Setelah membalas pesan Donghae, Hyukjae kembali menghadap guru yang masih mengajar didepan kelas. Tapi sesuatu menyita perhatiannya, bangku kosong disepannya.
"Kenapa Henry tak masuk sekolah?" pertanyaan itu terus menghantuinya dari pagi, tapi apapun alasannya ia harap besok Henry akan masuk dan menjelaskan tentang artikel tersebut. Ia sama sekali tak marah pada teman -kalau boleh ia bilang- pertamanya disekolah itu. Ia hanya ingin meminta penjelasan dari siswa Kanada tersebut. Toh kalau ia marahpun tak ada gunanya. Yang sudah terjadi biarlah berlalu.
Dan lagi Donghae sudah memperingati teman sekelasnya agar tak membullynya. Walaupun tak mengatakan hal itu secara langsung tapi ia tahu maksud dari kata-kata suaminya tadi didepan kelas. Dan kembali ia memberi catatan untuk tidak membuat emosi suaminya itu meledak. Dia benar-benar menyeramkan. Ia hanya berharap dengan peringatan Donghae tersebut tak akan membuat penghuni kelas atau sekolah curiga dengan hubungannya dengan Donghae. Tapi tak dipungkiri juga ia senang karena suaminya benar dengan yang ia katakan akan melindunginya. Rasanya ingin sekali ia menghadap belakang dan mengatakan terimakasih kepada suaminya itu lalu menghampirinya dan memeluknya. Tapi ia tahu itu bisa dilakukan nanti. Dan tanpa sadar ia tersenyum tipis karena pikirannya.
Tak terasa bel pertanda pulang sekolah berbunyi. Hyukjae segera memasukan perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Murid-murid yang lain mulai berdiri dan keluar kelas. Hyukjae yang juga tak ingin berlama-lama dikelas segera berdiri dan siap keluar kelas sampai sebuah suara memanggilnya.
"Hyukjae-ah, bisa keruangan bapak sebentar?" itu suara Jung Seongsaengnim. Melihat tatapannya Hyukjae mau tak mau mengangguk iya tanpa bertanya ada apa.
"Baiklah, mari ikut bapak." Jung seongsaengnim berdiri lalu keluar kelas lebih dulu diikuti Hyukjae dibelakangnya.
Tanpa Hyukjae sadari dari belakang sana Donghae tengah memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Ia hanya berharap Hyukjae tak ada dalam masalah.
"Hae, kau tak ingin pulang?" suara Siwon menyadarkannya.
"Ah iya, kalian duluan saja." melihat tatapan aneh dari teman-temannya membuat Donghae buru-buru menambahlan ucapannya.
"Aku masih harus menemui pelatih untuk membicarakan tentang praktek selanjutnya."
Yang membuahkan kata o dri Siwon dan Kyuhyun. Yesung hanya cuek saja sambil mengutak atik iPhonenya.
"Kukira kau ingin mengajak pulang bersama anak baru itu." Kyuhyun tiba-tiba berceletuk.
"Kurasa itu ide yang bagus." Donghae membalas innocent.
"Hahh terserah kau sajalah, Hae. Semoga beruntung."Siwon berkata lalu menepuk pundak Donghae dan keluar dari kelas diikuti Kyuhyun. Yesung ikut menepuk pundaknya dan keluar kelas tanpa berkata apapun.
Donghae hanya mengangkat bahu cuek lalu mengeluarkan iPhonenya dan kembali mengirim pesan ke Hyukjae.
'Tetap pulang bersama, kalau sudah selesai aku tunggu diruang ganti sepak bola. Kuharap kau tak ada dalam masalah. '
-oOo-oOo-oOo-
"Kau mengertikan? Kalau iya kau boleh pulang." Jung seongsaengnim berkata tegas dengan senyum tipisnya seraya mempersilahkan Hyukjae berdiri.
"Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi." Hyukjae berdiri dan membungkuk sopan kearah wali kelasnya lalu ia mengambil langkah keluar ruang guru.
Setelah sampai diluar ruangan, ia menghela napas dan mengulang apa yang dikatakan wali kelasnya tersebut.
"Kau tahukan kalau kau di tempatkan di kelas khusus? Kalau kau ingin tetap ada disana kau harus menunjukan kalau kau pantas untuk berada disana. Tunjukan kemampuanmu. Setiap murid kelas khusus memilikinya. Seperti Kyuhyun yang jenius dalam pelajaran, Henry yang jenius dalam bermain biola atau Donghae dalam bidang olahraga. Setidaknya jika kau menunjukan salah satu kemampuanmu, teman-teman sekelasmu tak ada yang meragukanmu lagi kenapa kau bisa ada dikelas khusus. Orang yang memasukanmu kesini mengatalan kau jago dalam hal dance. Dan menurut informasi yang kuterima sewaktu di Junior High School kau pernah mendapatkan piala kemenangan dalam bidang tari. Maka dari itu bapak sarankan kau masuk ekstra kulikuler dance. Tunjukan kalau anak baru sepertimu memang pantas ada dikelas khusus dan bisa membuat sekolah bangga. Kau mengerti?"
Hyukjae menghela napas sekali lagi. Ini bukan suatu masalah besar sih. Hanya saja ia belum siap untuk bersosialisasi kembali jika ia harus masuk sebuah eskul. Tapi cepat atau lambat ia pasti harus menghadapi situasi seperti ini. Dan lagi sudah lama ia tidak menari, kira-kira 4 tahun yang lalu ia berhenti menari. Karena ia tahu menari hanya akan mengingatkannya pada penghianatan yang ia terima dimasa lalu.
Dengan langkah berat ia berjalan menuju ruang ganti club sepak bola. Senyumnya sedikit terkembang mengingat siapa yang tengah menunggunya disana. Ia jadi berpikir mungkin ia dapat melewati ini jika Donghae ada disampingnya. Ia, Donghae akan selalu ada disampingnya apapun keadaan yang ia terima. Walaupun ia tidak dapat bersosialisasi sedikitpun ia tahu Donghae selalu ada disana untuk menjadi sahabat sekaligus suaminya. Dan ia percaya Donghae akan terus mencintainya dan tak akan pernah mengkhianatinya.
Tak terasa ia sudah ada didepan pintu ruang ganti club sepak bola. Dan mengingat tadi pagi ia sudah kesini membuat ingatannya kembali ketika ia dikerjai teman sekelasnya. Tapi ia langsung membuang pikiran itu lalu dengan perlahan membuka ruang club tersebut.
Dan apa yang ia lihat didalam ruangan tersebut sama sekali bukan hal yang ia kira akan terjadi. Disana berdiri Donghae dengan seorang wanita dan yang lebih parah, mereka tengah berpelukan. Wanita tersebut melingkarkan tangan rampingnya dipinggang Donghae sementara kepalanya dengan nyaman bersandar didada bidang suaminya. Sedangkan Donghae sama sekali tak mencoba melepaskan pelukan tersebut dan malah terlihat menikmatinya.
Beberapa detik kemudian Donghae mulai menyadari pintu ruang club terbuka dan mau tak mau ikut shock melihat Hyukjae berdiri kaku didepan pintu. Wanita itu juga sepertinya mulai menyadari kehadirannya. Dan sebelum Donghae mengeluarkan kata-katanya Hyukjae sudah terlebih dulu bicara dengan suara yang sedikit bergetar.
"Maaf aku mengganggu."
Dan menutup kembali pintu tersebut dan berlari secepat kakinya dapat melangkah.
.
.
.
.
.
.
TBC
a/n: hallo~~ seperti biasa saya ngaret -_-"
Seperti biasa juga saya minta maaf dengan kengaretan saya yang parah ini. JEONGMAL MIANHAE /bow 90 degree/
Dan terimakasih banget yang masih mau review ff ini walaupun authornya begini. JEONGMAL KAMSAHAMIDA /bowbow/ Jangan bosan-bosan review ya dan kasih tahu saya mana yang salah dari ff ini atau yang gak ngerti dengan ff ini. Sebisa mungkin saya akan jelaskan kok.
Pokonya special thanks to:
bluerissing | Zhouhee1015| Young Minn Kim | Haehyuk | reiasia95 | Polarise437| Tabifangirl | .1| azihaehyuk | narty2h0415 | nurul. | chaca | meike chan | rizka0419 | devilmania | Lee Haerieun| lyndaariezz | HAEHYUK IS REAL dhian930715ELF | LauraRose14| Guest | Shem | Reezuu608 | miZukhy yank eny | lee ikan | anchofishy | lvoeparsdise pumpkinsparkyumin | Depi haehyuk | kyuri0316 | kyunijun | Pramudya| DeclaJewELF | HHSHelviJjang | hyukmilee | Rena | Lee Eun Jae | MasamuneSora
Juga buat yang yang udah teriak-teriakin saya di mention ataupun di pm yang minta ff ini lanjut. Terimakasih semuanya kalian luar biasa ;;;;;bbb
Ok sudah cukup cuap-cuapnya, sekali lagi terimakasih buat semuanya dan samapai ketemu di chap selanjutnya atau di ff selanjutnya.
Yang terakhir karena ini bulan puasa maafkan daku jika pernah buat salah sama kalian. Dan selamat puasa bagi yang menjalankan.
See you next time~~
Mind to Review?
